Rahasia Handstand Dylan Werner

“Gimana supaya bisa handstand ya? Aku mau kayak dia!”

Begitu pikiran banyak orang saat baru masuk ke kelas yoga setelah melihat foto yogi hebat di jejaring sosial atau majalah yoga yang menampilkan model dengan pose menantang satu ini. Sah-sah saja. Saya dulu juga demikian. Begitu bersemangatnya hingga seolah handstand adalah pose yang menjadi tujuan akhir berlatih.

Apakah sesukar itu melakukan pose ini? Bagi saya, iya. Handstand sangat menantang karena saya bukan orang yang memiliki anatomi alami yang mendukung ‎untuk melakukannya. Pergelangan saya relatif kecil dan lemah. Saya memang bisa bakasana dengan tangan lurus tetapi itu bukan karena tangan saya kuat tetapi karena saya memiliki tubuh bawah yang kecil sehingga bisa “digulung” ke atas dengan mudah.

Selain itu, saya juga sadar kekuatan core saya masih kurang sekali karena saya memiliki kecenderungan untuk backbend kapan pun saya bisa. Padahal core sangat penting dalam melakukan handstand.

Hari ini saya menghadiri workshop Dylan Werner di Bengkel Crossfit dan saya menemukan kiat ‘rahasia’ dari Dylan tentang bagaimana bisa membuat handstand lebih kokoh. Ia menemukan kiat ini setelah mengamati bagaimana para pesenam melakukan handstand dan berjalan dengan kedua tangan.

Tak diragukan ‎lagi peran penting core terutama bahu di sini, tetapi banyak yang tidak memberikan penekanan yang lebih mendetil pada cara memposisikan jari jemari tangan! Dylan menjelaskan bahwa para pesenam menggunakan jari-jari bagian depan mereka sebagai rem sehingga tubuh tidak terjatuh ke depan dalam handstand. Kita bisa mengangkat sedikit jari-jari kita (kecuali ibu jari) sehingga tidak semua bagian bawah jari menempel ke lantai. Inilah yang dimaksud rem itu. Kalau menempelkan semua jari ke lantai, mekanisme rem itu tidak tercipta sehingga sensasi pondasi yang kokoh berkurang karena berat badan terkonsentrasi di pergelangan tangan dan bagian telapak tangan (bola-bola tangan: sendi-sendi pertemuan jari dan telapak tangan).

Sebuah mekanisme alami yang terlupakan, seperti halnya jari-jari kaki yang menahan berat kita saat tubuh condong ke depan. Jadi sekuat apapun core, kalau tidak disertai pijakan yang kuat di Bumi, tetap saja akan roboh juga.

Siap berlatih handstand lagi dengan rahasia tadi?

Dice Iida-Klein Shares His Journey to Yoga

Image

This yogi is well known for two things: his fabulous arm balancing poses on the mat with Briohny Smyth and his stunning looks even a straight man will honestly admire. As superficial as it may seem, Dice (thank God he is not cubic in form) shows a new approach to yoga by introducing some transitions and sequences that mostly involve inversion and arm balancing asanas, called “Brice Yoga Method”. Along with her wife, he arranged some inversions and arm balancing poses into a sequence not every yogi and yogini can follow smoothly. Seriously, it’s designed mostly for advanced learners who know well their bodies and safety aspect of doing challenging asanas. So if you as new comers want to try, no one can prevent you from trying but try at your own risk. Believe me, you’ll be physically challenged by the entire exercise. I can say this after last December took his short class. And I, who happens to be a lover of inversions and arm balancing, felt his transitions and sequences are too challenging I want to only sit on my mat, seeing what others can do.

“My name is Dice Iida-Klein and I love yoga, simply put,”says the yogi to Hipwidth when interviewed in Sunny Venice Beach, California. From his build, I knew Dice did some ports before plunging into the yoga routine. He admitted he’s been physically active since his childhood. “Baseball, hockey, basketball… Play them all pretty competitively. Through high school, a varsity tennis player, and a wrestler and a cross country runner. And at college, I lifted a lot of weights and got pretty stocky and big but I’ve always changed sports, and kind of I think because I can’t stick with one thing too long,”he adds. And apparently weightlifting credited for these muscular torso and arms and shoulders, which play significant role in arm balances. So does that mean in order for a yogi to do a better handstand or other arm balancing poses, he has got to hit the gym first to lift weight with those gym rats? Perhaps…

His first encounter with yoga in August 2007, he recounts, involved abundant sweat. It was Sarah Ivanhoe’s class in Santa Monica. “I had my butt handed to me,”Dice recalls. He never sweated so much before,”I’ve never been so sore the next day!” He never worked so hard physically that his mind mentally so absolutely pure. “So calm and relaxed and able to assess things better than normal…I think that’s what pulled me in. As much as I love the physical side of yoga, the physical side is what really gives me mental stability.”

What does yoga mean to Dice? According to the 29-year old yogi, everyone is entitled to his or her own opinion of what yoga means to each of them. It should be different because we’re allowed to define yoga ourselves.”For me, it sounds like a way of selfish things but it’s a very self introspective, self-studying thing, it helps me become a better person so I can be better for other people around me and the world around me. Sometimes selfish comes up with the negative connotation but I think yoga starts off selfish but it turns into something that is very selfless.”

For a yoga guru who travels around the world, Dice has his own rule of home practice. He says he practices alone spans at least 30 minutes to 2 hours a day. And of course, it involves “tons of arm balances”, which he confesses would really love to do.

Manfaat 5 Jenis Asana/ Pose Yoga

image

Sekadar berbagi saja bagi Anda yang suka beryoga tetapi belum mengetahui khasiat kesehatan masing-masing jenis gerakan yoga yang dilakukan. Dan bagi yang belum pernah beryoga dan belum tertarik mencoba, mungkin Anda akan menyukai yoga setelah membaca ini. Silakan menyimak manfaat-manfaat yang kita bisa tuai dengan melakukan 5 jenis asana berikut ini.

1. Asana berdiri: Pose-pose berdiri seperti tadasana atau pose gunung memberikan vitalitas, energi, semangat. Jika ditambah dengan gerakan mengangkat tangan, detak jantung akan makin meningkat dan menambah semangat. Karenanya, pose-pose jenis ini sangat bagus dilakukan di pagi hari, saat kita membutuhkan penambah semangat. Daripada minum kopi atau teh, lakukan saja pose-pose yoga berdiri untuk menambah semangat. Lebih sehat dan tidak menguras air dalam badan.

2. Asana duduk: Pose duduk seperti paschimottanasana (melipat tubuh ke depan), vajrasana, atau sukasana yang mudah dan bisa dilakukan semua orang membuat kita yang melakukan menjadi lebih tenang. Calm, begitu kata orang Barat.

3. Asana memutar: Memutar atau yang disebut twisting sangat bagus untuk membersihkan (cleansing and detox) organ-organ dalam misalnya organ pencernaan yang setiap hari kita kotori terus dengan memasukkan makanan dan minuman yang belum tentu menyehatkan tetapi malah membebani tubuh. Jika Anda suka menderita sembelit misalnya, cobalah melakukan pose-pose memilin torso atau batang tubuh sehingga organ pencernaan terstimulasi dan akhirnya terdorong untuk mengeluarkan material sampah dan racun di dalamnya. Ditambah dengan pola makan yang sehat dan asupan air yang mencukupi, pose memilin tubuh akan mengusir sembelit. Niscaya…

4. Pose melompat: Dalam melakukan yoga, kadang dilakukan lompatan-lompatan, seperti saat kita harus beralih dari downward facing dog (adho mukha svanasana) menuju half forward standing bend (ardha uttanasana). Di sini, ketrampilan dan kelincahan (agility) kita diasah.

5. Pose terbalik / inversi: Melakukan pose yang membuat posisi jantung ada di atas kepala memacu detak jantung lebih cepat dan bagi banyak orang, asana semacam ini relatif menantang karena risiko terjatuh, terbalik, pusing, berkunang-kunang dan sebagainya membuatnya terasa ‘menakutkan’ dan harus dihindari dengan segala cara. Padahal rasa pusing, takut itu jika dihayati dengan sebaik mungkin dan dilakukan dengan tidak berlebihan akan membuat kekuatan mental kita lebih baik daripada sebelumnya dan yang pasti membuat kita menjadi lebih pemberani dalam menghadapi tantangan dalam kehidupan. Mencoba sesuatu yang baru akan terasa lebih mudah, terutama bagi mereka yang suka zona nyaman (siapa yang tak suka dengan zona nyaman?).

 

%d bloggers like this: