Mengapa Daerah Casablanca Jakarta Selatan Angker?

Jauh sebelum saya menghuni daerah ini, saya pernah mendengar film yang berjudul “Terowongan Casablanca” di media. Dikatakan film tersebut diangkat dari ‘urban legend’ masyarakat Jakarta. Terowongan itu sendiri benar-benar ada di ruas jalan Prof. Dr. Satrio Jakarta Selatan, yang ternyata sangat dekat dengan daerah saya tinggal saat ini.

Dengan berbekal rasa penasaran, saya melontarkan sejumlah pertanyaan bernada investigasi kepada bapak dan ibu kos. Mereka menjadi sumber yang tepercaya karena sudah sejak saya belum lahir tinggal dan mengais rupiah di daerah Karet Kuningan ini.

Dari penuturan pak kos saya yang sudah melanglang buana di ibukota sejak tahun 1970-an saat posisi gubernur dijabat oleh Ali Sadikin yang legendaris itu, diketahui bahwa dulu ada beberapa sebutan untuk area-area tertentu di Karet Kuningan dekat terowongan Casablanca tersebut. Yang sekarang ini diisi oleh ITC Kuningan dan sekitarnya termasuk Mall Ambassador bernama “Karet Komplek” dan area yang berada jauh dari ruas jalan disebut “Karet Sedikit”, mungkin karena dulu permukiman penduduk masih sangat sedikit, tidak sepadat saat ini. Dan area yang sekarang ditempati apartemen Somerset Grand Citra Mega Kuningan adalah ruas jalan kecil yang bernama “Gang Bernuk”.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Karet Kuningan adalah pusat produksi batik yang cukup aktif. Pak kos masih ingat bagaimana ia bekerja setiap hari di pabrik pembuatan batik cap dengan menggunakan trolley dengan muatan 50-60 kodi kain batik cap, lalu mendorongnya dengan seorang teman kerja ke gang Genteng Ijo.

Kemudian saya bertanya pada mereka,”Apakah di sini daerah yang dulunya banyak pekuburan?” Ibu kos yang juga sudah lama tinggal di daerah ini sebelum saya lahir pun mengiyakan. “Termasuk kantor lama saya yang banyak pohonnya itu?”saya bertanya lebih spesifik. Ia mengangguk.

Pantas saja…

Bahkan di dekat tempat kami tinggal pun ada sepetak tanah yang dulunya adalah makam. “Itu rumahnya mbak X (sambil menunjuk ke salah satu rumah tetangga)dulunya juga makam,”katanya. “Makam apa? Makam Belanda, makam China?”cerocos saya, tidak sabar menelisik masa lalu. “Enggak, makam orang biasa aja,”tukasnya. Apa yang ia maksud dengan ‘orang biasa’ saya pun tidak terlalu jelas. Mungkin artinya orang pribumi muslim.

Di area berdirinya ITC Kuningan dan Carrefour saat ini, kata ibu kos, dulu dipenuhi tempat produksi konveksi. Dan saat proses pembangunan pondasi (paku bumi), sejumlah pekerja menjadi korban. Mereka terisap lumpur, menurut ibu kos. “Daerah itu kan dulunya rawa. Mega Kuningan itu semua rawa-rawa dulunya,”tandas bu kos.

Sementara itu, jalan Karet Pedurenan dulu dipenuhi dengan kali dan pabrik-pabrik konveksi yang kemudian digusur, karena dianggap mencemari lingkungan. Apa yang saya anggap sebagai saluran air buatan manusia yang terbentang dari gang Blumbang sampai ke bagian belakang kos saya itu ternyata menurut bu kos adalah kali kecil yang mengalir sampai aliran sungai yang lebih besar dan dalam di dekat Siloam Hospital dan di belakang bangunan Sampoerna Strategic Jakarta.

Hipotesis saya terverifikasi sudah. Setidaknya secara historis. Secara empiris, juga sudah banyak pengalaman misterius di sini. Secara ilmiah? Itu yang belum dan mungkin juga tidak perlu dilakukan karena sia-sia saja.

Makanya hati-hati kalau di sini!

Kebun Raya Bogor dan 2 Orang Jerman

Dari KRB ketemu dua orang pemuda Jerman yg belajar Marine biology. Namanya ga tau. Mereka seolah ga mau kasih tau. Well, it’s ok.

 Pertama karena aku diusir dari gerbong wanita aku pun pindah gerbong. Dan sekilas kulihat ada wajah kaukasia. Yup. Aku duduk di sebelah mereka.

Seorang pria setengah baya di depan mereka mengajak berbicara dalam bahasa inggris. Ternyata dia lulusan IPB jadi tidak heran ia lumayan lancar.

Di tengah pembicaraan, lulusan IPB itu menanyakan tempat mereka menginap dan keduanya menjawab “bandara”. Pria IPB itu berseloroh,”You both are bule gila”. Whatta? Aku cukup terkejut tapi aku pahami maksudnya yang menginginkan mereka agar lebih berhati-hati di tanah asing. Keduanya tak menggubris dan berargumen bahaya ada di mana-mana. Di Jerman

Mereka berbicara panjang lebar sementara aku membaca Eat Pray Love. Sebenarnya aku juga kurang konsen karena gatal dg percakapan mereka  yang lumayan asik. Tapi rasanya sungkan untuk nimbrung hingga satu saat mereka mengatakan ingin menuju mall ambassador. Aku pun bertanya untuk memastikan, ternyata memang tidak salah dengar. Akhirnya aku bilang mereka harus turun tebet dan mereka bilang akan mengikutiku saja.

Setelah beberapa saat diam, aku pun beranikan bertanya apakah mereka kali pertama ini mengunjungi bali dan tanah air.

Mungkin karena hari sudah gelap dan kecapaian, kami tak tahu Tebet sudah lewat. Saat aku katakan kami sudah melewati Tebet, si Jerman bertopi malah bertanya, “Tebet? Is it T E B E T?” Oh, kenapa dia tidak bilang! Damn… dulu aku juga tidak tahu sudah sampai Tebet hingga akhirnya turun Gondangdia dan berjalan kaki! Kampret…sekarang kejadian lagi.

 Akhirnya kami turun di Gambir. Sebenarnya aku malu karena aku tinggal di sini tapi tak begitu mengenal rute. Maklum tak terlalu sering keluar kota. Kami naik kereta lagi. Aku ajak mereka jalan kaki tapi menolak. Ya sudah.
Saat berada di angkutan umum menuju Ambassador Mall, kami berbincang. Entah kenapa aku memberitahukan informasi yang tolol. Karena lokasi hotel Marriott sudah dekat, aku pun membuatnya sebagai bahan obrolan. Aku katakan di sini pernah terjadi pemboman oleh teroris. Dan itulah alasannya mengapa seorang pria di kereta tadi menyarankan mereka berhati-hati, karena muka mereka Kaukasia sekali jadi sering dianggap orang Amerika. Tanggapan mereka hanya datar saja. Mereka bilang dalam bahasa Inggris , bahaya ada di aman-mana, jadi konyol sekali kalau tidak bepergian cuma karena takut teroris.
Sebenarnya aku merasa bodoh sekali mengatakan itu. Ada orang yang sudah mau susah payah berkunjung ke negeri ini tapi kami malah sodori hal-hal yang tak menyenangkan. Malu sekali. Harusnya aku bisa menjelaskan lebih banyak tempat-tempat menyenangkan di Jakarta dan sekitarnya sini. Namun apa daya, mereka penyuka tempat wisata alam. Apa yang bisa ditawarkan alam Jakarta?? Hampir NOL mungkin. Hampir semua sudah tertutup hutan beton dan aspal dan …sampah. Aku hanya bisa sarankan Kemang untuk hangout dan Ragunan untuk menikmati ruang terbuka.
%d bloggers like this: