Pandemic Diary: Bukti Nyata Akhir Pandemi Masih Lama

Hari-hari pandemi terus bertambah. Ibarat napi di tahanan, kita udah capek coret-coret dinding bikin turus.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, coret…

Begitu lagi dan lagi.

Dua lebaran sudah lewat ditelan pandemi.

Jumat siang tadi saya menjalankan ibadah salat Jumat. Dan menemukan makin banyak yang abai Protokol Kesehatan.

Ya saya maklumi. Kan mereka ini rakyat jelata, bukan hamba negara seperti aparat atau tenaga kesehatan atau birokrat yang harusnya memberi contoh.

Tapi kemudian, saya lihat seorang anggota TNI masuk.

Tanpa masker.

Kemudian ada beriringan dua orang pegawai Kommuter Line Jabodetabek.

Tanpa masker juga.

Lalu muncul seorang pria dengan kaos bertuliskan “Bangga sebagai Perawat”.

Duduk di tengah jamaah tanpa mengenakan masker pula.

Ketaatan menjalankan Prokes itu ternyata cuma berlaku di lingkungan kerja.

Di luar kantor atau tempat kerja, mereka merasa bebas.

Tiada sanksi.

Siapa juga yang berani menegur?

Kalau begini, rasanya memang ingin jadi gila.

Lalu membaca berita munculnya flu burung jenis baru. Lagi-lagi di China.

Benarkah alam begitu marahnya pada manusia?

Well, we get what we deserve. (*/)

%d bloggers like this: