Perbedaan Karya Sastra dan Karya Susastra

Apakah perbedaan karya sastra dan karya susastra? Ini jawabannya.

Karena saya pernah kuliah di program Ilmu Kesusastraan, seorang teman yang kritis bertanya,”Memang apa bedanya ‘sastra’ dan ‘susastra’? Kok ada istilah susastra juga?”

Nah, pusinglah saya mencari penjelasannya.

Ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perbedaan maknanya adalah sebagai berikut:

su-sas-tra n karya sastra yang isi dan bentuknya sangat serius, berupa ungkapan pengalaman jiwa manusia yang ditimba dari kehidupan kemudian direka dan disusun dengan bahasa yang indah sebagai saratnya sehingga mencapai syarat estetika yang tinggi;
ke-su-sas-tra-an n 1 perihal susastra; 2 ilmu atau pengetahuan tentang segala hal yang bertalian dengan susastra; 3 buku-buku tentang sejarah susastra.

Karena itu, saya katakan pada teman saya itu bahwa sastra dalam konteks ini lebih mengacu pada tulisan. Apakah itu serius atau tidak, bahasanya indah atau tidak, belum tentu. Yang penting sudah ada bentuk tulisannya agar suatu cerita bisa dikatakan sebagai ‘karya sastra’. Untuk contoh khasnya, saya bisa menyebutkan novel “Fifty Shades of Grey” yang walaupun diolok-olok banyak orang sebagai karya sastra ‘sampah’. Apakah karya yang dilabeli ‘sampah’ itu memang tak layak dibaca? Tunggu dulu. Stephen King, novelis horor terkenal itu, bahkan mengakui dia membacanya.

Tentang buku-buku sastra populer yang digemari pembaca masa kini, King mengatakan ada buku-buku yang meski bukan karya sastra tetapi berada di antaranya (maksudnya bukan karya sampah juga tetapi juga bukan karya susastra yang agung juga) . Tidak perlu kita harus repot melabeli, memusuhi, apalagi membakar buku-buku yang populer ini karena ia meyakini setiap buku ada pasarnya sendiri-sendiri.

Perlu kita ketahui juga bahwa batasan apakah sebuah karya sastra masuk kategori susastra atau tidak tergantung pada subjektivitas sekelompok elit dalam masyarakat kita juga. Ada yang menganggap suatu buku sebagai karya sampah tetapi begitu masa berubah, pandangan masyarakat juga berubah dengan sendirinya.

Jadi, apakah Anda sebaiknya membaca karya susastra saja atau melahap karya sastra yang dilabeli ‘sampah’ juga? Kalau saya sendiri, jangan batasi bahan bacaan kita hanya karena opini sekelompok orang. Hanya karena idola kita berkata karya ini bagus, lantas kita serta merta harus sependapat.

Membaca karya sastra kacangan atau picisan tidaklah haram. Yang haram adalah sudah menolak mentah-mentah atau mengecap sebuah buku sebagai sampah tanpa membacanya terlebih dahulu. Jangan menjadi manusia yang hanya bisa menilai tanpa berpikir. Cuma dengan senjata “katanya ini atau itu”, kita sudah bisa beropini panjang lebar. Baca dulu baru beropini. (*/)

Para Pemudik ‘Sadomasokis’ yang Mirip Salmon

‎”Ah nggak tau deh, pusinggg!!!”

Begitu keluhnya saat mengingat-ingat detil perjalanan‎ mudik kemarin. Gila, membuat menderita, sengsara tiada tara. Itulah potret mengenaskan para pemudik seperti bu kos, saya, dan mungkin Anda para pembaca.

“Ah kapok deh kalau begini.! Tahun depan gak bakal mudik lagi…”bu kos mengatakan ‎pada saya. Teman-temannya juga berpikir begitu. “Tapi lihat saja nanti beberapa bulan sebelum Lebaran taun depan pasti pada ribut ngajakin dan nanya-nanya mau pulang nggak,”ia berkata nyinyir tentang orang-orang sekampungnya yang ikut serta dalam perjalanan darat menuju ibukota, yang memakan waktu 26 jam itu.

‎Pemudik-pemudik ini mengingatkan saya pada novel sadomasokis karya E. L. James “Fifty Shades of Grey”. Si karakter utama wanita begitu terpesona dengan ketampanan, kekayaan dan kebinalan si protagonis pria sampai-sampai tidak keberatan disiksa saat berhubungan badan.

Sungguh, mereka yang mudik ini juga sangat tersiksa dengan apa yang dialami sepanjang perjalanan itu. Kegerahan, kelaparan, kehausan, belum lagi harus menahan hajat sampai di luar kemampuan dan pegal di sekujur badan. Tetapi mereka tetap saja kecanduan, tetap terus menikmati semua siksaan, karena kenikmatan juga sudah terbaur rata di dalamnya. Sulit diuraikan lagi. Dapat dikatakan keduanya sudah seperti unsur kimia berbeda yang telah bersenyawa.

Semua daya upaya tampaknya sudah dikerahkan untuk membuat mudik tambah aman, nyaman dan murah. Namun, toh tetap saja ada yang kurang. Apa yang kurang? Kepatuhan pemudik untuk diatur rupanya.

Kabarnya, mudik dengan kapal laut juga ‎disediakan secara cuma-cuma oleh pemerintah kita. “Tetapi dari target 300 orang, masak yang ikut cuma 70,”kata bu kos. Bisa jadi karena mereka takut tenggelam, saya beralasan. Tetapi kalau pun tewas tenggelam, bukankah akan dianggap mati syahid? Apalagi masih bulan Ramadhan kala itu. Entahlah, kadang orang Indonesia susah sekali dipahami jalan pikirannya.

Bersama-sama kami mencerca ambrolnya jembatan Comal yang menjadi akar masalah kacaunya mudik darat tahun ini. Dari berbagai hari dan musim yang ada, mengapa ia harus runtuh sebelum hari raya dan selama musim mudik? Tidak seorang pun bisa menjelaskannya. Volume kendaraan yang luar biasa jahanam? Atau konstruksinya yang kurang meyakinkan? Namun, beruntungnya tak ada orang yang terluka saat menyeberang.

Kampung halaman bu kos itu Sukorejo, Jawa Tengah. Kalau menurut ceritanya, udaranya masih sejuk sekali bahkan di malam pertama menginap, ia dan keluarga harus berselimut tebal saat tidur karena lebih terbiasa udara panas Jakarta. ‎Masih banyak pepohonan di sana, bahkan ada perkebunan karet yang lumayan luas.

Bagi sebagian orang, mudik bisa semudah mengendarai motor ke desa tetangga. Seperti apa yang dialami orang tua saya dan seorang bapak rekan kerja di kantor. “Nggak ke mana-mana. Di Jakarta saja. Orang tua saya kan asli sini,”tukas bapak itu setelah saya bertanya.

Itu yang amat beruntung. Tidak perlu bersusah payah, menyengsarakan diri di tengah aliran lalu lintas jutaan manusia ‎yang mirip ikan-ikan salmon yang hendak bertelur sehingga membahayakan diri menerjang arus sungai yang bukan main derasnya ‘cuma’ untuk bertelur di hulu. Dasar salmon-salmon gila! Padahal sudah tidak terhitung jumlah salmon pendahulu mereka yang gugur di tengah rute akibat terkaman hewan predator seperti beruang. Toh mereka tetap saja begitu. Seolah kebandelan dan kekeraskepalaan itu sudah menjadi tradisi, ciri khas atau malah warisan dalam untaian DNA mereka. Spesies yang mengagumkan dan konyol pada saat yang sama.

Saya mungkin salmon sadomasokis juga tetapi bukan jenis yang keras kepala dan mau mempertaruhkan nyawa. Argumentasi saya, Lebaran kan cuma momen budaya. Tradisi semata. Tidak ada kan ayat suci mengharuskan umat muslim berkunjung di hari raya dengan menghalalkan segala cara. Betul kalau kita harus menjaga tali silaturahmi, tetapi apakah silaturahmi wajib dilakukan saat Idul Fitri saja? Banyak momen-momen lain yang juga bisa dimanfaatkan sebagai ajang mengeratkan hubungan yang merenggang. Jangan hanya membatasi silaturahmi saat Idul Fitri.

Sementara itu, bu kos dan keluarganya masih harus berjuang lebih keras. Dengan berbekal uang Rp145.000, anak bu kos sudah bisa sampai ke Pekalongan meski itu artinya harus terjebak dua hari dua malam di kursi bus yang sempitnya membuat kaki tak leluasa karena kemacetan akibat putusnya akses Pantura via jembatan Comal di Pemalang. Bu kos terus menerus cemas: ia kirim SMS, menelepon beberapa jam sekali, hanya untuk mengetahui sudah sampai mana. “Masih di sini, ma. Nggak gerak dari subuh,”begitu balas anaknya. Siapa yang tidak trenyuh? “Kamu sudah makan? Makan apa?” Beruntung si anak membawa bekal. Lalu bu kos mengeluh SMS-nya tak lekas terkirim, dan ternyata pulsanya ludes. Dan ia gusar karena penjual pulsa jelang lebaran sudah makin jarang dan warung depan tutup. Saya pun kena getahnya dan harus membelikan di AlfaMart terdekat yang syukurnya masih terbuka lebar pintunya menyambut pembeli yang makin sepi di sini.

Tak kalah tragis dari sang anak yang berangkat mudik lebih dulu, ibu kos dan suami serta 2 anak lainnya naik bus juga ke Jawa Tengah. Mereka turun Pekalongan lalu naik mobil sewaan dengan biaya yang katanya “selangit”. Kenaikannya 5 kali lipat, baik ojek dan kendaraan roda 4.‎ Semua -termasuk para awak angkutan itu – mau mendapat THR ekstra, persetan yang lain sengsara. Ditantang akan dilaporkan ke DLLAJR atau Kemenhub, mereka dengan lantang menjawab:”Laporin aja sana!!!”

Susahnya menemukan angkutan yang murah dan nyaman juga masih dialami keluarganya. Mereka harus menyewa mobil-mobil pribadi bermuatan banyak seperti Kijang yang disulap jadi mobil travel. “Satu mobil itu ada 15 orang: 7 anak-anak dan 9 orang dewasa,”bu kos berceloteh lagi. Sekarang bayangkan dalam kondisi seperti itu, Anda harus tinggal berdesakan di dalam kendaraan selama sehari semalam lebih. Joknya ditutup, kemudian dilapisi papan. Sopirnya dua orang supaya bisa berganti-ganti.

Dan karena ongkosnya mahal, semua penumpang tidak mau rugi. Separuh barang-barang ditaruh di atap mobil. Separuhnya diletakkan di tempat duduk. “Ada yang bawa pisang, pete, telur… Aduh! Beras!!! Apa aja dibawa!”

Karena tidak sebesar bus yang bertoilet di dalamnya, mobil yang ditumpangi bus kos dan keluarganya harus berhenti cukup sering. Untungnya WC umum bertebaran di sepanjang jalan. Mereka sempat berhenti untuk mandi juga. “Makan, minum, kencing… makan, minum, kencing… terusss! Asal abis makan minum, pada ‘mau kencing mau kencing’ berenti, makan minum, mau kencing mau kencing…berenti.” Tergelak saya mendengar itu. “Kapan nyampenya??!!”keluh bu kos,”Asal capek dikit, ‘aduh nih pantat panas, pinggang pegel, berentiii! Dengkul pegel, berenti..” Belum lengkap, suami bu kos yang katanya kalau naik bus cuma kencing dua kali selama perjalanan saja malah akhirnya kerap kencing berkali-kali, lebih sering.

Anda pikir mobil itu dilengkapi pendingin udara karena si bapak dan penumpang jadi sering kencing. Salah besar! ‎Sepanjang jalan mereka kepanasan saat siang hari lalu kedinginan di malam harinya. Belum cukup, mobil itu bocor saat hujan menerpanya di Banyuputih, Pekalongan dan Batang. Pintu-pintu bocor, membuat yang di dalamnya kebasahan. “Berhenti lagi deh buat beli baju baru yang kering,”tuturnya diiringi helaan napas.

Sebal dengan omelan sesama penumpang yang luar biasa lelah jiwa dan raga, bu kos mengkritik,”Kalau pas susah begini, pada bilang,’Ah, besok nggak mau pulang. Kapok ya. Tahun besok kapok! Jangan pulang.’ Giliran dah puasa aja pada ribut mikirin hari buat pulang kampung!”

The Murder of Handwriting

wpid-IMG_20121230_192440.jpgI’ve had the extreme fondness for handwriting from an early age. I knew it when I found it pleasant to spend my spare time at my maternal grandparents’ home, writing with my tiny right hand and sharp pencils circa late 1980’s. I remember, that was when I was a 5-year-old kindergarten student. I, to be honest, didn’t really like to play with some of my classmates (who happened to be terribly annoying) because they were so noisy, which led me to playing with myself – not at the yard – but inside the classroom. I found playing with myself a lot more fun. So I experimented with crayon, color pencils, and pencils. I’d tried to scribble on paper to show everyone I could do something other than weeping over my intruded private playing ground throughout the day. Yes, I was that selfish when it came to self enjoyment. God forgive.

So one day I got a practice book in which there was much space to write cursively. On each page, I could read a line of proverb that I should copy for several times on the same page. No one could tell how I really liked this handwriting exercise. Something in my head told me to write on and on and on. Endlessly, tirelessly. There came unsurpassed satisfaction when I was done writing on every page. I would simply look at it, smile and admire the beauty of my own handwriting. Maybe I was a bit narcissist but I was at the time very fascinated by the fact that an ordinary human can create a lovely artwork like this. I enjoyed it so much and got perpetually engrossed.
Days ago, the handwriting madness arose once again. This time is stronger than ever. I watched a documentary movie aired by BBC. J. K. Rowling was the central figure on it. She was to seek her French root. It turned out great. And I saw abundant samples of cursive handwriting on the movie that inspired me to write again every single day, with my own right hand instead of keyboards. Her great grandfather’s handwriting was shown. Also there were some samples of cursive handwriting that registrars of births, deaths, and marriages in England, France and Germany wrote. These types of handwriting are ones I typically discover in the elder generation and something in my head, once again, pushed me to write again just like during my younger days.

I crave handwriting so much I’ve begun to keep a handwritten journal of my daily activities and some drafts of my blog posts (but this one is typed on my laptop as I have no time to write and type). Every time I spot a nicely designed notebook to write in, I seem to have a sudden, uncontrollable urge to buy as many books as I can afford so I can have a supply of notebooks in my room for me to write my drafts of short stories and, inshaAllah, novels.

Typing all of a sudden is less sexy, to me. Yes, I hate being a mainstream idea adopter and follower. With the abundance of electronic gadgets these days, I suppose we are now losing the arts of handwriting. Young children are now much more familiar with desktop computers, laptops, tablet PCs, etc. They swipe and tap but obviously start to forget how to write with their hands. In fact, for your information, learning how to write with hands can benefit children’s motor skills and their ability to compose ideas and achieve goals throughout life, according to Gwendolyn Bounds on “How Handwriting Trains the Brain” (source: us.wsj.com).

I too agree on the proposition that typing increasingly ‘murders’ handwriting. If that sounds too hyperbolic, I can safely say that handwriting fades away as more and more people forget how to write to become a speedy typist. Writer Kitty Burns commented on the issue, the art of handwriting declines rapidly.

Burns is true. I also conducted my little research. Everyone at my age (generation Y/ people born after 1980) now cannot write cursively in a proper manner. They either prefer block or cursive badly. As we graduated, no one demands the eligibility of our handwriting. Combined with the habit of typing, we gradually lost the ability of writing neatly with hands.

I still remember a week ago when I wrote on a sheet of paper to let an old lady with 2 sons know my address. She works at a shipping agent near where I stay now. Upon reading my handwriting, she said, “Young man, your handwriting looks so pretty compared to both of my sons’.” I smiled at her, thanking for the sincere compliment.

It’s true that I now work more often with keyboard but I also still make time writing with pens. I find it more therapeutic than typing on a gadget, which is why I ditch the idea of writing a diary entry on a BlackBerry (not to mention to write a book on it so I was shocked when I learned E. L. James typed parts of her novels on a BlackBerry) or Android qwerty phone. To add to the therapeutic effect, handwriting also enables us to write really anytime anywhere, even when electricity is non-existent around us. So bringing along a journal or notebook anywhere is a safe bet especially when you have gadgets with keypads that are too small or too tricky to type on when passing on a bumpy road. And, ah…it saves our eyes from the glaring screens for hours! Isn’t that marvelous, people? Because I’m so fatigued at the end of the day with my eyes being glued for more than 8 hours a day to my laptop screen.

We modern humans are so obssessed with data and information gathering. We collect more and more data and information faster in the digital form. People need no handwriting again. Hence, no wonder we slowly pile up oceans of data and information without any personality in it. When tests are now administered online, answers and essays are allowed to be typed instead of being handwritten, we lose all those personality details. The core message is intact still yet the individual distinct impression is lost. The suppressed parts of identity, unraveled feelings, hidden emotions evaporate just like that.

As I’ve been experiencing, keeping a journal in a notebook is fun. I have to say Sylvia Plath’s journal writing inspires me a lot. Writing a physical letter is also safer, digitally speaking. No need to worry about all the viruses, trojans that may delete all your journal files without warning.

And one more silly thing is that I want someday the latter generation – whether that be my offspring or anyone – can learn something from what I jot down. Oh God, now I think I’m Anne Frank of 2013’s….

%d bloggers like this: