Tunggulah Sampai ‘Tua’, Baru Menulis

Lee Child bukan penulis favorit saya. Lain dari Haruki Murakami yang karya-karyanya pernah saya baca, karya-karya Child sama sekali tak familiar bagi saya. Bahkan film yang dibuat berdasarkan karakter utama dalam novel-novelnya juga tak bersarang dalam kepala saya.

Child juga bukan jenis penulis yang genrenya saya sukai.

Ia juga memiliki gaya hidup yang sama sekali tak sehat. Ia merokok; ia suka menulis sambil begadang; ia tak berolahraga; ia tak berniat mengubah pola makannya yang sarat makanan ‘sampah’. Dan ia tak peduli jika umurnya lebih pendek karena semua itu. Alasannya, karena ia justru bisa menikmati hidupnya dengan cara begitu. Intinya, cuma selera saja.

Namun demikian, saya mengamini tatkala ia mengatakan menulis itu tak harus dimulai sejak dini. Ini mungkin salah satu nasihat menulis yang paling kontraintuitif, menurut hemat saya. Hampir semua penulis yang saya ketahui kerap mendengungkan nasihat “mulai saja menulis dengan apa yang kau ketahui”, “jangan khawatir tulisanmu dikritik di usia muda”, atau “siapa saja bisa menulis jika ada niat”.

Meskipun nasihat-nasihat tadi tak sepenuhnya salah, saya menemukan adanya ambisi yang tersirat untuk  buru-buru menulis hanya demi menjadi penulis yang terkenal dan kaya raya.  Pokoknya mau jadi setajir pengarang sekelas J.K. Rowling, atau Stephanie Meyer, atau John Greene, Elizabeth Gilbert. Novelnya keluar dan laris manis di seluruh dunia. Plus, kemudian ada produser Hollywood melirik novel itu menjadi film box-office.

Padahal dalam kenyataannya, menulis memerlukan dedikasi yang tidak tanggung-tanggung. Menulis bukan cuma duduk mengetik di ruangan sejuk dan sesekali menyesap kopi di kafe yang modern dan nyaman. Banyak orang tak tahu betapa banyak pengorbanan yang harus dikeluarkan demi bisa sesukses penulis-penulis tadi. Dan kalaupun sudah sukses, apakah kesuksesan itu akan bisa dipertahankan? Atau akan tenggelam begitu saja setelah karya pertama keluar layaknya Harper Lee, sang pengarang novel “To Kill the Mockingbird”?

Begini nasihat Child yang terbenam dalam-dalam di benak saya: “Menulis ialah sesuatu hal yang Anda seharusnya tunggu sampai mencapai usia yang matang… sampai Anda bisa menyaksikan lebih banyak hal di dunia. Sampai Anda memiliki pesan yang benar-benar ingin disampaikan.”

Ia menyatakan itu bukan karena tanpa alasan. Ia sendiri baru mulai menulis di usia 40 tahun. Dan meski baru setua itu mulai menulis, kesuksesannya juga jangan dianggap sebagai suatu hal yang instan dan keberuntungan semata. Child sudah menggandrungi buku sejak kecil. Ia banyak membaca buku, menggemari cerita-cerita dan bekerja penuh waktu di dunia hiburan yang juga memiliki pertalian erat dengan dunia pengisahan cerita.

Di usia matang itu, Child dipecat dari pekerjaannya yang mapan sebagai direktur presentasi di Granada Television. Dalam sebuah wawancara, ia menumpahkan kekesalannya melawan otoritas di perusahaannya itu. Ia menceritakan pernah meretas komputer di kantornya sebagai perlawanan terhadap upaya perampingan perusahaan karena ia menganggapnya tak adil. Ia menghimpun kekuatan di antara para pekerja agar perusahaan harus menghormati hak-hak mereka. Rupanya latar belakangnya sebagai lulusan ilmu hukum dari University of Sheffield dan kepribadiannya yang tegas dan keras dan tak menyukai ketidakadilan itu memang tak bisa dibendung. Ia akhirnya dipecat dan memilih menegakkan keadilan melalui dunia fiksi melalui karakter utamanya Jack Reacher.

Ia juga sangat meyakini bahwa faktor terpenting yang membuatnya menjadi penulis seperti sekarang ialah pengalaman hidup yang kaya. Usia yang lebih tua membuat seorang penulis menjadi lebih banyak memiliki hal-hal menarik untuk diceritakan. (*/)

 

11 Drama Korea Bertema Penulis yang Harus Anda Tonton

MENONTON sebuah tayangan tentang pekerjaan orang lain terasa sungguh mengasyikkan. Tetapi menonton tayangan soal profesi kita sendiri membuat kita merasa lebih terlibat dan merasa istimewa karena itu berarti ada pengakuan dari orang lain terhadap profesi kita dan masyarakat menunjukkan minat atas itu.

Saya tidak akan membandingkan sinetron Indonesia dengan drama Korea yang meski sama-sama picisan ternyata berbeda juga. Maksud saya berbeda dalam hal pemilihan profesi karakternya. Anda tahu sendiri orang-orang berprofesi apa yang ditampilkan di dalam sinetron Indonesia. Kalau bukan direktur, eksekutif muda, boss, dan lawan mainnya berprofesi kebalikannya yang notabene menyedihkan dari segi finansial. Terdapat jurang perbedaan yang menganga lebar antara kenyataan dan ilusi yang ditampilkan di layar televisi.

Di drama korea, entah karena mungkin mereka lebih workaholic dari orang Indonesia, keragaman pekerjaan karakter yang ditampilkan di drama terasa lebih kaya. Dan itu menjadi terasa lebih realistis [walaupun belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan juga].

Ah, sudahlah. Tidak akan habis jika saya harus membandingkan.

Sudah lama sebenarnya saya ingin menuliskan ini tetapi baru sempat sekarang dan ternyata di khasanah drama korea ada cukup banyak juga drama yang menaruh titik sentral pada karakter yang berprofesi sebagai penulis, sebuah pekerjaan yang saya geluti juga selama delapan tahun terakhir ini sekaligus sebuah minat yang saya sudah tekuni lebih lama dari itu.

Full House [2004]

Drama pertama yang menjadi tonggak masuknya Korean Wave ke Indonesia ini ditayangkan pada tahun 2004-2005. Sampai begitu populernya, sampai stasiun televisi di sini menayangkan ulang beberapa kali. Bahkan sekarang di aplikasi penayang konten digital semacam Iflix dan Viu, drama ini kalau tidak salah juga masih bisa dinikmati secara gratis.

Tokohnya yang menjadi penulis ialah Han Ji-eun (diperankan Song Hye-kyo), seorang penulis naskah film (scriptwriter) yang terpaksa harus tinggal dengan aktor bertemperamen buruk Lee Young-jae (diperankan Rain). Meski saat itu terdengar masuk akal, saat ini kalau saya baca-baca lagi plotnya dan menonton, terasa absurd juga. Apalagi saya masih ingat karier kepenulisan Han Ji-eun yang mulanya sama sekali mengecewakan kemudian bisa berakhir manis. Naskahnya diterima oleh rumah produksi. Apakah karena itu hanya karena ia bersuamikan Young-jae, seorang aktor terkenal? Tapi setidaknya serial ini membuat saya ingin menulis di sebuah rumah besar, lapang, asri di tepian danau. Alangkah idealnya studio menulis seperti itu.

Coffee House [2010]

ch6_poster

Ini drama tentang seorang penulis thriller terkenal (lagi-lagi terkenal dan muda dan tampan plus kaya raya dan modis) yang terjebak cinta masa lalu, dan dua orang wanita yang bekerja sebagai penerbitnya dan sekretaris pribadinya. Ia tipe orang yang suka berbuat sekehendak hati. Tidak mempertimbangkan perasaan atau kepentingan orang lain. Tidak mau hadir dalam sesi penandatanganan novel barunya? Kenapa tidak pergi saja dari taksi yang dijaga ketat staf penerbitan? Gila mungkin kalau ada novelis seperti ini. Tapi soal kepribadian yang aneh dan eksentrik, saya setuju bahwa setiap penulis memiliki sisi itu. Hanya saja, tidak semua penulis memiliki wajah setampan itu.

Style [2009]

Style_Poster.png

Adalah Park Gi-ja (diperankan Kim Hye-soo), seorang editor majalah fashion yang suka berperilaku seenaknya pada asistennya yang bernama Lee Seo-jung (diperankan Lee Ji-ah). Karena tuntutan finansial ia harus bertahan di majalah Style yang dikelola Gi-ja dan seorang atasan wanita lain yang tak kalah menekan padahal Lee Seo-jung ini ingin sekali menjadi penulis, tidak cuma pesuruh si editor arogan.

Ghost [2012]

Phantom-poster.jpg

Sebetulnya ini drama soal dunia maya alias internet dan hacking. Tapi jangan salah ada juga tokoh Park Gi-young (diperankan Daniel Choi) yan dikisahkan sebagai peretas yang menyamar sebagai reporter investigatif andal.  Bawahannya Choi Seung-yeon adalah seorang reporter pemula yang diremehkan Park Gi-young karena dianggap kurang berani menguak kasus di lapangan. Dalam perkembangannya, Choi bekerjasama dengan polisi untuk mengungkap kasus pembunuhan seorang model terkenal melalui tulisannya di media daring. Di sini kentara sekali bahwa kekuatan penulis itu sangat besar dalam membentuk opini masyarakat di era digital. Apalagi jika konten itu viral dan dibaca banyak orang.

Chicago Typewriter [2017]

Chicago_Typewriter_Poster

Drama yang mirip seperti kisah poliandri abadi lintas waktu ini mengisahkan tentang 2 orang pemuda yang terpikat oleh satu gadis cantik yang jago menembak. Dan karena dua pemuda itu berteman baik, mereka terlalu segan untuk membenci satu sama lain dan tidak sampai saling bunuh demi mendapatkan gadis pujaan bernama Ryu Soo-hyon yang diperankan Im Soo-jung di era kependudukan Jepang di Korea. Dua pria ini bernama Shin Yul (diperankan Go Kyung-pyo) dan Seo Hui-young (Yoo Ah-in). Delapan puluh tahun berlalu dan mereka bertiga dipertemukan kembali lewat mesin ketik kuno. Intinya, mereka bereinkarnasi. Absurd. Tapi menarik dan asyik. Setidaknya dua pria ini diceritakan memiliki bakat menulis yang membuat mereka menjadi terkemuka. Lagi-lagi, penulis digambarkan sebagai pekerjaan yang prestisius, bisa membuat orang kaya raya (lihat saja megahnya rumah penulis Han Se-joo yang memiliki ingatan masa lalu sebagai Seo Hui-young). Lalu penulis juga dideskripsikan sebagai pekerjaan kaum borjuis dan perlente (lihat saja karakter Yoo Jin-oh yang diperankan Go Kyung-pyo) yang mengingatkan saya pada pelopor New Journalism, Gay Talese. Menulis adalah ritual yang membuat pelakunya mesti berbusana bagus. Tidak bisa serampangan berpakaian. Bisa jadi ada benarnya karena selama ini penulis dianggap profesi santai dan bisa dikerjakan di mana saja tanpa harus berpakaian rapi dan pergi ke kantor seperti eksekutif muda atau pekerja korporat.

Because This Is My First Life [2017]

250px-Because_This_is_My_First_Life

Di sini penulis digambarkan secara lebih realistis. Tidak ada rumah mewah atau ketenaran atau harta berlimpah. Lihat saja Yoon Ji-ho (diperankan Jung So-min) yang hidupnya menyedihkan sebagai asisten penulis naskah drama. Deritanya lengkap: melajang di usia 30, ditendang dari rumah karena adiknya yang laki-laki sudah menikah dan akan punya bayi, ditolak permohonan kreditnya oleh bank karena berstatus pekerja lepas (yang meskipun drama-drama yang ditulisnya begitu terkenal sampai ia menyodorkan judul-judul dan foto-fotonya bersama aktor-aktor kepada teller bank, tak berhasil juga membuat permohonan kreditnya dikabulkan).

My Love Eun Dong

Beloved_Eun-dong_(사랑하는_은동아)

Jujur saya belum menonton film ini dan baru saja membaca ulasannya di Wikipedia. Inti ceritanya soal seorang aktor yang jatuh cinta dengan penulis bayangan (ghostwriter) yang ia sewa. Dan tentu saja si pria ini bertemperamen sulit lalu meleleh begitu ghostwriternya masih bersemangat dan terlihat tulus. Klise tapi oke juga.

Kill Me, Heal Me [2015]

4da0f63b1bc877a6e51425614824984622e07c2e_00

Novelis Park Seo Joon tidak suka terlalu dikerubuti penggemar tapi malah mengumbar kehidupan pribadi saudaranya untuk dipakai di novelnya. Drama ini belum saya tonton dan tampak menarik juga dinikmati.

It’s Okay, That’s Love

Its_Okay_poster_1.pngDi sini Jo In Sung memainkan peran novelis terkenal dalam genre misteri. Seperti biasa, ia memiliki sifat eksentrik berupa OCD dan delusi.  Lalu ia jatuh cinta pada psikiater yang menanganinya.

The King of Dramas

250px-The-King-of-Dramas-Poster1.jpg

Drama ini menampilkan  Jung Ryeo Won sebagai penulis naskah drama pemula. Untuk itu ia harus bekerjasama dengan CEO dan aktor bintang yang arogan.

Ex Girlfriends Club [2015]

exgf_6.jpg

Byun Yo Han di sini memerankan karakter protagonis yang berprofesi sebagai penulis webtoon. Ini unik karena selama ini yang diangkat cuma penulis novel. Konflik muncul begitu karyanya difilmkan dan semua mantan pacarnya pun menjadi berang.

Yang mana drama tentang penulis yang Anda favoritkan? (*/foto: Wikipedia)

Jack Unterweger: Dari Residivis Jadi Penulis, Kembali Jadi Residivis

Penulis bagi banyak orang adalah sosok manusia yang paling tidak membahayakan dalam aspek fisik. Mereka terbiasa duduk, diam, mengetik atau menggoreskan pena ke kertas selama berjam-jam dalam sehari, sehingga tidak terbiasa menggunakan otot-otot mereka bak sprinter, binaragawan, pesenam, perenang atau atlet profesional lainnya. Dan meskipun ada sebagian penulis yang berolahraga yang intens seperti Haruki Murakami yang suka berlari marathon dan John Irving yang menekuni olahraga gulat, tak banyak penulis yang dikenal agresif atau memiliki predikat sebagai makhluk yang membahayakan bagi keselamatan orang lain. Mungkin ada penulis yang membahayakan posisi atau nyawanya sendiri, misalnya wartawan investigasi atau penulis buku atau novel sekontroversial Ayat-ayat Setan milik Salman Rushdie, tetapi citra penulis sebagai makhluk yang bisa membunuh sangatlah tidak lazim.

Apalagi jika Anda menyaksikan wajah manis Jack Unterweger. Siapapun mungkin akan meragukan apakah pria yang populer di kalangan wanita ini bisa menyakiti hewan sekalipun. Wajahnya tidak bisa dikatakan jelek. Tubuhnya tergolong kecil dan kurus untuk orang Eropa, tingginya hanya 5 kaki 5 inci. Jadi jangan membayangkan Jack sebagai seorang yang tinggi besar.

Unterweger berasal dari negeri yang membanggakan diri dengan tingkat kriminalitas yang rendah dan kebudayaannya yang tinggi, Austria. Musik-musik klasik baroque lahir di negara yang tidak berpantai ini.

Kehidupan Unterweger yang lahir 16 Agustus tahun 1950 itu dari kecil sangat malang. Ia tumbuh sebagai anak yang dibuang oleh sang ibu. Ibunya, menurut pengakuan Unterweger sendiri, adalah seorang pekerja seks komersial. Ayahnya adalah salah satu tentara yang bertugas untuk Amerika Serikat di masa perang. Pria ini pelanggan sang ibu.

Selama 7 tahun, Jack kecil harus tinggal bersama sang kakek yang tinggal di sebuah gubuk reot. Kakeknya juga bukan pengaruh yang baik bagi kejiwaan sang cucu. Ia seringkali mengajak PSK masuk ke gubuknya di malam hari, dan tidak peduli apakah sang cucu melihatnya asyik masyuk bersama wanita yang ia sewa. Dikatakan bahwa di dalam gubuk itu hanya ada satu kamar, sehingga saat Jack tidur, ia bisa mendengar sang kakek sedang bermesraan dengan PSK.

Masa remaja menjadi makin sulit bagi Jack. Menjelang masa dewasa, ia menghadapi berbagai masalah hukum dan dijebloskan ke pusat
rehabilitasi anak dan remaja pelaku kenakalan. Ia berkelana di Swiss dan Jerman. Di periode ini, ia sudah berhadapan dengan tuduhan kriminal, dari perkosaan, penganiayaan, bahkan penyekapan.

Tahun 1974 menjadi saksi bagaimana Unterweger makin mengarah pada dunia kekerasan. Margaret yang dikenal Jack sebagai teman pacarnya menjadi korban pencurian dan pembunuhan keji Unterweger. Unterweger tidak hanya menjarah harta bendanya tetapi juga menyeretnya ke tempat sepi kemudian menyuruh korbannya menanggalkan pakaian dan memukuli atau menjerat lehernya hingga mati tercekik.

Di Salzburg, Unterweger kemudian diadili atas tuduhan itu dan terbukti bersalah. Ia menjalani hukuman pidana selama 15 tahun lamanya. Penjara membuatnya menjadi seseorang yang berbeda. Entah bagaimana, ia berubah dari seorang penjahat menjadi seseorang yang sangat lihai memanfaatkan kata dan kalimat menjadi senjata yang menamenginya dari stigma negatif masyarakat. Dikisahkan bahwa Unterweger mampu belajar sebagai sastrawan dan menghasilkan karya berupa buku dengan banyak membaca di perpustakaan di lembaga pemasyarakatan tempatnya menjalani hukuman pidana. Kemampuan sastrawinya makin berkembang.

Di kalangan birokrat dan masyarakat Austria sendiri 6 tahun sebelum keluarnya Unterweger terjadi sebuah perubahan, yakni munculnya keyakinan bahwa siapapun yang menjalani hukuman pidana atas kejahatan bisa direhabilitasi sehingga dapat kembali berperan positif di kehidupan masyarakat luas. Dan semua ini berkontribusi pada dilepasnya Unterweger ke dunia bebas. Menurut wartawan Gunther Nenning, langkah ini didasari atas keinginan untuk membantu mereka yang kurang beruntung karena sudah mengalami ketidakadilan sosial dalam
masyarakat, seperti Unterweger muda yang lahir dalam lingkungan yang penuh kekerasan dan seks bebas.

Dengan keahlian menulisnya, pasca dilepas dari hotel prodeo ia menghasilkan puisi, naskah drama, bahkan buku anak-anak dan buku autobiografinya sendiri yang cukup menarik perhatian dunia sastra setempat.

Karya-karyanya itu meyakinkan masyarakat bahwa Unterweger bukanlah sosok yang sangat keji sebagaimana yang mereka sangka. Ia bisa sangat lembut dan memahami perasaan yang halus sekalipun dan mengungkapkannya dalam kalimat-kalimat indah.

Unterweger bahkan kemudian secara perlahan masuk lingkaran budayawan dan sastrawan elit Austria. Dia juga menjadi simbol kesuksesan program rehabilitasi residivis di Austria. Semua berkat kharismanya dalam menggunakan kata-kata. Sebagian berpendapat Unterweger menjadi contoh kasus bagaimana sastra memiliki pengaruh kuat dalam “menyembuhkan dan menebus dosa” dalam jiwa seseorang.

Salah satu bukunya berjudul “Fegefeur” (Purgatory/ Penyucian) diterbitkan tahun 1983. Kisah dalam buku ini mengenai masa sang penulis menjalani hukuman pidana. Sutradara Willi Hengstler tertarik membuat filmnya dan film itu dirilis tahun 1989.

Namun, bukan berarti Unterweger lupa caranya menjadi pembunuh. Ia menganggap bahwa menjadi seorang penulis akan membantunya keluar dari penjara lebih cepat dan diterima di masyarakat, bahkan menjadikannya sebagai pesohor. Dan yang penting, ia dihormati dan hidup makmur.

Pada tanggal 23 Mei 1990 Unterweger dibebaskan secara bersyarat setelah 15 tahun mendekam di penjara. Jumlah hukuman 15 tahun itu adalah masa hukuman minimal yang harus dijalani dalam hukuman seumur hidupnya.

Unterweger yang baru lepas dari hukuman itu langsung mencuat menjadi selebriti. Ia diundang dalam acara diskusi televisi nasional yang disaksikan secara luas mengenai reformasi hukum pidana di Austria. Melalui acara itulah, publik makin diyakinkan dengan tingkat intelektualitas dan kharisma Unterweger sebagai sosok panutan dan pujaan. Pria itu tampil bersih dalam setelan jas putih, berbicara dan berdebat dengan cerdas dengan para jurnalis dan sosok intelektual secara langsung di media.

Meski sudah terkenal dan menjadi penulis yang disegani masyarakat serta memiliki basis fans tersendiri, ia tidak berniat untuk menjadi warga baik-baik. Ia kembali ‘kambuh’, dan kali ini cakupannya meluas. Di Los Angeles, Amerika Serikat, Unterweger juga melakukan tindakan yang sama. Begitu juga di kota Praha, Chekoslowakia. Korban-korbannya kesemuanya adalah wanita muda, sebagian pekerja seks komersial, seperti sang ibu, yang ia benci karena sudah menelantarkannya begitu saja di dunia yang kejam ini.

Singkat cerita, Unterweger berhasil diringkus aparat setelah dituduh menghabisi 11 korban perempuan: 7 di Austria, 3 di AS, 1 di
Cekoslowakia. Para penggemar Unterweger masih memberikan dukungannya dengan hadir di pengadilan.

Publik makin lama makin mengetahui bahwa Unterweger adalah pribadi yang manipulatif dan mampu menggunakan kata-kata dan mimik muka serta menggunakan kedekatannya dengan lingkaran elit intelektual. Para pendukung Unterweger mulai meragukannya.

Unterweger memberikan pembelaan yang sangat meyakinkan dan menggugah emosi bagi banyak orang yang menyaksikannya. Namun, berkat juri yang menggunakan bukti-bukti yang kuat, Unterweger tak dapat lolos kali ini. Ia terbukti dengan meyakinkan sudah bersalah dalam 9 kasus pembunuhan tersebut. Dan ia juga dituduh menjadi pelaku dalam 2 kasus lainnya.

Ia mengancam akan bunuh diri begitu gugatan bandingnya ditolak dan dijebloskan ke penjara. Pria itu yakin dengan kemungkinan untuk bebas dari semua tuduhan. Rupanya ia telah berjanji dengan dirinya sendiri untuk tak akan pernah lagi menginjakkan kaki dalam penjara.

Unterweger tidak memberikan gertakan sambal. Ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Dengan berbekal sebuah tali dalam pakaiannya, ia menggantung diri di selnya.

J. D. Salinger:Penulis yang “Terkutuk” oleh Kesuksesan Karyanya

‎Persis lima tahun berlalu sejak penulis J. D. Salinger meninggal dunia di usia 91 tahun. Ia meninggal 27 Januari 2010. Karyanya yang pertama dan paling sukses serta paling berpengaruh hingga saat ini ialah The Catcher in the Rye.

Namun, Salinger bukannya bahagia menjadi terkenal. Ia lebih merasa terkutuk oleh apa yang ia tulis di dalam novel pendek itu. Apa pasal? Tiga kasus pembunuhan terjadi sebagian karena “dipicu” oleh ‎novel yang mengisahkan tentang seorang pemuda bernama Hauden Caulfield tersebut. Dalam pembelaan Mark David Chapman (pembunuh John Lennon), novel ini dipakai sebagai penjelasan tindakan keji itu. Ada dua pembunuhan lagi yang menyebutkan novel itu sebagai alasan.

Kepada wartawati Betty Eppes yang sengaja mencarinya 6 bulan sebelum penembakan Lennon, Salinger ‎berkata,”Saya menyesal menulis tentang Haulden (Caulfield).”

Salinger‎, melalui Eppes, berkata bahwa ia bekerja untuk dirinya selama mengurung diri dari pergaulan sosial. “Seorang penulis harus menulis karena memang ia harus menulis. Yang paling penting adalah menulis”.

Saya baru membeli The Catcher in the Rye 13 Januari kemarin. Dan apakah saya juga akan terinspirasi melakukan hal-hal radikal?

Breaking News: Jonru Hentikan Newsletter

Mendapati email bersubjek “Saatnya Berpisah” dari Jonru yang tersohor itu beberapa menit lalu, saya terkejut. Beberapa saat kemudian saya menyadari email itu adalah email blast karena tahun 2009 saya pernah mendaftarkan alamat email saya di sekolah menulisnya. Ya, saya belum tahu saat itu akan menjadi orang seperti apa Jonru. Yang saya tahu, Jonru mengklaim dirinya sebagai orang yang kampiun ‎menulis sehingga otomatis ia bisa menularkan ketrampilan mengolah kata itu pada orang lain.

Di kesempatan lain, saya juga pernah melihatnya sekilas di Pesta Blogger yang saat itu berubah nama menjadi On Off ID tahun 2011. Namun demikian, saya belum pernah sekalipun berbincang dengannya. Jadi saya tak bisa banyak berkomentar atas sosoknya yang akhir-akhir ini amat kontroversial itu.

Seperti kita ketahui, Jonru adalah simpatisan PKS. Dan ia tidak malu-malu menunjukkan pandangan politiknya secara terbuka. Tidak salah. Itulah indahnya alam demokrasi. Bisa menghujat sana sini tanpa bukti. Tetapi saya lebih tertarik mengupasnya dari segi prestasi menulis. Ia mengecewakan.

Seorang teman yang juga simpatisan PKS menanyakan apakah saya benci Jonru. Bukan sosoknya yang patut dibenci, tetapi perbuatannya dan perkataannya yang bernada kebencian. Sungguh mengecewakan. Seseorang yang mengaku sebagai penulis tetapi buku-bukunya kalah membahana dibandingkan cuitan dan tulisan di jejaring sosial. Sekali dua kali mengecam masih manusiawi. Namun, bila menjadi semacam kebiasaan yang malah membuat kita teralihkan dari misi sebagai penulis (yaitu menyebarkan kabar dan pengetahuan yang baik), rasanya tidak berlebihan kalau saya merasa jengah.

Di tengah makan siang tadi, saya pun menyempatkan membaca email sendu itu. Begini tulis Jonru:

‎”Halo Akhlis

Apa kabar? Semoga baik-baik saja, ya. .. Terima kasih banyak, Akhlis telah menjadi anggota setia pada newsletter ini. Dengan berat hati saya sampaikan, bahwa newsletter ini akan ditutup untuk selamanya sejak 1 Januari 2015. Tentu banyak pertimbangan yang tak bisa saya sebutkan satu-persatu di sini.

Namun jangan khawatir! Jika Akhlis ingin mendapat update terbaru mengenai pelatihan penulisan atau buku terbaru Jonru, dipersilahkan bergabung dengan akun sosial media:

– Twitter: @jonru

– Instagram: @jonruginting

– Fan Page: https://www.facebook.com/jonru.page

Jangan lupa bergabung juga dengan toko online yang dikelola oleh Jonru Management, yaitu: https://www.facebook.com/tokojonru

Jika Akhlis ingin mendapat update info pelatihan penulisan terbaru bersama Jonru, silahkan SMS ke nomor berikut: 085770482715 atau 081281956427 (SMS ONLY)

Format SMS: Nama Anda – Tempat Tinggal Anda

Contoh: Andi Wijaya – Jakarta

Nanti jika ada info pelatihan penulisan, kami akan menginformasikannya kepada Akhlis.

Semoga informasi ini bermanfaat, ya… 🙂 ..

Terima kasih dan salam sukses untuk Akhlis !!!

Tertanda,

Jonru Pengelola Newsletter dari Penulis Lepas Group‎

http://www.penulislepas.com.‎

Yang menarik perhatian saya, ia membuka surat tanpa sapaan “assalamualaikum”. Jonru malah menggunakan “halo”. Saya mengernyit. Mengapa? Apakah ia mulai melunak pada sekulerisme sekarang? Apakah kini ia sudah terlalu sibuk menangani kasus hukum karena namanya jadi kosakata baru? Atau karena alasan lain yang lebih rahasia?

Selamat tinggal, Jonru…

Bagaimana Menulis Membuat Anda Lebih Sehat

Menulis menurut Haruki Murakami adalah salah satu aktivitas yang kurang sehat. Ada betulnya memang. Bayangkan Anda harus duduk di sebuah kursi di dalam ruangan selama belasan jam lamanya setiap hari sampai lupa (atau melupakan) kegiatan lainnya seperti makan, minum, atau beristirahat di malam hari sesuai kebutuhan tubuh yang
sebenarnya. Itulah mengapa novelis Jepang kenamaan itu mengimbanginya dengan berolahraga lari dan berhenti merokok, sebuah kebiasaan tak sehat yang kerap kita jumpai di komunitas penulis. Sudah lumrah kita jumpai para penulis yang juga perokok dan penggemar berat kopi atau minuman berkafein yang sampai berkata,”Saya tidak bisa menemukan inspirasi tanpa rokok dan kopi.” Haruki berbeda. Ia ingin berkarya lebih lama, dan karena itu, ia harus tetap sehat dan berumur panjang. Masuk akal.

Saya tidak hendak meyakinkan Anda untuk meninggalkan kegiatan menulis dengan memberikan paragraf pembuka seperti itu. Saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa kegiatan sebaik apapun, termasuk menulis, jika berlebihan bisa berdampak negatif pula pada kita sebagai pelakunya. Itu sudah menjadi hukum alam.

Akan tetapi, jangan cemas. Bila Anda menulis dengan mengindahkan keseimbangan dalam hidup ini, manfaatnya justru akan lebih banyak.

Menulis sendiri memiliki manfaat yang tidak hanya di dunia akademis hingga dunia profesional. Kemampuan menulis yang baik juga menjadi bagian penting dalam kemampuan berkomunikasi saat ini. Saya sendiri pernah menjumpai seseorang yang mengaku sangat kesulitan saat harus menulis di ujian akademik atau ujian masuk kerja yang mengharuskannya menulis ringkasan eksekutif atau esai singkat. Bahkan hingga dekat dengan detik-detik terakhir ujian pun, yang ada di kertas jawaban hanya beberapa baris kalimat. Belum sampai menjadi paragraf yang utuh. Padahal ia tahu ia memiliki banyak ide dan pemikiran di dalam benaknya. Cuma ia tak tahu bagaimana merangkai kata-kata itu agar layak dibaca.

Kini ada alasan kuat mengapa siapa saja harus mencoba menulis lebih sering, meski bukan penulis profesional. Ternyata aktivitas menulis yang dilakukan secara rutin dalam waktu 15-20 menit selama 3-5 kali sepanjang 4 bulan menurut sebuah studi tahun 2005 sudah bisa memberikan manfaat yang signifikan pada kesehatan fisik dan emosional para subjek studinya. Artinya, menulis secara ekspresif (menuangkan uneg-uneg dalam sebuah catatan harian atau membuat cerita fiksi, misalnya) memperbaiki suasana hati, mengurangi tingkat stres dan gejala depresi. Tidak heran J. K. Rowling pernah mengatakan ia pasti akan gila jika tidak memiliki menulis sebagai pelampiasan. Menulis, selain membuatnya kaya raya, juga membuatnya lebih waras dalam menghadapi fase-fase tersulit seperti kemiskinan dan perceraian dalam hidupnya.

Dengan menulis mengenai kejadian-kejadian emosional, penuh tekanan dan membuat kita trauma, kita akan berpeluang lebih sedikit terserang penyakit dan akan terkena lebih sedikit dampak negatif dari trauma yang pernah kita alami di masa lalu. Mereka yang menulis secara ekspresif mengenai hal-hal tersebut juga akhirnya menghabiskan lebih sedikit waktu di rumah sakit. Tekanan darah mereka lebih terkendali (tentunya dengan juga memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi) serta memiliki fungsi hati (liver) yang lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa menulis ekspresif.

Pada kenyataannya, menulis ekspresif (expressive writing) bisa membantu kita menyembuhkan diri dari luka fisik lebih cepat. Di tahun 2013, para peneliti dari Selandia Baru memantau pemulihan luka-luka fisik setelah prosedur biopsi yang wajib dilakukan secara medis pada 49 orang dewasa. Semua subjek penelitian ini disarankan untuk menuangkan pemikiran dan perasaan mereka dalam bentuk tulisan selama hanya 20 menit, 3 hari secara berturut-turut, 2 pekan sebelum biopsi dilakukan. Sebelas hari kemudian, 76% dari subjek studi dalam kelompok eksperimen yang menulis sebagaimana disarankan telah sembuh
sepenuhnya. Sebanyak 58% dari kelompok kontrol (yang tidak
diperintahkan menulis) belum sembuh. Studi ini menyimpulkan bahwa menulis mengenai kejadian-kejadian yang membuat para pasien tertekan membantu mereka memahami kejadian-kejadian itu dan dengan demikian membantu menurunkan tingkat stres.

Bahkan mereka yang dinyatakan menderita penyakit-penyakit tertentu bisa meningkatkan kesehatan mereka melalui menulis. Studi-studi ini menunjukkan bahwa orang yang hidup dengan asma dan meluangkan waktu untuk menulis memiliki serangan yang lebih sedikit daripada penderita asma yang tidak menulis. Para pasien AIDS yang menulis memiliki jumlah sel T yang lebih tinggi. Sel-sel T ini merupakan limfosit yang diproduksi atau diproses oleh kelenjar timus dan secara aktif berperan dalam respon kekebalan tubuh manusia. Para pasien kanker yang menulis cenderung memiliki perspektif yang lebih optimis terhadap kehidupan secara umum dan kondisi yang tengah mereka hadapi. Dari sana, kualitas hidup mereka – terlepas dari sembuh tidaknya – biasanya lebih baik.

Jadi apa yang membuat menulis baik bagi kita semua? Seorang peneliti bernama James W. Pennebaker melaksanakan riset mengenai menulis untuk menyembuhkan diri secara alami selama bertahun-tahun di University of Texas di kota Austin, AS. “Saat orang diberikan kesempatan untuk menulis mengenai gejolak emosional yang mereka alami, kesehatan mereka biasanya lebih baik,”tulis Pennebaker. “Mereka lebih jarang
berkonsultasi ke dokter. Mereka mengalami perubahan dalam fungsi kekebalan tubuh.”
Bagaimana ini bisa terjadi? Pennebaker meyakini bahwa aktivitas menulis ekspresif ini memungkinkan orang untuk rehat, mengevaluasi diri dan bagaimana mereka menjalani kehidupan ini. Alih-alih terobsesi secara tidak sehat terhadap sebuah insiden atau memori di masa lalu, kita bisa memfokuskan diri pada bagaimana bergerak maju dalam hidup. Dengan demikian, tingkat stres kita bisa menurun dan kesehatan niscaya akan membaik. Tentunya sekali lagi, dengan diiringi perbaikan gaya hidup dan cara pandang terhadap kehidupan.

Kita tidak harus menjadi novelis atau cerpenis penuh waktu, kolumnis, blogger yang setiap hari menulis demi mencari nafkah (karena menulis untuk mencari nafkah malah kerap meningkatkan kadar kortisol juga). Cukup menulis catatan harian (diari) yang Anda simpan sendiri (jika Anda termasuk orang yang tertutup) atau mengetiknya dalam dokumen dengan kata kunci agar tak seorang pun bisa membuka dan membaca curahan hati Anda.

Menulis blog juga bisa membantu. Menurut sebuah studi, disimpulkan bahwa menulis blog bisa memicu pelepasan hormon dopamin yang efeknya mirip dengan efek berlari atau mendengarkan musik kesukaan. Jangan cemas curahan hati di blog bisa dibaca orang-orang yang tidak dikehendaki karena blog juga bisa diatur sedemikian rupa agar tidak bisa dilacak Google atau dibuka orang lain kecuali Anda mengizinkan mereka masuk. Di platform-platform blogging besar seperti Blogger, WordPress, Tumblr, saya pikir ada fasilitas semacam ini. Blog bisa diatur privasinya: publik atau privat. Jika tidak mau menutup akses ke semua tulisan di blog Anda, Anda juga bisa memberikan kata kunci untuk satu artikel alias postingan tertentu yang dikehendaki agar tidak dibaca sembarangan orang. Dengan demikian, Anda bisa lebih leluasa menumpahkan perasaan dan pemikiran Anda yang berpotensi memicu konflik dengan orang lain atau membuat Anda malu jika mereka membacanya.

Pertama kali menulis, Anda tak perlu cemas dengan standar-standar yang ada. Abaikan EYD, tata bahasa dan aturan sejenisnya yang mengekang. Menulislah seperti kita berbicara pada seseorang yang Anda sangat percayai dan tidak akan membocorkan rahasia Anda. Dengan begitu, kata-kata akan mengalir seperti air.

Jadi siap menulis sekarang?

(Sumber foto: quora.com)

15 Kualitas Penulis Unggul

‎Berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama bertahun-tahun dan berbincang dengan beberapa jurnalis, Roy Peter Clark yang pernah menulis “How to Write Short” menemukan kesamaan dalam diri para penulis terbaik.

Pertama adalah ‎mereka semua kecanduan membaca sepanjang hayat. Mereka melahap semua bacaan dari fiksi sampai non-fiksi, novel sampai film.

‎Kedua, mereka cenderung suka menulis panjang dan mereka menyadarinya. Mereka menulis dengan sepenuh hati dan itu terpancar dari semua kalimat yang dirangkai. Anda sebagai pembaca pastinya akan merasakan kejanggalan bila penulis atau wartawan tidak begitu menguasai atau tertarik pada satu topik. Tulisannya akan terasa hambar atau monoton. Penulis yang baik ingin memanjakan pembacanya dengan menyajikan karyanya yang terbaik, dan kerap karya itu menjadi begitu panjang. Namun demikian, mereka juga bisa menyesuaikan diri bila harus menulis dengan singkat dan padat.

Ketiga, penulis unggul memandang dunia sebagai tempat mereka bereksperimen. Dengan persepsi ini, mereka tidak segan turun ke lapangan, tidak hanya berkutat dengan buku dan komputer di ruangan sepi tetapi juga mengobrol dengan orang-orang baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, ‎merasakan pengalaman baru. Semua itu pada gilirannya akan memperkaya cerita yang ia akan suguhkan ke pembaca.

Keempat, penulis berkualitas menyukai kebebasan dalam bekerja. Energi kreativitas mereka tidak bisa dikendalikan oleh orang lain termasuk editor. Mereka seolah memiliki kompasnya sendiri, semacam naluri yang mengatakan pada dirinya,”Ini pasti akan menarik untuk disajikan bagi pembaca saya.”

Kelima, penulis yang top tidak sungkan dan tidak malas mengumpulkan fakta dan informasi, termasuk anekdot, kisah yang membuatnya terkesan, dsb. ‎Mereka menggunakan berbagai alat yang ada untuk mengumpulkan dan menyimpan data berharga tadi, dari mencatat di buku harian, merekam di alat tertentu, mengetik di perangkat mungil seperti ponsel, atau mengandalkan catatan mental di benaknya.

Keenam, penulis unggul bersedia menghabiskan waktunya menyempurnakan bagian pembuka dalam karyanya. Karena ia tahu, tanpa pembuka yang baik, orang akan sulit tertarik membaca tulisannya lebih lanjut sampai habis. Dalam jurnalisme, kita kenal bagian ini dengan istilah “lead”, yang memuat gagasan utama tulisan dan sekaligus membuat pembaca makin penasaran.

Ketujuh, ‎penulis yang baik sanggup melarutkan diri dalam kisah yang mereka tuliskan. Ini berkaitan erat dengan totalitas dan fokus dalam berkarya. Mereka menulis dengan sepenuh hati, bukan hanya mencari uang atau memenuhi tuntutan editor dan pemilik modal.

Kedelapan, ketekunan selalu bersemayam dalam diri penulis-penulis unggul. Mereka sanggup bekerja sehari semalam untuk memberikan tulisan terbaik mereka.

Kesembilan, ‎mereka menyukai keteraturan terkait bahan tulisan yang akan digunakan karena mereka sadar pekerjaan akan jauh lebih mudah bila literatur dan sumber yang dibutuhkan dikelompokkan dengan baik.

Kesepuluh, penulis-penulis berkualitas “tega” untuk menulis ulang atau bahkan membuang bagian yang tak perlu. JK Rowling, misalnya, mengaku membuang bagian cerita tentang otopsi Barry Fairbrother dalam The Casual Vacancy meski sudah susah payah menulisnya selama berhari-hari hanya karena ia kemudian merasa bagian itu terlalu melenceng dari isi cerita.‎ Menyelesaikan draft pertama adalah sebuah langkah yang baik tetapi belum bisa disebut akhir proses kreatif penulisan. Menulis adalah menulis ulang, begitu kata seorang penulis. Buku-buku laris biasanya hasil dari penulisan ulang yang makin menyempurnakannya.

Kesebelas, mereka biasa membaca keras-keras tulisannya untuk mengetahui kejanggalan. David Sedaris membaca lantang hasil tulisannya sebelum menyerahkan ke editor atau penerbit. Sekali dua kali belum cukup. Belasan kali juga belum cukup kalau masih bisa diperbaiki lagi. Alasannya? Dengan membaca, kita bisa mengetahui seberapa mengalirnya kisah yang kita ceritakan dalam tulisan.

Keduabelas, penulis unggul suka bercerita. Elizabeth Gilbert mungkin contoh terbaik dari penulis yang begitu suka mengobrol tentang hal-hal konyol dan remeh temeh tetapi menarik dan menghibur. Ia kerap mengumpulkan anekdot-anekdot berharga dalam ingatan dan catatan hariannya untuk kemudian meleburkannya dalam karyanya. Daripada mentah-mentah menyuguhkan informasi dalam pola 5W dan 1H, ia memakai gaya bercerita yang mengalir dan menarik karena tulisannya padat dengan narasi, anekdot, kronologi dan suasana yang detil.

Ketigabelas, ‎penulis yang baik mampu memberikan keseimbangan antara memuaskan idealisme diri dan selera pembacanya. Mereka berusaha menarik tanpa harus menjadi orang lain dalam tulisannya.

Keempatbelas, penulis berkualitas tahu ia tidak bisa terjebak dalam satu gaya penulisan selamanya. Ia mau mengeksplorasi diri dengan mencoba berbagai bentuk dan gaya menulis. Dengan keluar dari zona nyaman itulah, ia akan memperkaya pengalaman dan ketrampilan menulisnya.

Itu semua menurut Clark adalah ciri-ciri umum penulis yang berkualitas. Dan menurut saya masih ada satu lagi ciri lainnya, yaitu kemampuan bekerja di dalam berbagai kondisi apalagi jika mereka diburu waktu. Mereka tidak memiliki ketergantungan yang begitu mengganggu pada suatu hal, dari kafein sampai keharusan menulis di tempat dengan kondisi tertentu. ‎ Kita tentu pernah menjumpai penulis-penulis eksentrik yang hanya bisa bekerja di dalam suasana tertentu atau dengan alat menulis tertentu. ‎Ini hanya akan menghambat produktivitasnya sebagai penulis.

9 Tips Menulis Fiksi

Setelah bertahun-tahun terbiasa bekerja di bidang non-fiksi, menulis fiksi bagi saya menjadi sebuah kerja keras tersendiri. Menulis fiksi itu susah sekali. Satu cerita pendek yang tak lebih dari 1000 kata, misalnya, cukup membuat saya berpikir keras. Sebuah pengalaman yang sangat lain dari asumsi banyak orang. Banyak orang menganggap enteng menulis fiksi. Tinggal berfantasi, tulis fantasi itu, dan tada! Jadilah karya fiksi yang siap diterbitkan, atau setidaknya siap dibaca oleh Anda sendiri. Kenyataanya tidak semulus itu! Kalau menulis fiksi semudah itu, semua orang bisa menjadi penulis fiksi profesional.

1. Ketahui akhir kisah yang akan Anda tulis. Ini sangat penting karena banyak orang memiliki ide cerita atau ide karakter yang menurut mereka menarik jika dituangkan menjadi karya fiksi. Biasanya Anda akan bisa menulis bab-bab awalnya, setelah itu cerita rekaan tadi akan layu dengan sendirinya. Karena apa? Si penulis tidak tahu harus bagaimana mengakhirinya. Jangan hanya menulis dengan mengalir begitu saja tanpa mengetahui arah dan tujuan, atau Anda hanya akan membuang waktu saja. Jadi cukup masuk akal kalau kita melihat penulis kenamaan John Irving memilih untuk menulis novelnya dari ending/ akhir kisah, baru kemudian menulis bagian depan dan tengah.

2. Mulai dengan premis yang unik. Satu hal yang menyebabkan kisah fiksi menjadi membosankan dan datar adalah Anda sudah pernah mendengar atau membacanya. Kisah yang sudah klise akan membosankan bagi pembaca. Kisah Anda akan mudah ditebak dan pembaca tahu arah kisah Anda dan bagaimana akhirnya nanti. Ciptakan sebuah ‘twist’ baru dalam kisah yang sudah klise, misalnya. Atau ambil sudut pandang/ point of view yang segar dan berbeda.

3. Ketahui jalan ceritanya secara runtut dalam bentuk diagram. Saat Anda akan menulis karya fiksi, cobalah menyusun kausalitasnya, dari A ke B, lalu ke C dan D. Untuk itulah Anda perlu membuat diagram dengan panah sebagai penunjuk arah jalannya cerita. Para novelis sering menggunakan diagram seperti itu untuk mengingatkan mereka dengan plot cerita, yang kompleks. Makin rumit dan panjang ceritanya, makin diperlukan susunan jalan cerita agar Anda tidak ‘tersesat’ di jalan. Jadi nantinya Anda tahu hal-hal yang harus disebutkan dalam narasi Anda.

4. Kenali karakter Anda. Inilah yang cukup menantang bagi penulis non-fiksi seperti saya yang ingin mencoba menulis fiksi. Karena terbiasa dengan kisah-kisah yang nyata, menulis kisah rekaan membuat saya menjadi berimajinasi lebih tumpul. Membayangkan seseorang yang tidak pernah terlahir di dunia nyata apalagi menceritakan bagaimana kompleksitas karakter itu dalam berbagai kacamata sungguh sangat menantang dan melelahkan pikiran. JK Rowling memiliki cara ampuh untuk mengenali karakter-karakternya dengan lebih dalam. Ia
menggambarnya di kertas kosong agar memiliki gambaran lebih nyata tentang setiap karakter. Ya, setiap karakter! Bukan hanya karakter utama tetapi semuanya, termasuk latar tempatnya. Ketahuilah deskripsi karakter Anda, seperti tinggi dan berat mereka, tampilan fisik mereka, perangai, kebiasaan bicara dan makan mereka, dan sebagainya. Makin detil penggambarannya dalam narasi, pembaca akan lebih merasakan kehadiran karakter Anda dalam pikiran mereka. Seolah tertancap kuat di otak karena si penulis, yaitu Anda, menuliskannya dengan pemahaman penuh terhadap masing-masing karakter.

5. Utarakan momen yang paling penting. Inilah yang membedakan penulis fiksi dari penulis diari/ catatan sehari-hari. Jangan hanya tulis hal-hal rutin yang sudah biasa. Mungkin bisa dijadikan selingan saja tetapi berikan porsi lebih banyak untuk narasi hal-hal yang si karakter lakukan atau hal yang menimpa si karakter yang penting, yang mengubah hidupnya, yang mengubah dirinya dari orang yang, katakanlah, miskin menjadi kaya raya. Atau semacamnya. Inilah namanya “defining moment” atau saat yang menentukan karena penting dalam jalannya cerita.

6. Menulislah setiap hari. Manusia adalah apa yang ia lakukan secara berulang-ulang. Jika Anda mau menjadi seorang penulis fiksi, tulislah fiksi setiap hari. Entah itu berapa menit atau jam, yang penting Anda menyisihkan waktu untuk benar-benar menulis. Anda boleh saja berdiskusi atau mengobrol dengan teman sebelum menulis, tetapi pada akhirnya Anda harus duduk dan menuliskan apa yang ada dalam benak Anda ke kertas atau komputer karena yang membuat Anda menjadi penulis adalah kebiasaan menulis itu. Ini hanyalah soal pembiasaan.

7. Dengarkan gaya bicara orang lain. Agar Anda tidak terjebak dalam gaya menulis dialog yang itu-itu saja, Anda harus mempelajari gaya bicara orang lain di sekitar Anda dan menyesuaikannya untuk digunakan di karya fiksi Anda. Ada yang berpendapat makin tua seseorang, makin baik ia menulis fiksi. Alasannya karena orang itu lebih banyak bertemu dengan orang lain sepanjang hidupnya. Masuk akal kalau manusia 70 tahun bisa mengenal lebih banyak orang daripada remaja 16 tahun. Dan ini akan memperkaya narasinya. Tak merasa terlalu tua untuk menulis fiksi? Jangan khawatir. Bergaullah dengan sebanyak mungkin orang. Mungkin ini terdengar kontraintuitif bagi para penulis yang cenderung introvert atau tertutup dan tidak begitu suka pergaulan, tetapi cobalah untuk keluar dari zona pertemanan Anda yang sudah ada untuk mengenal lebih banyak orang baru agar Anda terekspos dengan lebih banyak tipe kepribadian yang kelak akan memperkaya cadangan fantasi Anda tentang karakter cerita fiksi yang paling ideal. Jika Anda kesulitan mempelajarinya hanya dengan mengingat gaya bicara dan kepribadian orang, cobalah menggunakan trik wartawan:merekam suara orang-orang yang sedang mengobrol. Saya kadang melakukannya dan menuliskannya menjadi sebuah tulisan. Hanya dari mendengarkan percakapan, sebuah narasi yang menarik bisa lahir. Anda tinggal memoles saja agar bahasanya lebih sesuai untuk ragam tulisan. Niscaya cerita Anda akan terasa lebih mengalir dan alami.

8. Berikan kepribadian pada karakter cerita Anda. Bagaimana karakter dalam cerita Anda bereaksi terhadap sesuatu? Apa yang ia akan lakukan dalam situasi-situasi tertentu? Di sini, pemahaman psikologis seorang penulis terhadap kepribadian manusia sangat membantu memperkaya ceritanya. Sebuah cerita yang memukau biasanya memiliki
karakter-karakter yang kepribadiannya sangat dalam sehingga pembaca akan selalu teringat dengan citra sang tokoh, terngiang-ngiang dengan kalimat-kalimatnya, dan sebagainya. Masalah yang sering ditemukan dalam karya-karya fiksi adalah penggambaran kepribadian karakter yang kurang mendalam sehingga terkesan hanya sepintas lalu dan kurang menancap di benak pembaca. Kebanyakan orang tidak akan peduli pada manusia yang tidak memiliki kepribadian yang unik. Di sinilah, penulis harus bekerja keras menonjolkan kepribadian masing-masing karakter dengan caranya sendiri.

9. Pastikan Anda menulis tentang hal-hal yang Anda ketahui dengan baik. Jika Anda belum tahu dan kenal dengan baik, lalau bagaimana caranya? Riset! Mengetahui suatu hal saja secara sepintas tidak menjamin Anda bisa menuliskannya dengan menarik. Anda perlu
mengenalinya lebih baik melalui penelitian. Tentu yang dimaksud penelitian di sini bukan penelitian ilmiah tetapi turun ke lapangan dan membuka semua indra Anda tentang objek yang akan ditulis. Jika tidak memungkinkan untuk menemukan objek itu secara langsung, coba membaca buku-buku atau sumber informasi lainnya tentang objek yang ingin ditulis atau yang ingin Anda singgung dalam karya fiksi Anda. Dalam jurnalisme, ada istilah “participatory journalism” yang di dalamnya sang pewarta terjun langsung agar bisa menyelami bahan yang akan ia tulis. Sama halnya dengan itu, penulis juga perlu melakukannya jika memungkinkan. Untuk menulis tentang balapan kuda, jangan sungkan datang ke arena pacuan kuda atau mengamati bagaimana orang-orang di pacuan kuda memasang taruhan mereka. Intinya, dengan terlibat atau mengamati langsung, Anda akan lebih mudah menemukan emosi dan pikiran yang khas dan hanya muncul di sebuah kondisi, tempat, dan sebagainya.

Cara Mengapresiasi Sastrawan

Di Ubud akhir pekan lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Ia baru saja merilis sebuah buku puisi. Ia menawari saya buku tersebut. Ia merasa sangat bersemangat untuk memperkenalkannya pada semua orang yang ia temui di Ubud Writers Readers Festival (UWRF) tahun ini.

Edrida, begitu namanya, menawari saya,”Kamu mau beli?” Matanya berbinar-binar. Dan saya mengangguk. Ia makin tidak percaya saya ingin membeli karyanya.

Sekali lagi ia bertanya,”Benar? Mau beli???”

“Berapa?”saya bertanya padanya.

“Lima puluh enam ribu,”ia berkata dengan sedikit haru, masih dengan antusiasme lalu mengambil tas besarnya di sebuah sudut.

Saya kaget dengan reaksinya. Jujur saja, saya tidak mengharapkan reaksi yang demikian meluap-luap. Ia seakan tidak percaya ada yang ingin membeli karyanya, padahal ini bukan karya pertamanya yang diperjualbelikan. Ia sudah menerbitkan beberapa buku.

Usut punya usut, setelah mengobrol saya tahu ia mengeluhkan harganya yang cukup mahal menurut beberapa orang. Tetapi apalah artinya Rp56.000 jika saya bandingkan dengan sebuah kumpulan cerpen hasil suntingan editor negeri kanguru Angela Meyer yang dibanderol, ehem, Rp400.000 lebih. Padahal tebalnya sedang saja. Mutu kertasnya juga tidak istimewa sekali. Apakah karya di dalamnya sangat bermutu? Entah. Itu sangat subjektif dan saya tak bisa meneliti lebih lanjut isinya karena tidak ada sampel yang bisa dibuka untuk sekadar baca cepat.

Setelah ia menerima uang itu, saya berkata santai,”Kalau saya nanti menerbitkan buku, saya juga mau buku saya dibeli. Bukan dibagikan gratis.”

Membagikan buku secara gratis memang tragis. Ada teman saya yang seorang jurnalis Pertamina selama berpuluh-puluh tahun yang, entah terpaksa atau tidak, membagikan buku puisinya yang sudah diterbitkan secara cuma-cuma untuk para kolega dan kenalannya.

Saya merasa ini kurang benar. Kecuali jika sastrawan itu benar-benar ingin memberikannya secara gratis, orang-orang di sekelilingnya haruslah membeli buku itu. Bukan, bukan nilai nominalnya yang menjadi poin utama tetapi bagaimana apresiasi itu diberikan. Sastrawan itu merasa sudah dihargai, sudah dianggap ada, sudah dianggap bekerja dan sukses berkarya. Ini bukan semata-mata belas kasihan tetapi dalam sudut pandang yang lebih luas juga bisa dianggap sebagai upaya awal untuk menggiatkan dunia seni kreatif kita. Tolonglah jangan menyalin tanpa izin, memfotokopi seenaknya lalu membagikan ke siapa saja. Berikan setidaknya penghormatan atas hasil kerja mereka.

Saya tahu hidup penulis tidaklah mudah. Banyak yang harus berjuang setengah mati mencari nafkah. Lihat saja NH Dini di masa tuanya. Ia sudah produktif menulis sekian lama, toh di masa uzurnya masih saja menderita di dalam deraan keterbatasan finansial. Meski tak harus kaya raya bak JK Rowling, setidaknya Dini dan semua sastrawan dan penulis kita di Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih layak.

Edrida, seperti banyak penulis Indonesia lainnya, masih menunggu apresiasi kita. Apresiasi yang tak kunjung mengemuka. Malah apresiasi yang datang lebih banyak dari mancanegara. Ia ingin saya menerjemahkan buku puisinya. “Siapa tahu bisa diundang ke sana!,”jeritnya gembira.

Menulis Itu Harus Egois

‎Menulis untuk orang lain itu susah, dan memang tidak seharusnya begitu. Apalagi kalau masih dalam tahap belajar. Makin terfokus pada pembaca, penulis biasanya makin stres. Dan meski stres itu bagus untuk memacu konsentrasi dan kinerja, jika berlebihan tentu dampaknya pada kreativitas berpikir seorang penulis juga kurang baik.

Menyaksikan wawancara Stephenie Meyer dengan Times, saya menyimpulkan menulis yang paling mudah adalah untuk diri sendiri. Meski untuk diri sendiri, bukan artinya bisa asal-asalan! Kita bisa ambil contoh dari catatan diari yang kata Dewi Lestari mirip “diare” verbal. Encer, keluar terus sampai si pemilik lemas, tapi miskin ampas alias esensi atau intisari yang bisa dipelajari. Maaf kalau deskripsinya terlalu memualkan.

Begini jawab Stephenie Meyer kurang lebih saat ia ditanya untuk siapa ia menulis Twilight:”Saya menulisnya untuk diri saya sendiri.” Dia tidak menulis Twilight untuk menyenangkan orang lain atau untuk dinikmati untuk orang lain tetapi karena ia ingin menulis buku yang ia hendak baca dan nikmati sendiri. Atau dengan kata lain, ia ingin menulis buku yang sesempurna mungkin di dalam benaknya demi kepuasan diri pertama-tama. Orang lain nanti dulu.

Menurut saya, pendekatan semacam ini patut dicoba. Dan ini bukan soal salah atau benar, terbukti atau tidak, tetapi lebih pada cocok atau tidak cocok karena tiap penulis memiliki gaya dan motivasi menulis yang unik.

Saya juga pernah mendengar novelis Ann Patchett ‎tidak mau mengikat kontrak buku dengan penerbit sebelum ia memang memiliki idenya dulu. Jadi Patchett menulis karena ide dalam dirinya dulu, bukan karena dipaksa oleh kontrak. Ia lebih menghargai dorongan internal dalam dirinya selama proses kreatif menulis daripada kekuatan eksternal seperti ketakutan karena melanggar tenggat waktu dan semacamnya. Saya suka pemikiran itu karena Patchett memperlakukan menulis sebagai ritual sakral, yang meski hasil kerjanya bisa dikomersialisasikan kemudian untuk mencari penghidupan tidak membuatnya terlalu murahan. Murahan adalah saat penulis menulis demi bayaran, royalti dan imbalan semata tanpa memiliki ide otentik dan idealisme serta pesan positif yang unik di dalamnya. Jiwa menulisnya rela dibiarkan tercerabut dari akarnya demi uang atau motif lain yang lebih dangkal atau keuntungan jangka pendek.

‎Jadi kalau saya harus menulis untuk lomba pun rasanya akan berbeda dibandingkan jika kita menulis karena dorongan dan inspirasi dari dalam benak. Itulah mengapa rasanya saya lebih susah menulis jika dorongan eksternal terlalu banyak bermain. Rasanya aneh, apalagi jika Anda menulis karya fiksi.

Menurut Anda?

Rekamlah karena Ingatan Tak Selalu Akurat dan Mencatat Tak Selalu Cepat

Kadang dalam sebuah pembicaraan santai, sebuah topik menarik mengemuka dan mengalirlah percakapan yang hidup dan berapi-api. Dan bagi seorang penulis, itu semua adalah bahan yang menarik, dan kalau sebisa mungkin, jangan sampai disia-siakan. Dari pembicaraan sehari-hari itu, banyak yang bisa dituangkan menjadi tulisan yang menarik dan tentu saja menjadi aktual karena sesuai dengan apa yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Bagi sebagian mungkin rasanya kurang menarik, tetapi tidak menutup kemungkinan bagi orang yang lain, paparan yang diambil dari percakapan sehari-hari itu berguna atau setidaknya menghibur mereka.

Saat-saat seperti itu membuat saya ingin menulis segera tetapi apa daya saya tidak sedang di meja dengan laptop yang terbuka, atau dengan lembaran kertas dan pulpen di tangan. Solusinya? Saya segera hidupkan aplikasi perekam di ponsel cerdas saya. Saya pernah merekam seluruh percakapan saya secara diam-diam beberapa orang. Misalnya, percakapan dengan teman-teman yoga, penjelasan dan instruksi guru yoga saya sepanjang kelas, jalannya rapat perusahaan, perbincangan santai dengan salah seorang sosok yang saya anggap menarik. Kadang saya tidak menyodorkan alat perekam itu di depan mulut mereka secara terang-terangan. Saya hanya letakkan di meja dan memastikan perekam itu bekerja dan ruang penyimpanan masih lapang.

Di antara begitu banyak nara sumber yang saya rekam itu, baru kemarin saya ‘tertangkap basah’. Seorang profesor yang sedang sibuk menjelaskan itu menyadari saya merekam semua perkataannya dari awal sampai akhir saat jeda makan siang. “Are you taping me?”tuduhnya. Ia benar dan saya hanya tergelak untuk menutupi rasa canggung di hadapan beberapa orang yang masih ada di ruangan. Haha. Tetapi ia tidak begitu terkejut karena saya sudah mengaku saya wartawan bisnis jadi sah-sah saja bukan?

Sang profesor yang berambut keriting – entah karena terlalu banyak berpikir atau yang lain – mengatakan dirinya pernah mengalami kejadian ‘pahit’ gara-gara ‘disadap’ semua perkataannya oleh wartawan di Eropa. “Saya cemas dengan wartawan karena pernah suatu saat saya berceramah, lalu saya mengatakan sebuah kalimat dengan nada bercanda. Saya katakan,’Entrepreneurship tak sesulit yang dibayangkan. Orang idiot pun tahu itu’ Tetapi si wartawan memunculkan esok hari berita dengan headline yang kurang lebih bernada:”Prof Entrepreneurship dari AS: Orang Idiot pun Bisa Jadi Entrepreneur.” Alhasil, jadilah si profesor wanita berdarah India itu bulan-bulanan beberapa entrepreneur yang tidak terima dikatakan demikian. Kami semua yang mendengar kisahnya tergelak-gelak. “Tapi bukankah Anda juga seharusnya berterima kasih karena wartawan itu sudah membuat Anda lebih terkenal?”tanya rekannya dengan nada melucu. “Haha, iya dan artikelnya itu menjadi yang paling banyak dibaca saat itu!”tukas wanita vegan itu lagi.

8 Kebiasaan Aneh Penulis Terkenal

1. Cobalah menulis secara horisontal.
George Orwell, Mark Twain, Marcel Proust dikenal suka menulis dengan tangan di tempat tidurnya sembari tidur-tiduran. Posisi santai membuat ide mengalir lebih lancar. Jangan lupa dengan begini kita juga siap tidur kapan saja. Tetapi jika kita termasuk orang yang suka tertidur saat harus bekerja di tempat tidur atau bekerja dalam posisi berbaring, lakukan cara-cara lain di bawah ini.

2. Gunakan musik untuk menambah semangat.
Menulis dengan diiringi musik menjadi bagian dari ritual saya juga sehari-hari. Bahkan pilihan musik yang didengar sedikit banyak mempengaruhi suasana hati, yang pada gilirannya mendorong penulis lebih ekspresif.

3. Jalan-jalan atau bersepeda tanpa tujuan jelas.
Aneh mungkin kesannya tetapi kalau kita sedang tidak ada ide atau ingin menyegarkan pikiran, cara ini bisa ditempuh. Charles Dickens dan Henry Miller dulu suka berkelana keliling Eropa hanya untuk tersesat, karena mereka tidak punya tujuan dalam melancong. Saat tersesat dan menemui banyak hal baru inilah ide-ide baru bisa mengalir. Melakukan perjalanan dengan kereta api juga menjadi pemicu keluarnya ide novel bagi JK Rowling. Ia mengaku mendapat ide karakter dan kisah Harry Potter saat berada di stasiun kereta. Jadi kalau merasa suntuk dan buntu, keluarlah, tersesatlah!

4. Tulis di waktu puncak produktivitas.
Waktu puncak ini sangat bervariasi. Dalam kasus saya, saya lebih suka menulis di waktu terjaga yang normal. Dengan kata lain, saya kurang terbiasa dan tidak mau membiasakan diri untuk terjaga di malam hari untuk menulis. Saya memiliki alasan tersendiri, yaitu karena saya juga sudah pernah merasakan pola kerja yang memangkas habis jam tidur, membuat saya seperti kalong. Dan dalam waktu beberapa bulan, tubuh seakan menjerit. Saya tahu pola kerja seperti itu akan lebih banyak membawa derita.
Tak semua penulis bekerja seperti demikian. Honore de Balzac, misalnya, terbiasa terbangun di tengah malam dan minum kopi pahit dan terjaga hingga keesokan harinya. Sementara Flannery O’Connor hanya menulis 2 jam per hari.

5. Santai!
John Cheever yang memenangkan Pulitzer Prize menulis hanya dengan mengenakan pakaian dalam. Dan jurnalis traveling Adam Skolnick merasa nyaman menulis dengan memakai sarung. Jika Anda merasa bosan untuk memakai pakaian resmi saat menulis karena terasa seperti di kantor, cobalah memakai busana apapun yang nyaman. Sebagian orang akan terbantu dalam menulis jika berbusana santai dan sesuai selera. Tentu saja kecuali jika Anda harus menulis di kantor. Tidak mungkin hanya memakai sarung dan singlet!

6. Lakukan ritual spiritual atau mantra.
Steven Pressfield, penulis hebat yang menghasilkan karya “The War of Art” menggunakan mantra Muse yang ditulis sastrawan Homer sebelum mulai menulis. Ia tak sendiri karena Shakespeare, Milton dan Chaucer juga demikian. Entah apa makna dari mantra tersebut tetapi mungkin sugesti positif. Saya tak punya ritual semacam ini karena bagi saya menulis tak mesti diperlakukan sebagai sesuatu yang sakral atau harus dikuduskan tetapi menjadi sarana melepas penat emosional (katarsis) dan melampiaskan ambisi intelektual, serta memupuk kredibilitas profesional.

7. Jika gagal semua, beristirahat sejenak.
Menulis bagi saya bukan proses instan. Ia mirip marathon, bukan sprint. Karena itu, saya cukup terkejut saat pernah membaca seorang penulis yang mengklaim dirinya writerpreneur dan sanggup menulis novel hanya dalam waktu 2 hari. Ya, dua hari! Sangat menggelikan. Bukan karena saya meremehkan kemampuannya tetapi manusia sejenius apapun tidak bisa mencapai karya berkualitas dengan hanya mengerjakan selama 48 jam saja. Entahlah mungkin jika pun itu mungkin, akan dibutuhkan waktu lebih panjang lagi untuk menyuntingnya secara total. Copywriter tersohor nan legendaris David Ogilvy memilih minum rum dan mendengarkan musik dari gramophone kesayangannya.
Karena saya berbaik hati, satu BONUS untuk Anda…

8. Tulis sebebas mungkin, edit dengan ‘kejam’!
JK Rowling mengatakan proses menulis novel realis dan kontemporernya “The Casual Vacancy” diawali dengan menulis sebebas mungkin. “Saya hanya ingin mengetahui apa yang terjadi secara utuh, lalu kembali lagi ke awal untuk memangkas bagian-bagian yang tak perlu,” terangnya dalam sebuah wawancara dengan Anne Patchett tahun lalu saat peluncuran novel barunya di Amerika Serikat. Jadi ia hanya mempertahankan apa yang perlu dibaca oleh audiensnya, bukan dengan hanya menyuguhkan semua bagian kisah begitu saja. Tak heran penulisannya memakan waktu 5 tahun. Dan harus saya akui, bagian terberat ialah merampingkan naskah. Saya merasa kurang rela jika ada bagian yang sudah saya kerjakan dengan susah payah (tetapi kurang serasi) harus dipenggal dan dibuang. Dan ini adalah penyakit! Padahal jika dipertahankan, bagian itu akan mencemari karya secara keseluruhan. Rowling menyingkirkan sebuah bagian tulisannya yang menceritakan proses otopsi protagonisnya karena memiliki alasan kuat untuk itu, padahal ia sudah mencurahkan pikiran selama beberapa hari untuk itu. Ini sangatlah menantang bagi saya karena ide relatif langka (saya masih merasa kurang imajinatif) dan memangkasnya adalah suatu ‘kebodohan’! Namun harus diakui jika mau karya yang lebih berkualitas, ini harus dilakukan tanpa belas kasihan.

9. Oh, did I mention YOGA??? Ya, sedikit peregangan tubuh juga sangat efektif memacu semangat menulis. Setelah melakukan headstand atau kayang, otak lebih segar dan ditambah bermeditasi sebentar, rasanya kepala penuh ide baru. Dan Brown pengarang The Da Vinci Code menggunakan alat tertentu untuk bisa rehat dalam posisi terbalik ( kepala di bawah jantung) jika merasa terkena writer’s block.

%d bloggers like this: