Yoga Gembira di @5thiccefe (5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo)

‎Yoga Gembira hadir menyemarakkan 5th Indonesia Climate Change Education Forum and Expo yang digelar hingga esok hari di Balai Sidang Jakarta Convention Center. Agenda besar acara tersebut sendiri sangat sesuai dengan salah satu misi komunitas Yoga Gembira untuk mendekatkan warga urban dengan alam (baca : bumi) dan menjaga kelestariannya, sebagaimana dinyatakan Yudhi Widdyantoro sebagai inisiatornya.

ICCEFE kelima ini memberikan manfaat edukasi yang tinggi mengenai peningkatan kesadaran dan partisipasi semua orang mengenai isu perubahan iklim. Seperti dikatakan Utusan Khusus Presiden tentang Perubahan Iklim Rachmat Witoelar Jumat (15/5/2015) lalu saat meresmikan acara, ini semua akan percuma jika masyarakat di akar rumput tidak melaksanakan. Perubahan iklim dan antisipasinya bukan tugas kelompok elit, pemerintah, atau pembuat keputusan semata tetapi juga kita semua sebagai pelaksana di lapangan.

Bagi Anda yang kebingungan harus ke mana akhir pekan ini, kunjungi saja JCC di Senayan, Jakarta. Besok hari terakhir dan jangan khawatir akan bosan di dalamnya, karena ada banyak booth peserta pameran yang memberikan game menarik dan hadiah, seperti booth pemerintah DKI Jakarta yang membagikan ‎power bank untuk para peserta kuis yang menjawab pertanyaan dengan tepat.

When The Imperfect Desires Perfection

There are times when you are sitting in a yoga class and the guru says repeatedly,”It’s OK not to be perfect.”

I roll my eyes whenever I hear it.

I almost always believe it’s a sheer joke or a remark filled with pretention and hypocricy at its most subtle and ambiguous. Confusion is what such words lead us to.

To err is humane, but to forgive is divine. And most evidently, to err and not to forgive imperfection is very humane. That holds true in this case, when someone with flaws — both major and minor — still sets a very high standard for others.

What is the problem with being imperfect?

That I can’t understand.

So I try to say this to myself and my students,”It’s ok to be imperfect. It is no big deal when you can’t do challenging poses just like Iyengar did. Embrace the flaws. Comprehend them‎. Because who knows your flaws can turn into your forte in some inconceivable way? It may take a simple yet fundamental shift of paradigm or perspective to accept your flaws. As you shall believe who you are includes your flaws.”

I Swear You’ll Sweat

‎No no no. I’m not saying it’s going to be an intimidatingly super hard-core or insanely advanced class requiring you to have a trained contortionist’s ability. I’ll be gentle and kind with myself and whoever cares to be there. It’s in the morning after all.

I’m saying this will make you sweat a lot because of its abundant exposure of sunshine. And for your information, unlike many, I have got a problem with my perspiration system: I don’t sweat quite easily. I have no idea whether it shows my abnormality or metabolism efficiency. And though I finally sweat, it’ll go away. Poof! Just like that.

But anyway, let me know if you have time to just see me there. I’ll totally appreciate your coming.

Standing Head-to-Knee

Standing head-to-knee pose is a bikram yoga pose which is claimed to be good for mental strength, can improve concentration, helps realize oneness of mind and body, may improve circulation and flexibility, good for diabetes, may improve pancreatic function, strengthen back muscles, and use all major muscle groups and internal organs (primary-digestive, secondary-reproductive).

Membahas Tuntas Back Bend

Siapa suka back bend? Jarang sekali di kelas yoga ada peserta atau murid yang menyukai jenis gerakan satu ini. Rasanya tidak nyaman karena membuat kita susah bernapas dengan normal. Apa pasal? Bila Anda teliti lagi, gerakan back bend yang membuka daerah dada dan bahu itu sama dengan gerakan mengambil napas yang paling sempurna. Jadi di titik paling maksimal Anda melakukan gerakan back bend, Anda akan susah bernapas normal karena tubuh Anda berada dalam posisi yang harus tetap mengambil napas (inhale). Sekali Anda exhale atau membuang napas, biasanya back bend akan melemah, apalagi jika Anda baru saja belajar yoga. Setelah berlatih secara teratur, ketidaknyamanan ini akan terus berkurang dalam berbagai tahapan yang bervariasi pada tiap-tiap orang. Berikut saya sarikan penjelasan Leslie Kaminoff, dari The Breathing Project dua tahun lalu saat berkunjung memberikan workshop yoga di Jakarta. Ia membahas mengenai back bend dengan lebih mendalam.

Apa itu back bend?
Menurut Leslie Kaminoff, back bend ialah perubahan bentuk tulang belakang yang bergerak ke belakang dan menciptakan ruang (space). Jika dicermati, tidak hanya tulang belakang yang membentuk sebuah gerakan back bend yang baik tetapi juga seluruh bagian tubuh. Dari pergelangan kaki, lutut, paha, bahu, semua bagian tubuh ikut serta di dalamnya. Dalam back bend, kita menggunakan gerak fleksi tulang belakang menuju ke belakang. Dan ada “space” atau ruang antarruas tulang belakang yang tercipta dan mengarah ke belakang, jadi tidak hanya asal terlihat menekuk ke belakang.

Mengapa sebagian orang bisa melakukan back bend yang sangat dalam sementara saya tidak?
Masih kata Kaminoff, dalam kelas-kelas yoga, jenis back bend yang biasanya disarankan untuk dilakukan adalah jenis yang merata (well-distributed) ke seluruh tubuh, bukan back bend yang biasa dilakukan oleh para kontorsionis alias penekuk tubuh di gelaran sirkus atau pertunjukan ketangkasan sejenis.

Dalam pertunjukan kontorsionis, para penampil yang lihai menekuk tubuh ke belakang itu memiliki keunikan dalam anatomi mereka. “Ada sudut yang tajam di tulang belakang mereka dan ini bukan jenis back bend yang merata,”ujar Kaminoff.

Kunci bisa melakukan back bend yang lebih dalam lebih menyangkut tentang aspek anatomi, sesuatu yang dimiliki sejak lahir atau bawaan. Bukan hasil latihan. Jika dilihat lagi, tulang belakang para kontorsionis ini berbeda dari orang kebanyakan. Tulang belakang mereka memiliki tonjolan-tonjolan yang lebih kecil yang nantinya jika dilipat ke belakang akan lebih tajam karena friksinya baru terjadi saat sudut tekukan akan lebih tajam dari orang biasa. Jaringan penghubung antarruas tulang belakang (connective tissues) mereka juga lebih longgar dan lentur.

Apakah agar bisa melakukan back bend lebih baik, kita harus lebih jarang melakukan forward bend?
Kaminoff mengatakan ada asumsi bahwa mereka yang ingin lebih ahli di back bend, harus menghindari forward bend. Dan demikian juga sebaliknya. Kaminoff menganggap asumsi itu tidak berdasar. Ada orang yang melakukan back bend dari sendi pinggulnya, yang mengalami ekstensi yang lebih dalam. Dalam satu kasus seorang kontorsionis bernama Christina (69), bagian tulang belakang (ruas T-12) bekerja penuh menjadi tumpuan. Ia dapat melakukannya di usia hampir 70 tahun karena ia mengenal tubuhnya dengan baik dan karena ia melakukan gerakan melipat ke depan dan belakang. Dengan kata lain, ia memakai prinsip keseimbangan: melakukan forward bend dan back bend dalam porsi yang sama.

Apakah gerakan back bend ekstrim di usia muda akan membuat kesehatan saya terganggu di usia tua?
Kaminoff menjawab tergantung pada cara masing-masing orang berlatih. Ada yang cedera dan ada juga yang tetap sehat. Ada gadis 18 tahun yang mengalami cedera karena ia tak memahami dan menerapkan prinsip keseimbangan saat berlatih sebagaimana yang kerap diajarkan dalam yoga. Jangan hanya melakukan back bend secara terus menerus karena terobsesi menjadi lebih lentur bagai gadis plastik. Ini bukan strategi yang baik, kata Kaminoff.

Lalu seperti apa gol yang masuk akal dalam berlatih back bend dalam yoga?
Daripada kita terobsesi dengan pose-pose yang sulit, Kaminoff menyarankan kita untuk lebih mencermati bagaimana kita bisa melakukan semua itu. Dalam satu kasus, Kaminoff mencontohkan, ada orang yang memiliki sendi pinggul yang sangat longgar tetapi tulang belakang bagian atasnya kurang lentur, biasanya secara sembarangan ia akan menggunakan sendi pinggulnya itu lebih banyak untuk mengkompensasi kelemahan di tulang belakang atas tadi agar sebuah pose back bend seperti eka pada rajakapotasana atau natarajasana bisa dicapai. Ia mengingatkan inilah risikonya: terlalu banyak menggunakan yang sudah longgar dan kurang fokus pada bagian yang seharusnya perlu diperbaiki. Saat seseorang berlatih secara ekstrim dalam back bend, mereka akan cenderung menuju ke arah yang membahayakan diri. Kaminoff mengatakan dirinya mengamati adanya bagian-bagian tubuh para kontorsionis alias manusia karet itu yang sesungguhnya cukup kaku! Area dada dan tulang belakang atas mereka biasanya lebih kaku dari bagian lain seperti pinggung dan pinggul.

Bagaimana cara bernapas yang benar dalam mencapai back bend?
Kaminoff menampik pola pernapasan yang kerap diajarkan dalam kelas yoga yang mengharuskan murid mengambil napas dahulu sebelum back bend lalu membuang napas setelah mencapai pose. Bisa jadi setiap orang memiliki pengalaman bernapas yang berbeda. Ada sebagian orang yang lebih mudah mengawali back bend dengan membuang napas baru mempertahankannya dengan mengambil napas dalam. Karena itulah, tidak perlu mendikte cara mereka bernapas.

Sejenak Bersama Patrick Beach

IMG_4911.PNG

Dengan begitu banyaknya perempuan di dunia yoga kontemporer, kita sering lupa bahwa di tanah asalnya India, yoga lebih banyak dilakukan oleh para yogi alias pegiat yoga pria. Yogi-yogi zaman dulu memiliki jenggot yang panjang, cambang yang tak terpelihara, pakaian ala kadarnya dan hidupnya secara umum amat bersahaja.

Patrick Beach pun memelihara jenggot yang lebat. Kami tak tahu tujuannya mempertahankan rambut muka yang setebal itu. Pastinya repot merapikan dan mencuci setiap hari. Belum kalau berkeringat. Ternyata ia mengikuti tantangan Movember, yang mengharuskan para penyumbang amal itu memanjangkan rambut di wajah selama waktu yang ditentukan demi menunjukkan komitmen dalam beramal.

Duduk bersama saya siang itu, saya teringat dengan sebuah video yang saya temukan beberapa tahun lalu. Patrick ada di dalamnya tetapi di situ ia belum menjadi guru yoga. Ia memberikan tutorial kebugaran fisik saat itu bersama rekan-rekannya. Rambutnya yang pirang saat itu diikat karena panjangnya sampai sebahu. Dagunya licin dan matanya jernih. Ia mengajar bagaimana melakukan handstand, suatu pose yang banyak menjadi idaman orang, baik yang yogi atau bukan.

Tiba-tiba Patrick saya temukan telah menjadi guru yoga. Ia tampil intens di Instagram sebagai pakar handstand dan gerakan-gerakan yang diilhami dari yoga dan olahraga lainnya. Sungguh mengesankan menikmati foto-fotonya, karena saya belum mampu melakukannya dengan baik. Saya iri, tetapi tetap tak mau memaksa diri.

Mendapat kesempatan mewawancarai Patrick sungguh langka, karena ia sangat sibuk mengajar kelasnya di Namaste Festival 2014 yang lalu. Di sela-sela semua itulah, saya menyita waktunya selama 10 menit.

Saya membombardirnya dengan sejumlah pertanyaan yang akhirnya Anda bisa baca di namastefestival.tumblr.com. Dalam bahasa Inggris, ia menjawab semuanya dengan agak tergesa-gesa. Maklum, ia harus tampil berfoto bersama para pengajar dan penggagas festival itu di halaman depan.

Patrick baik tetapi jelas bukan orang yang menebar senyum dengan mudah. Entah karena lelah atau alasan lain. Kalau memang lelah, bisa dipahami karena ia turut menggerakkan tubuhnya sepanjang kelas.

Meski dikenal banyak beraktivitas di jejaring sosial, Patrick tidak menyanggah bahwa ada risiko di dalamnya. “Kita perlu menjauhkan diri kadang dari jejaring sosial,”pungkas pria yang digilai banyak peserta wanita karena sepasang matanya yang biru.

Dari semua gegap gempita festival, Patrick tampak paling merasa nyaman saat ia berada di tengah teman-teman dekatnya. Di kolam renang saat kami mengakhiri festival, ia tampak tertawa lepas bersama beberapa rekannya seperti Cameron Shayne.

(Photo credit: Uci)

A Hobbyist Yogi’s Rants

‎It’s confusing for me to answer questions like:”How long did it take you to master this pose or that pose?” or “Can you now do pose X or pose Y?” or “How’s the progress of your practice? Do you manage to do the advanced options now that you have mastered the basic?” ‎
I came to yoga as a pure hobbyist so the idea that we must master certain poses or techniques in a specified amount of time is way beyond my ken. Why should I approach yoga like a mission to accomplish, enemy to conquer or a problem to tackle? I simply want to enjoy the journey without much burden or expectation. I want to be like the nature, it never hastes yet everything is accomplished. If you aim right, you’ll get there anyhow.

I don’t know about you, but that’s my approach to yoga, which I fully understand will never fit anyone’s needs especially those who plan to go professional (read: to earn a living by doing and teaching yoga).‎

The Father of Modern Yoga BKS Iyengar Dies at 95

Born on 14 December 1918, our yoga role model authoring Light on Yoga (dubbed as the bible of yoga these days) died in Bellur, British India today 20 August 2014. He is 95 years old.

It’s a very devastating piece of news for us the yogis and yoginis as we see him as one of the pioneers of modern yoga, who serves as the best, the most flexible, the most credible source of learning to date. Now, he’s gone for good.

He, however, left invaluable heritages for the yoga world like Light on Yoga, Light on Pranayama, and Light on the Yoga Sutras of Patanjali. He would be pretty much missed.

And what I remember from his long life is photos of him on the book posing like a contortionist. So unforgettable, in every possible way.

Guru!!! (Bagian 3)

Udara dalam ruang apartemen mewahnya cukup membuat saya sedikit menggigil. Dari sebelah terlihat sebuah gedung tinggi, pusat perbelanjaan yang megah.

Murid saya ini tidak memiliki mat yoga sehingga ia menggunakan karpet ruangan sebagai alas saja. Saya menyarankannya membeli di toko terdekat tetapi beberapa pekan kemudian ia tak jua mendapatkan mat. Entah karena tak ada waktu untuk membelinya atau karena menurutnya tidak perlu menggunakan mat saat berlatih.

Karena saya datang terlalu awal, tersedia sedikit waktu untuk mengobrol ringan. “Saya bekerja di Cengkareng, jadi lebih enak rasanya olahraga pas waktu sore. Kalau pagi hari, saya sering langsung berangkat kerja. Tidak ada waktu berolahraga,”ia berceloteh dalam bahasa Inggris. MC tidak bisa berbahasa Indonesia. Ia lulusan New York University dengan pengalaman di dunia industri penerbangan komersial.

Kerja saya cukup menantang juga karena saya mendapati otot-otot tubuhnya yang kaku. MC, sebagaimana banyak orang Kaukasia lainnya, kurang biasa berjongkok. Saat saya melakukan jongkok dengan begitu alami dan tanpa upaya berarti, MC rupanya memiliki pinggul yang kaku dan otot kaki yang tegang juga akibat terlalu sering jogging.

Karena kelas kami berlangsung di malam hari dan MC mengatakan preferensinya adalah yin yoga, saya tidak mengajarkan gerakan yang terlalu menantang tetapi yang lebih menenangkan di waktu setelah bekerja di kantor. Lalu kami berfokus lebih banyak pada gerakan-gerakan peregangan dan restoratif.

Terungkap satu keunikan dalam anatomi tubuh MC. Saat saya menyuruhnya tadasana (pose gunung) dengan kedua telapak kaki paralel atau sejajar satu sama lain dengan jari jemarinya mengarah lurus ke depan, kedua telapak kaki MC selalu membuka. “Memang di keluarga saya begini, Akhlis. Saudara-saudara dan ayah saya kakiknya mengarah ke luar, tidak bisa sejajar, dalam kondisi normal. Posisi ini bisa dikoreksi tetapi tidak bisa bertahan lama. Saya sendiri tidak tahu mengapa,”terang MC. Saya hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasannya. Jadi ini keunikan anatomi genetis, saya menyimpulkan.

Keunikan itu pula lah yang membuat MC tidak dapat berdiri sebagaimana orang lain saat tadasana dan vrksasana (pose pohon). Saya pun memakluminya.

Kebiasaannya sebagai perenang dan pelari masuk dalam latihan yoga kami. Saat saya mengatakannya untuk bernapas dalam-dalam dan mengeluarkannya pelan-pelan, MC secara otomatis menggunakan mulut. “Sebaiknya pakai hidung saja, MC. Dalam berlatih yoga, biasanya kita pakai pernapasan dengan hidung, kecuali dikatakan secara jelas untuk bernapas melalui mulut seperti sitali dan sitkari. Filosofinya, jangan sampai membuang tenaga prana itu ke luar tubuh dengan menghembuskan napas ke luar tubuh lewat mulut. Dengan hidung, prana itu akan tetap bersirkulasi dalam tubuh kita,”jelas saya penjang lebar sembari mengingat sedikit penjelasan teman saat dulu saya membuat kesalahan yang sama.

20140628-141546-51346454.jpg

Guru!!! (Bagian 2)

MC tidak bisa disalahkan juga. Saya ingat yoga dianggap sebagai olahraga ringan nan feminin karena pencitraan yang salah kaprah yang diakibatkan kampanye pemasaran oleh pengusaha-pengusaha Barat. Padahal riwayat yoga sungguh patriarkal, macho. Inilah olah badan, jiwa dan semuanya yang didominasi kaum pria. Patanjali, Iyengar, Patabhi Jois, Krisnamacharya, bukankah mereka semua lelaki? Sayangnya, tidak demikian di Amerika Serikat. Yoga dikemas sebagai alat menarik ibu-ibu rumah tangga yang ingin menjadi lebih kurus kering seperti yogi-yogi India.

Pagi itu tanggal 15 Oktober 2013, kami merayakan Idul Adha. Usai solat Ied di masjid terdekat, saya kembali bekerja. Ya, Anda tidak salah baca. Saya masih bekerja meski di hari libur seperti ini. Sekadar memperbarui beranda depan situs pekerjaan saya. Demi traffic. Bah!

Lalu sekonyong-konyong masuklah surel dari MC. Isinya:
“Hi!
Apakah bisa latihan pertama hari ini saja? Saya libur. Apakah mungkin Anda mengajar hari ini?

MC”

Berkah Idul Qurban! Saya dapat pekerjaan! Tapi sedetik kemudian saya kebingungan karena saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya ajarkan padanya dan karena saya tidak tahu seperti apa MC sebenarnya, saya panik. Kemudian setelah sedikit menenangkan diri, saya membalas surelnya:

“Hi!

Pukul berapa? Bagaimana jika pukul 5 sore?”

Saya pikir akan lebih enak jika petang hari. Akan ada lebih banyak waktu untuk menyiapkan segalanya.

Sebentar kemudian saya mengaduk-aduk gudang informasi dalam perpustakaan pribadi sebagai inspirasi untuk nanti. Harus bagaimana? Apakah saya harus mengajar dengan pakaian seadanya? Apakah saya harus tampil sporty seperti guru yoga profesional dengan busana bermerek Nike atau Reebok? Bagaimana dengan mat? Ya ampun, mat saya kan biasa begitu? Bukan Jade atau Lulu Lemon. Lalu karena MC pernah cedera bahu, apa saja pose-pose yang aman dan mana yang harus dihindari? Karena dia mau lebih lentur juga, pose-pose apa yang mungkin bisa menambah kelenturan? Split? Tapi apakah itu tidak terlalu berat baginya yang mengaku beginner dalam yoga? Ahh, tiba-tiba semuanya jadi terasa kacau. Kondisi tiba-tiba menjadi rumit karena persiapan yang terlalu singkat ini.

Pukul 5 saya pun meluncur ke apartemen Ascott di dekat Bundaran Hotel Indonesia yang konon mirip desain iluminati itu. Ojek saya dalam 10 menit berhasil melesat ke sana. Saya bahkan sampai di sana terlalu awal.

Tentang tarif per kelas, MC keberatan dengan tarif yang saya ajukan. Itupun karena saya menanyakan pada seorang teman yang bekerja penuh waktu sebagai guru yoga. Katanya,”Naikin aja! Siapa tau dia mau!” MC keberatan dan menawar setengah tarif yang saya ajukan, yang pada dasarnya rekomendasi teman saja. Dan kini saya mungkin dicap MC sebagai guru yoga komersil, mematok harga seenaknya.

Tidak lupa saya mengatakan di awal bahwa saya belum bersertifikat bahkan sebelum saya menyanggupi permintaan MC untuk mengajar. Saya tidak ingin menutupi fakta bahwa saya belum lulus dari sebuah perjalanan panjang yang disebut pelatihan guru yoga yang mungkin juga tidak akan saya pernah bisa lalui dengan mulus apalagi sampai lulus. Tentang hal ini, lain kali saya bahas lagi. Panjang dan dalam ceritanya.

Saya sampai di lobi apartemen itu, menukar kartu identitas lalu ke lift dan menekan tombol 27. Untuk tidak setinggi kantor saya nanti di lantai 39.

Karena saya sudah melakukan sedikit penyelidikan di dunia maya tentang asal usul MC, saya tak terlalu terkejut saat menyaksikannya membuka pintu. Seorang pria Kaukasia tanpa sehelai rambut pun di kepalanya. Di surel, saya pernah menyertakan tautan berita lama dengan sebuah foto yang tampaknya adalah MC. Dia mengenakan setelan jas formal dengan beberapa orang di sampingnya, salah satunya adalah pemegang saham perusahaan yang dijalankan MC, Sandiaga Uno. Mereka tampak berpose di panggung sebuah jumpa pers, setting yang amat familiar dengan pekerjaan saya juga. Ia menjawab:”Benar itu saya, tetapi saya sudah melakukan pekerjaan lain sekarang.”

Tingginya sedang saja, untuk ukuran orang benua Amerika dan Eropa. Mungkin 180-an centimeter. Tetapi saya tidak sampai mendongak ke atas untuk berbicara. Usianya mungkin sekitar akhir 40-an atau awal 50-an. Tidak gemuk tetapi juga tidak kurus. Tidak banyak otot juga. “Lean” bisa jadi kata yang tepat untuk menggambarkannya. Meski mengaku sebagai perenang, tingginya tidak sampai rangka atas pintu.

MC mempersilakan saya masuk ke apartemennya. Sendiri saja tanpa teman saya masuk ke dalam, seperti seekor ayam dipersilakan masuk oleh sesama ayam yang ramah, yang entah siapa tahu bisa menanggalkan bulunya dan menjadi serigala. Sebetulnya saya merasa biasa saja, tetapi begitu saya ditanya oleh sesama teman tentang murid privat saya ini, mereka menakut-nakuti dengan mengatakan hal yang tidak pernah terpikirkan oleh saya sedikit pun sebelumnya, seperti…hmmm, sudahlah tak perlu dirinci.

MC tampaknya tinggal sendiri di sini. Apartemennya senyap. Tak ada jejak khas keluarga di sini. Semuanya kaku dan dingin. Tidak ada foto keluarga, tidak ada jeritan anak kecil. Hanya dia sendiri, dan saya, guru yoganya.

(bersambung)

20140626-224057-81657183.jpg

Guru!!! (Bagian 1)

Seorang guru tidak pernah menjadi guru dengan sendirinya. Seorang guru, apapun bidang yang digelutinya, baru akan menjadi guru jika orang lain menganggapnya demikian. Pengakuan status guru itu tidak perlu harus dengan sertifikasi yang berbelit dan menghabiskan uang tetapi yang pasti tentu saja menghabiskan pikiran, waktu dan tenaga karena pertama-tama si guru harus belajar banyak dan praktik lebih banyak juga.

Karena itu, saya segan mengecap diri sebagai seorang guru. Acap kali ditanya,”Apakah kamu mengajar? Apakah kamu guru yoga?” Rasanya aneh untuk menepuk dada dan mendeklarasikan bahwa saya guru. Saya malu mengatakan saya guru, selain karena masih minimnya pengalaman dan pengetahuan, juga karena ini semua masih terlalu awal. Sangat prematur. Butuh bertahun-tahun untuk belajar dan mendalami serta mematangkan apa yang sudah dipelajari. Lambat? Bukan masalah bagi saya. Tidak ada target untuk kepuasan pribadi. Saya hanya ingin menikmati prosesnya, tanpa terpatok hasilnya.

Membahas tentang guru dan murid, saya teringat dengan murid pertama saya. Sebelumnya saya sudah beberapa kali mengajar yoga karena terpaksa. Iya, terpaksa. Entah itu karena tidak ada guru lain yang lebih kompeten atau karena memang saya yang sedang “ketiban pulung.” Tentu saja itu tidak bisa dianggap sebagai mengajar yang sungguh-sungguh dan profesional. Murid-murid itu, atau lebih tepat disebut kelompok orang yang berdatangan ke taman tersebut, tidak bisa memilih guru mereka. Di sini, mereka tidak memiliki hak opsi, memilih layaknya warga negara yang bisa mengikuti pemilihan umum, tetapi cuma menjadi makmum. Dan saya juga merasa lebih banyak berbagi daripada mengajar. Saya tunjukkan bagaimana cara berlatih sehari-hari. Itu saja, dengan sedikit pose-pose “gila” yang menjadi kesukaan saya tentunya. Saya tidak bisa secara intensif mengetahui perkembangan dan kondisi satu persatu murid. Hal itu membuat saya lebih terkesan hanya memberi instruksi daripada secara aktif membimbing.

Namun, murid saya yang berinisial MC itu berbeda. Dia memilih saya secara sadar dan memperlakukan saya layaknya guru profesional. Terakhir kami bertemu adalah satu hari di bulan November yang basah di Jakarta tahun 2013. Lebih dari setengah tahun dari sekarang. Entah di mana dia sekarang. Mungkin tidak lagi menjejakkan kaki di tanah Indonesia.

Saya tiba-tiba teringat MC karena tanpa sengaja membaca sepotong berita yang isinya mengabarkan kembali jatuhnya sebuah maskapai penerbangan swasta nasional di situs berita bisnis yang menjadi sumber mata pencaharian saya. Pengusaha terkenal Sandiaga Uno sempat turun tangan, tulis si jurnalis, tetapi tak ayal lagi depresiasi rupiah mencekiknya. Para pegawai disodori pesangon. Tragis. Tak ada nama MC disebut meski ia adalah petinggi di maskapai itu.

MC yang ekspatriat itu menemukan saya melalui dunia maya. Kegemaran saya menulis blog tentang yoga dalam bahasa Inggris menjadikan saya lebih mudah ditemukan di lautan informasi yang bernama Internet. Saya juga patut berterima kasih pada Mira Jamadi, seorang guru yoga Amerika yang tinggal di Prancis. Ia mengajar yoga di Namaste Festival 2012 dan saya sempat memberikan sedikit ulasan di blog dan ia membacanya lalu menaruh tautannya di situsnya. Dari sana, tulisan saya lebih banyak dibaca pengunjung situs Mira. Dugaan saya, MC juga mulanya mengaduk-aduk informasi di situs Mira dan menemukan tautan ke blog saya.

Apapun itu, MC sampai di blog saya dan menemukan cara menghubungi saya di laman “About”. Semua orang bisa menemukan alamat surel saya dengan mudah di blog. Tak ada nomor ponsel, hanya jejaring sosial.

Pagi tanggal 13 Oktober 2013, MC mengirim via surel untuk menanyakan apakah saya bisa mengajar yoga untuknya saja. “Jadi ini akan menjadi kelas privat pertama saya, jika tercapai sepakat,”batin saya. Saya masih belum yakin dengan keseriusannya. Saya belum berani memutuskan. Lebih lanjut saya bertanya latar belakangnya dalam berlatih yoga, adakah kondisi kesehatan khusus, penyakit, dan sebagainya. Saya tidak mau mengajar “kucing dalam karung.” Akan sangat memalukan jika saya asal berkata sanggup dan tidak bisa menepatinya nanti. Bagaimana jika ia ternyata mengidap kelainan yang saya tidak ketahui dan latihan yoga saya membuatnya lebih parah dari sebelumnya? Saya dihantui pikiran-pikiran semacam itu karena saya tak pernah bertemu MC secara langsung sebelumnya. Saya hanya bisa terus menebak-nebak. Menurut pengakuannya, ia pernah cedera bahu karena berenang secara kompetitif. Jadi mungkin MC itu tubuhnya sangat tinggi, prediksi saya.

Soal tarif mengajar, saya cukup kesulitan menerapkan karena tidak ada yang bisa memberikan gambaran tentang kisaran tarif kelas yoga privat di ibukota. Saya tak pernah mengajar secara profesional sebelumnya dan ini asing bagi saya. Karena kebingungan menetapkan tarif, akhirnya saya putuskan menghubungi seorang teman yang dulunya bekerja di sebuah perusahaan tetapi kini ia hanya mencari nafkah dari yoga. Sebuah keputusan yang berani. Saya sangat mengapresiasi keberanian seperti itu. Belajar dari pengalamannya, temannya yang lain ikut mengundurkan diri sebagai karyawan dan berdua mereka mengais keberuntungan di dunia yoga ibukota. Sementara saya di sini masih gamang dengan menulis atau yoga. Keduanya memberi saya “roh” dalam menjalani kehidupan. Saya merasa berarti dan dihargai karena keduanya.

MC menjawab sekitar pukul 7.06 malam tanggal 13 Oktober 2013:”Terima kasih sudah membalas. Saya baru belajar yoga. Pernah ikut kelas di Desa Seni di Bali Juli kemarin. Saya mau sebuah kelas privat di Jakarta.”

Esok harinya tanggal 14 Oktober 2013, MC kembali membalas dengan mengatakan ia pernah mengikuti kelas Angela dan Anna di sana. Rasanya enak, tulis MC mengenang sensasi setelah mengikuti kelas yoga pertamanya.

Untuk memastikan jenis yoga yang ia anggap “enak” itu, saya bertanya lebih rinci lagi. Ternyata kesukaannya yin yoga dan hatha yoga. Ia tertarik dengan kebugaran dan kelenturan. MC sempat menyebut “menua” sehingga saya menebak usianya sudah cukup uzur. Setidaknya lebih tua dari saya. Kini ia lebih suka berselancar, angkat beban yang ringan, berlari, dan yoga yang dianggapnya lebih lembut dan minim cedera. Padahal tidak juga.

(bersambung)

20140626-104755-38875539.jpg

Yoga ‘Escapism’ and Dealing with Life Ordeals

A yogi friend claims yoga classes and retreats as a way to escape from unwanted facts, flee bitter reality. Yoga escapism, as I may call it, is the current trend. Most ancient yogis did yoga for the sake of religious and spiritual devotion. They shunned temporary worldly pleasure and traded that with internal peace, equinanimity of soul, mind and lastly body. Yet, urban yogis and most of the practitioners these days do not practice yoga for such unwavering devotion we might see in the past in India.

Is yoga escapism wrong? I am afraid I cannot tell you for sure if it is or is not wrong. Who am I to judge other people’s practice? As for me, I like yoga as a pastime, that diverts my mind and body from the mundane, monotonous corporate world full of workloads to a private kingdom of mine. It is much like my Narnia, a vast unknown world hidden in the closet, where I am on my own, undisturbed, unagitated.

Yoga though really helps some people deal with their own internal ordeals. I said internal because yoga mostly aids us to fix the intermingled thoughts, emotions and short and long-term memory. External issues cannot be fixed by yoga, but by strengthening and empowering your souls with yoga, overcoming external challenges and tasks feel a lot more smoother. No more crankiness, overwhelming anxiety, unpredecented fear or paranoia. Yoga may improve your quality of vision towards the world, inside out. And this is a lifelong practice, which involves not only asanas practices but also coming to deeper and better understanding of our Self, these souls. This is what sets yoga apart from other types of workout.

Today, a friend taught her class with this sort of spirit, to feel more what is happening inside rather than outside. I saw her change after losing her elder brother. She may not be as chatty or cheerful as before but certainly there is some better perspective towards her surroundings she is showing to us now. And I saw in her how yoga has helped her so much deal with the ordeals, the loss and the depression following the sudden loss.

Whatever I think yoga is to me – whether it be a confidential sanctuary to escape or a practice to fortify myself to cope with the cruel reality or a workout to help me restore my physical health and well being – one thing I believe is that yoga helps me feel more, think more only now with better clarity of mind, make sense how the universe works.

So while you are at that, switch off the gadgets, get on your mat, sit for a while and close your eyes. Breathe and feel the pain or joy or any feelings and thoughts appearing and vanishing inside your head.

Open your eyes and now get back to reality!

20140622-124429-45869571.jpg

%d bloggers like this: