Ikuti Pelatihan GRATIS Wikimedia Commons dan Wikidata 11-12 Januari 2014

Wikimedia Indonesia akan mengadakan pelatihan dasar penggunaan Wikimedia Commons dan Wikidata yang terbuka untuk umum. Pelatihan ini akan dibawakan oleh John Vandenberg, wikipediawan dan mantan Presiden Wikimedia Australia, dan akan diadakan di markas Wikimedia Indonesia di Thamrin. Pelatihan ini tidak memungut biaya apapun dan siapa saja yang tertarik dapat mengikutinya, baik wikipediawan maupun non-wikipediawan. Waktu & Lokasi

Pelatihan Wikimedia Commons
Sabtu, 11 Januari 2014
pukul 10:30 WIB – selesai
Thamrin Residences, Unit 27AA, Tower Alamanda
Jl. Kebon Kacang Raya, Kebon Melati
Tanah Abang, Jakarta 10340
(Peta: http://wikimapia.org/3697285/Thamrin-Residences)

Pelatihan Wikidata
Minggu, 12 Januari 2014
pukul 10:30 WIB – selesai
Thamrin Residences, Unit 27AA, Tower Alamanda
Jl. Kebon Kacang Raya, Kebon Melati
Tanah Abang, Jakarta 10340
(Peta: http://wikimapia.org/3697285/Thamrin-Residences)
Kontak

Apabila Anda tertarik menghadiri salah satu ataupun kedua pelatihan ini, silakan melayangkan surel atau email kepada panitia ke info@wikimedia.or.id.

“Where” dan “Di Mana”: Cermin Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia

Salah satu faktor terjadinya kesalahan berbahasa Indonesia ialah pengaruh bahasa asing pada bahasa Indonesia dalam berbagai aspek. Menurut seorang profesor yang juga pakar bahasa Indonesia di sebuah universitas di Australia, sebagian pengguna bahasa Indonesia akhir-akhir ini amat dipengaruhi bahasa Inggris. Salah satunya adalah penggunaan kata “adalah” yang kadang tidak perlu tetapi dipaksakan untuk ada karena dianggap sebagai keharusan untuk bisa sesuai dengan pola kalimat  bahasa Inggris yang mewajibkan adanya verba “be”. Misalnya, “I am a man” diterjemahkan sebagai “Saya adalah laki-laki”, padahal dalam bahasa Indonesia yang wajar kata “adalah” bisa dihilangkan. Dengan kata lain, tidak ada yang salah untuk menerjemahkannya menjadi “Saya laki-laki”.  Hal ini memang tidak salah tetapi tidak wajar dalam bahasa Indonesia.

Hal lain yang profesor tersebut soroti pula ialah penggunaan kata “di mana” yang sering digunakan sebagai konjungsi (kata sambung) , bukan sebagai kata tanya (yang menjadi fungsi yang sepatutnya). Ini menunjukkan pengaruh penggunaan konjungsi  “where” dan “which”. Parahnya lagi, penulisan “di mana” sebagai konjungsi (yang tidak disarankan) juga mengalami dua variasi: “di mana” dan “dimana”. Yang kedua jelas-jelas salah.

Menurut Ivan Lanin, sebagai penyunting yang berpatokan pada tata bahasa yang sudah tertulis di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) IV dan EyD (Ejaan yang Disempurnakan), kata “di mana” harus dihindari. Alasannya ialah kata “di mana” dalam bahasa Indonesia tidak dikenal sebagai konjungsi tetapi sebagai kata tanya.

Misal:

  1. Di mana buku saya? (Penggunaan yang benar karena “di mana” digunakan sebagai kata tanya)
  2. Ia meninggalkan kota di mana ia lahir. (Penggunaan yang salah karena “di mana” digunakan sebagai konjungsi)

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kalimat yang menggunakan “di mana” sebagai konjungsi? Menurut Sofia Mansoor, ada dua opsi yang bisa dipilih. Pertama ialah dengan menggantinya dengan kata “tempat”. Dengan demikian, kalimat (2) bisa diperbaiki menjadi “Ia meninggalkan kota tempat ia lahir.” Kedua ialah dengan merombak kalimat tersebut menjadi lebih wajar dan berterima dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Seorang rekan peserta pelatihan lain juga sempat menanyakan bahwa ia mengamati banyaknya penggunaan “di mana” justru bukan sebagai konjungsi yang menerangkan tempat atau lokasi. Saya sendiri juga sempat membenarkan dalam hati karena pertanyaannya itu belum sempat dibahas tuntas oleh Sofia Mansoor dan Ivan Lanin. Contohnya mudah saja, kita bisa temui penggunaan “di mana” yang tidak berfungsi sebagai konjungsi dalam berbagai pidato impromptu para pejabat. Kita bisa amati seorang pejabat yang ditanyai oleh nyamuk pers dalam berbagai kesempatan. Kemungkinan besar ia akan menggunakan kata “di mana” bukan sebagai konjungsi tetapi menurut saya hanya sebagai kata untuk mengisi jeda saat berbicara sehingga terkesan lebih lancar. Dalam bahasa Inggris kita bisa sebut sebagai “filler”. “Filler” ini tidak memiliki makna tetapi hanya untuk memberikan kesempatan bagi si pembicara untuk berpikir mengenai kata yang akan ia ucapkan berikutnya. Tidak mutlak salah mungkin tetapi penggunaan “filler” ini membuat kalimat kita kurang efisien dan ringkas. Lagipula “filler” adalah sesuatu yang mungkin masih bisa dimaklumi dalam taraf tertentu dalam ragam percakapan, tetapi tidak begitu mudah ditolerir dalam ragam tulisan.

(URL Gambar: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrlTIj2XW2eps42CzT2SbK7eYGf9rGod6-H2L6Kjr4nn7jrV6bueJexj6GKg)

Belajar Menyunting (Teks) di Himpunan Penerjemah Indonesia

Penat sekali hari ini. Tetapi kepenatan saya ini diiringi perasaan puas, gembira yang tidak terukur. Dari pelatihan Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) yang diselenggarakan dari pagi hingga sore tadi ada banyak sekali pengetahuan, pengalaman dan relasi yang saya dapatkan. Tak hanya itu, saya juga dapatkan “ketakutan” baru. Apa itu? Simak saja sampai tuntas.

Lokasi pelatihan berada di Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin. Pemilihan lokasi yang cukup bagus karena tak terlalu jauh dari kos di Satrio. Saya juga sudah tahu letak Taman Ismail Marzuki tempat PDS H. B. Jassin berada. Jadi saya bisa agak lega karena tak perlu bertanya sana sini mengenai rute. Lagipula GPS sudah sangat membantu!
Ini pertama kali saya berkunjung ke Pusat Dokumentasi Sastra H. B. Jassin. Memang saya sudah pernah mendengarnya beberapa kali tetapi selama hampir dua tahun tinggal di ibukota tak pernah menyempatkan diri mengunjunginya. Jujur saja, saya pikir itu tempat yang membosankan.

Satu pengakuan lagi dari saya, yaitu bahwa saya juga hanya mengenal satu orang pembicara saja di acara pelatihan tersebut. Begitu butanya saya dengan dunia pergaulan penerjemah profesional, sampai saya hanya mengenali Ivan Lanin yang tersohor berkat  di antaranya penghargaan Klik Hati dari Merc, Wikipedia, dan kamus daring Kateglo. Sementara dua pembicara lainnya (Sofia Mansoor dan Hendarto Setiadi) tidak saya kenali sama sekali. Ditambah lagi sebelumnya saya pernah beberapa kali bertanya dengan Ivan melalui Twitter dan membaca blognya. Tak heran saya lebih mengenalnya dibanding Sofia Mansoor dan Hendarto Setiadi yang justru lebih ‘senior’. Sayangnya, Hendarto Setiadi mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju Jakarta dari rumahnya di Bogor. Jadi saya masih tidak bisa menyaksikan wajahnya. Semoga lekas pulih.

Sekitar pukul 8.30 saya pun sampai di TIM (Taman Ismail Marzuki). Saya dengan agak susah payah menemukan PDS H. B. Jassin yang berada di belakang Planetarium yang pagi tadi tampak agak sesak dengan anak-anak sekolah dasar.

Di sebuah ruang di lantai dua yang didominasi warna biru itu Pusat Dokumentasi Sastra rupanya berada. Tak sebesar yang saya pikirkan semula. Entah apakah memang itu hanya sebagian kecil bangunan PDS atau bukan, saya tak memahami persis. Yang terlintas dalam benak cuma: “Pemerintah negeri ini kurang peduli dengan dunia sastranya sendiri”. Ya, namanya juga “pusat”. Saya pikir bisa lebih representatif dari itu. Ataukah saya yang terkecoh dengan kata “pusat”?

Pertama masuk ruangan, saya pun mendaftar dan menuliskan data diri di meja pendaftaran yang digawangi mbak Lila. Sangat menyenangkan rasanya disambut dengan hangat olehnya dan kemudian saya juga diperkenalkan dengan pak Eddie (D. Rahadi Notowidigdo). Rupanya beliau yang menjabat posisi Ketum HPI sekarang. Rambutnya seperti Hatta Rajasa, masih lebat tetapi putih merata. Berkacamata dengan minus atau plus yang sudah tinggi (What a confirmed translator).  Entah dengan Hatta, tetapi pak Eddie adalah seorang yang sangat kebapakan dan suka berbagi, setidaknya sepanjang pengamatan saya sepanjang hari tadi. Di Twitter, saya pun tergerak untuk berkomentar: “Pak Edi ini ketua Himpunan Penerjemah Indonesia tapi rendah hatinya bukan main. Tdk mau memperkenalkan diri sbg ketua.”

Dan mengenai Twitter (dan Facebook juga), sepanjang pelatihan saya entah mengapa ingin sekali membagikan butir-butir (begitu diksi yang digunakan Ivan selama pelatihan) penting dari paparan  para pembicara. Saya berseloroh saat membalas twit terimakasih Ivan setelah pelatihan selesai petang tadi: “Sama2. Naluri seorang ‘pecandu’ jejaring sosial“.

Sebenarnya selain berniat untuk membagikan pengetahuan yang saya dapatkan selama pelatihan tadi, berbagi di jejaring sosial juga membuat saya lebih mudah mengingat garis besar materi yang disampaikan. Berikut adalah semua twit yang saya labeli dengan tagar #PP (Pelatihan Penyuntingan) di akun Twitter saya sepanjang hari tadi.

1. Banyak peserta yang sudah berpengalaman di sini. Narasumber Sofia Mansoor bahkan sudah menerjemahkan dari 1980. So long!

Satu persatu peserta di awal pelatihan memperkenalkan dirinya masing-masing. Latar belakang profesi juga cukup beragam. Tak cuma penerjemah in-house dan lepas saja ternyata. Seperti saya yang sebenarnya juga web content writer. Beberapa peserta berasal dari sekolah, perusahaan, dan sebagainya. Dan mayoritas peserta ternyata wanita.

2. “Bahasa itu konsensus. Yang penting pesannya tersampaikan”- @ivanlanin

Konsensus berasal dari kata “consensus” , yang bermakna “general agreement”, “kesepakatan umum”. Dan inilah yang membuat bahasa menjadi begitu mengasyikkan bagi saya untuk terus dipelajari karena ada kalanya konsensus itu perlu ‘ditentang’ atau dibiarkan berkembang.

3. Pelajaran dasar penerjemah dan penyunting profesional: berbahasa Indonesia yang baik dan tertib. That’s even trickier!

Inilah yang saya maksud di awal tadi dengan ‘ketakutan’ baru. Seorang penerjemah, penyunting atau editor dan penulis perlu memahami dasar-dasar kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan tertib. Ia perlu semua itu untuk melakukan tugasnya dengan baik. Pada saat yang sama, ia juga harus siap saat dikritisi mengenai hasil pekerjaannya. Dan di sinilah pentingnya menjaga ego. Itu terlihat jelas dalam diri penerjemah sesenior pak Eddie yang justru makin rendah hati seiring tingginya jam terbang. Kritik  bisa ditelan dengan kepala dingin dan ego yang terkendali saat tadi ditertawakan seisi ruangan karena salah membaca “…spesies orang tua” (padahal seharusnya  “… spesies orang utan” ). Sementara ada peserta lain yang belum terlalu tinggi jam terbangnya bahkan terbilang hijau malah makin mati-matian mempertahankan preferensinya saat dikritisi dan diberi masukan oleh peserta lain yang memiliki pengalaman lebih banyak darinya.

Namun, ego yang terkendali ini sebaiknya tidak diterapkan saat kita sebagai penerjemah menerima tawaran proyek yang kurang layak. Pak Eddie, dari hasil mencuri dengar percakapannya selama makan siang dengan peserta di sebelah saya, menyarankan untuk tidak sekali-kali menurunkan tarif hanya karena ingin memiliki pemasukan.  Beliau beralasan, saat Anda memberikan tarif jasa penerjemahan yang berada di bawah kisaran normal, mungkin akan ada banyak klien yang datang tetapi Anda hanya akan kelelahan dan bekerja kurang maksimal. Pesannya, “Lebih baik memiliki sedikit klien dengan imbalan yang pantas daripada lebih banyak klien dengan imbalan yang kurang layak”. Dan itulah yang menurut beliau membedakan penerjemah profesional seperti anggota HPI dari penerjemah pemula.

4. Ternyata “slide” itu padanan bahasa Indonesianya “salindia” .. Ha?? Odd.

5. Belum diberi materi langsung diberi terapi kejut (shock therapy). Disuruh menyunting teks yang kacau balau tanpa tanda baca. 
6. Editor harus tahu alasan mengapa sebuah teks diubah oleh penerjemah.
7. “Kecuali “mempunyai” (bukan mempunyai) dan “mengkaji” (bukan mengaji), semuanya luluh.” 
8. Kata “yang” jika bisa dibuang, buang saja. – Sofia Mansoor
9. Hati-hati karena ada beberapa hal yang pilhan pribadi tetapi tidak melanggar tata bahasa.Biarkan saja.
 
10. APA- akademis. Chicago style guide-jurnalis
11. “Mempunyai” sering menjadi bahan perdebatan antara editor dan penerjemah. Lebih aman pakai “memiliki”.
12. Tidak boleh ada 2 konjungsi (kata hubung) dalam satu kalimat majemuk seperti “jika…maka”. Hilangkan salah satu.
13. Gaya selingkung: house style, gaya yg digunakan suatu penerbit atau organisasi, misalnya pemilihan huruf besar di awal kata untuk judul. 
14. “Antara …dan” bukan “antara…sampai” 
15. “Bahasa itu rasa. Jadi rasanya enak nggak sih?” – @ivanlanin
16. Saya pikir ini ‘kutukan’ penerjemah dan penyunting: “Orang lain lebih teliti dari saya”
17. @ivanlanin menyampaikan “Editor dan Kesalahan Berbahasa” . *nyut nyut*
18. Perpindahan rujukan dari bhs Belanda ke Inggris menyebabkan pergeseran kata “subyek” menjadi “subjek”.
19. Akibat terpengaruh bahasa Inggris, kata “adalah” menjadi lebih sering digunakan padahal tak selalu perlu.
20. Frase “di mana” muncul akibat pengaruh “where” dan which sebagai konjungsi di bahasa Inggris. Hindari itu. “Di mana” bukan konjungsi.
21. Rombak kalimat sehingga penggunaan “di mana” sebagai konjungsi bisa dihindari.
22. “Senjatanya editor adalah rujukan. Jangan gunakan perasaan/ naluri saja.” – @ivanlanin
23. kata hubung (untuk menghubungkan gagasan/klausa), misalnya “tetapi”.
24. Editor dan penerjemah harus kritis terhadap apa yang ia jumpai.Tak selalu yang dianggap lazim itu benar. Dictionary is your savior.
25. “Selalu temukan polanya” – @ivanlanin. Dan pengecualiannya.
26. “Sebelum menyunting, kita harus tahu jenis audiens” 
27. “Editor/penyunting harus berkomunikasi dengan penerjemah dan penulis. Masalahnya tenggat waktu!”
28. “Diksi bukan esensi.Jangan sampai berdebat soal diksi tetapi pesan terabaikan.” -Sofia Mansoor 
29. 2 aliran dalam menerjemahkan : bebas dan setia (pada teks). 
30. “pemroses”, “memproses” bukan “pemproses” , “memroses”
31. Kecuali “oleh”, semua preposisi dalam bhs Ind jangan sampai dihilangkan, misalnya “bahwa”
32. Editor bertugas meningkatkan keterbacaan naskah.
33. Cara terbaik untuk memeriksa hasil terjemahan ialah dengan melafalkannya.
34. “Antre” adalah bentuk baku. Bukan “antri” seperti yang banyak diyakini selama ini.
Sekarang baru saya sadar mengapa teman Facebook saya cerewet mengomentari status saya yang terus menerus menghias dindingnya selama kurang dari setengah hari. Katanya saya sedang kesurupan menjadi guru bahasa Indonesia. Pantas saja,karena saya mengomel sendiri 34 kali di sana!
Terimakasih pada HPI karena telah menyelenggarakan acara ini dan membuat saya hampir diblokir teman-teman di Facebook. Sampai jumpa di pelatihan apapun itu berikutnya!!!
P. S. : Saya dengan senang dan lapang hati menerima pembetulan apapun dari Anda yang membaca.
%d bloggers like this: