Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 3- Tamat)

pramudya_ananta_tur_kesusastraan_modern_indonesia_p226
[Sumber foto: Wikimedia Commons]
SEBELUMNYA di bagian 1 dan di bagian 2, kita sudah tahu bahwa masuk keluar penjara sudah menjadi bagian hidupnya. Bahkan setelah ia masuk Lekra, Pram masih saja tak kapok menulis sesuatu yang riskan alias isu-isu yang rawan. Misalnya di tahun 1960, ia menerbitkan buku “Haokiau di Indonesia” . Tapi kemudian ia dijebloskan ke penjara karenanya. Isi buku ini sesuai judulnya, yakni menggambarkan isu Hoakiau di tanah air melalui sembilan pucuk surat Pram kepada para sahabat penanya di mancanegara perihal masalah Hoakiau di Indonesia dalam pengamatan dan opininya. Padahal saat itu kondisi sosial sedang bergejolak karena ada pembatasan etnis Tionghoa.

Buku ini dibagi dalam sembilan surat yang dituliskan Pram kepada sahabat penanya di luar negeri yang berisikan pendapat dan pandangannya terhadap masalah hoakiau di Indonesia.

Setahun berselang ia menghirup udara bebas lalu mengurus perhelatan akbar Asian African Writers Conference. Tahun 1962, Pram menjajal dunia akademik dengan menerima tawaran untuk mengajar sebagai dosen sastra di Universitas Res Republica. Ia juga mendirikan Akademi Sastra Multatuli.

Mendekati masa yang penuh guncangan politik, Pram bekerja giat sebagai penyunting di majalah Lentera di tahun 1963. Ia menganggap masa kerjanya di sana sebagai kesempatan untuk eksplorasi maksimal terhadap minatnya di dunia menulis dan jurnalisme. Bisa dikatakan masa itu ialah titik kulminasi aktivitas intelektual sang sastrawan. Di tahun 1964, ia menerbitkan buku “Sejarah Bahasa Indonesia: Suatu Percobaan” yang setahun kemudian dibakar oleh Angkatan Darat pada tanggal 13 Oktober 1965, selang sepekan lebih dari kejadian tragis 31 September 1965.

NESTAPA

Tahun 1965 merupakan awal dari penderitaannya sebagai pengarang. Orde Baru mulai menindasnya tanpa ampun. Pram dijemput paksa dari rumahnya. Ia dianiaya sampai telinga kirinya hampir saja tuli total.  Tak cukup, naskah-naskahnya di rumah disita dan dihancurkan. Pemerintah Orba mengurung Pram di Alcatraz-nya Indonesia, pulau Nusakambangan.

Selang 4 tahun kemudian, Pram dipindahkan ke Pulau Buru, Maluku. Ia dilarang menulis sama sekali. Namun, karena menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini, Pram tak kurang akal. Ia menemukan kertas pembungkus semen dan pena dan menulislah ia di atasnya kemudian menyembunyikan naskah kertas semen itu dengan cermat agar tak disita. Kegiatan menulisnya ini tak terhalang meskipun ia lelah luar biasa. Maklumlah, sebagai tapol, ia diharuskan bekerja paksa di pulau terpencil itu bersama banyak tapol lain. Tahun 1973 Pram patut sedikit berlega hati karena dunia internasional mendesak rezim Orba untuk mengizinkannya menulis kembali. Ia pun diberikan mesin ketik dan dipakainyalah alat itu untuk merampungkan Tetralogi Pulau Buru. Romo Werner Ruffing yang mengunjunginya saat itu berhasil menyelundupkan naskah Pram keluar dari Buru. Di pulau itu, Pram menjalani pengasingan selama 1 dekade.

Peran romo-romo begitu besar dalam membantu menerbitkan karya Pram di dunia luar.  Romo berikutnya yang turut andil ialah Romo Alexander Dirdjasoesanta yang memberi bantuan berupa kertas dan karbon untuk menuliskan karangan Pram. Sebagian karyanya diselundupkan keluar juga oleh Romo Sutapanitra.

Karya-karyanya yang berhasil diterbitkan di luar negeri membuat Pram makin tersohor meski masih mendekam di pengasingan. Tahun 1978, ia diangkat sebagai anggota kehormatan PEN Belanda dan Jepang. Empat karyanya terbit di Eropa dan Australia. Sementara 9 lainnya ditemukan dibajak di Malaysia. Tentu ini bisa dianggap menggembirakan, dengan catatan kita meyakini bahwa imitasi merupakan wujud apresiasi dari para penggemar sejati.

Di penghujung tahun 1979, sang pengarang tak bisa menahan haru karena akhirnya dilepaskan dari pengasingan di Buru dan berkumpul kembali dengan keluarganya di jawa. Tanpa peradilan ia kembali ke rumahnya di Utan Kayu, Jaktim.

Tetapi jangan terlalu bergembira dulu karena pembungkaman belum usai. Rezim Soeharto masih menindas Pram. Karyanya “Mata Pusaran” dirampas dan ditemukan dalam kondisi tak lengkap di pasar loak Senen. Lalu di tahun 1980 saat ia mendirikan Hasta Mitra dan menerbitkan buku larisnya “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”, Kejaksaan Agung sebagai perpanjangan Rezim Orba saat itu mencekal dengan melarang secara terang-terangan peredaran buku tersebut.

Makin ditindas, makin getas. Begitulah Pram. Ditekan di negeri sendiri, justru ia makin mendapat ruang di luar negeri. Novel “Bumi Manusia” diterjemahkan oleh Max Lane dan diterbitkan oleh Penguin Book Australia.

Tahun 1984 Pram menyusun kamus geografi Indonesia dan memutuskan rehat dari menulis dan lebih banyak menggeluti pertanian. Ternyata bisa juga penulis sekaliber Pram merasakan kebosanan terhadap bidang yang ia sangat cintai.

Pram bertekad untuk terus menerbitkan karya-karyanya yang dibuat di Pulau Buru. Ia menerbitkan buku ketiga Tetralogi Pulau Buru “Jejak Langkah” di tahun 1985 dan serta merta disambut larangan Kejakgung lagi. Bukunya yang lain “Sang Pemula” juga turut mendapat larangan beredar dengan alasan yang sama. Bukunya yang terbit setahun kemudian (“Gadis Pantai”) juga akhirnya dicekal.

Tahun 1988, buku keempat Tetralogi Pulau Buru “Rumah Kaca” terbit dan mendapatkan PEN/ Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. Hal itu seolah menegaskan bahwa kekuatan pena dan mesin ketiknya memang tak terhentikan oleh penindasan sekeras apapun. Setahun kemudian ia mendapat The Fund for Free Expression Award dari AS.

Meski sudah dibebaskan dari pengasingan sejak 1979, Pram hingga tahun 1992 masih dikenai status tahanan rumah. Artinya ia tak pernah diizinkan pihak berwenang untuk meninggalkan rumah. Di tahun 1992, ia dilepaskan dari kungkungan di rumah dan mendapati dirinya berubah lebih pendiam dan penyendiri. Ia juga sangat menikmati aktivitas membakar sampah.

Tiga tahun berselang, Pram masih menelurkan karya lagi. Bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (jilid 1) diterbitkan pada ultahnya ke 70 (6 Februari 1995) namun lagi-lagi dilarang beredar di masyarakat Indonesia. Untuk kegigihannya itu ia diganjar lagi dengan sebuah penghargaan Ramon Magsaysay.

Pram melepaskan status tahanan negara dan bebas berkunjung ke luar negeri pada tahun 1999. Ia pun melawat hingga ke Belanda, Jerman dan Prancis, negeri tempat ia menceritakan karakter Nyai Ontosoroh akhirnya menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga barunya.

Tahun 2002, Pram kembali diundang ke acara mancanegara. Kali ini di Jerman untuk membahas isu HAM dan pelurusan sejarah. Di tahun yang sama ia mengalihkan hak cipta karya-karyanya kepada penerbit Lentera Dipantara yang dikelola Astuti Ananta Toer.

Dua tahun menjelang kepergiannya, ia memutuskan berkumpul bersama keluarganya lebih sering dan menampik berbagai kesempatan untuk berkunjung ke negara-negara lain. Di usia 80 Pram masih menulis dan menerbitkan karya nonfiksi “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” (2005) yang sarat data konkret tentang proses pembuatan jalan 1000 km dari Anyer sampai Panarukan dalam waktu setahun saja oleh Herman Willem Daendels.

Sebagai pribadi yang menarik, Pram juga memiliki akhir yang menarik. Seolah-olah mendapat firasat, ia berjalan kaki dengan uang di dalam sebuah kantong dan tiap kali ketemu orang ia bersedekah. Ia juga menyuruh cucu-cucunya menguras empang dan membagikan semua ikan di dalam empang itu kepada para tetangga. Jiwanya memang sudah lekat dengan semangat berbagi, tidak cuma berbagi kata-kata tapi juga harta dan apa saja yang ia punya. (*/)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 2)

pramudya_ananta_toer2c_indonesia_literary_pioneers2c_00-34

“Menulis adalah sebuah keberanian.” – Pramoedya Ananta Toer

Di tulisan sebelumnya, kita tahu bagaimana Pram menjalani masa kecilnya dan kedekatannya dengan Oemi Saidah sang ibunda. Pada perkembangan kehidupannya berikutnya, didikan ayah Pram makin keras saja. Jauh lebih keras daripada seorang guru yang tidak memiliki pertalian darah dengannya sendiri.

Kisahnya begini: usai lulus SD dan ingin melanjutkan ke MULO, Pram menemui ayahnya untuk menyatakan keinginannya itu. Apa daya. Mastoer malah menitahkan sang anak untuk kembali ke bangku kelas 7 dan belajar lagi. Insiden ini melemahkan semangat Pram untuk melanjutkan pendidikannya karena guru kelas 7 saja sudah membolehkannya naik kelas. Justru ayahnya sendiri yang seolah tidak mempercayai kemampuan Pram.

Terpukul dan stres, Pram muda akhirnya mulai beralih ke rokok sebagai pelampiasan. Rokok di Jawa sendiri sudah dikenal sebagai sarana pelampiasan stres yang meski tidak ampuh tapi bisa diperoleh dengan mudah dan bisa secara instan mengobati secara sementara kecemasan. Masalahnya tentu kondisi kesehatan yang menjadi menurun dari waktu ke waktu. Namun, saat itu rokok yang beredar bukanlah rokok putih masa kini yang sudah diberi campuran zat-zat kimiawi buatan manusia tapi rokok klobot, yang terbuat dari kulit jagung yang sudah dikeringkan dan cengkeh. Rokok jenis ini unik karena dikatakan tidak mudah padam tertiup angin atau percikan air, isapannya lebih mantap, dan menghangatkan badan dengan lebih baik bagi mereka yang ada di daerah dingin.

Kembali kepada Pram yang sedang dilanda stres karena kegagalan akademiknya, ia mulai merokok secara aktif di masa remaja awal setelah ditawari seorang temannya sebatang rokok klobot saat termenung di sebuah pemakaman. Sejak itu, tatkala menjalani proses kreatif sebagai seniman kata-kata, Pram selalu tidak bisa menjauhkan bibirnya dari isapan tembakau.

Pram pun melanjutkan pendidikan di Surabaya pada tahun 1939. Sekolah pilihannya ialah Sekolah Kejuruan Radio (Radio Vakschool). Selama 1,5 tahun ia menuntut ilmu di sana dengan tekun demi memperkaya wawasan dan pengetahuan yang terbukti akan berguna bagi dirinya yang bekerja sebagai jurnalis.

Selama di sekolah tersebut, ia tak lupa membaca banyak buku dan menonton film. Karya sastra yang paling mempengaruhinya saat itu yakni buku Honore de Balzac serta Emile Zola yang mempengaruhi gaya bertuturnya. Buku berjudul “Ngelmu” tulisan Pak Poeh juga sangat mempengaruhi pandangannya.

TANPA TANGGUNG JAWAB

Tahun 1941 ayah Pram tidak diketahui keberadaannya. Di saat yang bersamaan, Oemi Saidah didera penderitaan berkepanjangan karena kuman TBC.

Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Pram memilih pulang ke rumahnya untuk merawat Oemi. Untuk menyambung hidup diri dan keluarga, Pram harus berjualan tembakau dan rokok. Di tahun tersebut, kita ketahui terjadi peristiwa penyerbuan Pearl Harbor yang kolosal dan historis. Jepang di atas angin dan ijazah sekolah Pram yang diterbitkan selama era kolonialisme Belanda pun tidak dianggap sah lagi. Buntung sekali memang.

RUNTUH

Pram menelurkan karyanya yang berupa cerita anak “Kemudian Runtuhlah Majapahit” pada tahun 1942, bertepatan dengan tahun kedukaan yang hebat baginya. Dunianya sendiri runtuh setelah Oemi meninggal dunia karena infeksi TBC, disusul oleh adik bungsunya yang baru berumur beberapa bulan.

Ia kemudian pindah ke Jakarta setelah berpamitan di makam sang ibu dan berjanji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seolah belum cukup nestapanya, tentara Jepang yang mulai menginvasi Indonesia menemukan jurnal Pram dan memutuskan merampas hak miliknya itu karena isinya yang mengenai kisah-kisah zaman kolonial Belanda.

MENULIS

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Pram yang sudah tak beribu terus belajar menulis. Kemampuan menulisnya terasah terus-menerus berkat jasa pak Moedigdo, pamannya, yang memasukkannya ke sekolah Taman Siswa. Pram belajar bahasa Indonesia dengan tekun di sekolah itu.

Selain ketrampilan berbahasa Indonesia yang ia mulai tekuni tahun 1943, Pram juga mulai tertarik dengan ketrampilan lainnya sebagai pendukung kariernya sebagai penulis di masa depan. Ia belajar ketrampilan mengetik secara mandiri, tanpa guru atau ke tempat kursus selama dua pekan lamanya. Begitu sudah merasa menguasai ketrampilan mengetik cepat, Pram yakin untuk melamar pekerjaan di Kantor Berita Domei milik Jepang. Ia kemudian memang diterima sebagai juru ketik yang termasuk pegawai resmi. Tak lama ia diberi kesempatan untuk belajar ilmu stenografi di Tuo Sangi-In (dewan pertimbangan pusat pemerintah Jepang?) selama 12 bulan.

Tepat di tahun merdekanya RI, Pram masuk ke Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia. Namun karena merasa bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja, ia meninggalkan Domei begitu saja tanpa pamit. Ia menjelajahi berbagai daerah seperti Blora, Kediri, hingga Ngadiluwih hingga kependudukan berakhir dengan angkat kakinya mereka dari sini. Kemudian ia ikut serta dalam pelatihan militer TKR [Tentara Keamanan Rakyat] dan ditugaskan di Cikampek.

Tahun 1946, Pram ditugaskan sebagai perwira pers dan tidak lelah menulis di surat kabar Merdeka. Saat itu ia berlega hati setelah merampungkan penulisan novel pertamanya “Sepuluh Kepala Nica”. Sayangnya, naskah novel tersebut raib entah ke mana.

Mengundurkan diri dari TKR tahun 1947, Pram ke Jakarta dan memutuskan bekerja untuk majalah Sadar (edisi Indonesia the Voice of Free Indonesia). Saat hendak mencetak pamflet untuk majalah tersebut, tak disangka ia ketiban pulung. Marinir Belanda menangkapnya dan memenjarakannya tanpa proses pengadilan yang resmi di Penjara Bukit Duri. Ia dipindahkan ke pulau Edam setelah itu.

Penjara menjadi masa produktif bagi seorang Pram karena sepanjang ditahan, ia masih bisa menyibukkan pikiran dengan membaca dan menulis agar tidak larut pada keputusasaan. Ia terus saja menulis dan tahun 1947 itu juga ia membuahkan karya baru berjudul “Perburuan dan Keluarga Gerilya” dan sejumlah cerpen dengan nama pena Pram. Profesor G. J. Resink membantunya mempublikasikan karya-karya tadi sehingga terbaca oleh pembaca di luar jeruji penjara.

Tahun 1949 menandai kebebasan baginya. Ia dilepaskan dari tahanan seiring dengan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Setahun kemudian Pram bekerja sebagai editor di Balai Pustaka dan majalah Indonesia. Di usia 25 tahun, Pram menikahi Arvah Iljas.

Kiprah Pram sebagai pegiat sastra makin diakui dalam lingkup nasional. Buktinya ia menerima penghargaan sastra Balai Pustaka untuk karyanya yang berjudul “Perburuan”. Ia juga bekerja sebagai editor di Balai Pustaka tetapi dalam dirinya ia sebenarnya merasa resah karena pekerjaan tersebut belum mampu memapankan kondisi finansialnya.

Pram diundang oleh yayasan kerjasam kebudayaan Indonesia dan Belanda, Sticusa, sebagai tamu kehormatan di tahun 1953. Di tahun yang sama ia menulis novel “Midah Si Manis Bergigi Emas”.

Setahun berselang, kehidupan rumah tangga Pram remuk. Ia bercerai dan harus terlunta-lunta setelah disur dari rumah di Tanah Abang. Resmi sudah ia menyandang status duda dengan 3 anak perempuan. Di tengah kekacauan kehidupan pribadi, Pram masih berupaya terus produktif dengan menulis naskah film “Rindu Damai”.

HIDUP BARU

Kehidupan baru Pram dimulai begitu ia menikahi Maemunah Thamrin, anak tokoh Betawi M. H. Thamrin. Alasan ia menikahi perempuan itu di tahun 1955 ialah karena kepribadian Maemunah mirip dengan sosok Oemi Saidah yang ulet, pengertian, suportif dan memberikannya kebebasan dalam bekerja sebagai pengarang.

Di dunia sastra internasional, Pram makin diakui. Ia beranjangsana ke Beijing setelah diundang oleh Kumpulan Sastrawan Beijing dalam rangka peringatan 20 tahun wafatnya sastrawan tenar Tiongkok Lu Xun.

Sebagai sastrawan nasionalis, Pram menyatakan dukungannya pada Demokrasi Terpimpin Soekarno, suatu langkah yang nantinya menyulitkan dirinya setelah Orla tumbang. Ia terlibat dalam pembentukan 67 delegasi seniman yang pro Demokrasi Terpimpin ini dan diangkat sebagai anggota penasihat Kemenpetera (Kementerian Tenaga Rakyat).

Keterlibatan Pram dalam negara-negara Blok Timur yang identik dengan Poros Komunis juga makin intens saat periode ini. Tahun 1958 menjadi saksi kepemimpinannya dalam delegasi Indonesia (bersama Sitor Situmorang) dalam Konferensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent, Uni Soviet.

‘Kesalahan’ terbesar Pram selanjutnya ialah membiarkan dirinya diangkat sebagai anggota kehormatan Lekra tanpa memahami organisasi tersebut. Keputusan pengangkatan itu diumumkan di Kongres Nasional lekra Pertama di Solo. Kelak Pram harus membayar mahal atas masuknya ia ke dalam Lekra. (bersambung)

Dalam Karya Berikutnya, Ahmad Tohari Ingin Kritik Generasi Muda

“Saya sedih melihat generasi muda sekarang; saat laki-lakinya ‘cantik’, tidak pernah berkeringat,” ucap novelis Ahmad Tohari petang itu. Begitu ucapannya selesai, seekor burung pekat yang melayang di atas Taman Ismail Marzuki itu mencuit berkali-kali, menyetujui kritiknya yang tajam itu. Kami yang berkerumun di sekitar Tohari yang suka mengenakan topi itu memberikan berbagai reaksi berbeda. Ada yang mengangguk, ada yang meringis, atau tersenyum tipis. “Anak-anak muda ini cantik, tidak ada yang berotot.”

Tohari mengamati kondisi itu tidak cuma terjadi di kota-kota besar. Di desa-desa juga hal yang sama melanda generasi muda pria. “Mereka ini siang malam ‘ditodong’ televisi. [Jadi] maunya cantik, mewah, kaya,” terangnya lagi. Ia yakin bahwa apa yang dimaui anak muda saat ini adalah “hidup asyik, mewah, penuh kemanjaan”.

“Jadi bagaimana dong?! Ini ulah siapa?” keluh pria Jawa yang suka sekali mengenakan topi itu. Kami berlima yang usianya jauh lebih muda sedang duduk mengelilinginya. Tohari mengarahkan pandangannya pada salah satu dari kami saat melontarkan pertanyaan itu. “Kamu tahu siapa?”

“Kapitalisme…,” kata seorang pria di samping Tohari yang mengaku berusia 29 tahun itu lirih, tersipu-sipu padahal tidak perlu begitu. Tidak ada yang menampik bahwa ia sudah menipu publik. Namun, siapa peduli? Toh usia bukan hal penting. Karena katanya, ia hanya ingin jujur untuk sesuatu yang maha penting.

Tohari meneruskan kalimat wejangannya,”Mereka ingin menyiapkan bibit-bibit konsumen. Agar mereka berubah menjadi konsumen yang rakus, anak-anak muda harus diubah menjadi generasi yang pragmatis”. Saat pragmatisme sudah memasuki ruh anak-anak muda, akan lebih mudah untuk membuat mereka makin konsumtif.

Tiba-tiba Tohari menyeret kami ke masa lalu, dengan membahas alasan Bung Karno melarang lagu-lagu Barat yang begitu populer tetapi merusak jiwa muda yang sedang rapuh. Di usianya saat ini yang sudah 6 dekade, Tohari sepakat dengan kebijakan sang proklamator untuk melarang konsumsi produk-produk budaya Barat seperti lagu gubahan The Beatles, atau lagu-lagu yang menunjukkan pengaruh budaya Barat yang
mendayu-dayu seperti Koes Plus.

“Bung Karno bilang,’Lagu-lagu populer nan cengeng itu akan melemahkan semangat rakyat Indonesia’,” ungkapnya.

Dahulu Tohari juga melawan pemikiran Bung Karno itu. Tohari remaja sangat suka lagu-lagu semacam itu. “Karena saya suka sekali John Lennon. Kalau sudah mendengar lagunya Send Me The Pillow,
melayang-layang rasanya,” sang sastrawan mengakui di depan kami. “Sekarang saya membenarkan [pelarangan itu – pen] seratus persen!”

Tohari tua prihatin bahwa anak-anak muda sekarang dituntut untuk tahu lagu-lagu terbaru tanpa peduli kualitas sastrawi lirik-liriknya. “Lagunya sangat jelek, syairnya apalagi!”, komentarnya tentang lirik lagu-lagu Indonesia zaman sekarang. “Kuping saya pegel rasanya….”

Kurnia Effendi: Tak Bisa Tidur Karena Batik

KURNIA Effendi – yang akrab dipanggil Kef – duduk di depan audiens dalam sebuah bincang-bincang mengenai koleksi batik sekar jagad miliknya siang itu (20/ 12/ 2014) di Galeri Batik, Museum Tekstil, Jl. K. S. Tubun Jakarta Barat. Pria itu dikenal orang-orang di sekitarnya sebagai peminat, dan juga kolektor dan pemakai kain batik asli Indonesia.

Mengaku tanggung dalam berbagai hal yang ia tekuni, Kurnia duduk di bangku STM untuk belajar mengenai teknik bangunan gedung. “Kemudian saya bekerja di konsultan arsitektur, melanjutkan kuliah di ITB jurusan interior desain,” terang Kurnia. Kini ia bekerja di salah satu perusahaan otomotif.

Selain 3 dunia tadi, Kurnia juga penulis yang produktif. Hingga sekarang, buku-buku fiksinya telah mencapai 16 buah berkat kegemarannya menulis sejak usia belia. 

Dari semua bidang tadi, ia kemudian tertarik pada batik. Alasan pertamanya menyukai batik ialah karena rasa tidak ikhlas saat di tahun 2000-an ada klaim dari Malaysia terhadap batik bahwa batik milik mereka. Kemudian tanggal 2 Oktober diputuskan batik menjadi warisan budaya adiluhung Indonesia, kata Kurnia.

“Saya sebagai orang Indonesia merasa prihatin. Mengapa orang Indonesia diam saja?”

Saat itu ia belum mengenal sosok-sosok yang menonjol dalam dunia batik seperti Iwan Tirta, Adjie Notonegoro, dan sebagainya. Sebagai peminat baru, Kurnia selalu terkejut saat mengunjungi bursa batik di acara-acara yang digelar di JHCC. Pameran-pameran itu biasanya Adi Wastra, Indo Craft, dan sebagainya.

“Saya semakin terkejut saat ada seorang teman Laila S. Chudori yang memiliki kakak yang menikah dengan orang Australia yang ditugaskan menjadi duta besar atau konsulat di Malaysia, sehingga saat liburan ia sempat berkunjung ke pameran Adi Wastra, ia merasa belum puas,” ujarnya. Kenalannya itu mengaku menangis karena mengetahui kekayaan budaya Indonesia yang begitu besar. Ia mengatakan negeri jiran itu tidak ada apa-apanya. Temannya itu menghabiskan puluhan juta rupiah demi memborong kain-kain yang menurutnya miliknya tetapi tidak terurusi dengan baik.

Awal mula mengkoleksi batik ialah saat ibunya meninggal dunia. Warisannya berupa kain-kain batik. “Saya juga tidak tahu apakah kain-kain itu berharga atau tidak,” kenangnya. Kain-kain itu banyak yang bermotif sogan yang kemudian ia bagi-bagikan dengan saudara-saudara kandungnya untuk kemudian disimpan. Demikian juga saat mertua meninggal, ia juga diberikan sebagian kain yang ditinggalkan almarhum. 

Ia mulai tertarik membeli dan mengkoleksi kain batik. “Dari yang murah, seperti cap, printing.”

Kurnia mulai belajar pada teman-temannya bagaimana untuk mengumpulkan kain-kain batik tulis yang asli. Batik jenis printing memang murah tetapi cepat pudar warnanya. 

Dari sana, ia bersama beberapa temannya menjual batik secara daring. Mereka mulai berjualan dari kain-kain batik cap yang murah seharga Rp200.000. 

Setelah beberapa lama menjual kain batik yang murah, mereka menjajal menjual kain batik tulis yang harganya lebih mahal. Harganya sekitar Rp600.000 bahkan jutaan. “Eh ada yang beli, meskipun tidak banyak tetapi memang segmennya lain,” katanya.

Ia mulai mengetahui ada sebagian orang yang memahami kain batik lebih baik. Untuk menggairahkan semangat mencintai batik bagi orang awam, Kurnia mengaku ia menjual kain-kain batik cap yang motifnya bagus agar banyak orang tertarik membeli. 

Bagaimana jika kain batiknya tidak terjual? Kurnia memiliki kiat. Ia tidak menjual kain yang tidak ia sukai. “Jadi kalau tidak terjual, bisa kami pakai sendiri.”

Suatu saat Kurnia memutuskan untuk lebih mengkhususkan koleksi kain batiknya dengan memilih tema sekar jagad yang menurutnya “memiliki ragam hias yang luar biasa”.

Kurnia beruntung karena ia dapat mengunjungi sejumlah sentra produksi batik Indonesia di sela-sela perjalanan bisnisnya. Pernah suatu saat ia menyambangi produsen batik di Jambi  yang berlokasi di sekitar sungai Batanghari. 

Tidak puas dengan hanya menjadi kolektor batik, ia juga dengan bangga memakainya dalam berbagai kesempatan. Semakin lama, semakin banyak orang di sekitarnya yang mengenalnya sebagai pemakai setia kain batik. Dan ini menjadi ciri khasnya.

Pengalaman pahitnya sebagai kolektor batik yang juga banyak menimpa kolektor lainnya ialah tertipu oleh penjual yang tidak bertanggung jawab. 

Ia juga sempat kebingungan dengan klaim-klaim yang dilontarkan masing-masing penjual batik. “Setiap pembatik menjelekkan pembatik yang lain. Akhirnya saya paham masalahnya karena cuma masalah (persaingan -red) dagang saja,” kata pria yang juga menggemari fotografi itu. Semua itu akhirnya membuat pembeli menjadi korban juga.

Kurnia mengaku pernah tak bisa tidur karena batik. Ia menemukan sebuah kain batik yang indah di  Purwotaman, Yogyakarta saat Waisak 2013 lalu. “Waktu itu harganya Rp3 juta.”

Ia nekat pulang tanpa membawa kain itu karena dianggap terlalu mahal. Alhasil, sampai di rumah Kurnia tak bisa tidur lelap. Esok harinya ia memutuskan menelepon si penjual. “Akhirnya saya mendapatkan Rp1.650.000 dan rugi Rp30.000 sebagai biaya kirimnya,” kenang Kurnia. (*/Akhlis)

Menulis Itu Mirip Masturbasi, Katanya

‎Seorang teman bertemu secara kebetulan dengan penulis Iwan Setyawan hari ini. Dan ia mengatakan bahwa Iwan berwejangan:”…[k]alo nulis itu yg penting kita ngerasa seneng, menikmati, dan bisa takjub pas bacanya. Bukan mikir bagaimana ceritanya biar pembaca seneng. #TipsMenulis”

Novelis Stephanie Meyer yang dikenal dengan Twilight series itu juga berpesan senada. Dalam sebuah wawancara dengan Time Magazine, ia pernah mengatakan tulisannya ia buat karena ia ingin membaca sebuah cerita romantis yang seperti itu. Dengan kata lain, Meyer hanya memfokuskan diri pada pemuasan diri, semacam “masturbasi sastrawi” dalam istilah vulgarnya.

‎Itu semua menerangkan mengapa saya merasa lelah sekali setelah menulis, padahal saya tidak ke mana-mana. Tubuh saya tidak berkeringat setetespun. Otot-otot tubuh bawah tak banyak bekerja. Hanya tubuh bagian atas yang terus tegak, menyangga kedua tangan yang terus bergerak di atas papan ketik dan kepala yang terpaku ke layar. Ternyata saya sudah bermasturbasi secara intelektual, verbal dan literal.

Oh lelahnya…

%d bloggers like this: