Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku -2)

Di sebuah seminar entrepreneurship di UI Depok beberapa hari lalu. Mahasiswa/i adalah spons paling hebat di dunia. Mereka menyerap apapun di sekitar mereka dan itulah yang menarik para brainwasher aliran-aliran sesat datang ke kampus-kampus.

(Sambungan dari Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia bagian 1)

Pikiran saya saat itu masih melayang-layang, memikirkan apakah mereka akan terkesan dengan resume saya atau hanya melemparkan dokumen saya di tong sampah begitu saja. Rasanya tak sanggup lagi kalau harus gagal. Sambil menanti azan dzuhur yang segera bergaung, saya mencoba bersantai setelah beberapa hari sekujur tubuh dan pikiran penat di atas kereta dan merenung tentang masa depan.

Saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang. Dan saya diajarkan untuk tidak menerima keramahan yang tanpa alasan jelas oleh orang asing. There’s no free lunch, literally. And I take the advice without question. Ayah saya selalu mengingatkan jangan minum atau makan apapun yang diberikan orang selama perjalanan. Meski pada akhirnya saya juga sadar, tidak semua orang bermaksud buruk, toh kewaspadaan itu perlu. Apalagi di tengah Jakarta. Dan saya saat itu sedang di Depok, di luar wilayah ibukota, jadi nasihat ayah bisa sedikit  saya abaikan. Demi Tuhan, ini kan lingkungan terpelajar! Universitas Indonesia! Sulit sekali membayangkan ada tindak kriminal terjadi di sini atau penjahat mengintai di balik tembok kampus yang penuh muda-mudi berwajah, yang menurut istilah sekarang, unyu.

Si pemuda berbadan gelap (sebut saja si A) ini menyapa saya yang terlihat termangu di hadapannya. “Assalamualaikum, lagi apa di sini?” Saya pun menjelaskan alasan saya di sini dengan nada setengah hati. Sungguh, berbincang-bincang dengan orang asing adalah hal terakhir yang terpikir ingin saya lakukan di hari itu. Saya cuma ingin sendiri, makan dan tidur di sebuah ruangan gelap tanpa goncangan dan bau pesing  a la gerbong kereta bisnis karena lelah luar biasa. Obrolan dengan orang asing juga menjadi semacam rentetan interogasi karena banyak yang harus saya jelaskan dan pada saat yang sama saya tidak atau kurang ingin bertanya pada mereka. Saya tidak ingin terlalu mengurusi kehidupan orang lain, itu pikiran saya.

Dia menyebutkan nama sepintas lalu. Saya tak berusaha mengingat. Toh saya tidak akan bertemu dengan mereka lagi, batin saya. Tetapi saya mencoba bersikap ramah, apalagi dengan saudara seiman.

Pertama si  A menanyakan asal saya, saya jawab apa adanya. “Di mana kuliah?” si A bertanya lagi. Saya tak ingat pertanyaan apa lagi yang ia ajukan tetapi ia memberondong saya sedemikian rupa sehingga saya tidak terpikir untuk bertanya balik.

Sejurus kemudian, mereka mengaku sedang menunggu temannya. Katanya si teman yang ditunggu ini (sebut saja si B) bekerja di sebuah rumah produksi, yang seolah menyiratkan bahwa ia dekat dengan kalangan selebritas. Si A juga berceloteh bahwa si B ini tinggal di sebuah studio yang bisa saya tinggali sementara karena saya mungkin harus tinggal di sebuah penginapan atau kos malam itu untuk menunggu hasil tes wawancara kerja yang baru usai.

Benar saja. Si A pun mengutak-atik ponselnya. Ponsel murahan Esia dengan layar super sempit itu ia angkat dan tempelkan ke telinga sejenak, berkata-kata sebentar pada orang yang ada di ujung sambungan seluler lain. Tampaknya si B hanya beberapa langkah saja dari tempat kami berada.

Si B pun tiba. Penampilannya sungguh perlente. Kemeja lengan pendek rapi. Kumis dan jenggot bersih mulus. Celana berikat pinggang rapi dengan panjang yang wajar menurut standar fashion terkini, tak terlalu pendek lah.

Sekali saya mendengarnya berkata, tak diragukan lagi ia jenis orang yang pandai bersilat lidah. Bahkan si B ini bisa jadi senior si A dan si C (yang sama sekali pasif sepanjang bersama saya, bisa jadi ia baru seorang ‘anak magang’).

Kami pun berbincang. “Damnation, mau rehat malah terjebak dalam pembicaraan yang tidak jelas juntrungannya begini,” keluh saya dalam hati. Ia terus meracau. Si A mengulang beberapa potongan informasi yang sudah saya berikan tentang diri saya pada si B.

Azan berkumandang. Kami bergegas ke musholla kampus terdekat yang mengharuskan kami menyeberangi jembatan merah dia atas danau artifisial nan indah dan resik itu. Asri kampus UI memang.

Musholla kampus itu penuh sesak dengan mahasiswa dan mahasiswi. Inilah kelemahan memiliki area kampus yang begitu luas dan lapang, susah mengontrol keluar masuknya orang terutama yang bukan mahasiswa dan staf kampus.

Saya ingin menunggu hingga musholla agak lega, tetapi si A dan B tampak tak sabar. Mereka seolah menggiring saya ke masjid lain yang lebih besar. Jelas mereka tidak sekali baru ke kampus UI. Mereka tampak sudah familiar dengan tata letak kampus.

Tema obrolan pun makin ‘berat’. Dari sekadar penawaran untuk menginap di studio tempat si B konon tinggal makin lama makin bergeser ke masalah agama, sosial, politik dan kenegaraan. Intinya mereka ingin saya merasakan adanya ketidakpuasan dari kondisi yang ada sekarang dan mengapa harus memberontak melawan status quo: pemerintah Indonesia yang menurut mereka sudah zolim dan KAFIR. Nah!

Obrolan ini terhenti karena solat zuhur. Saya solat agak terpisah dari mereka tetapi setelah solat pun mereka kembali menghampiri saya. Mereka masih tertarik mengobrol dengan saya. “Sial!”

Perut sudah sangat meronta. Gesekan dinding usus yang kosong melompong ini sangat menyiksa. Dan 3 keparat itu masih mencoba mengajak saya mengobrol. “Dasar orang-orang ini tidak peka, jamnya makan siang diajak diskusi berat,” pikir saya. Makin tidak bersimpati saya pada gerombolan ini.

Mulailah tampak tujuan asli mereka.

Sebuah mushaf (naskah) Al Qur’an diambil si A dari rak buku masjid atas perintah si B. Jelas ada hubungan hirarkis vertikal antara keduanya. Sementara si C cuma tidur-tiduran.

To be continued…

Menggugat Paham “Muda Foya-foya, Tua Kaya Raya, Mati Masuk Surga”

Hari yang sungguh absurd Jumat ini. Literally. Pertama, saya mengawali hari dengan hadir untuk urusan kerja di sebuah pameran bertema penumpukan kekayaan berjudul “Wealth Expo” di Senayan City, Jakarta. Pameran ini juga satu rangkaian dengan beberapa presentasi cara menjadi kaya raya dari pembicara-pembicara muda ternama. Yeah, you know them. Mereka ini adalah para public speaker, motivator, dan penulis buku yang wajahnya menghiasi rak buku best seller di toko-toko buku besar.

Apa yang dibicarakan juga sudah bisa ditebak. Pasar saham, properti, investasi, prospek, proyeksi, indeks, grafik, tren, jual beli, buyback, return, loss, kaya, makmur!

Saya menjadi merasa sangat munafik berada di sana. Mungkin ada benarnya kata koh Adam Khoo tadi pagi. Orang yang membenci orang kaya dengan sendirinya mencegah dirinya menjadi kaya. Just because you’re not rich, you can’t hate those who are. Menohok. Fullstop.

Fine, saya akan berdamai dengan orang-orang kaya di sekeliling saya karena bagaimanapun juga mereka itulah yang menggerakkan perekonomian bangsa dan negara.

Dan tidak ada yang salah dengan sistem distribusi pendapatan yang berlaku sekarang, kata Mr. Khoo. Rileks sebentar (para penganut sosialis mungkin langsung mengernyitkan alis dan siap mengepalkan tangan). Mungkin juga ia benar.

Itulah yang saya jumpai dan saksikan sehari-hari di Jakarta ini. Class struggle. Perjuangan kelas. Ingat Antonio Gramsci? Saya ingat. Ingat sekali bahkan. Bukan karena saya suka membaca Wikipedia atau menelisik lembaran-lembaran buku sejarah, tetapi karena di drama Korea “Memories of Bali“, 2 tokoh utamanya berdiskusi tentang teori yang digagas oleh Antonio Gramsci. Sungguh suatu cara yang tak terduga untuk belajar teori sosio-politik, bukan?

Antonio GramsciGramsci hanyalah seorang penulis biasa dari negeri pizza. Ia suka juga berkecimpung dalam dunia politik, mendalami sosiologi pula dan tak kalah piawai dalam urusan bahasa. Sayangnya, ia jelas bukan penggemar tren fashion. Gaya rambutnya terlalu ‘megah’. Lihat saja di foto samping. Terlepas dari preferensi gaya rambut yang eksentrik itu, mas Gramsci ikut mendirikan dan pernah menjabat sebagai pucuk pimpinan Partai Komunis Itali dan dijebloskan ke balik terali besi saat Benito Mussolini berkuasa. OMG, saya baru tahu ia seorang komunis. Teman saya di kampung yang mirip Aidit itu pasti langsung bangga.

Kembali menginjak tanah Batavia, di sini setiap saat saya menyaksikan jurang perbedaan pendapat dan pendapatan. Selisih paham di berbagai situasi sudah biasa ditemui di kota metropolitan ini. Apalagi perbedaan pendapatan. Buruh-buruh kontrak di proyek-proyek konstruksi di bilangan Satrio setiap pagi mengenakan sepatu boot dan pakaian lusuh seadanya untuk berpeluh-peluh sepanjang hari di lokasi pendirian gedung-gedung pencakar langit baru dan jalan layang penghubung Tanah Abang dan Kampung Melayu.

Mereka menyewa kamar kos di gang-gang sempit di belakang kantor. Dengan melihat fakta bahwa satu kamar kos sempit bisa diisi 4-5 orang pekerja konstruksi, kita bisa taksir besarnya penghasilan mereka dari bekerja sebagai buruh bangunan kontrak seperti itu. Saya sangsi apakah standar UMR juga sudah layak atau belum untuk mereka. Tapi pikiran itu langsung sirna begitu mendapati pekerja-pekerja itu dengan santai merokok sepulang kerja. “Siapa suruh bakar uang terus diisap seperti itu?” pikir saya yang punya sejarah cinta-benci dengan rokok.

Setelah pukul 11, acara pun jeda. Dan berikutnya, saya mendengarkan khotbah Jumat di dalam musholla kecil di mall raksasa itu. Serasa seperti tenggelam di lautan setelah 1 detik sebelumnya kehausan di gurun pasir. Mendengarkan khotib berceramah tentang kebahagiaan akhirat dengan pikiran masih terngiang-ngiang untung jutaan dollar dari bermain saham. Sangat menyeimbangkan. The most perfect equilibrium, I should say.

Bedanya saya tadi duduk di ruangan berpendingin yang membuat saya dehidrasi hingga bibir kering kerontang, duduk nyaman di satu kursi empuk sendiri dan menatap panggung megah menjulang dengan tata cahaya yang aduhai serta sistem suara yang menggelegar. Wajah dan ekspresi pembicara juga amat atraktif. Cuma orang sinting yang mau melewatkan kesempatan belajar seperti itu, apalagi setelah membayar tiket masuk ratusan ribu rupiah. Untungnya saya gratis karena tugas kantor.

Di musholla ini, saya tidak dehidrasi lagi. Setidaknya tidak tampak demikian lagi karena bibir saya sudah lembab dengan air wudhu. Tapi tunggu dulu, jangankan duduk nyaman, mau meluruskan kaki pun tidak leluasa di sini. Kepadatan jamaahnya tidak bisa dianggap remeh!

Saya yang semula suka berkeluh kesah saat orang satu barisan shaf di samping saya tidak mau mendekatkan kaki mereka ke kaki saya, kini harus menelan ludah saya sendiri karena tanpa diminta pun, orang-orang di samping saya sudah merapat tanpa dikomando karena ruangan yang terbatas. Saya pun berjejalan dengan satu orang pria bertubuh tambun dan berlengan gembur di barisan belakang dan satu orang di samping kiri yang sekonyong-konyong masuk barisan tepat sebelum takbir dimulai. Sangat WTF sekali pokoknya. Seperti selada dijepit roti.

Seperti biasa, tidak ada tidur yang paling nikmat kecuali tidur saat di dalam masjid/ musholla di tengah khotbah Jumat. Kenikmatannya tiada tara, saya berani menyimpulkan.

Di sini lain dari seminar tadi. Sama-sama ada orang yang berbicara tapi tidak ada panggung megah. Ada podium mungkin tapi percuma juga saya tak bisa melihat langsung wajah si khotib. Sound system juga bukan yang wah. Biasa saja. Banyak nasihat bagus bergema di antara dinding musholla ini tetapi kepala-kepala terkulai karena kantuk dan bosan. Mungkin kemalasan mendengarkan itu juga karena masuk menjadi jamaah solat Jumat itu wajib dan gratis.

Pak khotib tanpa wajah itu suara menggaung,”Kalau kebahagiaan dunia itu semu dan temporer… Tidak ada orang yang bahagia sepenuhnya di dunia ini, siapapun orangnya. Walaupun punya jabatan tinggi, punya harta melimpah, gelar berderet-deret, tidak akan luput dari kegelisahan. Maka kebahagiaan yang kita butuhkan tak cuma di alam dunia, tetapi juga di alam kubur.” Lalu ia melanjutkan dengan berandai-andai, menyebutkan bahwa di tahun 2112 nanti semua yang ada di sini sudah berpindah ke alam lain. Hasrat ingin kaya melumer sudah. Ya sudahlah, jadi orang baik juga sudah cukup. Nanti nunggu enak di akhirat saja.

Inti khotbahnya sebenarnya cuma 1: “kunci kebahagiaan dunia-kubur-akhirat: pelajari Al Quran, solat, dan infaq”. Tapi khotib ini dengan piawainya mengelaborasi hingga menjadi sebuah ceramah sepanjang 27 menit lebih. Bravo orators!

Dan tentang judul, karena hari ini adalah hari yang absurd, saya pikir tak ada salahnya memilih judul yang absur dan tidak relevan pula.

Perbandingan Fakta Penggunaan Energi yang Belum Anda Ketahui

English: Spectrum of a Compact fluorescent lamp.
Lampu LED paling hemat energi, bahkan dibandingkan lampu jenis CFL atau Compact Fluorescent Lamp. (Photo credit: Wikipedia)

Perbandingan 1

Jika setiap rumah di Amerika Serikat mengganti 1 bohlam lampu dengan lampu Energy Star yang hemat energi, jumlah energi yang dihemat dapat menerangi lebih dari 3 juta rumah tangga per tahun. (energystar.gov)

Perbandingan 2

Cahaya alami yang optimal di dalam kantor dapat mengurangi tingkat absensi karyawan sebesar 15% dan meningkatkan produktivitas sebanyak 15%. (National Renewable Energy Laboratory)

Perbandingan 3

Sepeda adalah alat transportasi paling efisien. Pengendara sepeda dengan berat 64 kg yang bersepeda dengan kecepatan 16 km/ jam memerlukan energi sebanyak 27 kcal (kalori),, yakni sama dengan 311 km/liter. (wikipedia)

Perbandingan 4

Dibandingkan dengan bohlam lampu tradisinal, bohlam CFL (Compact Fluorescent Lamp – tipe bohlam lampu pengganti lampu pijar tradisional, bersifat lebih efisien dan tahan lama) membutuhkan energi 3-5 kali lebh sedikit dan tahan lama 8 -15 kali lipat.(eartheasy.com)

Perbandingan 5

Perkantoran dan bisnis di AS membuang 20 metrik ton kertas tiap tahunnya, atau sama dengan 80 kg kertas per karyawan, atau lebih dari 350 juta pohon.(University of St. Thomas)

Perbandingan 6

Produksi 1 kg daging sapi menghasilkan lebih banyak gas rumah kaca dibandingkan mengemudi lebih dari 250 km.(Animal Science Journal)

Perbandingan 7

Selain menyelematkan pohon, proses daur ulang kertas memerlukan 64% lebih sedikit energi dibandingkan menghasilkan kertas dari kayu alami.(goinggreentoday.com)

Perbandingan 8

Untuk pencahayaan lebih dari 50.000 jam, Anda akan membutuhkan 42 lampu pijar, 5 lampu CFL atau hanya 1 lampu LED. Jelas sudah mana yang paling hemat kan? (greenliving.about.com)

Perbandingan 9

Sebuah monitor komputer yang dimatikan pada malam hari dapat menghemat  energi setara dengan 6 kali menghangatkan makanan di microwave.(University of East London)

Perbandingan 10

Mesin fotokopi yang lupa dimatikan dalam 1 malam membuang energi listrik yang cukup untuk memfotokopi 5.300 lembar kertas.(Queens University, Belfast)

Perbandingan 11

Diperlukan 20.000 liter air untuk memproduksi 1 kaos dan 1 celana jeans. (WWF)

Perbandingan 12

Energi yang dihabiskan oleh seluruh pencarian di “Google Search” selama 1 bulan dapat menjalankan 1 sepeda selama 5.000 tahun.(wellhome.com)

Perbandingan 13

Umumnya AC mengkonsumsi lebih dari 50% biaya listrik di rumah. (michaelbluejay.com)

 

 

 

Yuk Perpendek Hidup dengan Makan Banyak Daging!

Karena alasan kecantikan, kesehatan, cinta lingkungan  dan hewan dan kurangi pemanasan global, sebagian orang berpantang makanan dari hewan dan produk turunannya. Makin banyak orang yang dari waktu ke waktu mengadopsi pola makan vegetarian hal ini bisa dilihat dari banyaknya restoran dan depot makan yang melayani segmen vegetarian. Yang padat pengunjung  sehingga mereka yang menganut pola makan vegetarian akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makanan mereka sehari hari dan tidak akan mudah bosan dengan menu makanan yang monoton.

Indonesia vegan society sebagai satu wadah berkumpulnya vegan dan vegetarian sejati di tanah air kembali mengadakan acara gathering dengan sharing yang begitu menarik yakni “Cara Hidup Bahagia dengan Menjadi Seorang Vegan” di Dapur Teratai, depot rumah makan yang menyediakan menu makanan sehat vegetarian.

 

Banyak orang yang masih belum memahami perbedaan antara istilah “vegan” dan “vegetarian”. Menjadi vegan adalah dengan menjadi vegetarian murni, hanya dengan makan biji-bijian, kacang-kacangan, sayuran dan buah bahkan menghindari penggunaan produk hewani seperti kulit hewan atau kosmetik yang mengandung produk hewani.

 

Presiden Vegan Society Indonesia, Prof. Dr. Susianto, ikut berbagi dengan menjelaskan bagaimana menjadi vegan sejati akan menjadi cara hidup alternatif dan pilihan yang bijaksana dengan menjaga kesehatan kita.

 

“Vegan itu sangat penting. Saya beralih dari lacto ovo vegetarian menjadi vegan karena menurut penelitian, menjadi vegan membantu menekan risiko mengidap penyakit degeneratif seperti sakit jantung, diabetes, stroke, obesitas, hipertensi, dan sebagainya,” jelas Susianto.

 

Ada satu penelitian menarik, kata Sucianto, mengenai gaya hidup vegan. “Orang yang makan daging dan merokok memiliki risiko menderita penyakit jantung koroner lebih tinggi sampai kira-kira 70%,” ungkap pria bertubuh subur namun sehat ini.

 

Sayangnya masih banyak orang yang merasa ragu dengan pola hidup vegetarian ini. Pertanyaan seperti “Apakah vegetarian bisa memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh untuk aktivitas sehari-hari?” ternyata masih menjadi pertanyaan yang menggantung di benak orang awam yang masih asing dengan istilah ini.

 

Satya Wira Aryawan, seorang ahli gizi, memberikan penjelasan yang mengkoreksi pandangan yang keliru yang sering ditemui di kalangan awam saat ini mengenai pola makan, yaitu manusia memerlukan daging dalam jumlah besar untuk mencukupi gizi yang dibutuhkan. Namun, kita tak pernah tahu bahwa dengan memakan daging , kita akan menerima risiko lebih tinggi mengidap penyakit yang merusak tubuh kita.

 

Satya memberikan sekilas kiat untuk mereka yang berkeinginan menjadi vegan,”Mereka yang mau menjadi vegetarian perlu menemukan alasan yang kuat, misalnya untuk alasan kesehatan, untuk menanggulangi kelaparan dunia, demi mengurangi dampak pemanasan global.”

 

Tak hanya sampai di situ. Menurut Satya, mereka yang bertekad menjadi vegan juga sangat disarankan memiliki buku-buku resep makanan vegan yang bervariasi sehingga pola makannya nanti tidak akan membosankan. Kebosanan bisa berakibat kembalinya si pelaku gaya hidup vegan menjadi seperti semula yang non-vegan.

 

“Anda juga bisa mengikuti berbagai seminar tentang pola makan vegan dan acara gathering sesama penganut pola makan vegan. Asalkan ada tekad, niat dan doa, semua pasti bisa belajar menjadi vegetarian,” komentar Satya.

 

Alangkah baiknya jika pengenalan pola hidup pantang makanan dan produk turunan hewani ini dilakukan sejak dini. “Kami sudah bervegetarian sejak bayi, kami makan sayur-sayuran saja dan tidak makan daging karena kasihan binatang harus dibunuh,” ujar seorang anak yang ditanya mengenai cara memperkenalkan gaya hidup vegan pada anak seusianya. (*Daai TV)

 

Image credit:

healthycollegeliving.wordpress.com

10 Alasan Dukung Pangan Lokal Indonesia (2-Habis)

Bahasa Indonesia: Soto Kudus dan nasi 日本語: ソトク...
Bahasa Indonesia: Soto Kudus dan nasi 日本語: ソトクドゥス(チキンスープ) (Photo credit: Wikipedia)

Setelah bagian pertama yang membahas 5 alasan memilih bahan pangan asli Indonesia sekarang waktunya bagi Anda untuk mengetahui 5 alasan lainnya yang tak kalah pentingnya pula.

6. Menjaga keanekaragaman hayati dan pengetahuan lokal

7. Mengurangi asupan zat kimia berbahaya

Zat kimia yang dimaksud bisa berbentuk pestisida, pengawet, dan sumber pangan yang sudah direkayasa secara genetic  yang memiliki potensi membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup kita.

8. Tahu sumber dan asal makanan, sehingga bisa mendorong produksi yang sehat dan ramah lingkungan. Produsen pangan lokal skala kecil dapat mengelola lahan mereka dengan lestari untuk menghasilkan pangan sehat bagi konsumennya.

9. Menghemat pengeluaran negara untuk impor pangan. Hingga semester pertama 2011, uang yag dihabiskan untuk pengadaan bahan pangan dari luar negeri mencapai nilai Rp 45 triliun! Dan setengahnya hanya untuk mengimpor gandum yang biasa kita makan dalam bentuk roti, mie instan!

10.Menjalin kembali hubungan antara penghasil pangan di desa dengan konsumennya di kota, sebagai satu bangsa yang saling menghidupi.

Pada kenyataannya 10 alasan ini hanya sebagian alasan yang bisa dikemukakan untuk mengajak kita semua orang Indonesia untuk kembali mencintai hasil bumi dan laut sendiri. Karena umat manusia kini sadar atau tidak makin dekat dengan bahaya krisis pangan. Penduduk dunia makin banyak. Lahan pertanian makin sedikit, dan laut makin tercemar. Di saat yang sama, harga pangan terus naik karena lahan yang menyempit dan makin banyaknya mulut yang harus diberi makan. Belum lagi dampak perubahan iklim yang membuat alam tidak bisa ditebak sebagai penyedia pangan secara berkelanjutan.

 

Kenyataan lainnya yang cukup menyedihkan ialah bagaimana kita terperangkap  dalam 2 jenis makanan utama: nasi dan terigu. Saya selalu ‘dimarahi’ ibu karena tidak selalu makan nasi. Dan tak peduli sekenyang apapun, kalau belum makan nasi, saya dianggap belum makan.

Beras memang dapat dihasilkan oleh para petani domestik tetapi patut diketahui bahwa lahan pertanian kita makin menyusut akibat meningkatnya permintaan dan kebutuhan terhadap hunian yang layak.  Di sisi lain, tingkat konsumsi meninggi.

Sementara itu gandum yang merupakan bahan baku terigu tidak tumbuh di negeri ini. Gandum yang kita makan adalah bahan pangan impor. Sialnya, masyarakat kita tidak tahu dan tidak peduli tentang ini dan tetap mengkonsumsi  semua makanan berbahan dasar gandum. Ketergantungan kita terhadap gandum makin tinggi, dan ketergantungan itu sebenarnya bisa dicegah dan diatasi. Solusinya? Ya jangan dibiasakan makan makanan berbahan gandum sebagai bagian menu sehari-hari. Cukup kita makan sesekali. Jadi jangan sampai dianggap sebagai makanan pokok. Karena saat kita menganggap gandum sebagai makanan pokok, kemandirian pangan kita sebagai bangsa otomatis sudah sirna.

Saat impor dilakukan, produk yang dihasilkan produsen pangan lokal juga terpukul. Konsumen gandum yang secara sadar makan gandum terus menerus sebagai makanan pokok secara langsung atau tidak langsung telah memukul saudaranya sendiri yang menggantungkan kehidupan mereka dari penjualan bahan pangan lokal. Ini mencemaskan!

Kerugian lainnya ialah bagaimana impor bahan pangan berdampak pada perkembangan potensi pangan lokal kita. Karena terlalu sibuk mengimpor dan menghabiskan dana untuk itu, kita menjadi lalai untuk merawat warisan tanah air kita sendiri. Potensi pangan Indonesia amat banyak. Tak hanya beras saja yang bisa kita makan sebagai makanan pokok bukan? Ada banyak umbi-umbian dan sumber pangan nabati lokal lainnya yang sebetulnya sudah banyak dikenal tetapi mulai ditinggalkan karena dianggap udik, kurang relevan dengan cita rasa modern.

Nah, setelah ini apakah Anda juga mau memperbanyak konsumsi pangan lokal? Bahan pangan lokal apa yang membuat Anda ‘ketagihan’ dan pantas untuk diangkat ke khalayak yang lebih luas?

 

 

Lokakarya Regional IATIS Diadakan Maret 2013

Bahasa Indonesia: Universitas Negeri Semarang ...
Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

The International Association for Translation and Intercultural Studies (IATIS) akan menggelar lokakarya regional pertamanya di kota Semarang, Jawa Tengah. Acara ini akan diselenggarakan tanggal 25 hingga 27 Maret 2013 mendatang.

Dengan waktu yang panjang ini, panitia penyelenggaraan lokakarya dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengundang para akademisi untuk mengirimkan makalahnya untuk dibahas selama sesi paralel (20 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab).

Tujuan lokakarya ialah untuk mengeratkan hubungan antara para akademisi yang bergelut dalam bidang penerjemahan dan studi antarbudaya di wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya.

Tema lokakarya yaitu  “Translation and Cultural Identity” yang dibagi menjadi subtema sebagai berikut:

  • Penerjemahan dan masalah-masalah multibudaya dan multibahasa
  • Pemeliharaan, pembentukan dan memberi tantangan pada jati diri setempat/ nasional dalam penerjemahan
  • Kebijakan pemerintah dan dampaknya pada hasil penerjemahan
  • Masalah-masalah keberterimaan terjemahan antara bahasa-bahasa yang memiliki perbedaan budaya
  • Penerjemahan budaya populer dan dampak enkulturasinya
  • Penerjemahan dalam dunia maya dan tantangannya terhadap jati diri budaya

Untuk yang ingin berpartisipasi, diharapkan mengirimkan abstraksi sekitar 300 kata ke alamat surel: iatis_indonesia@yahoo.com paling lambat 15 Juni 2012. Makalah yang lolos akan diumumkan pada 28 September 2012.

P.S. : Informasi lebih lanjut bisa diketahui dengan menghubungi Issy Yuliasri di alamat surel: issyuliasri@yahoo.com. Sekretariat lokakarya berada di Gedung B3, UNNES, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang 50229, Indonesia dengan nomor telepon dan faksimile +62 (24) 8508071.

Tentang Damai

Berikut adalah ringkasan dari apa yang disampaikan oleh Mala dari Brahma Kumaris, organisasi spiritualis yang diundang ke Yoga Gembira, Taman Suropati hari Minggu tanggal 11 September 2011. Temanya ialah perdamaian.

Mala yang berasal dari Australia ini mengutip sebuah kalimat inspiratif dari Mahatma Gandhi di awal pertemuan: “Be the change you want to see the world”. Kemudian ia berkata dalam bahasa Indonesia yang tergolong amat lancar bagi ekspatriat, “Dalam konteks perdamaian maka bisa diubah menjadi: “Be the wave of peace you want to see the world””.

Mala kemudian bertutur panjang lebar tentang bagaimana mencapai kedamaian batin dalam diri kita. Kedamaian batin, menurutnya, tercermin dalam:

-Stabilitas/keseimbangan emosi

Dalam hidup pasti ada naik turun, fluktuasi, tetapi jika seseorang damai dalam batinnya, ia bisa stabil, menyeimbangkan diri. Pikiran berfluktuasi karena emosi karena itulah emosi perlu dikendalikan.

-Ketenangan sehingga tidak mudah terpancing.

Pause button dalam diri seseorang. Ia tidak bereaksi secara langsung. Mengheningkan diri sebelum bereaksi, mengambil keputusan, berbicara.berpikir lebih pelan, untuk melihat lebih jelas dan ambil tindakan yang lebih bijak. Terlalu cepat ambil keputusan, bisa berbuah petaka.

– Kesabaran

Kesabaran dalam menerima dan memahami sesama, suatu wujud kedamaian karena tak merasa terancam. Saat tak nyaman, kita cenderung hostile.

-Kesukarelaan

Saat terpaksa melakukan sesuatu, hati tidak damai karena merasa terkekang. Berpikir jernih dan damai kita bisa melakukan semua hal dengan sukarela, datang dari diri kita sendiri, bukan karena situasi.

-Harga diri yang bisa dipertahankan

Orang sakit merasa tidak bisa mempertahankan harga dirinya karena tidak bisa bermakna pada orang lain. Pertahankan harga diri dalam sakit, musibah itu adalah wujud kedamaian batin.

-Kemampuan merelakan

Ketenangan batin tercapai saat kita bisa melepaskan pengalaman buruk dari pikiran.

Kedamaian harus dimulai dari diri kita. Saat kita terus menuntut dunia eksternal di sekitar kita untuk damai sebagai prasyarat agar diri kita bisa merasa damai, maka kita tak akan merasa damai. Dengan meditasi dan yoga, kedamaian ini bisa dicapai.

Bagaimana kita bisa menerima orang yang berbeda?

Pahami bahwa setiap orang itu unik, karena memiliki misi hidup yang berbeda dari kita. Sebab lain kita sulit menerima orang lain ialah karena kita selalu punya harapan/ tuntutan terhadap orang lain. Saat orang lain tidak bisa memenuhi harapan kita, kita menolak kehadiran mereka. Meskipun tujuan sama, cara untuk meraih bisa berbeda.

Saat memaksa orang menuruti kemauan/ tuntutan kita, kita pada dasarnya belum paham akan drama kehidupan ini.

Perjalanan hidup mereka juga berbeda dari kita. Ibarat kita tengah menumpang kereta, kita tidak bisa memaksa penumpang lain untuk menempuh rute yang sama dan turun di stasiun yang persis dengan kita. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk selalu ada di samping kita.

Ada hikmah/ pelajaran dalam segala kejadian dalam hidup ini

Segala sesuatu di alam ini terjadi untuk alasan tertentu. Tidak ada kebetulan, tidak ada yang salah (kata “salah” hanya label dari manusia, karena suatu hal tidak sesuai keinginannya). Dengan menggunakan cara pandang seperti itu dalam memaknai semua peristiwa dalam kehidupan, kedamaian dalam batin akan lebih mudah dicapai. Dama itu juga berarti kita bisa menerima sesuatu apa adanya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam sudah tercatat dan kita hanya menjalani yang sudah ditakdirkan. Perlu waktu untuk memahaminya, “Apa maknanya bagi saya? Bagaimana ini memperkaya saya?”

Pengalaman pahit atau manis akan bisa digunakan sebagai bekal hidup dan ditularkan ke orang lain.

 

Bagaimana saya harus bereaksi terhadap tuntutan dari suatu situasi yang saya belum mengerti?

Pertanyaan reflektif ini perlu kita tanyakan pada diri sendiri saat berkata, “Saya punya satu pengalaman buruk, sangat buruk, tak ada hal positif di dalamnya”.

Kita perlu menganggap setiap hal dalam hidup, termasuk peristiwa/hal terburuk , sebagai sebuah hadiah indah yang terbungkus rapat oleh kertas rombeng. Kita perlu membukanya dengan perlahan.

Kedamaian memang tercapai saat tidak ada gangguan tetapi gangguan justru bisa menunjukkan seberapa baiknya kita dalam memelihara ketenangan batin. Setiap gangguan membawa kita ke tingkatan kedamaian yang lebih dalam. Jadi kalau kita masih merasa terganggu, kedamaian batin kita belum begitu dalam. Maka kita perlu memperdalam kembali.

 

Saat kita menghadapi orang yang marah, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menghadapi kemarahan sebaiknya dengan memahami alasan mengapa ia marah. Seseorang tidak akan marah tanpa sebab yang  jelas. Saat kita berusaha memahaminya, perasaan marah kita sebagai balasan kepadanya akan teredam.

Orang yang marah itu bak seorang pengemis. Orang yang tengah marah adalah pengemis dalam pengertian emosional dan psikologis. Ia perlu empati, kasih, solusi, perhatian dari orang-orang yang mereka marahi. Tanyakan pada diri kita, “Apa yang orang ini butuhkan dari saya?”  Posisikan diri kita sebagai pemberi agar kita tidak larut dalam kemarahannya. Saat kita berada dalam posisi memberi, kita akan terlindung dari serangan emosi negatif orang lain. Ini bisa diterapkan di masa modern saat banyak manusia bertindak tanduk layaknya penyedot debu yang suka mencari untung tanpa memberi. Mereka terus menuntut tanpa memenuhi kewajibannya.

Apa yang bisa dilakukan saat kita tidak bisa menemukan sisi positif seseorang?

Kadang kita begitu benci dengan seseorang hingga kita menjadi buta dengan sisi-sisi baik yang mereka miliki. Adalah sebuah kemalangan bagi kita sendiri jika kita tak bisa menemukan sisi baik seseorang. Ego kita membutakan kita, menganggap orang lain lebih rendah. Kita lupa bahwa seseorang itu buruk di mata kita bukan karena orang lain itu tidak punya sisi baik sama sekali. Justru yang patut dikasihani ialah kita yang tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri orang lain.

Dunia nan damai terwujud dari diri sendiri.

Namaste!

 

 

%d bloggers like this: