Tag Archives: tips kesehatan

Dari Lidah Turun ke Hati

IMG_9382

Semasa kecil saya terbilang anak yang susah makan sehat. Saya pembenci sayur mayur. Buah pun hanya saya makan sesekali. Tidak rutin setiap hari apalagi setiap makan. Kebanyakan asupan saya cuma makanan dengan kandungan makronutrien seperti karbohidrat, protein, dan lemak. Untuk mikronutrien (vitamin dan mineral), saya sangat berkekurangan. Dan saya merasa tidak ada makanan mengandung sayur yang enak untuk ditelan.

 

Nenek saya mengetahui masalah ini dan tentu merasa prihatin karena kecenderungan susah makan dan memilih-milih makanan yang saya derita. Akibatnya kondisi kesehatan dan tumbuh kembang saya kurang pesat. Beliau kerap memberikan saya minuman-minuman yang rasanya aneh, hambar dan kadang pahitnya tidak tertahankan.

 

Karena saya saat itu masih belum paham manfaat minuman-minuman yang dibuat nenek, saya kerap membuang dan sengaja tidak menghabiskannya. Padahal nenek sudah membuatkan dengan susah payah. Beliau ternyata membuat semua minuman alami tersebut dengan memarut lalu memerasnya sendiri dengan kedua tangannya. Dan beliau tidak memberikan tambahan gula atau pemanis seperti madu yang terlalu banyak sehingga saya sungguh-sungguh membenci rasanya.

 

Bahan-bahan natural yang kerap dipakai nenek saya untuk membuat minuman ini biasanya apotek hidup yang beliau tanam sendiri di halaman belakang rumah. Ada kunir, jahe, lalu temulawak. Bahan yang disebut terakhir ini dan kemudian hari saya ketahui sangat berguna dalam menjaga dan memulihkan kesehatan.

 

Saat saya duduk di tingkat 3 di kampus, saya pernah menderita demam dan rasa lemas serta sakit di ulu hati yang begitu hebat. Muka saya pucat dan tidak sanggup bergerak banyak. Saya merasa sangat mudah lelah.

 

Karena tidak kuat lagi, saya pulang ke rumah dengan kepayahan dan setelah memeriksakan diri ke rumah sakit, diagnosisnya bukan tifoid atau demam berdarah seperti yang saya bayangkan tetapi hepatitis C. Saya ingat lagi, memang saat itu saya tinggal di lingkungan yang kurang higienis sehingga saat satu orang terkena hepatitis, kami semua menjadi korban. Penularannya yang demikian cepat dan tidak terduga membuat kami sempat syok karena mirip sebuah wabah skala kecil di daerah kos yang saya tinggali saat itu.

 

Pengobatan secara medis pun saya jalani agar kesembuhan tercapai. Bola mata dan kulit saya menguning. Saya hanya bisa berbaring beberapa pekan. Benar-benar harus memulihkan diri total. Tidak mengerjakan dan memikirkan apapun karena percuma jika badan istirahat tetapi pikiran terus bekerja keras. Karenanya, saya hanya menuruti nasehat untuk benar-benar melepaskan dulu beban tugas kuliah sampai benar-benar pulih.

 

Mengetahui saya sakit hepatitis, nenek saya pun membuatkan jamu temulawak. Karena kali ini saya sakit lumayan parah, saya tidak bisa tidak menuruti nasihatnya untuk meneguk sampai habis jamu yang ia buatkan untuk saya.

 

“Minum sampai habis ya, ini kan bagus buat yang lagi sakit kuning. Biar cepat sembuh,” saran nenek saya dengan lembut dan sabar. Ia tahu saya tidak begitu suka dengan minuman itu. Toh ia tetap membuatkan saya dan menunggui saya meminumnya sampai habis.

 

Beberapa pekan berlalu dan nenek saya masih dengan tekun memberikan saya minuman temulawak alami tadi setiap harinya. Dari pertama saya begitu membenci baunya yang menyengat, berangsur-angsur saya memahami bahwa jika saya mau segera sembuh dan sehat seperti sediakala, saya harus menikmati proses ini dulu, termasuk meminum jamu yang tidak saya sukai awalnya.

 

Akhirnya setelah saya kembali memeriksakan diri ke rumah sakit dan laboratorium, saya dinyatakan sembuh dari hepatitis juga. Warna bola mata dan kulit saya kembali normal dan tidak lagi menguning.

 

Jika ingat saat-saat itu, saya patut berterima kasih pada nenek saya yang dengan setia menggunakan bahan alami untuk menunjang proses pemulihan liver saya yang meradang terkena virus hepatitis. Temulawak memang sudah terbukti sejak lama memelihara fungsi hati (liver) sebagai organ penting tubuh, mengurangi keluhan kesehatan yang lazim ditemui dalam masayarakat modern seperti masalah pencernaan (kita tahu semua bahwa pola makan dan bahan makanan orang masa kini sangat tidak sehat)

 

Setelah saya bekerja dan tinggal di ibukota sejak 7 tahun lalu, rasanya hampir mustahil saya bisa meracik minuman temulawak alami seperti yang pernah dibuatkan nenek saya itu sesering yang saya mau. Padahal cara hidup saya di Jakarta sangat rentan stres, bahkan lebih berat daripada cara hidup saya dulu saat masih mahasiswa. Kadang sebagai copywriter dan penulis, saya harus begadang untuk mengerjakan draft tulisan yang sudah dekat ke tenggat waktu. Cara kerja seperti ini sudah barang tentu sangat rawan kelelahan dan membebani kerja hati.

 

Karena saya sudah pernah merasakan betapa tidak enaknya sakit, kini saya lebih sadar kesehatan dengan menjaga pola makan dan makanan yang masuk, pola istirahat, dan segala hal yang berkaitan dengan kesehatan secara umum. Saya yang dulu benci sayur dan buah segar dan sangat pilih-pilih makanan dan jarang sekali berolahraga kini mencoba memperbaiki diri dengan membiasakan mengkonsumsi buah dan sayur segar setiap hari. Dan untuk olahraga, saya memilih yoga, yang selain meningkatkan kekuatan dan kelenturan tubuh, juga memiliki khasiat meredakan stress yang ampuh. Ini semua menjadi perisai yang ampuh bagi saya dalam melindungi diri dari tekanan stress yang datang bertubi-tubi. Selain itu, saya memiliki teman-teman yang jauh lebih banyak sekarang sehingga saya merasa lebih bahagia dan bisa berbagi keluh kesah apalagi saya yakin stress dan sakit liver bukan Cuma karena dipicu oleh faktor-faktor konkret dan bisa dilihat tetapi juga hubungan yang lebih halus dan sulit diukur seperti eratnya pertemanan dan kekeluargaan.

 

Setelah nenek saya berpulang beberapa tahun lalu, saya masih merindukan minuman-minuman yang ia racik itu. Dan yang pasti, saya juga sangat merindukan minuman temulawaknya yang mampu mempertahankan kesehatan liver saya di tengah hiruk pikuk lingkungan perkotaan yang padat dan penuh stress.

 

Akan tetapi, ternyata untuk bisa menikmati lagi khasiat kesehatan minuman temulawak khas nenek saya tersebut, saya tidak perlu bersusah payah menanam rimpang temulawak sendiri di halaman atau pot dan memeras airnya tiap hari seperti yang nenek saya dahulu lakukan. Kini ada Herbadrink Sari Temulawak yang dikemas secara praktis dalam kantung rapat dan higienis. Meski dikemas secara modern, produk ini tidak menggunakan bahan pengawet yang membahayakan kesehatan jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Harganya juga relatif terjangkau. Untuk setiap dus yang isinya 5 sachet, harganya sekitar Rp10.000. Jumlah ini sudah cukup untuk bekal seminggu.

 

Untuk menikmati manfaat kesehatan dari temulawak secara praktis kapan saja dan di mana saja, saya tinggal simpan dan bawa beberapa sachet Herbadrink Sari Temulawak ini. Saya tidak perlu repot merebus air karena untuk menyeduhnya saya juga bisa menggunakan air suhu ruangan. Bahkan air dingin pun bisa melarutkan bubuk Herbadrink ini dengan baik. Namun, karena saya lebih suka dengan air suhu ruangan atau air hangat, saya lebih sering meminumnya hangat.

 

Bagi saya, menikmati minuman Herbadrink Sari Temulawak tidak hanya memberikan khasiat perawatan kesehatan liver agar tetap prima di tengah terpaan stres dalam padatnya jadwal pekerjaan tetapi juga memberikan saya pelipur rindu terhadap almarhumah nenek saya. Karena saya percaya lidah mampu menyimpan sekaligus membangkitkan ingatan-ingatan yang tak ternilai harganya dari masa lalu manusia. (*)

Leave a comment

Filed under health, writing

Bahaya Berolahraga Sampai OD

Berolahraga memang sehat. Jika dilakukan sesuai porsinya, tentu olahraga akan membantu kita mempertahankan kesehatan bagi yang sudah sehat dan meningkatkan kesehatan bagi yang sakit-sakitan.

Bahkan olahraga berlebihan bisa membuat bakteri dalam usus kita ‘bocor’ hingga masuk ke aliran darah. Akibatnya serius: keracunan darah, tulis peneliti sebuah studi. Akan tetapi, berolahraga dengan benar dan sesuai porsi masing-masing orang bisa membantu tuuh kita untuk mencegah hal mengerikan ini terjadi.

“Berolahraga dengan berlebihan biasa kita temui terutama di kalangan penggemar marathon, event ironman triathlon dan ultra marathon. Trennya makin meluas,” terang Dr. Ricardo Costa dari Department of Nutrition and Dietetics di Monash University.
Siapa saja disarankan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan dulu sebelum mengikuti event pertandingan semacam itu dan melakukan latihan dengan bertahap daripada melakukan latihan berlebihan dan tidak terukur dalam waktu yang terlalu singkat.”
Dua penelitian yang dilakukan para peneliti di Monash University menunjukkan bahwa berlatih dalam jangka panjang dan progresif atau bertahap bisa mencegah tubuh mengalami sepsis (kebocoran bakteri di usus ke aliran darah) karena berolahraga terlalu intens.

Costa mengatakan hampir semua partisipan studinya menunjukkan bukti sepsis saat uji darah dilakukan sebelum event perlombaan dibandingkan dengan setelah perlombaan. Akan tetapi, tubuh mereka yang melakukan diet seimbang dan latihan bertahap menunjukkan mekanisme kekebalan yang memadai dalam mencegah efek samping apapun yang mungkin muncul dalam berlatih berat.

Inilah mengapa perlu ada waktu jeda untuk rehat. Berolahraga gila-gilaan setiap hari mungkin adalah kegilaan tersendiri yang mengundang sakit yang justru ingin dijauhi. Jadi, dengar badan sendiri agar tidak overdosis. Ingat, yang baik kalaupun berlebihan akan menjadi tidak baik juga.

Leave a comment

Filed under health

Membedakan Makanan Asam Pembawa Petaka dan Makanan Basa Penyehat Tubuh

Intinya adalah jika mau lebih sehat, makan lebih banyak makanan yang termasuk kelompok basa (alkaline) lebih banyak daripada makanan asam. Makin asam tubuh seseorang, makin rentan tubuhnya terserang penyakit, karena bibit penyakit lebih menyukai lingkungan asam. Sementara itu, makin basa tubuh seseorang, makin kuat dari serangan berbagai penyakit.

1 Comment

Filed under health

Kunci Kesehatan: Perbanyak Makanan Segar dan Kurangi Porsi

Pernahkah kita bangun tidur bukan dengan rasa segar dan penuh tenaga tetapi dengan rasa lemas dan lelah di sekujur badan? Mungkin itu disebabkan karena makanan yang sebelumnya kita makan. Jadi bukan serta merta terjadi begitu saja.

Berikut adalah sejumlah penjelasan terkait dengan pola makan yang sehat sebagaimana disampaikan dr. I Nyoman Arie Purwana, MSc. dalam sesi sharing di Yoga Gembira Taman Suropati tanggal 8 Juli 2012. Dokter Arie ialah ahli medis sekaligus pemerhati nutrisi dan kesehatan lingkungan.

Menurutnya, hanya 15% dari bahan makanan yang masuk tubuh yang terserap oleh badan sementara sisanya 85% terbuang keluar sebagai feces dan keringat. Vegan life style bukan sebagai satu-satunya cara untuk sehat tetapi hanya membuka pintu kesehatan.

“Makin sederhana makanan, semakin baik,” demikian prinsip dr. Arie dalam memilih makanan untuk diri dan keluarganya. Semua yang terproses sebelum masuk ke perut juga sebisa mungkin dihindari dan jika dikonsumsi pun tidaklah berlebihan.

dr. Arie menegaskan bahwa menu makanan sebaiknya tidak mengandung DUITS (daging, unggas, ikan, telur, susu). “Sebenarnya yang kita makan, menurut penelitian NASA di AS, bukan bahan makanan tetapi energinya. Jadi semakin terolah semakin jelek dan sebaliknya,” tuturnya.

Dalam sesi tanya jawab, dr. Arie menjawab beberapa pertanyaan yang sering kita pikirkan sebagai orang awam dalam ilmu gizi dan medis. Ini rangkuman singkatnya yang saya tuliskan sebagai dialog tanya jawab:

1. Pertanyaan : Pola makan yang baik apakah harus dalam porsi kecil tapi sering?

Jawaban: Ada beberapa versi. Konsepnya semakin sedikit kita makan, semakin sedikit makin baik. Dalam hal ini berlaku hukum fisika: “Benda yang bergerak akan cenderung terus bergerak dan sebaliknya”. Energi itu kekal, dan cuma bisa diubah bentuknya. Makin sedikit Anda makan, makin baik dan efisien tubuh akan mengelolanya. (Ia menyebutkan ada orang yang sanggup bertahan hidup dan beraktivitas seperti biasa hanya dengan minum air putih). Apa yang ada di alam sama dengan apa yang ada di tubuh kita. Kalau makanan dipecah akan ada CHON (karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen). Jangan heran kalau di Internet, ada orang yang bisa bertahan hidup dengan makan lebih sedikit dari orang kebanyakan. Masing-masing orang punya keunikan masing-masing. Makin sedikit makan makin baik. Butuh latihan dan proses untuk bisa mencapai tahap itu, serta waktu untuk menerapkan hal ini.

2. Pertanyaan: Bagaimana supaya setelah makan tidak mengantuk?

Jawaban: Jika tidak bekerja, cobalah untuk makan secukupnya, tak berlebihan. Jika dilatih, tubuh akan secara naluriah mengatakan, “Saya sudah cukup makan segini.” Tubuh akan memberikan sinyal mengenai porsi yang dibutuhkannya. Kedua , jika terpaksa sudah makan banyak, dan tak bisa olahraga, setengah jam setelah makan, perbanyak gerak untuk membakar kalori.

3. Pertanyaan: Menguap apakah karena kekurangan oksigen?

Jawaban: Ada kemungkinan seperti itu. Tapi bagaimana bisa kekurangan oksigen? Caranya cari ruangan yang bersirkulasi lancar. Tubuh kita sedang bekerja berat sehingga membutuhkan oksigen lebih banyak untuk mengolah makanan. Sehingga semakin berat makanan, semakin banyak oksigen yang digunakan dan makin mengantuk. Badan akan terasa segar jika kita bijak memilih makanan yang segar. Untuk nasi yang notabene berkarbohidrat tinggi, perlu dikurangi karena membuat menngantuk.

4. Pertanyaan: Apakah kita manusia harus tidur 8 jam?

Jawaban: Tidak mutlak, tetapi tergantung metabolisme masing-masing, dan tergantung kualitas tidur. Ada yang hanya butuh 6 jam tidur sudah segar. Yang lain meski sudah 8 jam lebih tetap lesu.

5. Pertanyaan: Sarapan pagi terbaik apa dan kapan?

Jawaban: sebagian orang mengatakan saat pagi hari badan akan beraktivitas berat sehingga membutuhkan banyak energi, sehingga disarankan makan karbohidrat. Tapi tidak semestinya demikian. Setelah pukul 7-8 pagi, makan 2 pisang, buah apel, dan makan agak berat di jam 11-12. Namun intinya makin sedikit makanan, makin segar, makin baik.

Sebenarnya makan utama itu cuma 2 kali sehari, jam 11-12 dan jam 6-7 malam. Setelah jam 7 jangan ada makanan masuk perut. Kecuali air putih atau buah/ jus tak bergula. Ini membuat tubuh lebih segar.

Sekadar memberikan afirmasi tentang konsep makan sehat dengan makan lebih sedikit, hal ini juga selaras dengan apa yang diyakini oleh ilmuwan yang meneliti puasa dan manfaat kesehatannya bagi manusia. Dr. Krista Varady.

[…]  they (scientists and that) reckon there’s a link between calorie restriction and longevity. Michael Mosley is off on a fascinating journey to find out – in the US, a country obviously famous for its calorie restriction. Actually, and fascinatingly, during the Great Depression of the 1930s, life expectancy increased, by six years.

Sebuah fakta yang menarik sekali ditunjukkan di sini. Di saat resesi ekonomi yang justru makin banyak orang seharusnya mati kelaparan, angka harapan hidup di AS malah naik. Aneh? Tentu tidak kalau kita mengetahui manfaat puasa dan pembatasan kalori yang masuk ke tubuh.

Sebuah analogi menarik untuk menggambarkan dengan mudah bagaimana puasa dan pembatasan kalori membuat manusia lebih sehat dan panjang umur serta awet muda ialah mengibaratkan tubuh sebagai sebuah mobil. Saat kita makan tanpa kendali dalam jumlah banyak dan makanan itu kurang sehat, tubuh seolah adalah mobil yang terus dipacu denagn kecepatan tinggi tanpa henti. Ini membuatnya terpicu untuk terus berkembang, sel-sel badan dipacu untuk terus tumbuh dengan dijejali makanan, yang akibatnya adalah naiknya risiko kanker dan penyakit degeneratif: “When we eat a lot, our cells are locked in the grow mode, which makes them susceptible to cancer and diabetes.” Mobil itu pun akhirnya suatu saat akan hancur berantakan karena melaju dalam kecepatan kencang terus menerus tanpa adanya perawatan di bengkel yang teratur dan memadai.

Sebaliknya, saat kita membatasi kalori yang masuk dengan berpuasa dan makan lebih sedikit, kita seolah menginjak pedal rem mobil dan membuatnya lebih pelan dan berhenti sejenak untuk perawatan menyeluruh. Akhirnya usia mesin pun bisa lebih panjang. Demikian juga badan ini.

Nah, setelah membaca semua ini, masihkah ingin makan banyak sekarang?

1 Comment

Filed under health