Tag Archives: patanjali

Mengenal Patanjali

Nama Patanjali sebenarnya sering kita temukan dalam buku-buku bertema yoga. Namun, sebetulnya tidak ada orang yang mengetahui benar-benar siapa itu Patanjali. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir dan wafat. Sejumlah praktisi meyakini sang orang bijak ini hidup sekitar abad kedua SM (Sebelum Masehi). Ia menulis beberapa karya penting mengenai Ayurveda (sistem pengobatan India kuno) dan tata bahasa Sansekerta, sehingga tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai sesosok cendekiawan yang membawa Pembaruan (Renaissance) dalam peradaban masa itu.

Namun, berdasarkan analisis-analisis bahasa dan ajaran sutra-sutra (kitab) , para pemikir modern menyepakati bahwa Patanjali hidup di sekitar abad kedua atau ketiga Masehi dan menyatakan tulisan-tulisan mengenai pengobatan dan tata bahasa tersebut ditulis oleh “Patanjali” yang lain.

Seperti banyak kisah mengenai pahlawan spiritual dunia lainnya, kisah kelahiran Patanjali yang kita kenal dalam dunia yoga ini memiliki kandungan dimensi mitis (berciri mitos/ kisah fiksi zaman dulu). Stau versi menceritakan bahwa untuk mengajarkan yoga di muka bumi, Patanjali turun dari surga dalam bentuk ular mungil, menjelma sebagai tangan (posisi tangan yang kita kenal sebagai anjali mudhra) dari sang ibunda, Gonika, yang juga seorang yogini hebat. Di dalam versi ini, ia dianggap sebagai inkarnasi raja ular yang berkepala seribu bernama Shesha (Prima) atau Ananta (Tak Berujung), yang tubuhnya dikatakan menjadi singgasana Wisnu.

Jati diri asli Patanjali tampaknya memang dengan sengaja dikaburkan karena di masa lampau anonimitas sudah mendarah daging dalam diri orang-orang bijak India Kuno. Mereka mengakui bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka adalah akumulasi hasil upaya kelompok yang sudah ada sejak banyak generasi terdahulu. Mereka menolak untuk mengakui hasil kerja itu sendiri dan lebih memilih untuk memberikan penghormatan pada guru-guru generasi sebelumnya. Anonimitas ini berbeda dari masa kini saat banyak guru yoga – entah sengaja atau tidak, mau atau terpaksa – menonjolkan diri, metode yoga dan sekolah mereka.

Leave a comment

Filed under yoga

Mengenal Yama

yoga

Delapan tangga yoga juga dikenal dengan Ashtanga Yoga (Photo credit: GO INTERACTIVE WELLNESS)

 

Sebagai pegiat yoga, mungkin kita sering mendengar istilah delapan tangga Yoga sering kita dengar. Yang pertama ialah yama (disiplin etika) – perintah agung yang melampaui sumpah, negara, usia dan waktu. Perintah-perintah ini yaitu ahimsa (penghindaran kekerasan), satya (kejujuran), asteya (tekad untuk tidak melakukan pencurian), brahmacharya (penahanan diri) dan aparigraha (penghindaran rasa rakus). Semua perintah ini merupakan aturan moralitas untuk masyarakat dan individu yang jika dilanggar  akan menimbulkan kekacauan, kekerasan, ketidakjujuran, pencurian, kemunduran, kerakusan. Akar semua kejahatan ini ialah perasaan rakus, hawa nafsu dan ketergantungan yang bisa jadi rendah, sedang hingga berlebihan. Semua ini hanya membawa penderitaan dan kebodohan. Patanjali membidik langsung ke akar masalah dengan mengubah arah pemikiran seseorang melalui 5 prinsip yama.

Dalam berlatih yoga, kita sering abai dengan prinsip-prinsip ini karena lebih terfokus pada asana. Kita lebih berambisi ingin menjadi lebih lentur, lebih kuat, lebih ramping, intinya ingin lebih atraktif secara fisik. Hampir tidak ada yang peduli atau berkeinginan untuk lebih etis, berdisiplin dalam menjalani hidup sesuai nilai-nilai kebajikan universal yang terkandung dalam delapan tangga Yoga.

Sebenarnya tidak ada inti ajaran di dalam delapan tangga Yoga yang bertentangan dengan ajaran agama kita, terutama Islam dalam kasus saya karena saya muslim. Semua memiliki keselarasan dengan ajaran agama yang saya anut.

Leave a comment

Filed under yoga

Serba-serbi Metode Yoga: Ashtanga (1)

Tirumalai Krishnamacharya: The Mysore school.

Mysore school of yoga back then. Does seeing these bendy lads make your back sore? (Image via Wikipedia)

Sudah lama sebenarnya mau menulis artikel blog tentang topik satu ini. Saya tahu persis topik semacam ini cukup banyak dibahas oleh para pegiat yoga yang masih ‘hijau’ seperti saya. Ya, siapa yang tidak bingung dihadapkan dengan pilihan metode yoga yang konon menurut Majalah Fit Yoga yang saya baca ini sudah mencapai 280 jenis? Angka yang demikian banyak.

Saya sendiri selama berlatih sejak 1 tahun 2,5 bulan yang lalu masih mengalami kegalauan yang sama (oh no, yoga pun ada istilah galau). Kebetulan ada banyak teman dan kenalan saya yang memiliki kapasitas dan kompetensi yoga yang lebih teruji tetapi rasanya tidak mungkin menanyakan pertanyaan “Ada berapa jenis yoga sih di dunia ini?” Akhirnya saya coba cari jawabannya sendiri. Dan satu artikel di majalah Fit Yoga edisi 2010 ini saya sedikit temukan pencerahan. Tenang saja, saya tak akan menjelaskan 208 poin tentang masing-masing metode yang ada karena di sini hanya akan dijelaskan 11 di antaranya yang mungkin dianggap paling banyak diajarkan dan diminati orang.

Langsung saja kita telaah apa saja 11 metode yoga itu. Setiap metode akan saya bahas dalam satu tulisan singkat saja. Terlalu panjang jika dimuat semuanya.Yang pertama yang akan saya bahas adalah Ashtanga yoga.

ASHTANGA (kpjayi.org, ashtanga.com)

Filosofi Ashtanga yoga yang didirikan Shri K. Patthabi Jois (1915-2009) ialah melakukan gaya kita sendiri dan fokus pada pikiran, mendalami postur, berlanjut dengan gerakan yang menantang tanpa cedera, diakhiri dengan meditasi.

Kata “ashtanga” sendiri bermakna delapan bagian. Sehubungan dengan konteks yoga, terdapat 8 tangga yoga. Jadi bila saya boleh berspekulasi , “ash” itu 8, dan “tanga” itu jenjang atau tangga. (koreksi: Atin di kotak komentar membenarkan bahwa “astha” artinya 8 dan “thanga” tangga. Sedang “ash” itu “hari Rabu”) Memang banyak bahasa Sansekerta di dunia yoga yang mirip dengan pengucapan dan makna kata-kata dalam bahasa Indonesia dan bahasa ibu saya yang utama: bahasa Jawa.

Delapan tangga yoga untuk mencapai kebangkitan spiritual atau pencerahan (samadhi). Dalam konteks modern, kata ashtanga sering dipakai untuk menyebut jenis hatha yoga ashtanga vinyasa yang diangkat oleh Patthabi Jois karena dialah pelopornya.

Inti latihannya terilhami oleh Vinyasa yoga yang bersifat aerobik. Ashtanga tradisional disebut Mysore style. Mysore adalah salah satu kota di India yang menjadi pusat studi Ashtanga. Teman saya Devi Asmarani yang mengajar tadi pagi menekuni jenis yoga ini (tambahan: Devi mempelajari Ashtanga selama 7 tahun dan kemudian beralih ke prana vashya sehingga kini ia tidak lagi bisa disebut praktisi ashtanga). Dan karena saya ikuti latihannya dan membaca bukunya, saya kira saya juga sedikit banyak terpengaruh oleh metode ini.

Metode ini bisa dikatakan halus dan tanpa jeda. Terutama sekali karakteristik ini saya bisa rasakan saat melakukan rangkaian sun salutation atau surya namaskara seperti yang diajarkan Devi tadi pagi (Devi mengatakan sun salutation yang ia ajarkan itu bukan berdasarkan ashtanga tetapi prana vashya yang ia modifikasi sendiri). Sesuai irama napas, makin lama makin cepat. Keringat biasanya mulai mengucur dengan 5 putaran saja. Pernah Yoga Gembira adakan “108 sun salutation” (tepatnya setahun lalu) untuk sumbang dana ke Jepang yang dilanda tsunami. Jika 5 putaran sudah demikian menguras kalori, bagaimana dengan melakukannya 108 kali? Membayangkan pun sudah lemas.

Kita bisa belajar rasakan apa yang terjadi selama latihan tanpa menolak atau menghindar. Dengan latihan rutin, kemampuan rasakan perubahan akan meningkat, termasuk aspek-aspek dalam kehidupan.

Saya juga pernah membaca adanya keterkaitan ashtanga sekarang ini dengan ajaran Patanjali. Patanjali konon merupakan penulis atau kurator kitab Yoga Sutra (sutra : lembaran naskah kuno) yang diperkirakan hidup sekitar abad ke 2 sebelum masehi. Sebagian lain menganggapnya sebagai satu individu sementara yang lain berkata Patanjali adalah sekumpulan orang.

Pembaruan:

Devi Asmarani menambahkan (sebagaimana ia tuliskan di kotak komentar dalam bahasa Inggris) bahwa ada beberapa poin yang ia ingin perjelas tentang ashtanga:

[Ashtanga] sering dianggap sama dengan “ashtanga yoga” Patanjali, yang juga filosofi Raja Yoga (atau Patanjali atau yoga klasik) bahwa terdapat 8 tangga praktik untuk mencapai samadhi atau keadaan penuh kesadaran atau keterkaitan.

Ashtanga Vinyasa yang dikembangkan oleh almarhum Patabhi Jois pada dasarnya ialah rangkaian yang diperkenalkan oleh guru Jois, alm. T. Krishnamacharya (yang masih memiliki hubungan asal muasal dengan apa yang ia praktikkan sekarang). Jois dan beberapa guru yoga senior seperti BKS Iyengar merupakan murid-murid Krishnamacharya saat mereka masih muda, remaja bahkan. Inilah menjelaskan mengapa ashtanga ialah praktik  yang dinamis, (karena) sebenarnya ia diciptakan bagi para remaja untuk berolahraga. Dan ia juga perpaduan antara beberapa postur yoga klasik dan senam ala Barat serta gerakan akrobatik yang kala itu populer. Krishnamacharya sebetulnya bertemu dengan seorang seorang pesenam dari Barat saat ia mengajar di Istana Maharaja Mysore.

Patabhi Jois bukan hanya satu-satunya yang mengajarkan ashtanga. Di Mysore, guru lain bernama BNS Iyengar juga mengajarkannya tetapi karena Jois adalah yang pertama mengajarkannya pada orang-orang Barat, tempatnya menjadi pusat bagi banyak ashtangi [pegiat ashtanga]. Pusat KPJAYI sekarang dikelola oleh cucunya, Sharath. Saya [Devi, maksudnya] belajar dengan Sharath dua tahun lalu.

(Dipublikasikan dengan WordPress for Android)

4 Comments

Filed under yoga