Pandemi Diary: Siap-siap Gelombang Entah ke Berapa…

COVID-19 belum sirna dari muka bumi dan memang takkan pernah musnah.

Alih-alih hilang, ia terus bermutasi, berubah dan beradaptasi dengan lingkungan.

Dan celakanya mungkin ia berubah menjadi lebih kuat daripada sebelumya.

Dikabarkan di media massa akhir-akhir ini jumlah kasus Covid kembali naik.

Tapi apakah itu bisa dipercaya?

Kalau kata salah satu pakar (virologi) Prof. G. N. Mahardika dari Universitas Udayana Bali, jumlah kasus di Indonesia sama sekali tidak bisa dijadikan patokan, guys.

Haha Ya bagaimana lagi kan memang cara pengujian dan jumlah pengujian juga rendah sekali.

Kita masih menggunakan rapid antigen, bukan PCR. 

Rapid antigen ini tingkat sensitivitasnya lebih rendah dan tidak akurat.

Latar belakang / pemicu kenaikan kasus juga belum diketahui dengan akurat. Apakah itu karena peningkatan testing karena makin banyak yang masuk rumah sakit, atau karena ada pasien yang mendapatkan perawatan tertentu atau karena perjalanan yang makin sering akhir-akhir ini terutama di kelompok yang belum divaksinasi booster (ketiga)? Atau apakah memang pemerintah melakukan pengujian secara acak di tempat-tempat umum seperti stasiun kereta?

Dengan kata lain, pernyataan kenaikan jumlah kasus Covid itu tidak bisa diketahui secara akurat.

Yang pasti adalah protein di virus mutasi baru BA 2 hingga BA 5 ini tidak berbeda jauh dari nenek moyangnya. Tidak ada indikasi yang menyatakan bahwa proteinnya berbeda jauh dari Covid Omicron.

Omicron ini bahkan dikatakan sudah menginfeksi 60-80% warga dunia. Jadi sebenarnya kita sudah tervaksinasi secara alami di samping menjalani vaksinasi buatan.

Lalu soal kemampuan virus Covid varian BA 4 dan 5 menghindari vaksin sehingga dikatakan varian ini lebih kuat, kurang beralasan. Kecepatan replikasinya juga tidak banyak berubah dari nenek moyangnya dulu. Makanya kekuatan vaksin menghadapi varian-varian baru ini juga masih bisa diandalkan. Ketakutan bahwa vaksin sudah tidak mempan menghalau varian baru Covid ini tidak beralasan.

Sebagai gantinya, tolok ukur yang bisa digunakan adalah tingkat okupansi rumah sakit saat ini dan juga prevalensi global. Menurut virolog ini, tren prevalensi varian-varian Covid ini menurun juga di seluruh dunia. Hanya saja varian BA2,4, dan 5 ini memiliki tingkat penularan lebih tinggi daripada Omicron.

Jadi ya kembai lagi ke protokol kesehatan yang jadi senjata pusaka kita itu. Haha. 

Kalau ditanya bagaimana bisa varian baru ini menular? Ya karena memang protokol kesehatan sudah diabaikan. Jangankan di ruangan terbuka, di ruangan tertutup juga orang sudah mulai mengabaikan pemakaian masker. 

Mau bagaimana lagi? Karena pemerintah juga sudah mencabut level PPKM dan juga tidak peduli lagi dengan penularan ini. Presiden sudah mengizinkan buka masker di ruang terbuka saat bertemu orang lain. 

Dengan vaksinasi, pemerintah seolah sudah ‘lepas tangan’. Kalau masih tertular itu urusan Anda masing-masing ya. 

Masalah kita dalam penanganan pandemi dari dulu smapai sekarang juga masih sama kok: 100% masyarakat bersama-sama menjalankan protokol kesehatan.

Ini yang dari dulu sulitnya minta ampun! Karena ada saja yang membandel. Entah itu berkerumun, menurunkan masker karena berbagai alasan, dan sebagainya. (*/)

Pandemic Diary: Apakah Benar Indonesia Sukses Lewati Pandemi Covid-19?

SETELAH presiden Joko Widodo mengumumkan masyarakat boleh copot masker di ruang terbuka beberapa waktu lalu dan penurunan level PPKM ke level terendah serta dibolehkannya mudik Lebaran tahun ini, masyarakat Indonesia seakan tumpah ruah ke berbagai wilayah untuk melampiaskan keterkungkungan mereka selama 2 tahun ini dalam rumah.

Saya sendiri melihat pusat-pusat perekonomian makin menggeliat. Mall mulai ramai lagi, bioskop pun dibuka kembali. Ini bisa dilihat dari berbagai unggahan di media sosial terutama Instagram stories yang menunjukkan kembalinya orang Indonesia ke fasilitas umum, layaknya sebelum pandemi menyerang.

Dan setelah apa yang terjadi selama 2 tahun ini, saya pernah mendengar seseorang bertanya: “Memangnya Covid itu ada ya?”

Haha serius. Saya tidak bohong. Ya begitulah kondisi di lapangan. Sudah dibombardir dengan berbagai berita dan informasi tapi kalau sudah tak percaya dari dalam hatinya, ya sudah. Tidak bisa dipaksa. Bahkan hingga ia sudah terjangkit pun, bisa saja lho masih berkata: “Ini bukan Covid.” Lalu harus bagaimana?

Pengumuman copot masker di ruang terbuka itu sendiri dikatakan sangat terlambat. Bahkan jadi lucu karena sesungguhnya di lapangan masyarakat sudah sejak lama sudah mencopot masker mereka. Imbauan pemerintah untuk selalu pakai masker saat di luar rumah hanya mempan saat di tempat umum dengan kepentingan ekonomi yang tinggi semacam pasar, mall, sekolah, pabrik, stasiun kendaraan umum, dan sebagainya. Tapi di luar itu semua ya masker tak pernah dipakai lagi. Bahkan aparat kalau keluar area kerja juga sudah copot masker meski belum dibolehkan presiden kok. Dan tak perlu ke kampung-kampung, Anda bisa temukan orang tak pakai masker di tengah Jakarta.

Setelah pengumuman presiden ini, masker menjadi semacam pernyataan sikap dan pemikiran seseorang mengenai kesehatan mereka. Mereka yang bersikap waspada dan hati-hati dengan kesehatan, masih memilih untuk mengenakan masker. Apalagi mengingat level pencemaran udara bagi Anda yang tinggal di perkotaan itu tinggi. Masker bisa mengurangi dampak pencemaran pada paru-paru kita. Lalu belum lagi virus selain Covid, misalnya TBC, flu, infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) yang bisa menjangkiti kita semua di lingkungan yang makin tak terbendung saja.2

Meski RI ditunjuk menjadi tuan rumah Forum Penanganan Bencana PBB tahun ini, tapi untuk mengatakan RI sukses melewati pandemi ini, rasanya kok terlaku pongah ya.

Kita jangan lupa deh dengan berbagai pekerjaan rumah yang masih terbengkalai di dalam rumah. Termasuk penyesuaian hidup dengan perubahan iklim yang konon juga berkaitan dengan munculnya Covid-19 ini. Penularan virus hewan ke manusia ini awalnya ya dari perambahan hutan dan eksploitasi satwa liar yang seharusnya dibiarkan hidup di hutan, bukan dikonsumsi manusia.

Tapi namanya juga manusia. Makin dilarang, makin bernafsu malahan.

Soal keberhasilan vaksinasi, ada yang mengklaim kita bisa menghasilkan vaksin sendiri dari Biopharma. Tapi nyatanya di lapangan kan stoknya tak bisa mencukupi untuk satu negara. Malahan yang populer dan lebih membanjiri program vaksinasi itu jenis vaksin asing macam Pfizer, Moderna, Astrazeneca, Sinovac, dan sebagainya. Memang vaksinnya gratis tapi kita tidak tahu apa yang harus digadaikan negara demi mendapatkan hibah vaksin ini ya.

Sekarang pemerintah menepuk dada bahwa hasil penanganan pandemi mereka sukses. Hasilnya sekarang masyarakat Indonesia sudah bisa kembali beraktivitas, roda ekonomi kembali berputar, semuanya kembali bekerja seperti sediakala. Ekonomi pun digenjot terus demi mencapai target pertumbuhan di atas 5% tahun ini. Optimisme meluber ke mana-mana dengan dibukanya kran turis baik ke dalam dan ke luar negeri. Pokoknya optimis teruslah ya.

Resiliensi dan daya lenting masyarakat Indonesia memang mencengangkan tapi itu bukan berarti pemerintah bisa mengakuinya sebagian hasil kerja kerasnya selama ini. Itu prestasi milik rakyat. Please jangan diakui sebagai hasil kerja Anda, bapak-bapak birokrat.

Ketangguhan masyarakat ini bukan berarti pemerintah lalu membiarkan masyarakat begitu saja. Tetap dong bapak-bapak harus kerja keras memberikan perlindungan dan kemudahan bagi rakyat yang sudah bekerja membanting tulang begini. Jangan malah tambah dipajaki makin tinggi. (*/)

Pandemic Diary: Setelah Kedaruratan Lewat, Wajibkah Vaksin Covid-19 Mulai Disertifikasi Halal?

VAKSIN Covid-19 di awal pandemi dulu tahun 2020 memang sempat menuai kontroversi soal kehalalan. Maklum mayoritas warga 62 adalah muslim. Isu ini pun jadi maha penting.

Saat itu MUI memang sudah mewanti-wanti. Halal haram tiap jenis vaksin yang disuntikkan ke masyarakat harus dipastikan.

Lalu perdebatan ini pun dimanfaatkan kalangan pengingkar Covid-19, dengan mengatakan bahwa vaksin itu haram dan seharusnya tak diberikan ke manusia Indonesia.

MUI melunak karena vaksin Merah Putih produksi RI sendiri tak kunjung diluncurkan ke pasar. Bahkan Menkes Terawan seolah ‘tenggelam’ dalam pusaran badai pandemi. Suaranya lenyap total dari publik, seakan ia sudah dilucuti dari kewenangan dan jabatan Menkesnya secara halus.

Beberapa vaksin menurut MUI memang diharamkan tapi karena jumlah vaksin lain yang halal masih terbatas, ya sudahlah dipakai saja dulu daripada lebih banyak yang mati karena Covid-19.

Vaksin produksi Sinopharm (bukan Sinovac) resmi dinyatakan haram oleh MUI (sumber: CNBC). Bahkan vaksin Astrazeneca juga dicap haram.

Alasan pengharamannya karena ada kandungan tripsin babi dan kita tahu bersama babi dalam bentuk apapun dilarang masuk ke dalam badan muslim.

Nah sekarang begitu pandemi mulai menyurut, ada pihak yang mengungkit kembali isu halal haram vaksin ini.

Alasan mereka adalah kita sudah melewati fase darurat. Di fase ini, semua orang termasuk muslim boleh memakai vaksin apapun yang bisa menekan tingkat kematian akibat Covid meski itu haram karena ada kandungan babinya.

Tapi begitu masyarakat Indonesia sudah mulai menikmati penurunan level PPKM dan vaksin ketiga sebagai booster disebarkan, sudah seharusnya dibahas mengenai kehalalan vaksin juga.

Kini setelah lolos uji klinis, vaksin diharapkan bisa memenuhi standar kehalalan untuk rakyat Indonesia yang muslim.

Kalau menurut saya, kalau sudah dianggap patut memberlakukan standar kehalalan vaksin ini, silakan saja. Tapi apakah ada vaksin Covid-19 yang halal? Kalau belum bisa tersedia untuk semua, ya artinya kita masih dalam kondisi darurat dong!

Dengan terus memaksakan masyarakat muslim mengonsumsi vaksin haram, pemerintah sendiri gagal dalam mematuhi UU Jaminan Produk Halal dan Jaminan Perlindungan Konsumen dalam hal ini umat muslim. (*/)

Pandemic Diary: Mudik ‘Balas Dendam’ Terheboh dalam Sejarah Jadi Akhir Pandemi RI?

DENGAN kemunculan varian baru di AS dan lockdown di Shanghai China akibat merebaknya Covid-19 lagi, Indonesia menikmati keberuntungan dengan diizinkannya masyarakat untuk kembali mudik.

Tak kurang 79 juta orang kembali ke kampung halaman secara gila-gilaan di akhir bulan Puasa dan April 2022 lalu. Jumlah ini konon memecahkan rekor.

Dan memang terjadi kekacauan di berbagai titik jalan yang menjadi rute mudik di Jawa. Terutama memang Jawa sih yang tingkat mobilisasinya sangat tinggi.

Akibat kemacetan yang tak tertahankan di ruas tol Cipularang Bandung-Jakarta, sempat ada pengemudi stres dan mencak-mencak nggak karuan di sana.

Menurut detik.com, tol Cikampek-Bandung macet karena dampak sejumlah pengguna jalan tol yang dari Bandung-Jakarta protes turun ke jalan karena terlalu lama tidak bisa masuk tol Cikampek pada hari Jumat (29/4).

Pemerintah memang menyarankan halal bihalal dilakukan dengan Protokol Kesehatan. Tidak ada makan-makan apalagi mengobrol.

Menurut Medcom.id, aturan halal bihalal Lebaran 2022 adalah sebagai berikut:

  • PPKM level 3: maksimal tamu 50 persen dari kapasitas
  • PPKM level 2: maksimal tamu 75 persen dari kapasitas
  • PPKM level 1: maksimal tamu 100 persen

Untuk acara makan bersama juga diatur. Jumlah tamu dengan jumlah di atas 100 orang, makanan dan minuman harus disediakan dalam kemasan yang bisa dibawa pulang. Serta tidak boleh ada makanan atau minuman yang disajikan di tempat (prasmanan). Intinya buka masker di tempat yang sama tak diperbolehkan.

Tapi pada praktiknya sih ya tidak memungkinkan dilakukan. Masyarakat sudah merasa pandemi ini berakhir karena pemerintah mengendurkan larangan ini itu, masker juga tak dipakai tak masalah menurut mereka, karena vaksin menjadi alasan untuk merasa aman membuka masker. Kalau yang sudah sejak dulu tak percaya Covid sih malah makin membandel.

Lalu arus kembali ke Ibu Kota juga sama puyengnya. Tol Cikampek macet lagi menurut Sindo News.

Itulah kenapa ini bisa dikatakan mudik paling heboh sepanjang sejarah modern. Populasi makin banyak, pemudik beranak pinak, dan semua ingin menghemat biaya mudik dengan menggunakan mobil pribadi (karena cukup bayar bensin saja katanya).

Volume pemudik darat memang menggila karena di bandara kenaikan pemudik tak begitu signifikan sepengetahuan saya. Suasana bandara baik saat saya berangkat dan pulang terlihat sama saja. Arusnya datar. Tidak ada antrean panjang. Yang tentu saja melegakan saya sebagai pengguna moda transportasi ini.

Apakah pandemi sudah usai di bumi Indonesia?

Mungkin saja. Tapi tak menutup kemungkinan juga bakal ada lagi lockdown jika jumlah kasus naik dan varian baru muncul. Ah, memang tiada henti pandemi ini. (*/)

Pandemic Diary: Selamat Datang Omicron…

Photo by Andrew Neel on Pexels.com

GELOMBANG ketiga diprediksi akan terjadi Desember ini karena ya pas banget lah dengan musim liburan akhir tahun. Dari sejarah juga memang pandemi itu bisa pasang surut sampai benar-benar lenyap. Jadi, gelombang ketiga ini memungkinkan terjadi ya apalagi masih ada yang ogah divaksin. Haha. Zaman udah secanggih ini tapi sisi dungu umat manusia tetaplah melekat.

Di sisi lain, karena pemerintah sudah trauma disalahkan, mereka lalu ancang-ancang memberlakukan penghapusan cuti bersama Nataru alias Natal dan Tahun Baru (singkatan apalagi sih ini? Dasar orang Indonesia males ngetik panjang).

Saya baca di banyak media, ada satu varian baru Coronavirus yang muncul dan terdeteksi (hanya Tuhan yang tahu berapa banyak sebenarnya sekarang varian mutasi Coronavirus). Konon ia 5 kali lebih menular katanya daripada virus asalnya di Wuhan. Varian Delta yang kemarin itu kalah. Top deh! Gemoy nggak sih!

Namanya Omicron.

Ditemukan pertama kali di Botswana dan Afsel, varian anyar ini cukup menggemparkan karena itu bisa berarti bakal naik lagi kurva yang sudah melandai.

Dan bagaimana karakter sebenarnya si varian Omicron? Sayangnya belum ada yang paham 100% karena ya butuh waktu aja untuk bisa meneliti perilaku Omicron ini.

Yang patut diwaspadai ialah jika varian Omicron ini bisa tahan kekebalan yang sudah dibentuk oleh vaksin-vaksin yang sudah disuntikkan ke jutaan orang. Itu artinya ada kemungkinan gelombang ketiga akan terjadi dan vaksin sia-sia. Tapi itu baru skenario terburuk saja. Tentu kita berharap vaksin yang ada masih bisa membendung si Omicron. Tapi tidak ada yang bisa menjamin juga sepenuhnya.

Namun, Omicron tetaplah Coronavirus jadi vaksin yang sudah kita terima dalam tubuh pasti memberikan efek perlindungan. Hanya saja, persentase efektivitas vaksin yang kita terima seberapa? Itu yang belum tahu. Plus, vaksin juga bisa menurun efek proteksinya seiring berjalannya waktu. Makanya kita butuh vaksin booster.

Terus banyak orang bertanya: “Gimana dong caranya membendung penyebaran Omicron ini?”

Ya mau varian apapun itu, tetap terapkan 3M dengan ketat sih. Tidak ada alasan untuk kendor. Karena kalau kendor yang bayar ‘ongkos’ kita juga sendiri.

Di Afsel sendiri kenaikan kasus terjadi karena selain muncul varian baru ini juga karena tingkat vaksinasi masih 29% dari populasi total dan ada acara yang bersifat kerumunan yang memicunya. Jadi kalau kita mau berkata konser offline bakal bisa digelar sebentar lagi, tunggu dulu lah. Daripada menyesal.

Meski katanya WHO Omicron ini cuma menimbulkan gejala yang lebih ringan tapi mereka lebih cenderung ditemui di anak-anak muda yang kekebalan tubuhnya masih relatif prima dibanding kelompok lansia.

Tapi yah mau varian apapun itu kalau di Indonesia sih life must go on. (*/)

Pandemic Diary: Kembali Ngantor? Bagaimana dengan Viktor?

Era WFH akan berakhir?

SEJUJURNYA saya merasa tidak ada yang hilang dalam hidup sejak kebijakan kerja dari rumah diberlakukan.

Saya sangat sangat menikmatinya bahkan. Karena inilah impian saya sejak lama.

Dan sekarang, setelah vaksinasi makin meluas, muncul wacana akan membuka kembali kebijakan kerja di kantor.

Sementara itu, bagaimana pandemic pet aku???

Apakah bijak meninggalkan Viktor sendirian di rumah selama bekerja seharian?

Ah, sungguh buah simalakama memang.

Pandemic Diary: Serba-serbi Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

KESEHATAN MENTAL seakan menjadi topik yang hot akhir-akhir ini.

Ya siapa yang nggak terganggu mentalnya saat begini sih? Sekalipun manusia yang bermental baja pun pasti ada kena sedikit banyak kan. Mustahil 100% nggak terdampak. Itu denial.

Saya sendiri mencoba untuk menjaga kewarasan dengan mencoba kiat-kiat yang diberikan dr. Zulfia Syarif SpKj. berikut:

  1. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan: Pandemi penuh dengan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Maka setop terlalu control freak terhadap segala hal dalam kehidupan atau kesehatan mental kita jadi tumbalnya. Fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan misalnya melaksanakan protokol kesehatan, berdiam di rumah dulu, ikut vaksinasi, dan sebagainya.
  2. Berdiet berita dan media sosial: Orang kerap cemas tatkala terlalu sering mengonsumsi berita di media sosial. Jangan mencari informasi apalagi memercayai informasi di grup WhatsApp atau media sosial. Dapatkan informasi dari sumber berita yang Anda percayai misalnya kantor berita yang sudah teruji kredibilitasnya dan batasi konsumsi konten atau berita di luar itu. Batasi juga waktu konsumsi berita. Jangan membiarkan diri scroll dan larut begitu saja dalam isi percakapan di grup WhatsApp.
  3. Fokus pada kegiatan positif: Mental bisa lelah saat fokus pada hal-hal yang sudah kita tak bisa lakukan selama pandemi. Di saat begini, gantilah fokus pada hal-hal yang masih bisa kita nikmati dan lakukan. Jika harus bekerja dan beraktivitas di rumah, ya sudah nikmati saja. Nikmati saat-saat harus bersama keluarga di rumah karena hal itu tak bisa terjadi setiap hari sebelum pandemi.

Terus terang saya sendiri juga sudah berusaha melakukannya dengan menghabiskan waktu di rumah untuk belajar hal-hal baru di rumah, membaca buku-buku yang tak pernah saya baca sebelumnya, dan lebih bijak lagi saat dihadapkan pada banjir informasi di media sosial. Kita harus mindful atau sadar dan eling saat baca berita. Kita harus ingat bahwa faktanya saya sendiri masih sehat dan menghalau kecemasan yang tidak perlu dan tidak pasti bakal terjadi juga. (*/)

Pandemic Diary: Memaki sebagai Strategi Ilmiah Hadapi Pandemi

CAPEK dengan pandemi tapi nggak bisa ngapa-ngapain juga? Memakilah sampai kamu puas.

Buat Anda yang berpikiran sama dengan profesor di atas, saya tidak menyalahkan.

Tapi mari kita berpikir dari perspektif lain: memaki adalah penyaluran rasa kesal dan frustrasi yang paling mudah, murah dan tak memberikan dampak fisik (setidaknya).

Solusi saya bagi orang seperti profesor di atas ialah memblokir tweet yang mengandung kata-kata kotor yang tidak ia sukai. Mungkin seperti “sialan”, “bangke”, atau “kntl”.

Oke itu sih urusan dia ya.

Mari kita urusi urusan maki-maki ini.

Jadi gini, ada studi soal dampak memaki ini pada kesehatan. Dengan memaki seseorang bisa menahan sakit lebih lama.

Wow!

Peneliti-peneliti Keele University’s School of Psychology menemukan adanya efek penurunan sakit pada mereka yang memaki.

Berkata kotor biasanya memiliki efek yang melebih-lebihkan atau ‘lebay’ soal intensitas rasa sakit yang dirasakan seseorang.

Memaki membuat kita jadi lebih bisa menahan sakit yang tak tertahankan.

Subjek penelitian dihadapkan pada uji mandi es dan mereka dipersilakan memaki sepuasnya saat merendam diri di bak mandi es ini.

Hasilnya: mereka yang tahan lebih lama saat mandi es ialah subjek yang melepaskan kesakitan itu dengan memaki-maki.

Di saat pandemi begini, saat orang tak tahu lagi harus bertahan hidup dengan cara apa, terutama mereka yang ada di lapisan ekonomi bawah sudah frustrasi dengan kinerja pemerintah yang juga sama bingungnya, di sini saya paham betul bahwa memaki adalah solusi supaya tetap waras meski ya tidak akan menyelesaikan masalah atau menguatkan argumen, seperti kata profesor itu. Karena itu bukan wewenang rakyat kecil yang sedang memaki-maki ini. Rakyat kecil cuma bisa menunggu dan melihat sementara mencoba untuk bertahan hidup.

Dilarang keluar rumah tapi pemerintah memberikan bantuan terlambat (atau malah nggak sampai sama sekali). Diserukan ayo vaksin tapi distribusi vaksin juga lambatnya minta ampun dan prosedurnya melelahkan. Anak mau sekolah online tapi kok kuota habis dan gawai rusak karena panas (kalau itu masih ada duit untuk beli hp pintar juga). Please deh, gimana nggak pengen maki-maki?

Nah, lain halnya kalau ada pejabat yang memaki pejabat lain seperti kasus Kemal Arsjad yang mengatakan mau meludahi Anies Baswedan (sumber: detik.com). Apakah itu karena ada dendam pribadi atau sentimen personal? Karena saya yakin, ia bukan seorang penjual asongan yang tak bisa makan atau anaknya sakit saat PSBB diberlakukan secara ketat di Jakarta.

Jadi tolonglah Anda yang berpikir bahwa memaki bukanlah strategi menghadapi pandemi yang beradab, coba ajarkan rakyat kecil itu bagaimana melepas tekanan jiwa dan frustrasi itu dengan lebih baik dan beradab.

Jangan cuma mengernyit mencap orang-orang kecil yang memaki sebagai manusia tak tahu adab dan aturan. Mereka hanya menjerit minta pertolongan karena sudah terjepit sedemikian rupa.

Kalau memang kita belum bisa menolong, ya sudah cukup maklumi saja lah. Jangan disikapi dengan sinis. Berempatilah sedikit.

Jika Anda sudah tak ada anastesi untuk meringankan pasien yang sedang dioperasi, layakkah Anda menyuruhnya tutup mulut dan mengatakan: “Apakah makian Anda akan membuat Anda sembuh atau operasi ini jadi sukses?”

Begitu juga dengan orang-orang kecil yang sedang terbebani pandemi ini. Mereka juga sama dengan pasien yang sedang dibedah badannya tanpa obat bius sama sekali karena rumah sakitnya sudah kehabisan stok. Jadi saran saya: diamlah jika Anda tak merasakan hebatnya sakit yang ia sedang tanggung. (*/)

Pandemic Diary: Who Doesn’t Hate Their Governments Now?

THE emergency pseudo lockdown in Indonesia has enraged some people especially street vendors and those who make a living by selling goods by streets.

In Malang, East Java, a cafe bravely declared they charge a much higher price for state apparatus or law enforcers like police officers and armed forces. Because these state ‘slaves’ are taking hard measures towards street vendors, leaving them starving and penniless.

In the meantime, the government has not decided whether or not this fake lockdown is eased as the case number is still skyrocketing at the moment. No sign of slowing down whatsoever. (*/)

Pandemic Diary: Reposting Your Last Vacation Content Is A Trend

I suck at swimming and thus hate sea and body of water this much but isn’t holiday the right time to try something new?

I saw some people reposting their last vacation content. Some said that would be the first thing they will do once the travel ban is lifted and (almost) everyone is vaccinated and things get better.

While we keep dreaming till God knows when, why not celebrating what we have had?

The experience of last holiday may be stale but hey it’s better than nothing at all.

Enjoy my footage of plunging myself into the sea… (*/)

Pandemic Diary: Jakarta Explodes

UNLIVEABLE has been Jakarta for a very long time in fact.

The pandemic emphasizes the unliveability of the megapolitan in many many ways.

Sherina Munaf (@sherinasinna on Instagram) was declaring herself positive for Covid-19 despite her staying at home for months.

It was a proof of just how contagious the delta variant has become. (*/)

Pandemic Diary: Bukti Nyata Akhir Pandemi Masih Lama

Hari-hari pandemi terus bertambah. Ibarat napi di tahanan, kita udah capek coret-coret dinding bikin turus.

Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, coret…

Begitu lagi dan lagi.

Dua lebaran sudah lewat ditelan pandemi.

Jumat siang tadi saya menjalankan ibadah salat Jumat. Dan menemukan makin banyak yang abai Protokol Kesehatan.

Ya saya maklumi. Kan mereka ini rakyat jelata, bukan hamba negara seperti aparat atau tenaga kesehatan atau birokrat yang harusnya memberi contoh.

Tapi kemudian, saya lihat seorang anggota TNI masuk.

Tanpa masker.

Kemudian ada beriringan dua orang pegawai Kommuter Line Jabodetabek.

Tanpa masker juga.

Lalu muncul seorang pria dengan kaos bertuliskan “Bangga sebagai Perawat”.

Duduk di tengah jamaah tanpa mengenakan masker pula.

Ketaatan menjalankan Prokes itu ternyata cuma berlaku di lingkungan kerja.

Di luar kantor atau tempat kerja, mereka merasa bebas.

Tiada sanksi.

Siapa juga yang berani menegur?

Kalau begini, rasanya memang ingin jadi gila.

Lalu membaca berita munculnya flu burung jenis baru. Lagi-lagi di China.

Benarkah alam begitu marahnya pada manusia?

Well, we get what we deserve. (*/)

%d bloggers like this: