Earth Hour 2012: Kegelapan yang (Semestinya) Menyatukan

Kegelapan selalu mengasyikkan saat dulu saya masih tinggal di rumah. Aliran listrik yang terputus secara tiba-tiba dan itu biasanya terjadi setelah petang karena cuaca buruk atau keinginan ‘semena-mena’ PLN.

Apa yang menarik dari kegelapan yang datang sekonyong-konyong itu? Semua orang hampir bisa dipastikan sibuk atau menyibukkan diri dengan aktivitas masa modern masing-masing. Termasuk keluarga saya. Ayah dan ibu menonton televisi di kamar. Adik-adik saya, tak peduli apa yang mereka lakukan, berada di kamar masing-masing. Dan saya juga demikian, menghabiskan waktu di malam hari dengan belajar dan mendengarkan musik kesayangan.

Listrik membawa modernitas dalam kehidupan kami. Betul memang, tetapi dalam waktu yang sama, listrik yang mengalir itu juga memutus kedekatan kami sebagai anggota keluarga dalam taraf tertentu. Jarang sekali kami berkumpul bersama di satu ruangan dalam waktu lama, sebenarnya bukan karena kami punya segudang kesibukan. Itu terjadi lebih karena kami merasa harus mengerjakan sesuatu sendirian di ruang masing-masing. Padahal jika dikerjakan di satu ruang dengan anggota keluarga lain pun tidak menjadi masalah besar. Masalahnya ini sudah begitu lazim bagi kami dan tidak ada yang terasa aneh dengan keadaan itu.

Namun begitu kegelapan menyergap kami, semua keluar dari ‘sarang’ masing-masing. Semua berkumpul, entah karena ketakutan atau karena mencari sumber penerangan lainnya untuk tetap bisa melihat.

Suasana menjadi lebih akrab dalam gelap ternyata. Kami membicarakan tentang rumah tetangga yang terlihat terang benderang padahal sebenarnya cuma karena lampu petromaks. Tetangga kami pun keluar peraduan, iseng bertanya memastikan apakah hal serupa juga menimpa rumah tetangganya atau rumah mereka saja. Pertanyaan ini sering menggiring kami untuk mengobrol tanpa topik bahasan tertentu. Kami membahas apa saja yang terlintas dalam benak kami, bertanya tentang apa saja kabar terbaru tetangga kami lainnya. Seperti menggosip memang, tetapi terlepas dari haram tidaknya atau etis tidaknya hal itu, percakapan yang berlangsung dalam cahaya temaram lilin, lampu minyak atau lampu badai yang hanya cukup menerangi dalam radius 1-2 meter itu mendekatkan kami. Kami serasa ‘dilem’ kembali sebagai sekumpulan manusia yang bukan hanya kebetulan tinggal di lokasi fisik yang sama tetapi juga memiliki kedekatan emosional dan psikologis.

Inilah yang saya rindukan. Dan di Jakarta ini, kegelapan yang merekatkan belum pernah saya temui. Bahkan di saat saya merayakan Earth Hour seperti sekarang, tidak ada penghuni rumah kos tempat saya tinggal yang tergerak untuk melakukan hal yang sama dan berkumpul mengobrol tentang hal-hal sehari-hari yang tidak penting tetapi mengakrabkan. Kesulitan ini makin bertambah karena secara alami saya juga tidak termasuk orang yang dengan mudah membuka percakapan dengan orang lain yang tak terlalu dekat.

Adanya genset dan keberlimpahan pasokan energi listrik di sini juga menjadi biang keladi langkanya kegelapan yang mengakrabkan. Yang ada justru kegelapan yang menimbulkan kerawanan rasa aman dan nyaman. Kegelapan di Ibukota lebih identik dengan potensi kejahatan.

Sekarang pukul 21.12 saat saya mengetik tulisan ini. Beberapa ratus meter di hadapan saya sekarang terhampar lansekap urban yang penuh dengan beton. Plaza Mandiri yang berpendar kekuningan di sebelah kanan. Gedung-gedung yang tak saya tahu namanya yang berada di kawasan Sudirman Central Business District, Jakarta Pusat. Menara Mulia dengan puncaknya yang kehijauan. Di sebelah kirinya, ada gedung Direktorat Jenderal Pajak Pusat. Di arah pukul 12, dengan megah dibangun Ciputra World Jakarta dengan mesin crane di kedua menaranya yang hampir mencapai lantai 40. Sementara itu, di arah pukul 10 ada Menara Danamon dengan warna oranye dan kuning yang khas. Hotel J. W. Marriott di dekatnya. Apartemen plus mall Ambassador dan ah, si pencakar langit baru Kuningan City yang masih dalam tahap penyelesaian. Dan masih dua lagi yang saya lihat berada di samping Kuningan City. Sayangnya, semuanya tidak merayakan Jam Bumi.

Menyedihkan…

(Casablanca, Satrio 21:26)

Kumpulan Kisah Nyata: Kantorku Berhantu!!!

Akhirnya, hari Kamis datang juga. Senang sekali rasanya menyongsong akhir minggu di hari Kamis. Memang belum libur, tetapi itulah asyiknya menanti. Menunggu sesuatu yang diharapkan sering lebih asyik daripada saat sedang mengalami atau menghadapi keasyikan itu sendiri.

Malam Jumat, begitulah orang menyebut Kamis malam. Entah mana yang benar. “Malam Jumat” lebih condong ke tradisi Indonesia, sementara “Kamis malam” lebih condong ke tradisi Barat. Tengok saja, pernahkah kita dengar malam muda-mudi berkencan sebagai “night Sunday”? Semua orang menyebutnya “Saturday night.

Saat-saat seperti ini lekat dengan suasana mistis, horor. Ya, saya relatif suka mendengar kisah-kisah seperti itu (catat ya, hanya mendengar). Seru, penuh ketegangan. 

Sejujurnya saya bukan spesialis penulis horor tetapi saya hanya ingin berbagi pengalaman horor di kantor saya.

Tanpa prakata yang terlalu panjang, saya akan ceritakan sedikit kasak kusuk yang saya dengar dari seorang office boy yang bekerja di kantor.

Begini ceritanya (meniru template gaya cerita sebuah acara kisah horor di TV dahulu kala), saya bekerja di kawasan Casablanca. Bila Anda menebak bahwa saya akan bertutur tentang kisah terowongan Casablanca, Anda salah. Yang saya akan ceritakan adalah keadaan kantor saya di sekitar tempat yang kisahnya pernah difilmkan tersebut.

Sebagai seseorang yang menghabiskan berjam-jam di tempat tersebut, saya pribadi belum pernah menyaksikan secara langsung penampakan apapun. Jangan sampai pernah ya! Dan untungnya saya tidak memiliki bakat indra ke enam. Jadi saya lumayan santai.

Meski demikian saya akui pernah merasa aneh atau sedikit berdebar saat berada di sana sendiri.

Suatu ketika saya pernah bekerja hingga lebih dari pukul 8 malam. Keadaan demikian tenang. Suara lalu lintas di jalan pun hampir tak terdengar. Maklum tempat saya bekerja adalah bagian paling belakang. Sebenarnya itu bukan kantor. Cuma sebuah rumah yang dibeli oleh perusahaan untuk dijadikan kantor tambahan. Tata letaknya saja masih seperti rumah biasa sepenuhnya. Ada ruang tidur, balkon, kamar mandi, garasi, dan sebagainya. Tak ada kesan arsitektur khas ruang kantor yang kental.

Petang pun beranjak malam. Tiba-tiba saya terkejut karena terdengar suara kaca seolah ditabrak oleh benda yang saya belum ketahui karena cahaya di luar yang suram. Saya hanya berpikir itu suara burung yang kadang saya lihat suka beterbangan. Saya beberapa kali melihat sendiri burung yang terbang di sekitar kaca pada pagi hari. Dan saya kira karena malam, burung itu tak bisa melihat dan menabrak kaca. Tak terlalu mengganggu. Saya juga tak berpikiran macam-macam. Saya lanjutkan mendengarkan musik via headphone sembari menelusuri dunia maya. Tak ada hal mencurigakan lain terjadi. Aman.

Entah selang berapa lama, saya kembali dikejutkan dengan peristiwa lain. Kali ini, lampu ruangan saya mati!!! Saya panik! Pertama yang terlintas adalah: “Mampus, sekuriti kira tidak ada lagi orang jadi lampu dimatikan dari bawah”. Ternyata memang lampu satu rumah mati jadi saya pikir ini memang dimatikan sekuriti kantor. Tak sempat berkemas, saya buru-buru menuruni tangga dan mencari orang. Dalam hati saya juga takut ini ulah makhluk halus karena saat itu kantor belakang ini sudah demikian sepi. Hanya saya di sana. 
Sprint saya berakhir di sekuriti yang berjaga di tengah, yang masih menyala terang. Alhamdulillah masih lumayan ramai ada yang berjaga. Saya bertanya dengan agak bersungut-sungut, “Tadi siapa ya yang matiin lampu belakang?” Air muka si petugas keamanan yang bingung menyiratkan ketidaktahuannya.

Lalu saya mengadu ada yang mematikan lampu kantor belakang. Akhirnya si petugas menuju TKP. Hmm, lampu dalam keadaan menyala saat kami kembali. Saya tanpa pikir panjang menyuruh si petugas sekuriti menunggu sejenak. Saya naiki anak tangga dengan kecepatan tertinggi yang bisa saya capai dan langsung menyambar barang pribadi di meja kerja dan menjejalkannya ke dalam tas punggung dan segera bergabung dengan si petugas yang setia menunggu di bawah.

Di kesempatan lain, di kantor bagian depan saya pernah mengalami kejadian aneh pula. Saat itu usai jam kerja, hampir semua penghuni kantor sudah pulang. Dan saatnya ‘penghuni’ lain keluar.

Berbeda dari kantor belakang yang desainnya khas rumah, kantor depan ini bentuknya memang dari awal adalah kantor. Ada berbagai ruang meeting besar dan kecil, lobi, dan ruang direksi. Nah, di toilet dekat ruang direksi itulah kejadian aneh menimpa saya.

Seperti biasa saya pulang, mengambil tas dan ke kantor bagian tengah untuk presensi di mesin sidik jari di depan meja sekuriti. Seorang teman dekat masih bekerja di dekat saya, jadi saya tinggal saja. Malas harus keluar melewati pintu samping, saya pun melewati kantor depan.

Saat saya menyusuri koridor menuju ruang direksi itulah, saya melihat atasan saya di toilet wanita. Rambutnya khas, jadi tak mungkin saya salah. Bergelombang sedemikian rupa karena teknik penataan rambut yang saya pun tak ketahui namanya. Berponi dengan bentuk tiada duanya di kantor. Mukanya juga kuning cerah, tipikal orang Cina. Ia memang warga negara negeri itu.

Saat itu ia tampak sedang mematut diri di depan cermin besar nan lebar di kamar kecil. Pintu toilet memang agak terbuka lebar jadi bukannya saya mengintip!

Begitu cemasnya saya terhadap keterjebakan dalam pembicaraan yang kikuk dan aneh serta basa-basi, saya pun melangkahkan kaki lebih gesit.

Tak ada perasaan takut karena saya belum mengetahui apa yang terjadi.

Esoknya, saya iseng mengawali chat di Google Talk dengan teman yang semalam saya tinggalkan pulang lebih dulu. Saya bercanda bahwa saya menemui sesuatu yang mengejutkan tadi malam di toilet wanita di kantor depan. Saya berkata telah melihat atasan kami merias diri di toilet.

Sejurus kemudian nada pembicaraan berubah serius dan sedikit khidmat setelah teman saya itu berkata ia yakin atasan kami masih di ruangannya setelah saya meninggalkan meja malam itu. Saya yakin itu dia dan saya berusaha mematahkan argumennya, berharap ia salah atau ragu. Namun ia tetap bersikeras dengan jawabannya. Dan teman saya ini tidak terbiasa bercanda berlebihan. Jadi cukup mudah mengetahui apakah ia serius atau hanya membuat lelucon. Dan ia tetap tak bergeming. Ok, jadi siapa yang sebenarnya saya lihat di toilet ituuu???

Kesaksian sang dokter
Dulu sekitar akhir 2010 dan awal tahun 2011, kantor kami sering dikunjungi oleh seorang dokter perempuan, sebut saja dr. M. Rupanya dia berkantor sementara di kantor belakang kami yang tercinta ini karena harus bertugas merancang proyek sebuah rumah sakit pertama yang dimiliki oleh kelompok bisnis sang pendiri perusahaan. Ratusan rapat akan ia lakukan di awal masa baktinya jadi akan lebih efisien jika ia berkantor di tempat yang sama dengan para direksi dan si empunya perusahaan.

Singkat cerita. Dr. M dan saya akhirnya akrab karena kami berdua sering bertemu di kantor pada jam-jam yang tergolong sangat pagi. Saat itu saya suka sekali datang sekitar. pukul 6 atau 6.30. Alasan saya datang pagi ialah karena saya bisa lebih leluasa makan bekal saya yang serba sehat di kantor yang masih sepi tanpa dicibir teman. Sementara alasan dr. M datang pagi-pagi buta ialah karena ia harus ikut suaminya yang bekerja di Pertamina Jakpus sehingga biaya transportasi bisa ditekan.

Berawal dari keakraban sarapan pagi di pantry kantor di pagi hari itu, akhirnya dr. M mengeluarkan uneg-unegnya juga. Ia sebenarnya selalu menunggu orang lain untuk masuk ke kantor belakang selama ini. Usut punya usut, dokter beranak 3 ini bisa melihat penampakan ‘penghuni’ kantor belakang ini. Katanya ada makhluk halus berujud wanita, anak-anak kecil yang suka menampakkan diri di kantor belakang. Kadang ia mengandalkan office boy Wahyu yang suka bekerja sendirian di belakang. Namun sayang seribu sayang, si Wahyu bisa mondar mandir untuk bekerja dan meninggalkannya sendirian di sana. Akhirnya ia tak lagi mengandalkan Wahyu, tapi saya! Bahkan si dokter tak sungkan menunggu saya di meja sekuriti dan masuk kantor belakang jika saya sudah masuk juga. Di satu hari ia juga pernah menelpon saya malam dan pagi hari karena ingin meyakinkan saya tak akan datang terlambat besoknya!!!

Kesaksian si office boy
Ini baru saja saya dengar tadi petang. Saat saya hendak pulang saya bertemu dengan office boy baru pengganti Wahyu (yang mungkin juga undur diri karena ketakutan). Si office boy baru ini mengatakan ia gembira karena mendapati saya masuk kantor pukul 7 tadi pagi.

Saya pun curiga. Benar saja, ia pun bercerita sudah dua kali ini melihat penampakan wanita berbaju putih dan berambut panjng dengan muka tertunduk sedang duduk santai di sebuah papan partisi. Papan partisi ini demikian tipisnya sampai-sampai bisa tertiup hembusan udara sejuk pendingin ruangan (AC).

Kalau Anda pikir, ia menemukan wanita itu di petang atau malam hari, Anda salah. Kata si office boy, ia masuk pagi hari. Pukul 5.30 tepatnya.

Di lantai dua tempat saya bekerja, ada sebuah toilet dan tepat di sebelah pintu toilet ditempatkan partisi papan tipis tadi. Partisi ini memang aneh, bahkan bagi saya yang tak terlalu peka dengan dunia gaib. Ia suka bergerak layaknya tertiup angin sendiri padahal tak ada celah untuk angin bisa masuk ke ruangan. Mungkin hembusan angin AC di atasnya. Bisa jadi tetapi mengapa tidak terus menerus terjadi selama AC menyala? Partisi itu hanya bergoyang dan berdecit sendiri di waktu-waktu tertentu saja. Jadi ini amat aneh. Saya pernah juga menyaksikannya berdecit sendiri , saya menengok mencari penyebab mengapa bisa berdecit dan bergoyang sendiri. Sungguh saya tak berpikir jauh sampai ke sana. Baru setelah saya mendengar cerita office boy ini, saya berpikir. Mungkin juga berdecit karena dinaiki si wanita itu. Ahhhhh!!!

Repotnya punya kantor berhantu…

10 Alasan Dukung Pangan Lokal Indonesia (2-Habis)

Bahasa Indonesia: Soto Kudus dan nasi 日本語: ソトク...
Bahasa Indonesia: Soto Kudus dan nasi 日本語: ソトクドゥス(チキンスープ) (Photo credit: Wikipedia)

Setelah bagian pertama yang membahas 5 alasan memilih bahan pangan asli Indonesia sekarang waktunya bagi Anda untuk mengetahui 5 alasan lainnya yang tak kalah pentingnya pula.

6. Menjaga keanekaragaman hayati dan pengetahuan lokal

7. Mengurangi asupan zat kimia berbahaya

Zat kimia yang dimaksud bisa berbentuk pestisida, pengawet, dan sumber pangan yang sudah direkayasa secara genetic  yang memiliki potensi membahayakan kesehatan dan lingkungan hidup kita.

8. Tahu sumber dan asal makanan, sehingga bisa mendorong produksi yang sehat dan ramah lingkungan. Produsen pangan lokal skala kecil dapat mengelola lahan mereka dengan lestari untuk menghasilkan pangan sehat bagi konsumennya.

9. Menghemat pengeluaran negara untuk impor pangan. Hingga semester pertama 2011, uang yag dihabiskan untuk pengadaan bahan pangan dari luar negeri mencapai nilai Rp 45 triliun! Dan setengahnya hanya untuk mengimpor gandum yang biasa kita makan dalam bentuk roti, mie instan!

10.Menjalin kembali hubungan antara penghasil pangan di desa dengan konsumennya di kota, sebagai satu bangsa yang saling menghidupi.

Pada kenyataannya 10 alasan ini hanya sebagian alasan yang bisa dikemukakan untuk mengajak kita semua orang Indonesia untuk kembali mencintai hasil bumi dan laut sendiri. Karena umat manusia kini sadar atau tidak makin dekat dengan bahaya krisis pangan. Penduduk dunia makin banyak. Lahan pertanian makin sedikit, dan laut makin tercemar. Di saat yang sama, harga pangan terus naik karena lahan yang menyempit dan makin banyaknya mulut yang harus diberi makan. Belum lagi dampak perubahan iklim yang membuat alam tidak bisa ditebak sebagai penyedia pangan secara berkelanjutan.

 

Kenyataan lainnya yang cukup menyedihkan ialah bagaimana kita terperangkap  dalam 2 jenis makanan utama: nasi dan terigu. Saya selalu ‘dimarahi’ ibu karena tidak selalu makan nasi. Dan tak peduli sekenyang apapun, kalau belum makan nasi, saya dianggap belum makan.

Beras memang dapat dihasilkan oleh para petani domestik tetapi patut diketahui bahwa lahan pertanian kita makin menyusut akibat meningkatnya permintaan dan kebutuhan terhadap hunian yang layak.  Di sisi lain, tingkat konsumsi meninggi.

Sementara itu gandum yang merupakan bahan baku terigu tidak tumbuh di negeri ini. Gandum yang kita makan adalah bahan pangan impor. Sialnya, masyarakat kita tidak tahu dan tidak peduli tentang ini dan tetap mengkonsumsi  semua makanan berbahan dasar gandum. Ketergantungan kita terhadap gandum makin tinggi, dan ketergantungan itu sebenarnya bisa dicegah dan diatasi. Solusinya? Ya jangan dibiasakan makan makanan berbahan gandum sebagai bagian menu sehari-hari. Cukup kita makan sesekali. Jadi jangan sampai dianggap sebagai makanan pokok. Karena saat kita menganggap gandum sebagai makanan pokok, kemandirian pangan kita sebagai bangsa otomatis sudah sirna.

Saat impor dilakukan, produk yang dihasilkan produsen pangan lokal juga terpukul. Konsumen gandum yang secara sadar makan gandum terus menerus sebagai makanan pokok secara langsung atau tidak langsung telah memukul saudaranya sendiri yang menggantungkan kehidupan mereka dari penjualan bahan pangan lokal. Ini mencemaskan!

Kerugian lainnya ialah bagaimana impor bahan pangan berdampak pada perkembangan potensi pangan lokal kita. Karena terlalu sibuk mengimpor dan menghabiskan dana untuk itu, kita menjadi lalai untuk merawat warisan tanah air kita sendiri. Potensi pangan Indonesia amat banyak. Tak hanya beras saja yang bisa kita makan sebagai makanan pokok bukan? Ada banyak umbi-umbian dan sumber pangan nabati lokal lainnya yang sebetulnya sudah banyak dikenal tetapi mulai ditinggalkan karena dianggap udik, kurang relevan dengan cita rasa modern.

Nah, setelah ini apakah Anda juga mau memperbanyak konsumsi pangan lokal? Bahan pangan lokal apa yang membuat Anda ‘ketagihan’ dan pantas untuk diangkat ke khalayak yang lebih luas?

 

 

10 Alasan Dukung Pangan Lokal Indonesia (1)


Dalam acara Festival Desa di Bumi Perkemahan Ragunan yang saya hadiri bersama dengan teman-teman Social Yoga Club hari Minggu kemarin (25/3),sekali lagi saya temukan banyak alasan mengapa penduduk kota harus lebih berterima kasih pada saudara setanah air mereka di perdesaan. Tanpa kesediaan mereka yang di desa-desa untuk bercocok tanam, mana mungkin kita yang berada di kota bisa makan hingga kenyang? Jadi saya pikir sungguh tidak pada tempatnya untuk meremehkan peran mereka yang bertani di perdesaan. Petani seperti profesi lain juga memiliki kedudukan dan perannya sendiri dalam kehidupan bangsa. Dan mengutip ucapan Bung Karno, urusan pangan adalah urusan hidup mati suatu bangsa.

Dengan begitu banyaknya impor pangan yang dilakukan pemerintah sekarang, jelas kita menyadari ada sesuatu yang salah dan harus diperbaiki dalam tatanan kehidupan kita. Ada apa dengan Indonesia? Bukankah kita begitu kaya? Iklim kita cuma mengenal 2 musim sehingga kita bisa panen sepanjang tahun. Lautan kita juga luas sehingga kita tak perlu impor garam. Umbi-umbian juga banyak sehingga kita tak perlu makan gandum luar negeri atau beras Vietnam dan Thailand melulu.

Sekali lagi, hampir mustahil untuk mengubah pola kebijakan pemerintah yang sepragmatis sekarang. Saya sebagai bagian dari akar rumput pun sudah apatis sebenarnya dengan pemerintah sekarang.

Namun toh tak ada alasan berputus asa. Mari mulai sadarkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita mengenai pentingnya memilih bahan pangan setempat dibanding bahan pangan mancanegara.

1. Indonesia kaya rasa, aroma dan nutrisi

Setidaknya ada 77 sumber karbohidrat, 75 sumber lemak, 26 kacang-kacangan; 389 buah-buahan dan 232 sayuran yang bisa dijadikan pilihan menu sehat kita.

2. Jaga kesehatan, kombinasikan karbohidrat, jangan cuma beras

Konsumsi beras (terutama beras putih) dan gula yang tinggi di masyarakat Indonesia membuat angka penderita diabetes tipe 2 makin meningkat.

3. Makanan lebih segar dan bergizi
Produk impor dipanen dan ditangkap lebih lama. Untuk menjaganya tetap segar, penggunaan bahan kimiawi seperti lilin dan pestisida pun tak bisa dihindari. Ongkos kesehatan jangka pendek dan panjang perlu diperhatikan.

4. Mengurangi jejak emisi karbon
Membeli bahan pangan lokal lebih bijak dalam aspek lingkungan hidup. Energi yang digunakan untuk mengangkut dan menyajikan makanan impor yang sedemikian mahal bisa dialokasikan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

5. Mendukung ekonomi lokal
Belanja pangan lokal tingkatkan penghidupan saudara-saudara kita yang membanting tulang mencari nafkah sebagai produsen pangan.

(Bersambung)

Pinterest Improved Its Terms of Service

Pinterest
Pinterest (Photo credit: stevegarfield)

I have to admit, I’ve so far never used Pinterest very often. But yesterday, I got this email from Ben Silberman’s team, it said:

Over the last few weeks, we’ve been working on an update to our Terms. When we first launched Pinterest, we used a standard set of Terms. We think that the updated Terms of ServiceAcceptable Use Policy, andPrivacy Policy are easier to understand and better reflect the direction our company is headed in the future. We’d encourage you to read these changes in their entirety, but we thought there were a few changes worth noting.

  • Our original Terms stated that by posting content to Pinterest you grant Pinterest the right for to sell your content. Selling content was never our intention and we removed this from our updated Terms.
  • We updated our Acceptable Use Policy and we will not allow pins that explicitly encourage self-harm or self-abuse.
  • We released simpler tools for anyone to report alleged copyright or trademark infringements.
  • Finally, we added language that will pave the way for new features such as a Pinterest API and Private Pinboards.

We think these changes are important and we encourage you to review the new documents here. These terms will go into effect for all users on April 6, 2012.

Like everything at Pinterest, these updates are a work in progress that we will continue to improve upon. We’re working hard to make Pinterest the best place for you to find inspiration from people who share your interest. We’ve gotten a lot of help from our community as we’ve crafted these Terms.

Thanks!

Ben & the Pinterest Team

 

And the email speaks for itself.

Earth Hour 2012: Energy Saving is More of Ethics than Anything Else

WWF 'Power the Future'
WWF 'Power the Future' (Photo credit: WWF@COP17)

Earth Hour is a ‘shallow’ movement. I’m not saying it’s not effective enough to raise public awareness of the importance of energy saving but turning off all electric household appliances in an hour once a year shoud NOT suffice to be deemed as the greatest achievement of human race.

It should be held more often, I guess. That way, there’ll be more and more people who learn, the less hard way, that generating energy is costly. It sucks anything. Your monthly budget, your savings, your ethical acuity as a responsible citizen of the planet.

As for me, I live in Jakarta, a city that might be one of the most energy consuming major cities on earth. I’ve seen  a great deal of ignorance on energy saving around the town. Sometimes, for instance, I forget to unplug that phone charger (an ignorant habit that wastes energy in a little amount at a steady pace). I’ve seen some of my mates in the house I’m staying left rooms without even switching off their TVs, fans, lights, etc. And one seemingly trivial horrible habit that I can’t stand is how nonchalant they seem after leaving the bathrooms with lights still on.

I’ve had it enough. I want change. I demand change. And switching off things that suck up electricity when not in use on a regular basis should be made compulsory. Sadly so far, I’ve seen no noticable improvement in terms of the city’s people behavior and attitude. Jakarta is the place where everything is supplied in abundance, especially energy. I even doubt there’s part of regulation that determines how much is too much when it comes to energy consumption. People never think electricity and energy in general is expensive to generate. They pay cheap and think it’s and will stay cheap all the time, regardless of any global change. People get spoiled, and that has got to stop!

Raising prices of fossil fuel seems to be a stupid kind of decision to be made by our government. But in terms of energy saving, that TO ME makes a consistent , natural reminder of how costly energy has become these days as the world population number is soaring high. And I like keeping it that way, apart from other points of view.

Six more days to go!

This year, Earth Hour (the 4th earth hour) involves various parties such as communities, corporates and government all over the globe. Jakarta is no exception. People living in Jakarta in particular (and any towns in Indonesia) is expected to take part in the global campaign by switching off all of their lights and electrical appliances  on next Saturday, March 31, 2012. This, as usual, will apply from 20.30 to 21.30 (local time).

That said, Jakarta local government is said to be committed to switching off the lights in its 5 city icons, lights on main highways and the local government owned billboards on next Saturday. WWF Indonesia CEO Dr. Efransjah commented Jakarta is supposed to set a real example as well as one of the pioneering youths movements in cities all over the world. Targetting only 7 cities in the beginning, WWF managed to gather support from as many as 26 cities in the archipelago.

How to get involved 

This is what you can do to participate and show awareness throughout the nation.

1. Register your participation on www.wwf.or.id/earthhour.

2. Spread the information about the Earth Hour campaign throughout your networks, online and offline.

3. Make sure you’re switching off all your electric appliances and lights on the specified time.

Several links related to Earth Hour 2012:

Photos and sketches: http://www.flickr.com/photos/earthhour2011indo/
Videos:  http://www.youtube.com/user/EarthHour2011Indo
News:  http://www.earthhour.wwf.or.id/news.php
Blog:  http://www.earthhour.wwf.or.id/article.php

Online campaign related to Earth Hour 2012:

a. Facebook fanpage: http://www.facebook.com/EHIndonesia

b. Twitter: follow @EHIndonesia and use its hashtag #earthhour and #IniAksiku

c. Write your experience as you take part in the movement on http://www.wwf.or.id/earthhour/blog
d. Send photos and videos to earthhourindonesia@gmail.com

WWF Indonesia also works in cooperation with SalingSilang.com to compile its social media campaign on www.twiticker.com/t/wwf.

Media Contact Persons:
Verena Puspawardani, Coordinator of Campaign, email: vpuspawardani@wwf.or.id, Cell phone: +62-813 982 72 690,
Shintya Kurniawan, Media Relations, Divisi Marketing & Communications, email: skurniawan@wwf.or.id, Cell phone: +62-818 062 01160

Speakers/ People in Charge:
Nyoman Iswarayoga, Director of Program of Climate and Energy at WWF-Indonesia, email: niswarayoga@wwf.or.id, Cell phone: +62-811 128 4868
Rini Astuti, Coordinator of Climate and Energy Program Policies, email: rastuti@wwf.or.id; Cell phone: +62-821 10992004

Alain Robert to Climb Bakrie Tower, Kuningan

Bakrie Tower, the tall dark and 'handsome' that lurked Alain Robert the Spiderman into climbing without any safety rope attached.

So yesterday my parents were here in Jakarta. I thought it was cool to bring them to several landmarks of the capital. And one of the nearest skyscrapers in the neighborhood to show them is of course Bakrie Tower. It actually took us only 15 minutes to get there by foot but they demanded to take taxi. The weather was unagreeably hot, as humid as hell.

While on our way to Rasuna Epicentrum, my mother kept staring at the top of the tower, wondering how it was built from the very scratch. I wouldn’t. I admired, enjoyed but hardly ever wondered how it was made. My brain doesn’t work the way an architect’s does, anyway. So why bother?

Bakrie Tower really deserved the attention. Its architecture is absolutely amazing and worth praise.  The dark glass and silverish metal frames with slightly curvy stand sets Bakrie Tower apart from its fellow skyscrapers.

But as recent as this morning, I’ve found out on Twitter and Facebook that Alain Robert , the well-known French Spiderman, just finished climbing the building a few hours ago. He started to climb around 10.30 and got to the top of the skyscraper around 13.10, according to Kompas.com.

As an acrophobic, I’d say this very guy is awesome. I dread height, and do whatever it takes to stay away from it. Besides, I don’t know why but his climbing was followed by a torrential downpour in Kuningan in the afternoon today! I swear it has been the hottest week in Jakarta and along came Alain and climbed and down poured the rain. He should climb more in Africa, maybe the drought will be less frequent there.

It was said that Robert did it WITH safety rope attached on his body, which is quite extraordinarily disappointing because he reportedly always climbs high rises without any.

I initially thought ANTV got the ‘madness’ covered because as we all know the Epicentrum area is their base. It turned out they invited Robert to climb to create buzz about their 19th celebration.  Corporate Communications General Manager of ANTV, Zoraya Perucha, stated that as quoted by Kompas.com this morning.

 

 

Lokakarya Regional IATIS Diadakan Maret 2013

Bahasa Indonesia: Universitas Negeri Semarang ...
Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah Indonesia (Photo credit: Wikipedia)

The International Association for Translation and Intercultural Studies (IATIS) akan menggelar lokakarya regional pertamanya di kota Semarang, Jawa Tengah. Acara ini akan diselenggarakan tanggal 25 hingga 27 Maret 2013 mendatang.

Dengan waktu yang panjang ini, panitia penyelenggaraan lokakarya dari Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengundang para akademisi untuk mengirimkan makalahnya untuk dibahas selama sesi paralel (20 menit presentasi dan 10 menit tanya jawab).

Tujuan lokakarya ialah untuk mengeratkan hubungan antara para akademisi yang bergelut dalam bidang penerjemahan dan studi antarbudaya di wilayah Asia Pasifik dan sekitarnya.

Tema lokakarya yaitu  “Translation and Cultural Identity” yang dibagi menjadi subtema sebagai berikut:

  • Penerjemahan dan masalah-masalah multibudaya dan multibahasa
  • Pemeliharaan, pembentukan dan memberi tantangan pada jati diri setempat/ nasional dalam penerjemahan
  • Kebijakan pemerintah dan dampaknya pada hasil penerjemahan
  • Masalah-masalah keberterimaan terjemahan antara bahasa-bahasa yang memiliki perbedaan budaya
  • Penerjemahan budaya populer dan dampak enkulturasinya
  • Penerjemahan dalam dunia maya dan tantangannya terhadap jati diri budaya

Untuk yang ingin berpartisipasi, diharapkan mengirimkan abstraksi sekitar 300 kata ke alamat surel: iatis_indonesia@yahoo.com paling lambat 15 Juni 2012. Makalah yang lolos akan diumumkan pada 28 September 2012.

P.S. : Informasi lebih lanjut bisa diketahui dengan menghubungi Issy Yuliasri di alamat surel: issyuliasri@yahoo.com. Sekretariat lokakarya berada di Gedung B3, UNNES, Kampus Sekaran, Gunungpati Semarang 50229, Indonesia dengan nomor telepon dan faksimile +62 (24) 8508071.

Idiom: Titik Lemah Penerjemah (2-Habis)

Mengenali idiom dalam teks bisa dilakukan dengan berdasarkan pada 5 jenis pola berikut ini.

Pasangan kata
Dalam pola ini, idiom terdiri dari pasangan kata yang terhubung oleh “and” (dan). Urutan kata pasangan kata ini tak bisa diubah.
Misal, “The facts were all there in black and white”. Maksud “black and white” ini ialah bentuk cetak dan sudah dinyatakan secara jelas dan resmi.

Simile
Sebagian idiom termasuk simile.Simile ialah frase kata sifat yang menggunakan “as” (bak) dan “like” (seperti). Misalnya:
Riding a bike is as easy as pie. (Naik sepeda itu sangat mudah)

Peribahasa
Banyak peribahasa yang berupa satu kalimat penuh tetapi sering hanya bagian dari peribahasa itu yang digunakan karena si pendengar sudah mengetahui apa yang akan menyusul.
Misalnya: Too many cooks (spoil the broth).
Artinya jika terlalu banyak orang mengerjakan sesuatu bersamaan, hasilnya akan kurang baik.

Tindakan metaforis yang mewakili perasaan atau jenis perilaku
Sejumlah idiom menggambarkan tindakan imajiner yang mewakilkan perasaan atau jenis perilaku, contohnya “Her family looked down their noses at anyone who hadn’t been to university” (berperilaku seolah mereka yang tak pernah mengenyam kuliah sebagai orang yang tidak pantas bergaul bersama mereka).

Verba frase
Phrasal verbs atau verba frase menggunakan kombinasi idiomatis kata kerja atau verba dengan kata ‘up’, ‘out’, ‘down’, dan sebagainya.
Misalnya: Just tell him to chill out! (Chill out: santai dan tenang).

(Referensi: Longman Dictionary of Contemporary English)

Guru Yoga dan Letting Go

Saya baru saja menghadiri sebuah sessi diskusi spiritual di temapt kami biasa membuat meditasi bulan purnama (full moon meditation). Dan saya teringat tentang Hari Guru yang jatuh dua hari lalu. Ya, setiap tanggal 25 November, di Indonesia diperingati sebagai hari guru. Guru adalah orang yang telah memberi penerangan batin menuju jalan kebahagiaan. Dalam bahasa gaul di kalanngan pejalan spiritual disebut orang yang dapat mencerahkan kita. Lewat ilmu dan pengetahuan yang diajarkan, guru telah membawa kemajuan dan kemoderenan bagi dunia secara signifikan yang dapat kita rasakan manfaatnya sampai sekarang ini, termasuk juga dalam bidang agama, yoga dan atau dunia spiritual secara lebih luas.

 

Bagi praktisi yoga, penghormatan pada guru sangat lazim sekali. Pada beberapa – style – atau tradisi yoga, setiap kali akan memulai latihan, mereka membacakan invocation atau semacam mantra yang merupakan salam hormat pada sosok guru atau junjungan yang sangat berarti bagi eksistensi – style – yoga tersebut di dunia kontemporer sekarang ini.

 

Hubungan guru dan murid adalah sangat khas milik pribadi masing-masing. Garis penghubung ikatan itu adalah ilmu pengetahuan (knowledge). Tidak sedikit ajaran sang guru telah dapat mempengaruhi jalan hidup murid-murid di kemudian hari.

 

Walaupun ajaran sang guru terhormat terus dipraktikkan dan dikajiulang serta dikembangkan, tentu saja ilmu yang telah guru ajarkan sifatnya telah menjadi masa lalu. Apa yang sudah lewat, baik yang menyangkut diri kita sebagai individu, entah diri kita sebagai anggota suatu kelompok (agama, suku, bangsa) atau style dalam yoga, semua itu bermanfaat untuk memberi suatu identitas. Kita manusia, sebagai mahluk sosial biasanya membutuhkan identitas – yang dengan itu

ia mengenali dirinya, dan melihat dirinya di dalam masyarakat, dan juga di dalam sejarah. Manusia tidak sanggup tanpa sesuatu yang memberi makna pada eksistensinya.Karena itu mungkin perlu ada Paspor, KTP, atau E-KTP

 

Untuk hidup di masyarakat, mungkin semua itu ada artinya dan perlu. Namun jika dilihat dari perspektif yang lebih luas dan lebih dalam, dari perspektif kemerdekaan atau pembebasan batin (samadhi, liberation) semua itu tidak ada artinya, karena tidak kekal, bahkan malah akan memperkuat “aku” atau ego, sekalipun secara pasif. Selama “si aku” memiliki identitas yang dipertahankannya, seberapapun “baik”nya, selama itu ia tidak akan pernah bebas. Karena itu, kita perlu mendemistifikasi peran guru-guru spiritual, termasuk guru yoga. Bahwa guru yoga yang jadi junjungan kita hebat, that’s it, ya sudah, dia juga manusia. Akan repot kalau kita terus-menerus mengidentikkan diri kita dengan sang guru. Tidak oke juga kalau kita ikuti apa kata guru, sampai titik koma, ytermasuk cara berpakaian, termasuk cara ngajar, termasuk sikap-sikap yang harus tegas keras seperti militer, termasuk cara makan sehari-hari. Kita perlu bertanya terus akan emansipasi kita sendiri, karena kita sendirilah yang menentukan diri kita. Jika kita terus bergantung pada guru, seperti orang dewasa gagah berjalan dengan tongkat. Sebagai ilustrasi, coba Anda pegang gelas dengan air yang siap Anda minum. Mungkin beratnya hanya 100 gram. Tapi coba pegang terus sedikit lebih lama, let’s say dua – tiga menit saja dengan gengganman kuat, tentunya akan terasa sangat berat, bukan? Inilah saya mecoba memberi makna pada kata-kata atau mantra para manusia new age yang sudah seperti basi: “Letting Go”.

 

Gejala sekarang ini, ketika kelompok-kelompok agama, dan juga  kelompok spiritua, termasuk di dunia peryogaan, semakin menonjolkan identitasnya, kecenderungan untuk mengkultuskan guru atau attachment pada tokoh junjungan kelompok, pada style yoga menjadi tak tepermanai, menjadi berlebihan, bahkan kepatuhan pada guru kadang melebihi ketakutan pada Tuhan-nya sendiri. Bahkan tidak jarang para “agen tunggal pemegang merek”  style yoga itu tidak akur, bermusuhan. Padahal, seperti kata Sartre, tokoh filsafat eksistensialis Perancis: “We are cendemned to be free”. Saat inilah kita perlu “membunuh” tokoh atau “guru” spiritual. Guru terbaik adalah yang memberi inspirasi dan kebebasan pada muridnya untuk menemukan jalannya sendiri pada kebebebasannya sendiri. Guru terbaik adalah yang merelakan muridnya melampaui dirinya. Guru adalah hanya fasilitator. Kebenaran adalah jalan tak bertuan dan tak berumah. Kita adalah “Tuhan” itu sendiri. Kita adalah guru bagi diri kita sendiri.

 

 

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga

Memahami Demam Yoga di Jakarta

Oleh: Yudhi Widdyantoro *

 

Lima tahun terakhir kegandrungan orang Jakarta untuk beryoga menunjukkan grafik yang meningkat. Kalau mau dirunut, perhatian orang pada yoga sudah mulai terlihat ketika krisis ekonomi nasional pada akhir 90-an yang juga berdampak pada sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan. Sakit menjadi sangat mahal. Orang pun mulai berpaling pada sehat alami, antara lain dengan beryoga.

 

Kondisi ini dipupuk oleh para mahasiswa Indonesia di luar negeri, khususnya AS, yang sudah merasakan manfaat yoga dan “menularkannya” ke tanah air. Banyak pula orang Indonesia yang cukupngeh dan terbuka pada perkembangan gaya hidup mondial, turut menjadi amunisi bagi ledakan yoga di kota-kota besar Indonesia. Belum lagi riuhnya publikasi di media soal para pesohor Hollywood berlatih yoga. Sebut saja Madonna, Cyndy Crowford, Sarah Jessica Parker, Britney Spears, sampai Sting sebagai trendsetter beryoga. Di Indonesia, polanya mirip-mirip. Para pesohor Indonesia, selebriti, dan golongan menengah atas, adalah orang-orang yang sangat peduli pada citra diri atau image. Dengan perjuangan ekstra keras, mereka berusaha untuk mendapatkan tubuh permai dan penampilan yang aduhai, termasuk ramai-ramai berlatih yoga. Dan, demam yoga pun menular.

 

Hingga kini, banyak terdapat yoga center dengan beragam konsep ‘jualan’ pula. Dari asongan sampai hypermarket. Ada yang menjual hanya satu ‘dagangan’ saja (yaitu yoga), ada yang bermacam-macam ‘komoditi’, yaitu memfasilitasi beragam aliran atau style yoga. Ada juga yang mengkhususkan mengajar satu style dengan ketat memegang tradisi, lebih mirip seperti agen tunggal pemegang merek (ATPM). Di tempat lain lagi, yoga bisa menjadi sangat compact, dimodifikasi dengan olah fisik lain dengan iringan musik yang dinamis.

 

Yoga yang menentramkan

 

Menarik juga mengamati setiap center menjalankan kegiatannya. Tapi, karena ada juga persaingan yang cenderung mengarah menjadi urusan pribadi, penulis sebagai pecinta dan praktisi yoga, menyayangkan hal ini.

Mungkin juga karena secara kelembagaan belum ada aliansi atau asosiasi yang mewadahi yoga dari berbagai tradisi atau style di Jakarta, seperti yang dilakukan di negara maju. Gairah orang Amerika untuk beryoga memang telah melampaui kebutuhan exercise atau kesehatan fisik. Yoga sudah menjadi gaya hidup. Asosiasi yoga dari berbagai tradisi: Iyengar, Ashtanga, dan sebagainya dibentuk di hampir setiap negara bagian. Ada pula International Yoga Alliance (IYA). Mereka membuat standar sampai kurikulum penyelenggaraan teacher training. Harus diakui, bahwa dalam membuat sistematika, mengemas dan kemudian ‘memasarkannya’, orang Amerika sangat piawai.

 

Memang, pendidikan yoga berhubungan erat dengan pengembangan kepribadian manusia dan menyangkut unsur spiritualitas. Karenanya tidak dapat disamakan dengan produk massal mesin pabrikan. Menilik fakta bahwa profesi pengajar yoga sudah menjadi semacam karier, mungkin perlu juga dipikirkan penjenjangan kepengajaran di sini.

Dan, karena menyangkut wilayah bisnis, perlu ada semacam komisi pengawas persaingan usaha, agar tidak saling sengketa. Pada titik ini, yoga tampaknya perlu dibuat sekuler. Perlu juga mendemistifikasi kehebatan guru, karena sehebat-hebatnya guru dia juga manusia. Bagi penulis, secara pribadi, mungkin diperlukan sikap yang humble, kerendahan hati. Apalagi selama ini merasa, materi yang diajarkan ke kelas hanyalah hasil daur ulang atau mengcopy dari guru-guru yang lebih senior. Jadi persis seperti mengikuti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, atau seperti dikatakan BKS. Iyengar (Light on Yoga, 1966): “Gentleness of mind is an attribute of a yogi”, karena “power without humility breeds arrogance and tyranny.”

 

 

* Pengecer jasa Yoga

YOGA RETREAT 28-29 APRIL DI YOGYA

Setelah beberapa waktu lalu dilaksanakan yoga retreat di Jambuluwuk Bogor, kini kesempatan bagi Anda yang bertempat tinggal di Yogyakarta dan sekitarnya untuk menikmatinya.
Weekend getaway bertajuk Yoga Retreat akan diselenggarakan bersama Yudhi Widdyantoro, dan akan diramaikan juga dengan praktik masak sehat “yogi food” dan kue dari bahan-bahan alami dan segar bersama Wied Harry.

Retreat ini akan dilaksanakan tanggal 28 hingga 29 April 2012 (2 hari 1 malam) di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta.

Acaranya yakni beryoga bersama, meditasi, silent walk, belajar dan praktik memasak sehat dan lezat (yogi foods) bersama-sama.

Adapun biaya retreat untuk tiap peserta ialah Rp. 850.000 (untuk anggota Balance Mind Body Soul Yogya) dan Rp. 1.050.000 (untuk selain anggota).

Pendaftaran bisa dilakukan dengan menghubungi sdr. Vina di nomor 085729970007 atau 0274.566717. Info lengkap di http://www.balanceyogajogja.com atau Twitter @balanceyogainfo.

%d bloggers like this: