Lessons Learned during Pandemic 2020

What a time to live in!

We’re living in a period that the humanity in the future will remember as one of the most chaotic and horrible historical events.

At first, I was more optimistic that the world could get through the pandemic almost intact. December saw the optimism was still there to keep us motivated to do our best in 2020.

But as we entered January and February 2020, more and more damage were unavoidably done in the neighboring countries.

And March 2020 became the ‘enlightenment’ – in a less favorable manner – for Indonesia as the novel Coronavirus started to run rampant in their own ‘backyard’. It’s happening at home. We no longer talked Coronavirus as a foreign country’s issue but our own dire problem of public health.

Here’s some lessons that I learned the hard way so far during the ongoing pandemic all of us can never forget:

  • Trust yourself: As governments and bureaucrats cannot be fully trusted, you may sometimes doubt as to whom to trust in this crisis. Again, you have to take charge of your own life. Do something worthwhile that can really make difference in life such as learning new life skills that you can monetize sooner or later.
  • Seek help if you’re overwhelmed: Talking about support systems, we need them even more in the pandemic. Virtual meetups to get connected with your support systems (family members, best friends and old pals) may be a little bit weird but as time goes by you’ll get used to it. They are now the safest and best substitute for in-person meetups. I sometimes email friends and write them long emails just to get rid of my anxiety and despair.
  • Take care of yourself even better: Self care is the best thing you can do now as you have more and more free time to spend at home. Spoil yourself with a longer yoga session or meditation to just relieve stresses and negative emotions. Don’t let them accumulate. Done regularly, you’ll be just fine day in and day out. Eat well, rest enough, and also move when your body wants you to (you know when your body signals that by sending pain and aches).
  • Be a nicer person: In this pandemic, being a jerk would give terrible impacts on people around you, which makes their lives feel even worse that they should. Always try to be nice because everyone is currently suffering in their own ways. Yes, everyone. So just be nice even not only to someone who looks always bubbly and smiles generously but also to those who have hurt you in some way during the pandemic. And it won’t hurt to be nicer because we all never know if today might be the last time we see people who we just fired or talked harshly to.

How about you?

What lessons have you learned along this unusual period of life?

Share with me in the comment box below. (*/)

Membunuh Pasien COVID-19 Dua Kali dengan Stigma Negatif

man wearing face mask in a dark room
Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Sudah sakit kena virus, masih dikucilkan pula. (Photo by Engin Akyurt on Pexels.com)

Sudah bukan rahasia bahwa sebagian masyarakat kita ‘membunuh’ para pasien COVID-19 dengan stigma negatif. Hal inilah yang diserukan seorang mantan penderita COVID-19 yang sudah sembuh.

“Dalam banyak hal justru lingkungan (sosial -pen) itu membunuh pasien COVID-19,” ujar Izak Latu, seorang dosen di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) yang diwawancarai Elshinta pada 8 Mei 2020.

Pernyataan mantan penderita COVID-19 itu tidak berlebihan. Saat ditanya bagaimana dengan dukungan tetangga, apakah penting atau tidak, saat ia menderita COVID-19, Izak berkata ia beruntung para tetangganya memberikan sikap yang suportif. Bukan mengucilkannya.

Izak mungkin beruntung karena tinggal di lingkungan yang cukup terdidik dan mampu berpikir rasional meski berada dalam kondisi maraknya disinformasi saat ini. Tak heran karena ia tinggal di perumahan dosen UKSW yang tentu lebih familiar dengan pendekatan-pendekatan ilmiah dan tidak gegabah, atau mengandalkan prasangka.

Sebagaimana kita ketahui, ada sejumlah kasus yang menunjukkan sikap mengucilkan dan memusuhi pasien COVID-19. Tak cuma itu, mereka yang merawat para pasien COVID-19 juga mendapatkan perlakuan yang sama. Perawat-perawat di rumah sakit sempat dikabarkan ditolak di rumah kos yang mereka tempati karena pemilik kos menduga mereka akan bisa menyebarkan virus tersebut ke penghuni lain. Padahal tentunya sehabis bertugas, para perawat itu sudah melakukan yang terbaik untuk mensterilkan diri mereka dari virus dengan mandi sampai bersih dan berganti pakaian yang bersih.

Juga kita dengar berita penolakan pemakaman jenazah seorang perawat di kabupaten Semarang, Jateng, hingga gubernur Ganjar Pranowo turun tangan menegur kepala RT dan masyarakat sekitar pemakaman yang menolak pemakaman jenazah perawat tersebut meski sudah menerapkan prosedur pemakaman yang ketat agar mencegah penularan.

Masih menurut Izak, stigma tersebut cukup memberikan tekanan psikologis bagi para penderita ini. “Pikiran-pikiran seperti:’Kalau saya meninggal, (jenazah) saya bisa diterima nggak? Atau kalau saya pulang nanti jika sudah sembuh bisa diterima (masyarakat) nggak?” Itu yang menjadi soal. Semua orang harus berpikir positif dan memberikan dukungan bagi pasien COVID-19, karena kita tidak akan pernah tahu siapa saja yang akan terkena COVID-19 dan di mana,” Izak menjelaskan.

Izak sendiri mengaku beruntung para tetangganya menunjukkan dukungan moral agar ia segera sembuh. Dukungan tersebut tentu tidak berupa pelukan fisik atau salam/ jabat tangan. “Saya mendapatkan pesan dari tetangga-tetangga melalui WhatsApp. Saya setuju bahwa dukungan sangat membantu kita (sebagai pasien COVID-19) untuk tetap bahagia dan perasaan positif,” tuturnya penuh syukur. (*/)

Olahraga dan COVID-19

adult athlete body exercise
Olahraga seperti apa yang bisa dilakukan saat pandemi seperti sekarang? (Photo by Keiji Yoshiki on Pexels.com)

Mendengar Izak Latu, dosen Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, menceritakan pengalamannya dirawat setelah terkena COVID-19 hingga sembuh cukup bisa menginspirasi kita semua mengenai pentingnya berolahraga di masa-masa seperti sekarang.

Semasa masih sehat dan belum terkena COVID-19, Izak gemar berenang. Ia yakin berenang membuat paru-paru, organ vital yang menjadi sasaran virus baru ini, menjadi lebih kuat. “[Kebiasaan berenang] itu membuat pekerjaan dokter luar biasa (mudah -pen),” ujarnya. Kebiasannya berenang, maksud Izak, membuat paru-parunya lebih kuat sehingga ia tidak sampai drop ke kondisi yang sangat kritis. Nadinya juga menjadi lebih stabil.

Semasa dirawat di ruang isolasi rumah sakit, ia tidak bisa berjalan ke mana-mana. “Saya hanya menggerak-gerakkan kaki,” ucapnya. Ia meniru gerakan mendayung bak orang berenang.

Begitu dinyatakan sembuh, Izak kemudian melanjutkan kebiasaan berolahraga itu dengan berjalan kaki dengan rutin di bawah sinar matahari. Ia juga menggerakkan tangan dan lengan dan melatih pernapasan. Menurutnya, olahraga dan latihan napas ini membuat paru-paru yang sudah terkena COVID-19 itu bisa kembali bekerja seperti sediakala.

Olahraga Tingkatkan Kekebalan Tubuh

Sudah bukan rahasia lagi bahwa olahraga secara rutin memang bisa meningkatkan kekebalan tubuh seseorang. Sains juga membuktikannya tanpa ragu. Sebuah studi yang dilakukan peneliti di University of Bath dan dirilis hasilnya pada Maret 2020 lalu menyatakan bahwa ditemukan adanya dampak positif dari kebiasaan berolahraga secara teratur bagi semua orang yang menginginkan kekebalan tubuh mereka tetap prima di masa pandemi agar Coronavirus tidak mudah masuk dan membuat kondisi tubuh hingga drop bahkan sampai mengalami kematian.

Meskipun kita tidak bisa berolahraga di pusat kebugaran atau studio atau tempat-tempat umum sebebas dahulu, tetap saja olahraga sangat dianjurkan tetap dilakukan. Selama 4 dekade telah dilakukan penelitian terhadap dampak olahraga terhadap kekebalan tubuh.

Olahraga Seperti Apa?

Olahraga yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kekebalan tubuh kita tidak perlu yang berintensitas berat. Cukup dengan melakukan olahraga berintensitas sedang saja kita sudah bisa mendapatkan manfaat peningkatan imunitas tersebut.

Bentuk dan jenis olahraga yang dimaksud misalnya berjalan kaki, berlari, bersepeda, dan olahraga aerobik lainnya. Durasi totalnya seminggu ialah 150 menit. Itu artinya Anda bisa melakukannya selama 30 menit sehari dalam 5 hari seminggu (istirahat di akhir pekan).

Anda yang terbiasa berolahraga di pusat kebugaran atau tempat lain mungkin beralasan bahwa olahraga di rumah dan sendirian kurang ‘afdol’. Alat-alat pun tidak selengkap jika Anda berlatih di gym-gym besar. Namun, para pakar menyarankan bahwa Anda tetap melakukan olahraga sebisa Anda karena ini lebih baik daripada sama sekali tidak berolahraga selama masa pandemi yang belum diketahui secara pasti kapan akan berakhir.

Lalu bagaimana jika Anda sudah terbiasa berolahraga dengan intensitas berat karena memang bekerja penuh waktu sebagai atlet profesional atau memang sebelumnya sudah berkebiasaan olahraga yang berat? Apakah olahraga intensitas berat justru memberatkan tubuh dan menurunkan kekebalan?

Memang ada sebagian kalangan yang berargumen bahwa olahraga berintensitas berat bisa menekan sistem kekebalan tubuh yang memicu adanya rentang waktu yang lebih lebar untuk terjadinya infeksi selama masa pemulihan pasca olahraga berat tersebut.

Namun, studi yang dilakukan di tahun 2018 membuktikan bahwa dugaan tersebut ‘lemah’ sebab tidak ada bukti yang cukup kuat. Peneliti menyatakan dalam jangka pendek olahraga bisa membantu sistem kekebalan tubuh menemukan dan menghadapi patogen. Dalam jangka panjang, olahraga secara rutin memperlambat perubahan-perubahan seperti penuaan yang terjadi pada sistem kekebalan tubuh sehingga bisa mengurangi risiko infeksi.

Faktor-faktor Risiko Infeksi

Jadi, Anda jangan takut untuk berolahraga sedikit lebih berat dan sering daripada biasanya (asal masih dalam batas kewajaran). Karena penelitian justru menemukan bahwa olahraga bukan faktor yang membuat risiko terinfeksi lebih tinggi. Faktor-faktor tersebut ialah asupan makanan yang kurang bergizi, stres atau tekanan psikologis, tidur yang kurang cukup secara kuantitas dan kualitas, perjalanan jauh, dan paparan terhadap pathogen di acara-acara olahraga berskala massal. Bukan olahraga yang dilakukan secara mandiri di rumah.

Olahraga sebagai Pencegahan COVID-19

Dalam konteks pandemi seperti sekarang, olahraga justru bermanfaat asalkan tidak dilakukan secara massal, bersama banyak orang di tempat dan waktu yang bersamaan. Kita jangan sampai meremehkan pentingnya menjaga kebugaran, gaya hidup aktif dan kesehatanselama masa pandemi ini. Olahraga mandiri di rumah tetap disarankan.

Jika berolahraga di luar rumah pun harus diingat anjuran jaga jarak (physical distancing) yang sudah diberikan pihak berwenang. Misalnya, tidak berdekatan dengan orang lain minimal 1-2 meter, mencuci tangan lebih sering dengan sabun atau cairan alkohol pembasmi bakteri saat berkegiatan olahraga, dan menggunakan masker muka.

Dan sekali lagi, meski olahraga bisa menjadi penyelamat, jika tidak diiringi dengan perbaikan pola hidup agar menjadi lebih sehat secara holistik, Anda tetap saja akan ‘kebobolan’. Maksud saya adalah percuma sudah berolahraga jika kita masih kurang tidur, atau makan secara sembarangan (kurang sehat dan seimbang), atau tidak menjaga kebersihan selama berkegiatan. Jadi, pendekatan yang holistik masih diperlukan. Tidak bisa setengah-setengah. (*/)

Ide Konyol Pelonggaran Aturan PSBB

Di masa pandemi ini, tidak ada pihak yang bisa menjamin keamanan dan kesehatan kita agar senantiasa terlindung dari serangan Coronavirus (COVID-19).

Bahkan pemerintah sekalipun.

Kenapa? Karena pemerintah menurut anggota DPR ini tidak memiliki grand design yang baik dalam menghadapi pandemi. Pemerintah juga tidak melaksanakan tes secara massal bagi masyarakat. Sehingga kita hanya bisa menduga-duga dalam kecemasan. Fenomena Orang Tanpa Gejala (OTG) bagaikan momok bagi kita semua karena mereka tidak bisa diketahui sejelas ODP (Orang dalam Pemantauan) atau PDP (Pasien dalam Pemantauan) yang sudah menunjukkan gejala dan sudah dites.

Dr. Neti Prasetyani, M.Si., anggota komisi IX DPR, mengatakan pemerintah harus menunjukkan bukti dan dukungan berupa fakta ilmiah menyangkut usulan pelonggaran aturan PSBB di masyarakat Indonesia. Jangan hanya menggunakan asumsi-asumsi karena kita berurusan dengan nyawa manusia, tegasnya. Jangan karena alasannya supaya masyarakat tidak stres. “Itu menunjukkan ketidaksiapan pemerintah,” cetusnya.

Saya sendiri sudah tidak heran dengan ide pelonggaran itu. Bahkan dulu sebelum PSBB diberlakukan semarak sekarang, presiden kita masih belum bersikap tegas soal diperbolehkannya mudik atau tidak. Berkali-kali ia menyampaikan pesan lewat bawahannya di Gugus Tugas, tapi yang ada malah memberikan kebingungan. Pertama hanya imbauan. Namun, lama-lama imbauan itu makin tegas, hingga sekarang menjadi larangan. Dan larangan itu ditegakkan secara malu-malu dan setengah hati. Tidak ada hukuman. Tidak ada sanksi bagi pelanggar. Ya, mungkin karena alasannya sekali lagi agar masyarakat tidak stres. Padahal justru yang membuat stres itu adalah ketidakpastian sikap pemerintah yang makin memperburuk ketidakpastian kondisi akibat serangan COVID-19.

Masyarakat yang mana? Siapa yang dimaksud dengan masyarakat ini? Yang dimaksud “stres” ini apa? Indikator stres itu apa?

Untuk bisa memutuskan sudah bisa dilakukan pelonggaran atau relaksasi aturan PSBB, kita harus mengacu pada perlambatan tingkat pertambahan kasus positif COVID-19. Tren perlambatan ini tidak bisa diketahui dalam satu atau dua hari sehingga pengambilan keputusan relaksasi aturan PSBB juga tidka bisa instan. Butuh waktu yang tidak sebentar agar memastikan masyarakat sudah benar-benar aman dari penularan virus antarsesama manusia. Bisa jadi dbutuhkan waktu berminggu-minggu dan diselidiki juga korelasinya antarwilayah. Karena satu wilayah berkaitan dengan yang lain juga , mengingat masyarakat kita mobilitas dan persaudaraannya sangat tinggi. “Maka tidak mungkin melonggarkan aturan di satu wilayah tetapi tidak diiringi dengan aturan yang serupa di daerah lainnya di sekitarnya.

Dilema soal PSBB ini memang sudah muncul sejak awal. Sikap pemerintah memang terkesan lamban karena satu persatu pemerintah daerah harus mengajukan dulu usulan PSBB di wilayah mereka baru kemudian dilakukan pengkajian dan baru disetujui pemerintah pusat. Padahal menurut Neti sekarang pelacakan sudah tak mungkin dilakukan karena sudah terlambat. Setiap warga Indonesia berpeluang mengidap covid dan menularkannya atau tertular juga. Di sinilah kita semestinya mengevaluasi dan bila perlu mengetatkan aturan PSBB, bukan malah terlalu cepat mengendurkannya sebelum waktunya.

Saya sendiri sependapat dengan Neti karena seharusnyalah pemerintah menempatkan nyawa rakyatnya dahulu. Setelah nyawa terselamatkan, pemuihan ekonomi akan bisa dilakukan dengan maksimal. Dengan melakukan penerapan PSBB secara setengah-setengah, kita justru akan mengulur-ulur waktu untuk membasmi coronavirus baru ini dari Indonesia. (*/)

Kidney for Money: Grassroots Life during Pandemic

Frans may not have become the headline of online news that has gone viral if only he hadn’t done something spectacularly crazy. The 43-year-old man wanted to sell his kidney as he needs cash for his family. A lot of it at the moment.

The thing is he cannot do it in Klaten, where he lives. So he made up his mind and was headed to Semarang, the capital of Central Java. As of the moment of writing, he had not called or contacted his wife or other family members on his whereabouts.

The wife said Frans had already left home since Saturday (2 May 2020) by foot. He sought some work opportunities in Semarang. Somehow she heard news that people saw Frans somewhere putting on a shirt with printing that read that he sells his kidney.

“My husband said to me he could not simply work as the wage is never enough to pay the bills and debts. He had mentioned the possibility of selling his kidney but I told him not to do so. I believe there is another solution,” she recounted her last conversation with Frans.

She advised that Frans contact his relatives in Jakarta but he refused. “Useless. There is no response at all,” Frans replied as cited from his wife.

Frans is just a tiny part of grassroots in Indonesia. He was running out of luck and fortune after he got sacked by his employer, an owner of a car washing service in Yogyakarta. His severance payment was only IDR300,000, which was hardly enough for the entire household he has to feed. His kids are 4.

What struck me most is the fact that the family has not received any financial or logistic assisstance from the local government. This is sad as we all know Klaten is the regency where the regent was recently caught in the act taking advantage of the hand sanitizer donation from the central government. Stickers of her face were found on the bottles of hand sanitizer distributed to people in Klaten. Some didn’t think this was right and they took to Twitter to spread the allegedly hideous politically incorrect action of the leader.

Now the administration of the village where he lives designated some people as task force team members and sent them to search the forlorn man as soon as possible. The team is assigned to locate Frans and bring him back home and also of course, let him to forget the idea of selling hid kidney once and for all. (*/)

Rendah, Kesadaran Perlindungan Data Pribadi di Indonesia

Beberapa hari lalu kita sempat dikagetkan dengan berita tentang Tokopedia, salah satu startup unicorn dari Indonesia, yang kabarnya terkena insiden peretasan. Jutaan data pribadi penggunanya seperti alamat surel, kata kunci, dan detail pribadi lainnya dijual di internet secara terbuka.

Tentunya ini sangat mengecewakan. Beberapa tahun lalu hal serupa juga menimpa startup ecommerce Indonesia lainnya yang berwarna merah. Hanya saja Tokopedia patut mendapatkan sorotan lebih banyak karena jumlah penggunanya sangat banyak. Bisa dikatakan terbanyak mungkin di negara ini.

Dikutip dari pernyataan manajemen Tokopedia 2 Mei 2020 lalu, diakui bahwa memang ada upaya mencuri data pengguna. Hanya saja mereka berani memastikan informasi penting pengguna mereka tidak bocor. Dikatakan oleh peretas bahwa data pribadi yang ia klaim milik para pengguna Tokopedia itu dijual Rp70 juta saja.

Muncul pertanyaan: “Apakah kita sebagai pengguna layanan ecommerce ini bisa menuntutnya atas kelalaian menjaga data pribadi yang sudah diserahkan?”

Secara teori memang bisa. Dasar hukumnya sudah ada, bahwa pihak penyedia layanan digital harus senantiasa memperbarui dan memeriksa keamanan layanannya. Dan pihak pemerintah bekerja sebagai pengawas.

“Data itu memiliki nilai yang luar biasa. Sekarang perusahaan aplikasi itu punya aset apa selain big data?” ujar perwakilan dari Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).

Bukti luar biasanya nilai data pengguna ialah nilai perusahaan yang bergerak di bidang big data melampaui nilai perusahaan-perusahaan yang mengelola aset fisik

Hanya saja konsumen tidak bisa mencari keadilan sendiri. Itulah kenapa diperlukan peran negara di dalam kasus-kasus peretasan digital seperti Tokopedia ini. Konkretnya, pemerintah harus memanggil dan meminta keterangan dari pihak penyelenggara layanan sistem elektronik tersebut untuk memberikan keterangan secara detail dan faktual.

Kita sebagai konsumen juga bisa menuntut pihak penegak hukum untuk menyelidiki rekam jejak audit si pihak penyedia layanan digital. Rekam jejak tersebut kemudian yang nanti bisa dijadikan alat bukti apakah si penyedia layanan terbukti lalai dan bersalah atau tidak. Intinya, kita perlu memastikan apakah prosedur pengamanan sudah dilaksanakan seoptimal mungkin atau tidak oleh penyedia layanan. Jika mereka memang menganggap serius, pastinya dilaksanakan perbaikan dan pemantauan keamanan layanan secara rutin.

Undang-undang Perlindungan Konsumen bisa digunakan untuk pijakan gugatan class action. Namun, menurut catatan di republik ini tak banyak masyarakat yang mau memanfaatkan kesempatan ini.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang aneh karena masyarakat Indonesia belum sepenuhnya paham akan tingginya harga data pribadi mereka. Kebanyakan orang Indonesia tak merasa bahwa data-data mereka cukup berharga untuk dicuri, padahal jika banyak ditilik dari modus operandi kejahatan, membiarkan data pribadi kita terumbar begtiu saja membuat kita menjadi calon mangsa kejahatan yang empuk. Barulah saat mereka terkena insiden yang diakibatkan keteledoran itu, mereka baru sadar pentingnya data pribadi tersebut.

BPKN sendiri sudah mendesak pemerintah untuk mengeluarkan undang-undang untuk melindungi data pribadi pengguna. Karena sekali data jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab, kita akan menanggung konsekuensinya yang berat.

BPKN menerima pengaduan konsumen yang merasa hak-haknya dilanggar dan diabaikan oleh penyedia layanan dalan kasus-kasus peretasan seperti ini.

BPKN sampai saat ini belum menerima pengaduan terkait dugaan peretasan data Tokopedia. Namun, ia mencatat adanya peningkatan pengaduan terkait layanan ecommerce selama masa pandemi ini. Ini karena banyak masyarakat yang harus berdiam di rumah sehingga frekuensi berbelanja daring menjadi lebih tinggi daripada sebelumnya.

BPKN sendiri menggarisbawahi bahwa pemahaman soal pentingnya perlindungan data pribadi konsumen di tanah air juga masih belum sesuai harapan. Konsumen di Indonesia rata-rata sangat mudah memberikan data pribadinya ke pihak lain tanpa memastikan keamanannya.

Karena tingkat kesadaran rendah inilah, negara juga idealnya terpanggil untuk melindungi warganya dengan aturan-aturan yang mewajibkan penyelenggara layanan agar bekerja dengan sebaik mungkin untuk memastikan perlindungan data penting konsumen. Dengan jumlah penyelenggara layanan yang lebih sedikit dibandingkan jumlah konsumen, lebih masuk akal juga bagi pemerintah untuk memfokuskan upaya perbaikan dan pemantauan kepada pihak-pihak penyelenggara jasa ecommerce.

Bagaimana dengan Anda sendiri? Maukah ikut menuntut dalam gugatan class action agar para penyelenggara layanan digital bisa lebih ketat dan belajar tidak menganggap enteng kasus-kasus demikian di masa datang? (*/)

%d bloggers like this: