Kebun Raya Bogor dan 2 Orang Jerman

Dari KRB ketemu dua orang pemuda Jerman yg belajar Marine biology. Namanya ga tau. Mereka seolah ga mau kasih tau. Well, it’s ok.

 Pertama karena aku diusir dari gerbong wanita aku pun pindah gerbong. Dan sekilas kulihat ada wajah kaukasia. Yup. Aku duduk di sebelah mereka.

Seorang pria setengah baya di depan mereka mengajak berbicara dalam bahasa inggris. Ternyata dia lulusan IPB jadi tidak heran ia lumayan lancar.

Di tengah pembicaraan, lulusan IPB itu menanyakan tempat mereka menginap dan keduanya menjawab “bandara”. Pria IPB itu berseloroh,”You both are bule gila”. Whatta? Aku cukup terkejut tapi aku pahami maksudnya yang menginginkan mereka agar lebih berhati-hati di tanah asing. Keduanya tak menggubris dan berargumen bahaya ada di mana-mana. Di Jerman

Mereka berbicara panjang lebar sementara aku membaca Eat Pray Love. Sebenarnya aku juga kurang konsen karena gatal dg percakapan mereka  yang lumayan asik. Tapi rasanya sungkan untuk nimbrung hingga satu saat mereka mengatakan ingin menuju mall ambassador. Aku pun bertanya untuk memastikan, ternyata memang tidak salah dengar. Akhirnya aku bilang mereka harus turun tebet dan mereka bilang akan mengikutiku saja.

Setelah beberapa saat diam, aku pun beranikan bertanya apakah mereka kali pertama ini mengunjungi bali dan tanah air.

Mungkin karena hari sudah gelap dan kecapaian, kami tak tahu Tebet sudah lewat. Saat aku katakan kami sudah melewati Tebet, si Jerman bertopi malah bertanya, “Tebet? Is it T E B E T?” Oh, kenapa dia tidak bilang! Damn… dulu aku juga tidak tahu sudah sampai Tebet hingga akhirnya turun Gondangdia dan berjalan kaki! Kampret…sekarang kejadian lagi.

 Akhirnya kami turun di Gambir. Sebenarnya aku malu karena aku tinggal di sini tapi tak begitu mengenal rute. Maklum tak terlalu sering keluar kota. Kami naik kereta lagi. Aku ajak mereka jalan kaki tapi menolak. Ya sudah.
Saat berada di angkutan umum menuju Ambassador Mall, kami berbincang. Entah kenapa aku memberitahukan informasi yang tolol. Karena lokasi hotel Marriott sudah dekat, aku pun membuatnya sebagai bahan obrolan. Aku katakan di sini pernah terjadi pemboman oleh teroris. Dan itulah alasannya mengapa seorang pria di kereta tadi menyarankan mereka berhati-hati, karena muka mereka Kaukasia sekali jadi sering dianggap orang Amerika. Tanggapan mereka hanya datar saja. Mereka bilang dalam bahasa Inggris , bahaya ada di aman-mana, jadi konyol sekali kalau tidak bepergian cuma karena takut teroris.
Sebenarnya aku merasa bodoh sekali mengatakan itu. Ada orang yang sudah mau susah payah berkunjung ke negeri ini tapi kami malah sodori hal-hal yang tak menyenangkan. Malu sekali. Harusnya aku bisa menjelaskan lebih banyak tempat-tempat menyenangkan di Jakarta dan sekitarnya sini. Namun apa daya, mereka penyuka tempat wisata alam. Apa yang bisa ditawarkan alam Jakarta?? Hampir NOL mungkin. Hampir semua sudah tertutup hutan beton dan aspal dan …sampah. Aku hanya bisa sarankan Kemang untuk hangout dan Ragunan untuk menikmati ruang terbuka.

Belajar Menyunting (Teks) di Himpunan Penerjemah Indonesia

Penat sekali hari ini. Tetapi kepenatan saya ini diiringi perasaan puas, gembira yang tidak terukur. Dari pelatihan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang diselenggarakan dari pagi hingga sore tadi ada banyak sekali pengetahuan, pengalaman dan relasi yang saya dapatkan. Tak hanya itu, saya juga dapatkan “ketakutan” baru. Apa itu? Simak saja sampai tuntas.

Lokasi pelatihan berada di Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin. Pemilihan lokasi yang cukup bagus karena tak terlalu jauh dari kos di Satrio. Saya juga sudah tahu letak Taman Ismail Marzuki tempat PDS H. B. Jassin berada. Jadi saya bisa agak lega karena tak perlu bertanya sana sini mengenai rute. Lagipula GPS sudah sangat membantu!
Ini pertama kali saya berkunjung ke Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin. Memang saya sudah pernah mendengarnya beberapa kali tetapi selama hampir dua tahun tinggal di ibukota tak pernah menyempatkan diri mengunjunginya. Jujur saja, saya pikir itu tempat yang membosankan.

Satu pengakuan lagi dari saya, yaitu bahwa saya juga hanya mengenal satu orang pembicara saja di acara pelatihan tersebut. Begitu butanya saya dengan dunia pergaulan penerjemah profesional, sampai saya hanya mengenali Ivan Lanin yang tersohor berkat  di antaranya penghargaan Klik Hati dari Merc, Wikipedia, dan kamus daring Kateglo. Sementara dua pembicara lainnya (Sofia Mansoor dan Hendarto Setiadi) tidak saya kenali sama sekali. Ditambah lagi sebelumnya saya pernah beberapa kali bertanya dengan Ivan melalui Twitter dan membaca blognya. Tak heran saya lebih mengenalnya dibanding Sofia Mansoor dan Hendarto Setiadi yang justru lebih ‘senior’. Sayangnya, Hendarto Setiadi mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju Jakarta dari rumahnya di Bogor. Jadi saya masih tidak bisa menyaksikan wajahnya. Semoga lekas pulih.

Sekitar pukul 8.30 saya pun sampai di TIM (Taman Ismail Marzuki). Saya dengan agak susah payah menemukan PDS H. B. Jassin yang berada di belakang Planetarium yang pagi tadi tampak agak sesak dengan anak-anak sekolah dasar.

Di sebuah ruang di lantai dua yang didominasi warna biru itu Pusat Dokumentasi Sastra rupanya berada. Tak sebesar yang saya pikirkan semula. Entah apakah memang itu hanya sebagian kecil bangunan PDS atau bukan, saya tak memahami persis. Yang terlintas dalam benak cuma: “Pemerintah negeri ini kurang peduli dengan dunia sastranya sendiri”. Ya, namanya juga “pusat”. Saya pikir bisa lebih representatif dari itu. Ataukah saya yang terkecoh dengan kata “pusat”?

Pertama masuk ruangan, saya pun mendaftar dan menuliskan data diri di meja pendaftaran yang digawangi mbak Lila. Sangat menyenangkan rasanya disambut dengan hangat olehnya dan kemudian saya juga diperkenalkan dengan pak Eddie (D. Rahadi Notowidigdo). Rupanya beliau yang menjabat posisi Ketum HPI sekarang. Rambutnya seperti Hatta Rajasa, masih lebat tetapi putih merata. Berkacamata dengan minus atau plus yang sudah tinggi (What a confirmed translator).  Entah dengan Hatta, tetapi pak Eddie adalah seorang yang sangat kebapakan dan suka berbagi, setidaknya sepanjang pengamatan saya sepanjang hari tadi. Di Twitter, saya pun tergerak untuk berkomentar: “Pak Edi ini ketua Himpunan Penerjemah Indonesia tapi rendah hatinya bukan main. Tdk mau memperkenalkan diri sbg ketua.”

Dan mengenai Twitter (dan Facebook juga), sepanjang pelatihan saya entah mengapa ingin sekali membagikan butir-butir (begitu diksi yang digunakan Ivan selama pelatihan) penting dari paparan  para pembicara. Saya berseloroh saat membalas twit terimakasih Ivan setelah pelatihan selesai petang tadi: “Sama2. Naluri seorang ‘pecandu’ jejaring sosial“.

Sebenarnya selain berniat untuk membagikan pengetahuan yang saya dapatkan selama pelatihan tadi, berbagi di jejaring sosial juga membuat saya lebih mudah mengingat garis besar materi yang disampaikan. Berikut adalah semua twit yang saya labeli dengan tagar #PP (Pelatihan Penyuntingan) di akun Twitter saya sepanjang hari tadi.

1. Banyak peserta yang sudah berpengalaman di sini. Narasumber Sofia Mansoor bahkan sudah menerjemahkan dari 1980. So long!

Satu persatu peserta di awal pelatihan memperkenalkan dirinya masing-masing. Latar belakang profesi juga cukup beragam. Tak cuma penerjemah in-house dan lepas saja ternyata. Seperti saya yang sebenarnya juga web content writer. Beberapa peserta berasal dari sekolah, perusahaan, dan sebagainya. Dan mayoritas peserta ternyata wanita.

2. “Bahasa itu konsensus. Yang penting pesannya tersampaikan”- @ivanlanin

Konsensus berasal dari kata “consensus” , yang bermakna “general agreement”, “kesepakatan umum”. Dan inilah yang membuat bahasa menjadi begitu mengasyikkan bagi saya untuk terus dipelajari karena ada kalanya konsensus itu perlu ‘ditentang’ atau dibiarkan berkembang.

3. Pelajaran dasar penerjemah dan penyunting profesional: berbahasa Indonesia yang baik dan tertib. That’s even trickier!

Inilah yang saya maksud di awal tadi dengan ‘ketakutan’ baru. Seorang penerjemah, penyunting atau editor dan penulis perlu memahami dasar-dasar kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan tertib. Ia perlu semua itu untuk melakukan tugasnya dengan baik. Pada saat yang sama, ia juga harus siap saat dikritisi mengenai hasil pekerjaannya. Dan di sinilah pentingnya menjaga ego. Itu terlihat jelas dalam diri penerjemah sesenior pak Eddie yang justru makin rendah hati seiring tingginya jam terbang. Kritik  bisa ditelan dengan kepala dingin dan ego yang terkendali saat tadi ditertawakan seisi ruangan karena salah membaca “…spesies orang tua” (padahal seharusnya  “… spesies orang utan” ). Sementara ada peserta lain yang belum terlalu tinggi jam terbangnya bahkan terbilang hijau malah makin mati-matian mempertahankan preferensinya saat dikritisi dan diberi masukan oleh peserta lain yang memiliki pengalaman lebih banyak darinya.

Namun, ego yang terkendali ini sebaiknya tidak diterapkan saat kita sebagai penerjemah menerima tawaran proyek yang kurang layak. Pak Eddie, dari hasil mencuri dengar percakapannya selama makan siang dengan peserta di sebelah saya, menyarankan untuk tidak sekali-kali menurunkan tarif hanya karena ingin memiliki pemasukan.  Beliau beralasan, saat Anda memberikan tarif jasa penerjemahan yang berada di bawah kisaran normal, mungkin akan ada banyak klien yang datang tetapi Anda hanya akan kelelahan dan bekerja kurang maksimal. Pesannya, “Lebih baik memiliki sedikit klien dengan imbalan yang pantas daripada lebih banyak klien dengan imbalan yang kurang layak”. Dan itulah yang menurut beliau membedakan penerjemah profesional seperti anggota HPI dari penerjemah pemula.

4. Ternyata “slide” itu padanan bahasa Indonesianya “salindia” .. Ha?? Odd.

5. Belum diberi materi langsung diberi terapi kejut (shock therapy). Disuruh menyunting teks yang kacau balau tanpa tanda baca. 
6. Editor harus tahu alasan mengapa sebuah teks diubah oleh penerjemah.
7. “Kecuali “mempunyai” (bukan mempunyai) dan “mengkaji” (bukan mengaji), semuanya luluh.” 
8. Kata “yang” jika bisa dibuang, buang saja. – Sofia Mansoor
9. Hati-hati karena ada beberapa hal yang pilhan pribadi tetapi tidak melanggar tata bahasa.Biarkan saja.
 
10. APA- akademis. Chicago style guide-jurnalis
11. “Mempunyai” sering menjadi bahan perdebatan antara editor dan penerjemah. Lebih aman pakai “memiliki”.
12. Tidak boleh ada 2 konjungsi (kata hubung) dalam satu kalimat majemuk seperti “jika…maka”. Hilangkan salah satu.
13. Gaya selingkung: house style, gaya yg digunakan suatu penerbit atau organisasi, misalnya pemilihan huruf besar di awal kata untuk judul. 
14. “Antara …dan” bukan “antara…sampai” 
15. “Bahasa itu rasa. Jadi rasanya enak nggak sih?” – @ivanlanin
16. Saya pikir ini ‘kutukan’ penerjemah dan penyunting: “Orang lain lebih teliti dari saya”
17. @ivanlanin menyampaikan “Editor dan Kesalahan Berbahasa” . *nyut nyut*
18. Perpindahan rujukan dari bhs Belanda ke Inggris menyebabkan pergeseran kata “subyek” menjadi “subjek”.
19. Akibat terpengaruh bahasa Inggris, kata “adalah” menjadi lebih sering digunakan padahal tak selalu perlu.
20. Frase “di mana” muncul akibat pengaruh “where” dan which sebagai konjungsi di bahasa Inggris. Hindari itu. “Di mana” bukan konjungsi.
21. Rombak kalimat sehingga penggunaan “di mana” sebagai konjungsi bisa dihindari.
22. “Senjatanya editor adalah rujukan. Jangan gunakan perasaan/ naluri saja.” – @ivanlanin
23. kata hubung (untuk menghubungkan gagasan/klausa), misalnya “tetapi”.
24. Editor dan penerjemah harus kritis terhadap apa yang ia jumpai.Tak selalu yang dianggap lazim itu benar. Dictionary is your savior.
25. “Selalu temukan polanya” – @ivanlanin. Dan pengecualiannya.
26. “Sebelum menyunting, kita harus tahu jenis audiens” 
27. “Editor/penyunting harus berkomunikasi dengan penerjemah dan penulis. Masalahnya tenggat waktu!”
28. “Diksi bukan esensi.Jangan sampai berdebat soal diksi tetapi pesan terabaikan.” -Sofia Mansoor 
29. 2 aliran dalam menerjemahkan : bebas dan setia (pada teks). 
30. “pemroses”, “memproses” bukan “pemproses” , “memroses”
31. Kecuali “oleh”, semua preposisi dalam bhs Ind jangan sampai dihilangkan, misalnya “bahwa”
32. Editor bertugas meningkatkan keterbacaan naskah.
33. Cara terbaik untuk memeriksa hasil terjemahan ialah dengan melafalkannya.
34. “Antre” adalah bentuk baku. Bukan “antri” seperti yang banyak diyakini selama ini.
Sekarang baru saya sadar mengapa teman Facebook saya cerewet mengomentari status saya yang terus menerus menghias dindingnya selama kurang dari setengah hari. Katanya saya sedang kesurupan menjadi guru bahasa Indonesia. Pantas saja,karena saya mengomel sendiri 34 kali di sana!
Terimakasih pada HPI karena telah menyelenggarakan acara ini dan membuat saya hampir diblokir teman-teman di Facebook. Sampai jumpa di pelatihan apapun itu berikutnya!!!
P. S. : Saya dengan senang dan lapang hati menerima pembetulan apapun dari Anda yang membaca.

The Vacation Took Its Toll! (A Random Post Written Desperately in the Commuter Line Train)

Wednesday November 23, 2011

6.53 pm

Here I am stuck in the train . “It was struck by the lightning, he says. Ok, to tell you the truth what I worry about more is NOT about when I get home tonight but when I can have my dinner tonight. And drink! I swear I’ve been severely dehydrated after walking around the Botanical Garden all day long. It was tough, my bodily system is screaming for water. But I can’t get any here! While outside, hevy downpour is falling. My lips are so dry as well as my throat! Too many are standing here but sorry I can’t give this seat away. I’m much too weak to stand up during the rest of the train trip.

It started this morning and hell, I thought I already woke up early enough but what it apparently wasn’t.I set off around 7 am, dashed to the Sudirman Train Station, forgetting that the train is scheduled at 6.30, 6. 55, and 9.40. , which is like “CRAP, I have to wait for more than 60 minutes!”

You may remember Tata Young's "Bitchy, Naughty". And this man sets the song chorus as his phone ringtone!

Enough with the confusion! I shrieked by heart after moving from one coach to another FOUR TIMES (let’s choke the public train official commanding on the megaphone! ). How can this happen to me?? What have I done to deserve this? For God’s sake, I have to work tomorrow! And I here find myself, being stranded in a train coach with this man in front of me talking about rubbish in broken In-glish (Indonesian-English) with 3 alumni of Universitas Diponegoro. I’ve been there, having to endure this sort of conversation which is usually overly boring, so boring you want to bite the vein in his neck to prevent the boredom from killing you, figuratively saying. You simply have to act politely, open your mouth a bit once in a while to please the man and at the same time trying to digest  each and every word the preacher is blurting to no end. It’s, I swear, an ultimate torment if you’re not up to being social and kind. I feel terribly sorry for those 3 young men. They’re exhausted, bored to death and upset for being so powerless to leave the hellish conversation with someone of their grandfathers’ age. Wearing a mask and looking seemingly busy with my notebook writing this post did save me. Busy yourself with anything and no Indonesian passengers will make a mess with you.

The experience was undoubtedly fun. Not having to update any social network accounts, upload images, type like crazy, rewrite articles, summarize long texts, translate stuff, be called on the phone by coworkers or the owner, or inhale the same air of Jakarta today. But there’s a price to pay.

— ∞–

If you're wearing headphones and having a Blackberry in your hand but you litter in the train, you seem more like a neanderthal than a bipedal modern homo sapiens living in the digital age.

7.49 pm

It’s been more than an hour and we’re still here, at Pasar Minggu Station. I miss my maghrib pray, feel excruciatingly hungry and thirsty, until I reach the pointh where I could think of anything but enjoy what it is as it is. Enjoying the present, yes that is exactly what I’m trying to do now. I’ve read a number of pages of “Eat, Pray, Love“, which is kind of great as this novel is comical, witty in some way.

But well, I’m not going to act like a hypocrite. I hate it. I hate this very situation. Being stuck, being unable to rest and claim my private space, to dine, to strectch my stiff legs. I want to scream but why bother? I can’t, will not allow myself to commit such a faux pas. And this man on the loud speaker was definitely a practical joker. Thank to him, we passengers moved to and fro like a flock of fools. Please, f*cking move NOW!! Oh, and that gut said the train is about to move within 4 minutes. Yay!

Oh, speaking of what I did all day long in Bogor, I did different things this time. I metaphorically climb the same mountain but doing extra things on the list. So this is quite productive, I suppose!

Jakarta-Bogor Nov 23, 2011
This man sitting by the door spitted in front of me with his eyes glued to his smartphone! In the train! Public space! What a filthy jackass!

In short, I’d been wandering around the Botanical Garden since noon. And as I waited the pray time (around 11.40 am), I got a terribly shocking, shameful experience. So there was an elderly man (appears to be the mosque’s janitor or something) sprung out of the door and without warning asked one of us (I was there with the other two men sitting in the porch) to give the call to prayer. “Gimme a break!” I thought and grinned bitterly at the old man. I’m not afraid of making mistakes but.. you know I need rehearsal!! It’s hard to just shout the azan lines while you never do it on a regular basis before. Ok, I feel guilty but what if I did something wrong and the entire neighborhood came out of their houses and mocked me or considered that profane? That’s much too risky! And I hear kids are screaming , just like a school but this is buzzing endlessly. I-N-D-O-N-E-S-I-A!!! That’s what they’re yelling. The soccer madness lingers and even escalates in some pockets of the country, believe it or not. Considering the saddening fact that there’re two casualties who lost their lives  for a sheet of soccer match ticket at Gelora Bung Karno Stadium, that is supposed to be better than a one-night-trending spirit.

–∞–

LIAR! So this transportation tragedy is NOT even close to its end. He said 4 minutes, but look where we’re now still. Until now, 5 minutes after the promised time, the train doesn’t even move a single inch. I still sense NO movement at all! I can’t be  mad at anyone because it’s purely out of their control. Huge thanks to myself for bringing this notebook along. It DOES keep my brain active, to survive the unbearably boring predicament.

I swear all passengers here in this ill-fated commuter line train are so fed up right now. They’re like yawning repeatedly, exchanging texts on the phone, checking BlackBerry Messenger,  restlessly or calling people at home they’re gonna be home unusually late. But it’s true, I even want to smash my own head to the glass window.

And the man is announcing again, “The train heading to Jakarta Kota Train Station isn’t allowed to set off now just yet.” God is good. He wants to assess my patience level.

–∞–

Talking about  the Botanical Garden, I already have with me a number of seeds! Yes, seeds of some plants I happened to find along the way. It was lazy of me to even jot down the names or shoot the nametag of each tree but as Shakespeare stated centuries ago, “What is a name?” Names don’t matter, to a certain extent.

And oh, there is a train moving beside our train and every one of us in this train, like responded by a quick, sudden stare filled with annoyance, envy, or hopelessness. The eyes speak for their mind, “How can they move while we’re stuck for hours here?” Or maybe what is popping out on their mind is the urge to hijack the train newly arriving? I have no idea.

Boredom is at the moment intruding even more deeply, seeping through the deeper level of our souls. I succumb. I got the Android phone and check th e Facebook newsfeed and Twitter mentions. And to my utter annoyance, the connection is stuck, just like this train. I sigh, desperately enough.

The guy announced again, only telling us to wait longer. The problem in Manggarai isn’t fixed yet and what hurts me eve more is the fact that the connection speed on this mobile phone goes a lot slower than snails. I now activate the 3G in hope that it’ll significantly boost the speed. Enough with the experiment, I switch the phone to airplane mode!

–∞–

9.01 pm

It’s 9.01 pm and the God-blessed train isn’t moving yet. And this is sickening!  can’t even survive another hour. Please God, I beg of You…

Everyone starts to call or be callled by their dad, mom, or relatives at home. Can barely stand it any further.

Now I sincerely pray for the people at Manggarai that they can fix whatever the problem is IMMEDIATELY, considering it’s been more than 2 hours straight we’re in the train wasting our invaluable life time for cursing other innocent people.

–∞–

10. 17 pm

IT IS MOVING, I CAN FEEL THE MOTION, FOLKS! THANK GOD *Crying for joy*

My Cathartic Walk to Bogor Grand Botanical Garden (3)

The gigantic trees always amaze me. Some of them started to sprout long before my grandparents were born. How did they survive decades or even a century?
So this is the restroom. Kind of spooky and too spacious to look like a decent restroom, but well it was built by the Dutch. My hunch is the Dutch needed extra room to 'wash' themselves.
Arrived at Bogor Train Station around 30 minutes before the train headed to the crap-ital, which was good as I couldn't stand the worry to arrive in Jakarta late at night!
Got off the commuter train at Gondangdia. As soon as I saw that automatic door was closed, I realized it was that day's worst decision made. And it cost me a 60-minute walk from Gondangdia (Cokroaminoto) to Karet Kuningan. It felt like I crossed the entire country the whole day. Walking that far is absolutely not for the faint-hearted. And this is what I saw under the flyover of Kuningan. Welcome to the reall world...againnn...hhhh

 

 

 

 

My Cathartic Walk to Bogor Grand Botanical Garden (2)

Have a nice watch….

 

My Cathartic Walk to Bogor Grand Botanical Garden (1)

It's really an honor to see this flock of middle-class workers on weekdays, without being a part of them. Suddenly arises a sense of freedom.
My commuter train ticket to Bogor. Got this at Sudirman Station.
Sudirman Station, a modern-looking station that provides you a river view from its windows. A heavily polluted one, sadly.
Sudirman Street, one of the capital 'arteries'. If it gets clogged, you'll find lots of Jakartans cursing Fauzi Bowo on Twitter.Perusing the schedule. Really wish I was coming earlier in the morning. I had to wait around an hour just get into the next train. I learn my lesson 🙂
In the train heading to the town of rain, that is Bogor. The train stops at every and each station it passes through, so I can't complain for a faster riding experience. We obviously inherit this snail-paced, obsolete technology product from the 20th century Japan. Shame on us!
We know democracy is overly hyped, but I didn't learn it until I spotted this warm exchange of thoughts on a public toilet at the Bogor train station. Excuse the inappropriate words!
Ok, I hate it when I fail taking the best shots. Even for amateurish photographers, I'm too clumsy! So here is how the station looks in front.
This is how arts can be grounded, unlike classy, overly cleaned, untouched galleries full of paintings scattered in Jakarta.
A long, not-so-winding road...A friend of mine 'advised' me to walk around the garden. And yes I literally DID WALK only to find how hugggeee the garden is! Broke my legs afterwards.
The homeless in Bogor shows us another grim side of the town. Did they ever brush their teeth?
Walking barefooted is good to stimulate the nerves on your foot palm. But often I have to carefully choose where to step, or else I'd tear mine. Look at the stones! I appreciate any creatures who spent their time to work on this artistic stony path.
%d bloggers like this: