Mau Yoga Gratis di Central Park 9 Oktober Nanti? Daftar Sini!!!

Central park, tempat yoga tanggal 9 Oktober 2011.
Berikut pengumuman dari mas Yudhi pagi ini :
Sedulur-sedulur Yoga yang Bergembira,
Komunitas Majelis Yoga Gembira Taman Suropatiyah dapet undangan untuk menghadiri “Yoga In The Park” di Taman Central Park pada Minggu, 9 Okt pkl 7 – 9 pagi. Kata penyelenggara, acara itu terinspirasi oleh kegiatan Yoga Gembira di Taman Suropati. Atas inspirasi itu mereka mengharapkan kehadiran temen2 sebagai “tamu kehormatan” :). Peserta tidak perlu membawa matras, karena panitia akan memberi matras yoga beneran secara cuma-cuma. Karena itu, pergunakanlah kesempatan berlatih yoga bersama di ruang terbuka ini. Sebagai upaya untuk mengisi ruang terbuka hijau.
Bagi teman-teman yang ingin ikut diharapkan mendaftar ke sdr Akhlis Purnomo terlebih dahulu untuk pendaftar 40 orang pertama untuk memudahkan kesiapan panitia menyediakan matras. Mau ya Khlis (bisa juga kemudian diumumkan di twitter @SocialYogaClub ya) Setelah 40 orang, harap mendaftar langsung ke Koko Yoga dengan mencantumkan Nama dan nomer telp yang bisa dihubungi.
Mari kita beryoga sambil menambah banyak teman.
Salam,
Social Yoga Club
Yudhi
Pembantu Umum
Berikut konfirmasi dari Koko Yoga sebagai penyelenggara:
Mohon konfirmasinya sekali lagi teman2 ,jadi saya hanya memberikan 40 matras (travel mat yg tipis) gratis untuk 40 pendaftar pertama (selebihnya harap bawa sendiri yah bagi yg punya, panitia Celebrity Fitness menyediakan 200 matras untuk dipinjamkan di tempat).Terima kasih mas Yudhi atas kesediaannya.
Dengan demikian yoga di Taman Suropati pukul 7 pagi tanggal 9 Oktober akan berpindah ke Central Park, dan sore harinya akan ada Meditasi Bulan Purnama di Jalan Bangka nomor 20
p.s. : Silakan daftar ke saya (Akhlis selaku admin yogagembira.net) dengan kirimkan SMS berisi NAMA LENGKAP dan kesediaan untuk ikut serta ke 085641960955
Untuk  info lebih lanjut silakan kirim email ke yogagembira@gmail.com, atau twitter di @socialyogaclub.com.
DAFTAR PESERTA (akan terus diupdate):
1. Teani Thea
2. Chika
3. Elly
4. Joffa Ochi farra
5. Anggraini Devi
6. Amel
7. Angel
8. Akhlis
9. Lucy Irawan
10. Ay Pieta
11. Mira
12. Intan Kusnadi
13. Muktita suhartono 
14. Yuliana sinaga 
15. Bintang
16. Yuli (ini maksudnya bu yuli atau siapa ya?)

Belajar Pluralisme dengan Prof. Musdah Mulia

Aku di ujung paling kiri 'tertangkap basah' sedang menghitung susu tante (sumbangan sukarela tanpa tekanan) saat Bu Musdah berceramah.

Banyak orang tak paham pluralisme. Pluralisme seolah menjadi kata kotor karena Majelis Ulama Indonesia pada 2005 mengharamkan pluralisme. Kesalahpahaman ini berujung dari definisi pluralisme yang dirumuskan oleh Majelis Ulama Indonesia yang menyamakannya dengan relativisme (semua agama dianggap benar), sinkretisme (pencampuradukan agama), dan sebagainya. Padahal pluralisme itu bukan seperti yang didefinisikan oleh MUI.

Apa itu pluralisme? Untuk memahami makna pluralisme, kita patut ketahui tipe-tipe orang beragama. Secara psikologis, para ahli membagi orang beragama dalam 3 bentuk :eksklusif, inklusif, dan pluralis.

Eksklusif

Mereka menganggap orang yang berkeyakinan lalin sebagai domba yang sesat, yang perlu dihalau kembali ke jalan yang benar. Orang seperti ini akan mencap jelek orang yang berseberangan. Seolah mereka memiliki mandat dari Tuhan bahwa mereka harus mengajak orang lain mengikutinya agar selamat (baca: masuk surga). Orang berpaham eksklusif memandang orang yang tak sepaham sebagai ancaman, masalah yang harus dibasmi, mereka merasa terancam dengan kehadiran perbedaan. Perbedaan membuatnya tidak tenang.

Orang eksklusif sebetulnya ingin mengajak orang lain untuk menuju kebenaran dengan mengikutinya. Seperti FPI dengan paham “Amar ma’ruf nahi munkar”-nya, mereka bermaksud baik untuk menjauhkan orang dari keburukan tetapi caranya kurang bisa diterima karena menganggap diri sendiri selalu benar.

Inklusif

Tipe kedua ialah tipe inklusif. Mereka ini mulai mengakui keberagaman, adanya agama lain, keyakinan lain. Orang bertipe  inklusif berpikir bahwa agamanya yang paling benar dibandingkan yang lain, tetapi ia belum memiliki keinginan untuk membantu, berbaur atau menolong dan mengakui hak orang lain.

Tipe inklusif secara umum lebih baik dari eksklusif yang berpikiran sempit.  Ia berpikir “agamamu agamamu, agamaku agamaku, tetapi agamaku-lah yang paling benar”. Orang seperti sudah lebih terbuka dari golongan eksklusif tetapi belum ada keinginan untuk membaur, untuk membantu secara nyata, dan mengakui hak orang yang berseberangan.

Bu Musdah semangat beryoga. Pose crunch kayak gini bikin ga bisa napas loh, tapi beliau masih kuat juga, ga nyerah, ngikutin sampe pol! Salut!

Pluralis

Dalam tahapan ini orang mencapai tahap lebih dari inklusif ( beyond inclusive). Orang pluralis meyakini kebenaran ajaran keyakinannya dan pada saat yang sama juga peduli dengan hak-hak orang lain untuk meyakini kebenaran ajaran keyakinan mereka masing-masing.

Agama yang paling benar juga tidak perlu diperdebatkan. Karena jawabannya tidak akan pernah diketahui manusia kecuali Tuhan Yang Maha Esa. “Jika ditanya agama mana yang paling benar, jawabannya sederhana saja: “Wallahu alam”. Begitulah pendapat alm. Gus Dur”, kata Prof. Musdah.

Yang terpenting  adalah bagaimana pemahaman ajaran agama kita masing-masing bisa tecermin dalam setiap langkah kita, tanpa harus memproklamirkan kebenaran ajaran agamanya. Seseorang yang pemahaman ajaran agamanya sudah baik biasanya membuat orang lain nyaman berada dan berinteraksi dengannya. Perilaku yang baik dan bermoral terhadap sesama ( berlaku jujur, memperlakukan orang dengan manusiawi, tidak mendiskriminasikan,  menghindari kekerasan, dan sebagainya). Pikiran, ucapan, perbuatan yang positif lebih kuat dalam menyampaikan kebaikan dalam ajaran agama kita daripada tanpa henti memberitahu orang bahwa ajaran agama kita itu paling benar tanpa membuktikannya secara konkret. Misalnya, ada oknum-oknum yang menyatakan keyakinannya paling benar tetapi masih melakukan kekerasan, kebohongan, bersumpah palsu, dan seterusnya. Mereka ini yang membuat agama mereka menjadi nista karena membuat orang lain berpikir negatif tentang agamanya.

Dalam lingkup ajaran Islam, misalnya, disebutkan oleh Nabi Muhammad bahwa muslim adalah orang yang membuat orang lain di sekitarnya merasa nyaman. Jadi jika seorang muslim tinggal di sebuah lingkungan dan membuat tetangganya merasa gelisah dan kurang nyaman, rasanya perlu dipertanyakan kemuslimannya itu.

“Semua agama itu pada dasarnya bertujuan memanusiakan manusia”, kata Prof. Musdah Mulia. Kalau kita yakin bahwa kita adalah manusia, hormati saja sesama kita. Apapu  agama dan kepercayaan.

Keberagaman adalah sunatullah atau bagian dari ketentuan Tuhan. Keberagaman adalah sebuah bagian dari alam semesta. Jadi mustahil untuk menolaknya.

tua muda,kurus gemuk, semuanya saling bantu ngelurusin punggung masing-masing. Itu yang baju pink (tante Indah) ama anaknya Celine, sekilas kayak temen sepantaran ya. Haha. "Ayo Celine, jangan bungkuk!" gitu kata ibunya pasti kalo liat ni foto.

Kisah Abunawas: Ketidakadilan di Mata Manusia itu Keadilan di Mata Tuhan 

Sebuah kisah Abunawas pernah menyinggung tentang ketidakadilan. Abunawas mengamati pohon beringin yang berakar, berbatang besar dan kokoh itu hanya memiliki daun dan buah yang kecil. Sementara pohon labu yang merambat di atas tanah, batangnya saja kecil dan terkulai di permukaan tanah, justru memiliki daun yang lebih lebar, dan buah berukuran jauh lebih besar daripada buah pohon beringin.

Saat Abunawas duduk di bawah pohon beringin dan bergumam bahwa fenomena beringin vs labu itu adalah suatu ketidakadilan oleh Tuhan, satu buah beringin terjatuh dan menimpa kepalanya. Hal itu serta merta membuatnya berpikir, “Andaikata buah beringin ukurannya sebesar buah labu, sudah bonyok kepala saya.”

Jadi hikmah dari kisah ini adalah bahwa ternyata semua yang diciptakan Tuhan itu, termasuk keberagaman, pasti ada manfaatnya. Adalah satu hal yang amat sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan seluruh manusia menjadi seragam, satu jenis. Tapi kenyataannya? Tuhan malah menciptakan kita dengan berbagai macam perbedaan yang kompleks. Jadi keberagaman itu pasti ada maksudnya.

Manusia adalah salah satu sumber keberagaman. Dan keberagaman itu menjadi titik tolak bagi kita untuk merenungkan kembali pertanyaan berikut, “Untuk apa kita diciptakan oleh Tuhan?” dengan berbagai keragaman yang kita miliki, salah satunya kita harus bisa menghargai dan menghormati orang lain apa adanya. Kita harus bisa hidup berdampingan di atas bumi ini dengan damai dan saling merasa nyaman satu sama lain. Kita tidak saling merenggut hak orang lain. Justru harus lebih banyak berbagi.

Esensi beragama itu adalah mencapai kedamaian: damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama, damai dengan alam semesta.saat itu tercapai, kita bisa mengatasi semua masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Koruptor, jika kita bisa cermati, adalah seseorang yang belum memiliki kedamaian dengan egonya, belum berdamai dengan hasrat kebinatangannya (keserakahannya).

Agama tidak melarang kita untuk kaya tetapi perlu dipahami bahwa kekayaan itu hendaknya perlu disebarkan untuk kepentingan bersama.

Pluralisme bukan hanya sekadar mengakui secara personal tetapi apakah kita sebagai pribadi yang mengaku pluralis pernah berbuat sesuatu yang nyata atau menyuarakan kepedulian kita saat orang lain/ tetangga/ warga negara lain diganggu hak-haknya dalam menunaikan ajaran  keyakinannya? Misalnya jika kita muslim, apakah kita pernah melakukan sesuatu atau menyuarakan kepedulian kita saat tetangga/ kawan kita yang Kristen diganggu dalam menjalankan ibadahnya?

Prof. Musdah Mulia mengisahkan apa yang ia alami saat berkunjung ke GKI Yasmin di Bogor yang disegel oleh sekelompok orang. Saat ia hendak masuk ke dalam gereja, Musdah dihadang oleh polisi yang berjaga dan ditegur , “ Bu bu, ini kan gereja!” Musdah menjawab, “Iya saya tahu, saya memang sengaja mau datang ke sini. Kenapa?” Kata polisi itu lagi, “Tapi ibu kan pakai jilbab.” Musdah menyesalkan pola pikir oknum polisi kita yang belum dewasa.

Musdah menyatakan alasan mengapa ia membela hak-hak jemaat GKI Yasmin, yaitu karena mereka ini adalah warga negara Indonesia juga yang punya hak untuk hidup dan beribadah. Pluralisme dengan demikian ditandai dengan sikap aktif, peduli dan mau melakukan sesuatu untuk membuat hak-hak orang lain yang terampas menjadi terpenuhi. Bukan hanya pengakuan personal tetapi setidaknya menyuarakan tuntutan pemenuhan hak-hak teman kita yang berbeda agar terpenuhi.

Jangan dikira yang lebih muda pasti lebih lentur karena banyak anak jaman sekarang gaya hidupnya tidak seaktif dulu (sok tua gw).

Mengapa? Toh itu bukan urusan kita, begitu mungkin kita pikir. Musdah melanjutkan, “Kita harus speak out menentang ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah kita.  Jangan pernah diam saat menyaksikan ketidakadilan karena jika kita membiarkannya, suatu saat ketidakadilan yang sama atau yang lebih dahsyat akan menimpa kita pula. Karena itulah katakan tidak pada kekerasan, segala bentuk kezoliman. Dengan begitu kita dapat membangun damai. Karena kalau kita semua silent (diam), maka keadaannya seperti sekarang, saat mayoritas orang hanya diam. Yang berbicara hanya segelintir saja.”

Mendalami Pluralisme

Kembali membahas tentang pluralisme yang diharamkan oleh MUI, MUI mendasarkan fatwa haramnya tersebut dengan definisi pluralismenya yang dirumuskannya sendiri, yang menurut Prof. Musdah Mulia menyamakan pluralisme dengan relativisme, seperti yang telah disinggung sebelumnya di awal tadi. Agama itu dalam paham relativisme dianggap sama benarnya.

Pluralisme padahal mendasarkan diri pada pemahaman bahwa di antara berbagai keyakinan itu ada perbedaan dalam berbagai aspeknya. Agama itu pada dasarnya hanya jalan yang ditempuh manusia untuk bisa menuju Tuhan Yang Maha Esa. Dan jalan itu amat bervariasi. Dengan demikian, asumsi “pluralisme=relativisme” ala MUI itu terbantahkan.

Fenomena yang menarik sekarang ini adalah orang terlihat seperti menyembah Tuhan tetapi pada hakikatnya ia menyembah agamanya sendiri. Dengan kata lain, ia menjadikan agama sebagai berhala, dan malah mengesampingkan Tuhan. Ini, menurut Musdah, merupakan hal yang aneh karena agama itu media, bukan Tuhan itu sendiri.

Argumen lain menyatakan pluralisme itu mirip dengan sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran agama-agama. Pluralisme malah berpijak pada keyakinan terhadap agamanya masing-masing. Jadi saat kita tidak yakin dengan agama kita, bagaimana kita bisa mempertahankannya? Sehingga intinya, saat kita beragama, beragamalah dengan sebaik mungkin, pelajarilah dan amalkanlah dengan semaksimal mungkin. Pelajarilah secara kritis dan rasional agama/ keyakinan yang kita peluk karena agama/ keyakinan yang benar itu pasti tidak bertentangan dengan akal sehat. Saat kita menemui sesuatu hal yang disebut ajaran agama tetapi bertentangan dengan akal sehat, maka kita harus kembali mengkritisinya dan mengkajinya ulang, papar Musdah. Jangan-jangan pemahaman kita yang belum mendalam.

Intinya, pluralisme itu terkait erat dengan pengakuan, penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain yang berbeda, siapapun dan apapun dia. Yang diperjuangkan dalam pluralisme ialah bagaimana agar semua orang bisa memiliki hak-haknya dalam meyakini dan menjalankan agama/ keyakinannya,  pahamnya. Setiap dari kita berhak untuk mengekspresikan keyakinan dan paham itu dalam kehidupan nyata dan sosial.

Musdah menekankan keadilan (fairness) dalam menggunakan ruang publik dengan menghindari pemaksaan dalam berbagai bentuk, apalagi dengan mengeksploitasi kelemahan orang lain untuk menguntungkan diri sendiri/ agar memihak keyakinannya.

Berbicara dengan sudut pandang bangsa dan negara, pluralisme perlu dibangun dalam beragama karena Indonesia dibangun di atas kemajemukan. Konsep bhinneka tunggal ika itu adalah bukti pluralisme. Indonesia mesti tetap berwarna-warni dan bersatu dalam wadah NKRI seperti yang diamanatkan para pendiri negara ini dahulu.

 

Beragama Lebih dari Sekadar Surga-Neraka, Haram-Halal

Saat ditanya oleh tentang pengajaran agama yang logis, kita harus mulai berhenti mengajarkan pada anak-anak kita mengajarkan agama secara  dogmatis, kaku dan hanya berorientasi punishment and reward. Konsep pengajaran beragama dengan punishment and reward itu bisa dijumpai saat ulama mengatakan satu hal itu haram atau halal tanpa membuat orang berpikir lebih mendalam tentang apa argumentasi di balik jawaban itu. Demikian juga saat kita mengajarkan beragama pada anak-anak, mengajari mereka konsekuensi setiap perbuatan adalah surga dan neraka secara terus menerus merupakan konsep pengajaran agama yang membentuk mereka sebagai pribadi yang berpikir instan, penuh pamrih mengharapkan imbalan dan selalu terintimidasi oleh kengerian hukuman di akhirat.

Menurut Musdah Mulia, beragama perlu dilandasi dengan kecintaan pada Tuhan. Kita melaksanakan ajaran agama itu hendaknya didasari dengan keinginan tulus mendekatkan diri dengan-Nya, bukan berdasarkan harapan untuk bisa menikmati surga setelah susah payah beribadah di dunia atau bukan  berdasarkan ketakutan bisa dijebloskan ke neraka yang penuh penderitaan. Itu membuat anak-anak kita berpikir Tuhan seperti monster yang mengintimidasi. Tuhan adalah sebuah zat yang menjadi sandaran manusia, tempat mengadu. Selalu memikirkan surga-neraka itu merupakan fase beragama yang paling dasar dan primitif. Menurut istilah Gus Dur, kata Musdah, itu adalah cara beragama anak-anak TK. Saat seseorang sudah dewasa dalam beragama, ia mampu meninggalkan pemikiran semacam itu dan beralih ke kehidupan sebagai pengabdian tulus karena kecintaan pada Tuhan.

Masyarakat Indonesia masih terjebak dalam cara beragama yang instan, bukan cara beragama yang kritis. Kita masih suka terfokus pada konsep halal-haram. Mungkin itu dipicu oleh rasa lelah dan jenuh dengan kesibukan sehari-hari.

Agama juga bukan kajian teoretis yang ada di awang-awang tetapi seharusnya sesuatu yang fungsional, bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan beragama, kita menjadi individu yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupan.

 

Bagaimana menjadi pluralis?

Agar menjadi pluralis, kita perlu mempelajari dan melaksanakan ajaran agama kita lebih dulu. Itulah sayangnya masalah terbesar di Indonesia, sebagian besar dari kita masih harus mendalami ajaran agama kita karena sebelum hal itu tercapai, kita masih akan terus menjadi pribadi-pribadi yang belum damai dengan diri sendiri. Kita masih akan terus memandang orang lain yang berbeda sebagai ancaman. Dalam keadaan seperti ini, seseorang kecil kemungkinan bisa menjadi pluralis yang penuh perdamaian karena ia sendiri masih mengalami konflik di dalam diri.

Masyarakat perlu juga melakukan kajian agama secara mandiri, tidak hanya terus menerus mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemuka agamanya.

p.s.: Tulisan ini juga bisa dibaca di blog Komunitas Yoga Gembira Taman Suropati http://www.yogagembira.net

Komunitas Backpacker Dunia: Jelajahi Dunia tanpa Modal Itu Mungkin! (Dari Social Media Festival 2011)

Presentasi Backpacker Indonesia di booth Indonesia Berkebun. Sayang suaranya menggaung, agak susah didengerin.

Tunjuk jari jika kamu ingin jalan-jalan ke luar negeri tanpa ongkos! Ngimpi kaliii.. Ya, itu memang impian belaka, sampai kamu ketemu komunitas satu ini: Komunitas Backpacker Dunia.

Singkirkan pikiran bahwa ke luar negeri itu mahal! Banyak orang Indonesia punya impian jalan-jalan ke luar negeri, tapi sering berpikir , “Ah, tidak mungkin, kan bayarnya mahal” atau “Yah, kudu nabung dulu lah yang banyak.” Itu kalau kita pakai jasa tour / travel agent, jadi secara keseluruhan pasti lebih mahal. Banyak orang Eropa yang berani menjelajahi pelosok Indonesia dengan hanya berbekal sedikit uang dan membawa tas punggung (backpack). Lalu kenapa orang Indonesia tidak? Nah, itu karena belum tahu triknya!

Mendengarkan sesi berbagi pengalaman oleh Elok dan Nancy (satu orang pria lagi, saya lupa!) tentang pengalaman ber-backpacking di berbagai penjuru dunia seakan membakar semangat untuk jalan-jalan. Jalan-jalan ke Eropa pun bisa jadi murah atau gratis! Tapi kita tidak akan tinggal di hotel tapi tempat orang Eropa yang mengundang kita. Sehingga mereka yang menanggung sebagian besar atau bahkan semua biayanya.

Bepergian  dengan mengatur sendiri perjalanannya, dengan lebih murah bahkan gratis. Dengan mengatur sendiri, kita bisa mengunjungi sebanyak-banyaknya tempat menarik di negara tersebut dengan biaya yang  seminimal mungkin dan kalau memungkinkan gratis (dengan adanya sponsor tentunya).

Dengan bergabung dalam komunitas Backpacker Dunia, kita bisa tinggal dengan orang Eropa (di rumah-rumah mereka, bukan di hotel berbintang 5 ya!) yang mengundang kita untuk tinggal di rumahnya (karena mereka adalah bagian komunitas ini juga). Jika tidak diundang ke rumah, kita masih bisa manfaatkan jasa hostel yang notabene lebih terjangkau, tapi satu kamar dihuni 8-10 orang (never mind the privacy). Makanan disediakan, akomodasi ditanggung (tergantung kebijakan si pengundang/ host atau sponsor).

Ada juga komunitas (jaringan silaturahmi) para pelancong yang bernama CouchSurfing.org. Mereka mengijinkan tempat tinggalnya untuk menjadi tempat tinggal para pelancong dan menemani mereka berkeliling. Bahkan Nancy dan temannya bercerita pernah dijemput dengan menggunakan mobil Porsche dan Limousine.

Dicontohkan, jika saya ingin jalan  ke India, tanggal X hingga Y. Saya bisa mendapatkan teman perjalanan yang juga ingin menjelajahi India kemudian menyusun rencana perjalanan atau itinerary-nya.

 

Ada beberapa situs yang bisa dituju sebagai referensi berkeliling dunia tanpa modal. Pertama www.couchsurfing.org membernya 3 juta orang dari 246 negara di 80.000 kota. Member couchsurfing  di Indonesia 19.000 orang yang buka rumah secara gratis untuk para backpacker yang telah menjadi anggota couchsurfing.org.  Kedua, www.hospitalityclub.org memiliki anggota sebanyak 500.000 orang di 230 negara di dunia. Ketiga, www.bewelcome.org komunitas menginap gratis tapi masih relatif baru. Untuk dapatkan tiket murah, kita bisa daftar / sign up gratis di AirAsia.com.

 

Triknya agar dapat tiket murah ialah hindari bepergian di puncak musim liburan seperti bulan Juni, Juli, Agustus tetapi pilihlah tiket-tiket yang dijual di luar musim liburan, (November, Desember). Kadang-kadang Jakarta-Ho Chi Minh City pergi-pulang Cuma 600 ribu. Kualalumpur-Seoul pergi-pulang Cuma 600 ribu. Kualalumpur-Tokyo 600 ribu.

Setiap penyedia akomodasi (sponsor/ host/ pengundang) memiliki kebijakannya sendiri-sendiri, ada yang menyediakan tempat tidur secara gratis di sofa , atau menyediakan tempat tidur, sebisa mungkin semampu mereka.

Yang lucu saat Nancy menjawab pertanyaan dengan berbagai paparan pengalamannya menjelajahi Eropa. “ Kalau Anda orang Indonesia dengan kulit yangkecoklatan dan sedang hitchhiking (mencari tumpangan gratis di jalan), jangan khawatir. Banyak yang mau mengangkut orang Indonesia. “Kalau orang Indonesia ke sana (Eropa) lalu hitchhike dan pemberi tumpangannya tampangnya jelek, itu namanya belum ke Eropa,” candanya diiringi gelak tawa audiens di stand Indonesia Berkebun malam itu. Jadi menurutnya adalah sebuah kebanggaan bagi orang Indonesia di Eropa untuk mendapatkan pemberi tumpangan yang rupawan, karena pesona eksotisme warna kulit sawo matang yang khas tersebut.

Jadi uniknya kita juga tidak perlu menunjukkan saldo tabungan selama 3 bulan terakhir jika kita mengajukan visa sebagai tamu yang diundang oleh warga negara dari negara yang bersangkutan. Intinya, kita tidak perlu menunjukkan saldo jika kita punya sponsor dari negara yang hendak kita kunjungi.  Nancy sendiri mengakui tidak punya uang banyak saat backpack ke Eropa. Ia hanya punya 6 juta saja di tabungan.

Tetapi karena backpacker bukan tergolong turis, mereka harus mengajukan masa tinggal sementara yang lebih panjang dari sekadar 14 hari di negeri orang. “Kalau kamu ga punya duit, masa tinggal bisa berbulan-bulan (3-6 bulan). Lain dari para turis yang hanya diberikan ijin hingga rata-rata 14 hari saja,” kata Nancy. Jadi harus ada barter antara waktu dan uang. Kalau kamu lebih berat ke pekerjaan (karena jatah cuti terbatas),  terpaksa harus meminta visa sebagai turis.

Kini Nancy sedang memburu undangan ke Meksiko. Jadi saat ia diundang ke Eropa oleh teman-temannya , ia menolak karena sudah pernah. Dan uniknya , ia menawarkan undangan tersebut ke anggota Backpacker Dunia lain yang belum pernah ke Eropa. Jadi undangan itu tidak terbuang sia-sia tetapi tersalurkan bagi yang merasa membutuhkan.

Untuk mengenal lebih banyak tentang komunitas ini, kita bisa temukan akunnya di Twitter dengan nama: @BackpackerDunia, atau Facebook dengan nama  “Backpacker Dunia”, dan mailing list :http://group.yahoo.com/group/backpacker, serta email: backpackerdunia@yahoo.com.

Saatnya berjejaring sosial tak hanya di dunia online tetapi di dunia nyata!

 

 

Belajar Pluralisme bersama Prof. Musdah Mulia

Suasana sharing pagi tadi dengan Prof. Musdah Mulia. Dari kiri ke kanan: admin yogagembira.net sekaligus bendahara sedang sibuk hitung saldo "susu tante", Prof. Musdah, Yudhi Widdyantoro (berkacamata) dan teman-teman lain.

Banyak orang tak paham pluralisme. Pluralisme seolah menjadi kata kotor karena Majelis Ulama Indonesia pada 2005 mengharamkan pluralisme. Kesalahpahaman ini berujung dari definisi pluralisme yang dirumuskan oleh Majelis Ulama Indonesia yang menyamakannya dengan relativisme (semua agama dianggap benar), sinkretisme (pencampuradukan agama), dan sebagainya. Padahal pluralisme itu bukan seperti yang didefinisikan oleh MUI.

Apa itu pluralisme? Untuk memahami makna pluralisme, kita patut ketahui tipe-tipe orang beragama. Secara psikologis, para ahli membagi orang beragama dalam 3 bentuk :eksklusif, inklusif, dan pluralis.

Eksklusif

Mereka menganggap orang yang berkeyakinan lalin sebagai domba yang sesat, yang perlu dihalau kembali ke jalan yang benar. Orang seperti ini akan mencap jelek orang yang berseberangan. Seolah mereka memiliki mandat dari Tuhan bahwa mereka harus mengajak orang lain mengikutinya agar selamat (baca: masuk surga). Orang berpaham eksklusif memandang orang yang tak sepaham sebagai ancaman, masalah yang harus dibasmi, mereka merasa terancam dengan kehadiran perbedaan. Perbedaan membuatnya tidak tenang.

Orang eksklusif sebetulnya ingin mengajak orang lain untuk menuju kebenaran dengan mengikutinya. Seperti FPI dengan paham “Amar ma’ruf nahi munkar”-nya, mereka bermaksud baik untuk menjauhkan orang dari keburukan tetapi caranya kurang bisa diterima karena menganggap diri sendiri selalu benar.

 

Inklusif

Tipe kedua ialah tipe inklusif. Mereka ini mulai mengakui keberagaman, adanya agama lain, keyakinan lain. Orang bertipe  inklusif berpikir bahwa agamanya yang paling benar dibandingkan yang lain, tetapi ia belum memiliki keinginan untuk membantu, berbaur atau menolong dan mengakui hak orang lain.

Tipe inklusif secara umum lebih baik dari eksklusif yang berpikiran sempit.  Ia berpikir “agamamu agamamu, agamaku agamaku, tetapi agamaku-lah yang paling benar”. Orang seperti sudah lebih terbuka dari golongan eksklusif tetapi belum ada keinginan untuk membaur, untuk membantu secara nyata, dan mengakui hak orang yang berseberangan.

 

Pluralis

Dalam tahapan ini orang mencapai tahap lebih dari inklusif ( beyond inclusive). Orang pluralis meyakini kebenaran ajaran keyakinannya dan pada saat yang sama juga peduli dengan hak-hak orang lain untuk meyakini kebenaran ajaran keyakinan mereka masing-masing.

Agama yang paling benar juga tidak perlu diperdebatkan. Karena jawabannya tidak akan pernah diketahui manusia kecuali Tuhan Yang Maha Esa. “Jika ditanya agama mana yang paling benar, jawabannya sederhana saja: “Wallahu alam”. Begitulah pendapat alm. Gus Dur”, kata Prof. Musdah.

Yang terpenting  adalah bagaimana pemahaman ajaran agama kita masing-masing bisa tecermin dalam setiap langkah kita, tanpa harus memproklamirkan kebenaran ajaran agamanya. Seseorang yang pemahaman ajaran agamanya sudah baik biasanya membuat orang lain nyaman berada dan berinteraksi dengannya. Perilaku yang baik dan bermoral terhadap sesama ( berlaku jujur, memperlakukan orang dengan manusiawi, tidak mendiskriminasikan,  menghindari kekerasan, dan sebagainya). Pikiran, ucapan, perbuatan yang positif lebih kuat dalam menyampaikan kebaikan dalam ajaran agama kita daripada tanpa henti memberitahu orang bahwa ajaran agama kita itu paling benar tanpa membuktikannya secara konkret. Misalnya, ada oknum-oknum yang menyatakan keyakinannya paling benar tetapi masih melakukan kekerasan, kebohongan, bersumpah palsu, dan seterusnya. Mereka ini yang membuat agama mereka menjadi nista karena membuat orang lain berpikir negatif tentang agamanya.

Dalam lingkup ajaran Islam, misalnya, disebutkan oleh Nabi Muhammad bahwa muslim adalah orang yang membuat orang lain di sekitarnya merasa nyaman. Jadi jika seorang muslim tinggal di sebuah lingkungan dan membuat tetangganya merasa gelisah dan kurang nyaman, rasanya perlu dipertanyakan kemuslimannya itu.

“Semua agama itu pada dasarnya bertujuan memanusiakan manusia”, kata Prof. Musdah Mulia. Kalau kita yakin bahwa kita adalah manusia, hormati saja sesama kita. Apapu  agama dan kepercayaan.

Keberagaman adalah sunatullah atau bagian dari ketentuan Tuhan. Keberagaman adalah sebuah bagian dari alam semesta. Jadi mustahil untuk menolaknya.

 

Kisah Abunawas: Ketidakadilan di Mata Manusia itu Keadilan di Mata Tuhan  

Sebuah kisah Abunawas pernah menyinggung tentang ketidakadilan. Abunawas mengamati pohon beringin yang berakar, berbatang besar dan kokoh itu hanya memiliki daun dan buah yang kecil. Sementara pohon labu yang merambat di atas tanah, batangnya saja kecil dan terkulai di permukaan tanah, justru memiliki daun yang lebih lebar, dan buah berukuran jauh lebih besar daripada buah pohon beringin.

Saat Abunawas duduk di bawah pohon beringin dan bergumam bahwa fenomena beringin vs labu itu adalah suatu ketidakadilan oleh Tuhan, satu buah beringin terjatuh dan menimpa kepalanya. Hal itu serta merta membuatnya berpikir, “Andaikata buah beringin ukurannya sebesar buah labu, sudah bonyok kepala saya.”

Jadi hikmah dari kisah ini adalah bahwa ternyata semua yang diciptakan Tuhan itu, termasuk keberagaman, pasti ada manfaatnya. Adalah satu hal yang amat sangat mudah bagi Tuhan untuk menciptakan seluruh manusia menjadi seragam, satu jenis. Tapi kenyataannya? Tuhan malah menciptakan kita dengan berbagai macam perbedaan yang kompleks. Jadi keberagaman itu pasti ada maksudnya.

Manusia adalah salah satu sumber keberagaman. Dan keberagaman itu menjadi titik tolak bagi kita untuk merenungkan kembali pertanyaan berikut, “Untuk apa kita diciptakan oleh Tuhan?” dengan berbagai keragaman yang kita miliki, salah satunya kita harus bisa menghargai dan menghormati orang lain apa adanya. Kita harus bisa hidup berdampingan di atas bumi ini dengan damai dan saling merasa nyaman satu sama lain. Kita tidak saling merenggut hak orang lain. Justru harus lebih banyak berbagi.

Esensi beragama itu adalah mencapai kedamaian: damai dengan diri sendiri, damai dengan sesama, damai dengan alam semesta.saat itu tercapai, kita bisa mengatasi semua masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Koruptor, jika kita bisa cermati, adalah seseorang yang belum memiliki kedamaian dengan egonya, belum berdamai dengan hasrat kebinatangannya (keserakahannya).

Agama tidak melarang kita untuk kaya tetapi perlu dipahami bahwa kekayaan itu hendaknya perlu disebarkan untuk kepentingan bersama.

Pluralisme bukan hanya sekadar mengakui secara personal tetapi apakah kita sebagai pribadi yang mengaku pluralis pernah berbuat sesuatu yang nyata atau menyuarakan kepedulian kita saat orang lain/ tetangga/ warga negara lain diganggu hak-haknya dalam menunaikan ajaran  keyakinannya? Misalnya jika kita muslim, apakah kita pernah melakukan sesuatu atau menyuarakan kepedulian kita saat tetangga/ kawan kita yang Kristen diganggu dalam menjalankan ibadahnya?

Prof. Musdah Mulia mengisahkan apa yang ia alami saat berkunjung ke GKI Yasmin di Bogor yang disegel oleh sekelompok orang. Saat ia hendak masuk ke dalam gereja, Musdah dihadang oleh polisi yang berjaga dan ditegur , “ Bu bu, ini kan gereja!” Musdah menjawab, “Iya saya tahu, saya memang sengaja mau datang ke sini. Kenapa?” Kata polisi itu lagi, “Tapi ibu kan pakai jilbab.” Musdah menyesalkan pola pikir oknum polisi kita yang belum dewasa.

Musdah menyatakan alasan mengapa ia membela hak-hak jemaat GKI Yasmin, yaitu karena mereka ini adalah warga negara Indonesia juga yang punya hak untuk hidup dan beribadah. Pluralisme dengan demikian ditandai dengan sikap aktif, peduli dan mau melakukan sesuatu untuk membuat hak-hak orang lain yang terampas menjadi terpenuhi. Bukan hanya pengakuan personal tetapi setidaknya menyuarakan tuntutan pemenuhan hak-hak teman kita yang berbeda agar terpenuhi.

Mengapa? Toh itu bukan urusan kita, begitu mungkin kita pikir. Musdah melanjutkan, “Kita harus speak out menentang ketidakadilan yang terjadi di tengah-tengah kita.  Jangan pernah diam saat menyaksikan ketidakadilan karena jika kita membiarkannya, suatu saat ketidakadilan yang sama atau yang lebih dahsyat akan menimpa kita pula. Karena itulah katakan tidak pada kekerasan, segala bentuk kezoliman. Dengan begitu kita dapat membangun damai. Karena kalau kita semua silent (diam), maka keadaannya seperti sekarang, saat mayoritas orang hanya diam. Yang berbicara hanya segelintir saja.”

 

Mendalami Pluralisme

Kembali membahas tentang pluralisme yang diharamkan oleh MUI, MUI mendasarkan fatwa haramnya tersebut dengan definisi pluralismenya yang dirumuskannya sendiri, yang menurut Prof. Musdah Mulia menyamakan pluralisme dengan relativisme, seperti yang telah disinggung sebelumnya di awal tadi. Agama itu dalam paham relativisme dianggap sama benarnya.

Pluralisme padahal mendasarkan diri pada pemahaman bahwa di antara berbagai keyakinan itu ada perbedaan dalam berbagai aspeknya. Agama itu pada dasarnya hanya jalan yang ditempuh manusia untuk bisa menuju Tuhan Yang Maha Esa. Dan jalan itu amat bervariasi. Dengan demikian, asumsi “pluralisme=relativisme” ala MUI itu terbantahkan.

Fenomena yang menarik sekarang ini adalah orang terlihat seperti menyembah Tuhan tetapi pada hakikatnya ia menyembah agamanya sendiri. Dengan kata lain, ia menjadikan agama sebagai berhala, dan malah mengesampingkan Tuhan. Ini, menurut Musdah, merupakan hal yang aneh karena agama itu media, bukan Tuhan itu sendiri.

Argumen lain menyatakan pluralisme itu mirip dengan sinkretisme yang mencampuradukkan ajaran agama-agama. Pluralisme malah berpijak pada keyakinan terhadap agamanya masing-masing. Jadi saat kita tidak yakin dengan agama kita, bagaimana kita bisa mempertahankannya? Sehingga intinya, saat kita beragama, beragamalah dengan sebaik mungkin, pelajarilah dan amalkanlah dengan semaksimal mungkin. Pelajarilah secara kritis dan rasional agama/ keyakinan yang kita peluk karena agama/ keyakinan yang benar itu pasti tidak bertentangan dengan akal sehat. Saat kita menemui sesuatu hal yang disebut ajaran agama tetapi bertentangan dengan akal sehat, maka kita harus kembali mengkritisinya dan mengkajinya ulang, papar Musdah. Jangan-jangan pemahaman kita yang belum mendalam.

Intinya, pluralisme itu terkait erat dengan pengakuan, penghormatan dan penghargaan terhadap orang lain yang berbeda, siapapun dan apapun dia. Yang diperjuangkan dalam pluralisme ialah bagaimana agar semua orang bisa memiliki hak-haknya dalam meyakini dan menjalankan agama/ keyakinannya,  pahamnya. Setiap dari kita berhak untuk mengekspresikan keyakinan dan paham itu dalam kehidupan nyata dan sosial.

Musdah menekankan keadilan (fairness) dalam menggunakan ruang publik dengan menghindari pemaksaan dalam berbagai bentuk, apalagi dengan mengeksploitasi kelemahan orang lain untuk menguntungkan diri sendiri/ agar memihak keyakinannya.

Berbicara dengan sudut pandang bangsa dan negara, pluralisme perlu dibangun dalam beragama karena Indonesia dibangun di atas kemajemukan. Konsep bhinneka tunggal ika itu adalah bukti pluralisme. Indonesia mesti tetap berwarna-warni dan bersatu dalam wadah NKRI seperti yang diamanatkan para pendiri negara ini dahulu.

 

Beragama Lebih dari Sekadar Surga-Neraka, Haram-Halal

Saat ditanya oleh tentang pengajaran agama yang logis, kita harus mulai berhenti mengajarkan pada anak-anak kita mengajarkan agama secara  dogmatis, kaku dan hanya berorientasi punishment and reward. Konsep pengajaran beragama dengan punishment and reward itu bisa dijumpai saat ulama mengatakan satu hal itu haram atau halal tanpa membuat orang berpikir lebih mendalam tentang apa argumentasi di balik jawaban itu. Demikian juga saat kita mengajarkan beragama pada anak-anak, mengajari mereka konsekuensi setiap perbuatan adalah surga dan neraka secara terus menerus merupakan konsep pengajaran agama yang membentuk mereka sebagai pribadi yang berpikir instan, penuh pamrih mengharapkan imbalan dan selalu terintimidasi oleh kengerian hukuman di akhirat.

Menurut Musdah Mulia, beragama perlu dilandasi dengan kecintaan pada Tuhan. Kita melaksanakan ajaran agama itu hendaknya didasari dengan keinginan tulus mendekatkan diri dengan-Nya, bukan berdasarkan harapan untuk bisa menikmati surga setelah susah payah beribadah di dunia atau bukan  berdasarkan ketakutan bisa dijebloskan ke neraka yang penuh penderitaan. Itu membuat anak-anak kita berpikir Tuhan seperti monster yang mengintimidasi. Tuhan adalah sebuah zat yang menjadi sandaran manusia, tempat mengadu. Selalu memikirkan surga-neraka itu merupakan fase beragama yang paling dasar dan primitif. Menurut istilah Gus Dur, kata Musdah, itu adalah cara beragama anak-anak TK. Saat seseorang sudah dewasa dalam beragama, ia mampu meninggalkan pemikiran semacam itu dan beralih ke kehidupan sebagai pengabdian tulus karena kecintaan pada Tuhan.

Masyarakat Indonesia masih terjebak dalam cara beragama yang instan, bukan cara beragama yang kritis. Kita masih suka terfokus pada konsep halal-haram. Mungkin itu dipicu oleh rasa lelah dan jenuh dengan kesibukan sehari-hari.

Agama juga bukan kajian teoretis yang ada di awang-awang tetapi seharusnya sesuatu yang fungsional, bila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan beragama, kita menjadi individu yang lebih baik dalam setiap aspek kehidupan.

 

Jangan pikir Prof. Musdah cuma ikut beryoga ala kadarnya. Look, she's sweating with us in this hardcore pose! Hosh hosh....*admin pengsan*

Bagaimana menjadi pluralis?

Agar menjadi pluralis, kita perlu mempelajari dan melaksanakan ajaran agama kita lebih dulu. Itulah sayangnya masalah terbsar di Indonesia, sebagian besar dari kita masih harus mendalami ajaran agama kita karena sebelum hal itu tercapai, kita masih akan terus menjadi pribadi-pribadi yang belum damai dengan diri sendiri. Kita masih akan terus memandang orang lain yang berbeda sebagai ancaman. Dalam keadaan seperti ini, seseorang kecil kemungkinan bisa menjadi pluralis yang penuh perdamaian karena ia sendiri masih mengalami konflik di dalam diri.

Masyarakat perlu juga melakukan kajian agama secara mandiri, tidak hanya terus menerus mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemuka agamanya.

Undangan Beryoga 25 September 2011

Social Yoga Club

A Club for Young at Heart

Independen – Terbuka – Toleran – Kultural

(www.socialyogaclub.com)

M e n g a d a k a n

Silaturahmi Yoga Gembira

Selagi masih ada Lebaran, lebarkan hati dan pikiran kita sambil peduli pada kesehatan. Kesehatan adalah hak setiap warga negara, karenanya menjaga dan merawat kesehatan lahir batin seharusnya menjadi perhatian utama kita semua. Marilah kita perkuat daya tahan tubuh, psikis dan mental kita dengan mengikuti latihan yoga gembira ini sebagai upaya untuk selalu menghadirkan suasana merdeka di diri kita, sambil untuk merayakan kebersamaan dan merawat pluralisme, serta meningkatkan kesetiakawanan sosial.

Tempat : Taman Suropati

(Jln. Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat)

Waktu : Minggu, 25 September 2011, pukul 07.00 s.d. 09.30

            Instruktur    : Yudhi Widdyantoro

            Sharing    : Prof. Dr Musdah Mulia

          (President Indonesian Confrence on Religion and Peace)

                             “Pentingnya Pluralisme dalam Hidup Berbangsa” 

            Donasi     : Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan

                             

Sebagai wujud dari kepedulian kami pada bidang pendidikan dan kesehatan, hasil donasi dari acara ini akan disumbangkan untuk biaya kesehatan dan pendidikan anak-anak yang tidak mampu, atau korban bencana alam.  

Atas nama Social Yoga Club,

Yudhi, Metta dan Akhlis

Keterangan lebuh lanjut bisa hubungi:

Yudhi: +62818859561

Metta: +62811888018

NB: Peserta diharapkan membawa alas/matras, handuk dan keperluan untuk latihan yoga sendiri sambil menjaga kebersihan serta tidak meninggalkan sampah di taman! 

Paradoks Iblis dan Ulat: Ketaatan itu Diwujudkan dalam Ketidaktaatan

Ulat ini muncul di brokoli yang mau aku makan. Seperti Iblis, ulat adalah makhluk 'menjijikkan' yang hadir ke dunia karena suatu alasan.

Seorang teman siang berceloteh di musholla siang itu, “Hmm, dulu katanya iblis itu pinter dan taat sama Allah lho, bahkan lebih pinter dibanding malaikat yang kerjanya cuma bisa patuh sama perintah Allah.” Entah apa awalnya yang kami bicarakan hingga sampai membahas topik Iblis segala. Absurd…

Lalu seorang teman menyangkal. Perdebatan terjadi. Aku cuma mengamati. That’s me. An observer. Aku tak terlalu suka debat. What’s the point anyway? Bukannya aku anti diskusi , tapi aku lebih suka menelaah untuk diri sendiri sebelum benar-benar mengetahui suatu isu/ topik. Jangan sampai mengeluarkan pernyaataan asal supaya kelihatan pintar.

Tapi intinya temanku tadi menceritakan apa yang pernah ia dengar dan ketahui entah dari guru atau bacaannya bahwa Iblis, yang konon menjadi nenek moyang setan-setan sekarang, itu dulunya sebelum Nabi Adam AS diciptakan Allah adalah makhluk ciptaanNya yang paling cerdas. Lalu saat Iblis diperintahkan hormat pada manusia oleh Allah,  ia menolak, tapi malaikat begitu saja mau. Nah, temanku ini berargumen bahwa Iblis menolak perintah Allah itu karena Iblis cuma mau menghormat/ sujud pada Allah. Tak hanya di situ, temanku mengatakan Iblis rela untuk menggoda manusia dan menjerumuskannya demi mematuhi perintah-Nya untuk menguji keimanan kita.

Ok, that’s new to me! Entah pengetahuanku yang dangkal atau memang lain dari temanku ini, aku sejak dulu ‘mengetahui’ (baca: menerima doktrin) bahwa Iblis menolak hormat/ sujud pada manusia karena kesombongannya. Tapi ini kutipan terjemahan ayat Quran yang relevan:

34. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah[36] kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS Al Baqarah)

[catatan kaki 36]. Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Ok, perdebatan aku tutup sampai di sini daripada berargumen tanpa alasan dan pengetahuan yang jelas. Yang menarik bukan bagaimana kata ‘sujud’ ini memicu multiinterpretasi tetapi lebih pada kontradiksi yang (bisa saja) terjadi dalam diri Iblis.

Pertanyaan yang kemudian muncul ialah : “Bisakah seseorang begitu setia dan menghambanya pada majikannya sampai-sampai ia justru malah membangkang dari majikannya (entah itu karena inkonsistensi majikan, fanatisme berlebihan pada ajaran/ perkataan si majikan atau faktor lain)?

Jangan dijawab, jangan diperdebatkan, cukup renungi saja…Just a food for our thought and soul tonight.

Think Working on Social Media is for Sheer Fun? Not until You are a Social Media Manager

When 24 hours is never enough. (credit: dailyinfographic.com)

10 Poin Penting Dalam Social Media Policy (via bukik ideas)

Swedish blogger Johan Ronnestam, lecturing abo...
Image via Wikipedia

10 critical points one has to pay attention to while working amidst social media jungle. A wuite well-researched piece of writing.

10 Poin Penting Dalam Social Media Policy Ada 2 jalan bagi perusahaan dalam menghadapi penggunaan media sosial oleh karyawaannya, blokir atau kelola. Saatnya mengelola dengan Social Media Policy yang tepat. Dulu pada suatu masa ketika telepon rumah masih berjaya. Tersebutlah sebuah rumah kontrakan yang dihuni oleh teman-temanku. Di awal kontrak, mereka membiarkan penggunaan telepon kontrakan (rumah). Setelah sebulan berjalan, ternyata rekening telepon membengkak tanpa diketahui siapa pen … Read More

via bukik ideas

Tamu Yoga Gembira Minggu Depan, Prof. Musdah Mulia!

Halo YoGemers (aneh ya?),

Baru ingat tadi mas Yudhi bilang akan ada tamu di YoGem, Prof. Musdah Mulia. Pastinya akan ada sharing pengetahuan lagi sehabis yoga.

Minggu depan tanggal 25 September 2011, seperti biasa YoGem mulai pukul 7 pagi. Mas Yudhi sedang menimbang-nimbang apakah perlu ada 2 putaran nantinya, pagi dan sore (bagus buat yang mau bakar lemak cepat!).

See you there,
Admin

p.s. : Ini postingan blog atau email ya? Agak rancu gaya nulisnya 🙂

Parodi Yoga (3)

Pengantar

Kawan-kawan, pada hari ini, 8 Sepetember 47 tahun yang lalu Badan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO, menetapkan Hari Literasi Internasional untuk mengingatkan warga dunia tentang pentingnya budaya menulis dan membaca, termasuk juga mencintai karya-karya sastra. Pada postingan yang lalu, banyak teman yang terhibur dengan tulisan saya yang sedikit nyleneh itu, dan malah beberapa, seperti Dini Saptaningrim “memohon” saya untuk menulis Parodi lagi. Mungkin karena teman-teman prelu hiburan setelah sebulan dalam suasana surius terus berpuasa. Sambil cari-cari ide mau nulis apa untuk memenuhi aspirasi teman-teman, dan untuk memperingati hari yang penting itu, dan kebetulan dulu saya pernah nyicipi sekolah di Fakultas Sastra, saya mau menulisParodi Yoga kali ini yang sedikit-sedikit menyerempet sastra alias ke-sastra-sastra-an. Begini jadinya….

 

Ajal dan Luna Maya

Siang-siang waktu nonton Kungfu Panda 2 di Plaza Senayan, sahabat baikku telpon, kasih kabar duka kalau ada seorang kawan dirawat di rumah sakit dalam kondisi gawat. Segera aku meluncur ke Rumah Sakit Harapan Kita yang muacet-cet. Sama sekali tidak menyangka, kalau kawan yang sakit itu, yang dulu amat cepat tanggap, bergerak lincah dinamis, banyak aktif dalam kegiatan sosial, dan kalau sedang bicara selalu penuh semangat, termasuk ketika menyampaikan ide-idenya yang buaaanyak. Di tangan dinginnya, siaran radio yang dikelolanya menjelma menjadi radio yang cukup fenomenal di sekitar hari-hari tumbangnya rezim Suharto karena siaran keberpihakkannya pada perlawanan represi tirani. Betapa cepat perubahan suasana, dari tontonan film yang penuh homor namun penuh renungan juga di studio teater yang berada di dalam Plaza prestisius yang penuh boutique bermerek terkenal dan perempuan modis lalu-lalang, ke ruang dingin rumah sakit yang menakutkan – penuh wajah murung dan duka. Selang beberapa saat, kawan kami yang sakit itu meninggal. Benar juga kalau Chairil Anwar pernah menulis dalam puisinya bahwa ajal itu seperti musang: mendekat dan berkhianat…Tikam kita dari belakang/ tika kita tidak melihat…! Waktu menunggu, aku dan sahabat baikku rasan-rasan betapa berharganya kesehatan itu. Sebesar-besarnya gaji dan uang sogok yang anggota DPR terima, kalau sakit, sakit gigi aja, atau sariawan yang sepele, ketika untuk makan pasti akan kerepotan. Seperti teks kata-kata bijak yang kawan lain di seberang benua kirim, “Money can buy bed, but can’t buy sleep…”,dan seterusnya, dan sebagainya. Dalam arti yang sederhana betapa pentingnya menjaga kesehatan. Untuk itulah, mungkin you know, aku berlatih yoga. “Tapi kok mas yudhi pernah sakit juga walaupun udah beryoga?”, tukas suara dari dalam, alias hati nuraniku. “C’mon, emangnya yogi itu badannya dari mesin dan baja. Apalagi kalo kemana-mana gue naiknya motor yang gampang masuk angin. Gue kaninstruktur yoga yang proletar, emangnya guru-guru yoga baru di Jakarta yang dari sononye udahtajir rumahnya pada di daerah bebas banjir, dan mobilnya selalu disemir. Mulan Jameela aja yang udah hebat kagak mau dibilang wonder woman, apalagi gue yang ngajarnya cuma mendaur ulang guru-guru senior, kok sok mau merasa hebat…ah loe lagi…Gue mah realistis aja, kalo gak mempan pake jurus yoga, ya ke dokter biar sembuh lah, Loe kire belajar yoga bisa jadi Superman, sakti bisa terbang dan kuat amat gak pernh sakit. Gue mah ogah jadi Superman. Liat aja, masa pake celana dalem di laur. Superman Is Dead, man… ”. Kawan di dalam badanku sendiri, si hati nurani yang masih penasaran itu, karena aku menyebut grup band metal indie yang lebih dikenal sebagai SID, sepertinya bingung dan bertanya lagi :”tapi banyak yang bilang mas yudhi hebat euy…?”, “ah yang ngomong aja yang lieur, udah sering dikasih tahu kalo guru yoga itu manusia juga, kaya lagu grup band dari Bandung Seriues,mereka masih punya rasa, punya hati, dan punya cinta… he he he he, kataku mengucapkan kata cinta sambil cengar-cengir. Janganlah mengkultusin guru. Kalo kata kasta, guru yoga di Jakarta itu sudra atau malah paria, wong mereka aja masih pada belajar dari guru senior di Bali, Barat, India. Gueaja di sini kenal yoga sedikit lebih duluan, ilmunya mah masih dangkal, cetek. Karena belajar lebih dulu itu aja, jadinye gue lebih sedikit dikenal, termasuk di kalangan jetset dan selebritas. Ini yang sedikitgue bisa bangga, loe tahu, Anisa Pohan, mantunya SBY, sebelum dijamah-jamah Agus Harimurti, anaknye Presiden SBY yang tentara itu, gue udeh lebih dulu ninggalin sidik jari di tubuhnya…”, “Kok mesum sih mas?”, “Maksudnye, pan waktu die di karantina jadi finalis Gadis Sunsilk long time ago,nominee-nya dikasih kelas yoga, gue diminta ngajar, kalo ngajar kan gue suka mbetul-nbetulin postur yang menurut kata guru gue salah… itulah saat-saat gue manfaatin privilege gue..hehe..” , “Ah dasarloe mas, guru cabul!!!!”. “Eit, tunggu dulu, loe tau gak, salah satu alasan banyak profesional pekerja kantoran berkerah putih beralih jadi guru yoga, karena mau kayak begitu, guru-guru yoga yang cewe, biasanye ge-er tuh kalo ada peserta di kelasnya ada cowok ganteng kaya Brad Pitt, atau kalao guru cowok, eh, gue sendiri sih tepatnye….suka gimana gitu kalo Sophia Latjuba ikut latihan…, selain di Jakarta kan deket ama sumber media, jadi jalan paling gampang biar jadi terkenal. Baru sekali-dua kali diwawancarai koran, atau tivi, udah dah jalannye, idungnye ke langit melulu…minta tarif ngajar yang tinggi”. “Ah, bukanya mas yudhi kaya begitu juga. Selain keminter, sok pinter, bayarannye itu gede, bokek deh gue kalo sering ikut kelas loe mas. Emang sih enak kalo pas latian bareng Luna Maya, jadi anugrah, tapi kalo liat tampangloe mas, MUSIBAH!!!”, sambil dia nyanyiin lagu Changcuters. “Sialan, kupikir dia, kok mainnya fisik. Jelek-jelek gini, pacar gue, cewe yang cakep-cakep”. Hah, pacar, mas?, nyebut mas, colek nuraniku dari dalam. “Maksudnya, pacar platonis”, tukasku meluruskan. Selain kawan yang telah minggal itu, tidak sedikit kawan seusiaku, atau bahkan yang lebih muda dariku yang lebih dahulu meninggal. Penyakit yang menyebabkan kematian mereka, tidak jauh-jauh: stroke, jantung, diabetes dan darah tinggi. Penyakit yang banyak menghinggapi orang-orang kota besar dan pekerja sibuk. Penyakit yang dulu hanya dialami orang usia lanjut, sekarang makin memuda. Nuku Soleiman, kawan aktivis PIJAR kena stroke waktu umurnya 30-an, dan kabar teranyar, ada anak belasan tahun, juga udah stroke. Waktu mau pulang, kawan-kawan aktivis LSM, dosen, akademisi, yang sudah doktor atau kandidat doktor, yang semula hanya akan bezoek tapi jadi melayat, sambil jalan pulang, ada yang bilang: “Kita ini, sering karena sibuk, ketemunya lagi, asal tidak di kematian, mantuan atau mantenan ya”. Aku bilang: “Yaaa asal jangan ketemu di KPK aja kayak anggota DPR itu”. Dalam hati aku tambahkan, “…makanya latian yoga doong…”, ya cuman dalam hati keinginanku mengajak teman-teman yang ikut melayat itu, karena kuliahku aja gak selesai kok mau kasih kuliah, ke dosen-dosen lagi, dan apalagi kalo dingat, kalo ngajar yoga sering meniru guru yang lebih senior. “Eloe kok over claim sih yud, kok yoga bagi eloe kayaknya bisa ngatasi apa aja…?, sekali lagi suara rewel dari dalam hati nuraniku nyerocos,“Bukan over claim, tapi, kalo kolom agama di KTP bisa gue isi nyleneh, gue akan tulis: yoga, karena guepercaya, dan gue praktekin. Yoga bikin gue bisa menikmati hidup, nrimo, sumeleh and enjoy aja. Selain uang hasil ngajar bisa yaaa paling beli bensin dan makan, kan loe tau sekarang guru yoga bejibun hasil keluaran program teacher training instan 2-3 hari, dan studio yoga makin buanyak. Masa bulan madu gue ama yoga kayaknya udah lewat, dan gue kan banyak kasih kelas sosial, paling kalau ada lebih, sekali-sekali buat jalan-jalan…. “Itu bukan sosial mas, tapi sok sial. Kasian bener yang jadi istri-loe mas. Pasti dikomplain, gue berani tarohan. Kayak udeh kaya raya aja loe mas, konglomerat yang mulai punya program CSR kok mau ngajar sosial sementara ada guru yoga yang njadiin yoga jadi mesin uang”, kata suara dalam hati. :”Eh bener juga loe ya… Tumben, kali ini loe pinter….”, kataku membenarkan sambil termenung, sok mikir berat! Sekarang kita kembali ngomongin soal kematian aja deh yang udah pasti semua orang akan mengalami. Emang semua orang pasti mati, dan gak ada yang tahu kapan matinya, lihatlah guru-guru besar panutan yogi di sini, seperti Shri Pattabi Jois, BKS Iyengar umur mereka 90 tahun, dan masih bugar, masih terus latihan. Itulah hebatnya yoga, kataku ke nuraniku yang suka usil itu. “Tapi mas, mereka udah yogi bener, dan dari India pula, sementara kita hidup di Jakarta, kota yang penuh dengan hal-hal penyebab stress. Berteman dengan masnusia urban yang sibuk mengejar karir dan uang, sehingga banyak orang melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak disukai. Selain pengaruh stressor dari luar, tuntutan terhadap diri sendiri sebagai budaya “harustis”, harus hebat, harus kaya, harus bisa, dan harus-harus yang lainnya yang bisa bikin semakin tegang, akibatnya tubuh tak bisa menyerap suplai nutrisi secara optimal”, “Ah, ngecap loe mas, mana ada kecap yang nomer dua”. “Dengerin ye, jangan nyela ngomong dulu, inget, mulut ada satu, kuping itu ada dua, jadi jangan banyakin ngomong, banyaklah mendengar, dan otak itu lebih banyak lagi, ada atas, bawah, kiri-kanan, jadi lebih banyak lagi untuk berpikir, yoga ngajarin gue untuk kembali ke diri sendiri, look in ouself from within, and settling back into the moment…” yudhi widdyantoro Pengecer jasa yoga Kilas Parodi For yogi, selain perlu perbanyak referensi bacaan yoga, baca jugalah karya seni dan sastra, kan, katanya yoga juga the art of living, seni kehidupan. Sebaiknya kalau ada yang tersinggung, dianjurkan untuk membuat tulisan juga, jangan cumanggrutu di belakang. Kalo gak mau nulis, tapi mau maki-maki yudhi, silakan aja, seperti mau bilang yudhi kurang, atau gak punya etika, nomer-nomer di bawah ini disediakan buat complain thd yudhi, si pengecer jasa yoga… ……. …….

Tentang Damai

Berikut adalah ringkasan dari apa yang disampaikan oleh Mala dari Brahma Kumaris, organisasi spiritualis yang diundang ke Yoga Gembira, Taman Suropati hari Minggu tanggal 11 September 2011. Temanya ialah perdamaian.

Mala yang berasal dari Australia ini mengutip sebuah kalimat inspiratif dari Mahatma Gandhi di awal pertemuan: “Be the change you want to see the world”. Kemudian ia berkata dalam bahasa Indonesia yang tergolong amat lancar bagi ekspatriat, “Dalam konteks perdamaian maka bisa diubah menjadi: “Be the wave of peace you want to see the world””.

Mala kemudian bertutur panjang lebar tentang bagaimana mencapai kedamaian batin dalam diri kita. Kedamaian batin, menurutnya, tercermin dalam:

-Stabilitas/keseimbangan emosi

Dalam hidup pasti ada naik turun, fluktuasi, tetapi jika seseorang damai dalam batinnya, ia bisa stabil, menyeimbangkan diri. Pikiran berfluktuasi karena emosi karena itulah emosi perlu dikendalikan.

-Ketenangan sehingga tidak mudah terpancing.

Pause button dalam diri seseorang. Ia tidak bereaksi secara langsung. Mengheningkan diri sebelum bereaksi, mengambil keputusan, berbicara.berpikir lebih pelan, untuk melihat lebih jelas dan ambil tindakan yang lebih bijak. Terlalu cepat ambil keputusan, bisa berbuah petaka.

– Kesabaran

Kesabaran dalam menerima dan memahami sesama, suatu wujud kedamaian karena tak merasa terancam. Saat tak nyaman, kita cenderung hostile.

-Kesukarelaan

Saat terpaksa melakukan sesuatu, hati tidak damai karena merasa terkekang. Berpikir jernih dan damai kita bisa melakukan semua hal dengan sukarela, datang dari diri kita sendiri, bukan karena situasi.

-Harga diri yang bisa dipertahankan

Orang sakit merasa tidak bisa mempertahankan harga dirinya karena tidak bisa bermakna pada orang lain. Pertahankan harga diri dalam sakit, musibah itu adalah wujud kedamaian batin.

-Kemampuan merelakan

Ketenangan batin tercapai saat kita bisa melepaskan pengalaman buruk dari pikiran.

Kedamaian harus dimulai dari diri kita. Saat kita terus menuntut dunia eksternal di sekitar kita untuk damai sebagai prasyarat agar diri kita bisa merasa damai, maka kita tak akan merasa damai. Dengan meditasi dan yoga, kedamaian ini bisa dicapai.

Bagaimana kita bisa menerima orang yang berbeda?

Pahami bahwa setiap orang itu unik, karena memiliki misi hidup yang berbeda dari kita. Sebab lain kita sulit menerima orang lain ialah karena kita selalu punya harapan/ tuntutan terhadap orang lain. Saat orang lain tidak bisa memenuhi harapan kita, kita menolak kehadiran mereka. Meskipun tujuan sama, cara untuk meraih bisa berbeda.

Saat memaksa orang menuruti kemauan/ tuntutan kita, kita pada dasarnya belum paham akan drama kehidupan ini.

Perjalanan hidup mereka juga berbeda dari kita. Ibarat kita tengah menumpang kereta, kita tidak bisa memaksa penumpang lain untuk menempuh rute yang sama dan turun di stasiun yang persis dengan kita. Kita tak bisa memaksa orang lain untuk selalu ada di samping kita.

Ada hikmah/ pelajaran dalam segala kejadian dalam hidup ini

Segala sesuatu di alam ini terjadi untuk alasan tertentu. Tidak ada kebetulan, tidak ada yang salah (kata “salah” hanya label dari manusia, karena suatu hal tidak sesuai keinginannya). Dengan menggunakan cara pandang seperti itu dalam memaknai semua peristiwa dalam kehidupan, kedamaian dalam batin akan lebih mudah dicapai. Dama itu juga berarti kita bisa menerima sesuatu apa adanya.

Segala sesuatu yang terjadi di alam sudah tercatat dan kita hanya menjalani yang sudah ditakdirkan. Perlu waktu untuk memahaminya, “Apa maknanya bagi saya? Bagaimana ini memperkaya saya?”

Pengalaman pahit atau manis akan bisa digunakan sebagai bekal hidup dan ditularkan ke orang lain.

Bagaimana saya harus bereaksi terhadap tuntutan dari suatu situasi yang saya belum mengerti?

Pertanyaan reflektif ini perlu kita tanyakan pada diri sendiri saat berkata, “Saya punya satu pengalaman buruk, sangat buruk, tak ada hal positif di dalamnya”.

Kita perlu menganggap setiap hal dalam hidup, termasuk peristiwa/hal terburuk , sebagai sebuah hadiah indah yang terbungkus rapat oleh kertas rombeng. Kita perlu membukanya dengan perlahan.

Kedamaian memang tercapai saat tidak ada gangguan tetapi gangguan justru bisa menunjukkan seberapa baiknya kita dalam memelihara ketenangan batin. Setiap gangguan membawa kita ke tingkatan kedamaian yang lebih dalam. Jadi kalau kita masih merasa terganggu, kedamaian batin kita belum begitu dalam. Maka kita perlu memperdalam kembali.

Saat kita menghadapi orang yang marah, apa yang sebaiknya dilakukan?

Menghadapi kemarahan sebaiknya dengan memahami alasan mengapa ia marah. Seseorang tidak akan marah tanpa sebab yang jelas. Saat kita berusaha memahaminya, perasaan marah kita sebagai balasan kepadanya akan teredam.

Orang yang marah itu bak seorang pengemis. Orang yang tengah marah adalah pengemis dalam pengertian emosional dan psikologis. Ia perlu empati, kasih, solusi, perhatian dari orang-orang yang mereka marahi. Tanyakan pada diri kita, “Apa yang orang ini butuhkan dari saya?” Posisikan diri kita sebagai pemberi agar kita tidak larut dalam kemarahannya. Saat kita berada dalam posisi memberi, kita akan terlindung dari serangan emosi negatif orang lain. Ini bisa diterapkan di masa modern saat banyak manusia bertindak tanduk layaknya penyedot debu yang suka mencari untung tanpa memberi. Mereka terus menuntut tanpa memenuhi kewajibannya.

Apa yang bisa dilakukan saat kita tidak bisa menemukan sisi positif seseorang?

Kadang kita begitu benci dengan seseorang hingga kita menjadi buta dengan sisi-sisi baik yang mereka miliki. Adalah sebuah kemalangan bagi kita sendiri jika kita tak bisa menemukan sisi baik seseorang. Ego kita membutakan kita, menganggap orang lain lebih rendah. Kita lupa bahwa seseorang itu buruk di mata kita bukan karena orang lain itu tidak punya sisi baik sama sekali. Justru yang patut dikasihani ialah kita yang tidak bisa menemukan kebaikan dalam diri orang lain.

Dunia nan damai terwujud dari diri sendiri.

Namaste!

Peace is Everywhere‏ (A Post by Harry Purnama)

Saya sedang berdiskusi tentang “rasa damai” dengan sahabat saya, Adolf Posumah, seorang penikmat hidup yang menemukan masa “keemasannya” setelah pensiun dari dinas ke dinas di media massa TV, di gazebonya di Depok kemarin malam. Intinya di rumahnya sendiri ia telah menemukan rasa damai, yang tanpa melalui jalur “banyak uang,” melainkan melalui jalur “dekat dengan sang Maha Besar”, Melalui jalur sunyi dari keramaian hiruk-pikuk “semua serba duit” itu,  ia mengaku telah menikmati hidup damainya mulai dari halaman rumahnya sendiri, di dalam kamar tidurnya sendiri dan di setiap interaksinya dengan manusia lainnya setiap hari, setiap saat. Ia menjadi sosok serba sederhana dan suka berbagi. Dalam kesehariannya, ia melakonkan gaya hidup S 3 [senang, sehat dan selamat] seperti yang juga saya perankan sehari-hari. Rasanya kami telah menemukan rasa damai di dalam diri kami.Plot gaya hidup macam itu, berbeda dengan  kisah nyata anak muda Amerika.  Ia berusaha menemukan jalan kedamaian dengan hidup menyendiri terasing di tengah hutan Alaska. Kisah nyata penemuan rasa damai dan kematiannya di mobil van hutan Alaska, difilmkan dalam “Into the Wild,” tahun 2007,  yang mengajarkan sekali lagi sebuah prinsip bahagia. Si pemuda itu, Christopher McCandless, akhirnya, sebelum ia mati di vannya, menemukan bahwa bahagia itu bukan “hidup menyendiri di hutan.”  Bahagia adalah ketika kita berbagi kehidupan dengan yang lain [ a happiness is a sharing with others or to be happy is to share]. Di dalam berbagi, ada kehilangan, tapi yang lebih besar dari itu adalah rasa mendapatkan kembali dari apa yang telah hilang. Rasa sensasi bahagia itu a.l. rasa senang dan tenang bercampur rasa damai yang semuanya menjadi satu, plus kelegaan [intangible things, non-fisik, spiritual experiencs, enlightenment, mind full awareness].

Seperti si penemu rasa damai, melalui jalur “banyak perjuangan diri,” John Locke, Pierre Bayle, Voltaire, Montesquieu, Benjamin Franklin, Thomas Jefferson, Thich Naht Hanh, Dalai Lama, Martin Luther King Jnr, Nelson Mandela, Mother Theresa, Rabindranath Tagore, Jimmy Carter dll, dan para pencari kedamaian lainnya, ternyata telah menemukan rasa damai di mana saja. Damai di mana saja, ia tidak mengikatkan dirinya hanya di satu lokasi seperti di dalam gedung ibadah, atau di doa akbar outdoor, atau saat beryoga, atau retreat di Plum Village Perancis atau meditasi di Ubud Bali, tetapi damai itu hadir di setiap kepercayaan, di setiap interaksi, di setiap agama dan di setiap suku bangsa dan di setiap geografi. Damai dimana-mana saja.Anda benar, kedamaian itu, so called diatas sukses dan kebahagiaan, hendaknya ditemukan oleh setiap individu yang rindu dan ingin terus berjuang untuk menemukan sendiri rasa damai dari dalam hatinya [naturally felt]. Kapan? Ketika yang baik hadir dan yang jahat ditinggalkan.

Rasa damai,  bukan dicurahkan, bukan dihadiahkan, bukan ditularkan, dari tokoh damai, atau dari si tokoh agama, atau dari si guru atau dari si suhu atau dari si sufi atau dari si pejalan damai.  Rasa damai macam ini, biasanya temporary, hangat-hangat…dan segera menguap kembali, yang tertinggal tinggalah kegelisahan, kekhawatiran, keserakahan, sakit hati, envy, heartburning dll, yang menjauhkan keadaan batin dari rasa damai dan senang.

Kita, every person,  harus menemukannya sendiri di ruang keluarga rumah kita masing-masing, di corak jalan kehidupan kita masing-masing dan di takdir kita masing-masing. Di situlah rasa damai itu tersedia, seperti kata bijak tua: “Tuhan ada dimana-mana juga di dalam hati.”

Namun, rasa damai itu senantiasa bisa dibagikan untuk menjadi “inspirasi” bagi manusia lain agar menemukan rasa damainya “sendiri,” dengan caranya sendiri dan dengan konteksnya sendiri. Rasa damai itu dimana-mana ketika kita “berusaha membantu mahluk lain dan ketika tidak bisa, paling tidak kita tidak menyakitinya.” Di situlah bermuara pencerahan sempurna setiap ciptaan, termasuk diri kita sendiri.

Thank you.
Salam work & life balance [WLB]

Harry “uncommon” Purnama
Mature Leadership Center
Pesona Khayangan DS 4, Depok 16411, Jabar
Tel. 021.70.631.632.
Mob
. 0821.3147.7119, 0817.9890.292

%d bloggers like this: