Bakat Itu Bernama Memiliki Anak

“Be the parent today that you want your kids to remember tomorrow.” ~Unknown

KERESAHANNYA ditumpahkan sekonyong-konyong pada saya sebagai satu-satunya pendengarnya di mall yang ramai itu. Ia menyapu keningnya dan menyibak rambutnya yang agak gondrong, suatu gaya potongan rambut yang jadi ciri khasnya selama ini. Gaya sisirannya di tengah, mirip Alam adik penyanyi dangdut Vetty Vera yang pernah melambung namanya berkat lagu “Sedang-sedang Saja”.

Katanya berapi-api di depan saya tetapi tidak pada saya karena ia tahu saya tidak bersalah:”Aku pikir aku tidak berbakat jadi ayah…”

Dalam banyak hal, teman saya ini memang tidak memiliki bakat yang mencengangkan. Ia pria biasa, tidak memiliki wajah rupawan, berlatar belakang keluarga jelata, pendidikan yang setinggi SMA, dengan kemampuan finansial yang biasa, kecerdasan dan pekerjaan yang rata-rata, dan kesalehannya juga tidak istimewa.

bicycle_in_the_hague_36

Anak bungsu teman saya ini sedang kecanduan ponsel cerdas. Siang malam tidak bisa berpisah dari benda laknat itu. “Sampai tugas rumah lupa. Belajar apalagi. Mengaji tidak mau. Salat di masjid juga ogah. Padahal bapaknya kalau di rumah juga sudah memberi contoh. Huh!” keluhnya sambil menerawang ke pemandangan di luar dinding kaca mall yang menyajikan tumpukan jendela kamar apartemen yang semuanya tertutup sedang ditinggalkan para pemiliknya yang bekerja bertebaran di sekeliling area bisnis di situ.

Saya pikir ia orang yang sudah tahu konsekuensi logis dari menikah adalah memiliki anak dan harus mendidiknya. Saya tidak menduga ia berani berpikiran seperti itu. Tentu itu tidak pernah ia sampaikan kepada istrinya di rumah, yang jauhnya ratusan kilometer dari sini.

“Kamu beruntung…,” tiba-tiba ia mengalihkan pandangan ke saya. “Kamu tidak perlu memikirkan masalah seperti itu.”

Saya menyengir. “Mungkin belum. Belum saatnya… Atau tidak akan,” tukas saya memberikan tanggapan yang ala kadarnya.

“Ternyata aku sadar aku bukan tipe orang tua yang ideal. Aku tidak ingin menceramahi anak-anakku. Aku ingin mereka paham dengan sendirinya,”imbuhnya masih dengan kegalauan akut. Jelas rasa galau bukan monopoli anak-anak milenal lajang atau mereka yang belum menikah. Itu penyempitan makna. Setiap manusia selalu dirundung kegalauan, dalam tingkatan dan keparahan yang bervariasi dalam setiap jenjang kehidupannya. Yang belum sukses mencapai tujuan hidup, galau karena ingin sukses. Yang sudah sukses mendapatkan sesuatu, galau karena ingin terus mempertahankan kesuksesan, tidak mau kehilangan sedikitpun dan memutar otak soal bagaimana mencapai kesuksesan yang jauh lebih tinggi. Terus, terus dan terus. Tiada habisnya.

Saya menimpali sebisa saya atau diam saja begitu ia usai memberondong udara dengan kata-katanya. Saya tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan saja sampai ia puas. “Terserah kamu sajalah…”

Saya sarankan ia memberi contoh tapi ia menampik dengan alasan itu tidak efektif lagi. Ia sudah berusaha ke masjid saat waktu salat tiba, toh si anak masih saja bergumul dengan ponselnya. Kalau dimarahi, anak itu bakal ngambek. Akhirnya teman saya ini berpikir pendek:”Ya sudahlah, biarlah dia senang sedikit. Toh di sekolah sudah belajar dan nilai-nilainya sudah memuaskan.”

Saya mendengus panjang. Jelas sudah siapa biang keladinya sebenarnya. (*/)

 

%d bloggers like this: