Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – Tamat)

masjid UI
Masjid UI: Tempat bersejarah itu…

Sebelumnya:

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 1)

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 2)

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku – 3)

Kelaparan membuat saya sudah tidak tahan dengan segala perkataan mereka. Saya hanya manggut-manggut saja mendengar mereka. Rasanya sudah capek, dan saya biarkan mereka mengoceh seperti kaset tua rusak.

Sudah setengah 5 sore, pikirku melirik ponsel. Terbersit sebuah doa agar ada orang yang menelponku kala itu agar aku bisa memiliki alasan untuk meninggalkan mereka sesegera mungkin.

Dan benar saja, sejurus kemudian ayah menelpon, menanyakan bagaimana saya akan bermalam di sana. Saya menjawab panggilan dengan sedikit menjauh, berharap mereka tidak mendengar apapun yang saya katakan. Saya mau mengulur waktu agar ada sedikit jeda untuk menyusun strategi lepas dari persuasi dan agitasi ini. Saya berusaha menjawab pertanyaan ayah dengan nada tenang dan gembira. Saya sangatgembira ayah sudah menelpon, serius!

Telepon pun dimatikan dan saya kembali ke tempat semula, berusaha merengkuh tas saya. Mereka bertanya, di mana saya akan menuju keesokan harinya. Saya jawab ngawur : kantor perusahaan yang baru saja saya ikuti interviunya yang berada di Mega Kuningan (lokasi yang kemudian dekat dengan lokasi saya bekerja sekarang, what a life!).

Tawaran untuk menginap di studio yang katanya ada di Lebak Bulus itu pun masih dosodorkan. Saya menolak. Saya beralasan sudah ada tempat tinggal yang saya temukan di sekitar sini. Kebetulan ada teman adik yang memiliki rumah kontrakan di Depok. Saya terus berdoa agar mereka tidak menguntit saya hingga memastikan saya telah menuju rumah teman adik saya yang ternyata tidak bisa menampung saya karena pergi ke luar kota. Hiks!

Si A menawarkan saya untuk membonceng kendaraannya. Dan karena ia harus mengambil kendaraannya di tempat parkir, ia pun meninggalkan saya di dekat Alfamart sekitar Fakultas Hukum jika tidak salah.

Ketiganya tidak beserta saya sekarang. Dan saya langsung mengerahkan sisa-sisa tenaga saya melesat ke stasiun kereta yang mengarah ke Jakarta. Saya mau langsung ke stasiun kereta dan pulang sekarang juga. Tak peduli dengan pengumuman interviu itu lagi rasanya.

Keinginan saya didengar Allah, dan ternyata saya tidak dihubungi lagi oleh perusahaan itu melalui telepon. Kata mereka, hanya yang lolos yang dihubungi maksimal pukul 9 malam. Pukul 9 lewat, saya sudah menemukan kamar hotel seharga 200 ribu per malam di dekat stasiun kereta Djuanda dan saya ingin pulang saat itu juga karena toh saya sudah dieliminasi. Haha… Meski saya bisa menertawakan diri sekarang, dulu perasaan saya hancur sekali. Down karena sudah habis tenaga dan pikiran, ditambah lagi kena denda petugas KA karena salah naik kereta karena cemas dikuntit si 3 agen perekrut NKI itu.

Ah, masa bodoh toh mereka sudah tak tahu menahu di mana saya sekarang…

Esoknya saya meluncur ke stasiun kereta Senen. Mata saya masih berat. Saatnya menaiki gerbong dengan sisa tenaga di pagi hari pukul 7.15.

Ponsel saya berdering. Pesan pendek dari nomor si penyebar aliran sesat: “DI MANA KAMU SEKARANG???”

Sembari melepas pandangan ke sawah nan hijau di Karawang yang dilalui kereta Fajar Utama ke Stasiun Tawang, saya mengetik balasan dengan tenang: “TUNGGU SAJA SAYA DI SEGITIGA EMAS, MEGA KUNINGAN”

–*–

Sorenya saya sampai di terminal bus Kudus dan sebuah SMS kembali masuk: “SUDAH SELESAI??”

Belum sempat membalas, mendekat sebuah mobil kijang merah yang saya kenal. Saya membuka pintu dan masuk ke dalamnya.

Finally at home… Warm and safe…

Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia (Kisah Nyataku -2)

Di sebuah seminar entrepreneurship di UI Depok beberapa hari lalu. Mahasiswa/i adalah spons paling hebat di dunia. Mereka menyerap apapun di sekitar mereka dan itulah yang menarik para brainwasher aliran-aliran sesat datang ke kampus-kampus.

(Sambungan dari Nyaris Jadi Agen Negara Islam Kurnia bagian 1)

Pikiran saya saat itu masih melayang-layang, memikirkan apakah mereka akan terkesan dengan resume saya atau hanya melemparkan dokumen saya di tong sampah begitu saja. Rasanya tak sanggup lagi kalau harus gagal. Sambil menanti azan dzuhur yang segera bergaung, saya mencoba bersantai setelah beberapa hari sekujur tubuh dan pikiran penat di atas kereta dan merenung tentang masa depan.

Saya bukan orang yang mudah akrab dengan orang. Dan saya diajarkan untuk tidak menerima keramahan yang tanpa alasan jelas oleh orang asing. There’s no free lunch, literally. And I take the advice without question. Ayah saya selalu mengingatkan jangan minum atau makan apapun yang diberikan orang selama perjalanan. Meski pada akhirnya saya juga sadar, tidak semua orang bermaksud buruk, toh kewaspadaan itu perlu. Apalagi di tengah Jakarta. Dan saya saat itu sedang di Depok, di luar wilayah ibukota, jadi nasihat ayah bisa sedikit  saya abaikan. Demi Tuhan, ini kan lingkungan terpelajar! Universitas Indonesia! Sulit sekali membayangkan ada tindak kriminal terjadi di sini atau penjahat mengintai di balik tembok kampus yang penuh muda-mudi berwajah, yang menurut istilah sekarang, unyu.

Si pemuda berbadan gelap (sebut saja si A) ini menyapa saya yang terlihat termangu di hadapannya. “Assalamualaikum, lagi apa di sini?” Saya pun menjelaskan alasan saya di sini dengan nada setengah hati. Sungguh, berbincang-bincang dengan orang asing adalah hal terakhir yang terpikir ingin saya lakukan di hari itu. Saya cuma ingin sendiri, makan dan tidur di sebuah ruangan gelap tanpa goncangan dan bau pesing  a la gerbong kereta bisnis karena lelah luar biasa. Obrolan dengan orang asing juga menjadi semacam rentetan interogasi karena banyak yang harus saya jelaskan dan pada saat yang sama saya tidak atau kurang ingin bertanya pada mereka. Saya tidak ingin terlalu mengurusi kehidupan orang lain, itu pikiran saya.

Dia menyebutkan nama sepintas lalu. Saya tak berusaha mengingat. Toh saya tidak akan bertemu dengan mereka lagi, batin saya. Tetapi saya mencoba bersikap ramah, apalagi dengan saudara seiman.

Pertama si  A menanyakan asal saya, saya jawab apa adanya. “Di mana kuliah?” si A bertanya lagi. Saya tak ingat pertanyaan apa lagi yang ia ajukan tetapi ia memberondong saya sedemikian rupa sehingga saya tidak terpikir untuk bertanya balik.

Sejurus kemudian, mereka mengaku sedang menunggu temannya. Katanya si teman yang ditunggu ini (sebut saja si B) bekerja di sebuah rumah produksi, yang seolah menyiratkan bahwa ia dekat dengan kalangan selebritas. Si A juga berceloteh bahwa si B ini tinggal di sebuah studio yang bisa saya tinggali sementara karena saya mungkin harus tinggal di sebuah penginapan atau kos malam itu untuk menunggu hasil tes wawancara kerja yang baru usai.

Benar saja. Si A pun mengutak-atik ponselnya. Ponsel murahan Esia dengan layar super sempit itu ia angkat dan tempelkan ke telinga sejenak, berkata-kata sebentar pada orang yang ada di ujung sambungan seluler lain. Tampaknya si B hanya beberapa langkah saja dari tempat kami berada.

Si B pun tiba. Penampilannya sungguh perlente. Kemeja lengan pendek rapi. Kumis dan jenggot bersih mulus. Celana berikat pinggang rapi dengan panjang yang wajar menurut standar fashion terkini, tak terlalu pendek lah.

Sekali saya mendengarnya berkata, tak diragukan lagi ia jenis orang yang pandai bersilat lidah. Bahkan si B ini bisa jadi senior si A dan si C (yang sama sekali pasif sepanjang bersama saya, bisa jadi ia baru seorang ‘anak magang’).

Kami pun berbincang. “Damnation, mau rehat malah terjebak dalam pembicaraan yang tidak jelas juntrungannya begini,” keluh saya dalam hati. Ia terus meracau. Si A mengulang beberapa potongan informasi yang sudah saya berikan tentang diri saya pada si B.

Azan berkumandang. Kami bergegas ke musholla kampus terdekat yang mengharuskan kami menyeberangi jembatan merah dia atas danau artifisial nan indah dan resik itu. Asri kampus UI memang.

Musholla kampus itu penuh sesak dengan mahasiswa dan mahasiswi. Inilah kelemahan memiliki area kampus yang begitu luas dan lapang, susah mengontrol keluar masuknya orang terutama yang bukan mahasiswa dan staf kampus.

Saya ingin menunggu hingga musholla agak lega, tetapi si A dan B tampak tak sabar. Mereka seolah menggiring saya ke masjid lain yang lebih besar. Jelas mereka tidak sekali baru ke kampus UI. Mereka tampak sudah familiar dengan tata letak kampus.

Tema obrolan pun makin ‘berat’. Dari sekadar penawaran untuk menginap di studio tempat si B konon tinggal makin lama makin bergeser ke masalah agama, sosial, politik dan kenegaraan. Intinya mereka ingin saya merasakan adanya ketidakpuasan dari kondisi yang ada sekarang dan mengapa harus memberontak melawan status quo: pemerintah Indonesia yang menurut mereka sudah zolim dan KAFIR. Nah!

Obrolan ini terhenti karena solat zuhur. Saya solat agak terpisah dari mereka tetapi setelah solat pun mereka kembali menghampiri saya. Mereka masih tertarik mengobrol dengan saya. “Sial!”

Perut sudah sangat meronta. Gesekan dinding usus yang kosong melompong ini sangat menyiksa. Dan 3 keparat itu masih mencoba mengajak saya mengobrol. “Dasar orang-orang ini tidak peka, jamnya makan siang diajak diskusi berat,” pikir saya. Makin tidak bersimpati saya pada gerombolan ini.

Mulailah tampak tujuan asli mereka.

Sebuah mushaf (naskah) Al Qur’an diambil si A dari rak buku masjid atas perintah si B. Jelas ada hubungan hirarkis vertikal antara keduanya. Sementara si C cuma tidur-tiduran.

To be continued…

%d bloggers like this: