Times New Roman, Font Paling ‘Berisiko’ dalam Membuat Surat Lamaran Kerja

Menyambut May Day, tema lamaran kerja tampaknya tepat untuk disuguhkan di sini. Bagi Anda para buruh yang sudah mulai jenuh dengan tempat kerja saat ini, saatnya menyusun surat lamaran kerja plus riwayat diri lalu mengirimkannya ke sebanyak mungkin pemberi kerja di luar sana.

Namun, ada satu pesan yang perlu Anda camkan: hindari font Times New Roman yang kerap diharuskan di pengetikan skripsi. Para ahli tipografi mengatakan jenis huruf yang dipilih pelamar kerja turut menentukan peluang diterima tidaknya lamaran kerja.

Bloomberg melakukan survei pada beberapa praktisi tipografi mengenai jenis huruf yang membantu pelamar kerja untuk mendapatkan posisi idaman dan jenis huruf yang membuat peluang diterima lebih tipis.

Jawaban mereka adalah: helvetica merupakan font paling aman dan paling kuat untuk digunakan dalam lamaran kerja. “Helvetica tidak
membingungkan, tidak miring ke arah manapun. Kesannya profesional, ceria dan jujur,” kata Brian Hoff, direktur kreatif dari Brian Hoff Design. “Helvetica tergolong aman. Mungkin itulah mengapa ia lebih banyak dipakai dalam dunia bisnis.”

Saudara Helvetica lainnya, Proxima Nova, ternyata lebih sesuai untuk mereka yang ingin mendapatkan pekerjaan yang melibatkan kekuasaan.

“Saya tidak pernah menemukan klien yang tidak suka font tersebut,” ujar Hoff.

Font ini mahal. Proxima Nova harganya $29,99 di laman myfonts.com, dan semua keluarga font ini yang mencapai 144 jenis dijual dengan harga $734.

Bagi mereka yang ingin menuangkan pengalaman kerja mereka dalam satu halaman saja, Garamond adalah pilihan yang patut dipertimbangkan.

Times New Roman memberikan kesan apatis dan seperti “memakai celana olahraga”, kata Hoff. Ia menambahkan font Comic Sans hanya bisa dipakai untuk resume yang tidak serius.

Bersama dengan font-font itu, teknologi bisa membantu pencari kerja dengan jejaring sosial. Jejaring sosial dianggap oleh konselor di Southeast Missouri State University “membangun dan mempertahankan identitas positif di web” sepenting selembar kertas yang berjudul resume.

Bagi generasi millenial yang berpikir bahwa emoji bisa dipakai sebagai pemanis dalam resume kerja, Matt Luckhurst, direktur kreatif di Collins, berkomentar, “Menurut saya, itu ide yang bagus. Tambahkan banyak emoji di bagian bawah. Mereka akan menyukainya.”

20 Jam Berlomba dalam Cuaca Buruk, Pria Penderita Muscular Dystrophy Ini Taklukkan Boston Marathon

Kita semua mungkin lebih kuat dan tangguh secara fisik daripada Maickel Melamed (39) tetapi soal nyali dan tekad, pria ini sungguh patut dijadikan inspirasi. Melamed dari Venezuela Selasa kemarin sukses menembus garis finish setelah 20 jam berjibaku di udara dan cuaca Boston yang sungguh tidak bersahabat bahkan bagi para pelari marathon bertubuh normal. Ia menderita penyakit muscular dystrophy yang melemahkan otot-otot tubuhnya sehingga berjalan pun sebenarnya sudah cukup membuatnya kesakitan dan kepayahan. Dengan kondisi itu, jarak 26,2 mil sanggup ia tempuh.

Ia menyelesaikan marathon itu tentu bukan untuk menjadi yang tercepat. Ada nuansa sentimental di balik ikutnya Melamed dalam lomba lari itu. Orang tuanya membawanya ke kota Boston pertama kali saat ia masih bayi untuk mendapatkan perawatan medis karena penyakitnya tersebut.

Mengingat kondisi fisiknya itu, Melamed tidak berlomba sendirian. Ia didampingi oleh sejumlah pendukung dan teman dekat yang berasal dari organisasi asal Karakas yang bermisi membantu generasi muda.

Salah seorang temannya yang bernama Natalie Howard yang turut mendampingi Melamed berkomentar,”Berjalan bersamanya sungguh membuat kami menghayatinya dan bagaimana kami mengantisipasinya. Apa yang akan Anda lakukan dengan doa di dalam diri Anda?”

Melamed telah mengikuti lomba marathon lainnya dalam melatih diri mengikuti event ini namun lomba marathon di Boston memang memiliki makna istimewa baginya. “Lomba ini memang sulit,” ujarnya,”Terutama di sekitar mil ke-24 tetapi para pelatih fisik saya mendampingi dengan menakjubkan untuk membuat saya tetap bersemangat. Saya istirahat 10 detik lalu melangkah 4 sampai 6 langkah.”

“Pesannya di sini ialah bahwa cinta lebih kuat daripada kematian,” tegasnya sambil terbata. “Sungguh sebuah kehormatan bisa berada di jalan kota ini.”

Walikota Boston, Marty Walsh, memberikan penghargaan atas prestasi Melamed itu dengan mengadakan sebuah seremoni khusus di balai kota.

“Kisahnya sungguh sebuah inspirasi,” jelas Walsh saat menganugerahkan medali bagi Melamed.

“Setelah 20 jam hujan, angin dan udara dingin, Boston masih terus kuat,” kata Melamed setelah menyentuh garis finish.

Happy Earth Day, Everyone!

“Who are we? We find that we live on an insignificant planet of a humdrum star lost in a galaxy tucked away in some forgotten corner of a universe in which there are far more galaxies than people.”- Carl Sagan

If this planet is so insignificant, insubstantial, and
inconsequential, how about each of us? Totally meaningless cosmic dust particles???! But anyway, happy earth day! I love my planet and I hope so do you all.

{image credit: wikimedia}

Beauty and The Beast Main Cast on Staying True to Ourselves

Hilary Maiberger (HM) and Darick Pead (DP) are performing in Jakarta next month and today they were in Jakarta, giving a meet-and-greet session with journos. I (AP) happened to have an exclusive interview with them and here is the excerpt just for you.

AP: “What are the lessons that you want the Indonesian audience to learn from the musical?”
HM: “Staying true to yourself, don’t try to be someone else because they’re popular. And your uniqueness is what makes you special.” DP: “One of the important lesson is to look at somebody for who they are. Especially nowadays, people tend to see how you look and that’s not important honestly. It comes down to the person that you are.”

AP:”When was your happiest and lowest moment during the tour?” DP: “The happiest is when we met the writer of Beauty and The Beast, Linda Woolverton, in Los Angeles. We were so amazed because we performed her work in stage. Maybe my crazy experience was when we were in Arkansas and the bus with the entire cast got stuck on a mountain because of snowing. But finally a limo came and picked us up to the nearest town.”
HM: “My happiest moment is in LA at the Pentages when I first saw Beauty and The Beast when I was 10 years old, that was when I saw the Braodway shows. I was like a kid all over again. I never imagined that I’d be there. My lowest moment (is) my little sister just had her first baby and I can’t be there.”

AP: “What can you tell to kids out there who whope to be involved in a world-class musical like this and to be actors like you both?” HM: “Be yourself! Have fun! And work hard! Haha…”
DP: “And I’d say most importantly, be kind to those you work with. People don’t want to work with people they don’t like.”

AP: “Apart from lots of rehearses and all the routines, what do you do in your spare time to stay balanced and sane because it must be stressful?”
HM: “I love to go shopping, do girly things like that, playing by the pool, really doing nothing, reading. Decompress, like a normal person. Haha.”
DP: “I play guitar and I learn to play it. I bought one that’s very skinny and thin and so easy to travel. I like to read and watch movies. Lots of movies.”

AP: “Have you been in the situation when things don’t go the way it is supposed to on stage, and how did you handle the awkward situation so the audience din’t notice something wrong is happening?”
HM: ”Awkward things happen every night because it’s live. Something always happens. During my first year of tour, I may not have passed it and beat myself up and then over the years I’ve learned that I’m human. I make mistakes. Things go wrong. You just got to move on.” DP: “Sometimes the audience notice, sometimes they don’t . You just have to go through your job and we have a great crew and orchestra and cast. So when something goes wrong, I feel safe because I feel I’m in good hands.”

AP: “How long will you work as performers? After you quit, do you have any plan?”
HM: “ I’d never lived in New York and never experienced the New York theater scenes so I’d love to dive into that and see what it has to offer. If not, I’d love to teach. I love teaching the voice and singing.”
DP: “Lots of possibilities. Especially moving to NYC. From there, I’d love to do films, theatre, all kinds of things. Someday I’ll have my own band…”

AP: “What do you both usually do right after a long tour?”
DP: “I’ll go hang out with my family.”
HM: “I’m at home with that couch with chips and my family around me watching movies and just talking.”

AP: “What’s the line that your characters speaks and you like most?” HM: “I like:’So I know how it feels to be different and I know how lonely that can be…’ It’s a long line but she says it’s ok to be a little different. Everything is gonna be ok.”
DP: “I like it when Beast says:’What did you say? like 4-5 times to Beauty.’

AP: “Along the tour, have you seen the best audience? Where and when was it?” HM: “Every audience have different energy every night but definitely there was audiences in Bangkok that was just ..
DP: “Bangkok… and Singapore. (We were) blown away.”

AP: “Do you have any personal stuff to bring along on tour that you cannot live without?”
DP: “Hmm… My passport? Haha. My guitar, something that I really love and am really sad when I don’t have it. And my computer to watch all my movies!”
HM: “I have a couple of jewelry pieces from my parents and friends.”

Efek Negatif Makanan Berlemak Tinggi Terasa dalam 5 Hari

Banyak ahli gizi sepakat bahwa sesekali ‘curang’ dalam pola makan sehat. Bahkan mereka yang memiliki pola makan paling sehat juga memiliki kelemahan. Namun, riset terbaru menunjukkan betapa cepatnya asupan yang buruk bisa mengubah pencernaan kita.

Menurut sebuah studi, 5 hari setelah makan makanan berkandungan lemak tinggi, cara otot tubuh menyerap dan memproses zat-zat gizi pun berubah. Para peneliti mengatakan hasilnya menjadi pengingat bahwa asupan yang kurang sehat meski sebentar pun bisa memiliki efek jangka panjang.

“Sebagian besar orang berpikir mereka bisa sesekali makan makanan berkandungan lemak tinggi selama beberapa hari dan tak akan
terpengaruh,” ujar Matt Hulver dari Virginia Tech yang juga pakar asupan dan olahraga, menjelaskan dalam sebuah pernyataan resmi. “Namun, hanya dibutuhkan waktu 5 hari bagi otot tubuh untuk mulai ‘berunjuk rasa'”.

Berat otot-otot adalah sekitar 30% dari rata-rata berat badan seseorang. Otot juga memainkan peran penting dalam metabolisme glukosa. Saat tingkat gula darah naik selama dan setelah makan, otot-otot kelebihan gula memutuskan apakah menggunakan atau menyimpan energi itu. Jika kemampuan sistem otot untuk memetabolisme gula tidak normal, akibatnya untuk tubuh bisa cukup buruk.

Sebagai bagian dari studi baru itu, peneliti menginstruksikan para mahasiswa di Virginia Tech memakan sajian yang terdiri dari lemak (55%). Sebagian besar diet itu mencakup, antara lain, biskuit sosis dan makaroni dan keju. Mentega juga dimakan secara bebas.

Setelah 5 hari, peneliti mengukur jejak metabolisme dan menemukan bahwa pemakan makanan berlemak tinggi kurang efisien dalam
mengoksidasi glukosa. Peneliti mengatakan akibat itu bisa menurunkan kemampuan seseorang dalam mengatur lonjakan insulin, yang naikkan risiko diabetes dan penyakit metabolisme lainnya pada diri seseorang.

“Hal ini menunjukkan bahwa tubuh kita bisa merespon secara dramatis pada perubahan asupan dalam waktu singkat lebih dari yang kita bayangkan,” Hulver mengatakan. “Jika Anda memikirkannya 5 hari itu waktu yang singkat. Ada banyak waktu saat kita makan banyak makanan berlemak, entah itu selama liburan, atau perayaan lainnya tetapi riset ini menunjukkan bahwa makanan tinggi lemak bisa mengubah metabolisme normal seseorang dalam waktu singkat.

Riset ini dipublikasikan pekan lalu dalam jurnal Obesity. Hulver dan koleganya berencana melanjutkan penelitian ini untuk mengetahui efek jangka panjang pada kemampuan metabolisme sistem otot manusia. Mereka juga berencana meneliti kecepatan efek asupan tinggi lemak itu hingga bisa diperbaiki seperti semula.

(sumber foto: wikimedia)

The Pain of a Singletasker in a Multitasking World

Multitasking is on the rise. Everyone demands things to get quickly solved at the same time. The faster, the more, the better. Do more things to accomplish more things. Push yourself and others to achieve the target based on vanity metrics and things are going to be just fine. It’s all about quantity. Productivity is quantity, according to them.

Screw it all…

You know what? I can’t work like you, folks. Unlike you, I am a SINGLETASKER, with capital because of my pride of being one, for which I am always judged and treated quite unfairly, even by myself. I think I was incompetent simply because I cannot juggle all the stuff you all want me to juggle with. ‎Then I know it’s just fine anyway NOT to be skillfully able to juggle like a pro. Because who cares about the quantity?

I like it when a buddy from the past told me:”One at a time”. He was an Internet marketer who confessed he is from Indonesia but grew up in Singapore and then moved to Malaysia. ‎I treat it like a string of chant. Yeah, one at a time…

So please don’t ‎tell me being a multitasker is a must. It sickens me.

From This Moment On: Catatan Suka Duka Sang Biduanita Kanada

Saya masih ingat suatu siang di tahun 1997, saat kaset dan perangkat teknologi yang bernama tape player masih meraja. ‎Saya menggenggam kaset “Come On Over” Shania Twain yang beberapa waktu kemudian sampul albumnya disobek dengan sengaja oleh seorang teman yang sungguh lancang dan durjana karena tergoda foto cantik Shania. Saya tak akan melupakan dosa teman saya itu begitu saja. Saat itu, benda itu salah satu aset yang saya anggap sungguh berharga.

Tiga belas tahun berselang, Shania Twain ‎mengalami banyak perubahan dalam hidupnya. Ia tidak hanya sanggup menulis lagu-lagu hits, tetapi juga sebuah buku autobiografi. “From This Moment On”, judul buku yang ia ambil dari salah satu lagu paling populernya, pernah diangkat ke Oprah Winfrey Show dan dibahas. Shania dalam kata pengantarnya menulis bahwa buku itu sebagai sarananya untuk membersihkan diri dari masa lalu yang rumit, traumatis dan kelam. Dan yang utama, ia hendak membagikan sejumlah pelajaran dan hikmah hidup. Ia ingin memperkuat jiwa siapapun yang ada di luar sana, yang merasakan persamaan dalam kondisi-kondisi sulit yang ia pernah jalani itu. Menghadapinya tanpa harus mencederai diri atau mengakhiri hidup karena depresi berkepanjangan, atau karena konsumsi obat-obatan. Shania beruntung anaknya semata wayang Eja dan saudara kandungnya Carrie masih bisa menjadi pemberi energi positif nan berlimpah dalam hidupnya. Saat selebriti-selebriti lain tersungkur dalam kubangan kriminalitas, penyalahgunaan narkoba dan miras, serta gaya hidup gila-gilaan yang membangkrutkan diri saat mereka dirundung masalah berat dalam hidup, Shania lain. Dan ia berhasil menunjukkan semangat positifnya kembali dalam hidup. Bukan hal mudah.

Buku ini diklaim memberikan potongan-potongan fakta yang tak pernah terungkap sebelumnya. Termasuk bahwa 42 adalah angka sial bagi Shania. Ibu kandungnya, Sh‎aron Twain, tewas di usia 42 tahun akibat kecelakaan lalu lintas bersama suaminya Jerry Twain yang pemabuk dan abusif. Kepergian Sharon membuat Shania amat terguncang. Kehidupannya sudah keras saat anak-anak dan ditinggal ibu kandung dan ayah angkat di usia yang masih muda membuatnya kembali terhuyung. Shania harus belajar menafkahi diri dan adik-adik angkatnya juga agar tak mati kelaparan dengan satu ketrampilan hidupnya yang paling berharga: menyanyi.

Satu cukilan yang menarik bagi saya yang belum kaya raya atau sukses adalah‎ ini:

I have been on both sides of a few fences in life, and I can tell you with certainty that there is always someone worse off and someone better off no matter what your lot in life. Your fortune or misfortune is relative to whatever surrounds you.” (From This Moment On, page 404)

‎Sebagai seorang manusia, seperti sampul album saya tadi, jiwa Shania ‎pastinya sudah terobek-robek parah. Di masa kecil, kemiskinan dan kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan ayah angkatnya Jerry Twain sungguh membekas. Lalu stres yang diakibatkan tuntutan karirnya sebagai penyanyi juga terus berekskalasi. Dan puncaknya adalah saat Mutt mengkhianatinya bersama sekretaris Shania sendiri. Akibat terkuaknya perselingkuhan itu, Twain merasa sulit untuk mempercayai orang lain lagi. Hingga Fred, mantan suami sang asisten itu menjadi suami barunya.

Menemukan dan membaca buku ini‎ akan memperkaya pengetahuan Anda sebagai penggemar Shania – sebagaimana saya – dalam menikmati karya-karyanya. Saat Anda mendengarkan lagu “From This Moment On” misalnya, Anda akan lebih dapat merasakan kedalaman cinta Sharon pada Jerry yang meski sudah berkali-kali menghajarnya tetap saja mencintai karena Shania sendiri menggubahnya sebagai sebuah lagu cinta untuk orang tuanya. Membaca buku ini membuat Anda lebih memahami unsur yang tidak bisa dipahami dalam cinta mencinta yang rumitnya luar biasa.

Yang Terkurung Tapi Terlindung

Si Cantik (15)

Terus mencoba dan gagal melayang

Berulang-ulang hingga rasanya mau patah arang

Burung-burung yang belum matang

Sayap mereka lemah saat terkembang

Hingga satu saat mereka hendak pasrah

Karena otot terasa lelah melemah

Tak mereka nyana sayap bukannya patah

Malah membuat terbang makin terarah

“Bebas itu di atas!”

Cuit mereka lepas

Enaknya bergerak tanpa alas

Mengepak di lapisan udara dingin dan panas

Ah lihat, itu si Burung Emas!

Sangkar emas tak jua membuatnya lemas

Terkurung tetapi tak tampak murung

Terkungkung tetapi tak tampak linglung

“Aku terlindung!”

Pentingnya Pembiasaan Makan Sehat dari Bayi

AMA_CO_PC_ANDES_PICHINCHA_GASTRONOMÍA_HORNADO_RUEDA_DE_PRENSA_002_(14276406546)Makanan kesukaan disukai bukan karena tanpa alasan. Berdasarkan studi ini, orang yang menyajikannya pertama kali juga menentukan hubungan emosional kita dengan makanan tersebut di kemudian hari. Jika Anda suka atau memiliki hubungan baik dengan orang itu, Anda akan menyukainya. Bila sebaliknya, biasanya Anda akan membenci makanan itu pula.

Temuan itu berimplikasi dalam pemahaman bagaimana faktor-faktor sosial mempengaruhi kecenderungan kita dalam memilih makanan dan pola makan kita sehari-hari.

“Makanan favorit yang membuat kita senang kerap adalah makanan yang diberikan oleh pengasuh kita saat kecil. Selama kita memiliki asosiasi positif mengenai sang penyaji dan pembuat, maka ada kemungkinan Anda akan tertarik menikmati makanan itu lagi di saat Anda merasa kesepian atau sedih,” ujar psikolog Shira Gabriel dari University at Buffalo. Ia menegaskan fenomena itu sebagai “pengkondisian klasik”.

Hasil itu selaras dengan temuan studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa ada jenis makanan yang lebih menarik bagi kita saat merasa kurang bersemangat (jurnal Appetite).

Ia juga menggarisbawahi bahwa makanan memiliki fungsi sosial, terutama menarik kita saat kita merasa kesepian atau sedih.

Makanan yang menjadi pelarian di saat kurang bersemangat itu tidak selalu makanan yang kurang sehat. Sebagian ada yang suka makanan yang lebih sehat, ada yang lebih suka makanan yang kurang sehat.

Inilah pentingnya memberikan makanan sehat bagi anak-anak Anda sejak dini. Karena saat dewasa nanti, makanan yang ia biasa kunyah dan telan sejak kecil akan menjadi pelampiasan dan penyenang baginya di masa-masa kritis dalam hidupnya.

NOT ALL Skinny People Want To Be That Skinny, Apparently

I do know precisely how it feels to be Giuliana Rancic, who recently was accused of being on a crash diet or anorexic just because she is deemed overly thin. She then opted for speaking out about the weight issue.

Rancic (40) knew some people out there were appaled by her “disgustingly skinny” figure. As interviewed by People, she defended her being twiggy as something which is not due to having an eating disorder. It turned out because of her medication taken to get rid of cancer.

“I started noticing that I was eating a lot, but not gaining weight at all,” the TV personality explained. She was diagnosed with  breast cancer in 2011, and has been on the drug since 2012.

She was deeply hurt by the criticism, simply because it was not a deliberate course of action but an unavoidable effect of taking medication for her to survive. “It’s really hurtful,” she said. “I’m sorry that some people think I’m disgustingly skinny, as they put it, but there’s nothing I can do. I’m lucky that I even have the type of cancer that reacts to the medicine.”

Rancic’s oncologist, Dr. Dev Paul, told her the medication can alter metabolism and cause weight loss. The Fashion Police host said she eats “a very robust, healthy, balanced diet,” and confessed it’s hard for her to feel “fit and beautiful and sexy” because she is “really thin.”

Rancic will detail her struggle with cancer and more in upcoming memoir Going Off Script. The book is published by Crown Archetype, and scheduled for release April 7.

Kutipan-kutipan Paling Berbobot dari Novel 1Q84 Karya Haruki Murakami (4)

“I am who I am, no matter who or what I am connected with – or not connected with.” – p 900

“But I found that the longer you teach, the more you feel like a total stranger to yourself.”- p 905

“Once you have achieved something so magnificent, you have to be content with it.”- p 909

“Knowledge and ability were tools, not things to show off.” – P914

“Blood had a frighteningly long memory.” – p919

“Ever since she could remember, she had always hated this thing called God. More precisely, she rejected the people and the system that intervened between her and God. For years she had equated those people and that system with God. Hating them meant hating God. (…) They preached about God’s kindness, but preached twice as much about his wrath and intolerance.” – p928

“Writers have to keep on writing if they want to mature, like caterpillars endlessly chewing on leaves.”- p946

“People need routines. It’s like a theme in music. But it also restricts your thoughts and actions and limits your freedom. It structures your priorities and in some cases distorts your logic.” – p 972

“If you do the same things everyone else does, in the same way, then you’re no professional.” – p 973

“There are lots of things ordinary people can do that I can’t. (…) On the other hand, there are a few things I can do that most other people can’t. And I do these few things very, very well. I’m not expecting applause or for people to shower me with coins. But I do need to show the world what I’m capable of.”- p 1005

“Life might just be an absurd, even crude, chain of events and nothing more.” – p 1048

“‘Your father must have really liked his job. Going around collecting NHK subscription fees.’
‘I don’t think it’s a question of liking or disliking it,” Tengo said.
‘Then what?’
‘It was the one thing he was best at.'” – p 1054

“That was his basic way of thinking. Principles and logic didn’t give birth to reality. Reality came first, and the principles and logic followed.”- p1056

“‘Cold or Not, God Is Present,'”- P1090

“If we die today, we do not have to die tomorrow, so let us look to the best in each other.” – p1091

“Good – that’s what’s most important, he thought. Everyone’s death should be mourned. Even if just for a short time.” – p 1096

“A certain amount of ambition helps a person grow.” – p 1098

“But I never count on luck. That’s how I survived all these years.” – p1100

“It’s very difficult to logically explain the illogical.” – p 1104

“The things she most wanted to tell him would lose their meaning the moment she put them into words.” I p 1106

“I’m the one who decides what’s good and what’s bad – and which way we’re headed. And people had better remember that.” p 1107

“Thinking about time only seemed to slow it down.” – p 1114

“If death brings about any resolution, it’s one that only applies to the deceased.”- p1123

“Sometimes our memory betrays us.” – p 1150

%d bloggers like this: