Pengalaman Membuat Kartu Kredit Mandiri (4-Tamat)

Setelah saya menerima pemberitahuan melalui pesan pendek (SMS) dari MandiriCard tanggal 20 Februari 2013 yang lalu, akhirnya saya pun harus mengaktifkan kartu kredit yang sudah saya terima. Tidak banyak pagu kreditnya karena saya mengajukan kartu kredit jenis Silver dengan masa berlaku 5 tahun sejak dikeluarkan, yang paling basic fiturnya. Saya tidak mau gegabah langsung mengajukan jenis yang lebih ‘advanced’ pasalnya saya belum tahu benar aturan mainnya dan apa yang harus dilakukan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan (semoga tidak pernah menimpa saya).

Entah mengapa saat mengirimkan SMS aktivasi kartu ke 3355, di SMS balasan dinyatakan transaksi saya ditolak, padahal jelas saya mengetikkan sesuai dengan apa yang sudah diinstruksikan di surat lembar pemberitahuan yang terkirim ke alamat saya.

Tertera di sana:

Segera akhtifkan kartu Anda dengan salah satu cara berikut:

1. SMS ke 3355 ketik: ACT[spasi]CC[spasi]16digit nomor kartu kredit[spasi]4 digit kode aktivasi

*Nah, masalahnya saya tidak tahu yang dimaksud kode aktivasi itu yang mana, karena di semua keterangan yang disertakan tidak tercantum kata seperti itu.

2. Mesin mandiri ATM

*Ada satu di dekat tempat kerja saya, tetapi rasanya terlalu malas untuk ke sana.

3. IVR (Interactive Voice recording)

*Saya sama sekali tidak tahu apa ini.

4. Mandiri call 14000 atau (021)5299-7777(24 am)

*Opsi inilah yang paling masuk akal dan paling praktis. Akhirnya saya pun telepon ke 14000. Seorang Customer Service staf menangani panggilan saya dengan ramah. Saya katakan saya ingin mengaktifkan CC, ia berkata ini bukan saluran yang dimaksud, kemudian dengan berbaik hati ia mentransfer panggilan saya, saya menunggu sejenak dan tersambung dengan seorang CS yang khusus menangani CC. Ia meminta keluhan saya, dan mencocokkan data diri dengan menanyakan beberapa detil pribadi dan detil di CC yang sudah dikirimkan ke tangan saya. Saya jawab semuanya dan ia mengatakan akan segera mengaktifkan. Saya disuruh menunggu beberapa saat. Dan ia kembali menjawab bahwa beberapa jam dari saat itu, kartu kredit Mandiri saya sudah bisa digunakan bertransaksi. Saat itu sekitar jam makan siang di hari Kamis.

Karena saya memiliki kartu kredit dengan tujuan untuk mengaktifkan kembali rekening PayPal saya yang terblokir, akhirnya di sore hari (sekitar pukul 5 sore) saya mencoba menggunakan CC baru ini untuk membuka akun PayPal yang meminta nomor CC. Dulu saya menggunakan virtual CC yang saya beli dari seseorang tapi kini saya sudah lupa nomor CC-nya.

Malamnya sekitar pukul 9 malam, saya mencoba kirim SMS aktivasi lagi. Gagal juga. Akhirnya menelepon lagi ke 14000. Seorang CS laki-laki melakukan prosedur yang sama, dan ia menanyakan apakah saya sudah pernah menggunakan CC ini untuk transaksi apapun. Saya jawab tidak, karena memang saya tidak menggunakannya untuk membeli apapun. Tapi menurut catatan si CS, saya sudah melakukan suatu transaksi di PayPal dan dipungut 1 dollar. Ah, jadi untuk penghubungan akun PayPal dengan CC Mandiri dipungut 1 dollar. Baru tahu saya. Saya pun mengiyakan. Untung saja cuma 1 dollar. Tapi baru saja saya cek PayPal, akun PayPal belum terhubung dengan CC Mandiri. Kenapa bisa begini? Saya putuskan hubungi pihak PayPal dulu sebelum menghubungkan CC ke akun PayPal lagi, bisa-bisa saya harus bayar 1 dollar lagi.  Dan untuk itu, saya sudah kirimkan pengaduan ke PayPal. Semoga saja bisa diatasi.

 

 

4 Alasan Mengapa Kaya Terlalu Cepat Itu Bisa Menghancurkan Kehidupan Kita

Gedung pencakar langit yang dibangun terlalu cepat, pondasinya juga akan lebih lemah. Begitu juga manusia yang terlalu cepat menerima kekayaan, ia akan lebih mudah kehilangan arah dalam menjalani hidup.

Beberapa tahun terakhir ini, kita bisa merasakan makin banyaknya generasi muda kita yang makin tertarik menjadi entrepreneur atau wirausaha. Sebagian dari mereka mau menjadi kaya raya dan juga tersohor. Generasi muda inilah yang disebut generasi Y, bayi-bayi yang lahir di dan setelah tahun 1980. Mereka adalah orang-orang muda nan dinamis dan aktif, berpikiran terbuka dan sangat haus prestasi dan pengakuan.

Saya sendiri harus mengatakan secara jujur bahwa mereka terbuai dengan ilusi yang kurang tepat dengan entrepreneurship. Mereka menurut pengamatan saya mengedepankan aspek keuntungan jangka pendek. Agar apa? Agar cepat kaya. Mereka mau kaya lebih cepat. Mereka mau mapan lebih cepat, pensiun lebih dini, menikmati hidup lebih banyak dan lama. Mereka mau lebih leluasa bersenang-senang. Mereka ini juga tipikal anak muda yang terbius cerita sukses startup a la PayPal (yang kini sudah bukan startup lagi) , Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya.

Sayangnya hanya sedikit yang menyadari bahwa menjadi kaya secara bertahap itu lebih sehat ditinjau dari berbagai aspek (misalnya karir dan kehidupan secara umum) daripada ‘kejatuhan durian runtuh’.

Inilah 4 alasan mengapa menjadi kaya terlalu cepat bisa berdampak destruktif bagi kehidupan seseorang.

Rasa malas

Saat kita telah menjadi begitu kaya tanpa atau dengan hanya sedikit berusaha, kita cenderung akan lebih malas bekerja. Saat kekayaan begitu melimpah, mencari nafkah mati-matian adalah hal paling akhir yang terlintas dalam benak. Kita bisa melakukan apapun yang kita suka memang tetapi esensinya tidak ada. Di sinilah kekayaan itu menghancurkan perkembangan pribadi Anda. Dan kenyataan bahwa kita bisa membeli apa saja yang kita inginkan dengan mudah, membuat kita lebih malas dalam melakukan kegiatan sederhana sekalipun dan kita menjadi lebih santai, cenderung tidak mau bekerja keras semaksimal mungkin.

Rasa rakus

Kerakusan akan muncul perlahan tetapi pasti setelah seseorang menjadi kaya dengan mudah. Banyaknya kekayaan yang sudah ada terasa tetap kurang, tetapi hasrat untuk bekerja dan menciptakan manfaat bagi orang sudah sirna.

Rasa berhak atas keistimewaan

Orang kaya lebih merasa berhak untuk diistimewakan dan diperlakukan berbeda dari orang lain karena mereka punya uang. Amarah bisa muncul tanpa disadari saat perlakuan setara atau lebih buruk terjadi.

Hilangnya tujuan hidup

Saat miliaran orang fakir miskin dan kelas menengah memiliki tujuan hidup saat bangun setiap pagi hari untuk bekerja keras menafkahi keluarganya, membangun kehidupan yang lebih baik dan sebagainya, orang-orang kaya malah merana karena mereka merasa telah berada di puncak dunia. Bisa dibayangkan kebingungan mereka ini dalam menjalani hidup. Sebagian orang kaya beruntung karena mau menerjunkan diri ke bidang sosial kemasyarakatan dan hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat lapisan bawah tetapi sebagian lainnya hanya berfoya-foya dan menimbulkan kecemburuan sosial yang makin berakumulasi dari hari ke hari. Dan meskipun orang kaya bisa saja menghabiskan waktu untuk beramal, itu sama sekali bukan pekerjaan yang menantang dan memberikan kepuasan secara intelektual.

Sekali lagi, manusia memang terlahir sebagai manusia yang tidak pernah puas dengan kondisinya sekarang, bagaimanapun baiknya kondisi itu di mata orang sekitarnya atau bagi dirinya sendiri di masa lalu.

KIVA at Pesta Blogger 2010

Image representing PayPal as depicted in Crunc...
Anyone can sign up for KIVA and trasfer the money via Paypal.
As I read the events list, a KIVArepresentative named Cissy Deluca was scheduled to be presenting. But when two men entered the room, I started thinking whether Cissy is one of the gentlemen’s name. It turned out that Cissy couldn’t make it and Jerry Harter – another KIVA representative – took the opportunity  to deliver the presentation and answer questions.The presentation started 4-5 minutes late only to let more people come into the room and take more seats. Compared to Mozilla, KIVA and its social entrepreneurship theme sounded ‘from another galaxy’.

The first time Jerry spoke to the audience, he asked whether it was necessary for him to use the microphone during the presentation. Considering how loud the next room had become (either another room’s speaker spoke too enthusiastically or the wall isn’t thick enough to block the noise), I strongly suggested that Jerry used the microphone throughout the session. His soft voice would certainly be lost without the assistance of microphone.

Continue reading “KIVA at Pesta Blogger 2010”

%d bloggers like this: