Masih tentang Politik

‎Politik itu cuma permainan. Tak sebaiknya dianggap terlalu serius seperti urusan hidup atau mati, ya kecuali kalau Anda dan keluarga sudah terjun serius ke dunia politik. Silakan saja berjuang sampai titik darah penghabisan.

Tetapi untung bu ‎kos dan keluarganya tidak. Ada 3 orang yang sudah memiliki hak pilih dalam keluarganya tetapi toh mereka masih bersatu. Tidak sampai saling adu mulut.

“Kalau bapak pilih Prabowo,kak,”tukasnya. Kok tahu? Suaminya sendiri yang mengakui. Saat saya tanya mengapa suaminya memilih Pra‎bowo, bu kos cuma menggeleng lemah,”Kurang tahu.”

Ia sendiri lebih nyaman menjatuhkan pilihan pada Jokowi. Ia pernah berkata pada saya,”Para nelayan di Cirebon tuh pada ikrar coblos Jokowi, karena mereka takut ditembakin Prabowo kalau kepilih. Tau sendiri kan Prabowo.” Dengan latar belakang sederhana, bu kos bukan orang yang muluk-muluk tetapi juga tidak suka pasrah. Ia mau anaknya lebih sukses. “Harus jadi orang,”tegasnya seolah itulah misi dan visi utamanya dalam bekerja setiap hari. Dari memasak, mencuci pakaian orang lain sampai menyeterika di malam harinya ia lakukan demi masa depan anak-anaknya.

Lain lagi dengan anak laki-lakinya yang jelang dewasa. Ia sudah mantap dengan Prabowo, seperti sang ayah. “Hebat Prabowo, mah. Naik kuda, pesawat, gagah. Kalau Jokowi… apanya???” Tempo hari saat ia bersama saya menghadiri aksi damai di Bundaran Hotel Indonesia yang kebetulan dihadiri Prabowo Subianto dan politisi-politisi rekanannya, ia tampak senang dan gembira. Ia merasa menemukan kawanannya, sementara saya kebingungan dan miris. “Potoin yah,”pintanya saat menemukan spanduk bernada pembelaan habis-habisan pada Palestina di sore itu. ‎Saya potret ia saat memegang spanduk itu dengan bangga. “#SaveGaza,”demikian yang tertulis di permukaan spanduk itu. Lalu ia unggah ke Whatsapp, BBM, dan Facebook. Jadilah profile picture yang menarik.

‎Tidak ada yang bisa memaksa memilih yang lain. “Pilihan kan sendiri-sendiri,”tuturnya. Ya, begitu juga pikirku. Tak perlu terlalu serius kan menyikapi politik?

Tren Sayap Kanan di Eropa Akan Rambah Indonesia?

Sebuah fenomena unik tengah terjadi di benua Eropa. Sejumlah partai sayap kanan (yang bercirikan nasionalis, proteksionis, dan anti kaum pendatang) mendulang dukungan yang signifikan di dunia politik Eropa. Konsekuensinya, posisi kaum kanan yang disebut “euroskeptik” ini akan bertambah dominan dalam komposisi anggota parlemen di banyak negara Eropa seperti Prancis, Inggris, Denmark dan Austria. Demikian seperti dikutip dari situs resmi Parlemen Eropa.

Menurut Marine Le Pen dari Front Nasional Prancis, kemenangan yang partainya alami baru-baru ini itu menjadi suatu pertanda bahwa para warga sudah mendambakan munculnya perubahan. Sementara PM Prancis dari Partai Sosialis Manuel Valls mengklaim fenomena kebangkitan kaum ekstrim kanan ini sebagai “gempa bumi.”

Naiknya pamor kaum sayap kanan di benua Eropa tidak berimbas secara instan pada tingkat dominasi politik mereka dalam penentuan kebijakan tetapi patut digarisbawahi bahwa peran mereka menjadi makin krusial dalam politik Parlemen Eropa di masa mendatang, ujar pakar politik Eropa Simon Usherwood dari University of Surrey, Inggris.

Dikotomi sayap kanan dan sayap kiri memang sudah kabur. Sebagaimana dikutip dari Wikipedia, sayap kanan lebih cenderung pada konservatisme dan kestabilan negara sementara sayap kiri pada sosialisme dan anarkisme. Akan tetapi, dalam perkembangannya terjadi perpaduan dan distorsi yang membuat batas-batas antara keduanya menjadi lebur.

Di Indonesia, partai pengusung 2 calon presiden kita (Gerindra dan PDI Perjuangan) mungkin dapat dikatakan sebagai partai sayap kanan dan sayap kiri secara berurutan. Ditambah lagi dalam perjalanannya, Gerindra “ditunggangi” kelompok garis keras yang membuatnya lebih anti pendatang (baca: kaum imigran dan segala sesuatu yang berbau asing – xenophobia), nasionalis (cenderung chauvinis bahkan), dan proteksionis (terhadap kaum pribumi dan kepentingan mereka). Gerindra mencoba memposisikan sebagai kutub yang berbeda dari kutub lawannya. Gerindra ingin dikenal sebagai suatu entitas yang memiliki karakteristik yang tidak dimiliki atau berlawanan dengan PDI Perjuangan yang cenderung berat ke sosialisme, seperti konsep parlemen jalanan, sekulerisme (pemisahan negara dan agama). Terjadilah polarisasi secara alami agar pemilih tidak kebingungan membedakan keduanya, sekaligus menambah kebingungan pemilih dalam menentukan pilihannya di bilik suara tanggal 9 Juli nanti.

Apapun yang terjadi, semoga kandidat terbaik,amanah dan jujur yang akan menang dalam pergulatan yang makin memanas ini. Amin.

(sumber: “Sayap Kanan Menguat di Parlemen Eropa” dimuat di Majalah Tempo edisi 2-8 Juni 2014)

Diskusi Politik di Kantor

Terus terang saya lumayan anti berdiskusi politik. Bukan karena saya tidak peduli masa depan bangsa, tetapi karena saya terlalu sayang dengan waktu dan tenaga saya untuk mengikuti semua manuver keji dan menggelikan para oknum badut politik. Go to hell with those fucking politicians!

Sayangnya, para politisilah yang menggerakkan negara dan bangsa ini. Saya sangat berharap saya bisa mencintai negara dan bangsa ini tanpa harus mengikutsertakan badut-badut politik yang malang melintang di headline bombastis semua surat kabar dan situs-situs berita. Tetapi kenapa semuanya harus satu paket???

Petang tadi, saya sendiri tidak percaya saya bisa ikut sebuah acara diskusi bertema politik di kantor. Memilih Jokowi, Prabowo atau golongan putih? Hmm, sebenarnya acara ini tidak untuk diskusi yang 100% serius dan penuh pemikiran berat tetapi namanya berbicara tentang isu dengan skala nasional seperti ini, tidak mungkin bisa menghindari perbincangan berat, retorika memuakkan, penyajian “data-data” atau asumsi-asumsi dan overgeneralisasi yang membabi buta. Memang ada kebenaran di dalam konten kampanye tim-tim sukses itu tetapi siapa yang bisa memastikan semua itu absah dan terbukti benar? Apakah semua informasi itu bisa di-cross check? Siapa saja bisa memelintir fakta demi keuntungan kelompoknya. Naif sekali kalau saya langsung percaya. Baik media massa atau media personal seperti blog pribadi pun sudah tidak bisa dipercaya lagi.

Selama ini saya secara sengaja tidak banyak mengkonsumsi berita pilpres (saya tidak menyaksikan debat presiden dan semacamnya). Jika saya tahu pun, itu karena secara tidak terhindarkan saya membaca konten itu di jejaring sosial. Di linimasa dan dinding saya sendiri, saya tidak berkeinginan memenuhinya dengan konten dan status politik. Cukuplah hanya saya yang tahu pilihan saya. Sesekali saya melontarkan status dengan tendensi pada calon tertentu tetapi saya tidak terus menerus melakukannya atau secara terbuka menghina kandidat tertentu. Atau yang lebih memuakkan lagi, memuja kandidat seperti Ahmad Dhani dalam video klip bertema Nazi dan fasisme itu.

Bahkan saat ditanya atasan mengenai pilihan saya, saya menolak menjawabnya. Buat apa? Cuma untuk bahan diskusi, debat kusir yang tidak ada ujung dan gunanya? Lalu untuk bahan cemoohan jika calon yang saya pilih kalah? Saya jawab saja pilihan saya rahasia. Habis perkara. Saya tidak peduli dengan anggapan dia. Toh, apa hubungan pekerjaan dan pilihan seseorang dalam pilpres? Konyol!

Diamnya saya juga menjadi sindiran. “Wah, kamu sukanya diam kalau diajak diskusi tapi habis itu ditulis panjang lebar!” Ditantang seperti itu, saya hanya berkomentar,”Ya, soalnya sudah bosan dengan retorika. Kalau debat hanya untuk menimbang positif negatifnya kandidat ya sampai kiamat juga tidak akan ada habisnya. Saya sih cenderung lebih nyaman berpikiran sederhana saja. Tidak usah terlalu peduli dengan informasi yang berseliweran, dengarkan kata hati saja. Apa yang menurut saya bagus ya coblos lalu bersiap menanggung konsekuensinya. Rakyat mau lebih sejahtera. Itu saja, termasuk saya. Toh, pemimpin bukan satu-satunya penentu keberhasilan bangsa. Rakyat juga harus bekerja keras mengubah nasibnya. Karena kadang pemimpin sudah mengajak kebaikan, rakyatnya masih susah diajak memperbaiki diri. Simpel.”

Duh! Kenapa jadi saya yang berkomentar panjang lebar begini ya? Apapun nanti hasilnya, semoga yang terbaiklah yang menjadi pemimpin kita. Memang tidak bosan ya jadi bangsa mediocre seperti ini? Kalau sudah ada yang terpilih, ya mari dukung demi kemajuan bersama bangsa dan negara. Mau Jokowi atau Prabowo ya dukunglah. Kan kalau sukses ya sukses bersama, terpuruk ya terpuruk bersama.

Ah, sudahlah. Yang penting tanggal 9 Juli nanti, kita gunakan hak suara kita. Mau tidak menggunakan pun, silakan saja. Setidaknya kita bisa mengucapkan:”Selamat libur!”

20140627-233927-85167656.jpg

Tetap Waras di Tengah Keriuhan Politik Indonesia

Mengikuti dunia politik Indonesia, seakan tidak ada habisnya. Capai saya dibuatnya. Drama, manuver, kepicikan, sakit hati, rasa tidak tahu malu, semangat menjadi lebih baik, skeptisisme, arogansi, apatisme, semuanya bercampur aduk membentuk anyaman intrik yang mengasyikkan untuk diliput, didokumentasikan, dan diabadikan bagi generasi mendatang. Entah apakah nanti anak cucu kita mengabaikan, menertawakan, mencemooh atau membacanya dengan khidmat, itu urusan mereka.

Mengikuti jalan pikiran para politikus membuat saya pusing tujuh ratus keliling. Mungkin karena saya orang yang berpikiran sederhana, tidak banyak bergulat dengan taktik dan trik. Tidak heran, saya sering mual saat mendengar diskusi politik di TV. Karenanya, saya lebih suka mendengar pendapat para rakyat di bawah yang lebih sederhana pola pikirnya. Setelah saya pikir-pikir, bisa jadi karena inilah saya dulu gagal melamar pekerjaan menjadi diplomat negeri ini. Tetapi saya setidaknya merasa gagal dengan anggun karena saya tidak berpikir saya terpuruk sekarang. Saya justru lebih merasa bebas menjadi diri sendiri. Kegagalan itu menuntun saya ke koridor yang tepat.

Tadi malam saat Najwa Shihab memandu acara debat presiden di Metro TV melalui ponsel TV Nexian milik ibu kos, saya hanya berkomentar ala kadarnya sementara bu kos berceloteh panjang lebar tentang bagaimana takutnya para nelayan di Cirebon dengan Prabowo yang naga-naganya akan menggunakan metode represifnya bila nanti menjabat posisi presiden RI. “Mereka takut nanti ditembaki, dibunuh kayak jaman Suharto dulu kak. Lha itu juga Prabowo kan menantunya Pak Harto. Bekas TNI juga,”katanya. Makanya Jokowi menjadi opsi yang lebih masuk akal bagi mereka.

Lain lagi dengan ayah saya yang pensiunan PNS. Saat pagi-pagi mengantar saya pijat di seorang tukang pijat tunanetra, beliau lebih sering mengagung-agungkan Prabowo. Berkali-kali ia berdebat dengan sang tukang pijat yang tampak condong pada Joko Widodo. “Lihat saja itu Jokowi dulu Kristen, China lagi. Heribertus Joko… Bla bla bla. Bagaimana pun juga memilih pemimpin harus yang amanah, berkeyakinan sama. Siapa bisa tahu nanti dia kelak mengeluarkan kebijakan yang merugikan umat Islam? Iya kan?” Saya tidak tahu apakah isu Heribertus itu sudah terklarifikasi atau belum tetapi argumen ayah relatif lemah. Kenapa harus meributkan masa lalu? Yang penting sekarang kan? Sembari merilekskan otot kaki saya dengan pijatannya yang mantap, tukang pijat itu berseloroh,”Keyakinan kan bukan masalah pak, asal bisa memerintah dengan baik, masyarakat dan bangsa bisa lebih maju dan sejahtera. Percuma kalau urusan keyakinan sudah bagus tapi memerintah dengan mengecewakan. Buktinya banyak yang haji tapi korupsi juga.” Hingga akhirnya ayah mengkontradiksi pernyataannya sendiri,”Ya kurangnya Prabowo cuma satu, dia tak punya calon ibu negara. Coba saja kalau dia cari pasangan sebelum maju ke pemilihan presiden ini.” Nadanya tetap penuh ekspektasi.

Sementara itu, adik ipar saya mengambil pendekatan yang lebih netral dan objektif kali ini dalam isu-isu politik. Ia pernah menjadi aktivis PKS (Partai Keadilan Sejahtera) beberapa tahun lalu karena ia juga bekerja dalam baitul mal, semacam lembaga keuangan mikro ‘syariah’ hingga ia sadar itu semua hanya label. Konsep syariah tidak benar-benar diterapkan secara utuh dan konsisten dalam lembaga yang ujung-ujungnya berfungsi sebagai badan pengkaderan PKS. Kini, ia sudah melepas itu semua. Ia mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai manajer di sana dan secara otomatis terlepas dari kungkungan PKS juga. Simpatinya memudar begitu ia menguak kondisi internal dan berbagai polemik seputar pengambilan kebijakan partai di lingkup kabupaten saja. “Niat awalnya semua bagus, menegakkan Islam dan nilai-nilainya, tetapi toh begitu masuk dan terjun ke politik praktis, akhirnya juga sama saja. Tetap kotor seperti partai-partai lain. Ya sudahlah sekarang tidak perlu terlalu fanatik calon ini itu,”katanya lirih seolah sudah putus asa. Saya cuma manggut-manggut, mendengarkan dengan penghayatan penuh terhadap keluh kesahnya. Ia seperti orang linglung yang kepalanya baru saja terbentur-bentur benda keras. Lanjutnya lagi, ia bingung saat petinggi-petinggi partai di kabupaten dengan mudah mengalihkan dukungan dari satu calon ke calon kala pemilihan bupati beberapa waktu lalu. Dalih mereka, ucap adik ipar saya, ialah karena partai tidak mau suara dukungan itu musnah begitu saja. Dari sana, titik antiklimaks itu mulai tercipta, lalu terus menurun tanpa jeda. “Kita pilih yang manfaatnya lebih banyak daripada mudharatnya,”katanya mengutip fatwa petingginya saat itu. Bah!

Tempo hari sembari menyeterika pakaiannya, ibu bertanya pada saya siang itu,”Nanti pilpres, pulang nggak?” “Buat apa pulang? Kan bisa milih di sana seperti Pileg kemarin,”tukas saya.”Kamu bakal milih siapa?”Ibu bertanya. “Hhh, Jokowi… Prabowo… Ah tidak tahu lah. Nanti saja dipikir di bilik suara. Kan masih lama,”saya menjawab dengan nada malas.

Sebetulnya saya terkejut ditanya seperti itu. Di pilpres sebelumnya, ibu tidak pernah menanyakannya dan saya juga merasa pilihan pileg dan pilpres saya sebagai suatu kerahasiaan yang ketat. Dan di sini, saya juga menolak untuk membuka secara publik orang yang akan saya pilih untuk menjadi wakil saya.

Kenapa saya harus serahasia itu?

Pertama-tama, karena hal itu lebih terasa nyaman bagi saya. Bergaul tanpa harus menyatakan saya adalah simpatisan, partisan atau bahkan tim sukses kandidat tertentu akan lebih nyaman.

Kedua, karena saya terlalu malas berdebat kusir dengan orang-orang di sekeliling saya tentang kandidat presiden yang paling ideal. Tiap warga Indonesia dengan hak pilih mempunyai kriteria sendiri, jadi bisa dibayangkan repotnya kalau harus memenuhi semuanya. Dan saya tidak mau membuang waktu dengan debat yang tidak jelas.

Ketiga, saya lebih baik bekerja menghasilkan sesuatu yang konkret daripada hanya beretorika. Lain kasus kalau saya mencari nafkah sebagai analis, peneliti atau jurnalis politik. Tentu mau tak mau saya harus ikut arus dan mengikuti setiap perkembangan politik 2014. Namun, untungnya saya tidak harus meraup rupiah dari dunia politik. Saya peduli, saya mau bangsa ini lebih baik, tetapi bukan melalui euforia maya, retorika hampa dan janji yang belum pasti terpenuhi.

Anda mungkin mencap saya tidak peduli dengan nasib bangsa. Namin izinkan saya memilih sikap diam ini. Sikap yang saya pilih dengan kesadaran penuh. Dan saya peduli, hanya saja dengan cara saya sendiri. Kepedulian terhadap nasib bangsa tidak cuma diukur dari intensitas dan frekuensi seseorang berbicara politik bukan?

Yang terpenting lagi, saya tentu akan menggunakan hak pilih saya tanggal 9 Juli 2014 nanti karena saya tidak mau hak suara saya musnah begitu saja. Apakah saya akan memilih Jokowi-Jusuf Kalla, Prabowo-Hatta Rajasa, atau mencoblos semuanya agar kertas suara saya rusak dan tidak sah agar tidak bisa disalahgunakan oknum, hanya Tuhan dan saya yang tahu.

%d bloggers like this: