Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 3- Tamat)

pramudya_ananta_tur_kesusastraan_modern_indonesia_p226
[Sumber foto: Wikimedia Commons]
SEBELUMNYA di bagian 1 dan di bagian 2, kita sudah tahu bahwa masuk keluar penjara sudah menjadi bagian hidupnya. Bahkan setelah ia masuk Lekra, Pram masih saja tak kapok menulis sesuatu yang riskan alias isu-isu yang rawan. Misalnya di tahun 1960, ia menerbitkan buku “Haokiau di Indonesia” . Tapi kemudian ia dijebloskan ke penjara karenanya. Isi buku ini sesuai judulnya, yakni menggambarkan isu Hoakiau di tanah air melalui sembilan pucuk surat Pram kepada para sahabat penanya di mancanegara perihal masalah Hoakiau di Indonesia dalam pengamatan dan opininya. Padahal saat itu kondisi sosial sedang bergejolak karena ada pembatasan etnis Tionghoa.

Buku ini dibagi dalam sembilan surat yang dituliskan Pram kepada sahabat penanya di luar negeri yang berisikan pendapat dan pandangannya terhadap masalah hoakiau di Indonesia.

Setahun berselang ia menghirup udara bebas lalu mengurus perhelatan akbar Asian African Writers Conference. Tahun 1962, Pram menjajal dunia akademik dengan menerima tawaran untuk mengajar sebagai dosen sastra di Universitas Res Republica. Ia juga mendirikan Akademi Sastra Multatuli.

Mendekati masa yang penuh guncangan politik, Pram bekerja giat sebagai penyunting di majalah Lentera di tahun 1963. Ia menganggap masa kerjanya di sana sebagai kesempatan untuk eksplorasi maksimal terhadap minatnya di dunia menulis dan jurnalisme. Bisa dikatakan masa itu ialah titik kulminasi aktivitas intelektual sang sastrawan. Di tahun 1964, ia menerbitkan buku “Sejarah Bahasa Indonesia: Suatu Percobaan” yang setahun kemudian dibakar oleh Angkatan Darat pada tanggal 13 Oktober 1965, selang sepekan lebih dari kejadian tragis 31 September 1965.

NESTAPA

Tahun 1965 merupakan awal dari penderitaannya sebagai pengarang. Orde Baru mulai menindasnya tanpa ampun. Pram dijemput paksa dari rumahnya. Ia dianiaya sampai telinga kirinya hampir saja tuli total.  Tak cukup, naskah-naskahnya di rumah disita dan dihancurkan. Pemerintah Orba mengurung Pram di Alcatraz-nya Indonesia, pulau Nusakambangan.

Selang 4 tahun kemudian, Pram dipindahkan ke Pulau Buru, Maluku. Ia dilarang menulis sama sekali. Namun, karena menulis sudah menjadi bagian dari hidupnya selama ini, Pram tak kurang akal. Ia menemukan kertas pembungkus semen dan pena dan menulislah ia di atasnya kemudian menyembunyikan naskah kertas semen itu dengan cermat agar tak disita. Kegiatan menulisnya ini tak terhalang meskipun ia lelah luar biasa. Maklumlah, sebagai tapol, ia diharuskan bekerja paksa di pulau terpencil itu bersama banyak tapol lain. Tahun 1973 Pram patut sedikit berlega hati karena dunia internasional mendesak rezim Orba untuk mengizinkannya menulis kembali. Ia pun diberikan mesin ketik dan dipakainyalah alat itu untuk merampungkan Tetralogi Pulau Buru. Romo Werner Ruffing yang mengunjunginya saat itu berhasil menyelundupkan naskah Pram keluar dari Buru. Di pulau itu, Pram menjalani pengasingan selama 1 dekade.

Peran romo-romo begitu besar dalam membantu menerbitkan karya Pram di dunia luar.  Romo berikutnya yang turut andil ialah Romo Alexander Dirdjasoesanta yang memberi bantuan berupa kertas dan karbon untuk menuliskan karangan Pram. Sebagian karyanya diselundupkan keluar juga oleh Romo Sutapanitra.

Karya-karyanya yang berhasil diterbitkan di luar negeri membuat Pram makin tersohor meski masih mendekam di pengasingan. Tahun 1978, ia diangkat sebagai anggota kehormatan PEN Belanda dan Jepang. Empat karyanya terbit di Eropa dan Australia. Sementara 9 lainnya ditemukan dibajak di Malaysia. Tentu ini bisa dianggap menggembirakan, dengan catatan kita meyakini bahwa imitasi merupakan wujud apresiasi dari para penggemar sejati.

Di penghujung tahun 1979, sang pengarang tak bisa menahan haru karena akhirnya dilepaskan dari pengasingan di Buru dan berkumpul kembali dengan keluarganya di jawa. Tanpa peradilan ia kembali ke rumahnya di Utan Kayu, Jaktim.

Tetapi jangan terlalu bergembira dulu karena pembungkaman belum usai. Rezim Soeharto masih menindas Pram. Karyanya “Mata Pusaran” dirampas dan ditemukan dalam kondisi tak lengkap di pasar loak Senen. Lalu di tahun 1980 saat ia mendirikan Hasta Mitra dan menerbitkan buku larisnya “Bumi Manusia” dan “Anak Semua Bangsa”, Kejaksaan Agung sebagai perpanjangan Rezim Orba saat itu mencekal dengan melarang secara terang-terangan peredaran buku tersebut.

Makin ditindas, makin getas. Begitulah Pram. Ditekan di negeri sendiri, justru ia makin mendapat ruang di luar negeri. Novel “Bumi Manusia” diterjemahkan oleh Max Lane dan diterbitkan oleh Penguin Book Australia.

Tahun 1984 Pram menyusun kamus geografi Indonesia dan memutuskan rehat dari menulis dan lebih banyak menggeluti pertanian. Ternyata bisa juga penulis sekaliber Pram merasakan kebosanan terhadap bidang yang ia sangat cintai.

Pram bertekad untuk terus menerbitkan karya-karyanya yang dibuat di Pulau Buru. Ia menerbitkan buku ketiga Tetralogi Pulau Buru “Jejak Langkah” di tahun 1985 dan serta merta disambut larangan Kejakgung lagi. Bukunya yang lain “Sang Pemula” juga turut mendapat larangan beredar dengan alasan yang sama. Bukunya yang terbit setahun kemudian (“Gadis Pantai”) juga akhirnya dicekal.

Tahun 1988, buku keempat Tetralogi Pulau Buru “Rumah Kaca” terbit dan mendapatkan PEN/ Barbara Goldsmith Freedom to Write Award. Hal itu seolah menegaskan bahwa kekuatan pena dan mesin ketiknya memang tak terhentikan oleh penindasan sekeras apapun. Setahun kemudian ia mendapat The Fund for Free Expression Award dari AS.

Meski sudah dibebaskan dari pengasingan sejak 1979, Pram hingga tahun 1992 masih dikenai status tahanan rumah. Artinya ia tak pernah diizinkan pihak berwenang untuk meninggalkan rumah. Di tahun 1992, ia dilepaskan dari kungkungan di rumah dan mendapati dirinya berubah lebih pendiam dan penyendiri. Ia juga sangat menikmati aktivitas membakar sampah.

Tiga tahun berselang, Pram masih menelurkan karya lagi. Bukunya “Nyanyi Sunyi Seorang Bisu” (jilid 1) diterbitkan pada ultahnya ke 70 (6 Februari 1995) namun lagi-lagi dilarang beredar di masyarakat Indonesia. Untuk kegigihannya itu ia diganjar lagi dengan sebuah penghargaan Ramon Magsaysay.

Pram melepaskan status tahanan negara dan bebas berkunjung ke luar negeri pada tahun 1999. Ia pun melawat hingga ke Belanda, Jerman dan Prancis, negeri tempat ia menceritakan karakter Nyai Ontosoroh akhirnya menghabiskan sisa hidupnya dengan keluarga barunya.

Tahun 2002, Pram kembali diundang ke acara mancanegara. Kali ini di Jerman untuk membahas isu HAM dan pelurusan sejarah. Di tahun yang sama ia mengalihkan hak cipta karya-karyanya kepada penerbit Lentera Dipantara yang dikelola Astuti Ananta Toer.

Dua tahun menjelang kepergiannya, ia memutuskan berkumpul bersama keluarganya lebih sering dan menampik berbagai kesempatan untuk berkunjung ke negara-negara lain. Di usia 80 Pram masih menulis dan menerbitkan karya nonfiksi “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” (2005) yang sarat data konkret tentang proses pembuatan jalan 1000 km dari Anyer sampai Panarukan dalam waktu setahun saja oleh Herman Willem Daendels.

Sebagai pribadi yang menarik, Pram juga memiliki akhir yang menarik. Seolah-olah mendapat firasat, ia berjalan kaki dengan uang di dalam sebuah kantong dan tiap kali ketemu orang ia bersedekah. Ia juga menyuruh cucu-cucunya menguras empang dan membagikan semua ikan di dalam empang itu kepada para tetangga. Jiwanya memang sudah lekat dengan semangat berbagi, tidak cuma berbagi kata-kata tapi juga harta dan apa saja yang ia punya. (*/)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 2)

pramudya_ananta_toer2c_indonesia_literary_pioneers2c_00-34

“Menulis adalah sebuah keberanian.” – Pramoedya Ananta Toer

Di tulisan sebelumnya, kita tahu bagaimana Pram menjalani masa kecilnya dan kedekatannya dengan Oemi Saidah sang ibunda. Pada perkembangan kehidupannya berikutnya, didikan ayah Pram makin keras saja. Jauh lebih keras daripada seorang guru yang tidak memiliki pertalian darah dengannya sendiri.

Kisahnya begini: usai lulus SD dan ingin melanjutkan ke MULO, Pram menemui ayahnya untuk menyatakan keinginannya itu. Apa daya. Mastoer malah menitahkan sang anak untuk kembali ke bangku kelas 7 dan belajar lagi. Insiden ini melemahkan semangat Pram untuk melanjutkan pendidikannya karena guru kelas 7 saja sudah membolehkannya naik kelas. Justru ayahnya sendiri yang seolah tidak mempercayai kemampuan Pram.

Terpukul dan stres, Pram muda akhirnya mulai beralih ke rokok sebagai pelampiasan. Rokok di Jawa sendiri sudah dikenal sebagai sarana pelampiasan stres yang meski tidak ampuh tapi bisa diperoleh dengan mudah dan bisa secara instan mengobati secara sementara kecemasan. Masalahnya tentu kondisi kesehatan yang menjadi menurun dari waktu ke waktu. Namun, saat itu rokok yang beredar bukanlah rokok putih masa kini yang sudah diberi campuran zat-zat kimiawi buatan manusia tapi rokok klobot, yang terbuat dari kulit jagung yang sudah dikeringkan dan cengkeh. Rokok jenis ini unik karena dikatakan tidak mudah padam tertiup angin atau percikan air, isapannya lebih mantap, dan menghangatkan badan dengan lebih baik bagi mereka yang ada di daerah dingin.

Kembali kepada Pram yang sedang dilanda stres karena kegagalan akademiknya, ia mulai merokok secara aktif di masa remaja awal setelah ditawari seorang temannya sebatang rokok klobot saat termenung di sebuah pemakaman. Sejak itu, tatkala menjalani proses kreatif sebagai seniman kata-kata, Pram selalu tidak bisa menjauhkan bibirnya dari isapan tembakau.

Pram pun melanjutkan pendidikan di Surabaya pada tahun 1939. Sekolah pilihannya ialah Sekolah Kejuruan Radio (Radio Vakschool). Selama 1,5 tahun ia menuntut ilmu di sana dengan tekun demi memperkaya wawasan dan pengetahuan yang terbukti akan berguna bagi dirinya yang bekerja sebagai jurnalis.

Selama di sekolah tersebut, ia tak lupa membaca banyak buku dan menonton film. Karya sastra yang paling mempengaruhinya saat itu yakni buku Honore de Balzac serta Emile Zola yang mempengaruhi gaya bertuturnya. Buku berjudul “Ngelmu” tulisan Pak Poeh juga sangat mempengaruhi pandangannya.

TANPA TANGGUNG JAWAB

Tahun 1941 ayah Pram tidak diketahui keberadaannya. Di saat yang bersamaan, Oemi Saidah didera penderitaan berkepanjangan karena kuman TBC.

Karena tidak punya pilihan lain, akhirnya Pram memilih pulang ke rumahnya untuk merawat Oemi. Untuk menyambung hidup diri dan keluarga, Pram harus berjualan tembakau dan rokok. Di tahun tersebut, kita ketahui terjadi peristiwa penyerbuan Pearl Harbor yang kolosal dan historis. Jepang di atas angin dan ijazah sekolah Pram yang diterbitkan selama era kolonialisme Belanda pun tidak dianggap sah lagi. Buntung sekali memang.

RUNTUH

Pram menelurkan karyanya yang berupa cerita anak “Kemudian Runtuhlah Majapahit” pada tahun 1942, bertepatan dengan tahun kedukaan yang hebat baginya. Dunianya sendiri runtuh setelah Oemi meninggal dunia karena infeksi TBC, disusul oleh adik bungsunya yang baru berumur beberapa bulan.

Ia kemudian pindah ke Jakarta setelah berpamitan di makam sang ibu dan berjanji untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seolah belum cukup nestapanya, tentara Jepang yang mulai menginvasi Indonesia menemukan jurnal Pram dan memutuskan merampas hak miliknya itu karena isinya yang mengenai kisah-kisah zaman kolonial Belanda.

MENULIS

Dalam perjalanan hidupnya kemudian, Pram yang sudah tak beribu terus belajar menulis. Kemampuan menulisnya terasah terus-menerus berkat jasa pak Moedigdo, pamannya, yang memasukkannya ke sekolah Taman Siswa. Pram belajar bahasa Indonesia dengan tekun di sekolah itu.

Selain ketrampilan berbahasa Indonesia yang ia mulai tekuni tahun 1943, Pram juga mulai tertarik dengan ketrampilan lainnya sebagai pendukung kariernya sebagai penulis di masa depan. Ia belajar ketrampilan mengetik secara mandiri, tanpa guru atau ke tempat kursus selama dua pekan lamanya. Begitu sudah merasa menguasai ketrampilan mengetik cepat, Pram yakin untuk melamar pekerjaan di Kantor Berita Domei milik Jepang. Ia kemudian memang diterima sebagai juru ketik yang termasuk pegawai resmi. Tak lama ia diberi kesempatan untuk belajar ilmu stenografi di Tuo Sangi-In (dewan pertimbangan pusat pemerintah Jepang?) selama 12 bulan.

Tepat di tahun merdekanya RI, Pram masuk ke Sekolah Tinggi Islam di Gondangdia. Namun karena merasa bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja, ia meninggalkan Domei begitu saja tanpa pamit. Ia menjelajahi berbagai daerah seperti Blora, Kediri, hingga Ngadiluwih hingga kependudukan berakhir dengan angkat kakinya mereka dari sini. Kemudian ia ikut serta dalam pelatihan militer TKR [Tentara Keamanan Rakyat] dan ditugaskan di Cikampek.

Tahun 1946, Pram ditugaskan sebagai perwira pers dan tidak lelah menulis di surat kabar Merdeka. Saat itu ia berlega hati setelah merampungkan penulisan novel pertamanya “Sepuluh Kepala Nica”. Sayangnya, naskah novel tersebut raib entah ke mana.

Mengundurkan diri dari TKR tahun 1947, Pram ke Jakarta dan memutuskan bekerja untuk majalah Sadar (edisi Indonesia the Voice of Free Indonesia). Saat hendak mencetak pamflet untuk majalah tersebut, tak disangka ia ketiban pulung. Marinir Belanda menangkapnya dan memenjarakannya tanpa proses pengadilan yang resmi di Penjara Bukit Duri. Ia dipindahkan ke pulau Edam setelah itu.

Penjara menjadi masa produktif bagi seorang Pram karena sepanjang ditahan, ia masih bisa menyibukkan pikiran dengan membaca dan menulis agar tidak larut pada keputusasaan. Ia terus saja menulis dan tahun 1947 itu juga ia membuahkan karya baru berjudul “Perburuan dan Keluarga Gerilya” dan sejumlah cerpen dengan nama pena Pram. Profesor G. J. Resink membantunya mempublikasikan karya-karya tadi sehingga terbaca oleh pembaca di luar jeruji penjara.

Tahun 1949 menandai kebebasan baginya. Ia dilepaskan dari tahanan seiring dengan pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Setahun kemudian Pram bekerja sebagai editor di Balai Pustaka dan majalah Indonesia. Di usia 25 tahun, Pram menikahi Arvah Iljas.

Kiprah Pram sebagai pegiat sastra makin diakui dalam lingkup nasional. Buktinya ia menerima penghargaan sastra Balai Pustaka untuk karyanya yang berjudul “Perburuan”. Ia juga bekerja sebagai editor di Balai Pustaka tetapi dalam dirinya ia sebenarnya merasa resah karena pekerjaan tersebut belum mampu memapankan kondisi finansialnya.

Pram diundang oleh yayasan kerjasam kebudayaan Indonesia dan Belanda, Sticusa, sebagai tamu kehormatan di tahun 1953. Di tahun yang sama ia menulis novel “Midah Si Manis Bergigi Emas”.

Setahun berselang, kehidupan rumah tangga Pram remuk. Ia bercerai dan harus terlunta-lunta setelah disur dari rumah di Tanah Abang. Resmi sudah ia menyandang status duda dengan 3 anak perempuan. Di tengah kekacauan kehidupan pribadi, Pram masih berupaya terus produktif dengan menulis naskah film “Rindu Damai”.

HIDUP BARU

Kehidupan baru Pram dimulai begitu ia menikahi Maemunah Thamrin, anak tokoh Betawi M. H. Thamrin. Alasan ia menikahi perempuan itu di tahun 1955 ialah karena kepribadian Maemunah mirip dengan sosok Oemi Saidah yang ulet, pengertian, suportif dan memberikannya kebebasan dalam bekerja sebagai pengarang.

Di dunia sastra internasional, Pram makin diakui. Ia beranjangsana ke Beijing setelah diundang oleh Kumpulan Sastrawan Beijing dalam rangka peringatan 20 tahun wafatnya sastrawan tenar Tiongkok Lu Xun.

Sebagai sastrawan nasionalis, Pram menyatakan dukungannya pada Demokrasi Terpimpin Soekarno, suatu langkah yang nantinya menyulitkan dirinya setelah Orla tumbang. Ia terlibat dalam pembentukan 67 delegasi seniman yang pro Demokrasi Terpimpin ini dan diangkat sebagai anggota penasihat Kemenpetera (Kementerian Tenaga Rakyat).

Keterlibatan Pram dalam negara-negara Blok Timur yang identik dengan Poros Komunis juga makin intens saat periode ini. Tahun 1958 menjadi saksi kepemimpinannya dalam delegasi Indonesia (bersama Sitor Situmorang) dalam Konferensi Pengarang Asia Afrika di Tashkent, Uni Soviet.

‘Kesalahan’ terbesar Pram selanjutnya ialah membiarkan dirinya diangkat sebagai anggota kehormatan Lekra tanpa memahami organisasi tersebut. Keputusan pengangkatan itu diumumkan di Kongres Nasional lekra Pertama di Solo. Kelak Pram harus membayar mahal atas masuknya ia ke dalam Lekra. (bersambung)

Pramoedya Ananta Toer: Sastrawan Blora yang Mendunia (Bag 1)

800px-house_of_glass_by_pramoedya_ananta_toer

“Sebagai pengarang saya masih percaya pada kekuatan kata daripada kekuatan peluru yang gaungnya hanya akan berlangsung sekian bagian dari menit”- Pramoedya Ananta Toer

ANANTA adalah sebuah kata dalam bahasa Sansekerta yang maknanya “tanpa batas”, “tanpa akhir”. Dalam ajaran yoga, Ananta merupakan makhluk berwujud ular keabadian yang menguping rahasia ajaran yang diberikan oleh Dewi Parwati pada Dewa Syiwa. Karena tertangkap basah menguping, Ananta oleh Syiwa kemudian dititahkan untuk mengajarkan yoga pada para manusia di bumi. Dikatakan ia kemudian menjelma sebagai manusia dan manusia itu kemudian dikenal sebagai Patanjali yang kita kenal dengan sutranya yang legendaris itu.

Nama sastrawan terkemuka Indonesia juga ada yang mengandung kata “ananta”. Dan benar saja, karya-karyanya dikenal tanpa batas waktu dan ruang. Ia adalah Pramoedya Ananta Toer. 

Berkenalan dengan karya-karya Pram akhir tahun 2016 [satu dekade setelah ia wafat], saya merasa agak terlambat untuk menjadi salah satu penggemarnya. Tapi ini bukan tanpa alasan. Ketidaktahuan saya dengan karya-karya Pram selama masa sekolah ternyata karena adanya pelarangan beredarnya buku-buku terbitannya selama beberapa dekade di negeri ini karena ia pernah diasingkan sebagai tahanan politik di masa Orde Baru. 

Di akhir tahun 2016, saya tak sengaja menemukan buku-buku Pram di perpustakaan Kedubes Belanda dan Perpumda DKI Jakarta. Kemudian saya menghabiskan banyak waktu untuk membaca novel romannya, dari “Anak Semua Bangsa”, “Bumi Manusia”, “Rumah Kaca” dan “Jejak Langkah”. Kesan pertama saya adalah sangat terpukau dengan gaya berceritanya yang sangat luwes dan mengalir. Akibatnya saya larut dan tidak bisa memisahkan diri dari buku-buku tadi siang dan malam. Pokoknya sangat adiktif. Kisah-kisah Minke, sang tokoh utama, sanat mengena bagi saya, terutama karena saya seorang Jawa dan suka menulis juga. Ini tentu ada hubungannya dengan bakat dan kemampuan stroytelling Pram yang sudah terasah sejak kecil. Ditambah dengan keterbatasan untuk menuangkan dalam bentuk tulisan, karya-karya tetralogi sebelum dituangkan dalam tulisan telah disampaikan secara lisan pada kawan-kawan sepenanggungannya di Pulau Buru, Maluku. 

Karena hari ini hari terakhir pameran “Namaku Pram: Catatan dan Arsip” di Dialogue, Kemang, saya pun membulatkan tekad ke sana. Dan meskipun mendengar bahwa ternyata pameran itu diperpanjang, saya tidak kecewa karena kapan lagi bisa menikmati pameran langka ini?

MASA KECIL DI BLORA

Terlahir pada 6 Februari 1925, Pram memiliki orang tua Mastoer Imam Badjoeri dan Oemi Saidah. Ia anak sulung laki-laki. Sejak dini ia sudah kenal sastra karena bapaknya penulis buku, puisi, prosa dan tembang Jawa. Mastoer seorang Javanis tulen yang ambivalen menurut saya. Kenapa ambivalen? Karena ia menentang sekaligus menerimanya tanpa ia sadari.

Ada yang menarik dari hubungan Pram dengan sang ayah ini. Pram kecil dididik begitu keras bahkan terkesan terlampau keras untuk ukuran zaman itu sekalipun [apalagi zaman sekarang!]. Ada alasan saya menyimpulkan demikian. Pertama karena ayah Pram ini mungkin tidak bangga atau bahkan kecewa memiliki anak seperti Pram. Ekspektasi sangat ayah sangatlah tinggi sementara faktanya Pram tidak bisa memenuhi. Sebagai anak laki-laki sulung seorang guru besar di SD Institut Boedi Oetomo, Pram mempermalukan ayahnya karena gagal naik kelas sampai 3 kali. Untuk urusan ini, saya juga pernah berada dalam situasi yang sama. Hanya saja ayah saya kepala sekolah dan saya siswa kelas 1 tapi saya berhasil menduduki peringkat atas di kelas sehingga tidak membuat martabat ayah saya sebagai kepala sekolah terinjak-injak. Karena sampai 3 kali gagal naik kelas, akhirnya ayah Pram turun tangan juga dan mengajar sekaligus ‘menghajar’ Pram. Ia mungkin bukan anak yang cerdas dalam standar sekolah saat itu sehingga saat kelas 4 ia baru bisa naik kelas dengan diajar ayahnya sendiri. Tentu saja Pram kecil merasakan tekanan hebat. Bayangkan orang tua Anda seorang akademisi ulung yang profesor sementara Anda saja kuliah mungkin terlunta-lunta dan ketinggalan. Tak pelak, menangis sudah menjadi makanan sehari-hari Pram sehabis diajar sang ayah. Akan tetapi, ayahandanya yang penutur cerita sejati itu juga selalu menghiburnya setelah kelas dengan mendongengkan kisah-kisah pewayangan yang asyik dan menghanyutkan imajinasi anak-anaknya.

Karena hubungannya yang agak sulit dengan ayahnya itulah, patut dipahami hubungan Pram dengan ibunya lebih dekat dan hangat. Ibunya ini perempuan Jawa yang ulet, cekatan dan serba bisa. Lihat saja jenis-jenis pekerjaan yang ia biasa lakukan: dari menjahit, membatik, memasak, sampai mencangkul dan membuat sabun. Sebagai panutan, Oemi Saidah mencontohkan kedekatan dengan buku dan bacaan sejak Pram kecil. Untuk menegaskan kekaguman dan kedekatannya dengan ibunya, Pram sampai mengatakan bahwa ibunya adalah “wanita satu-satunya di dunia ini yang kucintai dengan tulus.” Di kemudian hari, bibit Oedipus Complex ini berkecambah dan memberikannya sebuah pernikahan yang langgeng dengan anak seorang tokoh Betawi.

Bakat bercerita menurun pada Pram secara alamiah. Di kelas 3 SD, ia menulis jurnal hariannya sendiri. Begitu masuk ke kelas 5 SD, ia mulai mengarang. Menulis menjadi alatnya untuk berinteraksi karena ia termasuk anak yang pemalu, yang mungkin disebabkan karena keinginannya untuk mendapatkan pengakuan dari dunia sekelilingnya sebagaimana yang ia inginkan dari ayahnya sendiri. Meski pemalu, Pram tidak malu saat membacakan cerita untuk adik-adiknya. 

Dari kebiasan menulis jurnal itu, ia mulai terus menulis. Tulisan pertamanya untuk publik bertema resep dan khasita obat-obatan dalam bahasa Indonesia. Sayangnya, penerbit Tan Koen Swie yang ia kirimi tak mengabari lebih lanjut. Kemudian ia menulis dan mengirimkan “Ke Mana” ke majalah Pandji Poestaka [terbit antara 1925 sampai 1945] milik Balai Pustaka. Sebagaimana para penulis pemula lainnya, mengetahui karya dimuat merupakan sebuah kebanggaan. Ia pun mulai mendapatkan kenikmatan menulis. Dan sejak itu ia tak bisa berhenti.

ANAK MAMA

Jadi anak mama, bukan berarti manja. Pram mengenang ibunya sebagai sosok penyemangat. Seperti saat Pram kecil berkecil hati dikomentari anak-anak sebayanya karena ia menggembala kambing. Ia yang merasa minder karena merasa itu pekerjaan hina, dinasihati sang ibunda soal kerja keras dan martabat seorang manusia. “Yang harus malu itu mereka, karena mereka takut pada kerja. Kau kan kerja. Semua orang yang bekerja itu mulia. Yang tidak bekerja itu tidak punya kemuliaan,” ibunya berwejangan. 

Nilai kerja keras itu begitu tertanam dalam benak Pram hingga ia sendiri pernah dikutip mengatakan:”Jangan makan keringat orang lain. Makanlah keringatmu sendiri. Dan itu dibuktikan dengan kerja.”

Kalau Pram masih hidup di zaman sekarang, ia mungkin yang pertama setuju dengan semboyan Presiden Joko Widodo “Kerja, Kerja, Kerja”. Karena memang itulah cara mendapatkan martabat baik bagi diri seorang manusia atau bangsa. [bersambung] 

Puisi Indonesia Kembali Menggeliat

Joko Pinurbo, penyair Indonesia, mengatakan bahwa setelah kematian Chairil Anwar, Indonesia mengalami kelangkaan penyair berkualitas. Namun, nyatanya banyak bermunculan penyair-penyair muda. Dan karya-karya mereka sudah bermunculan dan bisa dinikmati khalayak ramai. Beberapa di antaranya adalah Norman Erikson, Ni Made Purnama Sari dan Cyntha Hariadi yang hari ini tampil sebagai para pemenang Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015.

Menanggapi pernyataan Joko Pinurbo yang dikutip seorang hadirin, Norman berpandangan para penulis dan penyair memiliki tantangannya masing-masing sehingga tidak perlu terlalu terpaku dengan kejayaan penyair dan penulis di masa lalu. Cyntha dan Ni Made Purnama Sari menegaskan penyair muda tak perlu meniru penyair senior yang lebih terkenal.

Ketiganya terpilih dengan proses yang cukup panjang dan melelahkan. Menurut penuturan Mikael Johani, salah satu juri lomba Sayembara Manuskrip Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2015 selain Joko Pinurbo dan Oka Rusmini ini, dari 574 naskah puisi yang masuk, terpilihlah tiga manuskrip yang terbaik dengan alasan bahwa manuskrip ketiga penyair ini:
1. Menawarkan keberagaman dalam tema ,
2. Menunjukkan keunggulan gaya berpuisi, dan
3. Menunjukkan teknik penulisan yang terbaik dari yang terkumpul.

Ditanya apakah ia menulis puisi dengan keinginan agar karyanya abadi, Norman tak mempermasalahkan karena ia menulis untuk masa kini tanpa banyak memusingkan keharusan dikenang banyak orang di era anak cucu. Ni Made juga tidak mempermasalahkan soal itu sebab ia yakin yang perlu menjadi fokusnya berpuisi ialah bagaimana agar puisinya mampu mewakili zamannya sendiri.

Cyntha Hariadi yang menerima kabar gembira kemenangannya pada hari ibu tahun lalu melalui surel itu mengatakan dirinya tidak percaya pada awalnya. “Saya sebenarnya bukan penyair. Tapi peminat saja. Saya bekerja sebagai copywriter iklan,” ujarnya yang merasa bangga bersama dengan dua pemenang lainnya. Buku puisinya yang berjudul “Ibu Mendulang, Anak Berlari” menceritakan bagaimana pengalamannya sebagai ibu yang selalu diagungkan dan disucikan. Namun, ia juga tidak ketinggalan dalam menambahkan aspek-aspek lain dari seorang ibu. Bisa dikatakan buku ini merangkum hubungan ibu dan anak, sebuah urusan domestik yang terkesan ‘remeh temeh’ tetapi sejatinya fondasi bagi semua lini kehidupan umat manusia.

Sementara itu, Norman sendiri tidak begitu yakin tetapi saat itu ia baru percaya jika dipanggil sebagai salah satu jawaranya. Ia baru percaya saat mereka bertiga bertemu. Sebelumnya Norman sudah menerbitkan kumpulan cerpen yang begitu panjang. Menurut Norman yang suka bermain dalam menulis, puisi memaksanya memadatkan dan meringkaskan gagasan dan pesan yang ingin ia sampaikan.Ini berbeda dari proses menulis cerpen. Norman menerbitkan buku kumpulan puisi “Sergius Mencari Bacchus” yang terilhami oleh kisah Sergius dan Bacchus yang merupakan dua prajurit di masa Romawi yang memiliki ‘kedekatan khusus’. Menurutnya inilah kisah bertema LGBT yang tersimpan dalam khasanah literatur sejarah gereja Katholik.

Ni Made Purnamasari memilih menjelaskan makna dalam judul buku puisinya “Kawitan” yang merujuk pada awalan. “Empat puluh dua puisi dalam buku ini merupakan pemaknaan saya atas asal muasal saya tadi,” jelas perempuan bersuara berat itu. Dalam sebuah puisi ia mengangkat tanah kelahirannya Bali dan membuatnya mempertanyakan asal mula. Di bagian kedua ia mengangkat pertanyaan asal mula tetapi mulai meninggalkan batasan etnosentris/ kedaerahan.

Ada yang menggelitik saat Norman ditanya saran apa yang ia sampaikan pada Dewan Kesenian Jakarta. “Jangan korupsi!” Dan kami semua tertawa.

Penerjemahan Karya Sastra, Pekerjaan Rumah Berlimpah bagi Indonesia

Ada hal yang menggelitik tatkala Wakil Pimpinan Frankfurt Book Fair Claudia Kaiser menyampaikan kritik transparannya mengenai proses kerjasama dengan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), yang menurutnya berjalan sangat lamban. Kaiser menyatakan dengan nada kritis, yang segera dihentikan oleh editor John H. McGlynn dari Yayasan Lontar yang tampil bersamanya hari itu (22/3/2015) dalam diskusi “The Role of Literary Translation” dalam rangkaian Asean Literary Festival 2015 di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Meskipun interupsi McGlynn itu disampaikan dengan mimik muka bercanda, saya tahu hal yang Kaiser coba untuk sampaikan mungkin bisa disalahartikan oleh sebagian pihak dan berdampak pada kerjasama nantinya.

Desliana Maulipaksi telah menuliskan laporan selayang pandangnya yang berjudul “Pentingnya Program Penerjemahan Karya Sastra Suatu Negara” di Kemdikbud.go.id. Dan kini saya akan melengkapi reportasenya itu, bukan dengan sudut pandang birokrat atau pihak luar/ asing yang bekerjasama dengan birokrat, tetapi lebih sebagai bagian dari kelompok akar rumput alias rakyat yang mencemaskan kemajuan susastra negerinya di tingkat dunia.

Kaiser mengaku pemerintah Indonesia saat itu memiliki minat yang besar dalam berpartisipasi dalam Frankfurt Book Fair. “Tetapi kami katakan dibutuhkanwaktu setidaknya 3 tahun untuk mempersiapkan diri dengan baik,” sarannya pada kementerian. “Kami pun banyak menelepon, bertukar surel, dan kami menunggu selama 2 tahun. Akhirnya kami putuskan kami tak bisa menunggu lebih lama. Saat kami sudah berhenti berharap, nota kesepahaman diteken tiba-tiba. Namun, (persiapannya) sudah terlambat. Akhirnya hanya ada waktu 2 tahun untuk bersiap-siap.”

Masih kata Kaiser, program pendanaan penerjemahan juga menemui aral. Perubahan dari pihak pemerintah Indonesia terjadi terus menerus bahkan setelah jadwal dan linimasa sudah ditetapkan sebelumnya oleh pihak Frankfurt Book Fair.

McGlynn bukannya tidak mengkritik sama sekali. Tinggal di Indonesia puluhan tahun membuatnya tahu bagaimana menyampaikan kritik dengan lebih ‘Indonesia’, lain dari cara Kaiser yang lebih ‘Aryan’. Ia turut memberikan masukan mengenai kurangnya perhatian pemerintah pada perkembangan dunia susastra di sini. “Sudah banyak festival sastra di Indonesia, itu bagus. Akan tetapi untuk menghadiri acara-acara itu pun para penulis dan penerbit masih belum didukung oleh pemerintah. Tidak ada anggaran yang teralokasikan secara khusus untuk mendanai kegiatan para penulis dan penerbit untuk memperkenalkan karya-karya di festival sastra,” ujar McGlynn.

Selama ini, masih kata McGlynn, para penulis harus menggunakan kenalan mereka di dalam lingkaran birokrasi. Mereka yang diberangkatkan biasanya adalah para pegiat sastra yang dikenal kalangan pemerintah juga. Jika tidak dikenal, pupus sudah harapan untuk diajak.

McGlynn menyarankan pemerintah untuk merealisasikan rencana besar (grand plan) khusus bagi pegiat sastra di Indonesia agar mereka makin dimudahkan dalam berkarya dan memperkenalkan karya-karya mereka. Bertahun-tahun lalu saat McGlynn memulai karirnya sebagai penerjemah, digagas sebuah program penerjemahan sastra ke bahasa-bahasa negara Asean. Dan ia menegaskan ini bukan proyek yang bersifat komersial. “Siapapun yang memberikan uangnya untuk proyek ini akan kehilangan uangnya itu,” tegas McGlynn terus terang.

“Karena itulah diperlukan peran pemerintah,” timpal Kaiser dengan gemas sedetik setelah McGlynn berbicara.

Di Indonesia, peran pemerintah memang tidak bisa diabaikan. Namun, sebuah kebodohan untuk menunggu pemerintah mengatasi semua tantangan di lapangan secara otomatis dalam waktu secepatnya.

Untungnya, pihak swasta juga sudah menunjukkan kepeduliannya. “Ada sebagian kalangan swasta yang sudah menunjukkan kepeduliannya,” katanya. Lagi-lagi, tidak ada skema insentif yang dapat mendorong korporasi swasta Indonesia untuk secara kontinu menjadi penyandang dana proyek-proyek penerjemahan. Buktinya, tidak diberikan pemotongan terhadap jumlah pajak yang dibebankan pada perusahaan-perusahaan yang menyumbang di proyek-proyek penerjemahan karya sastra. McGlynn menjelaskan,”Diperlukan adanya struktur pajak yang memberikan keuntungan bagi korporasi swasta yang bersedia memberikan sumbangsih bagi keberlangsungan institusi-institusi budaya. Anda bisa mendapatkan insentif pajak untuk olahraga di Indonesia, tetapi tidak untuk sastra.” Skema insentif pajak semacam itu sudah terbukti sukses di Amerika Serikat dan negara-negara lain. Inilah yang menjadi pekerjaan rumah kita semua.

Jerman juga mengalami tantangan yang sama. Menurut Kaiser, minat korporasi swasta di negerinya untuk mendanai program penerjamahan karya sastra masih rendah karena mereka lebih mengutamakan visibilitas brand. Karenanya, mendukung sebuah acara olahraga akan lebih menguntungkan daripada mendukung program sastra, tandas wanita yang menguasai bahasa Mandarin itu. Kalaupun ada proyek penerbitan yang didanai, lanjutnya, buku hasil pendanaan biasanya bertema sejarah perusahaan yang memberikan pendanaan.

Cara Mengapresiasi Sastrawan

Di Ubud akhir pekan lalu, saya bertemu dengan seorang teman. Ia baru saja merilis sebuah buku puisi. Ia menawari saya buku tersebut. Ia merasa sangat bersemangat untuk memperkenalkannya pada semua orang yang ia temui di Ubud Writers Readers Festival (UWRF) tahun ini.

Edrida, begitu namanya, menawari saya,”Kamu mau beli?” Matanya berbinar-binar. Dan saya mengangguk. Ia makin tidak percaya saya ingin membeli karyanya.

Sekali lagi ia bertanya,”Benar? Mau beli???”

“Berapa?”saya bertanya padanya.

“Lima puluh enam ribu,”ia berkata dengan sedikit haru, masih dengan antusiasme lalu mengambil tas besarnya di sebuah sudut.

Saya kaget dengan reaksinya. Jujur saja, saya tidak mengharapkan reaksi yang demikian meluap-luap. Ia seakan tidak percaya ada yang ingin membeli karyanya, padahal ini bukan karya pertamanya yang diperjualbelikan. Ia sudah menerbitkan beberapa buku.

Usut punya usut, setelah mengobrol saya tahu ia mengeluhkan harganya yang cukup mahal menurut beberapa orang. Tetapi apalah artinya Rp56.000 jika saya bandingkan dengan sebuah kumpulan cerpen hasil suntingan editor negeri kanguru Angela Meyer yang dibanderol, ehem, Rp400.000 lebih. Padahal tebalnya sedang saja. Mutu kertasnya juga tidak istimewa sekali. Apakah karya di dalamnya sangat bermutu? Entah. Itu sangat subjektif dan saya tak bisa meneliti lebih lanjut isinya karena tidak ada sampel yang bisa dibuka untuk sekadar baca cepat.

Setelah ia menerima uang itu, saya berkata santai,”Kalau saya nanti menerbitkan buku, saya juga mau buku saya dibeli. Bukan dibagikan gratis.”

Membagikan buku secara gratis memang tragis. Ada teman saya yang seorang jurnalis Pertamina selama berpuluh-puluh tahun yang, entah terpaksa atau tidak, membagikan buku puisinya yang sudah diterbitkan secara cuma-cuma untuk para kolega dan kenalannya.

Saya merasa ini kurang benar. Kecuali jika sastrawan itu benar-benar ingin memberikannya secara gratis, orang-orang di sekelilingnya haruslah membeli buku itu. Bukan, bukan nilai nominalnya yang menjadi poin utama tetapi bagaimana apresiasi itu diberikan. Sastrawan itu merasa sudah dihargai, sudah dianggap ada, sudah dianggap bekerja dan sukses berkarya. Ini bukan semata-mata belas kasihan tetapi dalam sudut pandang yang lebih luas juga bisa dianggap sebagai upaya awal untuk menggiatkan dunia seni kreatif kita. Tolonglah jangan menyalin tanpa izin, memfotokopi seenaknya lalu membagikan ke siapa saja. Berikan setidaknya penghormatan atas hasil kerja mereka.

Saya tahu hidup penulis tidaklah mudah. Banyak yang harus berjuang setengah mati mencari nafkah. Lihat saja NH Dini di masa tuanya. Ia sudah produktif menulis sekian lama, toh di masa uzurnya masih saja menderita di dalam deraan keterbatasan finansial. Meski tak harus kaya raya bak JK Rowling, setidaknya Dini dan semua sastrawan dan penulis kita di Indonesia memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih layak.

Edrida, seperti banyak penulis Indonesia lainnya, masih menunggu apresiasi kita. Apresiasi yang tak kunjung mengemuka. Malah apresiasi yang datang lebih banyak dari mancanegara. Ia ingin saya menerjemahkan buku puisinya. “Siapa tahu bisa diundang ke sana!,”jeritnya gembira.