Dedikasi dan Penghormatan untuk Yoga, Alasan B. K. S. Iyengar Latihan 2 Jam Tiap Hari Selama 80 Tahun

image

Berikut adalah petikan wawancara dengan tokoh yoga legendaris B. K. S. Iyengar yang saya kutip dan terjemahkan secara bebas dari laman Sakal Times.

Pertanyaan:”Apa yang memotivasi Anda berlatih yoga selama 2 jam setiap hari bahkan di usia 95 tahun?”

Jawaban:”Saya sudah berlatih yoga selama 80 tahun. Saya tidak perlu motivasi eksternal. Semua datang dari diri sendiri.

Yoga sudah memberikan saya nama, ketenaran dan semuanya. Maka dari itu, saya memberikan penghormatan pada yoga dengan melaksanakannya setiap hari. Dedikasi saya pada yoga adalah satu-satunya motivasi saya.”

Pertanyaan:”Apa pesan Anda pada generasi muda?”

Jawaban:”Tubuh ini seperti pakaian bagi jiwa. Tugas kita adalah memeliharanya. Ia wadah bagi jiwa. Tanpa pakaian ini, kita tidak bisa bergerak dan berbicara. Maka dari itu, badan harus dipelihara. Yoga tidak cuma memelihara badan fisik tetapi membawa kedamaian pada pikiran. Dengan ketenangan pikiran, Anda bisa menjadi lebih toleran, sabar dan penuh welas asih. Inilah yang paling diperlukan di masa sekarang. Ia akan mengajarkan pada Anda bagaimana membebaskan diri dari kesombongan. Yoga merupakan cara terbaik memelihara jiwa dan raga dan itulah mengapa yoga harus dilakukan setiap hari dengan sepenuh hati. Setiap orang semestinya melakukan latihan yoga setiap hari. Seseorang tak perlu mengorbankan kegiatan lainnya untuk berlatih yoga. Sembari kita menjalani rutinitas hidup, kita juga harus menyisihkan waktu untuk diri sendiri.”

Pertanyaan:”Seberapa banyak yoga yang harus dilakukan setiap hari?”

Jawaban:”Seseorang seharusnya berlatih yoga setidaknya selama satu jam setiap hari. Itu yang paling minimum, tidak bisa lebih rendah dari itu. Sebagian orang berpendapat berlatih yoga selama 15-20 menit sudah cukup. Itu belum cukup. Jika Anda melakukan olahraga lain seperti renang, berjalan, lari, Anda masih harus sisihkan waktu setidaknya separuh jam untuk yoga. Itu karena yoga melatih pikiran Anda, sesuatu yang tidak bisa dilakukan olahraga lainnya.

Waktu yang Anda habiskan untuk berlatih yoga adalah satu-satunya waktu saat Anda fokus pada diri sendiri. Hanya inilah yang bisa membawa ketenangan dalam pikiran.”

Serba-serbi Metode Yoga: Ashtanga (1)

Tirumalai Krishnamacharya: The Mysore school.
Mysore school of yoga back then. Does seeing these bendy lads make your back sore? (Image via Wikipedia)

Sudah lama sebenarnya mau menulis artikel blog tentang topik satu ini. Saya tahu persis topik semacam ini cukup banyak dibahas oleh para pegiat yoga yang masih ‘hijau’ seperti saya. Ya, siapa yang tidak bingung dihadapkan dengan pilihan metode yoga yang konon menurut Majalah Fit Yoga yang saya baca ini sudah mencapai 280 jenis? Angka yang demikian banyak.

Saya sendiri selama berlatih sejak 1 tahun 2,5 bulan yang lalu masih mengalami kegalauan yang sama (oh no, yoga pun ada istilah galau). Kebetulan ada banyak teman dan kenalan saya yang memiliki kapasitas dan kompetensi yoga yang lebih teruji tetapi rasanya tidak mungkin menanyakan pertanyaan “Ada berapa jenis yoga sih di dunia ini?” Akhirnya saya coba cari jawabannya sendiri. Dan satu artikel di majalah Fit Yoga edisi 2010 ini saya sedikit temukan pencerahan. Tenang saja, saya tak akan menjelaskan 208 poin tentang masing-masing metode yang ada karena di sini hanya akan dijelaskan 11 di antaranya yang mungkin dianggap paling banyak diajarkan dan diminati orang.

Langsung saja kita telaah apa saja 11 metode yoga itu. Setiap metode akan saya bahas dalam satu tulisan singkat saja. Terlalu panjang jika dimuat semuanya.Yang pertama yang akan saya bahas adalah Ashtanga yoga.

ASHTANGA (kpjayi.org, ashtanga.com)

Filosofi Ashtanga yoga yang didirikan Shri K. Patthabi Jois (1915-2009) ialah melakukan gaya kita sendiri dan fokus pada pikiran, mendalami postur, berlanjut dengan gerakan yang menantang tanpa cedera, diakhiri dengan meditasi.

Kata “ashtanga” sendiri bermakna delapan bagian. Sehubungan dengan konteks yoga, terdapat 8 tangga yoga. Jadi bila saya boleh berspekulasi , “ash” itu 8, dan “tanga” itu jenjang atau tangga. (koreksi: Atin di kotak komentar membenarkan bahwa “astha” artinya 8 dan “thanga” tangga. Sedang “ash” itu “hari Rabu”) Memang banyak bahasa Sansekerta di dunia yoga yang mirip dengan pengucapan dan makna kata-kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa ibu saya yang utama: bahasa Jawa.

Delapan tangga yoga untuk mencapai kebangkitan spiritual atau pencerahan (samadhi). Dalam konteks modern, kata ashtanga sering dipakai untuk menyebut jenis hatha yoga ashtanga vinyasa yang diangkat oleh Patthabi Jois karena dialah pelopornya.

Inti latihannya terilhami oleh Vinyasa yoga yang bersifat aerobik. Ashtanga tradisional disebut Mysore style. Mysore adalah salah satu kota di India yang menjadi pusat studi Ashtanga. Teman saya Devi Asmarani yang mengajar tadi pagi menekuni jenis yoga ini (tambahan: Devi mempelajari Ashtanga selama 7 tahun dan kemudian beralih ke prana vashya sehingga kini ia tidak lagi bisa disebut praktisi ashtanga). Dan karena saya ikuti latihannya dan membaca bukunya, saya kira saya juga sedikit banyak terpengaruh oleh metode ini.

Metode ini bisa dikatakan halus dan tanpa jeda. Terutama sekali karakteristik ini saya bisa rasakan saat melakukan rangkaian sun salutation atau surya namaskara seperti yang diajarkan Devi tadi pagi (Devi mengatakan sun salutation yang ia ajarkan itu bukan berdasarkan ashtanga tetapi prana vashya yang ia modifikasi sendiri). Sesuai irama napas, makin lama makin cepat. Keringat biasanya mulai mengucur dengan 5 putaran saja. Pernah Yoga Gembira adakan “108 sun salutation” (tepatnya setahun lalu) untuk sumbang dana ke Jepang yang dilanda tsunami. Jika 5 putaran sudah demikian menguras kalori, bagaimana dengan melakukannya 108 kali? Membayangkan pun sudah lemas.

Kita bisa belajar rasakan apa yang terjadi selama latihan tanpa menolak atau menghindar. Dengan latihan rutin, kemampuan rasakan perubahan akan meningkat, termasuk aspek-aspek dalam kehidupan.

Saya juga pernah membaca adanya keterkaitan ashtanga sekarang ini dengan ajaran Patanjali. Patanjali konon merupakan penulis atau kurator kitab Yoga Sutra (sutra : lembaran naskah kuno) yang diperkirakan hidup sekitar abad ke 2 sebelum masehi. Sebagian lain menganggapnya sebagai satu individu sementara yang lain berkata Patanjali adalah sekumpulan orang.

Pembaruan:

Devi Asmarani menambahkan (sebagaimana ia tuliskan di kotak komentar dalam bahasa Inggris) bahwa ada beberapa poin yang ia ingin perjelas tentang ashtanga:

[Ashtanga] sering dianggap sama dengan “ashtanga yoga” Patanjali, yang juga filosofi Raja Yoga (atau Patanjali atau yoga klasik) bahwa terdapat 8 tangga praktik untuk mencapai samadhi atau keadaan penuh kesadaran atau keterkaitan.

Ashtanga Vinyasa yang dikembangkan oleh almarhum Patabhi Jois pada dasarnya ialah rangkaian yang diperkenalkan oleh guru Jois, alm. T. Krishnamacharya (yang masih memiliki hubungan asal muasal dengan apa yang ia praktikkan sekarang). Jois dan beberapa guru yoga senior seperti BKS Iyengar merupakan murid-murid Krishnamacharya saat mereka masih muda, remaja bahkan. Inilah menjelaskan mengapa ashtanga ialah praktik  yang dinamis, (karena) sebenarnya ia diciptakan bagi para remaja untuk berolahraga. Dan ia juga perpaduan antara beberapa postur yoga klasik dan senam ala Barat serta gerakan akrobatik yang kala itu populer. Krishnamacharya sebetulnya bertemu dengan seorang seorang pesenam dari Barat saat ia mengajar di Istana Maharaja Mysore.

Patabhi Jois bukan hanya satu-satunya yang mengajarkan ashtanga. Di Mysore, guru lain bernama BNS Iyengar juga mengajarkannya tetapi karena Jois adalah yang pertama mengajarkannya pada orang-orang Barat, tempatnya menjadi pusat bagi banyak ashtangi [pegiat ashtanga]. Pusat KPJAYI sekarang dikelola oleh cucunya, Sharath. Saya [Devi, maksudnya] belajar dengan Sharath dua tahun lalu.

(Dipublikasikan dengan WordPress for Android)

Happy Birthday to Myself!


Carla, the short-haired seasoned art contributor of the Jakarta Post I saw today. She's been to Venice, Paris, just to cover arts.

The great day is today, October 27th 2011. No words can exactly depict my gratitude to God. It’s my birthday.

I started my day around 5.15 today. Slightly chilly, no wonder it was raining in torrents last night. Not as usual, after subuh/ early morning  prayer, I suddenly had an urge to grade the students’ papers. I should’ve gotten it done months ago, but well.. every weekend it seems my brain can’t handle demanding tasks. Need to take a break, seriously. No, don’t get me wrong. I love my job but when you do the same things repeatedly, boredom strikes and that sounds pretty normal. You’re no machine.

Juggling between two jobs is definitely a challenge. Getting richer? For sure. Getting wary? Don’t ask.

Carla taking pictures.

And the morning ritual proceeded. This time I started my morning yoga session late, around 6.40 am. But better late than never. I didn’t sweat a lot this morning. Perhaps it’s because of the cool air. In the meantime, several texts arrived in my message inbox,congratulating me on my 28th birthday. Oddly, none of these texters’ numbers is familiar to me.

FYI, I deleted my actual date of birth on Facebook only to learn how many people remember my birthday WITHOUT the help of Facebook’s reminder. And I’m glad some still congratulated even my birthday wasn’t on the alert. Technology is great but it’s not when it comes to personal feelings. You can’t automate sincerity, care, or gratitude.

Then the routine continued, getting myself prepared to go to the office, with all my properties in the backpack. “Never leave anything precious in the vacant rented room in Jakarta” is one of the best lesson learned after a case of burglar last few months.

Stepping my feet on the office at 08.27, I rushed into the prayer room. Dhuha prayer was done and copywrote some articles before my late breakfast around 10.10. The breakfast was my old style meal: oatmeal, honey, and 2 apples.

While peeling the apples, a coworker named D came into the pantry. And suddenly we were discussing about foods, health, and I found myself preaching about balance, why people don’t have to stick too much to a strict diet to get healthy. Cheating may sometimes be needed to stick to what we want to achieve in the long run. Eating mindfully is what is great to the body and mind-controlling works best when it comes to curbing ‘evil’ appetite.

Split headstand, a pose I used to think very challenging months ago. I think yoga is for me.

As I realized we talked too much, I got back upstairs, only to be told I had to go to the gallery. “A press conference you need to attend,” the m*d*s* said. There I went.

It turned out a tour in the gallery for some journalists invited. It was a tour and because there was no one appointed a tour leader, everyone seemed scattered every where they wanted. It fell apart, to me. Too few people came as well for an art exhibition this huge.

What  I will remember most about today is the conversation I heard between Clara, an experienced art contributor I several times spotted here, and the art center director. In short, she opened my eyes about how vast the potential of becoming a writer and a traveller. So it popped out on my mind, “Someday I’ll follow her track, going around the globe and writing every single thing I see on the trip.” I want to follow the passion yet the fear holds me back.

I tweeted last Wednesday an idea of backpacking, learning yoga and writing a book at the same time. Iwan Setyawan replied , saying that was a great idea. He suggested me to Mysore, India. It turned out Shri K. Patthabi Jois’ yoga sanctuary. Jois is a yogi , a guru so renowned for his ashtanga yoga teachings. I clicked on the link Iwan gave (kpjayi.org) and randomly combed the photos of young Jois doing yoga. Clearly stated by the pictures, yoga is for slim, flexible people hardly having flesh like ..me? And yes I think so. Everyone has their own propensity and limitation. To me, I can’t be as muscular as the bodybuilders but I later concluded that this body frame is what some people are looking for! They’re dying night and day only to be as thin and flexible as me. So be grateful please, Akhlis!

Speaking about passion and the challenges arising after deciding to follow it, I recall Soegianto. This 30-year-young man  really hit the bull’s eye. I talked with him for one and a half hour for an interview we arranged a week before. What stunned me is the fact that this seemingly mild-mannered guy can go as outspoken as one can be when it comes to explaining his passion, his startup: Sedapur. A man with a load of noble missions and visions. Interesting and aspiring.

And recently I listen to Shania Twain’s songs again after a while. This song below is titled “Today is your day”, pretty much her personal story about how to weather a devastating betrayal. As for me, today is my day too. Because I get tired of setting goals, let me simplify how I want to be remembered when I someday die:

“An obituary of MYSELF”

I ……………………………………..

 

 

 

 

%d bloggers like this: