Hoi Jan!

Pukul 10.55 pagi di Jakarta sini. Tigapuluh tiga derajat celcius. Tadi pagi aku bersepeda dan berkeringat banyak sekali. Dan setelah itu masih juga bersepeda ke kantor. Tidak banyak pekerjaan di kantor sekarang jadi sambil menunggu waktu istirahat makan siang, aku teringat untuk membalas emailmu akhir pekan lalu yang belum sempat aku balas.

Dari ponselku, aku tahu di Amsterdam masih pukul 4 pagi dini hari dan pasti kau masih tertidur pulas. Suhunya lebih dingin 24 derajat dari Jakarta. Ya ampun, tentu saja aku lupa ini. Tentu dingin karena sekarang sudah musim gugur dan bulan depan sudah musim dingin.

Tentang ceritamu di email tentang 15 hal yang belum banyak diketahui turis di Amsterdam, hmm aku sangat TERGODA! Haha. Terutama soal bersepeda ke mana-mana. Di Jakarta, hanya satu hal tentang sepeda yang kusukai: kau tidak akan cemas sepedamu dicemas. Itu karena orang di sini tidak peduli semahal apapun sepedamu, mereka lebih suka sepeda motor. Lebih mudah dijual dan kalaupun tidak terjual bisa dipreteli dan dijual terpisah onderdil-onderdilnya.

Omong-omong, kursus bahasa Belandaku di sini berjalan lancar. Ini sudah pertemuan ke tujuh dan sekarang aku sedang sibuk belajar topik membuat kalimat negasi. Kadang susah juga membedakan kapan harus menggunakan “geen” atau “niet”. Ini mirip kebingunganmu saat belajar membedakan penggunaan “tidak” dan “bukan”. Dalam beberapa konteks, mereka bisa saling menggantikan, tapi di konteks lain, keduanya tidak bisa tergantikan. Dan sialnya, tidak ada pola atau rumus yang pasti untuk itu.

Karena aku sangat tertarik dengan sejarah, aku akan pertama-tama memintamu untuk mengantarku mengunjungi Hermitage Museum dan menikmati karya-karya Rembrandt, Vermeer, dan Frans Hals, mungkin aku akan habiskan waktu seharian penuh untuk menelusurinya. Aku selalu ingin tahu soal masa lalu. Belanda yang jaya di abad ke-17, karena mengisap kekayaan tanah airku, Jan. Sudahlah itu luka masa lalu tetapi aku ingin tahu bagaimana bangsamu mendirikan pasar saham pertama di dunia saat bangsaku bahkan mungkin belum mengenal uang dan masih mengandalkan barter hasil bumi.

Kemudian Volendam. Desa historis itu sangat Belanda, dan aku hendak ke sana untuk menemukan keunikan kebudayaan lokal. Bisakah aku menemukan atau bahkan membeli sepasang ‘klompen’ di sana, Jan? Aku ingin sekali membeli satu atau dua pasang untuk dibawa pulang ke Indonesia.

Soal genever atau gin yang kau ceritakan itu, tentu aku tidak bisa mencicipinya, Jan. Kau tahu aku tidak bisa minum alkohol dengan alasan yang sudah jelas. Tapi aku masih tidak percaya bagaimana bisa minuman keras (berkadar alkohol sampai 20% kau bilang? Gila) itu dulu dijual sebagai minuman kesehatan atau obat di apotek. Kami punya tuak di sini tapi kami tidak pernah menjualnya sebagai minuman kesehatan. Ya, aku tahu kau akan menyangkal dengan bertanya: bagaimana dengan anggur kolesom? Kau tahu, setiap masyarakat memiliki standar gandanya. Kami di Indonesia juga. Haha.

Untuk tawaran mencoba ikan herring itu, aku sangat tergiur. Kau bilang Amsterdam herring dari Norwegia ya? Bagaimana bisa? Apakah Amsterdam tidak punya herring mereka sendiri?

Museum Prostitusi juga amat menarik, aku pikir. Tapi apakah di dalamnya akan ada atraksi-atraksi yang mendebarkan? Semoga tidak, karena jika ada aku akan menarikmu keluar bersamaku. Haha! Kau tahu aku anak baik-baik, kan?

Katamu aku juga harus mencoba pengalaman mencoba ‘de krul’, urinal di tepi jalan yang dibuat agar pria-pria yang mabuk tidak sembarangan kencing di kanal lalu terjerembab ke dalamnya dan mati tenggelam sebelum bahkan sempat menutup resleting celana mereka. Di Jakarta, buang air kecil di tepi jalan, bisa kukatakan, bukan lagi pengalaman aneh dan eksotis, Jan. Jadi, kalau kau mau aku membuka celanaku dengan menghadap urinal yang tidak beratap di tengah lalu lintas Amsterdam yang tak seberapa dibandingkan Jakarta yang seperti neraka ini, aku tentu tidak akan gentar. Hanya saja aku pikir hawanya agak dingin. Apakah air seni akan membeku begitu bersentuhan dengan udara bebas apalagi saat nanti aku akan sampai di sana?

Karena aku penggemar gaya hidup minimalis, aku pikir usulanmu mengunjungi rumah termungil itu juga sangat menggoda. Konsepnya menarik. Hidup di rumah selebar 2 meter dan tinggi 6 meter aku rasa akan sangat menarik untuk dijalani, apalagi di Jakarta yang juga harga tanahnya makin membubung di luar kewajaran.

Vrolik Museum mungkin akan kukunjungi jika waktuku masih ada di Amsterdam nanti. Karena serius, aku tidak akan tahan menatap jenazah-jenazah manusia dengan berbagai jenis cacat fisik yang tak pernah terbayangkan sebelumnya yang diawetkan dengan khloroform di gelas-gelas kaca raksasa. Ugh! Membayangkannya saja aku sudah mual, Jan!

Het Trippenhuis’ mungkin sama besarnya dengan rumah merah di Kota Tua Jakarta. Untung di Jakarta, rumah tidak dikenai pajak menurut lebar bagian depan rumah. Kalau tidak, semua orang akan berlomba-lomba melebarkan rumah mereka.

Pastinya aku akan mengunjungi Amsterdam Cheese Company yang tersohor itu. Aku selalu membayangkan diriku makan keju, seperti tikus-tikus dalam cerita komik Walt Disney. Aku rasa aku harus makan lebih banyak keju agar tubuhku bisa sama tingginya denganmu. Ya, walaupun agak sedikit terlambat.

Aku juga ingin melihat patung Ratu Wilhelmina yang sedang berkuda dengan dua kaki kudanya di sisi yang sama yang terangkat bersamaan. Musykil, tapi bisa terjadi, hanya jika sang pematung menghendakinya.

Perlu kau ketahui, Jan, pekan kemarin setelah kau memberitahukan padaku bahwa tantemu dari Utrecht akan datang dan menginap di rumah keluargamu, aku sudah hampir putus asa. Hampir saja aku membatalkan rencana kunjunganku ke Amsterdam, dan tentunya rumahmu yang hangat itu, teman. Karena saat itu aku hanya memikirkan biaya perjalanan udara dan tidak terlintas untuk memikirkan memesan tempat menginap jikalau kamar di rumahmu penuh.

Jadi, aku harus mengubah rencana. Kupikir tentu saja akan mudah menemukan hostel murah atau penginapan yang nyaman dan aman di Amsterdam. Tetapi sepertinya aku salah, karena memesan hotel tidaklah semudah memesan tiket pesawat. Ada begitu banyak pertimbangan seperti tarif per malamnya, lokasi, kenyamanan, dan yang pasti keamanan. Kau tentu tahu aku sangat trauma dengan kejadian kriminal sepanjang liburanku di China saat salah seorang temanku kehilangan paspornya. Liburan kami sudah porak poranda seketika. Gairah bersenang-senang kami langsung sirna. Karena itu, Jan, aku tidak mau memilih tempat menginap secara sembarangan.

Untungnya, om Ari adik mamaku memberitahuku bahwa sekarang memesan tiket pesawat dan hotel tidak perlu dilakukan secara terpisah. Aku juga awalnya tidak percaya layanan semacam itu ada tetapi setelah om Ari mengatakan dirinya juga sering menggunakan layanan paket ‘Pesawat + Hotel’ dari Traveloka, aku baru mempercayainya. Kata om Ari, paket itu membuatnya bisa lebih banyak berhemat saat mesti memesan tiket dan akomodasi selama melancong. Ah, sungguh menyenangkan rasanya. Aku suka sekali dengan inovasi ini.

Barulah setelah aku memesan tiket pesawat pergi-pulang ke Amsterdam dengan Traveloka dan mendapatkan konfirmasinya, aku buru-buru menulis email balasan ini untukmu. Ah, sudah hampir jam makan siang di sini, Jan. Kutunggu balasanmu.

Doei,

Akhlis

 

*) P. S. : Aku akan bawakan beberapa ‘kudapan eksotis dari Timur’ sambal pecel, tempe, dan seblak.

%d bloggers like this: