Dari Ubud Writers Readers Festival 2014

IMG_3549Lain dari kawasan tujuan wisata di pesisir pantai seperti Seminyak, Kuta, dan sebagainya, Ubud memiliki pesonanya sendiri. Letaknya di dataran berbukit membuat kita teringat dengan pemandangan khasnya:sawah terasering dengan bulir-bulir padi yang menguning. Dulu Ubud hanyalah sebuah daerah sepi yang menjadi tempat kediaman para putri, kaum brahma yang terpelajar dan seniman-seniman Bali tetapi sekarang sudah disulap menjadi area turis yang padat dan hiruk pikuk. Berbeda dengan Kuta atau Seminyak yang kental suasana pantainya, Anda tidak akan menjumpai orang-orang memakai bikini atau celana renang di sini. Bahkan mengendarai sepeda motor dengan telanjang dada dilarang keras di Ubud Central. Di samping kantor kelurahan Ubud, Anda bisa menjumpai sebuah papan yang melarang terang-terangan naik motor ugal-ugalan tanpa baju. Larangan semacam itu tentu tidak bisa diberlakukan di daerah pantai semacam Kuta. Larangan yang cukup mengejutkan mengingat sebelumnya di perjalanan saya menjumpai seorang perempuan uzur tanpa penutup dada duduk bersantai di depan rumahnya.

Meski begitu, Ubud memang lebih berbudaya. Setahu saya sulit dijumpai klub-klub malam yang menonjolkan hedonisme dan suasananya hingar bingar di Ubud. Kebanyakan yang saya jumpai di sepanjang jalan adalah restoran mahal, butik mewah, toko buku, galeri seni lukis, studio yoga atau semacamnya. Tidak heran karena Ubud lebih banyak ditinggali oleh kaum budayawan, seniman dari berbagai bidang. Dari seniman kata-kata alias penulis, seniman lukis, seniman pahat, seniman patung, seniman musik, seniman ilmu alias kaum terpelajar, seniman kuliner atau chef, hingga mereka yang ingin mencari ilham atau sekadar mencari ketenangan di masa liburan.

Saya tidak ingat persisnya waktu terakhir saya berkunjung ke pulau ini, tetapi dalam ingatan saya tentang Bali, Ubud tidak termasuk dalam memori. Kalaupun dulu ada, sudah lama terhapus. Sehingga praktis Ubud terasa seperti tempat yang benar-benar baru bagi saya.

Sungguh sulit untuk menggambarkan keindahan Ubud hanya dengan barisan kata atau jepretan foto. Anda harus ke sana sendiri untuk bisa merasakan keindahan itu sepenuhnya.

Di sinilah Ubud Writers Readers Festival 2014 digelar. Bukan yang pertama dalam sejarah penyelenggaraannya, tetapi bagi saya inilah kali pertama. Tahun ini Ubud Writers Readers Festival menjadi kali kesebelas dalam penyelenggaraannya.

Festival tahun ini mengangkat tema “Saraswati Wisdom and Knowledge” karena bertepatan dengan perayaan Hari Saraswati pada hari Sabtu Umanis (yang sempat membuat lalu lintas Ubud sedikit lebih macet dan ada pengalihan lalu lintas karena adanya upacara di pura setempat), Watugunung sampai hari Rabu untuk mencapai tujuan utamanya:Maha Catur Purusha Artha. Sabtu diyakini sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan ke dunia. Sementara hari Minggu diyakini sebagai Banyu Pinaruh, saat masyarakat Bali melaksanakan “tirtha yatra” ke tempat suci karena air dianggap sebagai sumber pengetahuan. Hari Senin disebut Soma Ribek saat warga bali mewujudkan pengetahuannya untuk mendapatkan kehidupan materi yang layak, hari Selasa merupakan hari raya Sabuh Mas dengan tujuan agar ilmu yang dimiliki bisa memuliakan diri dan hari Rabu dirayakan sebagai hari Pagerwesi  dengan ilmu pengetahuannya bisa mencapai keabadian hidup.

Festival bernuansa sastra dan jurnalisme ini bisa dikatakan sebagai buah kerjasama dua pihak: masyarakat ekspatriat yang bertempat tinggal di Ubud dan warga asli Ubud. Dengan begitu banyak tokoh dalam dunia sastra dan jurnalisme internasional, kita patut berterima kasih pada Janet DeNeefe dan Ketut Suardana. DeNeefe menggagas festival ini 11 tahun lalu setelah Bali diguncang oleh bom Bali yang menurunkan gairah pariwisatanya. Upayanya disambut baik oleh Yayasan Mudra Swari Saraswati.

Dengan makin meningkatnya populasi Bali, sukar rasanya membendung ekspansi turisme di sini. Di satu sisi, masyarakat Bali membutuhkan lapangan pekerjaan dari para wisatawan. Sektor inilah yang membuat mereka bisa bertahan dan berjaya secara ekonomi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lainnya di tanah air. Tetapi di sisi lain, Bali tampaknya harus memikirkan bagaimana caranya mengendalikan turisme agar tidak menggerus alam dan budaya serta kearifan lokal mereka sendiri. Terbukti setelah bom Bali meletus, warga banyak yang menganggur. Hal ini sungguh berbeda dengan pulau wisata lain di dunia. Ambil contoh saja pulau Menorca di negeri matador Spanyol. Di sana, justru dikeluarkan undang-undang agar membatasi perkembangan pariwisata lokal. Apa pasal? Karena perekonomian warga lokal sudah bagus bahkan sebelum turis datang membanjiri daerah itu. Apakah Bali juga harus mengeluarkan aturan yang sama agar kemurniannya terjaga? Hanya warga Bali yang bisa menjawabnya.

Alam yang relatif masih murni di sini membuat Ubud menjadi lokasi yang memang layak untuk menyambut para pegiat sastra dari dalam dan luar negeri. Terletak di daerah berbukit dengan riam dan jurang di sela-selanya, Ubud sungguh menawan. Meskipun menurut penuturan teman saya Ubud sudah jauh lebih sesak daripada beberapa tahun lalu, Ubud masih tetap mempesona bagi mereka yang mendamba inspirasi agar bisa kembali bekerja dengan kreativitas yang lebih tinggi. Jalan-jalan di Ubud sempit, yang mungkin menandakan bahwa belum ada grand plan atau blue print untuk mendesain Ubud sebagai sebuah tujuan wisata kelas dunia. Akibatnya, kerap terjadi kemacetan singkat di jam-jam tertentu terutama saat lalu lintas bertambah deras.

Kami yang hadir di festival membahas berbagai isu tentang sastra, jurnalisme, buku dan kepenulisan dengan berlatar belakang ngarai dan sungai, sambil sesekali terkantuk-kantuk dibelai angin siang yang sejuk bukan main di tengah terpaan sinar matahari tropis pulau dewata di awal Oktober yang membuat rumput meranggas. Sungguh asyik masyuk.

Saat saya diwawancarai oleh seorang teman jurnalis, saya ditanya tentang mengapa saya hadir di sini. Festival ini benar-benar kesempatan yang langka dan saya ingin sekali menghadirinya untuk memperluas cakrawala dan koneksi. Meski memang biayanya relatif mahal untuk peserta perseorangan tanpa sokongan sponsor (tiket early bird yang saya beli hanya 40 dollar Australia), tidak akan ada yang sia-sia dengan menghadiri perhelatan akbar ini. Akan ada banyak kenalan baru, pengetahuan segar dan wawasan tentang sastra dan jurnalisme yang makin memperkaya diri.

Banyaknya peserta dan pembicara asing membuat saya merasa berada di wilayah sebuah negara asing. Bahasa Inggris menjadi menu sehari-hari. Padahal saya masih di Indonesia. Hanya dalam satu kesempatan, di sebuah diskusi yang dipandu I Wayan Juniarta, saya bisa menyaksikan seorang pembicara bernama Fadel Ilahi menggunakan bahasa Indonesia. Itu pun  ia harus didampingi penerjemah. Ditambah dengan porsi pembicara domestik yang relatif sedikit, saya merasa festival ini terkesan kurang Indonesia. Mengingat banyaknya komunitas atau lembaga pegiat sastra dan seni dan jurnalisme di Indonesia, tampaknya Ubud Writers Readers Festival masih harus mengangkat sastra Indonesia dengan lebih baik di penyelenggaraannya di masa mendatang. Dari sisi peserta sendiri, biaya untuk mengikuti workshop dan acara-acara program utamanya termasuk terjangkau, karena untuk WNI diberikan tarif khusus yang lebih murah. Jadi tidak ada alasan untuk melewatkan penawaran murah itu jika memang Anda benar-benar penyuka berat sastra, seni dan jurnalisme. Harga tiketnya bisa setengah atau sepertiga dari harga tiket untuk WNA! Jika Anda penyuka acara-acara bertema sastra tetapi merasa berat untuk menghabiskan uang sebanyak itu, saya sarankan untuk mulai menabung dari sekarang agar bisa segera membeli tiketnya jika nanti tiket early bird sudah dijual agar Anda bisa menghemat lebih banyak.

Digelar selama 4 hari dari 2 hingga 5 Oktober 2014, Ubud Writers Readers Festival cukup membuat puas. Bagaimana tidak puas? Anda bisa menikmati hingga 6 sesi diskusi dalam sehari, dari pagi hari sampai petang. Satu sesi berkisar antara 60-90 menit, cukuplah membuat Anda ‘mabuk’.

Bali, The Land of Gods… and Dogs??!!!

Cute, but I decided it's not for me. Sorry, guys.
Cute, but I decided it’s not for me. Sorry, guys.

I wasn’t t raised an animal lover. By animals, I refer to uncaged animals, those left unleashed. That said, having a bunch of fish in an aquarium and small birds like grey pigeons that my late maternal grandfather cultivated so earnestly as if they had been his dearest grandsons. He erected a number of 10-meter poles for the birds at the backyard. Every morning, my grandfather would be voluntarily pull the string attached to each of the poles, making the cages and the birds inside them drenched in the morning sunlight. I was just watching in awe, how he cared about these little creatures so much.
I don’t understand why he did so, until my father who recently retired also adopted the same hobby. Bird raising again, for God’s sake! I myself never intend to do so. I would prefer letting them free in the wilderness to trying to take care of it. Yeah, the responsibility of a pet owner really sucks. And I have no such ample amount of spare time to think of pets.
So when yesterday a friend who happened to be a dog owner in Ubud told me he just adopted a 6-week old female dog named Milo, I could NOT care less. He narrated in the most enthusiastic manner you can find in any super huge lovers of canine. Milo, as he explained, was found on August 17 this year. He was as little as an albino rat my pal spotted on the door mat right in front of his door around 11 pm after going out all day long. I have to admit she looks cute and mild and unthreatening from any possible angle. She even looks timid to strangers, like me, which is good because I cannot tell you how anxious I may become when creatures who bark like her is around me. What was on my mind is a dog chasing and biting me. It truly doesn’t make sense, I think. Not every and each dig is that aggressive. But when you hardly ever encounter an unleashed dog during your entire childhood and adulthood, suddenly this makes sense. I need to adapt to it.
Bali wants me to adapt and, more precisely put, conquer this fear of canine in an instant. Insane! But I can’t complain because these dogs are anywhere to be found in Ubud particularly.
Tonight as we went out to have dinner, a dog bigger than Milo (and seemed to be a lit bit more aggressive than her) stayed under my legs. At first, I acted cool. I kept murmuring to myself,”It won’t be long, it’ll go away in a second. Just take a deep breath because it won’t bite you anyhow. You’re kind, you’re not threatening to it.” But my sanity was getting weaker than my paranoia as I found this dog lingered under my legs after a while. I shivered, and lifted my legs in fear of being bitten or perhaps, licked. This seems very ridiculous to you, just like when I saw a friend got terrified by doves flying near her. Seriously, she – who is one of the most adventurous and blatant girl I’ve ever seen in my life – is afraid of peaceful creatures like doves and I keep thinking,”She is being so ridiculous and irrational.” Now, I’m in her shoes, trying to convince these dog lovers that these creatures should stay away from me to make my life a little bit easier.
Speaking of paranoia, there’s no way you can talk through it with logic as a sole weapon. Impossible, I should say. Because even people as shrewd and intelligent like Paypal co-founder and Space X owner Elon Musk are terrified to encounter dogs.

(Image credit: Wikimedia)

%d bloggers like this: