Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (3-Habis)

Lee Kuan Yew dalam memoarnya mendeskripsikan karakter Prabowo Subianto, yang kita kenal sebagai salah satu calon presiden 2014-2019. (Image credit: Wikimedia Commons)
Lee Kuan Yew dalam memoarnya mendeskripsikan karakter Prabowo Subianto, orang yang kita kenal sebagai salah satu calon presiden RI periode 2014-2019. (Image credit: Wikimedia Commons)

Baca sebelumnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (2)

Masih di halaman 316, Lee mengutip perkataan Prabowo bahwa Sofyan Wanandi berkata pada Prabowo dan sejumlah jenderal lainnya bahwa Suharto yang saat itu masih berkuasa harus turun tahta. Prabowo berusaha meyakinkan Lee bahwa Sofyan benar-benar mengatakan hal itu dan menurut Prabowo pernyataan tersebut bisa membahayakan kelompok Katholik yang berdarah Tionghoa di tanah air. Mendengar ‘agitasi’ sang jenderal, Perdana Menteri Goh Chok Tong dan Lee menjadi bingung. Begini Lee menggambarkan kebingungannya:

Both the Prime Minister and I puzzled over why he should want to tell us this about Sofyan when it was patently unlikely that any Indonesian would tell the president’s son-in-law that the president should be forced to step down. We wondered if he was preparing us for something that would happen soon to Sofyan and other Chinese Indonesian businessmen.” (From Third World to First, p. 317)

Tentu saja ini kurang sama sekali tidak masuk akal. Mengapa Sofyan yang jelas-jelas bukan orang bodoh dan merupakan bagian dari minoritas Tionghoa Katholik mengatakan ancaman kudeta itu pada seorang jenderal yang juga berstatus menantu presiden yang terang-terang masih berkuasa? Bukankah itu seperti upaya bunuh diri? Mengapa Sofyan yang sudah berada dalam bahaya malah mengeluarkan pernyataan semacam itu? Tidak ada yang bisa mengklarifikasi pernyataan Lee ini, kecuali Goh atau Prabowo mau buka mulut juga tentang isi percakapan mereka itu, yang kemungkinan besar tidak akan terjadi. Di sini, kita bisa berspekulasi: siapa yang berbohong dan apa motifnya? Di samping semua hal ganjil tadi, satu hal yang menggelikan adalah lupanya Prabowo bahwa Goh dan Lee juga orang Tionghoa! Lee memang bukan pemeluk Katholik. Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, Lee mengakui dirinya sebagai orang agnostik (seseorang yang yakin bahwa tidak ada yang bisa diketahui mengenai keberadaan atau sifat Tuhan atau apapun selain fenomena material; seseorang yang mengklaim dirinya bukan pemeluk agama tertentu tetapi juga tidak menyatakan ketiadaan Tuhan). Namun, tetap saja ada persamaan antara Lee dan Sofyan. Jelas, Prabowo memiliki agenda tersembunyi. Agenda yang hanya Tuhan dan ia sendiri ketahui. Silakan Anda baca penjelasan Lee selanjutnya dan simpulkan sendiri.

Lee melanjutkan narasinya dengan membeberkan peristiwa tanggal 9 Mei 1998, saat Admiral William Owens (seorang pensiunanwakil pimpinan US Joint Chiefs of Staff ) menemui Lee di Singapura. Owens rupanya juga mengendus keganjilan yang juga dirasakan Lee dalam diri Prabowo.  Pada Lee, Owens mengaku bertemu Prabowo  di Jakarta pada tanggal 8 Mei 1998. Selama makan siang, keduanya didampingi oleh dua ajudan muda bawahan Prabowo (keduanya letnan kolonel, satu dokter). Owens mendengar sendiri Prabowo mengklaim dengan penuh keyakinan bahwa sang “pria tua mungkin tidak akan bertahan hingga 9 bulan, mungkin ia akan meninggal dunia”. Pria tua yang ia maksudkan di sini kemungkinan besar adalah ayah mertuanya sekaligus ayah kandung istrinya Titiek, Presiden Suharto yang masih berkuasa saat itu.

Lee melanjutkan penuturan Owens yang melihat aura kebahagiaan dalam ekspresi dan air muka Prabowo yang saat itu baru saja diangkat menjadi jenderal bintang 3 dan mengepalai Kostrad. Lee menulis:

In a happy mood, celebrating his promotion to three stars and head of Kostrad, he joked about talk going around that he himself might attempt a coup. Owens said that although Prabowo had known him for two years, he was nonetheless a foreigner. I said Prabowo had a reckless streak in him.” (From Third World to First, p. 317)

Kita bisa garis bawahi kata “a coup” yang dilontarkan Lee. Apakah lelucon kudeta itu semacam isyarat dari alam bawah sadar Prabowo yang tiba-tiba muncul keluar tak terkendali dari mulutnya? Sekali lagi, Lee menegaskan karakter Prabowo. Sebelumnya Lee tahu Suharto berpikir bahwa Prabowo itu sembrono: “He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.” (From Third World to First, p.316). Lee seolah mengamini Suharto dengan menuliskan:”I said Prabowo had a reckless streak in him.” (p.317). Menurut Google Dictionary, “reckless” dapat diterjemahkan sebagai “tanpa berpikir atau peduli atau mempertimbangkan konsekuensi sebuah tindakan” (without thinking or caring about the consequences of an action).

Kemudian meledaklah kerusuhan dan tragedi kemanusiaan yang menimpa warga keturunan di tanah air terutama Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 12 Mei 1998. Enam mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembus peluru pasukan anti huru hara. Semua itu memicu kekacauan yang meluas. Penjarahan pusat-pusat perniagaan ibukota dan permukiman warga keturunan Tionghoa ditambah lagi dengan pemerkosaan dan pembunuhan keji terhadap para wanita keturunan Tionghoa. Lee berkomentar:

“It was general knowledge that the rioting was engineered by Prabowo’s men. He wanted to show up Wiranto as incompetent, so that on Suharto’s return from Cairo, he (Prabowo) would be made chief of armed forces. By the time he returned from Cairo on 15 May, Suharto’s position was lost.” (From Third World to First, p. 317)

Menurut Lee, sudah bukan rahasia lagi bahwa kerusuhan Mei 1998 direkayasa oleh orang-orang Prabowo. Prabowo ingin menunjukkan pada Suharto bahwa pesaingnya itu tak seunggul yang dikira, ingin membuktikan bahwa Wiranto sebagai pucuk pimpinan TNI lengah dan tak berdaya menghadapi kekacauan bernuansa SARA (suku, agama, ras) tersebut. Misi Prabowo rupanya, kata Lee, adalah menjadi pimpinan Angkatan Bersenjata RI. Sayangnya, ayah mertuanya saat itu malah jatuh dari kursi kekuasaannya yang sudah dikuasai selama 30 tahun lebih.

Atas semua kejadian tragis yang menimpa pemimpin negeri tetangganya ini, Lee menjabarkan keprihatinannya:

It was an immense personal tragedy for a leader who had turned an impoverished Indonesia of 1965 into an emerging tiger economy, educated his people and built the infrastructure for Indonesia’s continued development. At this crucial moment, the man who had been so good at judging and choosing his aides had chosen the wrong men for key positions. His mistakes proved disastrous for him and his country.” ( From Third World to First, p. 318)

Dari penjelasan Lee ini, jika memang benar, Prabowo bisa disimpulkan telah berkontribusi pada jatuhnya sang ayah mertua saat itu karena kerakusannya pada kekuasaan. Dengan berdasarkan pada asumsi tersebut, tampaknya keluarga Cendana sudah memaafkan tindakan Prabowo karena mereka menyatakan dukungan bulat padanya di Pilpres 2014 ini. (sumber: Inilah.com). Cukup masuk akal jika demikian adanya, karena bila ia menjabat sebagai presiden RI periode 2014-2019, Prabowo bisa menjadi pembuka jalan bagi dinasti Cendana untuk kembali berkuasa.

 

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (2)

Baca sebelumnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1)

‎Di halaman 316 memoarnya, Lee Kuan Yew menyinggung tentang kepribadian Prabowo di mata Suharto yang dianggap “cerdas dan ambisius tetapi impulsif dan gegabah.” Berikut kutipan dari halaman tersebut:

“The most grievous error of all was his balancing act in appointing General Wiranto as chief of the armed forces while promoting his son-in-law Prabowo Subianto to be liutenant-general and chief of Kostrad (the Strategic Forces). He knew that Prabowo was bright and ambitious, but impetuous and rash.” (From Third World to First, p.316)

Seperti kita ketahui bersama, Wiranto juga mengajukan diri sebagai calon presiden tetapi sayangnya gagal di tengah jalan. Akhirnya dengan mengingat sejarah permusuhannya dengan Prabowo tersebut, partainya Hanura ‎merapat ke kubu lawan Prabowo. Anda dapat baca di situs resmi Wiranto.com, dukungan pada Jokowi dan Jusuf Kalla tampak sangat kental. Langkah Wiranto terbilang cukup jitu dan membuat partainya lebih “aman” meski pergulatan dengan pihak Prabowo-Hatta akan jauh lebih alot tetapi setidaknya ia bersama mendukung Jokowi yang dielu-elukan para investor.

Di sini, Lee seakan tahu bahwa Suharto membuat kesalahan besar dengan mengangkat keduanya bersamaan di posisi-posisi puncak militer negeri ini. Akan tetapi Suharto toh tetap melakukannya. Apakah itu karena desakan sang anak Titiek, atau karena status Prabowo sebagai anak menantu, atau karena Suharto masih berharap Prabowo akan bisa berubah menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak? Entahlah, tetapi penggunaan kata “grievous” mengacu pada sesuatu yang “berakibat serius dan menimbulkan penderitaan atau rasa sakit yang hebat” (Longman Dictionary of Contemporary English, hal 172). Penekanannya tergolong berat karena disandingkan dengan kata “error”. Atau Suharto sedang bertindak gegabah juga saat mengangkat Prabowo? Bisa jadi.

Dalam alinea selanjutnya, Lee menguraikan bahwa dirinya bertemu Prabowo dalam dua kesempatan makan siang di ibukota. Yang pertama pada tahun 1996 dan kedua 1997, ‎sebelum kejatuhan Suharto Mei 1998. Kali ini Lee tidak segan mengutarakan opininya mengenai kepribadian Prabowo menurut pengamatannya. “He was quick but inappropriate in his outspokenness,”tulis Lee di halaman 316. Kata “quick” menurut Longman Dictionary of Contemporary English bisa membawa banyak makna jika kita membicarakan perangai seseorang “cekatan” (moving or doing something fast) atau “pandai” karena mampu belajar dan memahami dengan cepat (able to learn and understand things fast). Yang ketiga, “quick” juga bisa dimaknai “cepat naik darah”, misalnya “have a quick temper” yang artinya “to get angry very easily”. Entah yang mana makna yang hendak disampaikan Lee, tetapi Anda bisa berspekulasi secara logis dengan mengamati tindak tanduk dan cara bicara Prabowo selama ini tampil di depan publik.

Lee Kuan Yew menangkap sinyal aneh dari Prabowo yang menemuinya pada tanggal 7 Februari 1998, kurang lebih tiga bulan sebelum Mei berdarah itu. Prabowo menemui Lee dan Perdana Menteri Singapura saat itu Goh Chok Tong secara terpisah di Singapura. Yang disampaikan Prabowo, kata Lee, adalah sebuah pesan yang “aneh”, isinya adalah peringatan singkat mengenai risiko yang dihadapi kaum keturunan Tionghoa di bumi nusantara. Prabowo mengatakan bahwa warga keturunan itu menghadapi risiko karena jika ada hal tak diinginkan terjadi, “kerusuhan” tulis Lee, mereka akan terluka sebagai kaum minoritas.

Tak ketinggalan jendral baret merah itu menyebutkan pengusaha Sofyan Wanandi (ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia 2008- 2013) dalam percakapannya. Sofyan yang keturunan Tionghoa (meski secara de facto lahir di Sawahlunto‎, Sumbar) itu dianggapnya benar-benar berada dalam risiko tinggi karena statusnya sebagai “minoritas ganda”, seorang dengan darah keturunan dan berkeyakinan Katholik pula! Apakah juga karena Sofyan adalah sosok yang kritis dan vokal terhadap status quo? Sebagaimana diketahui, rekam jejak Sofyan adalah mantan aktivis 1966 dengan pengalaman segudang di bidang ekonomi, birokrasi dan politik (sumber: Wikipedia), yang membuatnya menjadi seorang minoritas dengan keberanian yang luar biasa untuk menyuarakan aspirasi diri dan kaumnya.

(Selanjutnya: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew-3)

Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew (1)

20140711-220608-79568283.jpg

Siapa tak kenal negarawan satu ini? Arsitek pembangunan Singapura tersebut tampak masih sehat untuk ukuran orang seusianya. Pikirannya masih tajam, jauh dari kesan pikun. Ucapannya lancar tak peduli usianya sudah 90 tahun.

Saya bukan orang Singapura jadi saya hanya mengenalnya lewat buku dan cerita orang. Ir. Ciputra, pendiri perusahaan tempat saya bekerja, pernah dalam suatu kesempatan menceritakan kekagumannya terhadap Lee yang katanya sangat brilian dalam membangun negeri pulau sekecil Temasek menjadi Singapura yang super makmur. Beliau selalu menjadikan Lee sebagai contoh seorang politisi dan birokrat yang memiliki jiwa entrepreneurship yang tinggi. Terakhir kali sepengetahuan saya Ciputra hendak menemui Lee saat bertandang ke Singapura untuk menerima penghargaan dari stasiun TV Channel News Asia di Maret tahun 2013, tetapi sayang Lee sedang didera sakit lutut. Kata Ciputra yang akan merayakan ulang tahunnya yang ke-83 24 Agustus nanti, “Jangan terlalu banyak olahraga naik sepeda statis.” Ia menyarankan renang saja yang lebih aman untuk persendian karena minim hentakan.

Sebagai negarawan top yang bertetangga dengan kita, Lee sering bertemu dengan sosok-sosok penting dalam percaturan politik Indonesia. Salah satunya yang ia turut bahas dalam memoarnya “From Third World to First- The Singapore Story (1965-2000)” adalah calon presiden kita sekarang yang bernomor urut 1, Prabowo Subianto.

Dalam memoarnya yang tebal itu, Lee mendedikasikan satu bab berjudul “Indonesia: From Foe to Friend” dengan 3 halaman yang menyebut Prabowo. Pertama di halaman 312, Lee menyebut Prabowo sebagai “komandan Kopassus”. Tak banyak cerita di sini karena Lee lebih menyorot Titiek, mantan istri Prabowo, yang menemui Lee pada tanggal 9 Januari 1998 dengan misi mendapatkan bantuan dari Singapura dalam upaya mengumpulkan dana melalui surat utang atau bond dalam mata uang dollar AS di Singapura. Lee menolak karena meski ia mau melakukannya pun, langkah itu tak akan efektif selamatkan rupiah yang jeblok. Terdesak, Titiek berdalih ada isu dari Singapura yang melemahkan rupiah tahun 1998 dan menuduh bankir-bankir Singapura mendorong orang Indonesia menyimpan uang di negeri seberang. Lee menyarankan Titiek dan Suharto berkonsultasi dengan Paul Volcker, mantan pimpinan Bank Sentral AS (Federal Reserve) tetapi ujungnya, nasihatnya tak digubris. Volcker diundang ke Jakarta untuk bertemu Suharto tetapi tak diangkat sebagai penasihat.

Barulah di halaman 316 dan 317, Lee menuliskan kesannya yang lebih mendalam tentang Prabowo…

(Bersambung: Prabowo Subianto di Mata Lee Kuan Yew -2)

Be Yourself, Indonesia

‎Tidak ada pemandangan alam yang mencengangkan di negeri jiran Singapura. Dibandingkan negeri kita, alam mereka kalah jauh. Ambil contoh, air terjun di taman buatan ini. Semuanya diciptakan manusia kemudian dikemas seolah alami, terjadi begitu saja padahal tidak demikian.

Namun di lain sisi, Singapura menyimpan kekayaan intelektual yang betul-betul ‎memukau. Budidaya dan rekaan manusia mendominasi negeri ini. Sangat berkebalikan dari tanah air.

Mungkin Indonesia tidak akan pernah bisa secanggih Singapura, kataku yang pesimis ini. Namun, alangkah baiknya kita tidak terlalu ambisius dalam mengejar teknologi rekayasa seperti Singapura. Kenapa? Karena tanpa direkayasa pun, Indonesia sudah sangat indah! Daripada membangun objek-objek wisata buatan yang mahalnya bukan main, menurut hemat saya akan lebih baik kalau kita lebih banyak memperbaiki akses menuju tempat-tempat wisata alami kita‎ dan bagaimana agar kelestariannya tetap terjaga. Karena itulah yang tidak dimiliki negeri-negeri lain. Itulah kekuatan kita!

In Memoriam Abun Sanda

image
Ciputra (kiri), pengusaha properti Indonesia, bersama dengan Abun Sanda (kanan) berfoto bersama dengan latar belakang pohon baobab (pohon botol) di Gardens by the Bay, Singapura (27/3/2013).

Dunia jurnalisme bisa dikatakan baru untuk saya. Saya baru memulai profesi ini dan masih merasa terlalu hijau untuk mengaku sebagai jurnalis, pewarta, dan sejenisnya. Beban moral dan profesionalnya berat. Saya lebih suka menyebut diri sebagai blogger saja karena saya selalu menulis di media online, bukan old media alias media konvensional seperti koran, majalah, tabloid, dan sejenisnya.

Saya memang masih harus banyak belajar. Apalagi jika dibandingkan Abun Sanda yang Senin siang tanggal 18 Maret 2013 itu tawanya riuh mengisi ruang tamu kediaman Ciputra di Pondok Indah yang demikian teduh. Dikenal sebagai pembangun rumah mewah dan gedung pencakar langit, Ciputra yang sudah berumur lebih dari 8 dasawarsa itu menghuni rumah ‘mungil’ bernuansa kayu yang hangat dan keemasan.

Saya ketuk pintu depan dan Syaiful, si perawat pribadi, muncul segera dan membukakan pintu untuk saya. Saya menengokkan kepala ke kanan dan bertanya singkat pada Syaiful, “Di mana?” Suara percakapan itu ada di arah kiri, dari arah ruang tamu yang sama seperti ruang makan, juga dipenuhi lukisan Hendra Gunawan dan benda seni rupa. Dan saya kemudian ketahui dari si empunya langsung bahwa semua benda seni yang dipajang di sana adalah replika semata. Taktik pengamanan yang cerdas karena tidak ada yang tahu di mana ia menyimpan yang asli.

Saya datang agak terlambat memenuhi panggilan atasan saya siang itu karena taksi yang sempat salah rute.  Abun, yang saya belum tahu nama dan reputasinya saat itu, menumpukan kedua tangannya ke sofa empuk tempat Ciputra duduk. Keduanya terlibat percakapan intens. Sesekali tawa meledak di antara keduanya. Turut mengobrol pula Sujadi Siswo dari Channel NewsAsia Singapura yang saat itu hendak melakukan syuting wawancara singkat untuk melengkapi tayangan acara anugerah Lifetime Achievement Luminary Award 2013 di Singapura tanggal 26 Maret 2013.  Abun diundang sebagai jurnalis yang mewakili Kompas. Sementara di sisi lain sofa, tak terlalu jauh dari Ciputra, duduk dengan sesekali tersenyum lebar Bayu Widagdo, jurnalis Bisnis Indonesia. Wartawan dari Tempo belum hadir, dan memang hingga pertemuan berakhir ia tak sempat menunjukkan batang hidungnya. Sesaat setelah saya duduk, muncul Yeri Vlorida dari Indopos, surat kabar pimpinan menteri BUMN Dahlan Iskan.

Saat itu saya baru sadar bahwa Ciputra tak hanya pantas menyandang sebutan “Begawan Properti” tetapi juga “Begawan Pers” di negeri ini. Mungkin ia bukan satu-satunya pemilik atau pendiri media-media massa besar Indonesia tetapi setidaknya ia memiliki andil yang signifikan dalam membesarkan sejumlah media.

Satu hal yang saya tangkap dari lelucon santai tetapi serius dari Ciputra dan Abun siang itu ialah kesediaan dan kemampuan mereka untuk tetap bertukar pendapat, mengkritik opini lainnya sembari berkelakar dan tak meninggalkan rasa sakit hati. Terlihat menyenangkan dan terbuka bagi saya yang lebih suka mengamati cara mereka berkomunikasi. Ciputra yang berpandangan lebih idealis bersikukuh membela Tempo yang ia turut dirikan. Menurutnya, tak banyak jurnalis yang mau menempuh jalan menguak kebenaran yang disembunyikan banyak orang yang memunculkan risiko dan bahaya bagi diri dan orang-orang yang mereka kasihi. “Tapi bukan berarti saya mau jadi wartawan Tempo,” canda Ciputra. Memang setuju dan menyatakan dukungan bukan berarti harus terjun dan menjalani jalan kehidupan yang sama.

Abun menanggapinya dengan lebih pragmatis. Saya ingat ia berkata sebagai respon atas dugaan penyebab Tempo begitu banyak dirongrong banyak pihak dari dulu hingga sekarang (ditambah dengan aksi kekerasan yang menimpa kantor mereka),” Kalau hanya satu dua yang merasa tersinggung dan protes, itu wajar. Tapi kalau semua orang merasa begitu, itu tidak wajar.” Namun, sekali lagi Abun menganggap perdebatan itu sebagai sebuah intermezzo dalam negeri yang menganut asas kebebasan berpendapat. Sifat keras kepala yang sangat khas wartawan. Penuh sindiran, ironi, satir dan lelucon yang saling bercampur kental hingga tak diketahui lagi batasnya. Dan ia menertawakan ucapan Ciputra yang mendukung Tempo tetapi tidak mau menjalani kehidupan seperti wartawan Tempo yang riskan. Kini ia membuat Ciputra sama pragmatisnya dengan dirinya.

Sebagai pewarta yang sudah tergolong senior dan mendekati masa pensiun, Abun selalu disindir Ciputra untuk segera memulai berwirausaha. “Ayo Abun. Semua orang bisa, tinggal kemauan dan tekad saja. Tidak ada kata terlambat,” saran Ciputra pada pria yang pernah menjabat sebagai wartawan kolom ekonomi, Wakil Kepala Desk Metropolitan, Wakil Editor Desk Hukum Kompas, dan Direktur Bisnis Kompas. Abun tersenyum simpul.

Berkali-kali bentuk tubuh Abun yang tambun menjadi sasaran empuk Ciputra. Ciputra memang dikenal sangat memperhatikan kesehatan, dan merasa berkewajiban mengingatkan dengan segala cara bahwa kelebihan berat badan adalah sumber penyakit yang harus diberantas.

Sempat Ciputra membandingkan bentuk badan Abun dengan saya. “Saya masih ingat. Dulu saat kamu masih baru (*pen – sebagai wartawan), badan kamu masih seperti dia,” ujar Ciputra sembari menunjuk saya. Kami semua tergelak. Saya setengah tak percaya: rasa setengah tak percaya yang pertama bahwa Abun pernah sekurus saya yang hanya 46 kilogram dan setengah tidak percaya sisanya bahwa bentuk badan saya suatu saat nanti bisa saja berubah seperti beliau. Buru-buru saya hapus yang kedua sambil berdoa,” Jangan ya Tuhan. Terlalu berat.” Usia Abun hampir dua kali umur saya. Begitu pula berat badannya.

Abun pertama kali keluar negeri bersama Ciputra di Hawaii. Entah tahun berapa, saya kurang tahu. Namun, yang jelas keduanya tampak sangat mengenal sejak lama. Karakter Abun yang percaya diri dan banyak cakap membuatnya tak terlihat seperti wartawan baru yang pertama kali diajak ke luar negeri, kata Ciputra.

Abun pribadi yang usil tetapi menyenangkan. Saya masih ingat saat saya buru-buru menyusuri jalan sempit di antara deretan kursi pesawat kelas ekonomi yang kami sama-sama tumpangi Rabu pagi tanggal 26 Maret 2013, ia berpura-pura tertidur pulas dan menjulurkan tangannya menutup jalan. Hampir saja saya meledak emosi melihat ada lengan besar seseorang menghalangi saya untuk segera melampiaskan ‘panggilan alam’. Sebelum saya sempat menyentuh lengan itu, si empunya terbangun, menampakkan mukanya, menyeringai dan segera mengangkat lengan yang diameternya lebih besar dari betis saya. Karena saya pikir orang asing, saya sudah siap-siap pasang muka serius dan kencang, tetapi begitu tahu itu Abun, saya ikut terkekeh. Hanya 1-2 detik, dan saya kembali fokus melesat ke toilet untuk menumpahkan isi kandung kemih.

Percakapan saya dengan Abun yang paling berkesan ialah saat kami bersantap pagi di beranda samping Hotel Fullerton yang menghadap sungai dan diapit 2 jembatan. Burung-burung gagak berbulu hitam dan berparuh panjang dan runcing terbang ke sana kemari mencari kesempatan mematuki makanan sisa di piring-piring keramik putih yang lebar dan mangkuk penuh biskuit dan buah-buahan kering atau makanan lain yang tak kalah mengundang selera. Pagi itu seperti biasa saya mencari-cari tempat yang bagus untuk berfoto sebentar. Dan pemandangan di sungai yang disirami sinar matahari begitu memukau dan sayang untuk dilewatkan. Sekonyong-konyong, gerimis turun saat makan pagi itu. Kami panik mencari tempat bernaung. Dan akhirnya aku menyingkir ke meja yang sama tempat Abun sedang bersantap. Pilihan menunya cukup berat, berupa roti, crackers, daging, mentega dan lainnya yang terlihat sedikit menggunung. Punya saya juga menggunung, tetapi terdiri dari buah-buahan segar dan kering, salad, dan sejenisnya. Begitu ‘tamaknya’ saya dengan buah sampai saya sisihkan 3-4 buah berupa pir, jeruk dan apel untuk dimakan saat siang.

Berfoto dengan pose normal terlalu membosankan lalu saya memutuskan sedikit menambahkan unsur yoga dalam pose saya. Saya angkat satu kaki hingga mendekati kepala lalu tersenyum ke kamera ponsel yang dioperasikan teman lain. Setelah puas, saya kembali ke meja makan. Abun masih asyik dengan santapannya.

Ia menyaksikan saya berpose gila dari tadi dan memuji, “Hebat…kamu hebat.” Saya mengucapkan terima kasih dan tersenyum padanya sambil masih berdiri di samping meja makan.

“Dulu istri saya juga latihan yoga lho,” ungkap Abun.

“Oh ya pak? Berapa lama? ” tanyaku antusias, menundukkan kepala sedikit siap mendengar kisah istrinya. Cerita yang  keluar dari mulut seorang pewarta pasti terkesan lebih seru.

 “Cukup lama. Dia latihan teratur,”ceritanya singkat. Saya mengerjapkan mata, masih mengharap kelanjutannya.

Penasaran dan tak sabar karena jeda yang aneh dan membuat kikuk ini, saya bertanya, “Istrinya kerja di mana, pak?”

Raut muka Abun pun mendadak serius. Saya ikut tegang. “Istri saya sudah meninggal,” katanya mengenang peristiwa kematian alm. Anita bulan Maret 2009. Jika saya tak salah ingat perkataan Abun, almarhumah istrinya meninggal karena keganasan kanker ovarium yang sudah menjalar ke berbagai organ tubuh lain.

Kuberanikan diri bertanya,”Apakah karena (faktor) keturunan, pak?”

“Tidak juga. Tidak ada anggota keluarganya yang begitu setahu saya,” jawabnya.

Pandangan matanya kosong. Jiwanya seperti terserap ke alam lain. Kedua bola matanya diam, tetapi tidak mengamati secara khusus apapun yang terhampar di depannya. Sungai nan bersih, pepohonan yang lebat dan hijau dan langit Singapura yang bersih dan cerah di depannya seperti tak sanggup menghiburnya. Pun makanan lezat yang baru saja ia telan dan sebagian masih tersisa di piring lebarnya. Mulutnya berhenti mengunyah.

Saya cuma bisa berdiri di depannya, mengamatinya. Gamang untuk berkata-kata. Saya tak mau salah ucap.

Waktu serasa berhenti, sampai ia kembali berucap, “Orangnya baik sekali…”

Saya tetap berdiri tegak dan diam mempertahankan ekspresi muka netral tetapi tetap simpatik padahal sebenarnya emosi mulai bergetar dan runtuh di dalam. Ya Tuhan, apa yang harus saya lakukan kalau sampai Abun terisak-isak di sini? Dan yang tak kalah penting, bagaimana kalau saya juga larut dan ikut mengharu biru di depan sejumlah pengunjung hotel yang masih makan pagi? Ah, siapa peduli! Mungkin itu tak lebih penting daripada menemani dan mendengarkan apa yang ingin  ia curahkan.

Ingin memeluknya atau sekadar menjabat tangan besarnya itu. Saya takut baginya itu terlalu overacting. Di saat kritis seperti ini saya agak membenci diri saya yang bahkan begitu pemikir dan banyak pertimbangan. Saya bukan orang yang terlalu ekspresif dan spontan. Apalagi kami baru beberapa hari mengenal.

Pembicaraan kami berhenti begitu saja. Pelayan hotel mengumumkan ditutupnya buffet beberapa menit lagi dan semua harus dibereskan. Gerimis berhenti. Namun awan tipis masih menggantung rendah. Entah sampai kapan. Lalu kami masuk hotel, berkemas untuk kegiatan berikutnya.

Satu kejadian lucu saat mengunjungi “Gardens by the Bay” di Singapura terjadi saat Ciputra yang terkesima dengan bentuk pohon baobab tiba-tiba menarik tangan Abun yang masih kelelahan mengitari taman buatan yang luas itu dan mengajaknya berfoto dengan latar belakang pohon  langka itu. Bentuknya memang persis bentuk tubuh Abun, menggembung di bagian tengah. Kami tertawa bersama dan mengambil gambar keduanya.

Sampai di Indonesia, kami belum pernah menghubungi satu sama lain kembali. Dan baru Senin kemarin (8/3) saya dari teman kerja mengetahui kabar bahwa beliau meninggal Kamis sebelumnya (4/3).  Siapa yang tak kaget?

Selamat jalan Pak Abun Sanda. Semoga semua kerabat dan teman yang kautinggalkan tabah terutama kedua anakmu yang sudah jadi yatim piatu di usia belia.

 

%d bloggers like this: