4 Steps to a Flawlessly Straight Handstand

Handstand needs your best core strength, which not everyone possesses.
Doing a totally straight handstand needs your best core strength, which not everyone possesses. (Photo credit: Wikimedia Commons)

Handstand is considered one of the most challenging yoga asanas taught in every modern, especially urban, yoga class. And we all know some yoga enthusiasts are obsessed with it in various degrees. I’m not kidding, because I’ve met a person who willingly and voluntarily spends several minutes of his time to perfect his handstand. He did it every single day. On and on and on, until he injured himself for a while. Nothing but injury can stop him doing the silly self harming practice further.

So the lesson learned is: I’m not going to injure myself from overly repetitive unmeasured practices without knowing and respecting my limit and without no professional supervision. Never ever.

But I was fortunate enough to attend a handstand-themed class days ago and to witness two acroyoga teachers –Claudine and Honza Lafond of Yoga Beyond – teaching doing handstands safely at Anandamaya Wellness Festival in Jakarta, last Saturday (19/9).

First and foremost, prepare the hand at shoulder width. Extend fully the arms. And jump with all force you’ve got.

First, PRESS. Using momentum from a series of jumps only tires you out. After a few jumps, you’ll find yourself too tired to  continue trying. Instead of doing that, Honza and Claudine gave a number of warmups for the handstand beginners like me. Have someone as your assistant and watch as you make attempts at this. Jump forward with all your core strength and widespread fingers as your solid fondation. Bear in mind your legs are still folded and thighs are held close to the abs (a.k.a tuck your legs). Once you find the balance, stay there and press your palms onto the earth!

Second, HUG THE MIDLINE. Squeeze your entire body towards the midline of body.

Third, GAZE. Look to your thumbs. Look towards the back of your head.

Last of all, BREATHE. That’s how we find the balance, advised Honza.

The “exit strategy” after reaching the final pose is slowly come down by tucking your legs onto the abs and then landing smoothly on the ground on tiptoes (instead of on your soles of feet).

Let’s give it a try…

Can Eating More Plants and Less Meat Make Us More Flexible?  

 Absolutely YES!

At least if you ask me.

But I don’t kid you, fellows. Eating more plant-based foods lets your body, mind and soul work harmoniously in such a way I cannot explain. And that is more precious than only gaining more body flexibility. Seriously to be perfectly frank, flexibility is just the side bonus. Not the end goal itself.

I still remember when a guru told me his own different experience while he was eating like a horse and eating like a lion. Being a herbivore or having daily diets dominated by plants simply lighten your body somehow. Suddenly you can endure more pain and stress better, controlling our agressivity and anger more readily. It thus brings more peace of mind at last.

That being said, practising asanas in yoga would entail less struggle, as for me. That particularly holds true when I have to twist, bend backward and forward body during yoga asana practices. Aside from my slender figure, consuming more plants relatively helps me to do yoga asanas better. Here is what I feel: I neither feel excruciatingly hungry nor extremely stuffed. I feel satiated, my appetite is satisfied but still I don’t think I’m fully loaded. I call it “a balanced sensation between hungry and stuffed.” Somewhere in between. And most importantly, I feel good about myself. I don’t starve myself but I don’t overfeed myself either. Pretty much a win-win solution.

Eating more plants and less meat certainly makes me get hungry more often and faster but what’s the problem with that? Just eat more healthy stuff. Things are going to be fine as long as you listen to your body. That itself is a consciousness exercise, mindful eating, which can be actually our yoga practice at the dining table. Because doing yoga is not only on but also off the mat!

On top of that, consuming less meat also shows your true love of our Mother Earth. So why hesitate? Start going vegan NOW.

“Let the Beauty of What You Love Be What You Do”

‎Kata Rumi…

‎Cinta kita pada sesuatu sudah sepatutnya direalisasikan dalam tindakan nyata. Bagi yang bekerja dalam bidang yang disukai, kalimat mutiara ini terasa pas. Tetapi bukan berarti tanpa konsekuensi. Keseimbangan hidup acap kali menjadi tumbal.

Bekerja sebagai seorang reporter membuat saya lebih sadar dengan kesehatan. Bukan sekadar gaya hidup sehat yang hanya berlangsung sesaat dan terlupakan begitu saja saat saya merasa sehat, tetapi menjadi sebuah bagian tidak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari.

Karena banyak padatnya pekerjaan, menyisihkan waktu untuk berolahraga selama 1-2 jam sungguh menyulitkan bagi saya. Saya pun memilih yoga
dengan alasan mudahnya melakukan yoga di mana saja, kapan saja, jika saya ingin dan membutuhkannya. Tanpa alat khusus dan memakan banyak waktu, yoga memudahkan saya mengendalikan stres dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja.

Meski bergelut dengan pekerjaan yang akrab dengan tenggat waktu, saya menghindari kebiasaan bekerja dalam waktu yang terlalu panjang. Hal itu saya mulai dengan berdisiplin dengan jam tidur. Saya merasa lebih segar dengan bangun pagi pukul 5-6 dan tidur sekitar pukul 10-11 malam sesuai dengan irama sirkadian tubuh.

Untuk memulai hari, saya memilih untuk bermeditasi singkat dan melakukan latihan asana sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan
waktu. Saya tidak pernah mewajibkan diri untuk latihan secara militan yang memaksakan diri tetapi lebih memberikan kesempatan bagi pikiran
dan tubuh untuk ‘memilih’. Saat agak lelah, saya tentu akan menyesuaikan dengan mengubah latihan yoga saya menjadi lebih singkat,
lebih lembut dan pelan serta menenangkan tubuh dan pikiran. Dan sebaliknya jika sedang ingin membangkitkan semangat dalam menghadapi
hari yang menantang, saya akan lebih memilih berlatih yoga dengan banyak unsur Yang.

Agar bekerja dengan pikiran yang lebih fokus dan tidak terkantuk-kantuk, buah menjadi pilihan makan pagi saya. Dengan mengkonsumsi buah yang manis dan matang tanpa campuran dan tambahan apapun, tubuh menjadi lebih mudah menyerap nutrisi dan membersihkan diri dari toksin-toksin yang dihasilkan dari metabolisme hari sebelumnya.

Saya merasa beruntung mengenal yoga karena yoga bisa diintegrasikan tanpa mengganggu rutinitas. Yoga dapat melebur dengan mudahnya bahkan saat saya harus menyelesaikan tugas yang mendesak. Untuk mengurangi stres dan menggenjot pruktivitas kerja, alih-alih menyalakan rokok atau minum minuman berenergi, minuman ringan, soda atau kopi secara berlebihan, saya bisa mengandalkan yoga. Hanya dengan duduk tegak dan melakukan latihan pranayama (pernapasan) ringan, saya dapat mengajak pikiran dan tubuh fokus pada napas dan diri untuk meningkatkan
konsentrasi bekerja dan setelah pekerjaan tuntas, meditasi dan berlatihan asana yang menenangkan dapat membuat tidur menjadi lebih nyenyak.

Di sela kesibukan, saya pun lebih memilih memperbanyak konsumsi air putih daripada jenis minuman lain. Saat banyak teman kerja yang
menggunakan wadah minuman yang besar agar tidak perlu banyak berjalan hilir mudik mengambil air minum, saya memilih memakai gelas yang lebih
kecil agar bisa berjalan kaki lebih sering. Minum lebih banyak air putih juga membuat saya bangkit dari kursi kerja lebih sering. Inilah yang membuat tubuh tidak kaku. Di saat yang sama, kita terhindar dari dehidrasi yang kerap tidak terasa karena tubuh tidak merasa haus. Ini banyak terjadi pada mereka yang bekerja di ruangan yang memiliki mesin penyejuk (AC).

Untuk membuat saya selalu ingat bangkit dari kursi dan meregangkan tubuh sejenak, saya sering memakai aplikasi timer Pomodoro yang slot
waktu kerja dan istirahatnya bisa disesuaikan dengan selera dan kebutuhan. Saya mengatur agar satu set-nya sepanjang 30 menit, yang terdiri dari waktu kerja sebanyak 25 menit lalu istirahat 5 menit.

Pun di saat makan, meditasi bisa diterapkan. Saya membiasakan untuk menerapkan konsep “mindful eating” dalam menyantap apapun yang terhidang. Caranya dengan berdoa lalu mengunyah makanan hingga lebih lembut, tidak dalam kondisi pikiran yang tergesa-gesa, tidak banyak bicara, dan tidak menggunakan gawai (gadget) saat makan. Walaupun makan menjadi lebih lambat, cara ini memudahkan saluran cerna untuk memroses makanan dan menyerap nutrisi di dalamnya. Dengan “mindful eating”, makan berlebihan (overeating) dan makan secara emosional
(emotional eating) juga bisa dihindari karena kita akan lebih dapat menyadari jumlah dan jenis makanan yang kita masukkan dalam tubuh.


Yoga Gembira di @5thiccefe (5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo)

‎Yoga Gembira hadir menyemarakkan 5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo yang digelar hingga esok hari di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Agenda besar acara tersebut sendiri sangat sesuai dengan salah satu misi komunitas Yoga Gembira untuk mendekatkan warga urban dengan alam (baca : bumi) dan menjaga kelestariannya, sebagaimana dinyatakan Yudhi Widdyantoro sebagai inisiatornya.

ICCEFE kelima ini memberikan manfaat edukasi yang tinggi mengenai peningkatan kesadaran dan partisipasi semua orang mengenai isu perubahan iklim. Seperti dikatakan Utusan Khusus Presiden tentang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar Jumat (15/5/2015) lalu saat meresmikan acara, ini semua akan percuma jika masyarakat di akar rumput tidak melaksanakan. Perubahan iklim dan antisipasinya bukan tugas kelompok elit, pemerintah, atau pembuat keputusan semata tetapi juga kita semua sebagai pelaksana di lapangan.

Bagi Anda yang kebingungan harus ke mana akhir pekan ini, kunjungi saja JCC di Senayan, Jakarta. Besok hari terakhir dan jangan khawatir akan bosan di dalamnya, karena ada banyak booth peserta pameran yang memberikan game menarik dan hadiah, seperti booth pemerintah DKI Jakarta yang membagikan ‎power bank untuk para peserta kuis yang menjawab pertanyaan dengan tepat.

When The Imperfect Desires Perfection

There are times when you are sitting in a yoga class and the guru says repeatedly,”It’s OK not to be perfect.”

I roll my eyes whenever I hear it.

I almost always believe it’s a sheer joke or a remark filled with pretention and hypocricy at its most subtle and ambiguous. Confusion is what such words lead us to.

To err is humane, but to forgive is divine. And most evidently, to err and not to forgive imperfection is very humane. That holds true in this case, when someone with flaws — both major and minor — still sets a very high standard for others.

What is the problem with being imperfect?

That I can’t understand.

So I try to say this to myself and my students,”It’s ok to be imperfect. It is no big deal when you can’t do challenging poses just like Iyengar did. Embrace the flaws. Comprehend them‎. Because who knows your flaws can turn into your forte in some inconceivable way? It may take a simple yet fundamental shift of paradigm or perspective to accept your flaws. As you shall believe who you are includes your flaws.”

I Swear You’ll Sweat

‎No no no. I’m not saying it’s going to be an intimidatingly super hard-core or insanely advanced class requiring you to have a trained contortionist’s ability. I’ll be gentle and kind with myself and whoever cares to be there. It’s in the morning after all.

I’m saying this will make you sweat a lot because of its abundant exposure of sunshine. And for your information, unlike many, I have got a problem with my perspiration system: I don’t sweat quite easily. I have no idea whether it shows my abnormality or metabolism efficiency. And though I finally sweat, it’ll go away. Poof! Just like that.

But anyway, let me know if you have time to just see me there. I’ll totally appreciate your coming.

Standing Head-to-Knee

Standing head-to-knee pose is a bikram yoga pose which is claimed to be good for mental strength, can improve concentration, helps realize oneness of mind and body, may improve circulation and flexibility, good for diabetes, may improve pancreatic function, strengthen back muscles, and use all major muscle groups and internal organs (primary-digestive, secondary-reproductive).

Compass in Life after Losses of Significant Others

‎It’s called compass pose in yoga. Though it’s not the easiest pose ever invented, it’s not the most challenging either. Compass pose is great when you need a lot of stretch in your hamstring and both sides of the torso. It works so efficiently for the enhancement of bodily flexibility. Also, it awakens your body in the morning if coupled with lots of backbending postures that help stimulate the heart rates and blood circulation in vital organs.

Aside from the physical layer of the pose, the pose reminds me of the fact that I ought to stay faithful to the Ultimate Cause of life after I’ve lost 4 relatives in my big family since 2005. My paternal grandfather died first when my father was still a teenager. So I had no strong relationships and memory of his. We know what makes it hurt to lose someone is the loss of the memory shared together between us and them. But with my maternal grandfather, I was quite close. He was a quite and stern man with big moustache who smoked and drank coffee, two things I almost never do and never want to do in my entire adulthood up to now.

The second – which is the most abrupt and painful – is when in 2013 I lost my younger cousin to a fatal traffic accident leaving us troubled and deeply saddened till now. ‎She at first lost both her legs and also, after a series of surgeries, her entire life.

Later is when my paternal grandmother died in March 2014. ‎She was the one who dedicated her life to the sons, never wanting to remarry in fear of making her sons suffer from an unjust step father.

The latest is my maternal grandmother, who just passed away last Sunday (25/1). We came close as I grew up with her during my early and teenage years. It was still fresh as I recall her hugging me shedding tears upon knowing her husband left her alone for good. It took 10 years before she reunited with him. Well, they might be. I have no idea.

So when you encounter such losses of significant ones in life‎, you’ll get used to the idea that you cannot mourn every death. It’s true. Mourning is such a tiresome business to deal with. Dwelling in sadness would be too depressing and destructive like nothing can ever do to our psyche.

‎Making our beloved ones a purpose and sole driver of living this life sounds too ridiculous to me. I imagine someone, a survivor of tsunami disaster for example, who may go nuts and get mentally troubled after losing whoever he had in life. Is it any better to commit suicide as well? But of course, you can’t just do it, even if you really wish you were allowed to do so.

And when it comes to making anything your compass of life, consider thinking an ultimate cause higher than yourself, even your beloved people. Something timeless, unworldly, eternal and ‎almighty. So even if the rest of the world perishes in a blink of an eye, you won’t lose your direction.

Trik Tendangan dalam Ardha Viparita Salabhasana

‎Banyak yang bertanya bagaimana cara mengangkat kedua kaki di udara dalam pose ardha viparita salabhasana seperti yang ada dalam foto. Ada yang mencoba mengangkat dengan langsung menaikkan kedua kaki ke atas perlahan dengan menggunakan tangan sebagai titik tumpuan.

Cara ini memang mudah bagi yang otot-otot core miliknya sudah kuat sekali. Berbanggalah mereka yang memilikinya.

Namun, bagi mereka yang sekurus saya dan kekuatan batang tubuhnya kurang bagus, ada cara lain sebagaimana juga disarankan oleh mendiang B.K.S. Iyengar di bukunya Light on Yoga.

Triknya adalah melakukan tendangan ke udara. Jadi begini caranya. Tengkuraplah di mat, kedua tangan di samping tubuh. Tarik napas dalam, kemudian langkahkan kaki mendekat ke atas. Ingat, bagian tubuh lain masih menempel di matras yoga Anda. ‎Yang boleh bergerak cuma kaki. Angkat satu kaki ke atas dan gunakan satunya sebagai tumpuan. Tarik napas dalam-dalam lalu lecutkan kaki yang sudah di atas dengan diikuti kaki yang lain. Setelah kedua kaki di udara, perlahan hembuskan napas keluar sembari dekatkan telapak kaki ke depan bawah. Anda bisa memilih untuk tidak menyentuh kaki sampai puncak kepala atau ke lantai/ tanah jika memang belum bisa. Versi mudahnya adalah yang di atas. Kaki bisa divariasikan seperti kaki garudasana. Atau lurus saja. Sesuai selera.

Setelah kaki berada di udara, ganti mereka yang otot corenya kuat yang harus kesulitan untuk melengkungkan tubuhnya karena pose ini termasuk jenis asana back bend yang cukup dalam.

Punggung bawah sangat berisiko cedera jika belum cukup banyak pemanasan dan bagi yang sudah pernah cedera otot punggung bawah, berhati-hatilah atau cedera yang lebih parah bisa terjadi.

Dengan kedua kaki di atas, cobalah tahan pose sembari mencoba bernapas normal. Meski sulit, cobalah mengatur napas. Inilah puncaknya, Anda harus tenang dan ‘menikmati’ pose. Ketenangan dan kesadaran akan mengurangi risiko cedera.

Jangan menyudahi pose ini dengan sembarangan. Gunakan satu kaki sebagai penopang tubuh saat mendarat. Turunkan satu kaki kemudian diikuti yang lainnya. Kedua tangan tetap bekerja menopang tubuh dan kaki agar tidak terjatuh ke sisi depan atau samping.

Begitu kedua kaki sampai di tanah‎, jangan serta merta duduk dan berdiri. Idealnya Anda perlu melakukan pose penetralisir (counter pose) sebagai penyeimbang. Pose fetus atau child’s pose bisa dilakukan selama beberapa hitungan napas atau hingga detak jantung kembali normal. Jika lower back masih terasa pegal, berbaringlah kemudian tarik kedua paha ke perut, dan gulingkan badan ke kedua sisi samping. Atau jika masih belum mantap, lakukan pose memilin tubuh (twisting) dalam kondisi telentang. Kaki kanan dilipat kemudian lutut diletakkan ke arah kiri hingga menyentuh mat tanpa harus membuat bahu terangkat. Lakukan sisi sebaliknya. Dan tetaplah bernapas.

Selamat mencoba!

Langkah demi Langkah Melakukan Tripod Headstand dengan Kaki Garudasana

‎Pertama-tama, sebelum mencoba pose tripod headstand dengan kaki garudasana, pastikan teknik dasar headstand yang konvensional sudah dikuasai dengan baik.

Bagi Anda yang bermasalah dengan daerah kepala dan leher serta bahu, pose ini bukan untuk Anda.

Otot batang tubuh atau core muscles juga dipastikan sudah kokoh agar nantinya lebih aman.

Dan pastikan berat badan si pelaku tidak berlebihan, karena nantinya kepala dan leher serta tanganlah yang menyangga tubuh sebagai pengganti kaki. Jadi jika berat badan tidak memungkinkan, jangan memaksa diri.

Untuk bisa mencapai pose di foto, lakukan pemanasan dahulu dengan headstand beberapa kali. Jika sudah terbiasa dan ‘panas’, saatnya mencoba dengan kedua tangan dalam chi mudra di lantai dan kedua telapak kaki masih di lantai terpisah jauh (prasarita padottanasana/ wide stance forward bend)‎. Letakkan puncak kepala di mat, jika mat terlalu keras, alasi dengan handuk. Kuatkan leher dengan diam di posisi prasarita padottanasana itu beberapa saat.

Baru setelah yakin tangan dan leher serta kepala sudah kuat, angkatlah kaki satu per satu ke atas. Satu masih di bawah, satu ke atas. Tahan di posisi itu.

Jika sudah merasa solid dan yakin, satu kaki yang masih menapak di lantai silakan diangkat juga. Luruskan dua kaki dulu lalu perlahan jalin kedua kaki hingga terpilin mirip posisi kaki garudasana.

Lakukan bersama dengan guru atau teman yang berpengalaman yang dapat mengawasi agar terhindar dari cedera atau kecelakaan.

It’s for fun so don’t harm or kill yourself in the process! Be safe!

The Yogic Moment of HolyShitasana

‎So my yoga pal coined a word for an asana. It’s holyshitasana. Practically speaking, it refers to any yoga poses or asanas that make you scream out of frustration:”Holyyy shitttt!!! Why ain’t it getting any easier every time I give it a try?!!”

The answer is our body isn’t built for doing the asanas. Seriously. Just take it easy. Don’t push yourself too hard. Be lenient to your own body. It’s your temple. That’s ahimsa. But that’s of course what you naturally say to comfort yourselves before you‎ take a glance at the neighbors who manage to do better, or slightly better. Envy works in a so subtle way you can’t even detect it.

‎Yet once again I post another challenging yoga asana photos my yoga buddies can’t do without props. I know some will sneer at it. I am completely aware not everyone likes it. I feel like a jerk sometimes for posting it. But then I realize I should just do it. Because who knows someone will get inspired and keep doing his or her practice? You’ll never know. So I stop judging myself for being a poser and let it inspire others. If it doesn’t inspire, let it amuse them in some way I don’t need to know.

If you’re into yoga and really want to try the pose, try some warmups in the quads, hips, back, lower back and chest. Lots of work to do, I know. But if your body is built like mine, you can just skip the warmups and hocus pocus, it’s done!

Kunci Melakukan Pose Mermaid dengan Lebih Mudah

/home/wpcom/public_html/wp-content/blogs.dir/6d5/15427373/files/2014/12/img_5234.jpg
Pose mermaid atau putri putra duyung mirip dengan pose eka pada rajakapotasana (one-legged royal pigeon pose) tetapi sebenarnya ada satu perbedaan: sisi tubuh yang diregangkan. Dalam pose mermaid, Anda lebih fokus pada peregangan lateral alias dua sisi samping tubuh. Namun, dalam pose eka pada rajakapotasana lebih ditekankan peregangan pada sisi depan torso, sehingga terbentuklah gerak condong ke belakang yang disebut back bending.

Dalam foto, saya seharusnya lebih memiringkan tubuh ke samping tetapi karena sendi bahu saya terlalu lentur dan mungkin tangan saya agak panjang dan sendi pinggul saya juga lebih terbuka lebar dari orang kebanyakan, saya tanpa sadar mengkompensasikan peregangan sisi samping tubuh dengan kelenturan sendi bahu saya yang memungkinkan saya mengaitkan lengan dan telapak kaki lebih mudah.

Nah, jika Anda ingin mencoba melakukan pose mermaid dengan lebih baik, saya sarankan untuk lebih sering melakukan peregangan yang membuka sendi pinggul agar kedua paha benar-benar menyentuh matras atau lantai hingga dari samping tak tampak ada celah. Benar-benar menempel ke tanah seluruhnya. Caranya dengan memperbanyak pemanasan hip opening seperti pose pigeon yang telungkup ke depan untuk regangkan otot di paha samping. Kemudian bisa dicoba juga pose anjaneyasana agar otot quadriceps di paha depan lebih teregang sempurna. Dengan melakukan anjaneyasana yang baik, kaki belakang dalam pose mermaid akan lebih mungkin menyentuh lantai secara menyeluruh.

Untuk peregangan torso agar lebih siap melakukan pose mermaid, cobalah pose banana atau pisang. Berdiri tegak kemudian miringkan tubuh ke kanan dan kiri tanpa membuat bahu jatuh ke depan. Artinya miringkan torso dengan seolah punggung belakang dan kepala serta bahu masih menempel pada sebuah dinding imajiner. Dengan begitu sisi samping torso akan lebih siap.

Untuk mengaitkan kedua lengan dengan lebih mudah, cobalah melakukan peregangan bahu dengan lebih intens. Pose sapi atau gomukhasana akan membantu sekali. Dan jika disertai kelenturan pinggul, kelenturan bahu akan memungkinkan telapak tangan dan siku saling bersentuhan dan terkait.

Selamat mencoba!

%d bloggers like this: