Independensi Media Itu Bukan Omong Kosong, Asal…

‎Saya masih ingat kalimat pakar marketing pendiri Mark Plus Inc., Hermawan Kertajaya, dalam acara penghargaan Indonesia Wow Brand yang ia gelar 11 September lalu. “Menjadi media darling itu tidak perlu memiliki media sendiri,”terang pria yang penampilannya masih enerjik di usia senja itu. Saya manggut-manggut. Pernyataannya benar dan menohok, kalau melihat kenyataan lapangan di Pilpres 2014.

Serta merta kami diingatkan Hermawan tentang fenomena para pemilik media yang kalah telak dari Presiden Terpilih RI 2014-2019. Surya Paloh dengan Metro TV-nya kandas menuju kursi presiden dan kemudian memutuskan membela Jokowi-JK. Ada bos besar MNC Group Hary Tanoesoedibjo yang kerap dipanggil orang Ahok, padahal bukan. Kemudian yang paling sering diolok-olok, Aburizal Bakrie dengan TV One dan Viva News-nya yang diserang habis-habisan karena menayangkan hasil quick count paling abnormal dibandingkan stasiun-stasiun televisi lain di Indonesia.

Pernyataan Hermawan seolah mengamini gagasan Ignatius Haryanto yang menulis di kolom Opini Kompas ‎Rabu 23 April 2014. Di artikelnya “Nasib Media Partisan Setelah Pemilu”, Ignatius menulis:

“Oleh karena itu, penting kepada media-media mana pun untuk selalu menjaga independensi karena reputasi media akan ditentukan dari independensinya, dan bukan dari faktor dekat atau tidaknya ruang redaksi dengan perintah sang majikan utama.”

Omong kosong! Tidak ada namanya independensi media setelah pemilik modalnya berafiliasi dengan arena yang diliputnya. Tilik saja kebijakan Kara Swisher dari Recode.net. Ia menolak SEMUA penanam modal dari Silicon Valley dan dunia bisnis pada umumnya. Mengapa? Karena ia terlalu pintar untuk tahu bahwa independensi medianya itu hanya akan menjadi angan-angan begitu ruang redaksinya didanai orang-orang yang juga memiliki hubungan dengan sasaran pemberitaannya.‎

Lalu bagaimana sebuah lembaga pers mendanai aktivitasnya dan menuai laba? Metode pendanaan patungan atau crowdfunding bisa dijadikan alternatif. ‎Kenapa? Karena risiko campur tangan menjadi lebih rendah dari yang dihadapi media dengan pemodal individual atau korporat yang memiliki kepentingan. Dengan banyaknya orang yang memiliki berbagai kepentingan di situs crowdfunding, kemungkinan penunggangan redaksi dengan kepentingan pemilik modal lebih kecil.

Jurnalisme Emosional

‎Era media baru yang ditandai dengan inovasi-inovasi teknologi yang memudahkan siapa saja membuat publikasi mereka sendiri (via blog, self publishing, dll) membuat norma-norma jurnalisme konvensional mau tidak mau, cepat atau lambat harus bergeser. Terjadi friksi, tumpang tindih, perselisihan di antara para wartawan dan blogger (narablog) yang saling mengklaim bahwa kelompok atau aliran atau medianya adalah yang paling baik. Fenomena ini sungguh menarik untuk diamati bila Anda adalah pewarta atau peminat jurnalisme media baru dan blogging.

Dalam pengamatan saya, ‎sekarang ini muncul sebuah aliran baru dalam jurnalisme:jurnalisme emosional. Para pelopornya adalah pendiri blog TechCrunch.com Michael Arrington, pendiri blog Pando.com Sarah Lacy, dan Kara Swisher yang mendirikan Recode.net. Mereka inilah orang yang membuat terobosan dengan memanfaatkan kanal penerbitan digital semacam blog dan jejaring sosial sebagai pengganti. Mereka membuat dunia jurnalisme menjadi lebih segar, tidak melulu menampilkan onggokan hasil wawancara, fakta dan data. Jurnalis-jurnalis kampiun media baru ini juga memiliki kepribadian (personality) dalam menyampaikan isi kepala mereka mengenai sebuah isu.

Beda yang pertama dan utama aliran jurnalisme emosional ini ialah mereka tidak segan menggunakan kata “I” (saya) dalam berbagai tulisan. Ego mereka memang besar dan mereka tidak menggunakan bahasa yang formal dan kaku bak pewarta media lama yang kerap menghiasi halaman surat kabar. Gaya menulis mereka sangat berkebalikan dengan gaya menulis wartawan di situs-situs berita mapan seperti BBC.co.uk dan VOANEWS.

Karena besarnya ego itulah, jurnalis-blogger di sini diperkenankan (baca : sangat didesak) untuk‎ menunjukkan kepribadian mereka secara blak-blakan. Arrington dan Lacy, misalnya, tidak malu menulis dengan nada memojokkan atau menggunakan kata kasar semacam “f*ck”. Swisher juga terlihat sangat liberal dengan penggunaan kata-katanya di berbagai kesempatan publik meski di tulisannya agak lebih terkendali. Emosi yang menjadi bagian dari watak manusia justru harus dipertontonkan di jurnalisme emosional dan media baru. Padahal di jurnalisme kolot, emosi sebisa mungkin dihindari agar tidak mencemari fakta yang disajikan pada pembaca. Jurnalis adalah mesin penyaji fakta dan peristiwa, tidak dianggap memiliki kepribadian atau sikap atau emosi yang manusiawi. Dalam jurnalisme emosional, justru kepribadian dan emosi harus dieksploitasi karena inilah komoditi.

Kecepatan juga menjadi prioritas di jurnalisme emosional. Sarah Lacy sendiri mengkritik bahwa dunia jurnalisme teknologi akhir-akhir ini menjadi semacam perlombaan bagi jurnalis-jurnalis agar bisa menghasilkan konten baru tentang pernyataan pers yang sama “lebih cepat dua detik” daripada para pesaingnya. Agar jurnalisme tidak semata-mata menjadi lomba kecepatan “salin tempel” (copy paste), ia menyarankan untuk menulis ulang pernyataan pers yang dikirimkan oleh startup atau berita apapun yang sudah ada agar konten yang disajikan lebih segar dan memiliki nilai tambah. Saya amati sendiri metode penulisan di Pando.com yang ia bawahi cukup menarik, karena kontennya lebih kaya referensi dari berbagai sumber. Banyak hyperlink menuju ke laman-laman lain yang bisa memperluas pandangan dan wawasan sehingga bias dalam penyampaian bisa ditekan.

‎Hal lain yang turut membedakan jurnalisme emosional ialah minimnya intervensi tim editorial. Di Techcrunch misalnya, menurut Eric Eldon (mantan editor Techcrunch) sebagaimana dikutip laman Poynter.org di artikel “Techcrunch’s Alexia Tsotsis‎: ‘I Like the Emotional Part of the News’, blog itu tidak memiliki proses ulasan editorial yang formal seperti halnya di media lainnya. Tetapi inilah yang membuat Techcrunch sanggup bertengger di peringkat teratas Techmeme Leaderboard. Artikel-artikel blogger mereka kerap mendapat kecaman, sindiran, olok-olok, karena dianggap bukan pekerjaan jurnalistik yang sesuai pakem. Namun demikian, mereka malah makin berjaya. Salah satunya menurut saya adalah karena blogger-blogger di Techcrunch menulis dengan gaya pribadi mereka sendiri. Dan mereka diberikan ruang yang hampir tanpa batas untuk itu. Begitu bebasnya ruang itu, sampai Tsotsis sendiri mengaku pernah menulis dan mempublikasikan artikel dalam kondisi mabuk setelah minum anggur. “Fuckers I am so sick of reporting on incremental tech news for fucking two years now, so sick I’m pretty much considering reverting full-time to fashion coverage,”tulis Tsotsis yang mabuk di sebuah malam Minggu di Techcrunch. Tulisannya langsung menuai kritik dan kecaman pedas.

Sarah Lacy yang juga pernah bekerja di Techcrunch menyoroti lemahnya pengawasan editorial di media baru seperti Techcrunch dan menerapkan penyempurnaan ‎itu di Pando. Penyuntingan naskah (copy editing) ia anggap sebagai bagian integral penerbitan sebuah artikel hingga pantas dibaca khalayak. Lacy mengatakan sendiri misinya adalah menggabungkan sisi posisif media lama dan media baru. Dan tampaknya ia belajar banyak dari kebebasan yang terlalu tinggi di Techcrunch.

Semua plus minus itulah yang membuat jurnalisme emosional ini menjadi begitu seksi, menantang persis seperti Alexia yang dulunya berprofesi sebagai model. Karena mereka mendobrak aturan formal yang sudah ada, dan makin dicerca, mereka makin disuka juga. Berita yang mereka sampaikan seolah menjadi lebih manusiawi dan tidak mengada-ada. ‎Saya menduga ada kriteria khusus supaya seseorang bisa sukses di jurnalisme emosional seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima kecaman kejam tanpa henti dari troll virtual yang kapan saja bisa meninggalkan komentar pedas di kotak komentar.

Di Indonesia, sepengetahuan saya belum ada yang benar-benar bisa merealisasikan jurnalisme emosional ini. ‎Dibutuhkan orang-orang dengan keberanian seperti Ruhut Sitompul atau Farhat Abbas untuk memancing emosi pembaca tetapi tentu saja, dengan memiliki kepribadian yang unik dan penampilan yang lebih menarik dari keduanya.

{image credit: Alexia Tsotsis/ Business Insider}

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Menyoal Alasan Hatta Rajasa Tak Hadir Lagi Bersama Prabowo

Kara Swisher dari blog teknologi Recode pernah mengkritik bahwa para wartawan sering menulis hal-hal yang membosankan ‎untuk para pembacanya. Namun ironisnya, diskusi dan debat mereka di ruang redaksi (newsroom) yang justru lebih menarik dan tajam malah tidak disajikan pada audiens yang haus informasi dan analisis bermutu. Dengan kata lain, para wartawan memendam informasi, analisis dan prediksi logis yang lebih menarik itu bagi kalangannya sendiri dan tidak mau menyebarkannya melalui medianya.

Begitu juga dalam kasus satu ini. Seperti kita ketahui bersama, Prabowo sudah babak belur menderita kekalahan telak dua kali di Pilpres dan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi. Dalam beberapa kesempatan Hatta memang tak lagi terlihat tampil di depan publik bersama Prabowo Subianto.Tetapi tahukah Anda‎ alasannya?

‎Menurut sumber tepercaya yang juga seorang pewarta, tidak tampilnya Hatta bersama dengan Prabowo dilatarbelakangi oleh hal berikut ini:kubu Prabowo-Hatta sebenarnya sudah terbelah dengan perpecahan pendapat dalam tubuh PAN sendiri. Ada kubu sang tetua PAN Amien Rais dan kubu sang besan Status Quo Hatta Rajasa. Amien mau Hatta terus mendampingi Prabowo, tetapi Hatta sendiri sudah “ogah”. Masuk akal juga. Siapa yang mau berjalan bersama pecundang? Tetapi kalau pecundang itu teman sejati Anda, asumsi ini pasti akan terpatahkan. Dan sayangnya di dunia politik tak ada yang namanya teman sejati, seperti yang ditunjukkan ‘wartawati senior’ Nanik S. Deyang, yang pernah secara terbuka dekat dengan Jokowi dan kemudian menyeberang ke kubu Prabowo lalu menyerangnya dengan cara yang sangat tidak etis dalam koridor jurnalisme.

Bila sumber ini salah, mungkin alasan sebenarnya akan tetap terkubur dan menjadi objek spekulasi kita bersama sebagai bangsa dalam berbagai wacana.

Kara Swisher: Journalists Need to Be More Entrepreneurial, Too!

Kara Swisher, one of the best tech journalists ever lived (Image credit: Wikimedia.org)

So Kara Swisher urges journalists to be more entrepreneurial. She said so during her interview with Jason Calacanis as a response to a question from one of the people in the audience whether there is still more room for aspiring professional journalists out there trying to make a living and a lifelong career. She even got more convinced that there is more demand for high quality professional journalists. As she put it, it would “double.”

With a catch, that is to say that we journos have got to be “more entrepreneurial and creative,” she added. And I have to say she has got the point! Journalists are a bunch of people who are so familiar with risk taking and therefore could be great entrepreneurs.

Swisher also raised a question:”Does anyone have to be entrepreneurial now?” She thought so. Journalists to some extent have to be using their creativity and entrepreneurial spirit in some way to make their own living and to create more jobs for other people. To add, Swisher strongly believed that any successful people in the future has to have that streak of entrepreneurship in their mind.

“Journalists just have to be entrepreneurial like the rest of the world. […] They kind of do. You can do it in all the job. You just cannot go to an office now and sit there and do the same thing. Successful people in the future have an element of entrepreneurship no matter what they are in.”- Kara Swisher

Swisher, who is an American technology columnist for the Wall Street Journal, a co-founder of Re/Code  and commentator on the Internet, emphasized later on that to survive on the web, one needs to be either delightful and useful. It applies to apps and services like Twitter (which she claimed a lit bit of both), Instagram (delightful). Journalism, in order to thrive more in the future, has to be simultaneousy delightful and useful. Too many journalists are only pouring out too much information in a boring way. “You need to make information interesting!” Swisher almost screamed.

How to make our pieces more interesting?

She implied: write with interests, with analyses, with researches.

Jurnalisme ‘Positif’ vs Jurnalisme Investigatif

‎Sekitar setahun yang lalu, saya berkesempatan menghadiri sebuah seminar yang digelar IFC (International Finance Corporation) dan sempat ada pertentangan antara para jurnalis yang ada di dalamnya. Salah satunya ialah karena satu orang pembicara di depan mengatakan pihaknya hanya akan mendukung publikasi berita yang “positif”, sementara untuk publikasi berita yang bersifat investigatif, mereka tidak akan mempublikasikannya. “Kami ingin menyebarkan kabar baik, bukan kabar buruk,”begitu katanya pada kami yang hadir.

Opininya itu disanggah oleh seorang jurnalis lainnya yang menganggap hal semacam itu sebagai penyia-nyiaan hak pers media yang bisa mengabarkan hal-hal yang tak kalah penting daripada berita-berita manis dan normal belaka. ‎Sangat disayangkan kalau wartawan hanya mengangkat hal-hal yang diinginkan tetapi enggan membeberkan hal lain yang kurang mengenakkan tetapi patut diketahui orang, demikian kurang lebih si jurnalis membantah.

Hal yang sama juga terjadi di negeri Paman Sam lho! Kalau Anda pikir kondisi semacam ini cuma ditemui di tanah air, Anda salah besar. Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel yang ditulis Paul Carr di blog teknologi dan startup Pando.com yang berisi pergulatan serupa. Dalam sebuah diskusi panel yang melibatkan dua jurnalis perempuan terkemuka di dunia teknologi dan startup, terjadi sebuah pembeberan publik yang bisa dikatakan cukup sadis. Alexia Tsotsis (editor blog Tech Crunch) dan Kara Swisher (pendiri blog Re/Code) masing-masing menunjukkan perbedaan sikap dalam meliput dan bekerja sebagai jurnalis. Tsotsis terkesan lebih lunak, lebih jinak dan mencerminkan kebijakan umum Tech Crunch yang menjilat penguasa, dengan memberitakan hal-hal yang menyenangkan. “Kami hanya penggembira,”begitu kata Tsotsis. Lebih lanjut Tsotsis berkata betapa ia terus berdoa agar dalam kotak masuk surelnya tidak dimasuki bocoran informasi dari pihak-pihak kontra pemerintahan Obama seperti informasi dari Edward Snowden yang amat kontroversial itu. Ia bahkan mengatakan menolak untuk mengangkat informasi seperti itu dalam blog yang dikelolanya.

Lain dengan Kara Swisher yang telah dikenal dengan reputasi jurnalismenya yang telah teruji dan tak peduli dengan pihak yang berisiko dibuat berang dengan pemberitaan yang ia turunkan, yang menolak untuk menulis hanya untuk menjilat satu pihak saja. Carr pun memuji:”Setidaknya Swisher adalah jurnalis yang hebat. Re/Code juga situs berita yang bagus.” Swisher menegaskan dirinya tidak pernah menolak bocoran informasi seperti milik Edward Snowden dan seolah “memaksa” Tsotsis untuk mengakui keunggulan jurnalisme dan integritas editorial Red/Code. Tsotsis pun menyatakan dengan jujur,”Karena itulah kau lebih baik dari kami.” ‎
Berikut kutipannya:

“”I never say that,” Swisher said.

“That’s why you’re better than us,” Tsotsis said sweetly.”

Carr yang menganut idealisme dalam bekerja ini mengatakan betapa memalukannya pengakuan Tsotsis sebagai editor sebuah organisasi media besar seperti Tech Crunch itu. Bagaimana bisa ia mengakui bahwa organisasinya tunduk di bawah kekuasaan lain?

Yang tak kalah menyedihkan: Inilah fakta yang juga merundung banyak organisasi berita di Indonesia dari jaman baheula sampai SBY berkuasa.

20140718-184304-67384137.jpg

Investor Baru Path dari Indonesia Dinilai Berisiko Jadi Bumerang

image

Tanggal 11 Januari 2014 menjadi tonggak investasi baru bagi startup jejaring sosial Path yang dengan bangga mengumumkan putaran pendanaan barunya. “Hari ini kami dengan gembira mengumumkan ronde pendanaan baru yang akan membantu kami terus membangun visi kami. Inilah (putaran pendanaan) Series C kami dan nilainya mencapai 25 juta dollar AS. Putaran ini termasuk kontribusi dari Bakrie Global Group, Kleiner Perkins Caufield & Byers, Index Ventures, Greylock Partners, Insight Venture Partners, Redpoint Ventures, dan First Round Capital. Modal ini akan digunakan untuk mendanai langsung pertumbuhan komunitas harian kami, terus mengembangkan strategi pemasukan dan mengejar inovasi terobosan baru,”demikian tulis sang CEO Dave Morin (@davemorin) di blog resmi Path.com. Path akan terus fokus pada berbagai upaya dalam menarik tim kleas dunia yang terinspirasi untuk membangun visi bersama.

Tetapi sayangnya visi Path dalam berinvestasi berseberangan dengan aspirasi sebagian pengguna setianya di tanah air. Seperti kita ketahui Indonesia adalah pangsa pasar Path yang signifikan. Dikutip dari TheNextWeb.com, CEO Path sendiri mengatakan layanannya memiliki 3 juta pengguna terdaftar di Indonesia. Angka itu hampir setara dengan 15% dari 23 juta basis pengguna Path secara global. Namun, Indonesia menjadi penyumbang separuh jumlah total pengguna harian Path, bahkan menjadi satu-satunya negara yang terbesar yang tiap hari menggunakan layanan itu. Sepertiga traffic bulanan Path oleh pengguna Indonesia juga dapat disamakan dengan traffic dari pengguna dari negeri asalnya, Amerika Serikat.

Dengan besarnya basis pengguna itu, sewajarnya Path memiliki investor dari negeri ini. Morin memang pernah mengungkapkan niatnya untuk menggandeng investor strategis di Asia (Recode.net). Tetapi pilihan mereka tampaknya menjadi kontroversi tersendiri di kalangan basis pengguna setia Path. Diterimanya Bakrie Global Group sebagai investor Indonesia oleh Path dipermasalahkan oleh sebagian pihak karena menurut Jon Russel dari TheNextWeb.com, citranya di mata masyarakat yang kurang baik. “That’s because Bakrie Global Group is a deeply divisive organization,”tulis Russel.

Dalam sebuah pernyataan yang dilansir oleh Recode.net, CEO Bakrie Global Group Anindya Bakrie mengatakan,”Kami dengan suka cita turut serta dalam langkah Path untuk tumbuh dan bergerak maju. Dengan tim manajemen yang kokoh dan rencana pengembangan yang relevan, Path akan terus menghubungkan lebih banyak warga Indonesia secara produktif, bermakna dan pribadi”.

Namun, tidak semua warga Indonesia pengguna Path merasa gembira dengan investasi itu. Bahkan berhembus isu beberapa akan berhenti menggunakan dan menutup akunnya di Path karena Bakrie sudah berinvestasi, seperti yang dilontarkan pemilik akun @dprayudi sebagai respon atas tweet Kara Swisher tentang hal ini:”@karaswisher and then many Indonesian delete their Path account because they hate Bakrie.” Kebencian juga diungkapkan pemilik akun @alderina pada Bakrie yang mengatakan via Twitter:”I hate you @path for accepting money from Bakrie”. Sementara penulis dan pelatih serta motivator karir Renee Suhardono mengatakan Path telah melakukan kesalahan besar:”Whoever is running #path is making a blunder by taking Bakrie in >>pic.twitter.com/MsagIKPGhs | @sheggario”. Semua tweet dipublikasikan tanggal 11 Januari 2014.

Dave Morin sendiri belum memberikan tanggapan atas reaksi sebagian pengguna Path di Indonesia yang tidak mendukung investasi tersebut. Entah apa yang dipikirkan oleh Morin sebelum mengajak Bakrie duduk bersama dalam perundingan investasi. Yang pasti, kita masih harus menunggu apakah Path akan menyesali atau bersyukur dengan keputusannya itu setidaknya beberapa waktu mendatang. Apakah citra Bakrie yang kurang mendukung itu akan menyeret Path ke dalam “kubangan lumpur yang terus menghisap”?

%d bloggers like this: