Bagaimana Menulis Membuat Anda Lebih Sehat

Menulis menurut Haruki Murakami adalah salah satu aktivitas yang kurang sehat. Ada betulnya memang. Bayangkan Anda harus duduk di sebuah kursi di dalam ruangan selama belasan jam lamanya setiap hari sampai lupa (atau melupakan) kegiatan lainnya seperti makan, minum, atau beristirahat di malam hari sesuai kebutuhan tubuh yang
sebenarnya. Itulah mengapa novelis Jepang kenamaan itu mengimbanginya dengan berolahraga lari dan berhenti merokok, sebuah kebiasaan tak sehat yang kerap kita jumpai di komunitas penulis. Sudah lumrah kita jumpai para penulis yang juga perokok dan penggemar berat kopi atau minuman berkafein yang sampai berkata,”Saya tidak bisa menemukan inspirasi tanpa rokok dan kopi.” Haruki berbeda. Ia ingin berkarya lebih lama, dan karena itu, ia harus tetap sehat dan berumur panjang. Masuk akal.

Saya tidak hendak meyakinkan Anda untuk meninggalkan kegiatan menulis dengan memberikan paragraf pembuka seperti itu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kegiatan sebaik apapun, termasuk menulis, jika berlebihan bisa berdampak negatif pula pada kita sebagai pelakunya. Itu sudah menjadi hukum alam.

Akan tetapi, jangan cemas. Bila Anda menulis dengan mengindahkan keseimbangan dalam hidup ini, manfaatnya justru akan lebih banyak.

Menulis sendiri memiliki manfaat yang tidak hanya di dunia akademis hingga dunia profesional. Kemampuan menulis yang baik juga menjadi bagian penting dalam kemampuan berkomunikasi saat ini. Saya sendiri pernah menjumpai seseorang yang mengaku sangat kesulitan saat harus menulis di ujian akademik atau ujian masuk kerja yang mengharuskannya menulis ringkasan eksekutif atau esai singkat. Bahkan hingga dekat dengan detik-detik terakhir ujian pun, yang ada di kertas jawaban hanya beberapa baris kalimat. Belum sampai menjadi paragraf yang utuh. Padahal ia tahu ia memiliki banyak ide dan pemikiran di dalam benaknya. Cuma ia tak tahu bagaimana merangkai kata-kata itu agar layak dibaca.

Kini ada alasan kuat mengapa siapa saja harus mencoba menulis lebih sering, meski bukan penulis profesional. Ternyata aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 kali sepanjang 4 bulan menurut sebuah studi tahun 2005 sudah bisa memberikan manfaat yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional para subjek studinya. Artinya, menulis secara ekspresif (menuangkan uneg-uneg dalam sebuah catatan harian atau membuat cerita fiksi, misalnya) memperbaiki suasana hati, mengurangi tingkat stres dan gejala depresi. Tidak heran J. K. Rowling pernah mengatakan ia pasti akan gila jika tidak memiliki menulis sebagai pelampiasan. Menulis, selain membuatnya kaya raya, juga membuatnya lebih waras dalam menghadapi fase-fase tersulit seperti kemiskinan dan perceraian dalam hidupnya.

Dengan menulis mengenai kejadian-kejadian emosional, penuh tekanan dan membuat kita trauma, kita akan berpeluang lebih sedikit terserang penyakit dan akan terkena lebih sedikit dampak negatif dari trauma yang pernah kita alami di masa lalu. Mereka yang menulis secara ekspresif mengenai hal-hal tersebut juga akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah sakit. Tekanan darah mereka lebih terkendali (tentunya dengan juga memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi) serta memiliki fungsi hati (liver) yang lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa menulis ekspresif.

Pada kenyataannya, menulis ekspresif (expressive writing) bisa membantu kita menyembuhkan diri dari luka fisik lebih cepat. Di tahun 2013, para peneliti dari Selandia Baru memantau pemulihan luka-luka fisik setelah prosedur biopsi yang wajib dilakukan secara medis pada 49 orang dewasa. Semua subjek penelitian ini disarankan untuk menuangkan pemikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan selama hanya 20 menit, 3 hari secara berturut-turut, 2 pekan sebelum biopsi dilakukan. Sebelas hari kemudian, 76% dari subjek studi dalam kelompok eksperimen yang menulis sebagaimana disarankan telah sembuh
sepenuhnya. Sebanyak 58% dari kelompok kontrol (yang tidak
diperintahkan menulis) belum sembuh. Studi ini menyimpulkan bahwa menulis mengenai kejadian-kejadian yang membuat para pasien tertekan membantu mereka memahami kejadian-kejadian itu dan dengan demikian membantu menurunkan tingkat stres.

Bahkan mereka yang dinyatakan menderita penyakit-penyakit tertentu bisa meningkatkan kesehatan mereka melalui menulis. Studi-studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan asma dan meluangkan waktu untuk menulis memiliki serangan yang lebih sedikit daripada penderita asma yang tidak menulis. Para pasien AIDS yang menulis memiliki jumlah sel T yang lebih tinggi. Sel-sel T ini merupakan limfosit yang diproduksi atau diproses oleh kelenjar timus dan secara aktif berperan dalam respon kekebalan tubuh manusia. Para pasien kanker yang menulis cenderung memiliki perspektif yang lebih optimis terhadap kehidupan secara umum dan kondisi yang tengah mereka hadapi. Dari sana, kualitas hidup mereka – terlepas dari sembuh tidaknya – biasanya lebih baik.

Jadi apa yang membuat menulis baik bagi kita semua? Seorang peneliti bernama James W. Pennebaker melaksanakan riset mengenai menulis untuk menyembuhkan diri secara alami selama bertahun-tahun di University of Texas di kota Austin, AS. “Saat orang diberikan kesempatan untuk menulis mengenai gejolak emosional yang mereka alami, kesehatan mereka biasanya lebih baik,”tulis Pennebaker. “Mereka lebih jarang
berkonsultasi ke dokter. Mereka mengalami perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh.”
Bagaimana ini bisa terjadi? Pennebaker meyakini bahwa aktivitas menulis ekspresif ini memungkinkan orang untuk rehat, mengevaluasi diri dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Alih-alih terobsesi secara tidak sehat terhadap sebuah insiden atau memori di masa lalu, kita bisa memfokuskan diri pada bagaimana bergerak maju dalam hidup. Dengan demikian, tingkat stres kita bisa menurun dan kesehatan niscaya akan membaik. Tentunya sekali lagi, dengan diiringi perbaikan gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.

Kita tidak harus menjadi novelis atau cerpenis penuh waktu, kolumnis, blogger yang setiap hari menulis demi mencari nafkah (karena menulis untuk mencari nafkah malah kerap meningkatkan kadar kortisol juga). Cukup menulis catatan harian (diari) yang Anda simpan sendiri (jika Anda termasuk orang yang tertutup) atau mengetiknya dalam dokumen dengan kata kunci agar tak seorang pun bisa membuka dan membaca curahan hati Anda.

Menulis blog juga bisa membantu. Menurut sebuah studi, disimpulkan bahwa menulis blog bisa memicu pelepasan hormon dopamin yang efeknya mirip dengan efek berlari atau mendengarkan musik kesukaan. Jangan cemas curahan hati di blog bisa dibaca orang-orang yang tidak dikehendaki karena blog juga bisa diatur sedemikian rupa agar tidak bisa dilacak Google atau dibuka orang lain kecuali Anda mengizinkan mereka masuk. Di platform-platform blogging besar seperti Blogger, WordPress, Tumblr, saya pikir ada fasilitas semacam ini. Blog bisa diatur privasinya: publik atau privat. Jika tidak mau menutup akses ke semua tulisan di blog Anda, Anda juga bisa memberikan kata kunci untuk satu artikel alias postingan tertentu yang dikehendaki agar tidak dibaca sembarangan orang. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa menumpahkan perasaan dan pemikiran Anda yang berpotensi memicu konflik dengan orang lain atau membuat Anda malu jika mereka membacanya.

Pertama kali menulis, Anda tak perlu cemas dengan standar-standar yang ada. Abaikan EYD, tata bahasa dan aturan sejenisnya yang mengekang. Menulislah seperti kita berbicara pada seseorang yang Anda sangat percayai dan tidak akan membocorkan rahasia Anda. Dengan begitu, kata-kata akan mengalir seperti air.

Jadi siap menulis sekarang?

(Sumber foto: quora.com)

Menulis Itu Mirip Masturbasi, Katanya

‎Seorang teman bertemu secara kebetulan dengan penulis Iwan Setyawan hari ini. Dan ia mengatakan bahwa Iwan berwejangan:”…[k]alo nulis itu yg penting kita ngerasa seneng, menikmati, dan bisa takjub pas bacanya. Bukan mikir bagaimana ceritanya biar pembaca seneng. #TipsMenulis”

Novelis Stephanie Meyer yang dikenal dengan Twilight series itu juga berpesan senada. Dalam sebuah wawancara dengan Time Magazine, ia pernah mengatakan tulisannya ia buat karena ia ingin membaca sebuah cerita romantis yang seperti itu. Dengan kata lain, Meyer hanya memfokuskan diri pada pemuasan diri, semacam “masturbasi sastrawi” dalam istilah vulgarnya.

‎Itu semua menerangkan mengapa saya merasa lelah sekali setelah menulis, padahal saya tidak ke mana-mana. Tubuh saya tidak berkeringat setetespun. Otot-otot tubuh bawah tak banyak bekerja. Hanya tubuh bagian atas yang terus tegak, menyangga kedua tangan yang terus bergerak di atas papan ketik dan kepala yang terpaku ke layar. Ternyata saya sudah bermasturbasi secara intelektual, verbal dan literal.

Oh lelahnya…

9 Tips Menulis Fiksi

Setelah bertahun-tahun terbiasa bekerja di bidang non-fiksi, menulis fiksi bagi saya menjadi sebuah kerja keras tersendiri. Menulis fiksi itu susah sekali. Satu cerita pendek yang tak lebih dari 1000 kata, misalnya, cukup membuat saya berpikir keras. Sebuah pengalaman yang sangat lain dari asumsi banyak orang. Banyak orang menganggap enteng menulis fiksi. Tinggal berfantasi, tulis fantasi itu, dan tada! Jadilah karya fiksi yang siap diterbitkan, atau setidaknya siap dibaca oleh Anda sendiri. Kenyataanya tidak semulus itu! Kalau menulis fiksi semudah itu, semua orang bisa menjadi penulis fiksi profesional.

1. Ketahui akhir kisah yang akan Anda tulis. Ini sangat penting karena banyak orang memiliki ide cerita atau ide karakter yang menurut mereka menarik jika dituangkan menjadi karya fiksi. Biasanya Anda akan bisa menulis bab-bab awalnya, setelah itu cerita rekaan tadi akan layu dengan sendirinya. Karena apa? Si penulis tidak tahu harus bagaimana mengakhirinya. Jangan hanya menulis dengan mengalir begitu saja tanpa mengetahui arah dan tujuan, atau Anda hanya akan membuang waktu saja. Jadi cukup masuk akal kalau kita melihat penulis kenamaan John Irving memilih untuk menulis novelnya dari ending/ akhir kisah, baru kemudian menulis bagian depan dan tengah.

2. Mulai dengan premis yang unik. Satu hal yang menyebabkan kisah fiksi menjadi membosankan dan datar adalah Anda sudah pernah mendengar atau membacanya. Kisah yang sudah klise akan membosankan bagi pembaca. Kisah Anda akan mudah ditebak dan pembaca tahu arah kisah Anda dan bagaimana akhirnya nanti. Ciptakan sebuah ‘twist’ baru dalam kisah yang sudah klise, misalnya. Atau ambil sudut pandang/ point of view yang segar dan berbeda.

3. Ketahui jalan ceritanya secara runtut dalam bentuk diagram. Saat Anda akan menulis karya fiksi, cobalah menyusun kausalitasnya, dari A ke B, lalu ke C dan D. Untuk itulah Anda perlu membuat diagram dengan panah sebagai penunjuk arah jalannya cerita. Para novelis sering menggunakan diagram seperti itu untuk mengingatkan mereka dengan plot cerita, yang kompleks. Makin rumit dan panjang ceritanya, makin diperlukan susunan jalan cerita agar Anda tidak ‘tersesat’ di jalan. Jadi nantinya Anda tahu hal-hal yang harus disebutkan dalam narasi Anda.

4. Kenali karakter Anda. Inilah yang cukup menantang bagi penulis non-fiksi seperti saya yang ingin mencoba menulis fiksi. Karena terbiasa dengan kisah-kisah yang nyata, menulis kisah rekaan membuat saya menjadi berimajinasi lebih tumpul. Membayangkan seseorang yang tidak pernah terlahir di dunia nyata apalagi menceritakan bagaimana kompleksitas karakter itu dalam berbagai kacamata sungguh sangat menantang dan melelahkan pikiran. JK Rowling memiliki cara ampuh untuk mengenali karakter-karakternya dengan lebih dalam. Ia
menggambarnya di kertas kosong agar memiliki gambaran lebih nyata tentang setiap karakter. Ya, setiap karakter! Bukan hanya karakter utama tetapi semuanya, termasuk latar tempatnya. Ketahuilah deskripsi karakter Anda, seperti tinggi dan berat mereka, tampilan fisik mereka, perangai, kebiasaan bicara dan makan mereka, dan sebagainya. Makin detil penggambarannya dalam narasi, pembaca akan lebih merasakan kehadiran karakter Anda dalam pikiran mereka. Seolah tertancap kuat di otak karena si penulis, yaitu Anda, menuliskannya dengan pemahaman penuh terhadap masing-masing karakter.

5. Utarakan momen yang paling penting. Inilah yang membedakan penulis fiksi dari penulis diari/ catatan sehari-hari. Jangan hanya tulis hal-hal rutin yang sudah biasa. Mungkin bisa dijadikan selingan saja tetapi berikan porsi lebih banyak untuk narasi hal-hal yang si karakter lakukan atau hal yang menimpa si karakter yang penting, yang mengubah hidupnya, yang mengubah dirinya dari orang yang, katakanlah, miskin menjadi kaya raya. Atau semacamnya. Inilah namanya “defining moment” atau saat yang menentukan karena penting dalam jalannya cerita.

6. Menulislah setiap hari. Manusia adalah apa yang ia lakukan secara berulang-ulang. Jika Anda mau menjadi seorang penulis fiksi, tulislah fiksi setiap hari. Entah itu berapa menit atau jam, yang penting Anda menyisihkan waktu untuk benar-benar menulis. Anda boleh saja berdiskusi atau mengobrol dengan teman sebelum menulis, tetapi pada akhirnya Anda harus duduk dan menuliskan apa yang ada dalam benak Anda ke kertas atau komputer karena yang membuat Anda menjadi penulis adalah kebiasaan menulis itu. Ini hanyalah soal pembiasaan.

7. Dengarkan gaya bicara orang lain. Agar Anda tidak terjebak dalam gaya menulis dialog yang itu-itu saja, Anda harus mempelajari gaya bicara orang lain di sekitar Anda dan menyesuaikannya untuk digunakan di karya fiksi Anda. Ada yang berpendapat makin tua seseorang, makin baik ia menulis fiksi. Alasannya karena orang itu lebih banyak bertemu dengan orang lain sepanjang hidupnya. Masuk akal kalau manusia 70 tahun bisa mengenal lebih banyak orang daripada remaja 16 tahun. Dan ini akan memperkaya narasinya. Tak merasa terlalu tua untuk menulis fiksi? Jangan khawatir. Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang. Mungkin ini terdengar kontraintuitif bagi para penulis yang cenderung introvert atau tertutup dan tidak begitu suka pergaulan, tetapi cobalah untuk keluar dari zona pertemanan Anda yang sudah ada untuk mengenal lebih banyak orang baru agar Anda terekspos dengan lebih banyak tipe kepribadian yang kelak akan memperkaya cadangan fantasi Anda tentang karakter cerita fiksi yang paling ideal. Jika Anda kesulitan mempelajarinya hanya dengan mengingat gaya bicara dan kepribadian orang, cobalah menggunakan trik wartawan:merekam suara orang-orang yang sedang mengobrol. Saya kadang melakukannya dan menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Hanya dari mendengarkan percakapan, sebuah narasi yang menarik bisa lahir. Anda tinggal memoles saja agar bahasanya lebih sesuai untuk ragam tulisan. Niscaya cerita Anda akan terasa lebih mengalir dan alami.

8. Berikan kepribadian pada karakter cerita Anda. Bagaimana karakter dalam cerita Anda bereaksi terhadap sesuatu? Apa yang ia akan lakukan dalam situasi-situasi tertentu? Di sini, pemahaman psikologis seorang penulis terhadap kepribadian manusia sangat membantu memperkaya ceritanya. Sebuah cerita yang memukau biasanya memiliki
karakter-karakter yang kepribadiannya sangat dalam sehingga pembaca akan selalu teringat dengan citra sang tokoh, terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimatnya, dan sebagainya. Masalah yang sering ditemukan dalam karya-karya fiksi adalah penggambaran kepribadian karakter yang kurang mendalam sehingga terkesan hanya sepintas lalu dan kurang menancap di benak pembaca. Kebanyakan orang tidak akan peduli pada manusia yang tidak memiliki kepribadian yang unik. Di sinilah, penulis harus bekerja keras menonjolkan kepribadian masing-masing karakter dengan caranya sendiri.

9. Pastikan Anda menulis tentang hal-hal yang Anda ketahui dengan baik. Jika Anda belum tahu dan kenal dengan baik, lalau bagaimana caranya? Riset! Mengetahui suatu hal saja secara sepintas tidak menjamin Anda bisa menuliskannya dengan menarik. Anda perlu
mengenalinya lebih baik melalui penelitian. Tentu yang dimaksud penelitian di sini bukan penelitian ilmiah tetapi turun ke lapangan dan membuka semua indra Anda tentang objek yang akan ditulis. Jika tidak memungkinkan untuk menemukan objek itu secara langsung, coba membaca buku-buku atau sumber informasi lainnya tentang objek yang ingin ditulis atau yang ingin Anda singgung dalam karya fiksi Anda. Dalam jurnalisme, ada istilah “participatory journalism” yang di dalamnya sang pewarta terjun langsung agar bisa menyelami bahan yang akan ia tulis. Sama halnya dengan itu, penulis juga perlu melakukannya jika memungkinkan. Untuk menulis tentang balapan kuda, jangan sungkan datang ke arena pacuan kuda atau mengamati bagaimana orang-orang di pacuan kuda memasang taruhan mereka. Intinya, dengan terlibat atau mengamati langsung, Anda akan lebih mudah menemukan emosi dan pikiran yang khas dan hanya muncul di sebuah kondisi, tempat, dan sebagainya.

Menulis Itu Harus Egois

‎Menulis untuk orang lain itu susah, dan memang tidak seharusnya begitu. Apalagi kalau masih dalam tahap belajar. Makin terfokus pada pembaca, penulis biasanya makin stres. Dan meski stres itu bagus untuk memacu konsentrasi dan kinerja, jika berlebihan tentu dampaknya pada kreativitas berpikir seorang penulis juga kurang baik.

Menyaksikan wawancara Stephenie Meyer dengan Times, saya menyimpulkan menulis yang paling mudah adalah untuk diri sendiri. Meski untuk diri sendiri, bukan artinya bisa asal-asalan! Kita bisa ambil contoh dari catatan diari yang kata Dewi Lestari mirip “diare” verbal. Encer, keluar terus sampai si pemilik lemas, tapi miskin ampas alias esensi atau intisari yang bisa dipelajari. Maaf kalau deskripsinya terlalu memualkan.

Begini jawab Stephenie Meyer kurang lebih saat ia ditanya untuk siapa ia menulis Twilight:”Saya menulisnya untuk diri saya sendiri.” Dia tidak menulis Twilight untuk menyenangkan orang lain atau untuk dinikmati untuk orang lain tetapi karena ia ingin menulis buku yang ia hendak baca dan nikmati sendiri. Atau dengan kata lain, ia ingin menulis buku yang sesempurna mungkin di dalam benaknya demi kepuasan diri pertama-tama. Orang lain nanti dulu.

Menurut saya, pendekatan semacam ini patut dicoba. Dan ini bukan soal salah atau benar, terbukti atau tidak, tetapi lebih pada cocok atau tidak cocok karena tiap penulis memiliki gaya dan motivasi menulis yang unik.

Saya juga pernah mendengar novelis Ann Patchett ‎tidak mau mengikat kontrak buku dengan penerbit sebelum ia memang memiliki idenya dulu. Jadi Patchett menulis karena ide dalam dirinya dulu, bukan karena dipaksa oleh kontrak. Ia lebih menghargai dorongan internal dalam dirinya selama proses kreatif menulis daripada kekuatan eksternal seperti ketakutan karena melanggar tenggat waktu dan semacamnya. Saya suka pemikiran itu karena Patchett memperlakukan menulis sebagai ritual sakral, yang meski hasil kerjanya bisa dikomersialisasikan kemudian untuk mencari penghidupan tidak membuatnya terlalu murahan. Murahan adalah saat penulis menulis demi bayaran, royalti dan imbalan semata tanpa memiliki ide otentik dan idealisme serta pesan positif yang unik di dalamnya. Jiwa menulisnya rela dibiarkan tercerabut dari akarnya demi uang atau motif lain yang lebih dangkal atau keuntungan jangka pendek.

‎Jadi kalau saya harus menulis untuk lomba pun rasanya akan berbeda dibandingkan jika kita menulis karena dorongan dan inspirasi dari dalam benak. Itulah mengapa rasanya saya lebih susah menulis jika dorongan eksternal terlalu banyak bermain. Rasanya aneh, apalagi jika Anda menulis karya fiksi.

Menurut Anda?

Kampus Pertumpul Bakat Menulis?

‎Dalam sebuah wawancara, penulis terkenal asal AS Elizabeth Gilbert menjelaskan mengapa ia menolak untuk menerima tawaran mengikuti pendidikan formal di Iowa Writers’ Workshop, sebuah program pendidikan penulisan kreatif yang didesain khusus bagi para calon penulis muda berbakat yang berlokasi di University of Iowa. Program ini tergolong prestisius karena telah melahirkan sastrawan-sastrawan termasyur seperti John Irving, Paul Harding, dan sebagainya.

Menurutnya, sebagaimana ia baca dari pendapat ‎seorang sastrawan lain yang saya lupa namanya, jika seseorang mau menjadi penulis yang baik, jangan masuk dalam kampus dan tempat pendidikan formal semacam itu. Lebih baik kita berkelana dan menjalani kegiatan sehari-hari seperti orang lain, entah itu mencuci piring, berjalan, memelihara kuda dan memberi makan serta mengurus kotorannya. Maklum, Gilbert pernah akrab dengan lingkungan ranch (peternakan khas Amerika) saat menulis novel pertamanya yang menurut penuturannya sempat membuatnya ‘berdarah-darah’. Ia mengaku tidak kuat hanya untuk membuka komputernya dan menghadapi layar yang kosong dan kenyataan bahwa imajinasi dan pikirannya sedang buntu. Tak ada yang bisa dituangkan. Berkali-kali ia mengutuk dirinya sebagai pecundang kemudian memaksa diri bangkit setiap hari agar karyanya selesai entah bagaimana caranya. Dengan mengingat kata-kata pusaka dari sang ibu yang bunyinya “Done is better than perfect”, akhirnya ia menyelesaikan penulisan novel Stern Men yang kemudian diterbitkan tahun 2000. Tidak sespektakuler memoarnya Eat, Pray, Love tetapi perjuangannya sebagai penulis fiksi lebih berat di sini. Sebelumnya ia mengaku tak pernah menulis fiksi yang panjang, hanya cerpen. Novel menurutnya sebuah tantangan yang ia harus taklukkan sebagai penulis.

Dari pengalaman Gilbert itu saya kembali mencermati pengalaman saya sendiri sebagai penulis. Lain dari Gilbert, saya mengenal dunia susastera lebih dekat lewat kampus. Namun, di kampus saya diajak meneropong susastera dan tetek bengeknya dengan kacamata kritikus, peneliti, pengamat, komentator. ‎Sepanjang yang saya alami dan pelajari di kampus, saya lebih banyak diberikan alat-alat pembongkar karya sastra yang berupa seperangkat teori, aliran sastra, dan sebagainya. Telaah demi telaah kami lakukan di kelas dan di luar kelas. Saya membaca, dengan terseok-seok (karena tidak semua karya sastra yang diharuskan dibaca sesuai selera saya sebagai penikmat karya sastra), kemudian berupaya keras menemukan sisi karya itu yang bisa dibedah dengan salah satu ‘pisau’ yang sudah diberikan dosen.

Semua itu bagus tetapi terasa ada yang kurang. Menelaah karya sastra memang menyenangkan tetapi saya merasakan ketimpangan. ‎Saya tidak mau hanya menjadi pembaca, kritikus, peneliti. Saya juga mau memproduksi! Saya mau membuat karya saya sendiri. Adalah sebuah ironi bahwa saya yang belum punya karya sudah didorong berani untuk mengkritik karya orang lain. Ibarat seorang komentator sepakbola yang bahkan tak pernah turun ke lapangan, berlarian mengoper bola dan menggolkan bola ke sarang lawan. Etis kah kalau ia mengkritik pemain yang sudah bersusah payah? Kalau saya yang ditanya, saya akan jawab tidak. Menurut hemat saya, akan jauh lebih baik jika si komentator itu juga sebelumnya bermain di lapangan. Dan akan lebih baik lagi kalau ia juara sebelumnya, mantan pemain terbaik, most valuable player atau sejenisnya.

Gilbert ada benarnya juga. Mungkin lebih baik saya tidak menuntut ilmu susastera di kampus jika mau menjadi penulis, bukannya kritikus sastra, profesional.

Contoh lain ialah dua orang teman saya yang juga berbakat besar dalam menulis. Yang satu memiliki bakat linguistik dan sastrawi yang relatif menonjol tetapi kelak memilih untuk mengabdikan dirinya sebagai pegawai negeri sipil (meski katanya hanya temporer, tidak akan sampai pensiun). Yang lainnya sudah cukup berpengalaman dan berhasil menerbitkan sejumlah karya novelnya tetapi sehari-hari ia mencari nafkah di dunia ritel. Saya tidak habis pikir mengapa mereka melakukan penyia-nyiaan bakat menulis itu. Bukankah akan sangat menyenangkan bila bisa menuangkan gairah menulis yang menjadi passion dari dalam hati dan juga meraup pendapatan? Ah, mungkin mereka belum menemukan jalan itu. Atau karena inilah jalan yang diperuntukkan bagi mereka, entah sementara atau sepanjang hayat.

Tolok Ukur atau Tolak Ukur?

Seseorang bertanya, bukan kepada saya, tetapi dengan menanyakan validitas judul yang saya pakai hari ini dalam sebuah artikel yang saya unggah. “Tolok ukur” adalah frase yang saya gunakan untuk merujuk pada metrics yang digunakan sebagai pengukur kinerja sebuah kegiatan. Sementara si penanya itu menyangkal, bahwa “tolak ukur” adalah frase yang tepat.

Sempat saya ragu, tetapi kemudian saya kembali dengan bukti. Inilah salah satunya : http://www.kamusbesar.com/59017/tolok-ukur. Dan tautan laman web lain juga mendukung penggunaan frase saya: http://andixjelek.blogspot.com/2011/03/tolak-ukur-atau-tolok.html. Tolak, yang berarti “pendorong”, kurang tepat di konteks ini karena di kalimat ini dibutuhkan makna “sesuatu yang berguna sebagai pembanding”.

Satu artikel (http://arif.widarto.net/2010/10/tolok-ukur-atau-tolak-ukur-penggunaan.html) bahkan menekankan keprihatinan atas kesalahan dalam penggunaan ini. Lebih banyak orang yang menggunakan “tolak ukur” padahal yang lebih tepat adalah “tolok ukur”. Dan banyak pengguna bahasa Indonesia kurang memahami ini yang diperparah dengan sebuah kesalahan yang justru dianggap dan diterima sebagai sebuah kelaziman dan akhirnya kebenaran.

Jadi, saya tidak salah bukan?

Membuat Storyboarding untuk Penulis

wpid-IMG_20120913_195628.jpg

Menulis buku tidak semudah yang dibayangkan orang. Banyak sekali detil-detil yang harus dipersiapkan agar buku yang ditulis memenuhi tujuan penulisannya. Bagi pemula seperti saya misalnya, saran apapun untuk memperbaiki gaya dan cara penulisan yang selama ini sudah digunakan sangatlah perlu, bahkan wajib. Berpuas diri dengan pujian yang datang dari orang awam boleh saja tetapi jangan terlalu lama dan menyeret ke stagnansi yang akhirnya bisa mematikan peningkatan kualitas diri.

Membuat storyboard sendiri belum pernah saya lakukan selama ini. Saya hanya mengalir begitu saja saat menulis. Namun demikian, lama kelamaan saya menyadari pentingnya menulis dengan mempersiapkan storyboarding terlebih dahulu. Sekarang saya tak terlalu membutuhkannya karena artikel-artikel yang saya tulis hanyalah pendek-pendek saja dan bahkan lebih banyak yang tinggal terjemahkan, sadur dan parafrase. Saya pikir kini saatnya saya harus belajar menulis tulisan-tulisan yang lebih panjang, lebih bersumber dari pemikiran saya sendiri meskipun itu harus membutuhkan lebih banyak waktu. Harus diakui bahwa menulis sebuah tulisan yang analitis, memeras otak, runtut dan lebih banyak bersumber dari pendapat pribadi merupakan kepuasan tersendiri, terlebih jika disukai lebih banyak orang. Mungkin karena itulah saya kurang puas dengan dunia penulisan online yang cenderung instan dan cepat, yang hanya berpatokan pada jumlah hits dan kunjungan pengguna Internet. Kini saya mulai memikirkan bagaimana memperbaiki gaya penulisan yang sudah terbiasa dengan gaya yang demikian instan, bahkan hampir-hampir tanpa berpikir. Sudah semestinya saya harus demikian, jika tidak saya yang merugi karena tidak membuat kemajuan apapun di bidang yang saya tekuni sebagai mata pencaharian ini.

Sebenarnya istilah storyboarding ini sudah saya dengar beberapa kali dalam berbagai uraian metode penulisan tetapi belum pernah saya baca secara serius apalagi saya terapkan dalam kegiatan menulis sehari-hari karena sekali lagi saya memang tidak punya waktu sebanyak itu di tempat bekerja saya yang sekarang.

Lalu saya iseng saja mencari berbagai video tutorial di YouTube tentang kepenulisan, dan saya menemukan video “Your Book Starts Here” yang di dalamnya berisi penjelasan menarik dari penulis Mary Carroll Moore mengenai storyboarding.

Sebagai seorang penulis konten online, saya memang tidak pernah sekalipun harus menghadapi tantangan berarti saat harus menembus ijin editor, karena editor saya hanya satu orang saja dan itu pun ia harus bagi waktu dengan situs lain. Jadi bisa Anda bayangkan bagaimana tingkat akurasi hasil editing  atau penyuntingan naskah artikel web kami. Itulah yang menjadi kelemahan terbesar dunia kepenulisan online, kurangnya editor yang bisa diandalkan untuk menghasilkan naskah yang benar-benar berkualitas maksimal! Semuanya harus berpacu dengan waktu.

Ini sama sekali lain dengan dunia kepenulisan ‘konvensional’ yang lebih banyak menggunakan tenaga editor untuk menyempurnakan naskah yang sudah dihasilkan penulis. Pembaca pun lebih puas dan nikmat karena hasilnya lebih rapi, berkualitas, bebas salah eja alias typo yang mengganggu, dan sebagainya. Walaupun sebagian kesalahan ini cukup ‘remeh’ kesannya tetapi di situlah letak profesionalisme seorang penulis, editor dan penerbitnya. Semua saling berkaitan. Perfection lies in details.

Menurut Moore, seorang penulis seperti dirinya sangat beruntung untuk bekerjasama atau pernah menyaksikan bagaimana sebuah tim editor bekerja menyempurnakan naskah awal menjadi sebuah manuskrip yang siap dicetak dan dijual. Editor mengemban peran yang sangat penting karena mereka merapikan naskah agar isinya lebih mudah dipahami pembaca kelak.

Moore mengatakan pentingnya pengaturan dan penyusunan ‘islands’ dalam menulis naskah buku. Apa yang dimaksud dengan ‘islands’ ini? Islands ialah poin-poin yang acak yang nantinya  menyusun buku, yang nantinya bisa dirangkai menjadi sebuah kesatuan yang masuk akal dan enak dinikmati pembaca. Jika bisa diterjemahkan dengan bebas, ‘islands’ dapat dipadankan dengan ‘pulau-pulau ide’.

Pertama-tama yang harus dilakukan sebelum menyusun storyboard ialah melakukan curah gagasan (brainstorming). Di sini kita cukup menuangkan segala gagasan yang melintas dalam pikiran dalam sebuah daftar topik. Nantinya ini bisa digunakan sebagai dasar menentukan ‘islands’. Tulis berbagai macam poin yang menurut kita bisa dibahas dalam sebuah buku tanpa harus berpikir terlalu banyak. Catat saja. Urusan mengurutkan dan membuatnya lebih runtut, enak dibaca adalah urusan kemudian. Moore menyarankan mebuat sekitar 25 islands dalam brainstorming untuk penulisan sebuah buku. Tentunya ini sangat bergantung pada banyak faktor, tidaklah harus 25. Daftar islands ini akan menjadi panduan dalam menulis buku selanjutnya.

Apa yang sangat krusial dalam storyboarding ialah struktur 3 babak (3-act structure) yang memberikan sebuah buku permulaan, isi dan akhir yang jelas. Mengapa struktur ini perlu? Karena sebuah buku (terutama fiksi) bagi pembaca berperan sebagai alat untuk melampiaskan dan melepaskan emosi, atau yang disebut dengan emotional catharsis. Maknanya hampir sama dengan pembersihan jiwa seseorang dengan membuatnya lebih lega, kaya dengan pengalaman kehidupan yang diberikan dalam buku. Meski demikian, buku-buku non-fiksi pun tetap perlu menggunakan struktur 3 babak ini. Bahkan untuk berbagai genre karya lain seperti memoar, struktur 3 babak ini dapat diterapkan.

Struktur 3 babak ini jika digambarkan dalam sebuah diagram akan berbentuk seperti huruf W. Untuk itu pilihlah 5 islands paling menonjol dalam daftar yang sudah dibuat sebelumnya. Babak 1 berada di puncak pertama dinamai “Triggering Event” atau Peristiwa Pemicu. Di sini diceritakan peristiwa luar yang memulai tindakan/ aksi. Tanpa peristiwa pemicu ini, seluruh isi buku tidak bisa dimulai untuk dipaparkan. Moore mencontohkan triggering event bisa berupa kelahiran atau kematian, munculnya sebuah rahasia yang harus diungkap, dimulainya sebuah perjalanan, dan sebagainya.

W diagram stroyboardDari triggering event, kita mengarah turun. Ini dinamakan “setting up a problem” (penyajian masalah) yang akan menjadi bagian untuk menambah ketegangan dalam cerita. Setelah turun hingga ke dasar, kita akan temukan “first turning point” atau titik balik pertama dalam cerita. Inilah bagian atau poin pertama. Dari titik balik di bawah, arah cerita kembali ke atas saat cerita mulai menunjukkan perkembangan yang positif, maksudnya terjadi peristiwa yang sesuai dengan kehendak para pembaca seperti mulai ditemukannya petunjuk tentang pelaku kejahatan, atau sebuah harapan baru muncul atau ide baru yang lebih baik mulai terdeteksi.

Bagian berikutnya dalam diagram W ialah naiknya alur cerita yang disebut sebagai babak ke 2 yang dinamai “recovering from the problem” (pulih dari masalah). Harapan atau ide baru memberikan momentum positif.

Sampailah kita ke puncak kedua dalam diagram W yang disebut sebagai babak ke-2 dalam cerita. Moore menyebutnya sebagai “the pop moment”, yang di dalamnya memuat klimaks. Dan sebagaimana kita ketahui, dalam klimaks, masalah akan makin membesar hingga tidak terbendung lagi dan akhirnya meledak. Ibarat bom, inilah waktu meledaknya bom waktu yang sudah disulut sumbunya dari awal cerita.

Dari puncak kedua, alur kisah menurun kembali karena masalah terus memburuk dan belum ditemukan jalan keluar. Terjadilah peristiwa pemicu kedua yang menunjukkan makin peliknya masalah atau konflik. Inilah bagian yang disebut Moore sebagai “deepening of the problem”, atau makin parahnya masalah/ konflik.

Berikutnya, alur kisah sampai di titik balik kedua. Titik terendah kedua ini disebut “second turning point”.  Biasanya setelah penulis menceritakan bagaimana parahnya konflik, rumitnya masalah sehingga semua jalan tampak sudah tertutup, tak ada lagi harapan, semua solusi yang mungkin sudah dicoba dan masih gagal pula, kebuntuan seakan menghadang dan skenario terburuk dipaparkan. Namun, akhirnya muncul sebuah titik harapan baru di titik balik kedua ini. Titik balik ini naik ke atas untuk menunjukkan perubahan arah cerita yang positif atau sesuai kehendak pembaca yang bisa diwujudkan dalam bentuk munculnya harapan baru, bantuan yang tak disangka-sangka, atau perubahan dalam diri karakter cerita. Pada gilirannya, semua ini akan membentuk pemahaman baru atau pencerahan yang menjadi solusi konflik. Dalam buku-buku fiksi, sebelum bagian penutup disajikan, umumnya dijelaskan sebuah momen pencerahan yang Moore sebut sebagai “Oh my God point”. Dalam genre misteri, ini disebut sebagai titik krisis (crisis point), yakni naiknya intensitas konflik yang mengarah ke solusi.

Struktur storyboard W ini akhirnya ditutup dengan babak ketiga yang berupa bagian akhir yang di dalamnya terjadi penyelesaian konflik atau pemberian solusi.

Moore menjelaskan penulis harus bisa jeli mengkelompokkan peristiwa-peristiwa yang negatif dan positif untuk dimasukkan dalam diagram W tersebut. Peristiwa negatif lazim dimasukkan dalam bagian diagram yang menurun, sementara peristiwa positif di bagian yang naik.

Selain itu, penulis juga tidak perlu harus mengikuti garis lurus dalam diagram W. Misalnya, dicontohkan oleh Moore, dalam bagian kisah yang menurun, seorang penulis bisa berkreasi dengan membuat jalan cerita sedikit naik turun, tidak lurus turun begitu saja. Dengan demikian, dinamika cerita menjadi lebih terasa. Tetapi arahnya secara garis besar tetaplah menurun terus.

Jika storyboard yang sudah kita susun susah payah tersebut malah membuat pikiran kita buntu, kata Moore, jangan putus asa dan coba kembali melakukan brainstorming topik dan buat daftar islands seperti yang sudah dilakukan sebelumnya.

Islands atau pulau-pulau ide itu menurut Moore harus dikembangkan menjadi ‘benua’, yang artinya berkembang menjadi lebih besar dan berbobot. Menurut saya, cara membuatnya lebih berbobot, lebih riil, lebih mempesona ialah dengan memberikannya detil-detil yang banyak dan relevan yang hanya bisa diperoleh dengan berbagai proses riset yang mendalam. Banyak penulis  yang mengabaikan riset (entah itu wawancara, telaah pustaka, survei lapangan) karena ‘kejar setoran’. Dan inilah yang membuat kualitas karya mereka kurang memenuhi harapan pembaca.

Tak hanya sampai di situ, storyboard yang telah disusun pun perlu direvisi kembali jika dipandang tidak bisa mengakomodasi aspirasi Anda sebagai penulis. Dengan kata lain, penulis bisa mengubah isi storyboard yang dirasa perlu pengembangan atau perbaikan. Perbaikan sah-sah saja dilakukan, kata Moore. Ia melakukan storyboard pertama sebagai draft kasar, kemudian meninjau ulang untuk memastikan telah benar-benar baik dan akhirnya menyempurnakannya. Penyesuaian storyboard diperlukan seiring dengan berkembangnya perjalanan pemikiran penulis mengenai penulisan bukunya.

Dan sekali lagi, storyboard ini bermanfaat untuk membuat penulis tetap terarah saat mengembangkan cerita dengan tetap setia pada tema besar, voice (sudut pandang) dan pacing (kecepatan bercerita). Jangan abaikan dilema yang menjadi jiwa dalam cerita. Pastikan dilemanya cukup signifikan untuk membuat kisah lebih dramatis.

Dalam Menulis, Kejelasan Itu Segalanya

image

Albert Camus, seorang penulis yang kita kenal juga sebagai pemikir, menyarankan kita untuk menulis dengan jelas. Sederhana nasihatnya, tetapi dalam implementasinya bisa sangat rumit.
Saya sendiri merasakan sukarnya menulis dengan memegang prinsip ini. Saat ide langka, saya memaksakan menulis dengan apa yang ada di kepala. Setelah ide yang langka itu habis, terjebaklah saya dalam repetisi. Mengulang-ulang gagasan yang sama, struktur yang sama dan kata yang sama pula. Akhirnya kejelasan ide pokok tidak tercapai. Semua kabur.
Saat banjir ide, masalahnya berbeda tetapi akibatnya juga sama, mengaburkan ide pokok. Ide-ide yang keluar bersamaan bisa membuat saya kewalahan. Mengaturnya menjadi lebih menantang. Dan tidak jarang ide itu beragam topiknya dan susah menghubungkannya menjadi satu rangkaian yang terhubung benang merah yang menyatukan. Semuanya asal dan sembarang tuang. Tak peduli saling relevan, kohesif dan koheren atau tidak. Yang penting layar tidak kosong. Yang penting ada kata yang bisa kita suguhkan pada pembaca. Yang penting sudah menulis!
Meski demikian, inilah tahap yang harus dilalui untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas. Mau berpikir lebih keras jika memang kurang lengkap dan mau berlapang dada merelakan kalimat-kalimat indah yang tidak relevan dalam tulisan kita.

%d bloggers like this: