Bagaimana Menulis Membuat Anda Lebih Sehat

Menulis menurut Haruki Murakami adalah salah satu aktivitas yang kurang sehat. Ada betulnya memang. Bayangkan Anda harus duduk di sebuah kursi di dalam ruangan selama belasan jam lamanya setiap hari sampai lupa (atau melupakan) kegiatan lainnya seperti makan, minum, atau beristirahat di malam hari sesuai kebutuhan tubuh yang
sebenarnya. Itulah mengapa novelis Jepang kenamaan itu mengimbanginya dengan berolahraga lari dan berhenti merokok, sebuah kebiasaan tak sehat yang kerap kita jumpai di komunitas penulis. Sudah lumrah kita jumpai para penulis yang juga perokok dan penggemar berat kopi atau minuman berkafein yang sampai berkata,”Saya tidak bisa menemukan inspirasi tanpa rokok dan kopi.” Haruki berbeda. Ia ingin berkarya lebih lama, dan karena itu, ia harus tetap sehat dan berumur panjang. Masuk akal.

Saya tidak hendak meyakinkan Anda untuk meninggalkan kegiatan menulis dengan memberikan paragraf pembuka seperti itu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kegiatan sebaik apapun, termasuk menulis, jika berlebihan bisa berdampak negatif pula pada kita sebagai pelakunya. Itu sudah menjadi hukum alam.

Akan tetapi, jangan cemas. Bila Anda menulis dengan mengindahkan keseimbangan dalam hidup ini, manfaatnya justru akan lebih banyak.

Menulis sendiri memiliki manfaat yang tidak hanya di dunia akademis hingga dunia profesional. Kemampuan menulis yang baik juga menjadi bagian penting dalam kemampuan berkomunikasi saat ini. Saya sendiri pernah menjumpai seseorang yang mengaku sangat kesulitan saat harus menulis di ujian akademik atau ujian masuk kerja yang mengharuskannya menulis ringkasan eksekutif atau esai singkat. Bahkan hingga dekat dengan detik-detik terakhir ujian pun, yang ada di kertas jawaban hanya beberapa baris kalimat. Belum sampai menjadi paragraf yang utuh. Padahal ia tahu ia memiliki banyak ide dan pemikiran di dalam benaknya. Cuma ia tak tahu bagaimana merangkai kata-kata itu agar layak dibaca.

Kini ada alasan kuat mengapa siapa saja harus mencoba menulis lebih sering, meski bukan penulis profesional. Ternyata aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 kali sepanjang 4 bulan menurut sebuah studi tahun 2005 sudah bisa memberikan manfaat yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional para subjek studinya. Artinya, menulis secara ekspresif (menuangkan uneg-uneg dalam sebuah catatan harian atau membuat cerita fiksi, misalnya) memperbaiki suasana hati, mengurangi tingkat stres dan gejala depresi. Tidak heran J. K. Rowling pernah mengatakan ia pasti akan gila jika tidak memiliki menulis sebagai pelampiasan. Menulis, selain membuatnya kaya raya, juga membuatnya lebih waras dalam menghadapi fase-fase tersulit seperti kemiskinan dan perceraian dalam hidupnya.

Dengan menulis mengenai kejadian-kejadian emosional, penuh tekanan dan membuat kita trauma, kita akan berpeluang lebih sedikit terserang penyakit dan akan terkena lebih sedikit dampak negatif dari trauma yang pernah kita alami di masa lalu. Mereka yang menulis secara ekspresif mengenai hal-hal tersebut juga akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah sakit. Tekanan darah mereka lebih terkendali (tentunya dengan juga memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi) serta memiliki fungsi hati (liver) yang lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa menulis ekspresif.

Pada kenyataannya, menulis ekspresif (expressive writing) bisa membantu kita menyembuhkan diri dari luka fisik lebih cepat. Di tahun 2013, para peneliti dari Selandia Baru memantau pemulihan luka-luka fisik setelah prosedur biopsi yang wajib dilakukan secara medis pada 49 orang dewasa. Semua subjek penelitian ini disarankan untuk menuangkan pemikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan selama hanya 20 menit, 3 hari secara berturut-turut, 2 pekan sebelum biopsi dilakukan. Sebelas hari kemudian, 76% dari subjek studi dalam kelompok eksperimen yang menulis sebagaimana disarankan telah sembuh
sepenuhnya. Sebanyak 58% dari kelompok kontrol (yang tidak
diperintahkan menulis) belum sembuh. Studi ini menyimpulkan bahwa menulis mengenai kejadian-kejadian yang membuat para pasien tertekan membantu mereka memahami kejadian-kejadian itu dan dengan demikian membantu menurunkan tingkat stres.

Bahkan mereka yang dinyatakan menderita penyakit-penyakit tertentu bisa meningkatkan kesehatan mereka melalui menulis. Studi-studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan asma dan meluangkan waktu untuk menulis memiliki serangan yang lebih sedikit daripada penderita asma yang tidak menulis. Para pasien AIDS yang menulis memiliki jumlah sel T yang lebih tinggi. Sel-sel T ini merupakan limfosit yang diproduksi atau diproses oleh kelenjar timus dan secara aktif berperan dalam respon kekebalan tubuh manusia. Para pasien kanker yang menulis cenderung memiliki perspektif yang lebih optimis terhadap kehidupan secara umum dan kondisi yang tengah mereka hadapi. Dari sana, kualitas hidup mereka – terlepas dari sembuh tidaknya – biasanya lebih baik.

Jadi apa yang membuat menulis baik bagi kita semua? Seorang peneliti bernama James W. Pennebaker melaksanakan riset mengenai menulis untuk menyembuhkan diri secara alami selama bertahun-tahun di University of Texas di kota Austin, AS. “Saat orang diberikan kesempatan untuk menulis mengenai gejolak emosional yang mereka alami, kesehatan mereka biasanya lebih baik,”tulis Pennebaker. “Mereka lebih jarang
berkonsultasi ke dokter. Mereka mengalami perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh.”
Bagaimana ini bisa terjadi? Pennebaker meyakini bahwa aktivitas menulis ekspresif ini memungkinkan orang untuk rehat, mengevaluasi diri dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Alih-alih terobsesi secara tidak sehat terhadap sebuah insiden atau memori di masa lalu, kita bisa memfokuskan diri pada bagaimana bergerak maju dalam hidup. Dengan demikian, tingkat stres kita bisa menurun dan kesehatan niscaya akan membaik. Tentunya sekali lagi, dengan diiringi perbaikan gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.

Kita tidak harus menjadi novelis atau cerpenis penuh waktu, kolumnis, blogger yang setiap hari menulis demi mencari nafkah (karena menulis untuk mencari nafkah malah kerap meningkatkan kadar kortisol juga). Cukup menulis catatan harian (diari) yang Anda simpan sendiri (jika Anda termasuk orang yang tertutup) atau mengetiknya dalam dokumen dengan kata kunci agar tak seorang pun bisa membuka dan membaca curahan hati Anda.

Menulis blog juga bisa membantu. Menurut sebuah studi, disimpulkan bahwa menulis blog bisa memicu pelepasan hormon dopamin yang efeknya mirip dengan efek berlari atau mendengarkan musik kesukaan. Jangan cemas curahan hati di blog bisa dibaca orang-orang yang tidak dikehendaki karena blog juga bisa diatur sedemikian rupa agar tidak bisa dilacak Google atau dibuka orang lain kecuali Anda mengizinkan mereka masuk. Di platform-platform blogging besar seperti Blogger, WordPress, Tumblr, saya pikir ada fasilitas semacam ini. Blog bisa diatur privasinya: publik atau privat. Jika tidak mau menutup akses ke semua tulisan di blog Anda, Anda juga bisa memberikan kata kunci untuk satu artikel alias postingan tertentu yang dikehendaki agar tidak dibaca sembarangan orang. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa menumpahkan perasaan dan pemikiran Anda yang berpotensi memicu konflik dengan orang lain atau membuat Anda malu jika mereka membacanya.

Pertama kali menulis, Anda tak perlu cemas dengan standar-standar yang ada. Abaikan EYD, tata bahasa dan aturan sejenisnya yang mengekang. Menulislah seperti kita berbicara pada seseorang yang Anda sangat percayai dan tidak akan membocorkan rahasia Anda. Dengan begitu, kata-kata akan mengalir seperti air.

Jadi siap menulis sekarang?

(Sumber foto: quora.com)

Tackling Depression through Writing

Writing and depression are no strangers to each other. The late American writer Ernest Hemingway who we all now know for his literary masterpieces, I suspect, also struggled hard to combat the depression in him. He saw many murdered during the World War I and also managed to survive after a couple of airplane crash incidents, as long as my memory serves. He then indulged himself in liquor a lot and took his own life at last.

Such a depressive mindset almost ruined Joanne Rowling’s entire life as well in her early 30’s. A broken marriage, being a single mother and financial downturn dragged our dear author J. K. Rowling to another chapter of life – the stardom she ‘instantly’ built after Harry Potter series – which saved herself and Jessica, her baby. In one TV interview, I recall her stating that writing is what kept her alive and moving forward. She was lucky indeed to have a happy family, something she always longed for since the bitter childhood.

Another novelist – a fictitious one I saw on a K-drama – admitted how writing had saved him from the darkest past memory. His marriage was so close to ideal. He loved his wife so much and vice versa. Then an accident struck without warning. She was at last dead, leaving him forlorn and so desperate he wanted to take his own life. He simply got depressed, shunning social life and so forth. Psychologically and mentally dying the man was. Wanting some ‎improvement in his life, a close friend introduced him to writing world. He managed to gain huge success by writing thriller novels, dubbed the Stephen King of Korea, perhaps. And his good looks worked so well to build even more staunch female fan base.

‎An old adage says:”An apple a day keeps the doctor away.” Now I invent my own adage, saying:”A composition a day keeps depression away.”

Maybe if only Robin Williams liked writing even more, everything would be more bearable to him. But that is just maybe…

J. K. Rowling Tulis Cerpen tentang Harry Potter Dewasa

‎J.K. Rowling telah merampungkan penulisan sebuah cerpen terbaru yang isinya mengenai petualangan si penyihir “unyu” Harry Potter.

Kisah tersebut diunggah ke situs Pottermore yang dimiliki Rowling, kali ini dengan menggunakan sudut pandang karakter Rita Skeeter, jurnalis gosip yang diceritakan menulis untuk Harian “Daily Prophet”.

Cerita tersebut membeberkan kondisi kehidupan Harry Potter di umur 33 tahun. Potter dituliskan tengah mengikuti final Piala Dunia Quidditch dengan beberapa teman Hogwartsnya. Rowling (48) telah mengunggah serangkaian tulisannya yang bertema Piala Dunia Quidditch di situsnya sejak Piala Dunia 2014 dimulai di Brazil Juni kemarin.

Kisah itu juga menghadirkan karakter-karakter lainnya dari seri buku terkenal tersebut seperti Ron Weasley, istrinya Hermione Granger, istri Potter Ginny Weasley dan anak kedua pasangan tersebut.

Para pengguna harus masuk ke Pottermore.com untuk bisa menikmati cerpen bertema sepakbola ini.

The Franzenstein Effect: Jonathan Franzen on the ‘Eternal’ Battle of PC versus Mac

image
Those sharp eyes and the stare! (Image credit: GQ.com)

As he was reading his own essay on the Kraus Project, the contemporary renowned American author Jonathan Franzen showcased his bitter, cynical view towards the latest progress of the world of technology. And that makes him so much intelligently ‘sexier’ than any other authors, in my view. I’m glad that he spoke about it with utterly no regret.

During his brief reading, anyone can notice the underestimating tone he was using to explain Apple’s product that J. K. Rowling said while interviewed by Anne Pachett to have changed her own life because of its light weight. Thanks to the slim design and dimension of MacBook Air, the British writer admitted she now can write “really anywhere”.

But, Mr. Franzen begs to differ! He’s got his own belief and stance.

And I coined the term “Franzenstein” to show you how much I love this dark, studious and super serious literary monster, like one created by Frankenstein in a gothic novel by Mary Wollstonecraft Shelley (the creator’s name is commonly used to refer to his creation). He is the man who obviously escapes control (of the society’s) and destroys its creator (society too).

Franzen refers to this as “Kraus’ dichotomy” of coolness and uncoolness, content versus form.

He lashed out with his eyes swiftly sweeping the audience and entire room he was in,”Is it the essence of the Apple product that you have coolness by virtue of owning it? Doesn’t matter what you’re creating on your MacBook Air, simply using a MacBook Air and using its elegant design of hardware and software is a pleasure in itself. Like walking down the street in Paris, while we’re working on some clunky utilitarian PC, where the only thing to enjoy is the quality of your work itself… As Kraus said in its Germanic life, the PC sobers what you’re doing. It allows you to see it unadorned.”

The author again added spontaneously,”This was especially true in the years of DOS Operating System and early Windows…”

To emphasize his point, he sheepishly whispered, almost unheard,”I like DOS…”

And he didn’t want to stop there. Franzen also criticized Microsoft on how messy Windows now has become since the corporation’s engineers decided to choose the pursuit of becoming more like Macintosh in and out. As Franzen put it,”One of the developments that Kraus would decry in this essay is the Viennese dolling up the German language and culture with decorative elements imported from Romans language and culture has a correlative in more recent editions of Windows which borrow ever more features from Apple but still can’t conceal their essential and uncool Windows-ness. Worse yet, it was chasing after Apple’s elegance, they betray the old austere beauty of PC functionality.

image
The MacBook that Franzen says won’t stop teasing you switching from your virus-ridden, sluggish PCs.

If Writers aren’t Allowed to Write

“I think I would be very mentally ill, if I didn’t write. Maybe… I remember reading Virginia Woolf was told she mustn’t write. And I could remember that was horrific. How could they stop her writing?? ” J.K. Rowling

Writing could be one of the best emotional and psychological outlets. It enables us to survive the raging stress of the typically mundane modern life routines we all hate and love.

Write Freely, Edit Cruelly

“I find that discussing an idea before I’ve written it is often the best way to kill it stone-dead.” – J. K. Rowling

casual vacancy

Doesn’t it sound too obvious? I’ve known this since like… forever? Discussing about an idea with anybody else prior to writing it and push the wildest imagination to the point of exhaustion is such a foolish suicide committed by any novice writers, whether they be bloggers, fiction authors, non-fiction authors, or even creative web copywriters.

On writing Harry Potter, Rowling herself admitted that never did she let her drafts read by anyone else before getting done. Afterwards, she allowed only her editor (and maybe her husband, Neil Murray) to scrutinize the drafts. She stated this before the audience of the publication of “The Casual Vacancy”  at David H. Koch Theater.

That being said, I can directly relate that to myself who happens to be one of the haters of anything called “writers club” where several writers mingle and chat and discuss. That doesn’t particularly work for me. I feel like I was born free, so was my mind. So I need to free myself too while writing, setting aside any of those unwanted foreign influences (because some external influences are wanted to enrich ourselves).

Sounds too lenient uh? Wait until the editing comes. “Write freely, and edit cruelly,” that’s all I can say when you really want to produce a great piece of work for readers out there.

%d bloggers like this: