Yogi Harus Berani Lawan Gravitasi

17795749_10210578405393721_731692790818310210_n

TUJUH tahun lalu tidak terbersit dalam benak saya untuk mempelajari, menekuni apalagi membagikan nilai dan pelajaran positif yoga ke banyak orang. Saya justru lebih tertarik pada biola. Untuk itu saya rela merogoh kocek untuk melego sebuah biola murah untuk pemula yang saya setiap akhir pekan mainkan di Taman Suropati, Menteng.

Tiga bulan berlalu. Saya terus belajar biola tetapi tak kunjung ada kemajuan berarti pula. Sementara itu, teman-teman selevel saya yang masih duduk di bangku SD sudah melesat. Mereka bermain lebih lincah, terampil, dan memukau.

Mulanya saya tak bergeming. Saya terus berlatih, dengan harapan akan terjadi perubahan suatu hari. Saya akan bisa menggesek lebih piawai, dan bisa menempatkan jari jemari dengan lebih lincah di papan senar yang sempit dan panjang itu.

Saya terus berusaha. Tanpa putus asa.

Hingga suatu pagi, saya datang lebih awal sebelum pelajaran biola saya dimulai. Sembari menunggu, saya kitari taman tersebut. Karena ada sebuah kerumunan yang tidak lazim, saya pun tertarik. Seakan ada daya tarik atau gravitasi yang menghisap saya untuk mendekat dan rekat.

Sekelompok orang sedang berlatih yoga. Jumlah mereka tak banyak. Hanya empat atau lima. Di lain hari kadang hanya dua, yaitu saya dan gurunya.

Saya sendiri merasa hati ini makin lekat dengan yoga sampai satu ketika saya putuskan untuk meninggalkan biola saya di kamar (dan masih menyimpannya di pojok kamar hingga detik ini) dan pergi ke Taman Suropati di Minggu pagi dengan satu niat: berlatih yoga saja. Saya sudah bisa legawa menerima fakta bahwa biola bukan bakat terbaik saya. Yoga terasa lebih masuk akal dan ‘klik’ untuk saya. Saya tidak memakai logika untuk memutuskan hal ini. Cuma mengandalkan naluri.

Saya sadar bahwa yoga bukanlah olahraga (dan olah pikiran dan jiwa juga sebetulnya) yang populer di antara kaum pria. Apalagi di tahun 2010, saat para pelaku yoga pria belum sebanyak sekarang. Yoga masih diasosiasikan sebagai olahraga yang feminin. Para pelakunya kebanyakan ibu-ibu paruh baya yang ingin menyulap badan menjadi langsing; bukan pria-pria yang ingin menyehatkan diri dengan cara lebih alami dan hanya memakai berat tubuh. Dan meskipun masih ada, asumsi  semacam ini makin luntur sekarang.

Keputusan menekuni yoga mirip perjuangan melawan gravitasi yang menarik mayoritas orang untuk berpikir seragam dan penuh prasangka, tanpa mau mencoba sebelum memberi cap, terhadap hal-hal apapun di sekitar kita.

Tiba-tiba saya sadar bahwa untuk menjadi sebuah sumber gravitasi baru, kita perlu pertama-tama memiliki keberanian untuk melawan gravitasi lama yang menjadi status quo.

Dan yoga memberikan saya sebuah celah peluang untuk menilik lebih jauh ke dalam diri saya sehingga saya memahami potensi diri daripada menuruti keinginan yang sering belum sesuai dengan realitas. Sejak itu, saya mendedikasikan diri untuk yoga dan komunitas yang telah membesarkan saya hingga seperti sekarang.

12733599_10206965683397929_2548702930890611255_n.jpg

Soal menentang daya tarik bumi, dalam yoga, saya bisa menemukan filosofinya. Kita bisa jumpai banyak postur yang masuk dalam jenis inversion (posisi badan terbalik). Misalnya pincha mayurasana (pose merak) seperti pose dalam foto di atas. Pose-pose semacam ini konon membuat darah lebih terpacu deras ke otak, sehingga aliran darah otak lebih lancar, daya pikir lebih tajam, lebih bersemangat sebelum memulai aktivitas yang padat. Ditambah dengan kegemaran membaca, yoga seakan menjadi pelengkap yang harmonis untuk memperkaya intelektualitas, daya pikir dan wawasan mengenai berbagai hal dalam kehidupan.

Postur-postur inversion mengajarkan kita keberanian untuk berdiri tegak saat memiliki sebuah opini, pemikiran, pandangan yang dianggap orang-orang di sekitar kita kurang lazim, kurang populer, dan kurang keren tetapi kita yakini sebagai sesuatu yang baik dan positif bagi perkembangan diri kita, untuk kemudian memberikan pengaruh positif itu pada sebanyak mungkin orang di sekitar kita.

14519787_10208858301712204_7095540187430850385_n.jpg

Yoga melalui postur-postur serta filosofi di baliknya juga mengajarkan pada saya bagaimana hal-hal yang tampaknya aneh sebetulnya memiliki manfaat di baliknya. Gerakan-gerakan yang menurut banyak orang lucu, janggal, konyol, atau “kurang kerjaan” karena dianggap di luar kewajaran ternyata menyimpan manfaat kesehatan yang tidak bisa diremehkan begitu saja. Ambil contoh postur satu kaki di belakang kepala di atas, yang terlepas dari keanehannya, mampu melonggarkan dan meregangkan sendi pinggul yang kaku setelah seharian bekerja, duduk selama minimal 8 jam di kantor. Perlu diketahui bahwa area pinggul menyimpan banyak tekanan dan beban dalam posisi duduk seperti ini. Jadi, bukan hal aneh lagi jika para pekerja kantoran banyak yang berpinggul kaku. Bahkan mereka yang masih muda sekalipun!

Dan setelah saya belajar yoga, saya simpulkan bahwa keanehan dalam diri kita justru bisa menjadi kelebihan yang berperan sebagai gravitasi yang menarik orang-orang dengan visi dan pemikiran yang sama untuk berkumpul dan mengadakan sebuah gerakan sosial yang besar.

15492334_10209604009754439_6707191168054862567_n.jpg

Kini saya masih aktif berkegiatan di Komunitas Yoga Gembira, Taman Suropati, Menteng, yang menjadi tempat saya mengenal yoga pertama kali tujuh tahun lalu. Dan untuk menyebarkan kampanye hidup sehat melalui yoga di ruang terbuka hijau di area perkotaan, saya juga dituntut berperan sebagai penanggung jawab media sosial dalam komunitas. (*)

Yoga Gembira di @5thiccefe (5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo)

‎Yoga Gembira hadir menyemarakkan 5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo yang digelar hingga esok hari di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Agenda besar acara tersebut sendiri sangat sesuai dengan salah satu misi komunitas Yoga Gembira untuk mendekatkan warga urban dengan alam (baca : bumi) dan menjaga kelestariannya, sebagaimana dinyatakan Yudhi Widdyantoro sebagai inisiatornya.

ICCEFE kelima ini memberikan manfaat edukasi yang tinggi mengenai peningkatan kesadaran dan partisipasi semua orang mengenai isu perubahan iklim. Seperti dikatakan Utusan Khusus Presiden tentang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar Jumat (15/5/2015) lalu saat meresmikan acara, ini semua akan percuma jika masyarakat di akar rumput tidak melaksanakan. Perubahan iklim dan antisipasinya bukan tugas kelompok elit, pemerintah, atau pembuat keputusan semata tetapi juga kita semua sebagai pelaksana di lapangan.

Bagi Anda yang kebingungan harus ke mana akhir pekan ini, kunjungi saja JCC di Senayan, Jakarta. Besok hari terakhir dan jangan khawatir akan bosan di dalamnya, karena ada banyak booth peserta pameran yang memberikan game menarik dan hadiah, seperti booth pemerintah DKI Jakarta yang membagikan ‎power bank untuk para peserta kuis yang menjawab pertanyaan dengan tepat.

Beryoga di #CommunityFestival2014 @ForumICITY

‎Lagi-lagi foto yoga. Begitu mungkin gumam Anda. Hanya saja kali ini agak berbeda karena saya berada di Parkir Selatan Senayan, Jakarta.

Dari pagi, ada berbagai sajian musik menarik di Lounge. Komunitas Yoga Gembira juga hadir di sini untuk menyemarakkan ajang berkumpulnya komunitas-komunitas di Jakarta dan sekitarnya.

Meski cuaca agak menyengat, para pengunjung makin ramai menyaksikan pertunjukan musik yang disuguhkan. Setelah The Rain dan Klanting, ada pertunjukan beatbox solo yang memukau oleh Jakarta Beatbox dan Ada Band.

Komunitas-komunitas ini dikelompokkan menjadi beberapa kategori: Creative, Gadget, Lifestyle, Automotive dan Sport.

‎Di kategori otomotif, hadir Mobility Indonesia Community, Yaris Club Indonesia, W203Ci, ERCI (Ertiga Club), Vespa Community, Scooterhood.

Di kategori sport, Anda bisa temukan Retro Series, PB Indobarca, CISC, Milanisti Indonesia, Real Madrid Indonesia, United Indonesia, Interclub Indonesia, United Army, ISAT Venturer.

Bagian Creative mencakup Komunitas Emak Blogger, Komunitas Fotografi Indonesia, Ayo Foto, Gen C, Womenpreneur Community, E2P, Komunitas Historia, Komunitas Organik Indonesia, Wedha Pop Art Portrait, Indonesia Zombie Community, ‎Sahabat Taman Hijau Ceria, Karya Raya, Peri Kertas, Djiphantom Indonesia (Drone).

Penggemar gawai atau gadget bisa berkerumun di bagian Gadget ‎dengan ID Phone, ID Android- Gadtorade, MIFans dan sebagainya.

Yoga ‘Escapism’ and Dealing with Life Ordeals

A yogi friend claims yoga classes and retreats as a way to escape from unwanted facts, flee bitter reality. Yoga escapism, as I may call it, is the current trend. Most ancient yogis did yoga for the sake of religious and spiritual devotion. They shunned temporary worldly pleasure and traded that with internal peace, equinanimity of soul, mind and lastly body. Yet, urban yogis and most of the practitioners these days do not practice yoga for such unwavering devotion we might see in the past in India.

Is yoga escapism wrong? I am afraid I cannot tell you for sure if it is or is not wrong. Who am I to judge other people’s practice? As for me, I like yoga as a pastime, that diverts my mind and body from the mundane, monotonous corporate world full of workloads to a private kingdom of mine. It is much like my Narnia, a vast unknown world hidden in the closet, where I am on my own, undisturbed, unagitated.

Yoga though really helps some people deal with their own internal ordeals. I said internal because yoga mostly aids us to fix the intermingled thoughts, emotions and short and long-term memory. External issues cannot be fixed by yoga, but by strengthening and empowering your souls with yoga, overcoming external challenges and tasks feel a lot more smoother. No more crankiness, overwhelming anxiety, unpredecented fear or paranoia. Yoga may improve your quality of vision towards the world, inside out. And this is a lifelong practice, which involves not only asanas practices but also coming to deeper and better understanding of our Self, these souls. This is what sets yoga apart from other types of workout.

Today, a friend taught her class with this sort of spirit, to feel more what is happening inside rather than outside. I saw her change after losing her elder brother. She may not be as chatty or cheerful as before but certainly there is some better perspective towards her surroundings she is showing to us now. And I saw in her how yoga has helped her so much deal with the ordeals, the loss and the depression following the sudden loss.

Whatever I think yoga is to me – whether it be a confidential sanctuary to escape or a practice to fortify myself to cope with the cruel reality or a workout to help me restore my physical health and well being – one thing I believe is that yoga helps me feel more, think more only now with better clarity of mind, make sense how the universe works.

So while you are at that, switch off the gadgets, get on your mat, sit for a while and close your eyes. Breathe and feel the pain or joy or any feelings and thoughts appearing and vanishing inside your head.

Open your eyes and now get back to reality!

20140622-124429-45869571.jpg

Dari Yogfest 2014

IMG_20140420_142704[1]
Kelas Flexibility 101 dengan Decky Karunia. Ini instruktur hebat banget, karena bisa ngajari orang jadi tambah lentur. Tidak cuma lentur sendiri.
Saat saya bertemu dengan Yudhi Widdyantoro di suatu pagi di Taman Suropati pada bulan Desember 2010 yang basah itu, saya masih dilanda flu berat. Alhasil, saat saya diajari teknik pernapasan kapalabhati sambil duduk di taman dan dilihat beberapa anak kecil yang sangat ingin tahu, ingus itu keluar semua. Memalukan memang, tetapi bermula dari situ, saya akhirnya mengenal yoga perlahan-lahan.

Keteraturan saya berlatih di Taman Suropati juga bukan serta merta terjadi begitu saja. Mulanya saya lebih tertarik dengan kelas Biola di alam terbuka yang diadakan Taman Suropati Chamber di pagi hari sampai siang. Apa daya, setelah beberapa bulan latihan, saya menyadari bahwa bermain Biola bukan ‎kelebihan utama saya. Mungkin saya bisa melakukannya tetapi prosesnya akan lebih lama dan sulit, dan sebagai orang dewasa, saya sudah terlambat. Ini sama saja belajar dan mengenal bahasa asing di usia dewasa. Prosesnya akan lebih menantang dan membutuhkan banyak waktu. Dan saya tidak bisa berlatih sepanjang waktu yang saya mau di kamar untuk menggesek Biola karena semua orang akan mengeluhkan nadanya yang sumbang.

Tidak demikian dengan yoga.

Akhirnya dengan berbekal alas seadanya (selembar spanduk bekas), saya masuk dan ikut kelas yoga bersama di Taman Suropati sejak itu. Sebelumnya saya sudah membeli buku Leslie Kaminoff tentang yoga dan saya sangat antusias mengenai bagaimana melakukan yoga. Dan ternyata memang amat sangat mengasyikkan. ‎Sungguh!

Tanpa sebuah kartu anggota atau pengangkatan resmi, saya pun menjadi bagian dari Komunitas Yoga Gembira. Di sini, saya menemukan passion kedua saya setelah menulis. Tuhan dan semesta berkonspirasi untuk membuat saya belajar dengan cepat. Saya tak merasa sedang belajar karena komunitas ini begitu menyenangkan. Saya tak pernah berpikir menemukan suasana seperti itu di tengah Jakarta yang kalau saya simak dari media TV hampir selalu dikatakan kejam, ‘kering’, dan mengerikan. Taman inilah yang menjadi oase yang menjadi tempat pengungsian mental dan spiritual saya di akhir pekan.

Tahun demi tahun berlalu, dan saya masih berlatih yoga di Taman Suropati, tetapi kali ini tidak beralaskan spanduk bekas tetapi sebuah mat yoga biru hadiah seorang guru yoga yang tahun lalu menjadi guru yoga saya di Indonesia Yoga School: Koko Yoga. ‎Saya tidak pernah tertarik mengikuti yoga di kelas yang ramai di studio atau pusat kebugaran. Entah mengapa tetapi rasanya saya memang bukan penyuka gym dan sebagainya. Latihan bersama komunitas ini sudah saya anggap cukup karena toh saya masih bisa berlatih kapan saja sendiri di kamar, sebuah kelebihan yoga dibandingkan olah tubuh lainnya.

Kemudian Yogfest 2014 digagas.

Hingga sebulan sebelumnya, semuanya terasa masih mentah. Persiapan masih panjang padahal beberapa pekan lagi acara diadakan.

Sungguh sebuah keajaiban memang jika dilihat dari skala komunitas yoga kami yang kecil ini, semuanya bisa terlaksana dengan relatif baik di tanggal 18-20 April yang lalu. Mengagumkan sekali menyaksikan komitmen Yudhi Widdyantoro, Lusia Ambarwati (Uci), Agustine (Lily), Erico, Dwi Budi Susetyo, Nina Avrianty, Dandi dan Tarita serta semua teman-teman yang terlibat terhadap terselenggaranya Yogfest 2014 sampai sukses. Tujuan mereka sederhana saja: menyebarkan manfaat baik yoga ke siapa saja yang merasa tertarik. Saya hanya sedikit bisa menyumbangkan tenaga dengan menjadwal giliran kerja 8 relawan yang berperan sebagai narablog dan fotografer.

Pengalaman saya yang minim sebagai awak media center di sebuah acara sebesar itu membuat saya harus belajar sambil melakukan (learning by doing) semua tugas di Yogfest 2014. ‎Sampai kepayahan saya harus menyiasati agar semua kelas terliput oleh narablog karena kami harus memberikan reportase singkat. Saya harus melakukan tugas yang tidak sedikit: membuat promosi media sosial untuk tiap kelas, mengumpulkan foto dan tulisan yang masuk, mengunggah foto dan berita singkat ke jejaring sosial Twitter dan Facebook, meramu foto dan tulisan menjadi artikel di situs yogagembira.com. Terdengar mudah tetapi jika Anda harus melakukannya sambil diburu waktu dan dibanjiri oleh puluhan foto sekaligus, Anda pasti akan berubah pikiran. Waktu penyelenggara yang bertepatan dengan hari libur juga membuat kami harus memaklumi jika ada relawan yang absen atau memiliki acara pribadi.

Ketegangan bisa muncul sekonyong-konyong saat komputer dan printer tidak mau terhubung sehingga aktivitas terhambat. ‎Laptop saya yang hanya memakai Windows 7 tidak bisa ‘mengajak bicara’ printer HP milik Erico dan kami pun panik. Bolt milik Nina juga gagal terhubung dengan laptop saya saat hendak dipakai, tetapi untung saja ada modem Smart milik Erico yang berfungsi mulus. Dua hari kami harus berjibaku dengan hujan di lokasi sehingga saya juga ikut cemas dengan kekuatan sinyal dan koneksi Internet. Untunglah tidak terjadi hingga acara usai karena jika modem itu berulah, tumpuan kami untuk bekerja dengan lancar tak ada lagi. Habislah kami.

Lalu saat media center kami kedatangan wartawan media besar seperti Silet, Tempo, Antara dan sebagai‎nya, kami harus kelabakan mencari kartu identitas media ekstra karena jumlah peliput melebihi perkiraan semula. Semua karena kehadiran Anjasmara Prasetya, aktor yang kini juga menekuni yoga itu. Kami bersyukur dengan kehadirannya, karena itu artinya makin banyak orang akan mengetahui yoga dan acara yang kami adakan.

‎Di hari ketiga, saya yang terpaksa ‘jaga kandang’ terus mencoba nekat meninggalkan pos dan mendelegasikannya ke relawan yang sudah selesai bertugas.

Kegilaan dimulai saat saya masuk ke salah satu kelas ‎di sore hari yang biasanya hujan deras itu. Saya ditarik masuk ke tengah lingkaran di kelas Ryan Purinawa Yoga dan saya diharuskan berasana dengan diiringi musik. Padahal saya hanya mau mampir melihat suasana kelas dan mencicipi latihannya sedikit setelah penat di hari sebelumnya duduk terus sepanjang hari. Ironis memang, panitia acara yoga malah tidak sempat yoga.

‎Semoga tahun depan Tuhan masih memberikan umur panjang untuk terlibat dalam acara ini lagi.

Yoga Gembira Community Featured on Dahsyat

image

No one thinks “Dahsyat” (literally means “magnificent”) as a serious TV program we yoga community should go to to spread our healthy and balanced lifestyle message. But what is the medium, if you can tell more people about the cause?

As you can see, Olga Syahputra was seen in pain doing navasana or boat pose assisted by Yudhi Widdyantoro, the initiator and co-founder of Yoga Gembira Community.

The night before that, Yudhi was called and asked to be there. On TV. Some commenters thought it was a bad idea. They wanted Yudhi to stay away from such vanity show but he insisted on being there to let people know about the thriving community based at Taman Suropati, Menteng, Central Jakarta. He was there. And it wouldn’t hurt anyway.

So once again it is not about what you have but how you can leverage what you have. He has got the chance and he did never let it go away.

Suatu Pagi di Cikini tentang Jakarta yang Lupa Jati Diri


image

Saya selalu menemukan keasyikan tersendiri saat mengamati hal-hal dari masa lalu. Misalnya dalam menikmati karya sastra, saya pernah begitu terkesima dengan karya Remy Silado “Cha Bau Khan”. Novelnya berlatar belakang Jakarta dan Semarang di era awal abad ke-20 saat masa kolonial Belanda.  Novel setebal ratusan halaman itu habis saya baca dalam 1-2 hari saja karena plotnya yang begitu ‘mengalir’. Dan yang paling menarik ialah bagaimana setiap kata di dalamnya membawa saya menuju ke kehidupan orang-orang di masa lalu, bagaimana mereka berkata, berpikir, dan berperilaku. Ada semacam ikatan emosional pula saat sebuah nama tempat disebut di dalam kisah novel itu. Jakarta, Semarang bahkan kota kelahiran saya Kudus disebut di sana. Ini membuat saya ‘tenggelam’ dalam cerita, yang membawa saya ke masa itu bak sebuah mesin waktu ala Doraemon.

Itulah yang saya rasakan hari ini di Cikini, sebuah kawasan yang menjadi salah satu pusat keramaian di Jakarta yang masih mempertahankan identitas khasnya sebagai bagian Jakarta tempo dulu. Di sinilah saya diajak oleh seorang teman yang secara kebetulan bertemu di acara yoga di Car Free Day hari ini bernama Janti (baca: Yanti) yang berparas ayu yang sekilas menurut mata saya memiliki darah campuran. “Janti orang Jawa kok,” sanggah seorang teman saya yang lebih mengenalnya. Ah bisa jadi saya salah menilai, seperti seseorang yang bersikukuh saya memiliki darah keturunan India, hanya karena mata saya yang lebar, muka lonjong dan bertubuh kurus serta berkulit sawo matang. Kemungkinan besar dia terlalu banyak membaca teks-teks yoga yang di dalamnya menampilkan foto-foto pria India dengan ketrampilan melipat tubuh yang mencengangkan.

Janti mengajak kami naik taksi dari kawasan Bundaran Hotel Indonesia yang penuh kemeriahan. Di antara begitu banyak taksi di luar zona CFD, ia menghentikan sebuah taksi Silver Bird yang melintas. Saya menghela nafas dalam sebelum masuk, karena saya terbiasa memakai jasa Blue Bird, ‘edisi terjangkau’ dari Silver Bird yang sebenarnya berwarna hitam, bukan perak. Sebuah pemberian nama yang menyesatkan memang. Dan seperti itulah kebanyakan nama-nama di Indonesia, contohnya nasi pindang yang sebenarnya tidak ada unsur ikan pindang sama sekali, lalu taoge goreng yang kecambahnya tidak digoreng tetapi direbus, dan Dewan Perwakilan Rakyat yang pada dasarnya hampir selalu tidak pernah mewakili rakyat. Yah, itu cerita lain yang bisa dibahas kapan-kapan.
image

Janti dan satu teman lain Jacklyn mengatakan ini baru pertama kalinya mereka keluar dan menikmati suasana CFD di Sudirman dan Thamrin yang rutin diadakan setiap hari Minggu teakhir di setiap bulan. “Padahal tinggal di Jakarta tapi belum pernah ke Car Free Day. Katrok yah,” canda Janti.

Taksi pun berhenti dan kami turun  di sebuah deretan bangunan tua khas peninggalan Belanda di jalan Cikini, Jakarta Pusat. Sebagian besar masih terawat baik.

Ia mengajak kami masuk ke dalam sebuah kafe yang berkonsep kedai jaman dulu. Makanan dan minuman tradisional dan kuno ala Indonesia dijual di sini, dari kue cucur, lemper, lepet, sangkulun atau ongol-ongol, nasi uduk, putu mayang, getuk, kacang bogor, biskuit kembang, sunpia,  hingga timus.

Saya ambil satu bungkus nasi uduk yang dibungkus dengan daun pisang. Dan untuk mendampinginya, saya pesan satu gelas kunyit asam suhu ruang. Si pelayan agak kebingungan, dan saya perjelas lagi, maksud saya tidak panas dan tidak dingin.

Saat Janti kembali ke kedai, ia menyapa 2 orang temannya di dalam dan mengajak mereka menemui kami. Mereka memperkenalkan diri sebagai Dharmawan Handonowarih dan Rico.

Percakapan pun mengalir kemudian di sofa berwarna merah menyala dan berangka kayu jati asli yang begitu nyaman di bokong. “Taman di Jakarta kebanyakan semen-semen ya,” ujar Dharmawan. “Iya, sayang sekali,” timpal Jacklyn. “Pilihan tanamannya juga stek,” keluh Dharmawan yang tampak rapi dengan kemeja meski di hari Minggu yang santai. Maklum, ia salah satu pemilik kedai unik ini.

Yudhi, pendiri Yoga Gembira di Taman Suropati, mengemukakan visinya untuk membuat setiap taman di Jakarta lebih hidup dengan salah satu caranya menggelar latihan yoga bersama sehingga sense of belonging mereka terbangun dengan sendirinya. “Dulu saat memulai kami dicurigai,” kata Yudhi.

Saya pikir seperti itulah saat kita semua ingin memulai sesuatu yang baru dan lebih baik. Pertama-tama publik akan bersikap skeptis, penuh kecurigaan dan sering pesimisme timbul. Semua ide yang baik dan baru harus menempuh tahap diragukan dan disepelekan bahkan dilawan hingga kelak ia benar-benar diakui lebih luas.

Keprihatinan dengan kondisi taman-taman kota menyeruak dalam obrolan santai kami yang diiringi musik keroncong yang memperkental atmosfer kedai ini. Dengan suasana yang mirip susunan ruang tamu dan ruang keluarga di rumah-rumah jaman Belanda yang langit-langitnya tinggi dan sirkulasi udaranya begitu lancar, Dharmawan mengajak kami menilik keadaan Taman Suropati sebelum seperti sekarang, “Taman Suropati lebih sejuk dulu. Sekarang karena ledakan penduduk Jakarta, dan makin murahnya harga kendaraan bermotor, dan diperbolehkannya kendaraan parkir di sekitarnya, akhirnya lebih panas,” ia bertutur.

“Taman di Menteng itu banyak lho. Taman kecil-kecil seperti Taman Sukabumi, Taman Kodok, Taman Lawang. Kalau taman di Jakarta Pusat seperti Taman Sari hanya banyak penjualnya. Ada juga Taman Chairil Anwar di Guntur yang di tengah pemukiman. Dulu ada ibu-ibu penjual nasi uduk enak di situ tetapi kini dibangun kantin-kantin kecil. Begitu juga Taman Daha, dulu bagus tapi semenjak diurus Pemda DKI jadi ga karuan,” kata Dharmawan yang tinggal di sebuah rumah di Ciledug yang ia desain dengan banyak ventilasi dan pohon di halaman depan rumah ala rumah tropis garapan arsitek Belanda. Tampak sekali wawasannya yang luas dan mendalam mengenai bangunan-bangunan kuno dan taman-taman di seluruh penjuru ibukota. Saya yang jauh lebih muda dan baru mengenal Jakarta lebih dekat selama 3 tahun terakhir belajar banyak darinya. Seketika saya memutar sebuah film dokumenter bisu hitam putih di benak saya, mencoba memvisualisasikan apa yang ia gambarkan.

Kondisi inilah yang masih dialami oleh sebagian warga Jakarta yang ingin memulai perubahan positif seperti komunitas Yoga Gembira. Sementara komunitas kami ingin Jakarta memiliki ruang terbuka hijau yang lebih luas dan terberdayakan serta masyarakat Jakarta yang lebih sehat fisik dan mental, Dharmawan, Rico dan Janti lebih memfokuskan diri pada pelestarian peninggalan sejarah Jakarta tempo dulu yang masih tersisa, seperti bangunan yang mereka sedang tempati sekarang sebagai kedai.

Tak hanya berhenti di situ, mereka juga ingin menggerakkan  kepedulian masyarakat terhadap kelestarian bemo, yang sudah diberhentikan pengoperasiannya karena dianggap sangat mencemari udara dan  menimbulkan kebisingan alias polusi suara.

Komunitas sejarah yang ada sekarang, kritik Dharmawan, hanya peduli pada romantisisme saja. “Mereka tidak mengedepankan kepedulian pada peninggalan bersejarahnya. Sekarang kan tinggal yang hancur-hancur kan,” timpalnya. Betul juga. Kalau hanya sisi nostalgianya yang disuguhkan, suatu saat apa yang mau diandalkan kalau warisannya sendiri sudah hancur termakan jaman?

Ia menyorot ketidakberdayaan pemerintah dalam melindungi peninggalan bersejarah. Semuanya tampak secara nyata dan jelas di muka umum, bangunan-bangunan kuno ditelantarkan hingga runtuh sedikit demi sedikit. Kita tahu tetapi sama juga tidak berdayanya, menurut saya. Beberapa di antaranya ialah sebuah gedung art deco sebelah Hotel Omni Batavia di Kali Besar ambruk. Sementara itu, ada juga gudang arsip yang makin memprihatinkan dan akhirnya dihancurkan sama sekali untuk dibuat ruko.

Sering kebijakan pemerintah juga sama sekali tidak mendukung upaya pelestarian peninggalan sejarah. Seperti apa yang dialami oleh Kafe Batavia yang mengalami penurunan pelanggan dan sempat ditawarkan untuk dijual di harian The Jakarta Post karena begitu frustrasinya sang pemilik dengan kondisi jalan di sekitar kafenya yang diubah-ubah oleh pembuat kebijakan sehingga konsumen pun lari. Banyaknya penjual asongan juga membuat suasana bertambah tidak kondusif. Citra kafe yang seharusnya baik menjadi miring karena daerah sekitarnya kurang mendukung. “Harusnya orang ke sana pakai nabung-nabung dulu karena restorannya yang mahal dan bagus tetapi karena sekitarnya begitu, sayang sekali,” katanya.

Padahal para turis itu juga mau melihat jati diri Jakarta, seperti apa Jakarta dulu. Itulah yang membuat Jakarta menjadi Jakarta. Sejarah yang membentuk Jakarta hingga seperti sekarang. Jejak-jejak seperti itu perlu dipertahankan. Janganlah dimusnahkan.

Salah satu elemen sejarah yang pernah melekat di riwayat perkembangan Jakarta ialah bemo. Kendaraan yang bentuk aslinya bahkan saya tidak kenali ini produk Daihatsu yang banyak digunakan di ibukota  hingga dilarang pemerintah DKI tahun 1996.

Pak Sukinong yang turut diundang ke kedai dan sempat berkenalan dengan kami  ialah salah satu sopir yang mengalami masa keemasan bemo. Kini dengan tekad membangkitkan kembali bemo dengan memodifikasinya menjadi kendaraan bertenaga listrik yang ramah lingkungan, Rico dan kawan-kawan menggandeng pak Kinong untuk menyempurnakan bemo listrik yang baru menjalani uji coba. Diharapkan dengan diperkenalkannya bemo listrik nanti, atmosfer historis Jakarta akan sedikit banyak kembali dan tetap mempertahankan kepedulian pada lingkungan. Suaranya jauh lebih halus dari bajaj, mesinnya lebih hemat biaya pemeliharaan.

Jacklyn sempat mempertanyakan aspek ramah lingkungan bemo listrik yang ia anggap boros energi. “Karena Jakarta menggunakan pembangkit listrik tenaga uap, kendaraan listrik lebih ramah lingkungan daripada penggunaan di daerah lain yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga bahan bakar fosil,” Rico berargumen. Untuk beroperasi sepanjang 40 km, bemo listrik membutuhkan Rp 22.000.

Untuk lebih meyakinkan hipotesisnya itu, seorang kawan Rico mengkonversi mesin mobil Hyundai Atoz-nya menjadi mesin mobil listrik yang serupa dengan apa yang dipakai bemo listrik. Hasilnya, klaim Rico, sangat menghemat anggaran pembelian bahan bakar. Untuk antar jemput anak, kini ia hanya mengeluarkan Rp 15.000 padahal sebelumnya ia menghabiskan Rp 500 ribu seminggu untuk beli bensin.

Berdasarkan pengakuan pak Kinong, keinginannya turut membantu kemunculan bemo listrik ini ialah agar pemerintah memiliki kepedulian lebih tinggi. “Karena selama ini kita…. Udah, polisi aja tutup mata tiap kita lewat,” ucapnya sambil menghela nafas. “Cuma ya masih bisa untuk mencari nafkah”, tambahnya.  Selama ini masih banyak yang memiliki bemo tetapi kebanyakan tak punya surat resminya. Kontribusi pak Kinong juga diharapkan bisa membuat bemo listrik nanti memiliki tampilan semirip bemo jaman dulu, minus kebisingan dan asap pekatnya. “Supaya budaya bemonya gak ilang,” kata pria yang tinggal di daerah Karet ini.