IKEA Itu Mana?

“IKEA itu mana ya, mas?”

“Hah, IKEA itu apa?”

“IKEA itu mana?”

“Iya tau tapi IKEA itu apa?”

(Hening sejenak)

“IKEA itu‎ toko oleh-oleh.. dari Malaysia.”

“Hmmm…”

“Mas ini gak pernah ke mana-mana ya? Hhh.”

(Hening lama)

“Jadi ini nanti kita ke mana?”

“Ke IKEA, mas!”

“IKEA apaan sih?”

“Ya ampun. Itu lho. Hmm, IKEA tuh.. hmm tempat jual oleh-oleh‎ yang lucu-lucu itu!”

“Ga tau.”

‎”Ah, payah kamu, mas!”

“Ya, tapi masak aku disuruh tau semua tempat di sini? Aku bukan sopir taksi.”

Meski Sunda, Jiwa Jawa

img 20130929 00084
img 20130929 00084

Saya membuka pintu taksi. Di dalamnya seorang sopir menyapa dalam bahasa Jawa.  Logatnya aneh. Bukan orang Jawa, meski harus diakui ia cukup lancar. Namanya Nana R. begitulah yang tercetak di permukaan tanda pengenal pengemudi taksi di dasbor mobil. Remang-remang memang tetapi saya masih bisa membaca dengan jelas.

Nana jelas-jelas orang Sunda tetapi memiliki kebanggaan menggunakan bahasa Jawa. Ia malu-malu mengaku pada saya dirinya belajar bahasa Jawa dari banyak orang Jawa di sekitarnya. “Tapi saya tidak bisa kalau bahasa Jawa halus, mas. Apa namanya? Boso Kromo?”

Nana dan taksinya mengarungi malam yang pekat tanggal 13 Desember itu, mengantar saya menuju tujuan dari Taman Ismail Marzuki.

Ketakjuban Nana pada budaya Jawa tak hanya pada bahasanya yang rumit. Percakapan tiba-tiba bergulir ke batik.

Nana bercerita panjang lebar – tanpa saya pinta dan tanya – bahwa dirinya berkenalan dengan batik saat bekerja dengan orang India.

“Dia tekun sekali. Orangnya ulet. Di negeri asalnya, dia orang miskin tetapi di sini dia kaya raya,” ujar Nana.

Majikannya berasal dari India, tepatnya Bombay. Mungkin juga kebetulan sang majikan dan keluarganya sangat suka menambahkan bawang bombay dalam masakan mereka.

Tan Singh, nama sang majikan, sadar bahwa kain batik bisa menjadi ladang bisnis. Ia pun berkeliling Indonesia untuk mengunjungi sentra-sentra produksi batik di masa orde baru. Saat itu, kaya Nana, majikannya bisa menjual beberapa kontainer batik ke tanah kelahirannya. Nana yang saat itu masih lajang pun bekerja padanya selama 5 tahun. Ia mengaku tak betah karena Tan pelit, cerewet.

Tan tidak hanya membeli batik-batik yang sudah bagus dan kualitasnya memenuhi standar yang ia tetapkan, tetapi ia juga membina sejumlah produsen batik yang potensial sehingga mereka bisa meningkatkan produk mereka dalam hal kualitas dan kuantitas agar nantinya bisa dibeli dan diekspor ke India. Bersama Nana, Tan menelusuri kantong-kantong produsen batik di Indonesia dan membeli dalam partai besar. Tutur Nana,”Dulu saat masanya Pak Harto, batik sudah ekspor. Entah sekarang.”

Sambil menyetir taksinya, Nana bercerita lagi,”Yang laku (dari batik ñ pen) itu kan keunikannya. Sampai merata gitu kan. Ini motifnya sama dan dengan tangan! Terkenalnya Indonesia kan karena itu.”

Batik juga membuat orang mancanegara suka dengan tenaga kerja Indonesia, kata Nana. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa? “Ya kan sabar, rajin, bertalenta, apalagi yang di luar Jawa seperti Dayak.”

Nana menyayangkan sikap sebagian orang Indonesia sendiri yang kurang mencintai batik sebagai kekayaan budaya nasional bangsa. “Orang bule aja setiap lihat di Senayan (antusias – pen). Orang Jepang, Korea, yang lihat, masak orang kita (malah tidak mencintai batik – pen) tapi sekarang sudah mulai sadar sih.”

Semua itu ia ceritakan hingga kami sadar Nana belum menyalakan argo taksinya sejak tadi.

“Aduh, bagaimana ini??!!” ia kebingungan.

Nah, siapa suruh keasyikan cerita!

Duh, Kena PHK…!

Di daerah ini, jarang sekali terjadi PHK (pemutusan hubungan kelistrikan). Bahkan saat area lain sudah kebanjiran, terendam setinggi 3 meter, terguyur hujan berhari-hari, kami di sini tetap berlimpah pasokan listrik. Kami bisa melakukan apa saja, kecuali ke luar rumah karena cuaca begitu buruk di puncak musim hujan yang melanda gila-gilaan di Januari dan Februari.

Hari ini daerah kami tidak terkena hujan deras apalagi banjir bandang, ditambah cuaca yang lumayan cerah, langit cuma tersaput awan tipis, tapi sekonyong-konyong listrik putus. PLN secara tiba-tiba menganiaya kami dengan melakukan PHK di sini. Hanya di sini! Karena kami tahu daerah lain di seberang jalan sana terang benderang! Tidak adil!!!

“Rumah kamu mati lampu nggak?”anak di shaf belakang tadi bertanya ke sobatnya di sela rukuk rakaat kedua solat maghrib tadi. “Iya…”Jawab si sobat. Sedih. Semua sedih. Tak ada yang bisa menonton acara kesukaan kalau begini jadinya, padahal ini malam Minggu, malam panjang saat anak-anak usia sekolah bisa bersenang-senang.

Sambil memakai kembali kaos kakinya di tengah remang senja, seorang sopir taksi Blue Bird yang badannya seperti pesumo itu duduk di ambang pintu masjid kami sambil berkata,”Cuma di sini ya? Tadi lewat seberang sana kagak mati loh.!” Temannya menjawab santai,”Iye biar kayak Jakarta tempo dulu. Dulu kan juga kayak gini. Gelap.” “Lilin pasti laris nih,”tukas si sopir taksi.

Terbukti juga omongannya. Toko di depan kos kehabisan stok lilin begitu listrik terputus sore pukul 5.30 tadi. “Lilinnya masih, koh? Yah, abisss…!”seorang pembeli melenggang keluar toko mungil itu. Ibu itu diikuti 2 anak laki-laki, melenggang riang karena terbebas dari keharusan belajar dan kerjakan pekerjaan rumah di malam Minggu.

Aku masuk ke kos. Kuketuk pintu sekali dan masuk ke ruangan kecil itu. Gelap sekali di ruangan lain tetapi di sini sebatang lilin menyala. Lilin berwarna merah, mungkin didapat ibu kos dari si majikan yang Tionghoa dan baru saja menggunakannya untuk rayakan Imlek di akhir bulan kemarin.

Di lantai kayu itu, Novi duduk bersila dengan piring berisi sayur lodeh dan ikan asin goreng tepung garing yang membuatnya keranjingan. Bapaknya duduk di sebelah, membelakangiku yang berada di ambang pintu, tidak tahu ke mana harus duduk. Ruangan itu cuma sebesar istal kuda, kandang kerbau, atau mungkin lebih kecil dari itu. Entahlah. Isinya almari pakaian, rak dan tumpukan buku. Sebuah tempat tidur ada di atas. Ibu kos bersila pula di lantai, menyuapkan nasi sayur lodeh ke mulutnya. Nasi sudah agak dingin karena magic jar mati tanpa listrik. Itulah mengapa rasanya sudah tidak senikmat nasi sayur lodeh siang tadi yang kunikmati. Tidak ada yang menyedihkan dari semua di dalamnya. Mereka hangat, kenyang, dan gembira. Novi berceloteh tanpa diminta,”Makannya enak ni, kak. Ama ikan asin. Yang paling enak seduniaaa…!” Satu suapan besar masuk ke mulut Novi yang mungil. Hap! Nyam nyam nyam. Ia mengunyah makanan terlezat sedunia, versinya dan versiku juga. Kami semua suka. Novi yang susah makan tapi gemar jajan itu akhirnya takluk dengan ikan asin garing goreng tepung ibunya. Jadi mungkin malam ini tidak lagi dia akan meminta uang untuk membeli es lilin atau keripik atau permen.

Aku habiskan makanan lebih cepat karena enak. Lalu keluar begitu menyadari sudah waktu isya. Masjid masih juga gulita.

Pukul 19.53. “Kayaknya bakal hidup jam delapan!”teriak lelaki tua penjual rokok di pertigaan gang pada seorang tetangga.”Jam 8 pagi besok..” Sejurus kemudian, aku saksikan sendiri, gang itu kembali terang. Lampu-lampu mengeluarkan cahaya sebagaimana biasanya seketika tanpa memberi isyarat pendahuluan pada kami di sini.

Anak-anak berlarian girang bukan kepalang. Seakan itu hari lebaran. Yihaaa!

%d bloggers like this: