What I Experienced as a Voter in General Election 2014

image

It was advertised as a hassle free, time and power saving procedure. But the reality is just NOT. It is not enough just to show them my identity card or kartu tanda penduduk (KTP) or passport to be entitled to the right to vote in the legislative election today (9/4).

The KPPS Chairman of Karet Kuningan whom I met told us why passports or identity cards cannot be used to claim your right to vote. He argued that they needed more control over these non-residents so it would be easier to allocate them to any place where there are ballots left because they are second rate, additional voters as non-residents.

image

So I vote here in Jakarta for the first time in General Election this year. I have not been registered as a resident in the capital but thank God any non-residents still may participate and cast their ballots even if their origin or area of origin is not Jakarta. It says somewhere in the rules that we can vote outside our area of registration only if we get ourselves registered as a voter at a nearby general election committee.

With a catch…

image

Like each non-resident all over the country, I can only vote if there is a ballot left. If there is no ballots left in the box, I simply have to forget the idea that I will vote for the legislative candidates that I am in favor of, which I to a certain extent doubt to find out. But well, I still have to struggle as long as there’s any hope or chance open.

Last night (8/4), I failed to get ‘license to vote’ from the Karet Kuningan KPPS Chairman, South Jakarta. But this very morning, along with a friend, I at last managed to obtain the local neighborhood official letter stating I wanted and was allowed to vote at a nearby general election booth despite my non-resident status. It took me around 60 minutes to stand in line and got the license! What a day!

And here I saw young workers from various regions in Indonesia were standing in line to get the license to vote here without having to cast their ballots at home. They look young in their twenties and early thirties, just like me. And what made me cringe was they knew they had the chance to contribute positive things to the nation and country through general election. Some young generation don’t give this election a damn. They’d rather go out to enjoy one rare public holiday and ignore the opportunities to participate in the democracy festivity. This looks good and optmistic as it may seem, I know, even for me! I suddenly realize why Devi Asmarani (a journo cum yoga teacher) was trying to convince more people to vote, not to abandon their rights to vote. I thought it would take another decade for the failing country to be a superpower country just like China and the US. Now this is the time.

It might be nothing to be called substantial but this is what I can do and am willing to contribute as best as I could. Whatever happens next, only God knows.

If the general elections cannot make Indonesia a better country, I don’t know what can.

Mengapa Daerah Casablanca Jakarta Selatan Angker?

Jauh sebelum saya menghuni daerah ini, saya pernah mendengar film yang berjudul “Terowongan Casablanca” di media. Dikatakan film tersebut diangkat dari ‘urban legend’ masyarakat Jakarta. Terowongan itu sendiri benar-benar ada di ruas jalan Prof. Dr. Satrio Jakarta Selatan, yang ternyata sangat dekat dengan daerah saya tinggal saat ini.

Dengan berbekal rasa penasaran, saya melontarkan sejumlah pertanyaan bernada investigasi kepada bapak dan ibu kos. Mereka menjadi sumber yang tepercaya karena sudah sejak saya belum lahir tinggal dan mengais rupiah di daerah Karet Kuningan ini.

Dari penuturan pak kos saya yang sudah melanglang buana di ibukota sejak tahun 1970-an saat posisi gubernur dijabat oleh Ali Sadikin yang legendaris itu, diketahui bahwa dulu ada beberapa sebutan untuk area-area tertentu di Karet Kuningan dekat terowongan Casablanca tersebut. Yang sekarang ini diisi oleh ITC Kuningan dan sekitarnya termasuk Mall Ambassador bernama “Karet Komplek” dan area yang berada jauh dari ruas jalan disebut “Karet Sedikit”, mungkin karena dulu permukiman penduduk masih sangat sedikit, tidak sepadat saat ini. Dan area yang sekarang ditempati apartemen Somerset Grand Citra Mega Kuningan adalah ruas jalan kecil yang bernama “Gang Bernuk”.

Sebelum menjadi seperti sekarang, Karet Kuningan adalah pusat produksi batik yang cukup aktif. Pak kos masih ingat bagaimana ia bekerja setiap hari di pabrik pembuatan batik cap dengan menggunakan trolley dengan muatan 50-60 kodi kain batik cap, lalu mendorongnya dengan seorang teman kerja ke gang Genteng Ijo.

Kemudian saya bertanya pada mereka,”Apakah di sini daerah yang dulunya banyak pekuburan?” Ibu kos yang juga sudah lama tinggal di daerah ini sebelum saya lahir pun mengiyakan. “Termasuk kantor lama saya yang banyak pohonnya itu?”saya bertanya lebih spesifik. Ia mengangguk.

Pantas saja…

Bahkan di dekat tempat kami tinggal pun ada sepetak tanah yang dulunya adalah makam. “Itu rumahnya mbak X (sambil menunjuk ke salah satu rumah tetangga)dulunya juga makam,”katanya. “Makam apa? Makam Belanda, makam China?”cerocos saya, tidak sabar menelisik masa lalu. “Enggak, makam orang biasa aja,”tukasnya. Apa yang ia maksud dengan ‘orang biasa’ saya pun tidak terlalu jelas. Mungkin artinya orang pribumi muslim.

Di area berdirinya ITC Kuningan dan Carrefour saat ini, kata ibu kos, dulu dipenuhi tempat produksi konveksi. Dan saat proses pembangunan pondasi (paku bumi), sejumlah pekerja menjadi korban. Mereka terisap lumpur, menurut ibu kos. “Daerah itu kan dulunya rawa. Mega Kuningan itu semua rawa-rawa dulunya,”tandas bu kos.

Sementara itu, jalan Karet Pedurenan dulu dipenuhi dengan kali dan pabrik-pabrik konveksi yang kemudian digusur, karena dianggap mencemari lingkungan. Apa yang saya anggap sebagai saluran air buatan manusia yang terbentang dari gang Blumbang sampai ke bagian belakang kos saya itu ternyata menurut bu kos adalah kali kecil yang mengalir sampai aliran sungai yang lebih besar dan dalam di dekat Siloam Hospital dan di belakang bangunan Sampoerna Strategic Jakarta.

Hipotesis saya terverifikasi sudah. Setidaknya secara historis. Secara empiris, juga sudah banyak pengalaman misterius di sini. Secara ilmiah? Itu yang belum dan mungkin juga tidak perlu dilakukan karena sia-sia saja.

Makanya hati-hati kalau di sini!

New Flyover in Jakarta: Will It Be the Answer?

As of today, Satrio Flyover in South Jakarta is officially opened for public traffic. The street has been widely notorious for its traffic jam during rush hours. Now that it is already opened, I wonder whether it works or fails to tackle this traffic jam “phantom” that has been haunting all of Jakartans all this time once and for all. What do you think?
image

image

This is how the flyover looks from the 39th floor. No huge traffic is seen up there on the flyover just yet.
image

%d bloggers like this: