2014, The Most Unbelievably Stunning Year… Bloggingwise

lee kyWordPress recently sent me a blogging performance summary in 2014. It reads:

“To kick off the new year, we’d like to share with you data on your blog’s activity in 2014. Start scrolling!

Crunchy numbers

The Louvre Museum has 8.5 million visitors per year. This blog was viewed about 430,000times in 2014. If it were an exhibit at the Louvre Museum, it would take about 18 days for that many people to see it.

There were 419 pictures uploaded, taking up a total of 163 MB. That’s about a picture per day.

The busiest day of the year was July 13th with 183,181 views. The most popular post that day was Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1).

Posting Patterns

In 2014, there were 429 new posts, growing the total archive of this blog to 1,304 posts.

010203040506070809101112

LONGEST STREAK

11 July – 25 July

BEST DAY

with 103 posts total

Attractions in 2014

These are the posts that got the most views in 2014. You can see all of the year’s most-viewed posts in your Site Stats.

Some of your most popular posts were written before 2014. Your writing has staying power! Consider writing about those topics again.

How did they find you?

The top referring sites in 2014 were:

  1. facebook.com
  2. twitter.com
  3. kompasiana.com
  4. politik.kompasiana.com
  5. indonesiasatu.kompas.com

Where did they come from?

That’s 141 countries in all!
Most visitors came from Indonesia. Singapore & The United States were not far behind.

Who were they?

Your most commented on post in 2014 was Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (3-Habis)

These were your 5 most active commenters:

Perhaps you could follow their blog or send them a thank you note?

See you in 2015

If you like what you saw in this summary and want to know more about how your blog is doing, you can always visit your Site Stats, where our helper-monkeys are working day and night to provide you with pages and pages of detail on how your blog is doing.

Thanks for flying with WordPress.com in 2014. We look forward to serving you again in 2015! Happy New Year!”

Books Lee Kuan Yew Loves to Read

Your favorite books reflect who and what you are. As for Lee Kuan Yew – the architect of Singapore – the list of books he loves to enjoy comprises biographies of interesting people.

“I am not attracted to novels — make-believe, or recreations of what people think life should be,”stated the 91-year-old statesman‎.

He is obviously a man of logic, rather than of imagination. That’s why he wouldn’t be entertained by reading fictitious works.

The 2nd Aftermath

Getting out of the lift, heading home after work.

(Approaching)
“I heard you wrote something about Lee Kuan Yew on your blog.”

“Gosh, can’t believe it. Not again…”

(Cracking a laugh)
“Well you know.. My dad is somewhat curious…”

“Ok.”

“He wants me to look for the quotations of Mr. Lee saying PS is ..weird.”

“Got the point.”

“Can you show me?”

“Here it is.” (Reading from the blog)

“Hmm.”

“Or if you really want to know, I’ll bring the book along with me tomorrow.”

“Oh that would be great. What is it?”

“From the Third World to First.”

“See ya…”

(Parting)

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (3-Habis)

Lee Kuan Yew dalam memoarnya mendeskripsikan karakter Prabowo Subianto, yang kita kenal sebagai salah satu calon presiden 2014-2019. (Image credit: Wikimedia Commons)
Lee Kuan Yew dalam memoarnya mendeskripsikan karakter Prabowo Subianto, orang yang kita kenal sebagai salah satu calon presiden RI periode 2014-2019. (Image credit: Wikimedia Commons)

Baca sebelumnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (2)

Masih di halaman 316, Lee mengutip perkataan Prabowo bahwa Sofyan Wanandi berkata pada Prabowo dan sejumlah jenderal lainnya bahwa Suharto yang saat itu masih berkuasa harus turun tahta. Prabowo berusaha meyakinkan Lee bahwa Sofyan benar-benar mengatakan hal itu dan menurut Prabowo pernyataan tersebut bisa membahayakan kelompok Katholik yang berdarah Tionghoa di tanah air. Mendengar ‘agitasi’ sang jenderal, Perdana Menteri Goh Chok Tong dan Lee menjadi bingung. Begini Lee menggambarkan kebingungannya:

Both the Prime Minister and I puzzled over why he should want to tell us this about Sofyan when it was patently unlikely that any Indonesian would tell the president’s son-in-law that the president should be forced to step down. We wondered if he was preparing us for something that would happen soon to Sofyan and other Chinese Indonesian businessmen.” (From Third World to First, p. 317)

Tentu saja ini kurang sama sekali tidak masuk akal. Mengapa Sofyan yang jelas-jelas bukan orang bodoh dan merupakan bagian dari minoritas Tionghoa Katholik mengatakan ancaman kudeta itu pada seorang jenderal yang juga berstatus menantu presiden yang terang-terang masih berkuasa? Bukankah itu seperti upaya bunuh diri? Mengapa Sofyan yang sudah berada dalam bahaya malah mengeluarkan pernyataan semacam itu? Tidak ada yang bisa mengklarifikasi pernyataan Lee ini, kecuali Goh atau Prabowo mau buka mulut juga tentang isi percakapan mereka itu, yang kemungkinan besar tidak akan terjadi. Di sini, kita bisa berspekulasi: siapa yang berbohong dan apa motifnya? Di samping semua hal ganjil tadi, satu hal yang menggelikan adalah lupanya Prabowo bahwa Goh dan Lee juga orang Tionghoa! Lee memang bukan pemeluk Katholik. Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Lee mengakui dirinya sebagai orang agnostik (seseorang yang yakin bahwa tidak ada yang bisa diketahui mengenai keberadaan atau sifat Tuhan atau apapun selain fenomena material; seseorang yang mengklaim dirinya bukan pemeluk agama tertentu tetapi juga tidak menyatakan ketiadaan Tuhan). Namun, tetap saja ada persamaan antara Lee dan Sofyan. Jelas, Prabowo memiliki agenda tersembunyi. Agenda yang hanya Tuhan dan ia sendiri ketahui. Silakan Anda baca penjelasan Lee selanjutnya dan simpulkan sendiri.

Lee melanjutkan narasinya dengan membeberkan peristiwa tanggal 9 Mei 1998, saat Admiral William Owens (seorang pensiunanwakil pimpinan US Joint Chiefs of Staff ) menemui Lee di Singapura. Owens rupanya juga mengendus keganjilan yang juga dirasakan Lee dalam diri Prabowo.  Pada Lee, Owens mengaku bertemu Prabowo  di Jakarta pada tanggal 8 Mei 1998. Selama makan siang, keduanya didampingi oleh dua ajudan muda bawahan Prabowo (keduanya letnan kolonel, satu dokter). Owens mendengar sendiri Prabowo mengklaim dengan penuh keyakinan bahwa sang “pria tua mungkin tidak akan bertahan hingga 9 bulan, mungkin ia akan meninggal dunia”. Pria tua yang ia maksudkan di sini kemungkinan besar adalah ayah mertuanya sekaligus ayah kandung istrinya Titiek, Presiden Suharto yang masih berkuasa saat itu.

Lee melanjutkan penuturan Owens yang melihat aura kebahagiaan dalam ekspresi dan air muka Prabowo yang saat itu baru saja diangkat menjadi jenderal bintang 3 dan mengepalai Kostrad. Lee menulis:

In a happy mood, celebrating his promotion to three stars and head of Kostrad, he joked about talk going around that he himself might attempt a coup. Owens said that although Prabowo had known him for two years, he was nonetheless a foreigner. I said Prabowo had a reckless streak in him.” (From Third World to First, p. 317)

Kita bisa garis bawahi kata “a coup” yang dilontarkan Lee. Apakah lelucon kudeta itu semacam isyarat dari alam bawah sadar Prabowo yang tiba-tiba muncul keluar tak terkendali dari mulutnya? Sekali lagi, Lee menegaskan karakter Prabowo. Sebelumnya Lee tahu Suharto berpikir bahwa Prabowo itu sembrono: “He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.” (From Third World to First, p.316). Lee seolah mengamini Suharto dengan menuliskan:”I said Prabowo had a reckless streak in him.” (p.317). Menurut Google Dictionary, “reckless” dapat diterjemahkan sebagai “tanpa berpikir atau peduli atau mempertimbangkan konsekuensi sebuah tindakan” (without thinking or caring about the consequences of an action).

Kemudian meledaklah kerusuhan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga keturunan di tanah air terutama Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 12 Mei 1998. Enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembus peluru pasukan anti huru hara. Semua itu memicu kekacauan yang meluas. Penjarahan pusat-pusat perniagaan ibukota dan permukiman warga keturunan Tionghoa ditambah lagi dengan pemerkosaan dan pembunuhan keji terhadap para wanita keturunan Tionghoa. Lee berkomentar:

“It was general knowledge that the rioting was engineered by Prabowo’s men. He wanted to show up Wiranto as incompetent, so that on Suharto’s return from Cairo, he (Prabowo) would be made chief of armed forces. By the time he returned from Cairo on 15 May, Suharto’s position was lost.” (From Third World to First, p. 317)

Menurut Lee, sudah bukan rahasia lagi bahwa kerusuhan Mei 1998 direkayasa oleh orang-orang Prabowo. Prabowo ingin menunjukkan pada Suharto bahwa pesaingnya itu tak seunggul yang dikira, ingin membuktikan bahwa Wiranto sebagai pucuk pimpinan TNI lengah dan tak berdaya menghadapi kekacauan bernuansa SARA (suku, agama, ras) tersebut. Misi Prabowo rupanya, kata Lee, adalah menjadi pimpinan Angkatan Bersenjata RI. Sayangnya, ayah mertuanya saat itu malah jatuh dari kursi kekuasaannya yang sudah dikuasai selama 30 tahun lebih.

Atas semua kejadian tragis yang menimpa pemimpin negeri tetangganya ini, Lee menjabarkan keprihatinannya:

It was an immense personal tragedy for a leader who had turned an impoverished Indonesia of 1965 into an emerging tiger economy, educated his people and built the infrastructure for Indonesia’s continued development. At this crucial moment, the man who had been so good at judging and choosing his aides had chosen the wrong men for key positions. His mistakes proved disastrous for him and his country.” ( From Third World to First, p. 318)

Dari penjelasan Lee ini, jika memang benar, Prabowo bisa disimpulkan telah berkontribusi pada jatuhnya sang ayah mertua saat itu karena kerakusannya pada kekuasaan. Dengan berdasarkan pada asumsi tersebut, tampaknya keluarga Cendana sudah memaafkan tindakan Prabowo karena mereka menyatakan dukungan bulat padanya di Pilpres 2014 ini. (sumber: Inilah.com). Cukup masuk akal jika demikian adanya, karena bila ia menjabat sebagai presiden RI periode 2014-2019, Prabowo bisa menjadi pembuka jalan bagi dinasti Cendana untuk kembali berkuasa.

 

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (2)

Baca sebelumnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1)

‎Di halaman 316 memoarnya, Lee Kuan Yew menyinggung tentang kepribadian Prabowo di mata Suharto yang dianggap “cerdas dan ambisius tetapi impulsif dan gegabah.” Berikut kutipan dari halaman tersebut:

“The most grievous error of all was his balancing act in appointing General Wiranto as chief of the armed forces while promoting his son-in-law Prabowo Subianto to be liutenant-general and chief of Kostrad (the Strategic Forces). He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.” (From Third World to First, p.316)

Seperti kita ketahui bersama, Wiranto juga mengajukan diri sebagai calon presiden tetapi sayangnya gagal di tengah jalan. Akhirnya dengan mengingat sejarah permusuhannya dengan Prabowo tersebut, partainya Hanura ‎merapat ke kubu lawan Prabowo. Anda dapat baca di situs resmi Wiranto.com, dukungan pada Jokowi dan Jusuf Kalla tampak sangat kental. Langkah Wiranto terbilang cukup jitu dan membuat partainya lebih “aman” meski pergulatan dengan pihak Prabowo-Hatta akan jauh lebih alot tetapi setidaknya ia bersama mendukung Jokowi yang dielu-elukan para investor.

Di sini, Lee seakan tahu bahwa Suharto membuat kesalahan besar dengan mengangkat keduanya bersamaan di posisi-posisi puncak militer negeri ini. Akan tetapi Suharto toh tetap melakukannya. Apakah itu karena desakan sang anak Titiek, atau karena status Prabowo sebagai anak menantu, atau karena Suharto masih berharap Prabowo akan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak? Entahlah, tetapi penggunaan kata “grievous” mengacu pada sesuatu yang “berakibat serius dan menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang hebat” (Longman Dictionary of Contemporary English, hal 172). Penekanannya tergolong berat karena disandingkan dengan kata “error”. Atau Suharto sedang bertindak gegabah juga saat mengangkat Prabowo? Bisa jadi.

Dalam alinea selanjutnya, Lee menguraikan bahwa dirinya bertemu Prabowo dalam dua kesempatan makan siang di ibukota. Yang pertama pada tahun 1996 dan kedua 1997, ‎sebelum kejatuhan Suharto Mei 1998. Kali ini Lee tidak segan mengutarakan opininya mengenai kepribadian Prabowo menurut pengamatannya. “He was quick but inappropriate in his outspokenness,”tulis Lee di halaman 316. Kata “quick” menurut Longman Dictionary of Contemporary English bisa membawa banyak makna jika kita membicarakan perangai seseorang “cekatan” (moving or doing something fast) atau “pandai” karena mampu belajar dan memahami dengan cepat (able to learn and understand things fast). Yang ketiga, “quick” juga bisa dimaknai “cepat naik darah”, misalnya “have a quick temper” yang artinya “to get angry very easily”. Entah yang mana makna yang hendak disampaikan Lee, tetapi Anda bisa berspekulasi secara logis dengan mengamati tindak tanduk dan cara bicara Prabowo selama ini tampil di depan publik.

Lee Kuan Yew menangkap sinyal aneh dari Prabowo yang menemuinya pada tanggal 7 Februari 1998, kurang lebih tiga bulan sebelum Mei berdarah itu. Prabowo menemui Lee dan Perdana Menteri Singapura saat itu Goh Chok Tong secara terpisah di Singapura. Yang disampaikan Prabowo, kata Lee, adalah sebuah pesan yang “aneh”, isinya adalah peringatan singkat mengenai risiko yang dihadapi kaum keturunan Tionghoa di bumi nusantara. Prabowo mengatakan bahwa warga keturunan itu menghadapi risiko karena jika ada hal tak diinginkan terjadi, “kerusuhan” tulis Lee, mereka akan terluka sebagai kaum minoritas.

Tak ketinggalan jendral baret merah itu menyebutkan pengusaha Sofyan Wanandi (ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia 2008- 2013) dalam percakapannya. Sofyan yang keturunan Tionghoa (meski secara de facto lahir di Sawahlunto‎, Sumbar) itu dianggapnya benar-benar berada dalam risiko tinggi karena statusnya sebagai “minoritas ganda”, seorang dengan darah keturunan dan berkeyakinan Katholik pula! Apakah juga karena Sofyan adalah sosok yang kritis dan vokal terhadap status quo? Sebagaimana diketahui, rekam jejak Sofyan adalah mantan aktivis 1966 dengan pengalaman segudang di bidang ekonomi, birokrasi dan politik (sumber: Wikipedia), yang membuatnya menjadi seorang minoritas dengan keberanian yang luar biasa untuk menyuarakan aspirasi diri dan kaumnya.

(Selanjutnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew-3)

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1)

20140711-220608-79568283.jpg

Siapa tak kenal negarawan satu ini? Arsitek pembangunan Singapura tersebut tampak masih sehat untuk ukuran orang seusianya. Pikirannya masih tajam, jauh dari kesan pikun. Ucapannya lancar tak peduli usianya sudah 90 tahun.

Saya bukan orang Singapura jadi saya hanya mengenalnya lewat buku dan cerita orang. Ir. Ciputra, pendiri perusahaan tempat saya bekerja, pernah dalam suatu kesempatan menceritakan kekagumannya terhadap Lee yang katanya sangat brilian dalam membangun negeri pulau sekecil Temasek menjadi Singapura yang super makmur. Beliau selalu menjadikan Lee sebagai contoh seorang politisi dan birokrat yang memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi. Terakhir kali sepengetahuan saya Ciputra hendak menemui Lee saat bertandang ke Singapura untuk menerima penghargaan dari stasiun TV Channel News Asia di Maret tahun 2013, tetapi sayang Lee sedang didera sakit lutut. Kata Ciputra yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-83 24 Agustus nanti, “Jangan terlalu banyak olahraga naik sepeda statis.” Ia menyarankan renang saja yang lebih aman untuk persendian karena minim hentakan.

Sebagai negarawan top yang bertetangga dengan kita, Lee sering bertemu dengan sosok-sosok penting dalam percaturan politik Indonesia. Salah satunya yang ia turut bahas dalam memoarnya “From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000)” adalah calon presiden kita sekarang yang bernomor urut 1, Prabowo Subianto.

Dalam memoarnya yang tebal itu, Lee mendedikasikan satu bab berjudul “Indonesia: From Foe to Friend” dengan 3 halaman yang menyebut Prabowo. Pertama di halaman 312, Lee menyebut Prabowo sebagai “komandan Kopassus”. Tak banyak cerita di sini karena Lee lebih menyorot Titiek, mantan istri Prabowo, yang menemui Lee pada tanggal 9 Januari 1998 dengan misi mendapatkan bantuan dari Singapura dalam upaya mengumpulkan dana melalui surat utang atau bond dalam mata uang dollar AS di Singapura. Lee menolak karena meski ia mau melakukannya pun, langkah itu tak akan efektif selamatkan rupiah yang jeblok. Terdesak, Titiek berdalih ada isu dari Singapura yang melemahkan rupiah tahun 1998 dan menuduh bankir-bankir Singapura mendorong orang Indonesia menyimpan uang di negeri seberang. Lee menyarankan Titiek dan Suharto berkonsultasi dengan Paul Volcker, mantan pimpinan Bank Sentral AS (Federal Reserve) tetapi ujungnya, nasihatnya tak digubris. Volcker diundang ke Jakarta untuk bertemu Suharto tetapi tak diangkat sebagai penasihat.

Barulah di halaman 316 dan 317, Lee menuliskan kesannya yang lebih mendalam tentang Prabowo…

(Bersambung: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew -2)

Indonesia Needs No Politicians But More Statesmen

English: Senior Minister Lee Kuan Yew of Singa...
Senior Minister Lee Kuan Yew of Singapore, being escorted by United States Secretary of Defense Donald H. Rumsfeld through an honour cordon and into the Pentagon. (Photo credit: Wikipedia)

Crap! It’s like soap operas are not enough. Indonesia news these days and one year ahead has been and will be a disgusting pool of information on morally rotten politicians and may-God-burn-them-in-the-bowel-of-hell type of corrupt public officials and their not so surprisingly disgraceful deeds.

I don’t CARE. Seriously, I do NOT.

While a flock of journalists around me chattered about the nausea-inducing politicians, I abandoned them for a read on a real statesman from the neighboring island state, Singapore. Lee Kuan Yew as presented in “Hard Truths to Keep Singapore Going” has stated so many mind-blowing pieces of truths, hard cold facts to swallow. An inspiring book everyone has to read, I suppose, especially if you’re not a narrow-minded person.

So what does the book have to do with us Indonesians? It – to some extent – teaches me that so long as we have too many politicians in Indonesia, this nation will find it hard to move forward and make progress rapidly catching up the other more developed and more prosperous ones.

But wait, what’s a statesman? And how are these statesmen different from politicians? They look and sound similar. They’re housed in the same building most of the time. They work and adopt more or less similar way of life. Close with the powerful authority and hence influential enough to the rest of the nation.

A statesman, as I look up in my e-dictionary, can be roughly defined as “a man who is a respected leader in national or international affairs”. A statesmen should be astute and sagacious, looking and behaving like a sage or hermit full of wisdom in his nearly bald head.

A politician, however, is merely a person actively engaged and involved in party politics. Even more evil definition exists, a politician may be a schemer who tries to gain advantage in an organization in sly or underhanded ways. I’m not surprised though.

The two are closely linked – even intermingled with each other – I would say, but the huge gap between a politician and a statesman lies in the profound and visionary understanding of managing a nation.

In my own understanding of statesmen, I can safely say that Soekarno and Hatta are two of them. Soeharto? He is a personality with too many facets, and thus require more complicated judgment. If I really have to decide though, Soeharto is half way there but not quite impressive.

Lee Kuan Yew is very much different. He is a dictator perhaps to some people, just like Soeharto. In terms of visions, he has got what it takes to be a statesman. Maybe he gets too rich compared to the average people of Singapore but if that means significant real improvement in the nation’s squality of life, why not? And if he manages and runs the nation like a professional and get paid after that like a CEO and turning the richest and the one in the company, why not? Because he deserves that and above all, his achievements are there to see. Lee’s policies are criticized badly here and there by his own people but he has strong reasons for any of the steps taken. There are consequences to follow but it seems he has gotten everything taken care of.

Once again, it is of course unfair on so many levels to compare these two entities (Indonesia and Singaporean leadership). The two countries are different and unique.

 

%d bloggers like this: