Jurnalis Masuk Daftar Pekerjaan Terburuk 2015 versi CareerCast.com

Entah jika di Indonesia, tetapi yang pasti di negeri Paman Sam pekerjaan sebagai reporter surat kabar bukanlah jenis pekerjaan idaman. Berdasarkan survei yang dilakukan situs pencarian lowongan kerja CareerCast.com, pekerjaan yang dianggap paling buruk di AS ialah reporter surat kabar. Dua pekerjaan lain yang berhubungan dengan media, yaitu broadcaster (penyiar) dan jurnalis foto, juga disebut dalam deretan 10 pekerjaan terburuk. Ketiganya disebut bersama pekerjaan-pekerjaan lain yang rata-rata menyedot banyak tenaga.

Pekerjaan-pekerjaan ini diurutkan berdasarkan aspek-aspek penting seperti pendapatan, peluang di masa datang, faktor lingkungan kerja, tekanan mental dan tuntutan fisik. Aspek-aspek ini dianggap penting dalam data kerja di Biro Statistik Ketenagakerjaan AS (Bureau of Labor Statistics).

Dan pekerjaan terbaik di tahun 2015 adalah ‘actuary’, orang yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data statistik dan menggunakan data untuk menghitung risiko dan premi asuransi. Mereka ini membuat asumsi-asumsi yang akan menentukan surplus dalam dana pensiun, misalnya.

Inilah daftar pekerjaan terbaik tahun ini versi CareerCast.com:

1. Actuary
2. Ahli audio
3. Matematikawan
4. Pakar statistik
5. Insinyur biomedis
6. Ilmuwan data
7. Dental hygienist
8. Software engineer
9. Terapis terlatih
10. Analis sistem komputer

Sementara itu yang terburuk adalah:

1. Reporter surat kabar
2. Juru tebang pohon
3. Personel militer
4. Juru masak
5. Penyiar
6. Jurnalis foto
7. Petugas Lembaga Pemasyarakatan
8. Pengemudi taksi
9. Pemadam kebakaran
10. Petugas pos

Mau Bekerja Lebih Produktif? JANGAN Tutupi Kebencian pada Bos Anda, Kata Ilmuwan

Kebenaran yang pahit memang lebih baik dari kebohongan yang manis. Begitulah adanya. Bukan hanya para filsuf yang meyakini ini, ternyata ilmuwan juga.

Jadi kalau di kantor, Anda membenci atasan Anda atau merasa kurang cocok dengan bos Anda, jangan berpura-pura menyukainya atau berakting hubungan Anda dengannya baik-baik saja. Tunjukkan sewajarnya. Jangan terlalu diekspos tetapi juga jangan ditutup-tutupi. Sebuah studi terbaru menyatakan para karyawan akan bekerja lebih produktif jika kedua belah pihak – atasan dan bawahan – menerima kenyataan bahwa hubungan mereka memang tidak begitu erat dan dekat, apalagi harmonis.

Menurut Fadel Matta yang bekerja sebagai peneliti utama di dalam studi itu yang juga kandidat doktor di Broad College of Business, Michigan State University, menerima kenyataan mengenai hubungan atasan-bawahan sama pentingnya, atau jika tidak lebih penting, dari kualitas hubungan itu dalam kenyataannya. Dengan kata lain, kalau memang merasa benci, akui saja. Tidak ada gunanya berkelit atau memperhalus kebencian itu.

Studi sebelumnya menunjukkan simpulan bahwa bawahan dan atasan kerap memiliki pandangan berbeda mengenai kualitas hubungan mereka. Matta dan timnya ingin menemukan pengaruhnya pada pekerjaan atau motivasi.

Dan memang ada hubungannya. Menurut sebuah studi terbaru yang melibatkan 280 karyawan dan atasan mereka, motivasi menurun begitu karyawan yakin ia memiliki hubungan yang baik dengan atasan namun si atasan menganggap sebaliknya.

Temuan ini berlaku saat sisi sebaliknya memang benar dan sang atasan yakin bahwa hubungannya memang baik namun si bawahan tidak berpikir demikian. Kedua pihak disurvei secara terpisah, yang artinya atasan tidak tahu bagaimana pendapat bawahannya dan sebaliknya.

Menariknya, motivasi karyawan dalam bekerja lebih tinggi dan si karyawan lebih merasa bebas bekerja di luar pekerjaannya yang seharusnya. Bukan masalah besar saat bawahan dan atasan menerima kenyataan itu, bahkan jika memang hubungannya tidak terlalu baik.

Akhirnya, jangan sampai kita terjebak untuk berpura-pura menyukai atasan. Jujurlah mengenai apa yang dirasakan karena dengan begitu, Anda membebaskan diri dan bisa bekerja lebih baik. Siapa tahu dengan bekerja lebih baik dan produktif, ada atasan lain yang tertarik merekrut Anda? (Sumber:Michigan State University)

%d bloggers like this: