On Digital Story Telling #UWRF14

There’re some static aspects of writing, such as intrinsic and extrinsic elements of it. They’re so universal you can find them in any stories from ancient times to the digital age. These days, however, writers enjoy more varities of writing media and the media could be one of the most dynamic aspect in writing. It always evolves along with the advancement of civilization and technology. As bamboo paper, papyrus and lontar have turned relics of the past, we now are more accustomed to blogs and social media. These popular digital media may not change the essence of stroy telling which we may assume is as old as the human races on earth but it surely changes the way stories are told to audiences. “I don’t any platform will change story telling. The story has to be great, first and foremost. What those platforms will do only change the way we experience the
stories,”Daniel Dalton told us with confidence. He’s a British who now works as a staff writer at BuzzFeed in the UK, where he covers books, art and culture. Aside from BuzzFeed, his fiction and essays have appeared in “Cuttings”, Medium and Thought Catalog.

At The Digital Story Telling session on October 4th 2014 in Ubud Writers Readers Festival, I was sitting there to get to know what these digital authors had to say about the digital world as a channel of their literary creativity. Aside from Mr. Dalton, another speaker of the session was Angela Meyer, an Australian author based in Melbourne. She works also as an editor and literary journo. Her books are “Captives” (Inkerman & Blunt, May) and “The Great Unknown” (as editor, “Spineless Wonders”). Meanwhile, the other spaker was Elliott Bledsoe , a digital producer at Regional Arts Australia. He earns a living by working as a freelance digital producer, looking after all things that publish, play, post, tweet and trend. These three speakers were telling their own experiment with digital story telling.

Digital and print media cannot be seen as different, separate entities. They in fact are intertwined with each other, complement one another. As the digital media rise, authors can’t ignore the traditional print media. So digital media may never murder
conventional media although we have to admit that digital media definitely change how readers consume content. But still it’s much to early to claim conventional media have lost their edge completely.

Being asked on what digital platform is the best one for writers, Meyer could provide one certain answer. Rather, she answered,”Authors need to keep an eye of the kind of platform or the kind of established online journals perhaps that work for the kind of stories they want to tell.” Each of those already have its kind of audience. Maybe it takes time to find the most suitable platform to write on but eventually, as you’re experimenting with more and more digital media, you’ll find one that suits your needs and content best. Because different people often have different luck when it comes to this. Meyer recounted one of her friends published stories on his personal Facebook account, his friends like the stories a lot and all of a sudden he got a book deal out of the blue. So there’s no hard and fast rule about the best digital platform to write on. Dalton also added he experimented with Tumblr with his stories. Some of his blogs onTumblr worked but the rest just didn’t. Just experiment and you’ll find it. And listen to your instinct as a creative person.

As a digital author, we’re lucky enough to be able to unpublish or ‘recall’ the works we’ve released as soon as we find it wrong or profane or simply embarassing (though Google can still record it on their cache). Or if the works are too dear to delete, you can simply make it private or hide it from the public for your own consumption. This happens also to Meyer, who admitted she felt embarassed by her own blog posts she wrote years ago. One of them was hidden from the visitors as she thought her voice of writing at that time was far from her current idealism as a writer with a more developed voice. “I just wrote so badly… because you grow as a writer, you write all the time annd inevitably you grow, you get better and that includes like, writing tweets and stuff like that. You’re just constantly honing the way you develop your voice and your voice can be spread to all different kinds of platform.” She advised that we write on the place (digital platforms) where we feel the most connection with. “Because it speaks to you and you may also have something to offer for them (audience),”the female writer elaborated.

Still about digital platforms experiment, Dalton used John Green and his VlogBrothers campaign on YouTube as a perfect example on how an author uses online digital platforms to his advantage. From YouTube, he builds and strengthen his audience and their loyalty. He started vlogging in 2007 when no one gave it a damn. Vlogging, as Dalton put it, helped Green publish his works and build his fan base from time to time. No wonder his book sales are getting better. So that’s why writers need to actively engage in digital platforms that suits their personalty most because not all platforms work best for different authors. You have got to find one and leverage it. Authors now are challenged to go to digital world and craft their own digital story telling that could be different from the traditional methods.

On that note, Bledsoe added how digital story telling for writers on social media is seen as an advantage by publishers in Australia. The staff of this publisher told Bledsoe that they will not publish potential authors who don’t have a certain amount of following on social media like Facebook and Twitter. Dalton also told the same stories, that his friends in Sydney and London are confronted with reduction of marketing budget. “So you come to the publishers with great stories and the ability to market your stories.”

Dalton thought Tumblr is good for building fans base. He also mentioned WattPad, which is a huge digital publishing platform where people love reading fiction, so it may be good for fiction authors to market their stories there.

One thing Dalton and I were agreed on is that writers don’t have to sell hard their works. Just be genuine and interesting, that’ll be the best selling points ever. “I quickly unfollow writers who promotes his books all the time,”Dalton giggled. I do, too.

{image credit: Commons.Wikimedia.org}

Manusia Tak Punya Apapun Kecuali Waktu

‎Seperti manusia, sebuah bangsa juga memiliki banyak wajah. Wajah Indonesia sering digambarkan sebagai bangsa yang ramah tamah dengan segala kemajemukan budayanya, tetapi pada kenyataannya wajah yang sebenarnya juga tidak semulus itu. Ada wajah intoleransi dalam bangsa ini, yang Anda bisa temukan dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam hal ini kementerian agama yang dikuasai kaum mayoritas.

Jepang juga sama. Mereka kerap dianggap sebagai bangsa yang ekspansif, agresif, menghalalkan segala cara agar bisa membuat negerinya jaya di mata dunia. Itulah mengapa Jepang sampai ke Indonesia beberapa dekade lalu dan menindas rakyat kita tanpa ampun. ‎Cerita tentang rakyat Indonesia yang sampai harus memakai karung goni dan makan umbi dan bonggol pisang karena kelaparan yang amat sangat di masa pendudukan Jepang di masa Perang Dunia 2 masih terngiang-ngiang. Istilah romusha juga masih tertancap di benak kita. Belum lagi kekejaman seksual para serdadu Jepang yang menggunakan wanita-wanita pribumi sebagai budak libido mereka saat berada jauh dari istri.

Dalam diskusi “Life After Fukushima” di Ubud Writers Readers Festival (4/10) yang bertempat di Left Bank Jl. Raya Sanggingan Ubud, saya mendapatkan deskripsi wajah Jepang yang lain sama sekali.‎ Dipandu oleh MC kocak Eiji Han Shimizu (di foto tampak ia sedang tidur siang di Hubud), acara yang didukung oleh Japan Foundation ini menghadirkan pembicara aktivis lingkungan hidup Keibo Oiwa yang juga dikenal dengan nama Tsuji Shin’ichi. Oiwa mendedikasikan waktunya sebagai antropolog budaya, pembuat film, penerjemah, dan pembicara publik. Selain itu, ia juga sudah membuahkan lebih dari 50 karya berupa buku (sangat produktif!). Oiwa yang meski rambutnya sudah mulai memutih tetapi pancaran semangat muda dari sepasang mata kecil dan wajahnya masih kuat itu mengajar di Meiji Gakuin University dan mendirikan serta memimpin organisasi bernama “The Sloth Club”, sebuah organisasi swadaya masyarakat bertema ekologi dan kehidupan yang lebih tenang dan lambat sebagaimana seekor sloth menjalani kehidupan.

Saya suka dengan gagasan-gagasan Oiwa yang kontra globalisasi dan ekspansi. Ia menunjukkan semangat anti korporasi global yang dalam beberapa dekade belakangan makin mencengkeram ekonomi dunia.‎ Pemerintah Jepang, kata Oiwa, lebih banyak disetir oleh perusahaan-perusahaan ini daripada memikirkan kepentingan rakyatnya yang lebih luas.

Saat bekerja sebagai reporter bisnis, saya menemukan venture capitalist dari Jepang yang merambah ke Indonesia. Mereka ingin mencicipi juga ‘kue’ di pasar Indonesia yang konsumennya ratusan juta kepala ini dengan mendanai startup-startup potensial di Jakarta dan sekitarnya. Dan itulah mengapa citra orang Jepang dalam pikiran orang Indonesia adalah bangsa yang bekerja paling keras, paling cepat, gesit, cekatan, pokoknya hebat!

Akan tetapi, Oiwa menguak sisi lain Jepang yang ia rasa sudah melampaui batas dengan menjadi terlalu ekspansif. Ia juga mengkritik pemerintahan Jepang saat ini dengan berkata “pemerintahan sekarang adalah yang terburuk”, yang kemudian diikuti ledakan tawa kecil di antara audiens. Karena semua orang – tanpa peduli dari negara mana – bisa merasakan kekecewaan yang sama. Orang Indonesia kecewa dengan SBY, orang Jepang dengan Shinzo Abe, orang Inggris dengan David Cameron‎. Semua orang tampaknya selalu memiliki alasan sendiri untuk membenci pemerintah tempat mereka berasal. Mungkin karena rakyat adalah konsumen yang tak akan pernah puas.

“Pasca tsunami dan musibah bocornya PLTN Fukushima, Jepang mengalami banyak perubahan,”ujar Oiwa. Dan perubahan yang ia maksud termasuk sikap antipati terhadap tenaga nuklir yang risikonya sungguh tidak terperi. Sekali bocor, habis sudah semua kehidupan di sekitarnya. Yang selamat pun tidak akan bisa hidup normal.

‎Saya pernah membaca kisah-kisah patriotik warga senior Jepang yang pasca tsunami rela bekerja membersihkan limbah radioaktif agar generasi berikutnya bisa selamat dari dampaknya. Satu orang kakek berusia 70-an mengaku terpanggil menjadi relawan pembersih sampah radioaktif karena ia siap jika nanti terkena dampak radioaktif. Ia sudah tua, toh masa hidupnya akan habis juga. Lain dengan mereka yang usianya lebih muda, mereka memiliki harapan hidup yang lebih panjang. Dan kakek itu tidak sendirian. Masih banyak orang-orang usia senja di sana yang memiliki pikiran yang sama. Mungkin terdengar seperti bunuh diri, tapi saya pikir inilah bunuh diri yang paling mulia di dunia, yaitu dengan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang. Sangat bermanfaat daripada cuma menyayat pergelangan tangan atau terjun dari gedung pencakar langit atau jembatan tinggi atau gantung diri.

Eiji yang juga pembuat film indie itu juga melontarkan kisah pribadinya tentang gaya hidup minimalis yang sesuai dengan keyakinan Oiwa. Eiji yang dulunya bekerja di korporasi meninggalkan pekerjaannya untuk bekerja sendiri dan bebas. Kini penghasilannya hanya sepertiga dari yang dulu, tuturnya pada seorang teman yang bertanya tentang kehidupannya pasca mengundurkan diri. Tetapi pengeluarannya juga sepertiga dari sebelumnya. Jadi sama saja. Gaya pakaiannya lebih sederhana dan ia berani mengkritik kebiasaan konsumtif orang perkotaan yang membeli pakaian bak makanan pokok.

Satu kebanggaan Eiji yang dikenal dengan film Happy (yang sempat jadi nomor wahid di iTunes) mengenai enaknya bekerja sebagai pembuat film indie‎ dan bukan lagi menjadi budak korporasi ialah keleluasaan waktu. Temannya mungkin lebih kaya, tapi waktunya banyak yang tersita untuk majikannya. “Saya lain. Saya lebih banyak punya waktu untuk diri saya sendiri sekarang,”katanya bangga. Oiwa mengamini kalimat Eiji,”Manusia pada dasarnya tak punya apa-apa. Anda hanya punya waktu. Dan dengan waktu itu kita menukarnya dengan uang, karena itulah ada anggapan waktu adalah uang”. Tapi begitu kita punya uang, kita jadi fakir waktu. Tak punya waktu bahkan untuk diri dan orang yang dikasihi. Itulah tragedi yang banyak kita temui saat ini.

Dari “The Treacherous Writer” ( #UWRF14): Memahami adalah Memaafkan

uwrf 2014

David Lesser, Hannie Rayson, dan Liam Pieper memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Lesser seorang jurnalis pemenang penghargaan yang sudah menelurkan 6 karya buku yang di antaranya adalah sebuah memoar bertajuk “To Begin To Know: Walking in the Shadows of My Father”. Rayson menulis 14 drama dan memiliki reputasi dalam penulisan drama yang kompleks dan karya terbarunya adalah sebuah memoar yang akan diterbitkan tahun 2015. Pieper memiliki darah penulis dari sang nenek dan pernah menerima penghargaan Literary Residency tahun 2014 oleh Australia Council for the Arts.

Namun, pagi tadi ketiganya disatukan oleh satu benang merah yang sama:memoar. Ketiganya menulis memoar dan memaparkan pada audiens berbagai pengalaman dan seluk beluk menulis memoar yang ternyata tidak semudah menuliskan kegiatan sehari-hari sebagaimana para penulis diari/ catatan harian amatir.

Memoar memang salah satu jenis karya yang digemari, apalagi jika si penulis memiliki kehidupan yang menarik (atau kehidupan yang biasa saja tetapi berhasil dibuat menarik dengan penggunaan bahasa yang efektif). Lihat saja bagaimana larisnya memoar Elizabeth Gilbert “Eat Pray Love” yang juga ditulis dengan menggunakan Bali sebagai latar tempatnya. Ada juga memoar-memoar dengan nuansa komedi karya David Sedaris yang saya juga gemari. Kalimat-kalimatnya segar, dan menggelitik. Tidak sespiritual Gilbert, tetapi Sedaris juga memiliki kedalamannya sendiri, dengan mengkritisi asumsi dan keyakinan yang sudah diterima masyarakat.

Lesser melontarkan sebuah kalimat yang menarik tentang penulisan memoar, bahwa dengan menulis memoar, kadang kita mengerti bahwa hampir setiap orang melakukan kesalahan atau perbuatan yang menurut orang lain mengerikan  atau tidak termaafkan semata-mata karena mereka berpikir bahwa hal itu adalah sesuatu yang baik. Ia seolah mengatakan bahwa menulis memoar memberikan kita ruang untuk lebih banyak memahami pemikiran orang lain atau pemikiran diri sendiri yang mungkin kita anggap salah tetapi juga memiliki alasan dan justifikasinya. Semua itu ada alasannya dan memoar membuka celah untuk pemahaman yang lebih baik tentang diri kita, orang lain dan dunia.

Menimpali pernyataan Lesser, Pieper juga mengamini dengan mengatakan, “To understand is to forgive” (memahami adalah memaafkan). Salah satu cara untuk memahami sebuah kesalahan dan mengapa kesalahan itu bisa terjadi adalah dengan menelusurinya kembali, merenunginya, mengupasnya, dan mendapatkan pemahaman lebih mendalam mengenai bagaimana hal itu bisa sampai terjadi. Besar kemungkinan seorang manusia tidak melakukannya karena niat yang buruk, tetapi karena ingin mencapai hasil yang baik. Hanya saja caranya mungkin kurang tepat.

Tadi pagi di Left Blank Ubud, paparan dan tanya jawab ketiga penulis Australia ini memberikan kita gambaran singkat mengenai pengalaman mereka dalam menulis riwayat keluarga yang sangat kompleks. Ternyata tidak semudah yang kita pikirkan karena memilih detil yang perlu dikemukakan dan detil yang harus disingkirkan bukanlah perkara gampang.

The September Project is Coming!

Nanowrimo (National Novel Writing Month) is still 2 months ahead and I cannot wait for the Ubud Writers Readers Festival (UWRF) on October 1-5 next month. Hence I decide to write something from now. Something worthwhile that I can bring to UWRF. The deadline would be my departure to the island of gods and goddesses. Sounds ambitious, but I have to.

IMG_3549.JPG

%d bloggers like this: