Kisah Mahasiswa Indonesia Ikut dalam TechCrunch Disrupt Hackathon London

Inilah mengapa jurnalis perlu lebih banyak menggunakan jejaring sosial dalam bekerja. Saat mengumpulkan sumber berita menjadi makin mudah berkat teknologi, jurnalis perlu membuka diri pada berbagai materi yang berpotensi menjadi sumber dan bahan berita yang berkualitas di dunia social media.

Seperti yang tak sengaja saya lakukan sore itu (21/10), saat saya iseng menelusuri linimasa Twitter saya dan menemukan akun Robin Malau, seorang pemerhati dan praktisi entrepreneurship dan teknologi, yang menyebutkan (mention) akun seseorang yang kata Robin adalah satu-satunya orang Indonesia yang ikut serta dalam ajang TechCrunch Disrupt London.

Saya tak menunda lagi untuk menghubungi orang yang ada di balik akun @adhiwie itu. Betul, ia orang Indonesia. Tepatnya mahasiswa Indonesia. Kami bertukar alamat surel dan dari sana, sebuah wawancara jarak jauh saya lakukan.

Nama lengkapnya Adhi Wicaksono, seorang mahasiswa Master di University of Birmingham, Inggris. Pada saya ia mengatakan menuntut ilmu di bidang Human-Computer Interaction (interaksi komputer-manusia) yang saya sendiri tak memiliki bayangan sedikitpun mengenai mata kuliahnya. Adhi mengaku ia satu-satunya orang Indonesia yang ikut dalam TechCrunch Disrupt 2014 di London. Dan jika saya boleh katakan – mohon koreksi jika saya salah – sepengetahuan saya Adhi-lah WNI pertama yang ada di ajang TechCrunch Disrupt sebagai peserta. Adhie sendiri mengaku tidak menjumpai peserta lain yang berasal dari Indonesia.

Bagi Anda yang masih asing dengan nama “TechCrunch Disrupt”, dapat saya jelaskan bahwa acara tersebut mirip dengan sebuah ajang tahunan yang bergengsi di dunia startup. Di acara konferensi tahunan yang diselenggarakan oleh blog teknologi dan startup asal San Fransisco “TechCrunch” tersebut yang berlangsung di sejumlah kota besar di dunia ini, para entrepreneur, programmer, peretas (hackers) mendapatkan kesempatan yang sama untuk meluncurkan produk dan layanan mereka. Nantinya akan dipilih para pemenang dari semua startup yang hadir dan ikut serta yang akan dipertemukan dengan sejumlah investor potensial, pers, dan pihak-pihak lain yang memiliki minat dan kepentingan. Ajang seperti ini sungguh dinantikan oleh entrepreneur dan startup yang masih ‘hijau’ demi melambungkan nama startup dan produk mereka ke kancah dunia. Jika menang, blog techCrunch akan memuat mereka dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat mereka tersohor di mana-mana mengingat pengaruh media TechCrunch yang begitu luas dan masif. Tempat pelaksanaan mereka sebelumnya ada di San Fransisco, New York City , dan Beijing (yang digagas oleh Sarah Lacy pendiri Pando.com) dan kini juga merambah Eropa.

Keikutsertaannya dalam hackathon ini berawal saat Adhi ingin tahu bagaimana rasanya ikut ajang serupa di tanah asing. “Saya ikut hackathon karena penasaran,”terangnya via surel. Apalagi penyelenggaranya media sebesar TechCrunch. Namun, ini bukan pengalaman pertamanya ikut hackathon. Sebelumnya, Adhi sudah beberapa kali ikut ajang yang bertema hackathon di Indonesia.

Adhi tidak berjuang sendirian di sana. Ia bergabung dalam tim Seeusoon, sebuah aplikasi yang bermisi memudahkan pasangan/ kekasih untuk bertemu jika berada di kota yang sama. Aplikasi ini juga memudahkan orang membeli tiket secara langsung. “Di hackathon, saya bergabung dengan tim Seeusoon yang berumlah 5 orang (termasuk saya) dan mereka semua berasal dari Spanyol.” Dalam tim, Adhi berperan penting sebagai desainer pengalaman pengguna (user experience designer) dan antarmuka pengguna (user interface).

Para pemenang dihasilkan dari penilaian dari dewan juri yang kredibel di bidangnya, yaitu Camille Baldock (software engineer), Eric Brotto (Partner dan Spesialis Program untuk Startupbootcamp, Global Facilitator untuk Startup Weekend), Claudia De Antoni (investor Virgin Management), Tak Lo (Direktur TechStars, mentor startup), dan Melinda Seckington (pengembang platform Future Learn).

Istilah hackathon merupakan kata portmanteau dari “hack” (retas) dan “marathon” (lari marathon). Kata “hack” di sini bukan berarti meretas dalam arti negatif tetapi menciptakan suatu solusi teknologi bagi masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari, sebuah definisi tentang “hack” yang menurut Steve Wozniak bernuansa positif di awal ia bekerja bersama mendiang Steve Jobs membuat produk Apple. Para peserta akan diberikan waktu yang terbatas (biasanya semalam suntuk) untuk menghasilkan solusi tadi dari nol. Karena itulah peserta harus bekerja keras dan cepat agar solusi itu bisa dihasilkan dalam wujud yang nyata dalam bentuk purwarupa (prototype) yang bisa dipakai di presentasi yang akan dilakukan di akhir acara. Sesuai dengan kata “marathon”, hackathon akan dilakukan tanpa jeda.

Berlatar belakang sebagai pekerja lepas di sektor industri kreatif, Adhi piawai dalam bidang desain web dan pengembangannya, antarmuka pengguna dan desain pengalaman pengguna serta sejumlah proyek sampingan lainnya.

Saya tanya apa keuntungannya mengikuti ajang semacam ini, Adhi menjawab,”Pengalaman yang saya dapatkan luar biasa karena saya bisa melakukan networking (berjejaring, membangun koneksi bisnis -pen) dengan orang-orang dari bermacam-macam negara dan merasakan atmosfer yang luar biasa karena ini ajang kaliber dunia.”

Menurut Adhi, ekosistem teknologi di luar negeri sudah sangat maju sehingga banyak produk yang tidak hanya mandek sebagai barang pameran tetapi juga bisa digunakan dalam aktivitas manusia sehari-hari. “Saya harap ekosistem teknologi Indonesia juga bisa lebih maju dan saya sangat senang dengan perkembangan saat ini,”tukasnya.

Setelah ikut serta dalam berbagai hackathon, rasanya tidak berlebihan jika Adhi dimintai resep sukses menjadi pemenang hackathon. Ia berpendapat ide-ide simpel tetapi berguna, tampilan yang mudah dipahami, dan bisa dipakai semua orang dengan mudah akan lebih berpeluang untuk terpilih. Resepnya terbukti jitu karena Seeusoon berhasil memenangkan posisi juara ketiga (second runner-up) dalam hackathon ini.

Sebagai pertanyaan pamungkas, saya ingin tahu apakah Adhi memiliki saran bagi pemerintahan baru agar dunia kreatif, startup dan entrepreneurship digital tanah air makin berkembang. Ia menerangkan panjang lebar dengan antusias, bahwa pemerintahan baru harus ikut berperan aktif dalam pengembangan ekosistem tersebut. “Terlebih Indonesia saat ini telah mempunyai open data di http://data.id sehingga semua orang bisa ikut berperan,”ia menuturkan. Dari open data itu, akan bisa dihasilkan berbagai aplikasi digital yang berguna untuk memecahkan masalah-masalah sehari-hari seperti pengurusan izin usaha, pemantauan anggaran pemerintahan, dan sebagainya. Ini semua, menurut Adhi, akan memuluskan gerakan open government dan e-government di negeri kita tercinta.

Why Entrepreneurs Are Like Poker Players

Jason Calacanis likes poker. Playing poker makes your heart race, as you must make the best decision with so limited information. The same challenge you’ll also find in entrepreneurship.

Indonesian entrepreneurs in some way are like this. They’re clueless on what to do in this emerging market, where things are so
underdeveloped, young and immature.

Entrepreneur Andy Zainexplained two years ago a lot of local companies in Indonesia are started by bootstrapping because there’re very few venture capitalists. Here people often have their side jobs. Indonesian entrepreneurs also have side projects aside from their own startups. So it’s very challenging for them to start up but every chance is still open.

But the downside is Indonesian entrepreneurs lack information, just like poker players. Thus, when it comes to scouring information, they go to international sites and blogs. They still rely much on foreign media such as TechCrunch.com, Pando.com, TheNextWeb.com, etc. They can find the hottest projects in the US or any other parts of the globe.

This lack of information only lets them to copy what is successful in other markets. For instance, when Groupon became hyped, Indonesian entrepreneurs were inclined to copy this success and apply that to the domestic market. The results are various level of success.

{image credit: Commons.Wikimedia.org}

Jurnalisme Emosional

‎Era media baru yang ditandai dengan inovasi-inovasi teknologi yang memudahkan siapa saja membuat publikasi mereka sendiri (via blog, self publishing, dll) membuat norma-norma jurnalisme konvensional mau tidak mau, cepat atau lambat harus bergeser. Terjadi friksi, tumpang tindih, perselisihan di antara para wartawan dan blogger (narablog) yang saling mengklaim bahwa kelompok atau aliran atau medianya adalah yang paling baik. Fenomena ini sungguh menarik untuk diamati bila Anda adalah pewarta atau peminat jurnalisme media baru dan blogging.

Dalam pengamatan saya, ‎sekarang ini muncul sebuah aliran baru dalam jurnalisme:jurnalisme emosional. Para pelopornya adalah pendiri blog TechCrunch.com Michael Arrington, pendiri blog Pando.com Sarah Lacy, dan Kara Swisher yang mendirikan Recode.net. Mereka inilah orang yang membuat terobosan dengan memanfaatkan kanal penerbitan digital semacam blog dan jejaring sosial sebagai pengganti. Mereka membuat dunia jurnalisme menjadi lebih segar, tidak melulu menampilkan onggokan hasil wawancara, fakta dan data. Jurnalis-jurnalis kampiun media baru ini juga memiliki kepribadian (personality) dalam menyampaikan isi kepala mereka mengenai sebuah isu.

Beda yang pertama dan utama aliran jurnalisme emosional ini ialah mereka tidak segan menggunakan kata “I” (saya) dalam berbagai tulisan. Ego mereka memang besar dan mereka tidak menggunakan bahasa yang formal dan kaku bak pewarta media lama yang kerap menghiasi halaman surat kabar. Gaya menulis mereka sangat berkebalikan dengan gaya menulis wartawan di situs-situs berita mapan seperti BBC.co.uk dan VOANEWS.

Karena besarnya ego itulah, jurnalis-blogger di sini diperkenankan (baca : sangat didesak) untuk‎ menunjukkan kepribadian mereka secara blak-blakan. Arrington dan Lacy, misalnya, tidak malu menulis dengan nada memojokkan atau menggunakan kata kasar semacam “f*ck”. Swisher juga terlihat sangat liberal dengan penggunaan kata-katanya di berbagai kesempatan publik meski di tulisannya agak lebih terkendali. Emosi yang menjadi bagian dari watak manusia justru harus dipertontonkan di jurnalisme emosional dan media baru. Padahal di jurnalisme kolot, emosi sebisa mungkin dihindari agar tidak mencemari fakta yang disajikan pada pembaca. Jurnalis adalah mesin penyaji fakta dan peristiwa, tidak dianggap memiliki kepribadian atau sikap atau emosi yang manusiawi. Dalam jurnalisme emosional, justru kepribadian dan emosi harus dieksploitasi karena inilah komoditi.

Kecepatan juga menjadi prioritas di jurnalisme emosional. Sarah Lacy sendiri mengkritik bahwa dunia jurnalisme teknologi akhir-akhir ini menjadi semacam perlombaan bagi jurnalis-jurnalis agar bisa menghasilkan konten baru tentang pernyataan pers yang sama “lebih cepat dua detik” daripada para pesaingnya. Agar jurnalisme tidak semata-mata menjadi lomba kecepatan “salin tempel” (copy paste), ia menyarankan untuk menulis ulang pernyataan pers yang dikirimkan oleh startup atau berita apapun yang sudah ada agar konten yang disajikan lebih segar dan memiliki nilai tambah. Saya amati sendiri metode penulisan di Pando.com yang ia bawahi cukup menarik, karena kontennya lebih kaya referensi dari berbagai sumber. Banyak hyperlink menuju ke laman-laman lain yang bisa memperluas pandangan dan wawasan sehingga bias dalam penyampaian bisa ditekan.

‎Hal lain yang turut membedakan jurnalisme emosional ialah minimnya intervensi tim editorial. Di Techcrunch misalnya, menurut Eric Eldon (mantan editor Techcrunch) sebagaimana dikutip laman Poynter.org di artikel “Techcrunch’s Alexia Tsotsis‎: ‘I Like the Emotional Part of the News’, blog itu tidak memiliki proses ulasan editorial yang formal seperti halnya di media lainnya. Tetapi inilah yang membuat Techcrunch sanggup bertengger di peringkat teratas Techmeme Leaderboard. Artikel-artikel blogger mereka kerap mendapat kecaman, sindiran, olok-olok, karena dianggap bukan pekerjaan jurnalistik yang sesuai pakem. Namun demikian, mereka malah makin berjaya. Salah satunya menurut saya adalah karena blogger-blogger di Techcrunch menulis dengan gaya pribadi mereka sendiri. Dan mereka diberikan ruang yang hampir tanpa batas untuk itu. Begitu bebasnya ruang itu, sampai Tsotsis sendiri mengaku pernah menulis dan mempublikasikan artikel dalam kondisi mabuk setelah minum anggur. “Fuckers I am so sick of reporting on incremental tech news for fucking two years now, so sick I’m pretty much considering reverting full-time to fashion coverage,”tulis Tsotsis yang mabuk di sebuah malam Minggu di Techcrunch. Tulisannya langsung menuai kritik dan kecaman pedas.

Sarah Lacy yang juga pernah bekerja di Techcrunch menyoroti lemahnya pengawasan editorial di media baru seperti Techcrunch dan menerapkan penyempurnaan ‎itu di Pando. Penyuntingan naskah (copy editing) ia anggap sebagai bagian integral penerbitan sebuah artikel hingga pantas dibaca khalayak. Lacy mengatakan sendiri misinya adalah menggabungkan sisi posisif media lama dan media baru. Dan tampaknya ia belajar banyak dari kebebasan yang terlalu tinggi di Techcrunch.

Semua plus minus itulah yang membuat jurnalisme emosional ini menjadi begitu seksi, menantang persis seperti Alexia yang dulunya berprofesi sebagai model. Karena mereka mendobrak aturan formal yang sudah ada, dan makin dicerca, mereka makin disuka juga. Berita yang mereka sampaikan seolah menjadi lebih manusiawi dan tidak mengada-ada. ‎Saya menduga ada kriteria khusus supaya seseorang bisa sukses di jurnalisme emosional seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima kecaman kejam tanpa henti dari troll virtual yang kapan saja bisa meninggalkan komentar pedas di kotak komentar.

Di Indonesia, sepengetahuan saya belum ada yang benar-benar bisa merealisasikan jurnalisme emosional ini. ‎Dibutuhkan orang-orang dengan keberanian seperti Ruhut Sitompul atau Farhat Abbas untuk memancing emosi pembaca tetapi tentu saja, dengan memiliki kepribadian yang unik dan penampilan yang lebih menarik dari keduanya.

{image credit: Alexia Tsotsis/ Business Insider}

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

Facebook Diisukan Buat Ponsel dengan HTC

ImageFacebook kembali dikabarkan akan membuat langkah besar untuk bisa bertahan di jagat social media yang makin sengit tingkat persaingannya. Kali ini bukan aspek softwarenya, tetapi hardware. Selama ini kita hanya bisa mengenal Facebook melalui layanan jejaring sosialnya yang gratis itu. Lalu akankah kita menyaksikan babak baru dari ekspansi Facebook dalam sisi hardware?

Sejumlah situs teknologi seperti TechCrunch, PandoDaily, dan sebagainya kembali menghembuskan kabar mengenai kemungkinan Facebook akan bekerja sama dengan pabrikan ponsel Taiwan HTC untuk memproduksi ponsel bercita rasa Facebook yang kental. Digitimes, blog teknologi dari Taiwan, tampaknya menjadi sumber berita utama karena semuanya mengacu ke sini.

Isu ini bukan pertama kalinya beredar di dunia maya. Isu semacam ini pernah dihembuskan Michael Arrington di tahun 2010 namun ditepis Mark Zuckerberg dalam sebuah wawancara oleh TechCrunch yang menyatakan pihaknya tak ingin menjadi “pesaing bagi Apple, Droid, atau pabrikan hardware lainnya”.

Sebagian merasa isu ini, jika benar adanya, adalah ide bodoh, sebagaimana yang ditulis Hamish McKenzie dengan judulnya yang provokatif: “Does Anyone Else Around Here Think a Facebook Phone is a Stupid Idea?” Meski kita tidak bisa menghakimi sekarang, karena bahkan kita belum mengetahui kebenaran rencana tersebut, jika benar Facebook memproduksi sebuah ponsel sendiri, ponsel tersebut mungkin bisa disamakan dengan Samsung Nexus bagi Google.

Kerjasama antara para penguasa pasar software seperti Google dan Samsung, dan kini jika benar, Facebook dan HTC, bisa jadi adalah solusi bagi HTC untuk terus melaju menyaingi Samsung yang menjadi jawara di industri ponsel pintar. Sangat beralasan, dengan demikian, jika HTC yang labanya makin menurun akibat tergerus Samsung dan Apple ingin menjalin hubungan bisnis yang lebih erat dengan raksasa jejaring sosial Facebook demi kelanggengan bisnisnya.(image credit: springwise.com)


Sarah Lacy’s Story: “Stop Worrying. It’ll Turn Out OK”

SarahLacy.com | Welcome to a day in the life of a (Silicon) Valley girl.

Just read Mrs. Lacy’s career journey. Found it quite inspirational, to me.

A few weeks ago someone asked me if I could go back in time and give my 12 year old self advice, what it would be. The only thing I could come up with is: “Stop worrying. It’ll all turn out OK.”

And I keep thinking how true that actually is. Like most kids, I used to agonize in those (very) awkward years (and later) over whether I’d ever find someone to marry and what on earth I’d do for a living. And somehow, it did all turn out OK. Better than OK.

This is the happiest I’ve ever been in a full time job, I’ve been lucky enough to spend two years traveling the world, I’ve written two books, I’m married to the best person I’ve ever met, expecting a healthy baby boy in eleven weeks and somehow on a writer’s salary we’ve managed to buy a house in San Francisco. I can’t really imagine what more I could want. I even get along great with my in-laws. 

I owe a lot of people for that. My parents, of course. A bunch of teachers. And my awesome husband for marrying me and solving that whole soul mate dilemma.

When it comes to my career– the unbelievable fact that I get paid to write about some of the most fascinating people in the world– there are also a lot of people to thank. But chief among them is a man named Barney DuBois. A lot of people have been hugely pivotal during my reporting career, but without Barney it may never have even begun. 

Barney was the founder and publisher of the Memphis Business Journal, but I knew him first as the father of a girl I went to high school with. My senior year I was the editor of the high school paper. I know in retrospect that sounds like I always knew I’d do this, but believe it or not, I had no interest in going into journalism. In fact, it didn’t even occur to me. Back then I associated being a journalist with daily newspapers and writing stilted AP style pieces about school board meetings. That didn’t sound too enticing. (Probably didn’t help that Memphis didn’t have the world’s greatest daily paper.) 

 At any rate, as editor I inherited a huge deficit. We were still publishing the paper by moving print and it was expensive. We only had enough money to produce six four-page issues for the year. Lame. I decided to get someone in the community to “underwrite” the paper, and picked Barney as my target. He was the only person remotely in the journalism world I knew. 

So I nervously went to his office downtown and pitched him on an offer he couldn’t possibly refuse: Help us move our paper over to computers, send your staff to train my team how to use the programs, let us use your scanners, and let us piggyback on your print run. And throw in a redesign. In exchange I offered our paltry budget and a line in the staff box that said we were underwritten by the Memphis Business Journal. He accepted, clearly out of a mix of pity, amusement and obligation since his daughter went to my school. The Business Journal underwrote my highschool paper until they were sold to American City Business Journals years later, totally changing what the students were able to produce. 

Over that summer and my senior year of high school, we put out more papers than the school ever had, with longer page counts, vastly improved photos and graphics and still ended with a surplus. Every month around midnight, I’d finish wrapping up each issue in the school’s computer lab. (My family didn’t have a computer.) I’d go drop off the floppy disks and the photos at Barney’s house. He’d open the door– sometimes in a bathrobe, usually holding a glass of scotch, still working late on his own paper. And every month he’d say the same thing: “You’re going to be a reporter. It’s in your blood.” 

Every month I told him he was wrong. 

Fast-forward three years and I was taking a semester off college and utterly disillusioned with other careers I thought I’d go into. A summer working for Memphis City Council convinced me politics wasn’t for me and an internship at a law firm dissuaded me against law school. My parents were teachers, but I didn’t think that was quite for me either. Someone suggested I go into PR. Or pharmaceutical sales. You know, the vague careers for outgoing girls with liberal arts degrees. Yeah….I didn’t have to do an internship to know neither of those were for me.

Then I ran into Barney’s wife, who edited two of the MBJ’s smaller publications. She asked what I was up to, and I asked if I could have an internship. I remembered what he’d said and how much I’d enjoyed editing my paper in highschool. I still didn’t think I’d go into journalism, but thought it could look nice on a resume and could be fun. She said sure. And within the summer, I fell in love with the paper the two had created and began an all-consuming life-long career of business reporting. A few years later, the editor of the Business Journal came to my desk and asked me if Memphis had any venture capitalists– a chance conversation that ended with me moving to Silicon Valley in 1999. You know the rest.

For the Memphis Business community, Barney and his wife Debbie created something that was every bit as powerful as TechCrunch is for the Silicon Valley business community. It dug out fascinating stories of very private business moguls the world might not have ever read about, covered the large public companies based in Memphis better than anyone else, and championed the small business man.

It was the place where I learned the basics of how to report, where I learned never to be intimidated by any CEO, where I learned to camp out in someone’s office until they gave me an interview, where I first felt the rush of knowing something that no one else knew and splashing it across the front page.

Playing on the Memphis Business Journal softball team also gave my husband– who played on an opposing team– the opportunity to court me. Never mind my boss heckled him for taking too many pitches. It’s never embarrassing when you are 22 and your Ed Asner-like boss yells at the guy you like, “SWING AT THE BALL, BOY!” 

Mr. Lacy and I were driving around last Saturday talking about all of this. How weird it was that we’d fallen into such a great life, just by following a chance path that so easily could have not happened at all. Specifically how crazy it was that except for one person telling me I’d definitely be a reporter every month of my senior year of highschool, I might have never have even gone into an industry that has been such a perfect fit for me and consumed most of my waking thoughts since then. Not thirty minutes later we got an email from Memphis with the news that Barney DuBois had died. I felt like someone had punched me in the gut. 

I read all the tributes to him in the Memphis area papers about what a great journalist he was, about the paper he created, about the wealth he amassed when he sold the paper and everything he’d been doing in recent years for Memphis businesses. But what was missing in that coverage were tiny stories like mine of people whose lives Barney changed just by intersecting with them for a year or so and giving them a little bit of his time for no ROI-driven reason. 

I’m going back to Memphis in a week. I’m doing a book event organized by the Memphis Leadership Academy that’s semi-ridiculous. FedEx CIO Rob Carter– who really I should be the one interviewing– is interviewing me about entrepreneurship and the Mayor is introducing the whole thing. It’s all a big honor for me, and I’m happy my parents who are celebrating their 50th anniversary that weekend will be there.

But I can’t help but think fondly of the last book event I did in Memphis, which was much more casual and low-frills. The one where the Barney introduced me, told embarrassing stories about what a freak I was in highschool and reluctantly took credit for unleashing me on the business world. I’m glad I got the chance to tell him how much he’d changed my life before it was too late. 

 

I don’t know but some lines are so…indescribable. Especially this.

I still didn’t think I’d go into journalism, but thought it could look nice on a resume and could be fun.”

If a girl as outgoing and carefree as her might not consider journalism as her career path, then what about me? A silent, anti-social guy, and a crowd hater? Above all, I hate writing with deadline looming in my head.

And this….

And every month he’d say the same thing: “You’re going to be a reporter. It’s in your blood.” 

Every month I told him he was wrong.

No one told me I’d be a reporter, or a translator, or a writer. They keep telling me I’d be a teacher or lecturer. I am not, in a full-time sense, but still am a teacher though. Life’s weird. It IS.

And why does Lacy tell this, too?

My parents were teachers, but I didn’t think that was quite for me either.”

I can feel it, too. I never thought teaching would be my lifetime career. And I figured out why. Because I have this in my mind: One can educate others without being a teacher, either formally or informally. A teacher is merely a title but educator is NOT. Being a teacher requires me to observe a set of rules I can’t stand, getting along with the bureau-crazy that twists my mind. Besides, I’m not really skillful at dealing with not-so-well-behaved students, subjectivity,vested interests, and imperfection.

So what will I be? A reporter, translator, teacher, or….I have no idea but like she said: “Stop worrying. It’ll all turn out OK.”

We’ll never know what the future holds for us :))

%d bloggers like this: