Menyoal Nasionalisme Digital Kita yang Kurang Kental

Mungkin bagi sebagian orang meninggalkan dua jejaring sosial paling populer di jagad maya terlalu musykil. Jujur, saya baru saja beberapa hari lalu menutup akun Facebook dan Twitter saya. Tentu ini semua ada hubungannya dengan skandal penyalahgunaan data oleh Facebook yang membuat geger dunia.

Saya sendiri memang sudah mulai tidak meminati Facebook dan Twitter. Entah itu kebosanan atau sekadar ingin berbeda dari selera arus utama (mainstream).

Namun, saya memiliki alasan utama sendiri untuk meninggalkan jejaring sosial tadi. Karena saya ingin pengambilan keputusan saya dalam berdemokrasi nanti lebih murni karena apa yang saya yakini. Tidak goyah oleh hoax yang bertebaran di media sosial.

Dan yang terpenting, saya bisa menghemat waktu dan tenaga saya untuk mengerjakan sesuatu yang jauh lebih positif, seperti berjejaring soal profesi via LinkedIn atau berbagi informasi soal yoga dan kesehatan yang saya minati via Instagram. Di kedua jejaring sosial ini saya lebih pilih karena relatif lebih netral dalam hal berita palsu dan politik.

Memang masih ada yang mencibir,”Lha kan kamu masih pakai Instagram dan WhatsApp. Itu juga punya Facebook kan?” Tetapi alasan yang bisa saya berikan kemudian ialah saya setidaknya sudah berusaha memulai ketergantungan saya pada produk digital bangsa lain. Saya memiliki alternatif lain yang bisa lebih saya percayai karena dihasilkan oleh bangsa saya sendiri.

Ini juga menjadi awal untuk menegakkan kedaulatan kita sendiri. Selama ini Indonesia dan rakyatnya banyak dianggap sebagai pasar yang empuk. Dalam banyak kesempatan, orang-orang menyebutkan dengan bangga bahwa penetrasi internet di Indonesia terus naik dan pengguna media sosial seperti Facebook dan Twitter makin banyak.

Setelah skandal penyalahgunaan data oleh Facebook beberapa waktu lalu, harusnya kita makin sadar bahwa fakta itu bukan sebuah kebanggaan. Kita sebagai bangsa mesti segera sadar bahwa kita sudah ditelanjangi habis-habisan dengan menggunakan ‘pelet’ bernama media sosial. Kita ungkapkan data pribadi kita begitu saja di media sosial, menyebarkannya dan ini membuat kita makin mudah dikendalikan oleh sebagian pihak yang tidak bertanggung jawab.

Bayangkan bangsa sebesar dan semaju AS dan Inggris saja bisa digiring ke plot tertentu demi keuntungan pihak-pihak yang haus kekuasaan, apalagi kita yang masih banyak belajar dalam banyak hal seperti ini.

Namun, itu semua bisa kita ubah.

Kita mesti memiliki niat yang kuat untuk menjadi lebih mandiri di tengah perkembangan teknologi digital sekarang. Misalnya, untuk menggantikan Facebook dan Twitter, sebenarnya kita juga punya jejaring sosial produk anak bangsa.

Satu yang saya sudah pernah pakai empat tahun lalu saat diperkenalkan secara luas ke publik ialah Sebangsa.com. Menurut pengetahuan saya, aplikasi jejaring sosial Sebangsa ini lumayan bagus dan sudah bisa diunduh di dua platform ponsel cerdas masa kini, yakni Android dan iOS. Sementara itu, aplikasi jejarig sosial lainnya baru menyediakan versi Androidnya.

Lalu saya terpikir untuk mulai beralih menggunakan layanan email/ surel saya dengan produk dalam negeri seperti MerahPutih.id. Dulu saat zaman kuliah saya malah pakai Plaza.com, yang entah sekarang masih ada atau tidak. Baru dalam kurun 9 tahun terakhir saya sangat aktif memakai Gmail dan Outlook, yang notabene produk buatan Google dan Microsoft (baca: AS).

Saya memang masih mustahil meninggalkan GMail tetapi saya sudah mulai memakai email MerahPutih.id sebagai alat korespondensi saya sehari-hari. Seorang teman ‘bule’ saya bahkan terkagum dengan nama domain email saya yang menurutnya unik itu. “Wow, merahputih!” serunya saat saya katakan ia bisa menulis email ke alamat email baru ini daripada ke Gmail saya yang lama.

Tiba-tiba saya kembali teringat dengan kebijakan pemerintah Tiongkok untuk mencekal Facebook dan Twitter di negerinya. Mereka pasti sudah memikirkan efek buruknya masak-masak. Mereka sadar bangsa mereka bisa dieksploitasi bangsa lain, dan mereka tidak mau itu terjadi. Ini juga didukung dengan pemerintahnya yang secara tegas melarang demi kepentingan bersama.

Saya juga teringat dengan tetangga kos saya yang warga asli Korsel. Saban ponselnya rusak, ia pasti membeli Samsung atau LG. Seberapapun murah dan bagusnya merek ponsel lain, dua merek itu menjadi pilihannya karena itu merek-merek kepunyaan bangsanya sendiri. Ia tahu perkembangan ekonomi Korsel banyak bergantung pada performa bisnis kedua chaebol pemilik perusahaan raksasa tadi.

Jadi, walaupun kecil dan hampir terkesan tidak berarti, ia sudah merasa berkontribusi.

Saya tentu tidak menyarankan kita harus sampai seekstrem itu dalam menyikapi perkembangan dunia digital saat ini. Tetapi sudah saatnya kita sebagai bangsa bertanya pada diri sendiri:”Apakah kita akan selalu menjadi bangsa yang memakai produk bangsa lain?

Atau kita mulai mempercayai bangsa kita sendiri dengan menggunakan produk-produk yang saudara-saudara sebangsa kita buat dengan susah payah?” (*/juga ditayangkan di Kompasiana.com)

She Brings LinkedIn to the Whole New Level

wika

Haphazardly enough, this lady singer added me on LinkedIn. We all know what LinkedIn is. We know what kind of people typically flock on this social media site. It’s way different than Facebook which has already been inundated with baby boomers like your fathers and mothers, Twitter which is known to be addictive to youngsters with lack of long form writing ability, Instagram which really is full of valueless selfies, and so forth.

To tell you the truth, she is the first dangdut singer ever adding me to her network. Is it herself or her manager doing it all? I suppose the later.

After all, my point is people now tend to use anything as their marketing tools.

ANYTHING.

They don’t care if a social media site suits their needs, personality, audiences or not but the most important thing is they’re on it first. If it works, they’re lucky. If it doesn’t, they pretty much have nothing to lose.

Tampilan Baru Hootsuite Lebih Segar di Mata

Dasbor platform pengelola akun jejaring sosial Hootsuite versi web mendapatkan perombakan yang lumayan signifikan kali ini. Perbedaan yang paling menyolok adalah ukuran font yang makin besar dan spasi antara satu tweet dan yang lain yang jauh lebih lapang. Efek dari semua itu ialah lebih lapang dan segar bagi mata.

In the Era of Self-Appointed CEOs

Being a CEO or leader has never been this easy like now. You can easily claim you’re a successful person as you wish, merely because you claim yourself to be so on the social media, whether it be your LinkedIn profile, your Instagram or Twitter bio, even on your About.me page.

SILLY!

I’ve seen lots of people like this. They’re great except that they overestimate themselves. I tell you I’m not that good at tolerating this self-bragging attitude and behaviors. Hence, I’m venting here, on my own blog, which is legal but still I need to watch my words so as not to overly offend those who feel they’re part of the group. Here’s my disclaimer: only A LIMITED NUMBER of startup CEOs, NOT ALL OF THEM.

My story went like this. I met with a guy, a future entrepreneur, who claimed to be a CEO of an online business -which is nothing than a parked domain to me- but still works as an employee of an established corporation. And he claimed he is truly experienced in this field, in that sector, in this area, in that niche. Possibly he’s right in some statements, the rest of them? There’s a huge question mark hanging there. He has done A, been in B, as he claimed on the bio page. Also, he poured it all on his LinkedIn profile, crediting also some hard works of his colleagues. It’s so sickening that you feel this person must learn a lesson:appreaciating someone else’s hard work as well.

So much, I don’t want to be such a person. Awful and obnoxious on so many levels. Desperately seeking for attention of head hunters or potential investors or … ? Maybe that’s the way he is.

Too long a preamble, I suppose.

What I’m trying to say is this:Self-deprecating attitude and behaviors are very much welcome, more than the self-bragging ones. No matter how shiny the facade of a building may get, it won’t impress people much when they get into the building only to find crappy interior design and unclassy taste or savage dwellers inside.

Never brag too much. It won’t work anyway.

LinkedIn Buktikan Blogging Tidak Akan Pernah Mati

‎Saya benci judul yang terlalu bombastis, tetapi untuk kali ini saja, saya pikir saya HARUS. Kalau diedit menjadi lebih lunak, judul di atas akan berbunyi:”LinkedIn Buktikan Blogging Masih Perlu”. Seperti itulah.

Hari ini saya resmi menulis blog di sini selama 4 tahun persis. Sebuah pencapaian pribadi yang cukup membanggakan, bagi diri sendiri setidaknya. Kalau orang aktif selama bertahun-tahun di Facebook, Twitter atau Google Plus mungkin terdengar hebat. Tetapi yang lebih hebat lagi adalah menulis blog selama bertahun-tahun tanpa lelah mengenai tema tertentu. Saya bukan sedang membanggakan diri dan blog ini. Sama sekali tidak. Blog ini bukan blog profesional. Lihat saja domainnya. Temanya saja gratis. Hosting cuma-cuma. Semua gratis. Tema-tema tulisannya tidak menentu. Kadang yoga, kadang social media, kadang jurnalisme, kadang pepesan kosong, sesekali politik, fiksi, dan sebagainya. Saya kadang cuma mengunggah gambar tanpa teks atau cuma sebuah video dengan penjelasan singkat. Benar-benar tanpa perencanaan. Semuanya spontan saja.

Tetapi awal mula bersentuhan dengan dunia blogging adalah tahun 2009. Tahun itu menandai lebih intensnya saya menekuni blogging. Waktu luang yang melimpah, sebuah laptop dan modem dial-up Smart yang berkecepatan siput berhasil membuat saya kecanduan blogging. ‎Dari bangun pagi hingga dini hari, sering saya terpaku di kursi untuk menulis. Sembari bermain jejaring sosial Twitter dan Facebook, saya pastikan blog saya terisi tulisan baru yang kemudian siap saya promosikan dengan blogwalking (membaca, meninggalkan komentar dan berdikusi dengan blogger lain).

Hari ini pula saya diundang oleh LinkedIn untuk mempublikasikan konten saya di sana. Rupanya, usut punya usut LinkedIn sudah mulai memfasilitasi aktivitas blogging juga sejak beberapa waktu lalu. Mereka tampak bertekad memupuk tingkat kekayaan dan keragaman konten di sini. Kalau bisa saya bandingkan, fitur ini mirip notes di Facebook secara sekilas. Menulis blog di LinkedIn lebih mudah sehingga cocok bagi siapa saja yang merasa gagap teknologi.

Apa yang dilakukan LinkedIn ini bagi saya menjadi pembuktian bahwa blog tidak akan pernah usang. Inilah ‘fitrah’ para pengguna Internet, yaitu membangun interaksi dan tidak ada yang lebih mengasyikkan daripada berbincang dengan teman akrab di rumah kita sendiri. Rumah itu adalah blog. Anda bisa membangun koneksi di mana-mana, berkenalan dengan orang baru di berbagai tempat di seluruh penjuru dunia tetapi mereka yang istimewa pastilah menyempatkan diri ke rumah Anda, blog Anda.

IMG_3469.PNG

BBM Mulai ‘Umbar’ PIN Anda ke Pengguna BBM Lain?

There’s no free lunch. Menjadi seorang pengguna layanan jejaring sosial saat ini memang butuh kesabaran. Mengapa? Karena gratis dan praktisnya jejaring sosial harus ditebus dengan privasi yang terusik tanpa peringatan.

Seperti yang terjadi pada saya beberapa hari lalu.

Tiba-tiba PIN BBM saya mendapatkan notifikasi baru yang menunjukkan seseorang sudah menambahkan saya sebagai temannya. Tunggu, siapa orang ini? Saya tidak merasa mengenalnya. Dan memang ia juga tidak mengenal saya.

Usut punya usut, si pengguna BBM di iPhone itu baru mendapatkan pembaruan aplikasi yang menawarkan pertemanan baru dengan kontak-kontak LinkedIn miliknya yang terintegrasi dengan daftar kontak smartphone berplatform iOS itu. Dan saya ada dalam daftar teman di LinkedIn orang tersebut. Saya tidak bisa memastikan kebenarannya karena saya kebetulan cuma menggunakan BlackBerry dan Android.

Terlepas dari benar tidaknya keterangan itu, saya masih bertanya bagaimana bisa LinkedIn dan BBM bekerja sama? Dan mengapa BBM dengan mudah mengumbar PIN saya ke orang lain? Tetapi kemudian setelah dipikir lagi, itu adalah salah saya sendiri yang menjadikan orang itu sebagai teman saya di LinkedIn. Untungnya, orang yang menambahkan saya menjadi temannya itu adalah orang yang baik-baik, tidak macam-macam, apalagi berniat negatif meski awalnya saya menaruh curiga. Benarkah karena fitur terbaru aplikasi BBM for iOS atau apa?

Bagaimana dengan Anda? Apakah mengalami hal serupa?

3 Cara Bangun Personal Brand di Dunia Digital

Membangun sebuah ‘personal brand’ lain dari ‘corporate brand’. Personal brand mengacu pada pribadi seseorang. Apa yang dijual dalam personal brand bukanlah produk atau jasa seperti perusahaan komersial tetapi skills/ ketrampilan, pengalaman, keahlian, pemikiran dan sebagainya.

Pertama-tama, mungkin kita memiliki pertanyaan: “Mengapa seseorang perlu membangun personal brand dirinya sendiri?” Dalam dunia yang tingkat kompetisinya makin ketat ini, kita harus makin cerdas dan taktis. Saat dunia makin bergeser ke tren online, kita juga harus memanfaatkan fenomena ini dengan mulai membangun personal brand tidak hanya di alam offline, tetapi juga online. Saya sendiri tidak menyarankan sepenuhnya untuk meninggalkan salah satu di antaranya karena keduanya (online dan offline) saling melengkapi.  Namun, biasanya reputasi online kita akan membuka peluang lebih lebar dari jaringan offline kita karena jangkauannya yang luas sekali. Meski begitu, tetap saja reputasi online harus didukung dengan kemampuan kita di dunia nyata/ offline.

cropped-sss1.pngBila Anda seorang yang merasa sudah mapan dalam karir atau sudah memiliki pekerjaan yang berprospek cerah pun masih disarankan untuk membangun personal brand. Mengapa? Sederhananya ini menjadi semacam tali pengaman kedua saat kita suatu saat harus meninggalkan perusahaan atau institusi tempat bekerja karena berbagai alasan. Bisa saja kita terpaksa resign karena sudah merasa buntu suatu saat nanti, atau merasa bosan atau ingin mencoba karir baru, atau dengan cara yang pahit, misalnya karena perusahaan bangkrut sehingga Anda terpaksa dirumahkan, atau karena tiba-tiba divisi Anda secara sepihak dibubarkan perusahaan. Banyak faktor yang bisa membuat semua itu terjadi. Dan saat bencana itu muncul, Anda bisa memanfaatkan personal branding yang sudah Anda bangun sebagai tali penyelamat hidup kedua agar Anda tidak terjun bebas ke dasar jurang. Atau bisa juga suatu saat Anda ingi membangun bisnis sendiri sebagai entrepreneur setelah puas menimba pengalaman dan menabung modal dari bekerja sebagai pegawai, personal brand akan sangat membantu untuk itu.

Untuk memiliki personal brand yang kokoh, bangunlah pondasinya dari sekarang. Langkahnya adapat kita bagi menjadi 3:

  1. Tentukan brand
  2. Buat website/ blog
  3. Gunakan jejaring

Langkah pertama ialah tentukan brand kita. Dalam langkah awal ini, pikirkan 4 poin utama: tujuan, audiens, Unique Selling Point (selanjutnya disingkat UPS), dan identitas visual. Simpelnya kita harus mengetahui arah gerak kita, hal yang mau kita capai. Bisa jadi tujuannya sangat ambisius dan jangka panjang seperti “menjadi seorang desainer web paling terkemuka di dunia” atau yang lebih pragmatis seperti “mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional bonafide”. Maka berdasarkan tujuan itu, kita bisa selaraskan dengan brand dan blog/ situs yang akan dibangun.

Tentang UPS, kita harus menemukan sesuatu (akan lebih baik jika lebih dari satu) yang membedakan diri kita dari orang lain di luar sana yang juga memiliki tujuan yang sama atau menekuni bidang yang sama. Jika ketiga poin di atas sudah siap, saatnya untuk membentuk sebuah jati diri visual yang dituangkan dalam bentuk pilihan warna khas untuk blog/ situs, logo, kartu nama. Tak banyak yang memikirkan keselarasan antara kesemua hal ini, padahal jika dipikirkan dengan masak, kesan profesional dan elegan akan lebih terpancar.

Langkah kedua ialah membuat situs web atau blog pribadi. Beberapa poin yang perlu diperhatikan ialah halaman depan (homepage), portfolio/ studi kasus, halaman ‘about’, testimonial, dan isi blog. Homepage seolah adalah serambi/ beranda rumah yang memberi kesan tertentu bagi pengunjung. Di halaman depan ini disarankan untuk memajang foto diri kita (dengan wajah yang jelas) dan akan lebih baik jika foto itu juga diseragamkan untuk dipasang di jejaring sosial yang kita punya untuk tujuan personal branding. Jadi, foto yang kita pajang di homepage blog lebih baik sama dengan avatar kita di Twitter, profile picture di Facebook, di browser, profil LinkedIn dan sebagainya. Ini bukannya tanpa sebab, tetapi karena foto yang sama akan menciptakan konsistensi brand yang memudahkan kita untuk dikenali orang lain yang ingin menghubungi kita.

Navigasi situs/ blog juga jangan sembarangan. Jika Anda seorang profesional yang sudah bekerja untuk sejumlah klien atau korporasi, mungkin akan lebih meyakinkan untuk mendapatkan sebuah testimonial dari pihak pemberi kerja yang terdahulu (previous employers/ clients). Ini menjadi semacam referensi bagi orang untuk lebih mempercayai kredibilitas kita.  Di blog, tunjukkan juga bahwa konten blog diperbarui secara rutin. Orang akan lebih meyakini eksistensi personal brand jika blog yang bersangkutan diperbarui secara berkala yang ditandai dengan munculnya tulisan, gambar, atau video yang baru dan relevan dengan isu terkini. Jika sibuk sekali, cobalah memperbarui blog itu di akhir minggu. Jika ada banyak waktu, perbaruilah 2-3 kali seminggu. Makin sering , makin bagus.

Setelah selesai menikmati konten blog, usahakan pula agar si pengunjung tidak begitu saja meninggalkan blog Anda tanpa mengikuti Anda di jejaring sosial (pajang ajakan untuk menjadi follower atau fan/ teman di Twitter dan Facebook), atau berlangganan konten blog terbaru melalui email. Dengan begitu, peluang Anda untuk diingat olehnya lebih tinggi.

Untuk halaman “portfolio”, kita bisa memajang semua hasil karya yang sudah ada hingga saat itu. Jika Anda seorang web designer, pajanglah screenshot situs-situs yang sudah Anda buat dan disukai klien.

Sementara untuk halaman “studi kasus”, kita bisa tunjukkan alur kerja kita saat membuat sebuah karya atau menyelesaikan proyek dari klien. Misalnya, jika Anda seorang praktisi periklanan, Anda bisa tunjukkan bagaimana Anda membangun sebuah brand milik klien. Ungkapkan risetnya, konsep yang diterapkan (sepanjang memungkinkan, kecuali klien mengharuskan Anda menandatangani NDA atau perjanjian menjaga kerahasiaan).

Di halaman “About” (Tentang), jelaskan UPS kita sebagai individu. Berikan penjelasan secara umum dalam bahasa yang segar dan lugas (tak perlu terlalu kaku dan dingin) mengenai perjalanan karir, bidang-bidang keahlian kita, pengalaman, dan sebagainya. Jika Anda seorang pekerja lepas (freelancer) misalnya, kehadiran blog dengan halaman “About” yang informatif akan membantu sekali dalam mendapatkan tawaran pekerjaan berikutnya.

Seperti sudah banyak kita ketahui, dalam halaman “Testimonials” kita akan jumpai kesaksian para klien terdahulu mengenai kualitas pekerjaan kita. Kesaksian yang ada harus pula disertai dengan foto saksi itu. Akan lebih meyakinkan pula jika Anda tambahkan hyperlink (teks dengan tautan/ link di dalamnya) dalam testimoni itu yang bisa diklik untuk menuju ke situs/ blog pemberi testimoni  yang bersangkutan.

Semua halaman di atas adalah halaman statis, yang artinya tidak akan kita perbarui terlalu sering. Lain dari konten blog yang harus kita perbarui secara teratur. Banyak orang yang merasa tidak perlu membuat apalagi menulis blog, apalagi jejaring sosial sekarang tambah menyenangkan dan lebih praktis. Ini keliru. Menulis sebuah blog dengan pemikiran Anda sendiri membuat kita lebih kompeten daripada hanya sekadar memperbarui timeline di jejaring sosial (meski itu ratusan kali sehari). Jejaring sosial memang lebih mudah dan menarik daripada menulis blog, tetapi imbalan yang bisa kita tuai dari blog itu sendiri juga lebih banyak. Tulisan di blog kita lebih terorganisir dan dapat dilacak dengan tag, kategori, dan mesin pencari  saat kelak dibutuhkan. Bandingkan dengan celotehan kita di jejaring sosial yang terkubur begitu cepat meski sudah memakai tagar tertentu.  Aktif di jejaring sosial membuat blogger terlena padahal inti dari berjejaring sosial sebenarnya adalah menarik orang untuk mengetahui lebih jauh tentang diri kita, dan semua itu tidak bisa disampaikan di jejaring sosial dengan panjang lebar. Orang akan bosan. Tetapi blog ibarat sebuah rumah yang menjadi tempat berkumpul setelah Anda menyebarkan informasi diri di jejaring sosial. Di blog, personal brand akan lebih leluasa dibangun. Di blog, diskusi akan lebih mudah terakomodasi dalam komentar. Di blog, konteks juga lebih terjaga sehingga pesan lebih udah dipahami. Bayangkan di jejaring sosial yag ruangnya terbatas, risiko kesalahpahaman lebih tinggi karena konteks tidak utuh lagi, terpotong paksa oleh batasan karakter dan attention span pengguna jejaring sosial yang sangat pendek. Pengguna jejaring sosial cenderung berkunjung karena ingin bersenang-senang dan melihat-lihat tanpa harus mencermati dengan segenap daya pemikiran, yang berbeda dari pengunjung blog yang sudah menyiapkan diri untuk mencerna argumen dan pesan yang lebih panjang dan kompleks dari hanya satu baris tweet atau status.

Langkah ketiga ialah gunakan jejaring yang sudah dibangun untuk mencapai tujuan semula. Kerahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk membuat blog, akun jejaring sosial (Twitter, Facebook, LinkedIn) dan sebagainya. Di Indonesia, ketiga jejaring sosial inilah yang paling banyak digunakan. Tentu Anda bisa memperluasnya ke Instagram, Pinterest, dan sebagainya. Namun, pastikan Anda masih bisa menanganinya dengan baik tanpa harus merasa terpaksa. Dan yang lebih penting lagi, sesuaikan dengan kebutuhan, jenis bidang, dan sebagainya. Misalnya jika Anda seorang penulis, membuat akun di Instagram mungkin kurang penting karena di sini interaksinya berbasis gambar bukan teks. Anda akan lebih leluasa di Facebook, Twitter, Tumblr atau LinkedIn.

Sebagai tambahan, saat membuat personal branding di dunia maya, kita perlu pahami bahwa faktor I sangat krusial di sini. Apa itu faktor I? Integritas. Menurut Hermawan Kartajaya, banyak orang memahami dunia maya sebagai sebuah alternatif baru untuk  menyalurkan itikad yang kurang baik. Menipu orang memang lebih mudah melalui Internet. Akan tetapi satu hal yang patut disadari ialah begitu melelahkannya berbuat jahat di Internet karena di sini semua perbuatan kita bisa tercatat dan terlacak secanggih apapun trik yang digunakan. Bagi mereka yang berpikiran pendek, membangun brand apapun di Internet akan sukar sekali. Dibutuhkan konsistensi dan kesabaran dalam membangun personal brand di Internet. Ini bukan proses instan. Dan meskipun terlihat mudah dan instan, itu lebih karena orang tidak melihat proses panjang dan berliku di belakangnya.

Karenanya, bangunlah personal brand dengan mengingat bahwa sikap tulus dalam berinteraksi di dunia maya juga mutlak. Berikan manfaat bagi orang lain, alih-alih memanfaatkan orang lain secara sepihak saja. Dan tak lupa, jadilah seorang sosok/ figur yang mampu membangun budaya dalam sekelompok orang (yang menjadi teman, pengikut atau penggemar kita di jejaring sosial). Tidak ada yang berbeda dengan hubungan antarmanusia di dunia nyata, karena pada hakikatnya dunia digital hanyalah sebuah medium, alat semata. Intisarinya tetap pada bagaimana setiap manusia di dalamnya berhubungan satu sama lain. Jadi, ia bukan sebuah mantra ajaib yang memecahkan semua masalah di dunia nyata!

Bagaimana Membaca Kata “LinkedIn” dengan Benar

Suatu saat saya pernah berada dalam sebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa pakar dan praktisi. Seorang pemilik usaha teknologi informasi yang usianya sudah senior dan tampak berpengalaman berbicara mengemukakan pendapatnya. Kami menyimak.

Dan tiba-tiba dia menyebutkan sebuah kata yang aneh. “Lingkedin,” begitu katanya.

Swear saya tidak mengada-ada. Sejurus kemudian saya baru sadar ia melafalkan nama jejaring sosial LinkedIn. Oh my…

Ok lah masih bisa dimaklumi dalam kondisi pendengar atau lawan bicara adalah orang Indonesia. Tetapi bagaimana jika ia harus menghadapi orang asing? Salah paham bisa terjadi.

Perbaikan perlafalan bukan semata-mata memberikan kesan prestisius atau profesional melalui aksen berbicara tetapi juga supaya pesan kita tidak salah dimengerti.

Lalu bagaimana seharusnya membaca LinkedIn? Bacalah seperti ini: /lingktin/. Di sini saya tidak bisa menggunakan International Phonetic Alphabets yang sudah baku tapi kira-kira begitulah jika diucapkan. Jadi bukan /lingkedin/ ya…

Alasannya? Jika Anda pernah belajar ilmu fonetik, ada dua jenis konsonan: yang membuat pita suara bergetar (voiced) dan tidak bergetar (unvoiced).

Nah, konsonan /k/ termasuk bunyi konsonan yang tidak bergetar sehingga harus dilafalkan lebih ringan dari rekannya /g/. Keduanya mirip dalam perlafalan. Karena kata kerja “link” dibaca /lingk/ dan diakhiri konsonan /k/ maka konsonan berikutnya juga harus dibaca ringan,tanpa getaran. Dan jangan sampai huruf ‘e’ ikut diucapkan! Ucapkan seolah menjadi 1 kata. LinkedIn..LINGKTIN!!! (*/)

Rugi Tidak Punya Akun LinkedIn!

LinkedIn mungkin tak sepopuler Facebook, Twitter, Koprol atau Kaskus di sini tetapi dampaknya untuk karir seseorang tak bisa dianggap remeh.

Beberapa orang mengisahkan bagaimana mereka banyak mendapatkan tawaran bekerja yang cukup menggiurkan dengan ‘mejeng’ dan aktif di LinkedIn. Saya sebagai orang skeptis tentu tak mudah percaya begitu saja. “Ah mungkin hanya kebetulan saja,” pikir saya.

Sekadar iseng, saya coba unduh aplikasi LinkedIn dalam ponsel Android saya ini. Dan harus diakui, tak semenarik Facebook dan Twitter. Mungkin karena kontennya adalah mayoritas berkaitan dengan dunia kerja, bisnis, korporasi. Kecil kemungkinan kita bisa temukan anak-anak remaja “unyu” di sini atau foto-foto profil aneh atau nama pengguna yang super alay. Hampir semua memakai nama asli, foto asli, data diri asli, riwayat kerja asli. Jelas sudah, LinkedIn bukan arena bermain para social media addict. Yang ada di sini kebanyakan hadir karena misi profesional, bukan karena kecanduan untuk memamerkan daya tarik fisik dan pesona dangkal lainnya. Otak, profesionalisme, pengalaman adalah hal-hal ‘seksi’ di sini.

Namun saya pun agak berubah pikiran tentang skeptisime personal pada LinkedIn saat tadi tanpa sadar membuka kotak masuk pesan di akun LinkedIn.

Ternyata beberapa bulan lalu ada tawaran sidejob yang terlewatkan. Saya cuma bisa gigit jari saat membaca pesan dari seorang staf perusahaan besar yang dulu bermarkas di Amerika tetapi kini pindah ke ibukota yang akhir-akhir ini sedang gencar membangun citra sebagai situs e-commerce terbesar di Indonesia. Ia ingin ada beberapa dokumen yang diterjemahkan. Ahh, andai saya buka kotak pesan itu beberapa bulan lebih awal!

Nah, pelajaran yang bisa dipetik adalah bagi Anda yang sedang mengembangkan karir atau ingin melanglang buana mencari pengalaman kerja seluas mungkin, dan kepuasan finansial yang lebih tinggi, melewatkan LinkedIn sebagai tempat berpromosi diri dan keahlian adalah bisa saya katakan secara ekstrim sebagai satu kebodohan! Daftar sekarang dan mulai aktif di sana! Ini jauh lebih baik daripada nge-tweet galau atau tag nama teman ke foto barang dagangan yang tak jua laku dijual. Yuk, pakai LinkedIn!

P.s. (disclosure) : Ini bukan artikel berbayar. Saya tidak dibayar LinkedIn sepeser pun.

The Directory of Indonesian Young Entrepreneurs (whom I’ve Met/Read About Thus Far)

The list you read here contains only a few of Indonesian entrepreneurs , and I’ll keep adding as I encounter more and more along the way. Tip me off if you know someone who is an entrepreneur and s/he is Indonesian but not listed yet here. I’d be glad to enlist him/ her. Here I provide you the Twitter handles or company sites. Under any circumstances, I will not disclose emails, phone numbers or cell numbers. Unless you’re Mac users, try “CTRL + F” to find the name you want to contact.

  1. Natali Ardianto (@nataliardianto) – initiator of #StartupLokal Community (Natali’s LinkedIn profile)
  2. Nuniek Tirta Ardianto (@Nuniek) – initiator of #StartupLokal Community
  3. Aulia Halimatussadiah (@Salsabeela) – initiator of #StartupLokal Community (Aulia’s LinkedIn profile)
  4. Sanny Gadafi (@SaGad)- initiator of #StartupLokal Community (read his LinkedIn profile here)
  5. Rein Mahatma (@Reintweets) – occasional moderator of #StartupLokal Community meetups
  6. Joshua Kevin (@Oleeoebi) – editor in chief of #StartupLokal Community (LinkedIn profile)
  7. Aswin Utomo (@AswinUtomo) – founder and CEO of AdaDiskon.com
  8. Edy Sulistyo (@EdySulistyo) – founder and CTO of Eevent.com
  9. Andi Sie (@AndiSie) – cofounder of Eevent.com
  10. Lawrence (@LawrenceGS) – cofounder of Eeevent.com
  11. Emi Dewi (@EsDewi) – business development manager of Eevent.com
  12. Danny Baskara (@DannyBaskara) – founder and CEO of Evoucher.co.id
  13. Novistiar Rustandi ( Novi’s LinkedIn profile)
  14. Aria Rajasa (@Rajasa) – founder and CEO of GantiBaju.com
  15. Anang Pradipta (@unwinged) – cofounder of GantiBaju.com
  16. Setyagus Sucipto (@agoes82) – cofounder of GantiBaju.com
  17. Carmelita B. R. and Jonathan Rolandez (@indoclubbing) – cofounder of Indonesia Clubbing
  18. Ary Kristyanto (@arykristyanto) – cofounder of Kartumuu.com
  19. Hadikusuma Wahab (@dhiku) – cofounder of kartumuu.com
  20. Phillippe Do (@pd_7) – founder and CEO KrazyMarket
  21. Endra Marsudi (@endramarsudi) – co founder and COO of MyRemoteLife
  22. Angeline Anthony (@B4nch4) – cofounder kutukutubuku.com and TukuSolution.com with Aulia H.
  23. Brilliant Yotenega (@Byotenega) -NulisBuku.com with Aulia H.
  24. Oka Pratama (@Okaphoto) – cofounder of NulisBuku.com with Aulia H.
  25. Bima Laga (@bima08pricearea)- business development pricearea.com
  26. Mustafa Kemal Wiryawan (@kemtol) – founder and CEO of Rockto.com)
  27. Soegianto (@Soegia) – founder and CEO Sedapur
  28. Denny Santoso (@dennysantoso) – founder and CEO sixreps.com with Sanny Gadafi
  29. Terry Mulijana (@terrymagic) – CTO and founder of SuperBestDeal.com)
  30. Ronald Ishak (@ronishak) – founder and CEO of Tasterous
  31. Deche Pangestu (@deche) – cofounder of Tasterous
  32. Firman Nugraha (@jfireman) – cofounder of TeknoJurnal.com)
  33. William Tanuwijaya (@liamtanu) – CEO and cofounder of  Tokopedia.com
  34. Selina Limman (@MissDimps) – founder and CEO of Urbanesia.com
  35. Jaka Wiradisuria (@jakawira) – CEO and cofounder Valadoo.com
  36. Hanindia Narendrata Rahiesa (@jaritelunjuk) – founder of telunjuk.com
  37. Rachmat Efendi (@rachmatefendi) -CEO of IdTrust.biz
  38. Arif Qodari, Bagus Radityo, Umar Hadi – cofounders of HERO (on.fb.me/helpingandcaring)
  39. Umar Hadi (@marsandfamel) – cofounder of islam-music.com
  40. Arif Qodari (arifqodari) – cofounder of islam-music.com
  41. La Nasha (la_nasha) -cofounder of islam-music.com
  42. Muhamad Tohirudin (@edunusa) -founder and owner of edunusa.com
  43. Ivan Chen – director of anantarupa.com
  44. Sayed Muhammad – founder and CEO of Local.co.id
  45. Megain Widjaja (@megainwidjaja) –  Project Eden mentor/ committee member (eden.co.id)
  46. Kevin Mintaraga (@kvmin) – director of magnivate, mentor/committee member of Project Eden and East Ventures Alpha
  47. Arianto Bigman – director of International Design School (www.idseducation.com)
  48. Bijak Fajar Putranto (@bijakfputranto) – CMO of transaksiaman.com
  49. Sindhu Prabowo Dilaksono (@jusjeruk) – director of actdisain.com
  50. Dalyono – manager and owner of MataramFurniture.blogspot.com
  51. Bambang Ikrar Praditya – owner of gugahseni.org
  52. Farry Aprianto (@happify_) – Grassroot App owner
  53. Aqsath Rasyid -CEO of nolimitid.com
  54. Mohamad Sani – CEO of badr-interactive.com
  55. Asep Martin – Sales and support staff of Kulacak.com
  56.  David Anggakusuma – sales director of AngSolutions.com
  57. Lahandi Baskoro (@lahandi) – owner of lamalif.asia
  58. Ghea Ilham (@sushishisha) – founder of sushishisha.webs.com
  59. Andreas Renard Widarto (@renardwidarto) – president of ITB Entrepreneurship Challenge 2011
  60. Rudy Setiawan (@wowrackid)
  61. Muhamad Ilman Akbar (@ilmanakbar) – founder and lead admin of anakui.com
  62. Santo Vibby (@santovibby) – owner of SVTA.co.id
  63. Agus Priyono of “Agus Yk Studio”-
  64. Rokimas Putra Soeharyo – cofounder of Touchten.com
  65. Anton Soeharyo – CEO of Touchten.com
  66. Imam Sutanto Dhani –
  67. Atidwiputri -owner of auntyduts.webs.com
  68. Eric Yosua – Cle Production owner
  69. Dean Michael – UD. Rajawali owner
  70. Dian Paskarina – asisstant director of anantarupa.com
  71. Redya Febriyanto – founder of telunjuk.com
  72. Iqbal Farabi – CMO of starqle.com
  73. Dian Noeh Abubakar – cofounder and CEO of Kennedyvoice-berliner.com
  74. Adam Ardisasmita – CEO of Arsanesia.com
  75. Ismail- manager of  jagoanlalulintas.wordpress.com
  76. Alif Harsan Pradipto – CTO of Tempalabs.com
  77. Ridho Irawan – owner of PT Corfina Mitrakreasi
  78. Reyno Tri Anggoro, S. T. (@donreyno) – managing director of PT Kaza Citra Media
  79. Edward Ismawan Chamdani – partner at IdeoSource.com
  80. William Henley (@williambotak) –
  81. Diki Irawan (@dikiirawan) – cofounder of dwarapala.com
  82. Irsan Gunawan – manager , product and platform engineer of numedia.co.id
  83. Kreshna Bayu Aji -(@bayu99) – #StartupLokal apprentice
  84. Vera Lingga (@womanbizlife) – founder and chief-in-editor of womanbizlife.com
  85. ………(still counting)

Kevin Rose Reveals “10 Steps to Having More Followers on Twitter”

Image representing iPhone as depicted in Crunc...
Image via CrunchBase

This post is actually titled “Ten Ways To Increase Your Twitter Followers“. Kevin Rose, for you who don’t know who he is, is the founder of Digg and an investor in Twitter.

  1. Explain to your followers what retweeting is and encourage them to retweet your links. Retweeting pushes your @username into foreign social graphs, resulting in clicks back to your profile. Track your retweets using retweetist.
  2. Fill out your bio. Your latest tweets and @replies don’t mean much to someone that doesn’t know you. Your bio is the only place you have to tell people who you are. Also, your bio is displayed on Twitter’sSuggested Users page. Leaving it blank or non-descriptive doesn’t encourage people to add you.
  3. As @garyvee says, “link it up.” Put links to your Twitter profile everywhere. Link it on your Digg, LinkedIn, Facebook, blog, email signature, and everywhere else you live online. Also, check out the great feedburner-like badges from TwitterCounter for your blog.
  4. Tweet about your passions in life and #hash tag them. Quality content coupled with an easy way to find it never fails. If others enjoy your content, they’ll add you. Learn more about #hash tagging here.
  5. Bring your twitter account into the physical world. Every time I give a talk, speak on a panel, shoot a podcast, present slides, or hand out business cards, I figure out a way to broadcast or display my twitter account.
  6. Take pictures. Pictures are heavily retweeted/spread around. This one from US Airways Flight 1549 has been viewed 350,000+ times. For mobile pics use iPhone apps such as Tweetie orTwitterific, both which support on the go uploading.
  7. Start a contest. @jasoncalacanis offered a free macbook air if he reached the #1 most followed spot. That never happened, but Jason added thousands of followers…brilliant.
  8. Follow the top twitter users and watch what they tweet. Pay attention to the type of content they sent out and how they address their audiences.
  9. Reply to/get involved in #hash tag memes. search.twitter.com lists the hot ‘trending topics. Look for the #hash topics and jump in on the conversation (see #4 for links to #hash instructions).
  10. Track your results. TwitterCounter will show you how many new users you’re adding per day andQwitter will email you when someone unfollows you after a tweet.

When ‘God’ Goes Social…

It never occurs to me that ‘God’ should go social. Seriously, how could this happen to the ‘Most Divine’ in the infinite universe?

It was all because of my recklessness. I thought it’d be good to let people know what ‘the Almighty’ is now reading, what He’s been thinking of lately, and sharing it all with all His staunch supporters down there, on  ‘the Earth’.

I signed up for Twitter on behalf of ‘My Majesty’, got another Facebook account too. And recently I got myself into the bandwagon of this silly social networks with circles on it.

Once He was willing to respond to each question coming to the wall and timeline. Yet as soon as the enthusiasm faded away, He relinquished the responsibility for it to the second and third angel, His faithful assistants.

So here I am stranded, in the middle of social media utter bewilderment. It’s hard to ignore humans who constantly begging for mercy and aid down there. I’m eager to help but it’s beyond my authority to say anything while my position itself is precarious enough. I can be dismissed anytime. It’s like clinging to a string of hair split into 7 thinner ones.

Should I find myself another ‘God’?

%d bloggers like this: