Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)

15 Kualitas Penulis Unggul

‎Berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama bertahun-tahun dan berbincang dengan beberapa jurnalis, Roy Peter Clark yang pernah menulis “How to Write Short” menemukan kesamaan dalam diri para penulis terbaik.

Pertama adalah ‎mereka semua kecanduan membaca sepanjang hayat. Mereka melahap semua bacaan dari fiksi sampai non-fiksi, novel sampai film.

‎Kedua, mereka cenderung suka menulis panjang dan mereka menyadarinya. Mereka menulis dengan sepenuh hati dan itu terpancar dari semua kalimat yang dirangkai. Anda sebagai pembaca pastinya akan merasakan kejanggalan bila penulis atau wartawan tidak begitu menguasai atau tertarik pada satu topik. Tulisannya akan terasa hambar atau monoton. Penulis yang baik ingin memanjakan pembacanya dengan menyajikan karyanya yang terbaik, dan kerap karya itu menjadi begitu panjang. Namun demikian, mereka juga bisa menyesuaikan diri bila harus menulis dengan singkat dan padat.

Ketiga, penulis unggul memandang dunia sebagai tempat mereka bereksperimen. Dengan persepsi ini, mereka tidak segan turun ke lapangan, tidak hanya berkutat dengan buku dan komputer di ruangan sepi tetapi juga mengobrol dengan orang-orang baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, ‎merasakan pengalaman baru. Semua itu pada gilirannya akan memperkaya cerita yang ia akan suguhkan ke pembaca.

Keempat, penulis berkualitas menyukai kebebasan dalam bekerja. Energi kreativitas mereka tidak bisa dikendalikan oleh orang lain termasuk editor. Mereka seolah memiliki kompasnya sendiri, semacam naluri yang mengatakan pada dirinya,”Ini pasti akan menarik untuk disajikan bagi pembaca saya.”

Kelima, penulis yang top tidak sungkan dan tidak malas mengumpulkan fakta dan informasi, termasuk anekdot, kisah yang membuatnya terkesan, dsb. ‎Mereka menggunakan berbagai alat yang ada untuk mengumpulkan dan menyimpan data berharga tadi, dari mencatat di buku harian, merekam di alat tertentu, mengetik di perangkat mungil seperti ponsel, atau mengandalkan catatan mental di benaknya.

Keenam, penulis unggul bersedia menghabiskan waktunya menyempurnakan bagian pembuka dalam karyanya. Karena ia tahu, tanpa pembuka yang baik, orang akan sulit tertarik membaca tulisannya lebih lanjut sampai habis. Dalam jurnalisme, kita kenal bagian ini dengan istilah “lead”, yang memuat gagasan utama tulisan dan sekaligus membuat pembaca makin penasaran.

Ketujuh, ‎penulis yang baik sanggup melarutkan diri dalam kisah yang mereka tuliskan. Ini berkaitan erat dengan totalitas dan fokus dalam berkarya. Mereka menulis dengan sepenuh hati, bukan hanya mencari uang atau memenuhi tuntutan editor dan pemilik modal.

Kedelapan, ketekunan selalu bersemayam dalam diri penulis-penulis unggul. Mereka sanggup bekerja sehari semalam untuk memberikan tulisan terbaik mereka.

Kesembilan, ‎mereka menyukai keteraturan terkait bahan tulisan yang akan digunakan karena mereka sadar pekerjaan akan jauh lebih mudah bila literatur dan sumber yang dibutuhkan dikelompokkan dengan baik.

Kesepuluh, penulis-penulis berkualitas “tega” untuk menulis ulang atau bahkan membuang bagian yang tak perlu. JK Rowling, misalnya, mengaku membuang bagian cerita tentang otopsi Barry Fairbrother dalam The Casual Vacancy meski sudah susah payah menulisnya selama berhari-hari hanya karena ia kemudian merasa bagian itu terlalu melenceng dari isi cerita.‎ Menyelesaikan draft pertama adalah sebuah langkah yang baik tetapi belum bisa disebut akhir proses kreatif penulisan. Menulis adalah menulis ulang, begitu kata seorang penulis. Buku-buku laris biasanya hasil dari penulisan ulang yang makin menyempurnakannya.

Kesebelas, mereka biasa membaca keras-keras tulisannya untuk mengetahui kejanggalan. David Sedaris membaca lantang hasil tulisannya sebelum menyerahkan ke editor atau penerbit. Sekali dua kali belum cukup. Belasan kali juga belum cukup kalau masih bisa diperbaiki lagi. Alasannya? Dengan membaca, kita bisa mengetahui seberapa mengalirnya kisah yang kita ceritakan dalam tulisan.

Keduabelas, penulis unggul suka bercerita. Elizabeth Gilbert mungkin contoh terbaik dari penulis yang begitu suka mengobrol tentang hal-hal konyol dan remeh temeh tetapi menarik dan menghibur. Ia kerap mengumpulkan anekdot-anekdot berharga dalam ingatan dan catatan hariannya untuk kemudian meleburkannya dalam karyanya. Daripada mentah-mentah menyuguhkan informasi dalam pola 5W dan 1H, ia memakai gaya bercerita yang mengalir dan menarik karena tulisannya padat dengan narasi, anekdot, kronologi dan suasana yang detil.

Ketigabelas, ‎penulis yang baik mampu memberikan keseimbangan antara memuaskan idealisme diri dan selera pembacanya. Mereka berusaha menarik tanpa harus menjadi orang lain dalam tulisannya.

Keempatbelas, penulis berkualitas tahu ia tidak bisa terjebak dalam satu gaya penulisan selamanya. Ia mau mengeksplorasi diri dengan mencoba berbagai bentuk dan gaya menulis. Dengan keluar dari zona nyaman itulah, ia akan memperkaya pengalaman dan ketrampilan menulisnya.

Itu semua menurut Clark adalah ciri-ciri umum penulis yang berkualitas. Dan menurut saya masih ada satu lagi ciri lainnya, yaitu kemampuan bekerja di dalam berbagai kondisi apalagi jika mereka diburu waktu. Mereka tidak memiliki ketergantungan yang begitu mengganggu pada suatu hal, dari kafein sampai keharusan menulis di tempat dengan kondisi tertentu. ‎ Kita tentu pernah menjumpai penulis-penulis eksentrik yang hanya bisa bekerja di dalam suasana tertentu atau dengan alat menulis tertentu. ‎Ini hanya akan menghambat produktivitasnya sebagai penulis.

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Belajar Jurnalistik dari SpongeBob

‎Dibandingkan serial kartun Barat lainnya, saya suka SpongeBob Squarepants, makhluk rekaan berwarna kuning yang bentuknya mirip spon cuci piring kita. Serial The Simpsons sebenarnya juga menarik dan guyonan serta satirnya sangat menohok dan cerdas. Pada kenyataannya, bagi saya The Simpsons dan SpongeBob sama menariknya karena buktinya diputar berulang kali pun kita tak akan bosan (bahkan Doraemon pun kalah).Jalan ceritanya lumayan menarik dan leluconnya segar, bisa dinikmati semua usia. Dan yang penting bagi audiens mainstream Indonesia, SpongeBob tidak terlalu blak-blakan mendukung LGBT seperti The Simpsons yang dalam satu film layar lebarnya pernah menggambarkan dua orang polisi pria yang tengah mengendap-endap. Seolah mereka hendak menangkap seseorang di kamar hotel, tak tahunya saat lampu patroli meredup, mereka malah berciuman dan masuk ke kamar itu. Mengena sekali bukan? Saya sampai tak sempat bereaksi dan cuma menganga karena begitu terpukau.

IMG_2521.PNG

Becermin dari Krabby Kronicle

Dari ratusan episode Spongebob Squarepants yang saya saksikan sejak pertengahan 2000-an, saya paling suka dengan “Krabby Kronicle” (musim keenam) yang ditayangkan perdana 8 Agustus 2008. Alasannya sederhana saja:karena episode ini berkisah tentang jurnalistik atau journalism!‎ Bagi Anda yang belum pernah menonton, begini kisahnya secara ringkas‎.

Mr. Krabs yang terkenal pelit itu ingin mendapat pelanggan baru dan beriklan di surat kabar lokal “Bikini Bottom Examinor” yang dari namanya saja sudah berkonotasi serius dan investigatif. Pembaca kebanyakan tidak begitu menyukai‎nya. Oplah Bikini Bottom Examiner kalah dari oplah The Bottomfeeder, yang dari namanya saja sudah memberikan tema jurnalisme bombatis dengan berbagai berita, yang menurut kalangan awam, “menarik”. Mr. Krabs yang selalu jeli dengan peluang bisnis yang bisa menjadi tambang uang itu kemudian terinspirasi oleh The Bottomfeeder yang bisa meraup uang dari basis pembaca yang luas meski hanya menyebarluaskan berita yang kurang benar dan berlebihan. Krabs menganggap dunia jurnalisme sebagai sumber pundi-pundi uangnya setelah bisnis restoran yang mulai stagnan. Dan Krabs yang rakus kekayaan itu pun nekat mendirikan bisnis korannya yang pertama:Krabby Kronicle. Lalu siapa karyawannya? Bukan Krabs namanya kalau ia tak bisa memeras tenaga 2 karyawannya yang setia. SpongeBob dan Squidward Tentacle diangkat menjadi reporter-reporternya sembari tetap menjalankan pekerjaan mereka di Krusty Krab yang mulai sepi pengunjung (karena itulah Krabs mengiklankan restorannya di koran). Protagonis kita SpongeBob pun dibekali kamera agar bisa turun ke lapangan dan memotret kejadian-kejadian menarik sebagai bahan berita. Karena terlatih sebagai koki, naluri pencarian berita SpongeBob belum terasah dan ia cuma memberitakan hal-hal yang kurang menarik padahal ada begitu banyak kejadian yang lebih layak diberitakan. Alih-alih ‎memberitakan perampokan bank, ia malah menceritakan Patrick yang sedang memandangi sebuah tiang di jalan. Membaca berita tadi, Mr. Krabs sebagai pemilik modal sekaligus pimpinan redaksi Krabby Kronicle marah besar. Pada reporter barunya, ia mewajibkan penggunaan imajinasi sebagai ‘bumbu’. “When you write these stories, you’ve gotta use a little imagination, boy,”ucap kepiting tua mata duitan itu. Mr. Krabs mengubah berita Patrick menjadi “seorang warga menikahi tiang” agar lebih menarik pembaca. SpongeBob ragu bahwa yang dilakukannya itu etis karena tidak jujur, yang melanggar etika jurnalisme. Mr. Krabs berkelit,”Think of it as…uh… a practical joke.” SpongeBob menelan mentah-mentah nasihat Mr. Krabs. Di hari berikutnya, SpongeBob meliput orang-orang di sekitarnya lalu memberitakannya di Krabby Kronicle dengan menggunakan pemutarbalikan fakta agar terkesan lucu, menarik dan sensasional, yang pada akhirnya menaikkan oplah dan jumlah pembeli. Mr. Krabs tak peduli bahwa berita-berita yang termuat di surat kabarnya menyebar kebohongan dan masa bodoh dengan konsekuensi pemberitaan yang bernuansa fitnah itu pada tiap individu yang diberitakan. Larry dipecat setelah ia diberitakan oleh Krabby Kronicle bahwa ia dipukuli habis-habisan oleh Pipsqueak yang berbadan kecil dan lemah. Reputasinya sebagai lobster perkasa jatuh dan manajer gym tempatnya bekerja merumahkannya karena takut reputasi Larry mencemari nama baik gym miliknya. SpongeBob merasa bersalah tetapi Mr. Krabs yang sedang terbuai keuntungan dari penjualan Krabbby Kronicle yang menanjak itu malah mengabaikannya. Ia hanya peduli keuntungannya sebagai pebisnis dan pemodal. SpongeBob ingin menulis berita tanpa harus mencederai nama baik orang dan atasannya tak mengizinkannya. Profit menjadi prioritas utama dan pertama. Plankton menjadi korban berikutnya. Bisnis restorannya Chum Bucket ditutup pihak berwenang karena diberitakan di Krabby Kronicle telah mendapatkan bahan baku yang tidak higienis. SpongeBob tetap bekerja dan menulis berita fitnah meski nuraninya tersiksa. Sandy sang tupai diberitakannya sebagai makhluk dengan IQ jongkok sehingga sejumlah ilmuwan datang untuk mencabut semua penghargaan sains yang Sandy terima. Krabby Kronicle makin sukses, oplahnya kini 5 juta eksemplar. Tetapi SpongeBob makin sedih dan tersiksa karena menyaksikan hidup banyak temannya hancur karena pemberitaan Krabby Kronicle yang bernada fitnah.

Hingga suatu saat, tibalah SpongeBob pada suatu titik saat ia merasa tidak ada bahan pemberitaan lagi. Semua penghuni di Bikini Bottom sudah ia liput dan hancurkan hidupnya. Mr. Krabs menantang SpongeBob untuk menelurkan berita yang paling spektakuler. Esoknya, benar saja. SpongeBob menuliskan berita yang paling menggemparkan di Bikini Bottom dengan mengabarkan secara detil ekspolitasi tenaga kerja yang berlangsung di bisnis restoran dan surat kabar Mr. Krab. Spongebob menuliskan di halaman depan Krabby Kronicle:”Krabs overworks employees, reaps reward. Krabby Kronicle mastermind behind bogus stories pays his tired, under-age reporter pennies while he rakes in the dough.” Kerumunan massa pembaca yang marah mendatangi Krusty Krab dan meminta kebenaran dari Mr. Krabs. Mereka nekat mengambil semua keuntungan penjualan Krabby Kronicle untuk dibagikan kembali untuk semua orang yang sudah merasa dirugikan oleh pemberitaan surat kabar tersebut. Dasar Krabs tak mau rugi, mesin cetak koran yang sudah terbengkalai karena bisnis korannya ambruk pun jadi ia gunakan untuk mencetak uang saja.

‎Untuk ukuran sebuah episode serial kartun yang dipasarkan untuk pemirsa anak, kisah Krabby Kronicle itu sungguh menohok dalam pengamatan saya. Isu-isu yang disorot memang bukan hal yang baru di dunia pers nasional dan global tetapi toh sampai saat ini masih sangat relevan dan aktual. Apalagi kalau kita kaitkan dengan kondisi pers dalam negeri pra, selama dan pasca Pilpres yang teramat hiruk pikuk, penuh dinamika dan kejutan-kejutan. Sejujurnya, kondisinya sangat memprihatinkan karena berbagai pelanggaran prinsip jurnalisme kategori berat dan fatal sudah kita saksikan dalam skala yang luar biasa kolosal dan berulang-ulang.

Pewarta ‎yang ‘Salah Asuh’

Kita patut maklumi bahwa era kebebasan pers sejak masa Gus Dur memberikan implikasi tersendiri. Semua orang tiba-tiba bisa mendirikan bisnis media dan pers sendiri. Semua orang bisa menerbitkan apapun, baik cetak hingga digital lalu mendistribusikannya. Faktor pendorong utama ialah tujuan ekonomi, sehingga motivasi ekonomi sangat menonjol dibandingkan idealisme dan prinsip jurnalisme. Akibatnya, prinsip-prinsip jurnalisme terlanggar setiap saat oleh banyak pelaku pers sendiri, karena acuannya adalah PROFIT semata. Pemodal lebih kuat daripada para jurnalis bahkan dalam struktur internal perusahaan mereka sendiri.

‎Satu prinsip jurnalisme yang kita lihat paling sering dilanggar selama ini ialah kewajiban berpihak pada kebenaran. Ini adalah prinsip pertama jurnalisme sebagaimana disimpulkan oleh Comittee of Concerned Journalist. Sebagaimana dilakukan oleh SpongeBoob dan sejumlah pewarta di negeri ini, fakta sering dimanipulasi, konteks juga kerap diubah sedemikian rupa sehingga pewarta dan medianya tak bisa lagi dipercaya sepenuhnya. Banyak orang dan entitas pers memilih memihak salah satu calon presiden padahal seharusnya mereka mengutamakan keberpihakan pada kebenaran. Lain dari prinsip jurnalisme abal-abal ala Krabby Kronicle, kebenaran jurnalistik harus disertai disiplin profesional dalam mengumpulkan dan verifikasi data. Wartawan hanya bertugas membeberkan peristiwa secara deskriptif, bukan persuasif apalagi agitatif dan provokatif. Apalagi imajinatif, seperti yang disarankan Mr. Krabs pada SpongeBob yang naif.

‎Karena itu, wartawan-wartawan baru kita perlu diasuh oleh sosok-sosok jurnalis yang kompeten dan berdedikasi dala‎m bidangnya. Bukannya ditatar dan diberi wejangan oleh para pemilik modal, atau jurnalis yang senior tetapi hanya menjadi corong instruksi pemilik modal.

Konflik antara pemilik modal dan ruang redaksi (newsroom) sudah sering dijumpai. Menurut Abdullah Alamudi (mantan wartawan Bisnis Indonesia dan The Jakarta Post), haruslah ada otonomi bagi newsroom untuk mengambil keputusan, yang membuatnya tidak bisa diganggu gugat oleh pihak pemodal demi menjaga idealisme jurnalismenya.

Jadi, jangan kita biarkan reporter-reporter ‘hijau’ seperti SpongeBob yang masih berhati nurani begitu saja disetir oleh pemilik modal nan rakus seperti Mr. Krabs‎! Karena di tangan para jurnalis inilah, nasib pers kita sebagai tiang penyangga demokrasi dan nasib bangsa dipertaruhkan.

%d bloggers like this: