Mengenal Patanjali

Nama Patanjali sebenarnya sering kita temukan dalam buku-buku bertema yoga. Namun, sebetulnya tidak ada orang yang mengetahui benar-benar siapa itu Patanjali. Kita bahkan tidak tahu dengan pasti kapan ia lahir dan wafat. Sejumlah praktisi meyakini sang orang bijak ini hidup sekitar abad kedua SM (Sebelum Masehi). Ia menulis beberapa karya penting mengenai Ayurveda (sistem pengobatan India kuno) dan tata bahasa Sansekerta, sehingga tak berlebihan jika kita menyebutnya sebagai sesosok cendekiawan yang membawa Pembaruan (Renaissance) dalam peradaban masa itu.

Namun, berdasarkan analisis-analisis bahasa dan ajaran sutra-sutra (kitab) , para pemikir modern menyepakati bahwa Patanjali hidup di sekitar abad kedua atau ketiga Masehi dan menyatakan tulisan-tulisan mengenai pengobatan dan tata bahasa tersebut ditulis oleh “Patanjali” yang lain.

Seperti banyak kisah mengenai pahlawan spiritual dunia lainnya, kisah kelahiran Patanjali yang kita kenal dalam dunia yoga ini memiliki kandungan dimensi mitis (berciri mitos/ kisah fiksi zaman dulu). Stau versi menceritakan bahwa untuk mengajarkan yoga di muka bumi, Patanjali turun dari surga dalam bentuk ular mungil, menjelma sebagai tangan (posisi tangan yang kita kenal sebagai anjali mudhra) dari sang ibunda, Gonika, yang juga seorang yogini hebat. Di dalam versi ini, ia dianggap sebagai inkarnasi raja ular yang berkepala seribu bernama Shesha (Prima) atau Ananta (Tak Berujung), yang tubuhnya dikatakan menjadi singgasana Wisnu.

Jati diri asli Patanjali tampaknya memang dengan sengaja dikaburkan karena di masa lampau anonimitas sudah mendarah daging dalam diri orang-orang bijak India Kuno. Mereka mengakui bahwa pengetahuan dan pengalaman mereka adalah akumulasi hasil upaya kelompok yang sudah ada sejak banyak generasi terdahulu. Mereka menolak untuk mengakui hasil kerja itu sendiri dan lebih memilih untuk memberikan penghormatan pada guru-guru generasi sebelumnya. Anonimitas ini berbeda dari masa kini saat banyak guru yoga – entah sengaja atau tidak, mau atau terpaksa – menonjolkan diri, metode yoga dan sekolah mereka.

Mengapa Yoga Olahraga Ideal untuk Penulis

Salah satu olahraga (dan jiwa) yang ideal bagi para penulis ialah yoga. Ambil contoh pengarang termasyhur J. D. Salinger yang pernah melakukan kriya yoga. Salinger konon juga melakukan latihan pernafasan (pranayama) dua menit sehari dan bereksperimen dengan Ayurveda. Salinger mengenal yoga dari ajaran Swami Vivekananda, seorang sosok agamawan dan pemikir ulung dari Kalkutta yang mempopulerkan Vedanta dan yoga di Barat di akhir abad ke-19. Menurut Vivekananda, yoga bermakna satu:”Kesadaran akan Tuhan.”

Namun, yoga juga tidak hanya mengenai spiritualisme. Ia juga menyentuh aspek fisik dan keseimbangan jiwa raga agar manusia dapat berkarya dan berkegiatan dengan lebih baik. Mengapa yoga merupakan olahraga ideal untuk penulis? Ada delapan (8) alasan untuk menjelaskan argumen itu. Selamat menyimak!

ATASI SAKIT OTOT. Pose-pose yoga atau asana yoga memiliki dampak positif bagi kesehatan penulis yang sibuk di meja kerjanya. Sebagaimana kita ketahui, duduk berjam-jam membuat metabolisme tubuh berubah, memicu kegemukan, penyakit kardiovaskuler dan kondisi kesehatan menurun. Keluhan-keluhan ringan seperti sakit leher, bahu dan punggung juga bisa diatasi dengan menggunakan asana yoga yang tepat. Pose downward-facing dog, misalnya, bisa meregangkan kembali hamstring yang kaku akibat duduk. Jika dibiarkan, otot yang kaku itu akan memicu gangguan kesehatan yang lebih serius, membuat tubuh lebih kaku dan kurang bugar sehingga produktivitas menurun akibat sakit berkepanjangan.

ATASI SAKIT PUNGGUNG. Melakukan sejumlah asana yoga akan membuat sakit punggung Anda berkurang, bahkan menghilang. Sakit ini bisa meningkat intensitasnya hingga menghalangi proses kreatif menulis Anda.

CEGAH SINDROM META KARPAL. Penulis dirundung kecemasan terkena sindrom meta karpal (carpal tunnel syndrome) yang dipicu oleh aktivitas mengetik selama berjam-jam setiap hari. Studi menunjukkan bahwa mereka yang bekerja dengan mesin kasir, menjahit dengan mesin, menghabiskan waktu lama bekerja dengan mesin di pabrik manufaktur memiliki tingkat kerawanan menderita sindrom ini. Dan gerakan yoga sederhana bisa mengatasi risiko ini.

MENINGKATKAN ENERGI. Saat merasa lelah dan kurang berenergi, penulis bisa menggunakan asana yoga tertentu seperti berdiri dengan kepala di bawah (headstand) untuk meningkatkan energi dan semangat menulis. Konon novelis Dan Brown melakukannya. Sebuah studi tahun 2006 menemukan bahwa mereka yang ikut serta dalam latihan hatha yoga (yoga yang berdasarkan gerakan fisik) selama 6 bulan mengalami peningkatan signifikan dalam vitalitas, energi dan pencegahan kelelahan lebih baik daripada mereka yang hanya berolahraga jalan kaki.

MENJERNIHKAN PIKIRAN. Menurut sebuah studi, yoga juga dapat membantu mendorong pikiran lebih jernih sebelum menulis. Sekelompok orang yang berpartisipasi dalam kelas yoga 60 menit seminggu dilaporkan mengalami perbaikan dalam tingkat kejernihan pikiran, energi dan kepercayaan diri.

MENGENDALIKAN STRES, CEMAS DAN DEPRESI. Stres dalam jumlah moderat diperlukan agar kita bisa menyelesaikan pekerjaan atau tugas. Tetapi begitu kita merasa terlalu tertekan dan stres mengendalikan kita, saat itulah stres bisa membahayakan kesehatan jiwa raga. Kita semua bisa mengendalikan (bukan menghilangkan sama sekali, karena itu tidak mungkin) dalam kehidupan kita. Bagi banyak penulis, yoga bisa melakukan hal ini dengan efektif. Dalam sebuah studi tahun 2011, peneliti menyimpulkan bahwa latihan yoga rutin mampu mengurangi kecemasan, stres dan depresi serta meningkatkan kualitas hidup seseorang dalam jangka panjang. Sebuah studi lain menemukan bahwa para perempuan yang menderita tekanan mental yang mengikuti kelas yoga selama 3 bulan mengalami penurunan tingkat stres dan depresi dan peningkatan kesehatan jiwa raga. Disimpulkan juga dalam penelitian lain bahwa yoga dapat membantu mengatasi depresi, sehingga jika Anda merasa sedih setelah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dalam hidup, lakukan beberapa asana yoga, ambil napas lebih dalam dan amatilah jika Anda merasakan pikiran Anda menjadi lebih jernih dan rileks.

MELEJITKAN KREATIVITAS DAN MENYINGKIRKAN HAMBATAN MENULIS. Writer’s block, begitu istilahnya, kerap dikambinghitamkan jika penulis tidak mampu menyelesaikan karya sesuai jadwal yang disepakati. Jika dilakukan dengan benar dan aman serta di bawah pengawasan pihak yang berpengalaman, latihan yoga akan memberikan efek meditatif yang pada gilirannya melejitkan energi kreatif dalam diri penulis yang beryoga. Para peneliti yakin bahwa bila digabungkan dengan pernapasan yang lebih tenang, dalam dan rileks serta gerakan tubuh yang lembut, yoga dapat membuat ide-ide kreatif itu membuncah kembali. Yoga dan meditasi memberikan akses pada kita ke dalam relung-relung di dalam jiwa dan kesadaran yang memicu kemunculan ide kreatif. Sejumlah studi membuktikan bahwa para praktisi yoga dan pelaku meditasi memiliki kemampuan untuk memperlambat gelombang otak mereka dalam hitungan menit (mencapai tingkatan “alfa” dan bahkan ke pola gelombang “theta” yang berkaitan dengan pemikiran kreatif). Katakan selamat tinggal pada writer’s block!

MENGAJARKAN MANFAAT KONSISTENSI. Konsistensi dalam yoga juga mengajarkan pada kita betapa berharganya konsistensi dalam menulis juga. Keduanya sangat berkaitan. Untuk mendapatkan manfaat dari keduanya, lakukan secara teratur setiap hari. Jadikan sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan Anda dan manfaat maksimal dari yoga dan menulis itu akan datang dengan sendirinya.

Delapan alasan tadi mungkin belum mencakup semua manfaat yoga bagi para penulis. Adakah alasan lain mengapa yoga menjadi pilihan olahraga bagi penulis? Bagikan di kotak komentar di bawah tulisan ini.

4 Steps to a Flawlessly Straight Handstand

Handstand needs your best core strength, which not everyone possesses.
Doing a totally straight handstand needs your best core strength, which not everyone possesses. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Handstand is considered one of the most challenging yoga asanas taught in every modern, especially urban, yoga class. And we all know some yoga enthusiasts are obsessed with it in various degrees. I’m not kidding, because I’ve met a person who willingly and voluntarily spends several minutes of his time to perfect his handstand. He did it every single day. On and on and on, until he injured himself for a while. Nothing but injury can stop him doing the silly self harming practice further.

So the lesson learned is: I’m not going to injure myself from overly repetitive unmeasured practices without knowing and respecting my limit and without no professional supervision. Never ever.

But I was fortunate enough to attend a handstand-themed class days ago and to witness two acroyoga teachers –Claudine and Honza Lafond of Yoga Beyond – teaching doing handstands safely at Anandamaya Wellness Festival in Jakarta, last Saturday (19/9).

First and foremost, prepare the hand at shoulder width. Extend fully the arms. And jump with all force you’ve got.

First, PRESS. Using momentum from a series of jumps only tires you out. After a few jumps, you’ll find yourself too tired to  continue trying. Instead of doing that, Honza and Claudine gave a number of warmups for the handstand beginners like me. Have someone as your assistant and watch as you make attempts at this. Jump forward with all your core strength and widespread fingers as your solid fondation. Bear in mind your legs are still folded and thighs are held close to the abs (a.k.a tuck your legs). Once you find the balance, stay there and press your palms onto the earth!

Second, HUG THE MIDLINE. Squeeze your entire body towards the midline of body.

Third, GAZE. Look to your thumbs. Look towards the back of your head.

Last of all, BREATHE. That’s how we find the balance, advised Honza.

The “exit strategy” after reaching the final pose is slowly come down by tucking your legs onto the abs and then landing smoothly on the ground on tiptoes (instead of on your soles of feet).

Let’s give it a try…

Can Eating More Plants and Less Meat Make Us More Flexible?  

 Absolutely YES!

At least if you ask me.

But I don’t kid you, fellows. Eating more plant-based foods lets your body, mind and soul work harmoniously in such a way I cannot explain. And that is more precious than only gaining more body flexibility. Seriously to be perfectly frank, flexibility is just the side bonus. Not the end goal itself.

I still remember when a guru told me his own different experience while he was eating like a horse and eating like a lion. Being a herbivore or having daily diets dominated by plants simply lighten your body somehow. Suddenly you can endure more pain and stress better, controlling our agressivity and anger more readily. It thus brings more peace of mind at last.

That being said, practising asanas in yoga would entail less struggle, as for me. That particularly holds true when I have to twist, bend backward and forward body during yoga asana practices. Aside from my slender figure, consuming more plants relatively helps me to do yoga asanas better. Here is what I feel: I neither feel excruciatingly hungry nor extremely stuffed. I feel satiated, my appetite is satisfied but still I don’t think I’m fully loaded. I call it “a balanced sensation between hungry and stuffed.” Somewhere in between. And most importantly, I feel good about myself. I don’t starve myself but I don’t overfeed myself either. Pretty much a win-win solution.

Eating more plants and less meat certainly makes me get hungry more often and faster but what’s the problem with that? Just eat more healthy stuff. Things are going to be fine as long as you listen to your body. That itself is a consciousness exercise, mindful eating, which can be actually our yoga practice at the dining table. Because doing yoga is not only on but also off the mat!

On top of that, consuming less meat also shows your true love of our Mother Earth. So why hesitate? Start going vegan NOW.

Cara Sederhana Atasi Sakit Kepala dan Kelelahan dengan Pernapasan Yoga

SAKIT KEPALA TIBA-TIBA atau kelelahan saat terjebak macet tetapi tak ada obat atau peringan keluhan ringan tersebut? Coba dulu cara berikut ini.

Kiatnya sangat sederhana: gunakan manipulasi alami cara bernapas di kedua lubang hidung Anda.

Dua lubang hidung yang ada itu diciptakan Tuhan bukan tanpa maksud. Fungsi lubang hidung kanan dan kiri berbeda tetapi saling melengkapi.

‎Lubang hidung kanan menjadi representasi YANG, panas, matahari. Sementara itu, lubang hidung kiri YIN, dingin, bulan.

Dikutip dari praktisi yoga terapi Sari Soekiman, disarankan bagi penderita sakit kepala untuk menutup lubang hidung kanan dan bernapas dengan lubang hidung kiri saja. Lakukan selama 5 menit. Niscaya keluhan sakit kepala akan berkurang.

‎Lain halnya dengan mereka yang lelah, kiat yang diberikan ialah cara sebaliknya, yakni menutup lubang hidung kiri dan bernapas hanya dengan lubang hidung kanan.

Intinya sendiri ialah menyembuhkan keluhan dengan intervensi alami, ‎yaitu penyeimbangan antara kedua elemen energi utama di dalam tubuh kita.

“Let the Beauty of What You Love Be What You Do”

‎Kata Rumi…

‎Cinta kita pada sesuatu sudah sepatutnya direalisasikan dalam tindakan nyata. Bagi yang bekerja dalam bidang yang disukai, kalimat mutiara ini terasa pas. Tetapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Keseimbangan hidup acap kali menjadi tumbal.

Bekerja sebagai seorang reporter membuat saya lebih sadar dengan kesehatan. Bukan sekadar gaya hidup sehat yang hanya berlangsung sesaat dan terlupakan begitu saja saat saya merasa sehat, tetapi menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.

Karena banyak padatnya pekerjaan, menyisihkan waktu untuk berolahraga selama 1-2 jam sungguh menyulitkan bagi saya. Saya pun memilih yoga
dengan alasan mudahnya melakukan yoga di mana saja, kapan saja, jika saya ingin dan membutuhkannya. Tanpa alat khusus dan memakan banyak waktu, yoga memudahkan saya mengendalikan stres dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Meski bergelut dengan pekerjaan yang akrab dengan tenggat waktu, saya menghindari kebiasaan bekerja dalam waktu yang terlalu panjang. Hal itu saya mulai dengan berdisiplin dengan jam tidur. Saya merasa lebih segar dengan bangun pagi pukul 5-6 dan tidur sekitar pukul 10-11 malam sesuai dengan irama sirkadian tubuh.

Untuk memulai hari, saya memilih untuk bermeditasi singkat dan melakukan latihan asana sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan
waktu. Saya tidak pernah mewajibkan diri untuk latihan secara militan yang memaksakan diri tetapi lebih memberikan kesempatan bagi pikiran
dan tubuh untuk ‘memilih’. Saat agak lelah, saya tentu akan menyesuaikan dengan mengubah latihan yoga saya menjadi lebih singkat,
lebih lembut dan pelan serta menenangkan tubuh dan pikiran. Dan sebaliknya jika sedang ingin membangkitkan semangat dalam menghadapi
hari yang menantang, saya akan lebih memilih berlatih yoga dengan banyak unsur Yang.

Agar bekerja dengan pikiran yang lebih fokus dan tidak terkantuk-kantuk, buah menjadi pilihan makan pagi saya. Dengan mengkonsumsi buah yang manis dan matang tanpa campuran dan tambahan apapun, tubuh menjadi lebih mudah menyerap nutrisi dan membersihkan diri dari toksin-toksin yang dihasilkan dari metabolisme hari sebelumnya.

Saya merasa beruntung mengenal yoga karena yoga bisa diintegrasikan tanpa mengganggu rutinitas. Yoga dapat melebur dengan mudahnya bahkan saat saya harus menyelesaikan tugas yang mendesak. Untuk mengurangi stres dan menggenjot pruktivitas kerja, alih-alih menyalakan rokok atau minum minuman berenergi, minuman ringan, soda atau kopi secara berlebihan, saya bisa mengandalkan yoga. Hanya dengan duduk tegak dan melakukan latihan pranayama (pernapasan) ringan, saya dapat mengajak pikiran dan tubuh fokus pada napas dan diri untuk meningkatkan
konsentrasi bekerja dan setelah pekerjaan tuntas, meditasi dan berlatihan asana yang menenangkan dapat membuat tidur menjadi lebih nyenyak.

Di sela kesibukan, saya pun lebih memilih memperbanyak konsumsi air putih daripada jenis minuman lain. Saat banyak teman kerja yang
menggunakan wadah minuman yang besar agar tidak perlu banyak berjalan hilir mudik mengambil air minum, saya memilih memakai gelas yang lebih
kecil agar bisa berjalan kaki lebih sering. Minum lebih banyak air putih juga membuat saya bangkit dari kursi kerja lebih sering. Inilah yang membuat tubuh tidak kaku. Di saat yang sama, kita terhindar dari dehidrasi yang kerap tidak terasa karena tubuh tidak merasa haus. Ini banyak terjadi pada mereka yang bekerja di ruangan yang memiliki mesin penyejuk (AC).

Untuk membuat saya selalu ingat bangkit dari kursi dan meregangkan tubuh sejenak, saya sering memakai aplikasi timer Pomodoro yang slot
waktu kerja dan istirahatnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Saya mengatur agar satu set-nya sepanjang 30 menit, yang terdiri dari waktu kerja sebanyak 25 menit lalu istirahat 5 menit.

Pun di saat makan, meditasi bisa diterapkan. Saya membiasakan untuk menerapkan konsep “mindful eating” dalam menyantap apapun yang terhidang. Caranya dengan berdoa lalu mengunyah makanan hingga lebih lembut, tidak dalam kondisi pikiran yang tergesa-gesa, tidak banyak bicara, dan tidak menggunakan gawai (gadget) saat makan. Walaupun makan menjadi lebih lambat, cara ini memudahkan saluran cerna untuk memroses makanan dan menyerap nutrisi di dalamnya. Dengan “mindful eating”, makan berlebihan (overeating) dan makan secara emosional
(emotional eating) juga bisa dihindari karena kita akan lebih dapat menyadari jumlah dan jenis makanan yang kita masukkan dalam tubuh.


Some Thoughts and Rants on Yoga Teacher Trainings (1)

‎A YOGA TEACHER TRAINING sounds like utter fun. It does sound so yogic to me. It’s like a trainee is soon ready to become a yoga guru in and out. Imagine the ultimate peace of mind, the warmth of mutual compassion, the relief of everyday grind, and the stillness after that. No one will hate it.

While the aforementioned stuff is somewhat true, the rest is not. I don’t know about others, but as for me any training is challenging‎. It’s the place where one must stretch to her or his limitation and boundaries of patience, tolerance, mental stamina, intelligence, etc. Break or make it, they say. Sometimes I break though.

‎For employees like me, taking a yoga teacher training requires strong commitment. Very very strong one, I must emphasize. And one has to put so much effort into the undertaking. It’s a serious business, ladies and gentlemen. You’re not going to feel like attending a drop-in class or a retreat yoga class you always enjoy with your favorite teacher because as you walk into the classroom, you have to start changing the perspective of students into one of teachers. Some would beg for their mama. I’m not being hyperbolic here.

To add to the list of challenges, there’ll also be a great deal of distraction, nuisance and disturbance along the way and boy, do we need to anticipate such things from early on! Not to mention the internal distraction. Take sloppiness, despair, bewilderment and ire as some latent examples.

Is the 200-hour standard adequate?
It’s a no brainer actually to say:”Of course, it is NOT.” I’ll tell you why.

Before getting to know yoga in 2010, I picked English as my passion long time ago. Maybe since my early years. Though I knew I loved English but that wouldn’t make me a great English teacher in an instant. There would be still years of learning at high school, undergraduate, graduate study and some informal courses I took before I managed to convince myself,”You can now teach English to others.”

The same thing applies in my yoga journey (I’m not going to talk about other people’s yoga journey or what ideal path one needs to take on their journey.) I take the liberty to enjoy this journey without haste. It’s not wasting time. To learn yoga slowly means you can learn more profoundly to eventually embellish the values and teachings of yoga and also interpret all those into your own understanding (because we’re humans, not a robot who can entirely acquire what it must do). We should stay ourselves while learning yoga. In other words, don’t be the human clone of your guru.

‎Besides, being labelled and called “guru” from the moral standpoint is a serious type of responsibility. And I take that earnestly because it’s not a matter of making money. My approach is different, and confusing, I admit. Perhaps because I involve heart, feelings, emotions and devotedly pour my soul into my yoga teaching (if I teach more professionally someday). I really want to do it right if I have to do it.

‎I support yoga teacher trainings in that they provide basic knowledge of yoga in a relatively shorter period of time. It’s therefore more efficient and effective in many ways for us to study yoga in a yoga teacher training than in a regular yoga class.

Yoga teacher trainings also cut some long learning curves we may otherwise experience in the course of unguided and unstructured self study. ‎There’re many beginners’ mistakes trainees can avoid from the very beginning, which at last makes their future class safer.

More yoga teacher trainings also translate to less money spent for studying yoga. Nowadays, everyone with some funds can access the knowledge and experience without having to fly to India, the place where it all began. So there are more and more people can benefit from yoga practice without staying long in ashrams.

With yoga teacher trainings, we can also expect there’s some degree of standards and requirements one needs to meet prior to teaching yoga. As shallow and superficial as it may seem, a certificate may help us — to a certain extent — assess someone’s mastery and expertise of yoga. At the very least, these hopefuls have already the credentials to show, which is a good start. But of course, there’s still more to show other than a heap of yoga teacher training and workshop certificates. For someone brand new in the yoga jungle (those practicing yoga only for months or a couple of years, or on-and-off practice) but with superfluous enthusiasm and a set of basic yoga teaching skills, yoga certificates surely are helpful for the initial impression as you are about to get clients or students or employers. Claiming a certificate is useless is hypocritical, as a matter of fact.

(to be continued)