Tentang Wawancara, Mewawancarai, Diwawancarai dan Membaca Wawancara

Wawancara. Bisa dianggap mudah saja atau tantangan luar biasa. Mewawancarai secara alami lebih dituntun oleh keingintahuan lalu terkumpullah serangkai fakta atau apapun yang diasumsikan seperti fakta. Klaim dan simpulan tak berdasar kadang menyelip di sana sini yang terpaksa muncul karena ingin hasil wawancara lebih bombastis dan menarik dibaca orang. ‎Dan mungkin, karena pemeriksaan fakta (fact checking) sudah harus mengalah oleh tenggat waktu. Maklum, pembaca makin tak sabaran. Dunia (merasa) makin tak sabaran. Ini sungguh membingungkan dan sejatinya mengibakan. Karena pewarta makin lama makin seperti budak saja. Upah tak seberapa, tetapi mesti bekerja menata kata dari berbagai fakta yang ditemuinya, tanpa kenal penat yang meraja dan redaktur yang semena-mena.

‎Wawancara kerap dilakukan secara impromptu. Alhasil pertanyaan-pertanyaan yang dikeluarkan sekenanya. Tak tersusun baik, teracak, tanpa alur. Kalaupun tersusun sebelumnya, hanya dilakukan di sela rangkaian aktivitas yang padat luar biasa. Bahkan karena otak beku, pertanyaan sering mengabaikan logika. Norma juga bukan kendala, etika juga. Lalu bagaimana? Ini semua sungguh membuat gila! Bagaimana bisa mencapai hasil sempurna?!

Tetapi mendapatkan kesempatan wawancara pun sudah beruntung kadang. Bukan sekali dua kali pertanyaan sudah tertuang rapi di lembaran dan ternyata harus dibuang ke keranjang karena ‎sang narasumber yang (berpikir dirinya) terlampau terkenal sulit ditemui langsung dan begitu sibuk, atau memilih menyibukkan diri dengan jurnalis-jurnalis media besar dan melupakan pewarta-pewarta media maya.

Sementara itu, ada sebagian mereka yang mati-matian menjerat wartawan. Membuatnya terpaku di suatu waktu dan bangku, mendengarkan perkataan narasumber gila publisitas tanpa‎ jeda lalu menyajikan berbagai suguhan menggoda. Dari voucher makan tanpa biaya, jamuan makan cuma-cuma, memiliki kesempatan mencicipi kemewahan yang tak terjangkau anggaran dari upah bulanan.

Pewarta mewawancara sering karena tak ada pilihan lain di mata. Ya sudah, apa adanya saja, gumamnya.‎ Tenggat waktu toh makin dekat. Jadi daripada hari ini kena damprat, kenapa harus kesempatan ini dibiarkan lewat? Tinggal rekam atau catat. Sisanya bisa dikembangkan dari fantasi atau hasil menjelajahi hasil yang disuguhkan mesin pencari.

Kecewa kadang mendera kalau narasumber incaran menolak menjawab pertanyaan yang merangsang perbincangan intens. Seolah ia menutup pintu. Terkunci di situ dan tak bisa melangkah lebih jauh. Yang hanya bisa dilanjutkan hanya isu-isu yang membuat jemu. Itu itu melulu. Rasanya sudah buntu.

Hati berubah gembira jika berhadapan dengan narasumber yang dermawan bukan kepalang. Satu pertanyaan sentilan membuka sekaligus banyak jawaban, bahkan yang tidak terlintas sebelumnya untuk ditanyakan. Terus, terus, terus gali saja sampai habis. Tandas hingga puas.

‎Sial, ada hal bagus untuk diberitakan yang keceplosan diucapkannya tapi ia beberapa detik kemudian baru sadar dan minta dirahasiakan. “Off the record ya…” Mungkin akan lebih mudah jika diabaikan saja dan tetap memuatnya dalam berita lalu menikmati pujian dari redaktur dan pembaca tetapi bagaimana kalau narasumber murka dan mencap tak bisa dipercaya? Susah juga ya.

Mendapat masukan tentang kesalahan padahal sudah menulis sesuai pernyataan? Bukan anomali. Bahkan frekuensi terjadinya bisa tinggi. Karena itu, jangan menggores pena tetapi rekamlah suara. Jari tak bisa bersuara, tetapi suara manusia yang bisa.

‎Diwawancarai apalagi. Tak kalah pelik. Apa yang harus dipersiapkan? Duh, nanti kalau tidak tahu harus menjawabnya bagaimana? Baiklah, jawab sebisanya. Ini bukan ujian. Rileks saja. Berpakaian terbaik, supaya kalau difoto tak akan mengecewakan orang tua dan kerabat serta sobat yang akan menjadi sasaran pameran. Percuma, karena si pewawancara tak bawa kamera. Punyanya Blackberry semata. Di hari mendung saja, hasilnya sudah kabur. Ia tak pernah meminta foto, jadi mungkin memang tak memerlukannya. Lalu setelah terbit, muncullah foto-foto di jejaring sosial. Sial! Baiklah, fotonya tak terlalu buruk tetapi bagaimanapun juga tak ada permintaan izin yang terlontar.

Spekulasi usia narasumber bukannya masalah raksasa. Bahkan bisa dikatakan propaganda biasa agar semua percaya itulah seharusnya usia berdasarkan tampilan di netra. Tak ada keberatan‎ karena kesalahan dari ketidaktahuan itu kadang sebuah kenikmatan. Namun, lain kali, akan lebih baik menulis yang benar-benar diketahui saja. Agar sang narasumber tak terkesan berbohong memudakan usia. Padahal ia tak juga berupaya menutupinya.

Waspada juga membaca hasil wawancara. ‎Mungkin yang berlebihan si pewawancara. Kadang juga si terwawancara. Acap kali dua-duanya. Atau kekurangtajaman pendengaran dan pemikiran yang perlu dimaafkan, bukan diperkarakan. Sepanjang tak ada yang merasa dirugikan atau disudutkan.

Wartawan Bodrexin

“Oh.. hmmm, hai pak. Namanya siapa? Tadi saya belum tahu pas bapak bicara di depan.”

“‎Oh, nama saya Somat.”

“Begini pak, saya mau buat tulisan tentang presentasi bapak tadi.”

“Oh gitu, bagus bagus.‎ Tapi kamu dari mana?”

“Saya dari [masukkan nama media apapun sesuai selera Anda].”

“Oh kampusnya?”

“Bukan, pak. Saya wartawan. Situs saya itu jadi media partner event ini, jadi saya akan tulis tentang paparan bapak tadi.”

“Oh hebat muda muda dah jadi wartawan. Saya kira tadi mahasiswa.”

“….” (senyum getir)

(sumber foto: tokokios1.blogspot.com)

Jurnalis Masuk Daftar Pekerjaan Terburuk 2015 versi CareerCast.com

Entah jika di Indonesia, tetapi yang pasti di negeri Paman Sam pekerjaan sebagai reporter surat kabar bukanlah jenis pekerjaan idaman. Berdasarkan survei yang dilakukan situs pencarian lowongan kerja CareerCast.com, pekerjaan yang dianggap paling buruk di AS ialah reporter surat kabar. Dua pekerjaan lain yang berhubungan dengan media, yaitu broadcaster (penyiar) dan jurnalis foto, juga disebut dalam deretan 10 pekerjaan terburuk. Ketiganya disebut bersama pekerjaan-pekerjaan lain yang rata-rata menyedot banyak tenaga.

Pekerjaan-pekerjaan ini diurutkan berdasarkan aspek-aspek penting seperti pendapatan, peluang di masa datang, faktor lingkungan kerja, tekanan mental dan tuntutan fisik. Aspek-aspek ini dianggap penting dalam data kerja di Biro Statistik Ketenagakerjaan AS (Bureau of Labor Statistics).

Dan pekerjaan terbaik di tahun 2015 adalah ‘actuary’, orang yang bertugas mengumpulkan dan menganalisis data statistik dan menggunakan data untuk menghitung risiko dan premi asuransi. Mereka ini membuat asumsi-asumsi yang akan menentukan surplus dalam dana pensiun, misalnya.

Inilah daftar pekerjaan terbaik tahun ini versi CareerCast.com:

1. Actuary
2. Ahli audio
3. Matematikawan
4. Pakar statistik
5. Insinyur biomedis
6. Ilmuwan data
7. Dental hygienist
8. Software engineer
9. Terapis terlatih
10. Analis sistem komputer

Sementara itu yang terburuk adalah:

1. Reporter surat kabar
2. Juru tebang pohon
3. Personel militer
4. Juru masak
5. Penyiar
6. Jurnalis foto
7. Petugas Lembaga Pemasyarakatan
8. Pengemudi taksi
9. Pemadam kebakaran
10. Petugas pos

Pewarta Tanpa Kantung Mata

‎Pewarta tanpa kantung mata
Musykil itu namanya
Meski pakai kacamata
Tak jua membantu apa-apa

“Istirahatkan saja”
Saran dia yang memeriksa netra
Di sebuah optik tepercaya
Saat aku sudah putus asa

Tapi bagaimana‎ bisa?
Nasihat yang gila
Bisa-bisa semua kerja tertunda
Karena rehat mata belaka

‎Lalu harus bagaimana?
Protes saya
Dia menggelengkan kepala
Seraya berkata
“Pintu keluar ada di sana…
Sampai jumpa.”

Strategi BuzzFeed

Dikenal sebagai situs yang kontennya kerap beredar secara viral di Internet, BuzzFeed bisa dikatakan menjadi salah satu fenomena media yang mencengangkan di abad informasi ini. Valuasinya diketahui mencapai miliaran dollar AS. BuzzFeed sukses sebagian karena mampu mencerminkan bagaimana kita merespon konten di dunia maya.

Seperti dirangkum dari laman TechinAsia, Buzzfeed sukses berkat beberapa strategi yang sebelumnya tak banyak terpikirkan oleh pebisnis media.

Tidak cuma menarik dan bagus, konten harus memiliki kepentingan sosial. Masalahnya hal itu cukup sukar dirumuskan. Semuanya cuma berdasarkan naluri tim editorial semata. Bahkan BuzzFeed menjadikan jejaring sosial sebagai tujuan utama pembuatan kontennya. Dengan 200 editor di dalamnya, BuzzFeed mempublikasikan 700 hingga 900 konten dalam sehari di situs mereka. Para penulis dibiarkan begitu saja mempublikasikan konten mereka namun tidak semuanya akan ditampilkan di laman depan situs. Bila konten itu tidak banyak dibagikan orang, ia akan lenyap dengan sendirinya. BuzzFeed akan habis-habisan mempromosikan konten yang begitu menarik bagi orang setelah menarik perhatian orang di jejaring sosial.

BuzzFeed mensurvei ke sebanyak mungkin orang. Dengan bertanya ke sebanyak mungkin orang yang akan menjadi target pembacanya, BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan minat mereka sehingga kontennya tetap digemari. Jadikan topik-topik yang paling digemari sebagai prioritas utama tanpa harus mengabaikan topik konten lainnya yang juga penting untuk menjangkau audiens baru yang sebelumnya tidak banyak digarap situs berita lain. Ini penting untuk terus menumbuhkan jumlah pembaca situs.

BuzzFeed merekrut blogger-blogger top. BuzzFeed berinvestasi secara serius dalam hal sumber daya penulis kontennya. Perusahaan media itu menarik blogger-blogger dengan audiens yang sudah setia untuk membuat konten di situs BuzzFeed.

BuzzFeed juga bereksperimen dengan banyak bentuk konten, termasuk bentuk konten tulisan panjang dan analitis yang mungkin bagi sebagian orang berbeda dari bentuk konten listicle atau kumpulan foto dan meme yang kurang mengasah intelektual pembacanya. Namun demikian, konten listicle yang bombastis, instan dan menarik utnuk dibagikan masih menjadi yang utama. Ini dilakukan karena pola konsumsi konten juga berubah. Untuk itu, mereka menunjukkan keseriusan dengan membawa masuk Ben Smith (jurnalis politik berpengalaman) dan Steve Kendall dari majalah Spin untuk menangani konten jenis long-form. Demi mengukur kinerja konten long-form, BuzzFeed tidak menggunakan tolok ukur (metrics) yang sama dengan konten listicle atau meme lainnya. Memang tidak ada yang absolut dalam mengukur kinerja konten. Cuma
mengandalkan logika, spekulasi, perasaan dan naluri.

BuzzFeed mengutamakan waktu yang dihabiskan dalam mengkonsumsi konten. Durasi waktu yang dibutuhkan orang untuk membaca konten dijadikan tolok ukur yang makin penting.

BuzzFeed membuat konten lebih mudah dibagikan dan sesuai untuk dibagikan di aplikasi percakapan mobile seperti WhatsApp, Line, Kakao Talk, WeChat, dan sebagainya. Ini penting bagi pasar dengan audiens yang getol mengakses konten via ponsel cerdas.

BuzzFeed terus menyesuaikan diri dengan berbagai situs jejaring sosial dan cara-cara lain yang membuatnya lebih mudah dibagikan dan ditemukan. Pertama, mereka menggunakan istilah-istilah pencarian dan mengunggah berbagai konten yang bertema serupa. Kemudian mereka mulai menggunakan Facebook lalu Pinterest. BuzzFeed tidak ambil pusing dengan algoritma jejaring sosial yang berubah-ubah karena mereka hanya fokus pada pembuatan konten yang menarik untuk disebarkan, entah itu tulisan, foto dan video.

BuzzFeed membolehkan artikel ‘daur ulang’. Namun, ini bukan berarti tinggal salin rekat (copy paste) begitu saja. Masih diperlukan pengolahan agar sudut pandang, nada penyampaian dan suara yang digunakan berbeda dari yang sudah ada.

BuzzFeed tak banyak menggunakan judul artikel yang bersifat menipu pembaca. Judul-judul yang disebut “clickbait” itu memang awalnya bisa mendatangkan banyak pengunjung tetapi efeknya dalam jangka panjang, makin sedikit orang yang percaya dan memilih untuk mengabaikan karena telah pernah dikecewakan sebelumnya karena judul yang tidak sesuai dengan kenyataan atau dilebih-lebihkan.

BuzzFeed menggunakan prinsip “tak banyak membual tapi memberikan lebih banyak” dalam tim editorialnya. Ini karena mereka mendorong pembaca untuk tidak hanya mengklik sebuah judul atau tautan tetapi juga mendorong mereka membagikannya ke sebanyak mungkin orang via jejaring sosial. Jika judul bombastis, dan isinya kurang sesuai harapan dan membuat kecewa, mana mungkin orang mau membagikannya?

(image credit:smallbusiness.foxbusiness.com)

Bagaimana Memperkenalkan Startup Anda pada Jurnalis, Tanpa Spamming

Bukan rahasia lagi bahwa startup-startup ‘haus publikasi’. Mereka ingin media meliput bisnis mereka. Mereka ingin semua orang
membicarakan produk dan layanan yang mereka luncurkan. Mereka mau brand mereka menempel di otak orang sebagaimana “Aqua” untuk air minum dalam kemasan, atau “Sanyo” untuk pompa air. Mereka mau kampanye marketing digitalnya viral hingga tingkat global di jejaring sosial. Entrepreneur pendiri startup juga tidak kalah ingin dikenal oleh publik dan dianggap sosok sukses dan bisa menjadi panutan.

Sayangnya, tidak banyak entrepreneur sekaligus pendiri startup yang mau bersusah payah untuk memilah-milah jurnalis yang ingin mereka tuju. Mereka biasanya membombardir jurnalis yang mereka telah dapatkan alamat surelnya dengan berbagai pernyataan pers atau semacamnya dengan satu keyakinan:”Siapa tahu mereka mau memuatnya?”

Padahal dalam sudut pandang jurnalis, menerima surel yang tidak dikehendaki secara terus menerus bisa cukup mengganggu produktivitas. Kita bisa bayangkan betapa repotnya memilih puluhan surel yang harus dibuka, dibaca, disortir dan dibalas serta kemudian diolah menjadi berita di kotak masuk (inbox) dalam sehari.

Kesalahan umum yang biasa terjadi ialah entrepreneur dan startup mengirimkan surel pada jurnalis yang memiliki minat dan bidang liputan yang tidak atau kurang sesuai. Misalnya, seorang jurnalis yang bertugas meliput sektor bisnis properti akan merasa terganggu jika dibanjiri dengan surel berisi press release dari perusahaan ritel.

Persoalan akan lebih mudah bagi entrepreneur dan startupnya jika diketahui bahwa si jurnalis memiliki tugas peliputan yang mencakup bidang yang relatif luas. Contohnya, jika seorang jurnalis ditugasi meliput dunia bisnis dan ekonomi secara umum. Tentu pengiriman surel pernyataan pers yang isinya peluncuran produk baru atau pendirian startup baru akan lebih dapat diterima. Namun, sekali lagi tidak semuanya demikian.

Mengapa mengirimkan surel secara membabi buta ke semua jurnalis tidak sepatutnya dilakukan? Karena selain bisa dianggap spamming dan merepotkan jurnalis itu sendiri, entrepreneur juga akan menghabiskan waktu dan tenaganya secara tidak efektif dan efisien. Ibarat berperang dengan peluru terbatas, Anda sudah menghamburkan peluru yang berharga itu dalam waktu beberapa detik. Hematlah peluru-peluru itu dengan membidik lalu menembak musuh dengan cermat dan tepat. Apa artinya 1000 tembakan meleset dibandingkan 1 peluru yang bisa menembus jantung pimpinan musuh?

Lalu apa yang bisa dilakukan agar entrepreneur tidak terjebak dalam permainan spamming ini? Yang pertama dan utama menurut entrepreneur media Jason Calacanis ialah membaca artikel dan konten yang dihasilkan oleh seorang jurnalis. Kemudian setelah itu, ikutilah ide-idenya di blog, jejaring sosial setidaknya selama sebulan. Jadilah pengikut akunnya di Twitter, baca tweet-tweetnya. Bertemanlah dengannya di jejaring sosial Facebook jika memungkinkan. Semua ini perlu sekali dilakukan sebelum Anda memutuskan menghubungi si jurnalis. Mengapa ini penting? Agar Anda bisa paham bagaimana mereka berpikir melalui apa yang mereka katakan dan tuliskan. Seperti yang dikatakan Calacanis, menghubungi jurnalis via surel tanpa mengenal mereka dan apa yang mereka lakukan dalam pekerjaan sungguh “sebuah kegilaan”. Ditegaskan juga oleh Greg Galant (salah satu pendiri Mucrack), bahwa 90% dari jurnalis yang ia survei mengatakan lebih menyukai orang yang menghubungi mereka sudah mengikuti tulisan-tulisan mereka sebelumnya karena dengan begitu mereka tidak cuma sekadar mengirimkan surel tanpa dikehendaki. Ada hubungan yang terjalin dan jurnalis akan lebih yakin bahwa Anda menyisihkan waktu untuk meneliti siapa mereka dan apa yang mereka kerjakan.

‘Manfaatkan’ Jurnalis!

Pers  (Sumber foto: Wikimedia)
Pers: Dicinta tetapi disia-sia. (Sumber foto: Wikimedia)

Dalam banyak kesempatan, para jurnalis tidak banyak diperlakukan dengan baik. Semacam warga negara kelas dua, kalau saya bisa katakan. Meski diundang dalam sebuah event, misalnya, mereka tidak diberikan sebuah kursi untuk duduk dan berbincang dengan orang-orang yang mereka ingin jadikan nara sumber liputan. Kalaupun ada kursi untuk jurnalis, mereka akan diberikan tempat duduk di belakang, setelah para tamu undangan menduduki kursi masing-masing dan ada yang tersisa. Mereka juga mendapatkan bagian konsumsi sendiri, yang biasanya lebih murah daripada para petinggi. Jarang ada yang menyajikan makanan dan minuman yang sama-sama kualitasnya baik bagi jurnalis dan orang lain, terutama dalam acara-acara di dalam ruang. Saya merasakan semua itu sendiri. Dan saya tidak mengada-ada.

Tidak hanya oleh korporasi besar perlakuan semacam itu diberikan pada wartawan. Kerap kali para entrepreneur dan startup yang saya liput juga tidak menyambut hangat. Hanya suam-suam kuku, dan begitu mereka larut dalam event yang biasanya mereka adakan atau hadiri, mereka akan melupakan pewarta.

Di event yoga juga demikian. Peran media seolah dianggap remeh. Media ditempatkan di ruangan yang kurang representatif, padahal peralatan berharga mereka banyak. Bagaimana kalau ada yang mencuri laptop dan kamera kami? Tak banyak yang berpikir tentang keamanan dan kenyamanan jurnalis yang sedang bekerja. Wi-fi tak ada, meja untuk sekadar menaruh peralatan juga tidak disediakan.

Namun tidak semuanya demikian. Saya juga pernah menemui perusahaan yang cukup baik memperlakukan jurnalis. Mereka menyewa sebuah firma humas yang cekatan dan berpengalaman sehingga para pewarta sangat terbantu. Masuk ke ruangan konferensi pers, kami sudah diberikan media kit, berupa CD atau flash drive berisi foto-foto resolusi besar dari perusahaan dan si CEO, lalu ada selembar kertas berisi daftar nama-nama orang yang akan tampil memberikan keterangan dan beraudiensi dengan wartawan untuk wawancara yang lebih intensif.  Sungguh memudahkan kerja kami.

Ada lagi yang tidak segan mengundang wartawan untuk duduk bersama di meja dengan para pembicara kunci di sebuah acara besar. Bukan sebuah kehormatan, tetapi lebih pada memberikan kemudahan dalam menggali data dan informasi yang nantinya dapat dipakai dalam penyusunan berita. Dengan begitu, jurnalis juga menjadi lebih dekat dengan para pentolan acara sehingga nantinya bisa menjalin komunikasi yang lebih baik dan lancar.

Sayang sekali tak semuanya seperti itu…

Padahal jurnalis bisa ‘dimanfaatkan’. Maksud saya, dimanfaatkan sebagai alat promosi yang baik, tanpa biaya malah. Ini yang tidak disadari banyak orang.

Perbedaan New Journalism dan Investigative Journalism

Sebelum membandingkan keduanya, ada baiknya mencari tahu makna masing-masing istilah. Dijelaskan dalam britannica.com, New Journalism merupakan sebuah gerakan sastra Amerika di tahun 1960-an dan 1970-an yang mendorong pembentukan batas-batas baru dalam lingkup jurnalisme tradisional dan penulisan nonfiksi. Aliran tersebut menggabungkan riset jurnalisme dengan teknik-teknik penulisan fiksi dalam pelaporan berita mengenai kejadian nyata. Sejumlah tokoh yang dianggap berperan sebagai pionirnya ialah Tom Wolfe, Truman Capote dan Gay Talese.

Dalam aliran New Journalism (selanjutnya disebut NJ), seorang penulis diharapkan ‘menenggelamkan diri’ dalam subjek yang ditulisnya. Bahkan jika perlu hidup di dalamnya sambil mengumpulkan fakta dan melakukan riset mendalam dalam bentuk wawancara dan pengamatan langsung. Maka dari itu, tulisan yang menerapkan aliran ini akan sangat berbeda dari artikel-artikel jurnalisme konvensional di surat kabar besar. Kita bisa menemukan gaya jurnalisme ini di laman GQ.com, New York Herald Tribune, majalah Esquire, The New Yorker dan sejumlah majalah terkemuka lainnya di AS.

Ciri lain yang menonjol ialah saat mewawancarai tokoh, misalnya, wartawan memposisikan diri sebagai lawan bicara yang setara. DI dalam tulisan, wartawan memberikan berbagai deskripsi yang apik mengenai karakter si tokoh secara lengkap dalam penyajian detil-detil remeh namun humanis. Bahkan detil kejadian yang sebenarnya bukan mengenai tokoh itu pun, jika akan memberikan latar belakang yang komplit mengenai jati diri si tokoh, akan disertakan tanpa ragu. Hasilnya Anda akan membaca sebuah tulisan yang panjang, tampak bertele-tele tetapi menghibur, seolah membaca sebuah surat pribadi yang ditujukan hanya untuk Anda dari seorang teman. Sangat personal. Dari sinilah, kita bisa memahami bahwa anggaran untuk menulis sebuah artikel dalam aliran NJ sungguh besar dan waktunya relatif lebih lama. Teman-teman subjek itu

Sementara itu, Investigative Journalism (selanjutnya disebut IJ) memiliki makna yang kurang lebih adalah sebuah proses jurnalisme yang bercirikan adanya pendekatan yang kritis, subjek yang penting, inisiatif sendiri, riset mandiri, analisis mandiri dan eksklusivitas, demikian jelas jurnalis Nil Hanson dalam bukunya Grävande Journalistik (sumber di sini). Menurut asosiasi Investigative Journalism VVOJ, IJ merupakan jurnalisme yang mendetil (thorough) dan kritis. Kritis berarti jurnalis tak hanya menyajikan berita yang sudah ada. Jurnalis harus berjuang untuk menciptakan berita yang seandainya ia berpangku tangan tidak akan bisa muncul. Bentuknya bisa penciptaan atau penemuan fakta baru atau reinterpretasi atau korelasi fakta yang sudah ada dan beredar luas. Mendetil artinya seseorang membuat upaya besar dalam hal kuantitatif (dalam bentuk riset, berkonsultasi dengan banyak sumber, dan sebagainya) atau kualitatif (formulasi pertanyaan baru, penggunaan pendekatan baru, dan lain-lain). Ada 3 jenis IJ: penyibakan skandal, ulasan kebijakan atau fungsi pemerintahan, perusahaan dan lembaga lain, dan menarik perhatian publik pada masalah-masalah sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Keduanya memiliki perbedaan mendasar dalam hal metode reportorial dan tujuan penulisan. Dalam UNESCO Global Casebook, Mark Lee Hunter menyatakan bahwa inti NJ adalah pengamatan yang lekat. Reporter dalam pendekatan NJ dibolehkan memberikan interpretasi pribadi mereka atau reaksi personal mereka terhadap isu yang ditulis. Anda bisa menemukan ini dalam karya Hunter S. Thompson. Alih-alih menggunakan sumber lain untuk mengatakan sesuatu untuk ditulis, reporter bisa menuliskan pendapatnya sendiri. Seorang pewarta bisa berimajinasi dan
bermain-main dengan kata-katanya untuk memperindah dan memperkaya tulisan. Kelemahannya pemikiran reporter bisa dianggap ‘mencemari’ subjek tulisan yang sebetulnya. Di sinilah bedanya IJ dan NJ. IJ tidak memperbolehkan ‘keliaran’ semacam ini merasuk dalam tulisan. Singkatnya, kata Hunter, si penulis bukan yang terpenting. Subjeklah yang lebih krusial dan pantas mendapat sorotan lebih banyak.

IJ tidak menggunakan pendekatan pengamatan tetapi invasif, menyerang. Jurnalis harus proaktif, tidak menunggu dan duduk mengamati hingga bahan berita itu terbuka secara otomatis tetapi ia harus mau bekerja keras membukanya. Ia harus mau turun ke lapangan, “memungut artefak dan menganalisisnya”, kata Hunter.

Tujuan IJ dan NJ juga berbeda. NJ ingin agar para pembacanya menyaksikan dunia dalam sebuah perspektif baru. Sementara IJ ingin mendorong para pembacanya untuk bertindak dalam cara yang baru.

15 Kualitas Penulis Unggul

‎Berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama bertahun-tahun dan berbincang dengan beberapa jurnalis, Roy Peter Clark yang pernah menulis “How to Write Short” menemukan kesamaan dalam diri para penulis terbaik.

Pertama adalah ‎mereka semua kecanduan membaca sepanjang hayat. Mereka melahap semua bacaan dari fiksi sampai non-fiksi, novel sampai film.

‎Kedua, mereka cenderung suka menulis panjang dan mereka menyadarinya. Mereka menulis dengan sepenuh hati dan itu terpancar dari semua kalimat yang dirangkai. Anda sebagai pembaca pastinya akan merasakan kejanggalan bila penulis atau wartawan tidak begitu menguasai atau tertarik pada satu topik. Tulisannya akan terasa hambar atau monoton. Penulis yang baik ingin memanjakan pembacanya dengan menyajikan karyanya yang terbaik, dan kerap karya itu menjadi begitu panjang. Namun demikian, mereka juga bisa menyesuaikan diri bila harus menulis dengan singkat dan padat.

Ketiga, penulis unggul memandang dunia sebagai tempat mereka bereksperimen. Dengan persepsi ini, mereka tidak segan turun ke lapangan, tidak hanya berkutat dengan buku dan komputer di ruangan sepi tetapi juga mengobrol dengan orang-orang baru, berkunjung ke tempat-tempat baru, ‎merasakan pengalaman baru. Semua itu pada gilirannya akan memperkaya cerita yang ia akan suguhkan ke pembaca.

Keempat, penulis berkualitas menyukai kebebasan dalam bekerja. Energi kreativitas mereka tidak bisa dikendalikan oleh orang lain termasuk editor. Mereka seolah memiliki kompasnya sendiri, semacam naluri yang mengatakan pada dirinya,”Ini pasti akan menarik untuk disajikan bagi pembaca saya.”

Kelima, penulis yang top tidak sungkan dan tidak malas mengumpulkan fakta dan informasi, termasuk anekdot, kisah yang membuatnya terkesan, dsb. ‎Mereka menggunakan berbagai alat yang ada untuk mengumpulkan dan menyimpan data berharga tadi, dari mencatat di buku harian, merekam di alat tertentu, mengetik di perangkat mungil seperti ponsel, atau mengandalkan catatan mental di benaknya.

Keenam, penulis unggul bersedia menghabiskan waktunya menyempurnakan bagian pembuka dalam karyanya. Karena ia tahu, tanpa pembuka yang baik, orang akan sulit tertarik membaca tulisannya lebih lanjut sampai habis. Dalam jurnalisme, kita kenal bagian ini dengan istilah “lead”, yang memuat gagasan utama tulisan dan sekaligus membuat pembaca makin penasaran.

Ketujuh, ‎penulis yang baik sanggup melarutkan diri dalam kisah yang mereka tuliskan. Ini berkaitan erat dengan totalitas dan fokus dalam berkarya. Mereka menulis dengan sepenuh hati, bukan hanya mencari uang atau memenuhi tuntutan editor dan pemilik modal.

Kedelapan, ketekunan selalu bersemayam dalam diri penulis-penulis unggul. Mereka sanggup bekerja sehari semalam untuk memberikan tulisan terbaik mereka.

Kesembilan, ‎mereka menyukai keteraturan terkait bahan tulisan yang akan digunakan karena mereka sadar pekerjaan akan jauh lebih mudah bila literatur dan sumber yang dibutuhkan dikelompokkan dengan baik.

Kesepuluh, penulis-penulis berkualitas “tega” untuk menulis ulang atau bahkan membuang bagian yang tak perlu. JK Rowling, misalnya, mengaku membuang bagian cerita tentang otopsi Barry Fairbrother dalam The Casual Vacancy meski sudah susah payah menulisnya selama berhari-hari hanya karena ia kemudian merasa bagian itu terlalu melenceng dari isi cerita.‎ Menyelesaikan draft pertama adalah sebuah langkah yang baik tetapi belum bisa disebut akhir proses kreatif penulisan. Menulis adalah menulis ulang, begitu kata seorang penulis. Buku-buku laris biasanya hasil dari penulisan ulang yang makin menyempurnakannya.

Kesebelas, mereka biasa membaca keras-keras tulisannya untuk mengetahui kejanggalan. David Sedaris membaca lantang hasil tulisannya sebelum menyerahkan ke editor atau penerbit. Sekali dua kali belum cukup. Belasan kali juga belum cukup kalau masih bisa diperbaiki lagi. Alasannya? Dengan membaca, kita bisa mengetahui seberapa mengalirnya kisah yang kita ceritakan dalam tulisan.

Keduabelas, penulis unggul suka bercerita. Elizabeth Gilbert mungkin contoh terbaik dari penulis yang begitu suka mengobrol tentang hal-hal konyol dan remeh temeh tetapi menarik dan menghibur. Ia kerap mengumpulkan anekdot-anekdot berharga dalam ingatan dan catatan hariannya untuk kemudian meleburkannya dalam karyanya. Daripada mentah-mentah menyuguhkan informasi dalam pola 5W dan 1H, ia memakai gaya bercerita yang mengalir dan menarik karena tulisannya padat dengan narasi, anekdot, kronologi dan suasana yang detil.

Ketigabelas, ‎penulis yang baik mampu memberikan keseimbangan antara memuaskan idealisme diri dan selera pembacanya. Mereka berusaha menarik tanpa harus menjadi orang lain dalam tulisannya.

Keempatbelas, penulis berkualitas tahu ia tidak bisa terjebak dalam satu gaya penulisan selamanya. Ia mau mengeksplorasi diri dengan mencoba berbagai bentuk dan gaya menulis. Dengan keluar dari zona nyaman itulah, ia akan memperkaya pengalaman dan ketrampilan menulisnya.

Itu semua menurut Clark adalah ciri-ciri umum penulis yang berkualitas. Dan menurut saya masih ada satu lagi ciri lainnya, yaitu kemampuan bekerja di dalam berbagai kondisi apalagi jika mereka diburu waktu. Mereka tidak memiliki ketergantungan yang begitu mengganggu pada suatu hal, dari kafein sampai keharusan menulis di tempat dengan kondisi tertentu. ‎ Kita tentu pernah menjumpai penulis-penulis eksentrik yang hanya bisa bekerja di dalam suasana tertentu atau dengan alat menulis tertentu. ‎Ini hanya akan menghambat produktivitasnya sebagai penulis.

Jurnalisme Emosional

‎Era media baru yang ditandai dengan inovasi-inovasi teknologi yang memudahkan siapa saja membuat publikasi mereka sendiri (via blog, self publishing, dll) membuat norma-norma jurnalisme konvensional mau tidak mau, cepat atau lambat harus bergeser. Terjadi friksi, tumpang tindih, perselisihan di antara para wartawan dan blogger (narablog) yang saling mengklaim bahwa kelompok atau aliran atau medianya adalah yang paling baik. Fenomena ini sungguh menarik untuk diamati bila Anda adalah pewarta atau peminat jurnalisme media baru dan blogging.

Dalam pengamatan saya, ‎sekarang ini muncul sebuah aliran baru dalam jurnalisme:jurnalisme emosional. Para pelopornya adalah pendiri blog TechCrunch.com Michael Arrington, pendiri blog Pando.com Sarah Lacy, dan Kara Swisher yang mendirikan Recode.net. Mereka inilah orang yang membuat terobosan dengan memanfaatkan kanal penerbitan digital semacam blog dan jejaring sosial sebagai pengganti. Mereka membuat dunia jurnalisme menjadi lebih segar, tidak melulu menampilkan onggokan hasil wawancara, fakta dan data. Jurnalis-jurnalis kampiun media baru ini juga memiliki kepribadian (personality) dalam menyampaikan isi kepala mereka mengenai sebuah isu.

Beda yang pertama dan utama aliran jurnalisme emosional ini ialah mereka tidak segan menggunakan kata “I” (saya) dalam berbagai tulisan. Ego mereka memang besar dan mereka tidak menggunakan bahasa yang formal dan kaku bak pewarta media lama yang kerap menghiasi halaman surat kabar. Gaya menulis mereka sangat berkebalikan dengan gaya menulis wartawan di situs-situs berita mapan seperti BBC.co.uk dan VOANEWS.

Karena besarnya ego itulah, jurnalis-blogger di sini diperkenankan (baca : sangat didesak) untuk‎ menunjukkan kepribadian mereka secara blak-blakan. Arrington dan Lacy, misalnya, tidak malu menulis dengan nada memojokkan atau menggunakan kata kasar semacam “f*ck”. Swisher juga terlihat sangat liberal dengan penggunaan kata-katanya di berbagai kesempatan publik meski di tulisannya agak lebih terkendali. Emosi yang menjadi bagian dari watak manusia justru harus dipertontonkan di jurnalisme emosional dan media baru. Padahal di jurnalisme kolot, emosi sebisa mungkin dihindari agar tidak mencemari fakta yang disajikan pada pembaca. Jurnalis adalah mesin penyaji fakta dan peristiwa, tidak dianggap memiliki kepribadian atau sikap atau emosi yang manusiawi. Dalam jurnalisme emosional, justru kepribadian dan emosi harus dieksploitasi karena inilah komoditi.

Kecepatan juga menjadi prioritas di jurnalisme emosional. Sarah Lacy sendiri mengkritik bahwa dunia jurnalisme teknologi akhir-akhir ini menjadi semacam perlombaan bagi jurnalis-jurnalis agar bisa menghasilkan konten baru tentang pernyataan pers yang sama “lebih cepat dua detik” daripada para pesaingnya. Agar jurnalisme tidak semata-mata menjadi lomba kecepatan “salin tempel” (copy paste), ia menyarankan untuk menulis ulang pernyataan pers yang dikirimkan oleh startup atau berita apapun yang sudah ada agar konten yang disajikan lebih segar dan memiliki nilai tambah. Saya amati sendiri metode penulisan di Pando.com yang ia bawahi cukup menarik, karena kontennya lebih kaya referensi dari berbagai sumber. Banyak hyperlink menuju ke laman-laman lain yang bisa memperluas pandangan dan wawasan sehingga bias dalam penyampaian bisa ditekan.

‎Hal lain yang turut membedakan jurnalisme emosional ialah minimnya intervensi tim editorial. Di Techcrunch misalnya, menurut Eric Eldon (mantan editor Techcrunch) sebagaimana dikutip laman Poynter.org di artikel “Techcrunch’s Alexia Tsotsis‎: ‘I Like the Emotional Part of the News’, blog itu tidak memiliki proses ulasan editorial yang formal seperti halnya di media lainnya. Tetapi inilah yang membuat Techcrunch sanggup bertengger di peringkat teratas Techmeme Leaderboard. Artikel-artikel blogger mereka kerap mendapat kecaman, sindiran, olok-olok, karena dianggap bukan pekerjaan jurnalistik yang sesuai pakem. Namun demikian, mereka malah makin berjaya. Salah satunya menurut saya adalah karena blogger-blogger di Techcrunch menulis dengan gaya pribadi mereka sendiri. Dan mereka diberikan ruang yang hampir tanpa batas untuk itu. Begitu bebasnya ruang itu, sampai Tsotsis sendiri mengaku pernah menulis dan mempublikasikan artikel dalam kondisi mabuk setelah minum anggur. “Fuckers I am so sick of reporting on incremental tech news for fucking two years now, so sick I’m pretty much considering reverting full-time to fashion coverage,”tulis Tsotsis yang mabuk di sebuah malam Minggu di Techcrunch. Tulisannya langsung menuai kritik dan kecaman pedas.

Sarah Lacy yang juga pernah bekerja di Techcrunch menyoroti lemahnya pengawasan editorial di media baru seperti Techcrunch dan menerapkan penyempurnaan ‎itu di Pando. Penyuntingan naskah (copy editing) ia anggap sebagai bagian integral penerbitan sebuah artikel hingga pantas dibaca khalayak. Lacy mengatakan sendiri misinya adalah menggabungkan sisi posisif media lama dan media baru. Dan tampaknya ia belajar banyak dari kebebasan yang terlalu tinggi di Techcrunch.

Semua plus minus itulah yang membuat jurnalisme emosional ini menjadi begitu seksi, menantang persis seperti Alexia yang dulunya berprofesi sebagai model. Karena mereka mendobrak aturan formal yang sudah ada, dan makin dicerca, mereka makin disuka juga. Berita yang mereka sampaikan seolah menjadi lebih manusiawi dan tidak mengada-ada. ‎Saya menduga ada kriteria khusus supaya seseorang bisa sukses di jurnalisme emosional seperti ini. Mereka adalah orang-orang yang bersedia menerima kecaman kejam tanpa henti dari troll virtual yang kapan saja bisa meninggalkan komentar pedas di kotak komentar.

Di Indonesia, sepengetahuan saya belum ada yang benar-benar bisa merealisasikan jurnalisme emosional ini. ‎Dibutuhkan orang-orang dengan keberanian seperti Ruhut Sitompul atau Farhat Abbas untuk memancing emosi pembaca tetapi tentu saja, dengan memiliki kepribadian yang unik dan penampilan yang lebih menarik dari keduanya.

{image credit: Alexia Tsotsis/ Business Insider}

Jika Menulis Jadi Otomatis (Tren Robot Penulis Berita)

Berhati-hatilah dengan impian dan harapan Anda. Begitu kata pepatah dari negeri China. Jika Anda bekerja sebagai pewarta, dan Anda pernah mengeluhkan betapa beratnya beban kerja Anda selama ini (misalnya karena harus turun ke lapangan, mengejar narasumber, menjalani piket/ shift malam dan dini hari yang membuat jam tidur kacau balau) dan ingin proses membuat berita menjadi semudah mengayunkan tongkat sihir dan mengucapkan mantra, selamat! Impian Anda sudah terwujud.

Beberapa waktu lalu saya pernah membaca sebuah artikel tentang bagaimana menulis buku yang praktis, yang ternyata dilakukan dengan bantuan software tertentu. Saya anggap ‘inovasi’ itu sungguh absurd. Jikalau memang teknologi semacam itu akan marak nantinya, tak serta merta ia bisa menjamin kualitas buku yang dihasilkan. Tetap saja harus ada campur tangan manusia dalam prosesnya. Otomatisasi tidak akan bisa seratus persen menggeser peran penulis dan segenap intelejensia, pengalaman, gagasan dan emosi mereka yang khas dan tiada duanya. Inilah yang tidak akan bisa dimiliki oleh buku-buku yang dihasilkan dengan mekanisme otomatis semacam itu, terka saya. Intinya, software itu tetap tidak bisa menggantikan peran para penulis buku fiksi dan non-fiksi.

Itu pula yang terpikir saat saya mengetahui dua media di Amerika Serikat mulai mengadopsi teknologi dalam proses penyusunan berita mereka dengan lebih inovatif. Los Angeles Times dan Associated Press dikabarkan telah menerapkan robo-journalism dalam proses produksi artikel berita mereka.

Sejak Maret 2014 media Los Angeles Times, yang menjadi pers lokal bagi kota Los Angeles yang dikenal sebagai kota yang kerap digoyang gempa bumi, menghadirkan inovasi berupa Quakebot, sebuah software karya Ken Schwencke yang selain bekerja sebagai jurnalis juga adalah seorang programmer andal. Konon hanya diperlukan waktu 3 menit untuk menyusun sebuah artikel berita gempa, yang relatif lengkap dan memenuhi syarat jurnalistik 5W (who, why, what, where, when) dan 1H (how).

Sementara itu, Associated Press sejak bulan Agustus 2014 telah menggunakan software penulis berita Wordsmith buatan startup Automated Insights yang bertugas merangkum berbagai laporan finansial korporasi. Dengan Wordsmith, tugas pewarta AP jauh lebih ringan. Bila dikerjakan manual, pastinya akan lebih memakan waktu dan energi. Dalam kasus AP, teknologi diperlukan untuk efisiensi kerja dan penyajian berita.

Bagaimana proses software Wordsmith mengolah berita hingga siap saji? Pertama, data mentah dijaring dari pelanggan, penyedia data pihak ketiga dan repositori publik seperti jejaring sosial. Banyak sekali format data yang bisa dijaring sehingga akurasi dan kelengkapannya relatif tinggi. Selanjutnya, dilakukan telaah data yang terkumpul dengan bantuan matriks canggih pendeteksi tren menarik dan menempatkannya dalam konteks sejarah. Kemudian data akan diidentifikasi dan dibandingkan dengan data lain yang sudah ada sebelumnya. Tahap berikutnya yaitu penyusunan struktur dan format laporan. Di sini, algoritma akan menyusun kalimat-kalimat untuk menghasilkan jenis format berita yang dikehendaki, misalnya narasi panjang, artikel pendek, visualisasi, tweet, berita dan sebagainya. Akhirnya, laporan tadi siap dipublikasikan secara real time via API, Twitter, email, laman web dan perangkat digital. Tugas editor hanya memberikan polesan akhir agar artikel tampak natural saat dibaca.

Kalau begitu mudah membuat berita sekarang, apakah para jurnalis tidak lagi dibutuhkan di masa datang? Editor pelaksana berita bisnis Associated Press Lou Ferrara tidak sepakat. Ia beropini bahwa robo-journalists ini justru memberikan banyak jurnalis manusia untuk melepaskan beban pemberitaaan yang simpel untuk lebih berfokus pada penyusunan berita-berita yang lebih mendalam. Argumen Ferrara menurut hemat saya memang cukup beralasan. Alih-alih membuat jurnalis kehilangan pekerjaan, inovasi robo-journalists justru harus dianggap sebagai pembebas dari rutinitas menulis berita yang membosankan dan itu-itu saja. Jurnalis tampaknya memang makin didesak untuk bisa berpikir dan menulis dengan sudut pandang yang khas dan pembahasan yang lebih analitis karena inilah yang tidak bisa dilakukan robot-robot itu!
Mengamini pernyataan Ferrara, Ken Schwencke dari LA Times juga menandaskan bahwa robo-journalists hanya melengkapi keberadaan human-journalists. Justru inovasi ini akan “membuat pekerjaan semua orang lebih menarik”, ujarnya.

CEO Automated Insights Robbie Allen juga memberikan pernyataan serupa, bahwa software buatannya bukan dirancang sebagai pengganti jurnalis manusia. Allen menambahkan kelebihan robo-journalists hanya ada pada ketepatan dan kecepatan pengolahan data. Sementara gaya bahasa, gaya penulisan dan sebagainya cuma bisa dihasilkan oleh human-journalists. Tugas robo-journalists jelas hanya menyajikan data agar lebih cepat dan layak baca. Titik.

Karena itu, jika Anda seorang pewarta yang setiap hari hanya bekerja untuk menyalin tempel artikel berita atau cuma menyadur tanpa membubuhkan kepribadian Anda di dalamnya, rasanya Anda harus siap-siap ditelan persaingan oleh robo-journalists ini.

Saya teringat dengan kata-kata jurnalis teknologi AS Kara Swisher, bahwa banyak jurnalis menyajikan berita dengan cara yang membosankan pembaca. Besar kemungkinan kemunculan robo-journalists akan memberangus jurnalis-jurnalis semacam ini, karena seberapapun cepat otak mereka bekerja dan jari jemari mereka mengetik, tetap saja tak akan bisa mengalahkan software-software seperti Wordsmith atau Quakebot. Maksudnya membosankan mungkin adalah penyajian yang mengikuti pola atau template tertentu, yang terus menerus berulang dan tak berubah. Alur cerita dalam berita juga relatif mudah ditebak. “Setelah itu, pasti membahas ini, ah basi,” begitu gumam pembaca. Tidak heran mereka juga bekerja seperti robot! Pastilah penyajiannya lebih kaku.

Dan satu poin yang menjadi perhatian bagi mereka yang mengaku jurnalis – bila mereka tak ingin tersingkir – adalah perhatian yang harusnya makin besar untuk membangun pemikiran sendiri dan tidak segan untuk menunjukkan kepribadiannya. Elemen kepribadian ini menjadi sorotan terutama jika Anda bekerja sebagai jurnalis online atau blogger. Tanpa kepribadian yang unik, karya-karya Anda akan kurang menarik minat pembaca. Bahkan jika kepribadian itu sangat sarkastis, atau emosional sekalipun, jangan ragu untuk menampilkannya dalam tulisan Anda. Karena kepribadian inilah yang sampai kiamat pun tidak akan bisa dimiliki oleh robo-journalists yang secanggih apapun. Contohnya, kata Swisher, adalah para jurnalis cum blogger teknologi di TechCrunch.com pasca keluarnya Michael Arrington, Sarah Lacy cs. Meski blogger-blogger TechCrunch itu kerap diremehkan dengan alasan memiliki bias atau sikap kurang objektif serta kurang piawai menggunakan prinsip jurnalisme dalam penulisan konten mereka, toh orang-orang itu sanggup menunjukkan kepribadian mereka yang menarik via jejaring sosial dan konten-konten yang mereka tampilkan. Tentu saja kata “menarik” di sini bersifat nisbi. Namun, yang patut digarisbawahi adalah bahwa kepribadian mereka menjadi salah satu faktor daya jual atau selling point yang turut mengungkit pamor konten berita yang disusun.

Jadi apakah masih ingin menjadi wartawan biasa-biasa saja? Itu terserah Anda. Namun alangkah baiknya bila mau berubah sebelum binasa.

%d bloggers like this: