“Run Boy Run”: Kulup Adalah Penyelamat

Srulik atau Jurek Staniak diperankan oleh dua anak kembar ternyata. (Tangkapan layar: Run Boy Run di Tubitv.com)

SRULIK seharusnya bisa selamat. Tapi kulupnya yang sudah disayat sejak bayi membuatnya harus menderita di masa-masa awal hidupnya.

Berkali-kali anak laki-laki keturunan Yahudi yang lahir di Polandia ini harus dibuang, diburu dan terlunta-lunta di tengah pergolakan Perang Dunia II.

Saat itu pasukan Nazi Jerman di bawah pimpinan Hitler sedang buas-buasnya memburu orang Yahudi di seluruh daratan Eropa.

Keluarga asli Srulik di sebuah kota kecil di Polandia juga tidak luput dari kejaran pasukan Nazi itu.

Keluarganya tercerai berai begitu Nazi masuk ke kota tempat mereka tinggal. Sang ayah sendiri ditembak mati oleh serdadu Nazi.

Srulik, diberi nama baru “Jurek Staniak” oleh ayahnya, mesti bertahan hidup sendirian. Ia dipesan oleh ayahnya agar tetap bertahan hidup bagaimanapun juga. Ia tak boleh putus asa apalagi menyerah dalam kondisi terberat sekalipun.

Sebenarnya Srulik bisa saja selamat dengan sangat mudah. Tapi kemalangan mulai datang saat ia bermain-main bersama sekelompok anak laki-laki yang sedang berlomba mengukur jarak kencing mereka.

Perlombaan yang tidak ada gunanya, konyol tapi menyenangkan bagi anak-anak seusia itu. Mereka belum mengenal rasa malu membuka celana di depan orang lain dan memang tidak ada risiko apapun bagi anak laki-laki di masa itu untuk sekadar bersenang-senang dengan kelamin mereka.

Tapi bagi anak laki-laki Yahudi, penis adalah bagian tubuh yang sakral. Srulik pernah dinasihati sesama anak laki-laki Yahudi: “Jangan sampai membuka celanamu di depan orang.”

Dan anak itu benar adanya. Mempertontonkan kelamin yang sudah tak berkulup adalah permulaan penderitaan bagi laki-laki Yahudi dari berbagai usia.

Laki-laki Yahudi bisa saja mengaku dirinya bukan Yahudi. Mereka bisa mengaku dirinya beragama lain tapi jika mereka saat mereka membuka celana tidak ditemui adanya kulup di ujung penis mereka, semua itu dianggap kebohongan semata.

Bahkan jika ia hapal seluruh isi Injil kalau ujung penis sudah telanjang tanpa kulit pembungkus itu, ia tetaplah dicap Yahudi.

Semua berawal dari membuka celana. (Tangkapan layar: Tubitiv.com)

Srulik dengan mudah menghapal doa-doa Katholik yang diajarkan seorang wanita Polandia padanya.

Tapi malangnya ia tertangkap juga karena dicurigai sebagai anak Yahudi. Lalu ia dibawa ke seorang pejabat Nazi.

Srulik mengaku ia anak Polandia, agamanya Kristen karena ia bisa merapal doa-doa Katholik dengan fasih.

“Buka celanamu!” hardik si pejabat Nazi itu.

Srulik yang tahu risikonya pura-pura berusaha untuk membuka ikat pinggangnya.

Si pejabat Nazi itu tak sabar dan langsung menurunkan celana Srulik begitu saja.

Srulik tercekat tentu saja. Tak bisa berkata-kata. Ia setengah ditelanjangi dan identitas dirinya yang seharusnya tetap tersembunyi juga ditelanjangi di depan musuh.

“Lihat, kamu Yahudi!” bentak si pejabat Nazi.

“Aku harus dioperasi saat kecil karena infeksi, pak,” kilah Srulik yang mengaku bernama Jurek agar identitas Yahudinya tetap tak terendus.

Tentu si pejabat Nazi tak semudah itu percaya.

Srulik pun diseret ke luar, hendak dijadikan mainan hidup untuk anjing-anjing pemburu Nazi yang buas.

Tapi Srulik sanggup melarikan diri, berkat ingatannya yang kuat atas pesan si ayah: “Larilah ke rawa atau sungai. Di situ, anjing-anjing tak akan bisa mencium baumu. Kau akan selamat…”

Dan ia lari sekencang mungkin ke sungai yang ada di sekitar sana. Ia pun selamat setelah membenamkan tubuh ke air sungai dan terhindar dari tembakan acak pasukan Nazi yang ingin memastikan ia mati tenggelam di sungai itu.

Kali ketiga saat ia membutuhkan kulup ialah saat ia hendak dioperasi oleh seorang dokter di sebuah rumah sakit besar karena tangan kanannya tergilas mesin penggilingan di sebuah rumah pertanian.

Saat perawat melucuti pakaian Srulik yang sudah pingsan hampir kehabisan darah, si dokter melihat burung Srulik yang sudah disunat.

Sontak ia berkata: “Saya tidak mau mengoperasi Yahudi.”

Ia keluar dari ruang operasi dan membiarkan anak laki-laki itu meregang nyawa.

Esoknya nyawa Srulik sudah di ambang kematian. Tangan kanannya sudah membusuk separuh. Tubuhnya menggigil karena memerangi infeksi yang terjadi akibat luka parah itu.

Seorang dokter senior mendatangi rumah sakit itu dan melihat tubuh Srulik yang mungil tergeletak di koridor rumah sakit, dibiarkan sekarat.

Si dokter senior marah karena pembiaran luka Srulik itu membuat anak itu sekarang harus berisiko diamputasi.

Akhirnya dokter senior tadi mengambil keputusan untuk memotong lengan bawahnya hingga siku.

Akibat burungnya disunat, ia juga harus kehilangan lengan kanan bawahnya. Sad. (Tangkapan layar: Tubitv.com)

Adegan Srulik yang sukses bertahan hidup tapi harus syok melihat tangannya buntung dan menangis di kamar mandi memandang cermin lalu ke tangannya yang hilang itu sungguh memilukan.

Tapi di momen kepiluan itu rasanya juga ada kelegaan, bahwa ia meski sudah cacat tapi masih bisa bertahan hidup dan memegang teguh pesan ayahnya.

Srulik beruntung dirinya bisa melewati momen perih itu. Ia hidup hingga masa tuanya di Israel. Dan meski masa kanak-kanaknya begitu perih untuk diingat, ia mampu melanjutkan hidup meski tanpa kulup.

Film ini pantas untuk menyandang bintang 5 karena si protagonis dimainkan dengan ciamik oleh dua anak kembar Andrzej dan Kamil Tkacz.

Yang memukau juga adalah bagaimana mereka membuat lengan kanan Srulik terlihat buntung sungguhan. Saya sampai mencari di Google tentang si pemeran Srulik untuk memastikan bahwa ia masih punya lengan kanan dan lengan itu bukan lengan prostetik!

Sutradara Pepe Danquart patut diberikan standing ovation karena mampu mengarahkan semua kru di film ini untuk mengejawantahkan tiap kata dalam novel karangan Uri Orlev yang berdasarkan kisah nyata itu dengan begitu piawai. Terbukti film ini mengantongi 10 penghargaan dari penonton di Amerika.

Terlepas dari fakta bahwa sekarang Srulik ini menjadi bagian dari Israel yang menindas Palestina, sebagai manusia saya paham bahwa lingkaran setan kekerasan yang manusia ciptakan sendirilah yang menyebabkan semua perang, pertumpahan darah dan segala kesusahpayahan ini.

Dan alangkah tragisnya jika seorang anak manusia yang tak tahu apa-apa harus terseret di dalam pusarannya dan menjadi korban.

Kini anak-anak Palestina juga banyak yang bernasib seperti Srulik: terlunta-lunta tanpa punya rumah, kehilangan anggota badan, atau malah nyawa karena pertumpahan darah yang dilakukan orang-orang dewasa. Mereka tak bisa protes dan terpaksa ikut di dalamnya.

Ah, bukankah esensi kehidupan adalah nestapa? (*/)

Anda bisa menonton film ini secara GRATIS seutuhnya di tautan berikut: https://tubitv.com/movies/600075/run-boy-run?start=true

Pandemic Diary: Game Online Merajalela

PANDEMI membuat orang menginginkan interaksi meski sedanh terisolasi di rumah masing-masing. Inilah yang terjadi saat ini.

VP Consumer Games Agate Studio Bandung Cipto Adiguno mengatakan pihaknya mengamati ada kenaikan minat pada games yang bisa menggantikan kebutuhan komunikasi tatap muka antarmanusia.

“Orang main games sembari chat dan ngobrol. Paling rame emang online games,” katanya.

Karena sifatnya yang daring ini, kita bisa memilih untuk bermain bersama teman atau orang asing. Hanya saja karena sifatnya yang terbuka ini, orang tua harus mengawasi anak-anak mereka saat bermain supaya tak bermain dengan orang asing yang mencurigakan misalnya pedofilia atau mereka yang punya niat jahat.

Cipto menyarankan bagi ortu agar bermain games saat anaknya juga bermain. Dengan demikian terjalin kebersamaan.

Untuk mereka yang ingin merilis stres saat pandemi, bisa memilih games yang Animal Crossing di Nintendo Switch, di mana kita bisa memainkan hewan di dalamnya. Ada juga Stardew Valley yang terilhami Harvest Moon di tahun 90an. Games ini nggak ada elemen kompetisi dan timing sehingga santai dan merilekskan.

Games yang kompetitif dan online juga jangan terlalu lama. Kalau untuk melepas stres, memainkan games online yang kompetitif begitu cukup 2 atau 3 kali permainan dan begitu capek ya tutup laptop atau matikan PC. Kalau terus-terusan malah makin stres. Lakukan aktivitas lain agar tidak menjadi sumber stres baru.

Untuk anak-anak juga perlu diarahkan ke games jenis edukasi dan kreatif serta imajinatif. Sehingga tidak bisa asal memilih. (*/)

Jokowi as a Javanese Leader: Failure or Success?

TODAY JOKOWI is being roasted by the student body of Universitas Indonesia (UI). As one of the most prominent state universities in the country, UI has the right to do so.

The president is accused of violating his own words. Blogger Agus Mulyadi even bravely says to see what will happen next, you can listen to his statements and expect the opposite thing to happen. Pretty damn accurate though, I’d say.

It’s a stark difference if you compare his statements and what happens. Which is why the student body protests in such a way.

They compiled Jokowi’s statements quoted by a number of national online news outlets and then also juxtaposed the statements with what really happens in reality.

Clever, bold, and highly risky.

As a Javanese leader, I see Jokowi as a failure right now.

Based on some parameters of a successful leadership in Javanese culture stated by Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. in “Falsafah Kepemimpinan Jawa” or roughly translated, “Javanese Leadership Philosophy” (FBS, Universitas Negeri Yogyakarta, 2013), can he deliver?

Here is my take on this.

MONOCENTRUM

A Javanese leadership must be oriented towards one central figure. He should be the one and only commander in chief.

But in Jokowi’s regime, we know how big Luhut’s influence has become. The oligarch (PDI) of Megawati as the political machine behind Jokowi also starts to act like Golkar back in the heyday of Orde Baru (New Order). It’s basically a new version of ORBA.

Sad but true.

The pandemic has even revealed more of his weakness. You can see a lot of discrepancies between the central and regional governments’ policies in handling the pandemic.

Even worse, we saw smaller leaders under him undermine his authority by not succumbing to his pandemic policies.

You know how hard it feels to govern when your people have started to lose respect.

He sometimes causes this loss of respect as reported by Kompas. Jokowi and his minister were spotted unmasked while holding a meeting at the palace (source: Kompas).

Jokowi lets other leaders such as his own vice president, ministers, governors, etc to say and talk the opposite. Which is like a farce to the foreign media.

METAPHYSIC

Haha as much as I hate mteaphysics, I have to admit it is always an inseparable part of Javanese culture and also leadership. All metaphysical things and talks are one of Javanese distinguishing character. It’s almost impossible for Jokowi to separate himself from that.

Last April 2021, earthworms were reportedly to have appeared in a massive number at Pasar Gede, Yogyakarta (source: hops.id). And a psychic from Klaten, Eko Galgendu, commented that this would be a bad omen for Jokowi saying:

“Especially in terms of national economic affairs during the pandemic. This (the swarming earthworms phenomenon) can also mean there has been so much injustice in the country, in particular the economy that brings injustice to laymen,” he stated.

Jokowi has allowed the rise of BPJS fees, only to annul this decision again (source: Detik). Alas! And now basic needs such as rice, sugar will be taxed even higher (source: Kompas). Oh my!

A leader in Javanese leadership must have things like “wahyu”, “pulung”, “drajat”, “nunggak semi”. All these are metaphysical factors, aside from his leadership qualities and capabilities, which may sound like nonsense to people from other cultures. Even for Javanese Generation Z who may be studying at Universitas Indonesia at the very moment.

In this department, Jokowi may not reveal it. He has never show that he is a believer of such rituals. But we’ll never know until he reveals himself.

ETHICAL

Another quality that a Javanese leader must have is ethical. It is always moral based governance.

Jokowi is known for his “work, work, work” slogan. And for such blind work ethos, he is also known for a leader with an unprecedented amount of national debts. The amount may make you drop your jaw. We are among the list of 10 top economies with the biggest amount of debts as reported by Kompas.com. Incredible!

Jokowi may not be ethical. He is much practical than ethical. In this case, he doesn’t qualify. Instead, he likes to give people targets to achieve and work towards (source: Kompas).

SYNCRETIC

A Javanese leadership is usually syncretic by nature. It mixes a number of religions.

In this aspect, he successfully qualifies. As a moslem Javanese leader, he manages to show that wara’ concept. Wara’ is a concept of shunning the worldly pleasure. he always campaigns for the domestic products and hardly ever wears high-end attires. His signature fashion choice is a white shirt and a pair of dark trousers. He knows how to seel this humble and modest image.

PRAGMATIC

For sure, he is more pragmatic after the pandemic hit us badly. UU Cipta Kerja (Job Creation Act) was signed by the president in November 2020 and caused so much debate and also protests in a number of cities and towns in Indonesia (source: Detik). (*/)

Pandemic Diary: Menemukan Diri di Rumah Sendiri

DENGAN masih merajanya Covid-19 di luar sana, saya memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa saya kendalikan.

Salah satunya ialah rumah saya.

Pandemi yang membuat saya tinggal di rumah lebih banyak seolah memberi saya banyak waktu untuk memperhatikan lingkungan dalam dan luar rumah.

Saya memang sejak dari dulu anak rumahan.

Belajar di rumah, olahraga di rumah, nonton film di rumah.

Melancong memang mengasyikkan. Saya suka melancong tapi saya bukan tipe orang yang seolah menuhankan aktivitas itu.

Wajib traveling sebulan sekali ke luar daerah. Atau wajib traveling ke daerah yang belum pernah didatangi.

Bisa traveling atau tidak tidak membuat hidup saya terasa kurang lengkap kok.

Saya rasa ada yang aneh dengan pleasure economy yang pernah merebak sebelum pandemi kemarin yang ditandai dengan melejitnya startup-startup perjalanan dan wisata macam Tiket.com dan Traveloka.com itu.

Seolah terus-terusan menelusuri dunia di luar adalah sebuah kemenangan. Sebuah lencana yang dikoleksi dan kemudian bisa dipamerkan ke semua orang. Atau untuk sekadar bahan konten. Haha. Saya akui saya juga kadang begitu.

Tapi kalau melihat orang yang keranjingan traveling sampai seolah nggak bisa hidup tanpa traveling, itu rasanya ada yang aneh dengan rumahnya.

Bisa jadi rumahnya tak lagi terasa sebagai rumah. Dengan kata lain, rumahnya sudah menjadi semi neraka dunia. Haha. Ada yang membuat kurang nyaman atau bahkan stres kalau di rumah. Kemungkinan besar sih hubungan dengan manusia-manusia di dalamnya.

Salah seorang teman saya juga demikian.

Ia sangat suka melancong. Berbagai tempat wisata dari yang touristy sampai yang exotic dan langka karena saking nggak pernah didengar orang konon sudah pernah ia kunjungi.

Dalam sebuah perjalanan, kami pernah berbincang. Begini kira-kira isi pembicaraan kami:

“Tau nggak? Mama aku itu kalau di rumah ya, bikin kesel. Selalu ngomel melulu. Nuduh aku pergi pergi muluk padahal masih pandemi gini.”

“Ya ada benernya sih…”

“Tapi masalahnya dia tuh nggak ada berhentinya gitu. Sampek capek dengernya.”

“Oh ya?”

“Kayak orang parnoan. Dikit dikit nanya gue dari mana. Udah cuci tangan belum. Pake masker nggak tadi pas keluar rumah. Kayak nggak percaya ama gue banget.”

“…..”

Liat gini aja di rumah udah seneng sekarang aku tuh. (Foto oleh IKEA Indonesia)

Jadi nggak salah lah kalau saya jadi menyimpulkan dia itu sering melancong demi melarikan diri dari mamanya.

Saya sendiri hidup di perantauan jadi kurang bisa merasakan pengalamannya itu. Sudah dari sedekade lebih lalu saya tak lagi tinggal di rumah orang tua. Dan begitu saya ‘pulang’, rasanya saya bukan ke rumah tapi numpang tinggal di rumah orang tua saja.

Kemudian karena saya membeli rumah kecil di daerah yang konon kata orang Jakarta “antah berantah” sebelum pandemi melanda Maret 2020, saya berniat menghuninya. Sungguh saya sudah bosan menyewa kamar kos sempit di tengah rimba Jakarta.

Tapi sebelumnya saya harus mengisinya. Nggak mungkin lah saya tinggal di rumah yang kosong melompong.

Akhirnya saya putuskan belanja perabot dan kasur dari IKEA. Cukup menguras rekening sih tapi puas karena desainnya minimalis banget. Lain dengan rumah orang tua saya yang terasa … gimana ya, jadul gitu deh.

Lalu saya pun mencoba memberikan banyak sentuhan pribadi pada rumah. Supaya rumah ini terasa vibe Akhlis-nya.

Saya menjadikan rumah sebagai suatu sarana ekspresi diri, aktualisasi diri dan pemuasan diri. Haha.

Semua desain dan penataan ruang adalah pilihan mutlak saya. This is my space, pikir saya. Saya memang tidak bisa mengatur semesta tapi di dalam semesta mini ini, saya bisa menjadi diktator otoriter absolut. Tentu saja orang tua berusaha memberikan saran tapi kembali lagi saya penentu keputusannya. Karena ya budget juga dari saya sebagian besar.

Ubin pun harus sesuai selera saya!

Dan yang cukup menyenangkan sekaligus memusingkan ialah memilih ubin. Saya suka dengan gaya minimalis dan industrialis. Saya pilih lantai kayu (karena ubin keramik bikin lantai lebih dingin kalau hujan), dan hangat di mata. Cat dinding putih sehingga kesannya sangat resik dan ‘telanjang’. Lalu ubin kamar mandi juga saya pilih yang agak bernuansa alam dan tetumbuhan.

Saya sempat ditawari kontraktor untuk memasang wallpaper yang meriah agar dinding tak terkesan hampa.

Tapi saya tolak mentah-mentah karena saya mau pajang tetumbuhan dalam ruang agar kehampaan itu bisa lebih marak dengan kehidupan yang riil, bukan ilusi semata. Meski urusan merawat tumbuhan-tumbuhan itu nantinya lain urusan. Haha.

Saya menemukan keasyikan sendiri merenovasi rumah begini karena ya mau pergi ke mana juga kan? Bahaya juga kalau keseringan pergi. Pengalihan perhatian dan energi serta sumber daya keuangan yang paling masuk akal ya perbaikan rumah.

Dan selama perbaikan rumah ini, saya juga menemukan jatidiri saya lho. Jadi nggak harus pergi ke tempat eksotik dan instagrammable baru bisa menemukan diri.

Saya menemukan bahwa ternyata saya sangat suka tetumbuhan. Saya berupaya keras menyisakan lahan terbuka untuk ditanami rerumputan dan tumbuhan hias di depan rumah. Bagi saya itu oase. Dan saya ngotot untuk tidak menyemen semua bagian lahan rumah. Saya ingin ada taman dan pohon di depan rumah, seperti yang ada dulu di rumah ortu saya tapi kemudian ditebang dan jadi garasi mobil.

Saya juga menemukan diri saya penikmat olahraga solo. Saya tak suka nge-gym. Saya lebih suka fokus pada diri saya sendiri saat berolahraga. Mengobrol memang mengasyikkan tapi malah jadi distraksi. Plus jadi ancaman penularan virus kalau olahraga di gym yang ada orang lain.

Untuk itu saya jadi agak anti mobil dan kendaraan bermotor (Greta Thunberg can relate). Saya juga menganggap kendaraan bermotor merepotkan. Kalau dicuri juga susah kembali. Dan adanya layanan ojek daring sudah menjadi alasan lain untuk tidak membeli kendaraan pribadi. Setidaknya juga selama pandemi, saya tak banyak pergi. Kerja di rumah sendiri. Aman dan nyaman. Mau cari apalagi? Wifi? Sudah ada juga di sini.

Semua yang saya butuhkan sudah ada di rumah. Alhamdulillah… (*/)

Kenapa Mayoritas Orang Indonesia Anggap Bisa ke Luar Negeri Itu Keren

DALAM sebuah pertemuan keluarga yang terjadi beberapa tahun lalu, salah satu adik mendiang kakek saya menceritakan panjang lebar pada semua yang hadir mengenai perjuangannya membuat akta kelahiran.

Perjuangannya itu sudah dimulai sejak lama. Karena orang tuanya zaman Belanda dulu tentu masih buta huruf dan tidak paham pentingnya dokumen kependudukan semacam itu, akhirnya ia pun hidup tanpa akta kelahiran sampai tua begini.

“Sebenarnya saya itu sudah akan membuat akta kelahiran,” katanya.

Ceritanya, ia sudah ‘menodong’ seorang kakaknya agar bisa menjadi penjamin untuk membuat akta kelahiran.

Sayangnya, kakaknya itu sendiri juga sudah uzur. Tandatangan saja tidak bisa. Karena faktor usia, tangannya tremor dan mata juga sudah kabur.

“Tapi aku masih bisa kasih cap jempol,” kata kakaknya.

Ia juga memfoto KTP si kakak sebagai bukti.

Sayangnya, si kakak sudah dipanggil duluan dan akhirnya pembuatan akta kelahiran itu tertunda lagi.

Kini ia mencoba lagi membuat dengan menggunakan dokumen milik saudaranya yang lain.

Lalu ia mengaku mengapa di usia yang sudah senja begitu ia masih nekat ngotot mengurus akta kelahiran. Mau masuk sekolah juga tidak. Kuliah juga bukan. Menikah apalagi.

Begini ia mengaku: “Ya kalau saya punya akta kelahiran kan saya bisa mengurus paspor. Jadi saya bisa keluar negeri.”

Di situ saya terhenyak sih.

Bukannya mendapatkan pelayanan dukcapil begini adalah hak asasi warga negara ya?

Kenapa sampai tua saja kok belum punya akta kelahiran?

Ada yang nggak beres sih rasanya kalau mendengar begitu.

Apa ya kendalanya?

Entahlah.

Tapi memang urusan birokrasi di tanah air tidak bisa dianggap mulus dan praktis.

Sangat berbelit-belit!

Dari sulitnya mengurus akta kelahiran kakek-kakek seperti ini, kita tahu bahwa kesulitan memenuhi banyak persyaratan dalam fase kehidupan juga akan membebani orang-orang tanpa dokumen begini.

Tanpa akta kelahiran, tak bakal bisa punya paspor. Otomatis kesempatan melancong ke negara lain pupus. Kalau pun bisa diurus, mungkin harus ‘nyogok’.

Jangan bicara revolusi mental di era pasca reformasi begini karena kita semua tahu itu omong kosong belaka. Negara ini sudah mundur meski di aspek lain memang ada kemajuan juga sih.

Dari situlah, kita bisa paham mengapa keluar negeri itu dicap mewah dan tak terjangkau buat kebanyakan orang Indonesia.

Ya karena selain hambatan finansial (keluar negeri harus menunjukkan saldo rekening sekian puluh juta rupiah yang diendapkan), pastinya kendala dukcapil semacam ini menjadi yang paling utama dan pertama.

Orang-orang yang punya akses terhadap layanan dukcapil biasanya yang relatif sudah lebih mapan dan lebih sejahtera. Kalaupun ada yang di bawah garis kemiskinan sudah ada dokumen dukcapilnya itu berarti mereka beruntung.

Kalau sudah begini rasanya sangat terusik.

Kapan sih negara ini bisa punya birokrasi yang seefisien negara-negara lain?

Saya pengen juga punya KTP elektronik yang benar-benar dan sejati. Bukan KTP elektronik ala ala kayak sekarang.

Kalau Anda bagaimana? Apa masih bisa menolerir semua birokrasi yang berbelit-belit dan nggak jelas ini? (*/)

Jasa ‘Dosbing Ketiga’

SEORANG teman lama tiba-tiba menghubungi. Sebelumnya ia pernah mengajak saya menulis buku tapi karena kesibukan dia yang segunung sebagai mahasiswa PhD di negeri kanguru, saya maklum kalau ide itu tiba-tiba lesap bersama waktu.

Teman saya ini pernah menjadi mahasiswa berprestasi di universitas tempat saya kuliah S1 dahulu. Dia setahun lebih dulu masuk padahal usia kronologis kami sebenarnya cuma selisih beberapa bulan. Jadi dia terbilang masih muda untuk angkatannya.

Dan ia seminggu lalu mengirimkan sebuah pesan yang kemudian tenggelam dalam tumpukan pesan WhatsApp di ponsel saya.

Susah payah saya menggulung pesan-pesan dan menemukan pesannya begitu pekan berganti. Keterlaluan, mungkin begitu batinnya.

Tapi setidaknya saya akhirnya membalas.

Jadi ia bertanya soal sebuah kalimat dalam bahasa Inggris. Kemungkinan ia sedang mencoba menulis draft disertasi atau paper atau apalah, saya sendiri kurang paham. Pokoknya ia mau supaya saya membetulkan kalimat yang ia buat.

Lhoh, nggak salah nih? Mahasiswa S3 masih konsultasi ke saya yang cuma S2 dalam negeri?

Tapi ya karena ia butuh bantuan atau mungkin opini kedua, saya pun coba kirimkan usulan koreksi saya.

“Begini ya mas,” saya balas pesannya dengan diikuti kalimat yang sudah saya betulkan.

Ia kemudian memberikan saya kalimat lain untuk juga dibetulkan.

Waduh, semoga tidak jadi banyak ya. Untungnya tidak. Ia maklum saya juga habis kerja dan masih kram otak.

Di lain hari, saya menyaksikan story di Instagram seorang sahabat saat kuliah dulu: “Ah coba masih ada Akhlis, bisa minta ajarin nulis jurnal.”

Dia memang sekarang bekerja sebagai seorang guru sekolah menengah di Purwodadi, Jateng sana. Jadi mungkin sedang ada kewajiban menulis jurnal. Begitulah profesi guru sekarang. Kewajibannya makin banyak tapi kesejahteraannya masih… gitu lah.

Pesan-pesan kedua teman saya di atas tadi seakan membawa saya kembali ke belasan tahun lalu saat saya masih duduk di bangku kuliah.

Dulu saya sempat jadi ‘buruan’.

Saya juga nggak tahu bagaimana awal mulanya tapi teman-teman meminta saya jadi dosen pembimbing ketiga.

Hah?

Sebenarnya saya juga merasa aneh. Lha wong saya juga statusnya mahasiswa kok malah dijadikan tempat berkonsultasi penulisan skripsi.

Untuk urusan metode penelitian dan sebagainya, saya memang bukan pakarnya.

Tapi teman-teman saya ini banyak yang meminta bantuan demi untuk memperbaiki tata bahasa alias grammar dan ejaan (spelling) mereka. Sehari atau beberapa hari sebelum mereka berjanji bertemu dengan dosen pembimbing, mereka biasanya bertemu dengan saya.

Yang lucu saat mereka datang, sebagai adatnya orang Jawa yang meminta bantuan, saya seakan dimanjakan.

Ada yang berkonsultasi dengan membawakan makanan. Ada juga yang bertanya saya suka makan apa, dan saya pun dibawakan. Ditraktir begitulah pokoknya.

Saya jujur menikmati semua kemanjaan ini. Ya namanya juga udah kerja keras meneliti kalimat-kalimat orang yang mbulet, saya pikir saya pantas mendapatkan semua imbalan itu kan. Apa saya salah? Lha kan saya juga nggak memaksa lhooo. Mereka yang datang dan membawakan dengan kesadaran sendiri.

Syukur kalau kalimat-kalimat di draft skripsi teman-teman ini sedikit saja yang harus dikoreksi. Ada juga yang parah banget. Banyak yang harus dikoreksi. Kalimatnya nggak enak dibaca. Koherensi dan kohesivitasnya ughhh…

Ya sudahlah saya maklumi. Wong itu memang tujuan mereka ke saya. Agar saya bisa memermak kalimat-kalimat bahasa Inggris mereka yang amburadul.

Kalau apes, saya bisa sampai jam 11 malam ditunggui ‘klien’ karena saya harus ikut memikirkan kalimat-kalimat penggantinya yang bisa lebih masuk akal dan mudah dipahami.

Yang bikin emosi kadang kalau ditanya, klien ini nggak paham pesan yang mau disampaikan. Jadi saya makin kesal deh.

Kalau dia sendiri bingung, yang baca pasti lebih bingung!

Ingin saya membanting meja kalau sudah begini kejadiannya. Masalahnya saya orangnya nggak enakan, ‘ewuh pakewuh‘. Huh. Nggak enak banget jadi orang Jawa ya. Kadang mau sih jadi lebih blak-blakan tapi kadang mikir: “Kok aku kasar banget.”

Yang aneh bin ajaib lagi adalah datangnya beberapa kakak kelas. Lhoh, kok terbalik sih? Bukannya aku yang harusnya minta diajari ya. Ya, kakak kelas juga kadang ada yang merasa kurang percaya diri kalau akan berhadapan dengan dosbing. Berkonsultasi dengan saya seolah menjadi jamu penambah kepercayaan diri. Hah?! Really??

Kakak kelas ini bahkan sampai ada yang ke kos dan menunggui saya untuk mengoreksi seisi draftnya yang bakal diserahkan dosbing utama besok. “Pokoknya grammar-nya kalo salah betulin ya,” pesan kakak kelas ini sambil duduk di samping saya. Halus sih tapi tetep aja lah kayak orang kerja di bawah todongan senjata api. Dia mengamati setiap gerak-gerik saya saat saya membaca draftnya. Dan ini bisa berlangsung berjam-jam.

Padahal ya, saya juga punya tugas-tugas sendiri lhooo. Saya ingin menjerit begitu kadang sih tapi sekali lagi sebagai orang yang dimintai bantuan, saya sebaiknya tidak menampik. Kesempatan menolong orang lain adalah kehormatan, peluang berbuat baik, sebuah ladang amal. Halah!

Entah bagaimana di kampus saya juga ada beberapa mahasiswa asing dari Turki yang jadi adik kelas. Dan tampaknya mereka kuliah demi menjalankan tugas belajar. Anehnya mereka ini harusnya cerdas ya tapi kok ya masih minta bantuan saya. Saya sampai nggak percaya, “Lhah bukannya mahasiswa asing kayak kalian itu dikirim ke sini jauh-jauh karena pinter ya? Lha kok masih konsultasi ke aku mahasiswa pribumi ini?

Tapi lagi-lagi, saya memandang itu sebagai suatu kebanggaan. Saya menerima permohonan bantuannya. Sampai bahkan kelewat baik ya. Dia minta dibuatkan kalimatnya segala dan nanti saya dikasih imbalan. Waduh, jadi ‘joki’ dong aku!

Sesekali kadang saya menemukan beberapa klien yang lebih membikin capek jiwa raga karena berbagai sebab. Misalnya seorang klien yang nggak paham soal isi skripsinya sendiri jadi malah saya yang mesti banyak mikir. Lho ini skripsi punya siapa sih kok jadi saya yang stres lebih banyak?

Begitulah…

Tapi di balik semua permintaan bimbingan ini, saya justru menyadari bahwa keterampilan menulis dan menyunting saya makin tajam.

Dan akhirnya kok itu semacam sebuah kawah candradimuka bagi saya sebelum terjun ke dunia kerja yang memang sesuai jurusan. Anak sastra kerjanya di dunia tulis-menulis. Yo wis, klop lah!

Karena bidang kerja utama saya juga selalu saja lekat dengan kebahasaan, saya pun mensyukuri hal yang dulunya juga saya nikmati. Ternyata semua pengorbanan sampai mata pedes larut malam menelusuri kalimat-kalimat absurd di draft skripsi milik orang lain membikin saya lebih peka dan tajam terhadap rasa bahasa, tata bahasa, dan banyak hal tentang bahasa.

Semua pengalaman ini jadi terasa worth it. (*/)

On Comfort Zone

AROUND 12 years ago, I was standing at a crossroad.

I was teaching part time and from the very beginning never planned to stay long.

My parents are educators. They were natural educators. They seemed to enjoy their jobs. Their jobs gave them all they needed, from comfort to social lift. Working as a teacher back then was a cool thing to do.

But now, it isn’t as cool as it used to be.

Salaries are meager. Welfare is less than satisfactory.

And as a government civil servant, you must obey whatever government tells you to do.

Not me.

This is sooo NOT me.

So I kept saying to myself, “This is a temporary stint. It wouldn’t last long”. I promised myself day in day out while I was teaching my students.

All I wanted to do was do something else. A corporate job would do. Anything but teaching gigs or position seemed worthtrying.

I was so desperate, I almost got tricked into a scam. An unknown company emailed me and it triggered my curiosity of how the world outside of my hometown looked like.

Jakarta was never my dream city. It was filthy, full of crime, disorder, chaos, and … opportunities.

Alas, I can’t resist the last.

So I went to this center of Indonesian civilization one day in April 2010.

I picked a tiny room to rent for some time. And you know what, I stayed there for more than 11 years. I was even more impressed by my endurance. Enduring from its claustrophobic environment. A small bedroom, tiny shared bathroom, and nothing else.

The pandemic saw my moving out of the capital.

My endurance finally ran out. I couldn’t continue living in this shared environment. I decided I needed to get out as soon as possible.

And I happened to make a purchase of a little house out of it.

It takes me 1.5 hour to get there from Tanah Abang but I don’t mind that much.

It’s been a lifelong dream to work in a countryside. And it doesn’t hurt if I can stay there alone because I’m an introvert. I thrive in silence. Well, not a total silence but a controlled environment to think, ruminate and live. I like some noise but it should be a type of ‘desired noise’.

In retrospect, I recall my teaching phase of life was kind of hectic and energy draining.

I was working under a formal institution. I (had to) set a flawless example for my students. I had to come and go at a certain hour, and definitely could never leave the campus before I was allowed to.

But what I wasn’t comfortable with was the fact that I had to stand up and talk all day long during the classes.

It DID suck my energy up.

At the end of every teaching session, I somehow felt hollow and empty. As if I was too tired psychologically and mentally to live my life.

That was when I thought I couldn’t live that way.

I’ve always wanted to earn a living by writing or doing things that doesn’t require me to meet people in person under a formal setting.

I truly love the honor of teaching. But I knew from the very beginning that I can’t stand the bureucracy behind the walls of academia.

That’s why I still love teaching but I teach something else now. I don’t teach English but yoga. Still a thing I love doing every single day and I don’t feel any pressure. I felt this is the choice I made myself so I have no objection.

So if you ask me what my comfort zone is, I’d most probably answer: writing and teaching (informally).

How about you?

What’s your comfort zone you can never leave and can thrive in? (*/)

Things You Can Enjoy In Suburbs

The pandemic is surely attacking the suburbs, too.

I’ve heard some news from neighbors that a few of them have been infected.

That might sound bad.

But I don’t think so.

The population density here is so low I hardly ever encounter a crowd.

It’s always a person or two. A sensible number of humans to control or stay away from.

You see there’s no creature on our street. Only a motorbike or two passes by. No one strolls.

The icing on the cake is fresh air and vast skyline to enjoy anytime you wish. No skyscrapers block my view. How cool is it? (*/)

The Ultimatum of Central Java Governor Ganjar Pranowo

It’s still raging out there. It’s intense and doesn’t show any signs of abating anytime soon.

Why Viktoria Komova Must Write Her Own Autobiography NOW!

Komova's legendary sheep jump (Source: her Instagram feed)

SEVERAL days ago former Russian gymnast Viktoria Komova started to write some heartfelt posts on her Instagram account @komova_v_a_36 which I have been folllowing since I saw her gymnastics several years ago. She was retelling her experience as a world-class gymnast in her teenage years.

At 26, she is more than ready to tell her stories in a more mature perspective. (Source: her Instagram feed)

She wrote this:

Изнанка большого спорта 🥇 Часть 1.

Говорить про наличие многочисленных травм – нет смысла, это понятно вам всем.
Я тренировалась, выступала, жила с болями и это вошло в привычку.

Начну свой рассказ с 2010 года 🙌🏼

После молодежной олимпиады мы тренировались 24/7, помню как сегодня: в воскресенье тренер проводил занятие, на эстафете я спрыгивала с брусьев и… сломала ногу 😕

После реабилитации, я выступила на Чемпионате России на двух снарядах. И вот подготовка к Чемпионату Европы, разминка, делаю шаг назад, подворачиваю ногу и опять ее ломаю 🤦🏻‍♀️

В Германии провели операцию. Я выступила на Чемпионате Мира в 2011 году и после него, где-то спустя 3-4 месяца, начались дикие боли в ноге, я не могла на неё наступить, обнаружили усталостный перелом надкостницы и ещё одной операции было не избежать.

Вам интересно услышать продолжение? Дайте знать в комментариях ☺️

With my pathetic Russian translation skills, Google Translate came to the rescue.

So she says this in English:

The wrong side of big sport 🥇 Part 1.

There is no point in talking about the presence of numerous injuries, it is clear to all of you.
I trained, performed, lived with pain and it became a habit.

I’ll start my story from 2010 🙌🏼

After the youth Olympiad, we trained 24/7, I remember how today: on Sunday, the coach held a lesson, on the relay I jumped off the bars and … broke my leg 😕

After rehabilitation, I performed at the Russian Championship on two apparatus. And now I’m preparing for the European Championship, warm-up, I take a step back, twist my leg and break it again 🤦🏻‍♀️

An operation was carried out in Germany. I performed at the World Championships in 2011 and after it, about 3-4 months later, wild pains in my leg began, I could not step on it, they found a fatigue fracture of the periosteum and another operation could not be avoided.

Are you interested in hearing the sequel? Let me know in the comments

(Her Instagram post on June 7th, 2021)

And the next day she wrote this:

Изнанка большого спорта 🥇 Часть 2.

Хочу поблагодарить вас за ваш интерес и обратную связь ❣️

Я уже говорила, жить с болями вошло в привычку. Но когда она уже невыносимая и без обезболивающего трудно не только выполнить элемент на снарядах, но и буквально стоять, тогда понимаешь, что дела плохи.

После Олимпиады в 2012 году я не вылазила из травм.

В 2013 году из-за компрессионного перелома позвоночника (в грудном отделе) я пропустила Чемпионат России, являющийся отборочным на Чемпионат Европы.

В том же году, в последне дни перед Кубком России я заболела серозным менингитом и пропустила Чемпионат Мира.

В 2014 году – серьёзный перелом ноги, провели еще одну операцию.

В 2015 году боли в спине усилились, но я выступила на первых Европейских играх и с командой получили золотую медаль! 🎉
Также выступила с болями на Чемпионате мира в Глазго и выиграла золотую медаль 🥇

К сожалению, на соревнованиях в 2015 году я выступала уже с дикой болью и терпеть ее больше не могла.

Если вам интересно послушать завершающую часть как раз о моем уходе из большого спорта – дайте знать в комментариях 🕊

Google Translate again helps me understand the gist.

The wrong side of big sport 🥇 Part 2.

I want to thank you for your interest and feedback ❣️

I have already said that living with pain has become a habit. But when it is already unbearable and without an anesthetic it is difficult not only to perform the element on the apparatus, but also to literally stand, then you understand that things are bad.

After the 2012 Olympics, I didn’t get out of my injuries.

In 2013, due to a compression fracture of the spine (in the thoracic region), I missed the Russian Championship, which is a qualifier for the European Championship.

In the same year, on the last days before the Russian Cup, I fell ill with serous meningitis and missed the World Championship.

In 2014 – a serious leg fracture, another operation was performed.

In 2015, my back pain intensified, but I competed at the first European Games and got a gold medal with the team! 🎉
Also performed with pains at the World Championships in Glasgow and won a gold medal 🥇

Unfortunately, at the competitions in 2015, I already performed with wild pain and could no longer endure it.

If you are interested in listening to the final part just about my retirement from big sport – let me know in the comments 🕊

(Her Instagram post on June 11th, 2021)

So if you ask me the reason why Komova must write her own biography, I’d say: BECAUSE GABY DOUGLAS AND ALY RAISMAN HAD DONE SO FOR MANY YEARS AGO!

Honestly, I scanned Douglas’ biography, looking for the mentions of Komova right there. I was simply curious as to how Douglas described her rival at that legendary all around finals. Komova was a favorite and owned her performance especially with that highly praised floor exercise but still she failed to outdo Douglas. Her staunch fans still hold grudge till this second.

I found a paragraph that Douglas admitted Komova’s performance was “fantastic”. Here is the paragraph from Douglas’ “GRACE, GOLD & GLORY: My Leap of Faith” (2012) for you to savor.

And then from Raisman’s “FIERCE: How Competing for Myself Changed Everything” (2017), I found this.

And then this.

Here is another paragraph on Komova.

This is the last time she mentioned Komova and Aliya Mustafina who recently announced her retirement at the Russian Cup this year.

There are many details and emotions and feelings are left out right there. And I want to know the story on Komova’s side. It must be so satisfying to know what Komova felt about her US rivals.

So now you know how significant this petition, right? (*/)

Acrobatics Is Better Than Politics

BTS Meal Fiasco: How Indonesian Consumers & Marginalized Workers Get Exploited As A Mere Object Of Capitalistic Expansionism

BTS Meal was trending on Twitter on June 9th, 2021. To a non-BTS Army like me, there was no urge to make a purchase of all these available meals offered by McDonald’s outlets in Jakarta.

When I thought it was just a small ineffectual news update, I saw another piece of news the next day. The McDonald’s marketing feat was seen as negligence of health protocols by the authorities, causing online food couriers from GoJek (now GoTo) gather and thus incited pointless and unnecessary crowds which might worsen the seemingly endless pandemic in Indonesia.

The authorities have been struggling to curb a number of positive cases number explosions in many regions in Indonesia after the Eid el-Fitr holiday. My hometown is one of the hardest-hit towns in Indonesia.

And it is still raging. Unstoppable because of some stubborn and ignorant people combined with ignorance of bureaucracy and health workers that allow family members mingle in the same room with the supposedly self-isolated Covid-19 patients. It’s been a year and it’s impossible not to ever hear the importance of leaving a Covid-19 patient in a separate room until s/he is fully recoevered from the virus.

Indonesians, pity you. Because you’re just used as the objects.

Molnar of Argentina in 2014 highlighted the fact that South Korea has used the transnasional fanaticism as a tool to strengthen and widen its influence to Indonesia and many other nations.

Molnar defines Hallyu as soft power for South Korean capitalist expansionism and further descrobes it as a “Korean Dream” of “transnationalism and new imagined communities”.

Yes, one of these transnational, imagined communities is Indonesian BTS Armies.

Today I heard the McDonald’s outlets offering these meals are told to close and be fined by the authorities. Which they deserved for making all this mayhem happen.

And of course, some people cannot resist selling the meals which were produced in a limited stock to die-hard Armies. Marketplaces are swarmed with BTS Armies wanted to buy tumblers, cups, cuttleries, and whatever related to McDonald’s BTS Meals.

Celebrities bought, enjoyed and reviewed the meals for the sake of likes and popularity.

Behind all these, we all know too good that drivers and couriers are those who suffer most. They are so prone to Covid-19, but only God knows if they are fully vaccinated and ready to cover the medication and treatment once they get infected by Covid-19.

But that’s not of their biggest concern. Not because they don’t care about their own safety but because they have no resources to even protect themselves. They have mouths to feed at home and they are working like slaves amid this so-called the digital epoch and 4.0 industry revolution.

Is it fair? I don’t think so. (*/)

%d bloggers like this: