Menyoal Tarif Penerjemah

Apa yang Anda akan baca adalah satu untai percakapan antarpenerjemah di grup Facebook Himpunan Penerjemah Indonesia.

Ahnan Alex Sayang sekali hasil survei ini akhirnya dijual dengan harga yang fantastis oleh lembaga ini dan hanya sebagian yang dibeberkan. Saya sekali saja mengikuti survei ini mengenai income agency. Tapi tiada salahnya dicoba :))

  • Ade Indarta Justru itu kan? Kalau yg beli perusahaan-perusahaan besar yg lagi cari info harga tarif terjemahan Indonesia dan yg ikut survey ini dari Indonesia adalah penerjemah-penerjemah yg tarifnya tinggi, jadi deh ntar hasilnya di laporan “tarif terjemahan Eng-Ind di pasar saat ini adalah USD 0.08 he2

    Yesterday at 9:00am via mobile · Like · 5
  • Fuji Mulia USD 0.08? :O

  • Aditya Ikhsan Prasiddha ‎Fuji Mulia sangat mungkin kok, hehe

    Yesterday at 10:32am · Like · 1
  • Fuji Mulia hahaha maklum Mas Aditya Ikhsan Prasiddha saya masih nubi heheh :malus

  • Arif Furqon Kalau bisa pengaruhi harga pasar sampai 2 digit 🙂

    Yesterday at 12:37pm · Like · 1
  • Ade Indarta ‎2 digit? Bang Hipyan Nopri, Bang Arfan Achyar, NiFiSofia Mansoor, Mas Teguh Irawan wajib ngisi survei ini kalau gitu.he2

  • Arfan Achyar males… gak ada gunanya… hanya butuh satu orang penerjemah yang mau terima kecil untuk menghancurkan pasar terjemahan indonesia

    Yesterday at 2:47pm · Like · 2
  • Hipyan Nopri Baru selesai ikut ngisi surveinya, De.:)

    Yesterday at 2:57pm · Like · 1
  • Ijul Baso Pakde Eddie R. Notowidigdo juga udah 2 digit tuh, De 😀

    Yesterday at 7:16pm · Like · 1
    Salam hangat buat rekan-rekan.. Saya ingin meminta saran, bagi pengalaman dan juga ingin meminta pengalaman dari rekan-rekan sekalian. Begini kasusnya:

    Saya sedang membuat quotation untuk klien, dan setelah saya kirim, beliau memberikan feedback. Sekedar informasi, beliau adalah expat. Dan perusahaannya juga lumayan elit, saya pernah ke kantornya juga. Fee yang saya berikan ya standarlah untuk fee ke perusahaan seperti itu. Yang jelas tidak banting harga, karena saya yaking mereka mampu bayar. Pagi ini saya dikirimi email yang dengan sangat sopan, meminta penjelasan, karena katanya dia dapat harga dari supplier list perusahaannya, adalah 35.000 – 50.000 per lembar, dan katanya, supplier yang lain itu juga adalah sworn translator. Bagaimana enaknya kita menyikapi ini, karena sepanjang pengalaman saya, pekerjaan yang dia butuhkan tidak membutuhkan sworn translator (gak perlu cap dan tanda tangan legal-nya) dan juga harga 35rb-50rb jauh di bawah harga pasar yang saya tahu. Harap saran dan masukannya. Saya tidak mau banting harga, peduli dengan nasib sesama penerjemah. Like ·  · Follow Post · Wednesday at 12:02pm

  • Menerjemahkan Tumpulkan Bakat Menulis?

    image

    ” A translator is a writer who fails.” Siapapun bisa setuju atau menolak kebenaran kutipan tadi. Ini negeri (pseudo) demokrasi. Semua orang (seharusnya) bisa dan boleh mengutarakan pendapatnya selama tidak melanggar hak orang lain juga. Menurutku (egoku besar juga ya) , kutipan tadi cukup valid. Setidaknya dalam kasusku sendiri. Menjadi seorang penulis (dan penulis ulang) konten dan admin jejaring sosial yang seolah tak pernah ada hari libur itu adalah hal yang kusukai karena luasnya ruang berkreasi dengan kata,gambar, dan semua jenis konten yang mungkin disebarkan di sana. Tapi entah kenapa rasanya tak berdaya saat harus mengejar kuantitas dan mengesampingkan kualitas. I still and always feel like a jerk every time I post things not my pure hardwork. Dan kemampuan menerjemahkan justru mempermudahku untuk meninggalkan kesusahpayahan berpikir mandiri dan berkreasi dengan dunia kata-kata. Ini kurang baik. Aku menjadi merasa seperti pengekor. I want to create high quality contents , and share them around the web. Viral atau tidak itu urusan belakangan. Entah dengan Anda semua, saat menerjemahkan rasanya pikiran ini terbimbing dan terkungkung dalam ide dan pemikiran penulis teks sumber. I want to break free! Write like no one else reads! Tak perlu editor. Tak perlu komentator. You like it or not, just read. Mungkin di blog ini saja aku bisa begini. Dan mungkin karena itulah blog ini tetap sepi pengunjung. Tak apalah.

    “Where” dan “Di Mana”: Cermin Pengaruh Bahasa Inggris terhadap Bahasa Indonesia

    Salah satu faktor terjadinya kesalahan berbahasa Indonesia ialah pengaruh bahasa asing pada bahasa Indonesia dalam berbagai aspek. Menurut seorang profesor yang juga pakar bahasa Indonesia di sebuah universitas di Australia, sebagian pengguna bahasa Indonesia akhir-akhir ini amat dipengaruhi bahasa Inggris. Salah satunya adalah penggunaan kata “adalah” yang kadang tidak perlu tetapi dipaksakan untuk ada karena dianggap sebagai keharusan untuk bisa sesuai dengan pola kalimat  bahasa Inggris yang mewajibkan adanya verba “be”. Misalnya, “I am a man” diterjemahkan sebagai “Saya adalah laki-laki”, padahal dalam bahasa Indonesia yang wajar kata “adalah” bisa dihilangkan. Dengan kata lain, tidak ada yang salah untuk menerjemahkannya menjadi “Saya laki-laki”.  Hal ini memang tidak salah tetapi tidak wajar dalam bahasa Indonesia.

    Hal lain yang profesor tersebut soroti pula ialah penggunaan kata “di mana” yang sering digunakan sebagai konjungsi (kata sambung) , bukan sebagai kata tanya (yang menjadi fungsi yang sepatutnya). Ini menunjukkan pengaruh penggunaan konjungsi  “where” dan “which”. Parahnya lagi, penulisan “di mana” sebagai konjungsi (yang tidak disarankan) juga mengalami dua variasi: “di mana” dan “dimana”. Yang kedua jelas-jelas salah.

    Menurut Ivan Lanin, sebagai penyunting yang berpatokan pada tata bahasa yang sudah tertulis di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) IV dan EyD (Ejaan yang Disempurnakan), kata “di mana” harus dihindari. Alasannya ialah kata “di mana” dalam bahasa Indonesia tidak dikenal sebagai konjungsi tetapi sebagai kata tanya.

    Misal:

    1. Di mana buku saya? (Penggunaan yang benar karena “di mana” digunakan sebagai kata tanya)
    2. Ia meninggalkan kota di mana ia lahir. (Penggunaan yang salah karena “di mana” digunakan sebagai konjungsi)

     

    Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki kalimat yang menggunakan “di mana” sebagai konjungsi? Menurut Sofia Mansoor, ada dua opsi yang bisa dipilih. Pertama ialah dengan menggantinya dengan kata “tempat”. Dengan demikian, kalimat (2) bisa diperbaiki menjadi “Ia meninggalkan kota tempat ia lahir.” Kedua ialah dengan merombak kalimat tersebut menjadi lebih wajar dan berterima dalam kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.

    Seorang rekan peserta pelatihan lain juga sempat menanyakan bahwa ia mengamati banyaknya penggunaan “di mana” justru bukan sebagai konjungsi yang menerangkan tempat atau lokasi. Saya sendiri juga sempat membenarkan dalam hati karena pertanyaannya itu belum sempat dibahas tuntas oleh Sofia Mansoor dan Ivan Lanin. Contohnya mudah saja, kita bisa temui penggunaan “di mana” yang tidak berfungsi sebagai konjungsi dalam berbagai pidato impromptu para pejabat. Kita bisa amati seorang pejabat yang ditanyai oleh nyamuk pers dalam berbagai kesempatan. Kemungkinan besar ia akan menggunakan kata “di mana” bukan sebagai konjungsi tetapi menurut saya hanya sebagai kata untuk mengisi jeda saat berbicara sehingga terkesan lebih lancar. Dalam bahasa Inggris kita bisa sebut sebagai “filler”. “Filler” ini tidak memiliki makna tetapi hanya untuk memberikan kesempatan bagi si pembicara untuk berpikir mengenai kata yang akan ia ucapkan berikutnya. Tidak mutlak salah mungkin tetapi penggunaan “filler” ini membuat kalimat kita kurang efisien dan ringkas. Lagipula “filler” adalah sesuatu yang mungkin masih bisa dimaklumi dalam taraf tertentu dalam ragam percakapan, tetapi tidak begitu mudah ditolerir dalam ragam tulisan.

    (URL Gambar: http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSrlTIj2XW2eps42CzT2SbK7eYGf9rGod6-H2L6Kjr4nn7jrV6bueJexj6GKg)

    %d bloggers like this: