3 Cara Bangun Personal Brand di Dunia Digital

Membangun sebuah ‘personal brand’ lain dari ‘corporate brand’. Personal brand mengacu pada pribadi seseorang. Apa yang dijual dalam personal brand bukanlah produk atau jasa seperti perusahaan komersial tetapi skills/ ketrampilan, pengalaman, keahlian, pemikiran dan sebagainya.

Pertama-tama, mungkin kita memiliki pertanyaan: “Mengapa seseorang perlu membangun personal brand dirinya sendiri?” Dalam dunia yang tingkat kompetisinya makin ketat ini, kita harus makin cerdas dan taktis. Saat dunia makin bergeser ke tren online, kita juga harus memanfaatkan fenomena ini dengan mulai membangun personal brand tidak hanya di alam offline, tetapi juga online. Saya sendiri tidak menyarankan sepenuhnya untuk meninggalkan salah satu di antaranya karena keduanya (online dan offline) saling melengkapi.  Namun, biasanya reputasi online kita akan membuka peluang lebih lebar dari jaringan offline kita karena jangkauannya yang luas sekali. Meski begitu, tetap saja reputasi online harus didukung dengan kemampuan kita di dunia nyata/ offline.

cropped-sss1.pngBila Anda seorang yang merasa sudah mapan dalam karir atau sudah memiliki pekerjaan yang berprospek cerah pun masih disarankan untuk membangun personal brand. Mengapa? Sederhananya ini menjadi semacam tali pengaman kedua saat kita suatu saat harus meninggalkan perusahaan atau institusi tempat bekerja karena berbagai alasan. Bisa saja kita terpaksa resign karena sudah merasa buntu suatu saat nanti, atau merasa bosan atau ingin mencoba karir baru, atau dengan cara yang pahit, misalnya karena perusahaan bangkrut sehingga Anda terpaksa dirumahkan, atau karena tiba-tiba divisi Anda secara sepihak dibubarkan perusahaan. Banyak faktor yang bisa membuat semua itu terjadi. Dan saat bencana itu muncul, Anda bisa memanfaatkan personal branding yang sudah Anda bangun sebagai tali penyelamat hidup kedua agar Anda tidak terjun bebas ke dasar jurang. Atau bisa juga suatu saat Anda ingi membangun bisnis sendiri sebagai entrepreneur setelah puas menimba pengalaman dan menabung modal dari bekerja sebagai pegawai, personal brand akan sangat membantu untuk itu.

Untuk memiliki personal brand yang kokoh, bangunlah pondasinya dari sekarang. Langkahnya adapat kita bagi menjadi 3:

  1. Tentukan brand
  2. Buat website/ blog
  3. Gunakan jejaring

Langkah pertama ialah tentukan brand kita. Dalam langkah awal ini, pikirkan 4 poin utama: tujuan, audiens, Unique Selling Point (selanjutnya disingkat UPS), dan identitas visual. Simpelnya kita harus mengetahui arah gerak kita, hal yang mau kita capai. Bisa jadi tujuannya sangat ambisius dan jangka panjang seperti “menjadi seorang desainer web paling terkemuka di dunia” atau yang lebih pragmatis seperti “mendapatkan pekerjaan di perusahaan multinasional bonafide”. Maka berdasarkan tujuan itu, kita bisa selaraskan dengan brand dan blog/ situs yang akan dibangun.

Tentang UPS, kita harus menemukan sesuatu (akan lebih baik jika lebih dari satu) yang membedakan diri kita dari orang lain di luar sana yang juga memiliki tujuan yang sama atau menekuni bidang yang sama. Jika ketiga poin di atas sudah siap, saatnya untuk membentuk sebuah jati diri visual yang dituangkan dalam bentuk pilihan warna khas untuk blog/ situs, logo, kartu nama. Tak banyak yang memikirkan keselarasan antara kesemua hal ini, padahal jika dipikirkan dengan masak, kesan profesional dan elegan akan lebih terpancar.

Langkah kedua ialah membuat situs web atau blog pribadi. Beberapa poin yang perlu diperhatikan ialah halaman depan (homepage), portfolio/ studi kasus, halaman ‘about’, testimonial, dan isi blog. Homepage seolah adalah serambi/ beranda rumah yang memberi kesan tertentu bagi pengunjung. Di halaman depan ini disarankan untuk memajang foto diri kita (dengan wajah yang jelas) dan akan lebih baik jika foto itu juga diseragamkan untuk dipasang di jejaring sosial yang kita punya untuk tujuan personal branding. Jadi, foto yang kita pajang di homepage blog lebih baik sama dengan avatar kita di Twitter, profile picture di Facebook, di browser, profil LinkedIn dan sebagainya. Ini bukannya tanpa sebab, tetapi karena foto yang sama akan menciptakan konsistensi brand yang memudahkan kita untuk dikenali orang lain yang ingin menghubungi kita.

Navigasi situs/ blog juga jangan sembarangan. Jika Anda seorang profesional yang sudah bekerja untuk sejumlah klien atau korporasi, mungkin akan lebih meyakinkan untuk mendapatkan sebuah testimonial dari pihak pemberi kerja yang terdahulu (previous employers/ clients). Ini menjadi semacam referensi bagi orang untuk lebih mempercayai kredibilitas kita.  Di blog, tunjukkan juga bahwa konten blog diperbarui secara rutin. Orang akan lebih meyakini eksistensi personal brand jika blog yang bersangkutan diperbarui secara berkala yang ditandai dengan munculnya tulisan, gambar, atau video yang baru dan relevan dengan isu terkini. Jika sibuk sekali, cobalah memperbarui blog itu di akhir minggu. Jika ada banyak waktu, perbaruilah 2-3 kali seminggu. Makin sering , makin bagus.

Setelah selesai menikmati konten blog, usahakan pula agar si pengunjung tidak begitu saja meninggalkan blog Anda tanpa mengikuti Anda di jejaring sosial (pajang ajakan untuk menjadi follower atau fan/ teman di Twitter dan Facebook), atau berlangganan konten blog terbaru melalui email. Dengan begitu, peluang Anda untuk diingat olehnya lebih tinggi.

Untuk halaman “portfolio”, kita bisa memajang semua hasil karya yang sudah ada hingga saat itu. Jika Anda seorang web designer, pajanglah screenshot situs-situs yang sudah Anda buat dan disukai klien.

Sementara untuk halaman “studi kasus”, kita bisa tunjukkan alur kerja kita saat membuat sebuah karya atau menyelesaikan proyek dari klien. Misalnya, jika Anda seorang praktisi periklanan, Anda bisa tunjukkan bagaimana Anda membangun sebuah brand milik klien. Ungkapkan risetnya, konsep yang diterapkan (sepanjang memungkinkan, kecuali klien mengharuskan Anda menandatangani NDA atau perjanjian menjaga kerahasiaan).

Di halaman “About” (Tentang), jelaskan UPS kita sebagai individu. Berikan penjelasan secara umum dalam bahasa yang segar dan lugas (tak perlu terlalu kaku dan dingin) mengenai perjalanan karir, bidang-bidang keahlian kita, pengalaman, dan sebagainya. Jika Anda seorang pekerja lepas (freelancer) misalnya, kehadiran blog dengan halaman “About” yang informatif akan membantu sekali dalam mendapatkan tawaran pekerjaan berikutnya.

Seperti sudah banyak kita ketahui, dalam halaman “Testimonials” kita akan jumpai kesaksian para klien terdahulu mengenai kualitas pekerjaan kita. Kesaksian yang ada harus pula disertai dengan foto saksi itu. Akan lebih meyakinkan pula jika Anda tambahkan hyperlink (teks dengan tautan/ link di dalamnya) dalam testimoni itu yang bisa diklik untuk menuju ke situs/ blog pemberi testimoni  yang bersangkutan.

Semua halaman di atas adalah halaman statis, yang artinya tidak akan kita perbarui terlalu sering. Lain dari konten blog yang harus kita perbarui secara teratur. Banyak orang yang merasa tidak perlu membuat apalagi menulis blog, apalagi jejaring sosial sekarang tambah menyenangkan dan lebih praktis. Ini keliru. Menulis sebuah blog dengan pemikiran Anda sendiri membuat kita lebih kompeten daripada hanya sekadar memperbarui timeline di jejaring sosial (meski itu ratusan kali sehari). Jejaring sosial memang lebih mudah dan menarik daripada menulis blog, tetapi imbalan yang bisa kita tuai dari blog itu sendiri juga lebih banyak. Tulisan di blog kita lebih terorganisir dan dapat dilacak dengan tag, kategori, dan mesin pencari  saat kelak dibutuhkan. Bandingkan dengan celotehan kita di jejaring sosial yang terkubur begitu cepat meski sudah memakai tagar tertentu.  Aktif di jejaring sosial membuat blogger terlena padahal inti dari berjejaring sosial sebenarnya adalah menarik orang untuk mengetahui lebih jauh tentang diri kita, dan semua itu tidak bisa disampaikan di jejaring sosial dengan panjang lebar. Orang akan bosan. Tetapi blog ibarat sebuah rumah yang menjadi tempat berkumpul setelah Anda menyebarkan informasi diri di jejaring sosial. Di blog, personal brand akan lebih leluasa dibangun. Di blog, diskusi akan lebih mudah terakomodasi dalam komentar. Di blog, konteks juga lebih terjaga sehingga pesan lebih udah dipahami. Bayangkan di jejaring sosial yag ruangnya terbatas, risiko kesalahpahaman lebih tinggi karena konteks tidak utuh lagi, terpotong paksa oleh batasan karakter dan attention span pengguna jejaring sosial yang sangat pendek. Pengguna jejaring sosial cenderung berkunjung karena ingin bersenang-senang dan melihat-lihat tanpa harus mencermati dengan segenap daya pemikiran, yang berbeda dari pengunjung blog yang sudah menyiapkan diri untuk mencerna argumen dan pesan yang lebih panjang dan kompleks dari hanya satu baris tweet atau status.

Langkah ketiga ialah gunakan jejaring yang sudah dibangun untuk mencapai tujuan semula. Kerahkan tenaga, waktu dan pikiran untuk membuat blog, akun jejaring sosial (Twitter, Facebook, LinkedIn) dan sebagainya. Di Indonesia, ketiga jejaring sosial inilah yang paling banyak digunakan. Tentu Anda bisa memperluasnya ke Instagram, Pinterest, dan sebagainya. Namun, pastikan Anda masih bisa menanganinya dengan baik tanpa harus merasa terpaksa. Dan yang lebih penting lagi, sesuaikan dengan kebutuhan, jenis bidang, dan sebagainya. Misalnya jika Anda seorang penulis, membuat akun di Instagram mungkin kurang penting karena di sini interaksinya berbasis gambar bukan teks. Anda akan lebih leluasa di Facebook, Twitter, Tumblr atau LinkedIn.

Sebagai tambahan, saat membuat personal branding di dunia maya, kita perlu pahami bahwa faktor I sangat krusial di sini. Apa itu faktor I? Integritas. Menurut Hermawan Kartajaya, banyak orang memahami dunia maya sebagai sebuah alternatif baru untuk  menyalurkan itikad yang kurang baik. Menipu orang memang lebih mudah melalui Internet. Akan tetapi satu hal yang patut disadari ialah begitu melelahkannya berbuat jahat di Internet karena di sini semua perbuatan kita bisa tercatat dan terlacak secanggih apapun trik yang digunakan. Bagi mereka yang berpikiran pendek, membangun brand apapun di Internet akan sukar sekali. Dibutuhkan konsistensi dan kesabaran dalam membangun personal brand di Internet. Ini bukan proses instan. Dan meskipun terlihat mudah dan instan, itu lebih karena orang tidak melihat proses panjang dan berliku di belakangnya.

Karenanya, bangunlah personal brand dengan mengingat bahwa sikap tulus dalam berinteraksi di dunia maya juga mutlak. Berikan manfaat bagi orang lain, alih-alih memanfaatkan orang lain secara sepihak saja. Dan tak lupa, jadilah seorang sosok/ figur yang mampu membangun budaya dalam sekelompok orang (yang menjadi teman, pengikut atau penggemar kita di jejaring sosial). Tidak ada yang berbeda dengan hubungan antarmanusia di dunia nyata, karena pada hakikatnya dunia digital hanyalah sebuah medium, alat semata. Intisarinya tetap pada bagaimana setiap manusia di dalamnya berhubungan satu sama lain. Jadi, ia bukan sebuah mantra ajaib yang memecahkan semua masalah di dunia nyata!

Broga, Yoga untuk Kaum Pria

Apa yang terlintas di benak Anda saat disebutkan kata “yoga”? Sehat, langsing, lentur, atau lembut?  Jarang mungkin yang mengatakan kuat, berotot, atau semacamnya? Sukar memang untuk menunjukkan bahwa yoga tidak cuma untuk para wanita.

Sebenarnya isu ini juga sudah terpikir sejak dulu mulai berlatih. Saat saya berlatih tidak banyak teman pria yang demikian rutin mengikuti latihan. Ada memang beberapa yang hadir, tetapi perlahan menghilang. Sementara yang bertahan bisa dihitung dengan jari-jari di satu tangan.

Pertanyaan ini kembali mengusik setelah saya membaca artikel tulisan Mary Austin di Kykernel.com yang menanyakan pertanyaan yang sama persis meski settingnya berbeda: “Why is yoga more popular among women in the U.S.?” Dan menurut pengamatan saya, memang lebih banyak pegiat yoga wanita (yogini) daripada pegiat yoga pria (yogi). Di sejumlah kelas yoga di studio di sejumlah negara, seperti di Hong Kong, Jepang, dan sebagainya, biasanya peserta pria hanyalah minoritas. Bisa jadi mereka adalah pasangan atau teman pria yang diajak oleh peserta wanita yang sudah lebih dulu masuk dan menekuni yoga.

Hipotesis saya ini juga dikukuhkan oleh Austin, yang mengatakan, “Often urged by their wives, men have started coming to class“. Jadi kisah para pria yang bersentuhan dengan dunia yoga karena mulanya dipaksa pasangannya bukan hanya terjadi di sekitar saya saja. Di tempat saya berlatih, memang terlihat beberapa pria yang masuk dan ikut karena istri, pacar atau teman wanita mereka ingin mereka menemani dan ikut berolahraga dan sehat bersama mereka.

Mungkin ada yang salah hingga tercipta sebuah citra feminin seperti ini pada dunia yoga. Yoga bukan dunianya wanita. Bahkan sebenarnya di negeri asalnya, India, mereka yang piawai beryoga dari jaman kuno bukanlah para wanita yang selalu diasumsikan lebih lentur. Para yogi justru lebih mendominasi dahulu kala. Patanjali, sosok yogi yang juga orang bijak, adalah pria tulen. Dan dari karyanya yang sistematis mengenai yoga dan konsep ashtanga (8 tangga) dalam yoga ini makin banyak orang yang bisa mengenal dan mempelajari serta mempraktikkan yoga.

Yang patut dikritisi kemudian ialah pengemasan yoga itu setelah dunia Barat mengenalnya di pertengahan abad ke 20. Kira-kira dekade 1960-an, B. K. S. Iyengar memperkenalkan yoga ke masyarakat Barat. Yoga yang berasal dari Timur pun dianggap sebagai praktik yang eksotis dan perlu lebih banyak digali dan dipraktikkan. Untuk menarik lebih banyak penggemar untuk memasuki kelas yoga, akhirnya dibuatlah pakaian-pakaian serta aksesoris yoga yang semenarik mungkin. Muncullah kemudian mat yoga yang warna-warni, celana yoga yang ketat.

Yoga di benak banyak orang juga masih dikenal sebagai olahraga meditatif belaka. Ada benarnya tetapi tidak seluruhnya demikian. Yoga lebih kompleks dari sekadar bermeditasi, atau memperagakan asana alias pose-pose yang terlihat ‘menyakitkan’ karena membutuhkan kelenturan dan kekuatan. Saya sendiri hampir selalu menemukan orang awam di sekitar saya yang mengira bahwa ikut yoga adalah membuang waktu dengan duduk bersila dalam posisi lotus. Tak bisa disalahkan juga karena itu yang mereka baca dan lihat di media mainstream.

Yang patut diperhatikan ialah bahwa para guru dan instruktur yoga malah umumnya berjenis kelamin pria.  Guru saya yang pertama juga kebetulan pria, meskipun kemudian terjadi rotasi temporer yang menghadirkan pengajar wanita yang kualitasnya juga tak kalah bagus. Namun, tetap saja guru pertama saya yang pria ini lebih terasa mantap, mungkin juga karena pengalaman dan pengetahuan yang sudah mendalam.

Sebagian pria merasa terintimidasi saat masuk kelas yoga jaman sekarang karena dominasi para wanita di dalamnya. Apa pasal? Karena mereka merasa kalah lentur. Padahal dalam yoga, kelenturan bukan segalanya. Kekuatan otot juga diperlukan! Lagipula, kelenturan bisa dilatih.

Praktisi dan guru yoga Devi Asmarani mengatakan dalam bukunya “Yoga untuk Semua” bahwa kaum Adam tak perlu menolak melakukan yoga karena sebenarnya banyak manfaat yang bisa dituai. Dengan banyaknya pria yang suka olahraga angkat beban dan berintensitas tinggi, yoga makin dibutuhkan karena peregangan dalam yoga penting untuk memelihara otot agar tidak memendek karena berulang kali dipakai angkat beban. Intinya yoga menyeimbangkan tubuh kita, apapun jenis kelamin kita.

Austin juga menyebut istilah “broga” yang berakar pada kata “brother” dan “yoga”.  Bisa dikatakan ini merupakan gaya baru dalam beryoga karena digagas untuk mengajak lebih banyak pria melakukan yoga. Dan uniknya, kelas broga ini ditujukan hanya untuk pria. Robert Sidotti yang turut mendirikan aliran broga ini berpendapat makin banyak dijumpai pria pertengahan 30-an yang merasa kurang bugar tetapi enggan mengikuti kelas yoga yang didominasi perempuan. Kondisi ini melatarbelakangi munculnya broga, yang menurut Sidotti , gerakannya telah didesain khusus untuk badan kaum pria yang lebih suka fokus pada kekuatan alias strength.

Jadi, apakah masih segan beryoga, tuan-tuan?

(Juga dipublikasikan di Kompasiana.com)

%d bloggers like this: