Pandemic Diary: Vaksinasi Kok Kayak Gini (Lagi)?

Mengular tanpa antisipasi buat pengantre yang lemah fisiknya

PAGI TADI saya kembali menjalankan perintah negara untuk menerima vaksin dosis kedua. Sinovac jenisnya. Nggak begitu masalah sih mau jenis apapun juga meski konon vaksin keluaran China ini nggak diterima oleh negara-negara Eropa. Tapi siapa juga yang mau plesir ke Eropah hari ginih?

Cuaca cerah, tapi inilah yang malah jadi masalah. Karena ya Allah ya Rabb, intensitas sinar matahari itu bikin nggak cuma gerah tapi juga sampai mau pingsan di tempat. Terutama bagi emak-emak yang seringnya cuma duduk-duduk di rumah selama ini. Bukannya melecehkan emak-emak ya tapi di sini saya jumpai emak-emak yang tiada melewatkan satu menit pun tanpa berkomentar soal panasnya hawa di sini dan capeknya otot kakinya dalam berdiri menunggu giliran.

Saya bukannya marah pada emak-emak ini tapi pada pihak penyelenggara (pemerintah kecamatan Maja atau Depkes Maja atau Puskesmas Maja atau entahlah pokoknya) yang kurang cerdas dalam mengelola alur dan pelaksanaan vaksinasi ini seperti yang sudah saya laporkan pada proses vaksinasi pertama di lokasi yang sama sebulan lalu (30 Juli 2021). Seakan tidak ada perbaikan proses saja. Asal dan nggak pakai pemikiran lebih taktis dan ah, entahlah. Males mikir ribet aja mungkin.

[Baca pengalaman vaksinasi pertama saya: “Vaksinasi Bikin Keki”]

Saya sendiri datang pukul 8.19 dan antrean sudah panjangnya segini. Saya sih sudah menguatkan mental saya mengingat pengalaman buruk di vaksinasi pertama. Berpanas-panasan sudah bukan hal yang mengagetkan.

Pihak penyelenggara seolah tidak mau memikirkan soal bagaimana membuat para pengantre nyaman dan terlindung dari sengatan matahari. Nggak masalah sih buat saya yang masih muda dan kuat tapi buat pengantre yang badannya sudah mulai renta meskipu belum begitu tua, pastinya sudah pada nggak kuat. Dan benar saja, banyak yang merasa kepanasan karena menunggu 30 menit lebih di antrean dalam terpaan sinar matahari pagi yang sebenarnya masih sehat sih tapi durasi ini agak berlebihan nggak sih?

Pertanyaan saya untuk pihak penyelenggara vaksinasi di kantor kecamatan Maja ini: Biayanya berapa sih buat menyewa tratak atau atap kain atau apalah itu supaya pengantre nggak serasa dijemur kayak pakaian basah?

Dan yang sangat disayangkan lagi memang adalah tidak adanya nomor antrean. Ini memperparah dan memberi celah bagi orang-orang yang nggak punya rasa disiplin. Serobot menyerobot antrean rasanya sudah menjadi risiko yang tak aneh dihadapi.

Entah ini menyerobot atau tidak: si suami mengantre tertib lalu si istri pergi dulu ke tempat teduh tapi kemudian pas sudah hampir dipanggil dia baru mendekat ke suaminya. Ini membuat orang yang ada di belakangnya jadi salah paham juga. Makanya saya anggap penyelenggaranya kurang pro karena nggak kasih nomor antrean. Kalau ada bukti nomor antrean kan nggak perlu mengantre di bawah matahari dan mencegah kerumunan juga. Karena petugas tinggal panggil sesuai nomor.

Lalu ada petugas pakai TOA bilang: “Yang warga KTP di luar Maja antre di sini. Yang KTP Maja di kanan ya.”

Ia baru mengumumkan pemisahan antrean ini pukul 8:45. Haha. Padahal jadwal vaksinasi pukul 8:30 sesuai flyer pengumuman di Instagram @kecamatan_maja. Anda bisa cek sendiri postingannya soal vaksinasi tanggal 27 Agustus 2021 di kantor kecamatan kalau nggak percaya.

Yang paling konyol lagi adalah tim vaksinasi baru tiba pukul 8:46 WIB! Gimana saya sebagai pengantre nggak geram?! Haha. Dasar karakter bangsa jam karettt! Pelihara aja terosss.

Gini lho, jadwalnya 8:30 itu kan udah mulai. Jadi idealnya kan udah sampe lokasi entah itu 15 atau 20 menit sebelumnya buat siap-siap karena alat-alat kerjanya kan juga butuh disiapkan. Dari laptop, printer, dokumen-dokumen. Nggak habis pikir kan?



Yang seharusnya diberitahukan lagi ialah adanya kewajiban untuk memeriksakan kondisi kesehatan sebelum menerima vaksinasi tahap dua ini.

Jadi antrean ada dua jenis: antrean pertama untuk memastikan kondisi dan kedua untuk vaksinasi.

Di antrean pertama, petugas bertanya apakah kita sedang batuk, demam, sakit tenggorokan, atau apalah semua gejala Covid itu disebutkan sama dia.

Di sini antrean sering disela oleh motor dan orang yang keluar masuk karena antrean saking panjangnya. Ya segitu parahnya pengaturan antreannya sampai ini nggak dipikirin. Sampah banget kan?

Saya bilang: “NGGAK ADA GEJALA APAPUN.”

Untuk yang ada keluhan, nanti disuruh tes SWAB tapi itu pun sukarela aja. Dan emang gratis tis.

Namun, namanya orang Indonesia kan, nggak puas kalo belum ngeyel. Ada lho yang ngaku batuk atau demam tapi nggak mau menjalani SWAB. Males aja.

Haha terserah deh.

Saya langsung antre lagi dengan memegang secarik kertas bertuliskan nama lengkap, usia dan kondisi T.A.K. (Tak Ada Keluhan).

Di sini menjadi ujian kesabaran kedua lagi dong. Terjepit di antara dua emak-emak yang nggak bisa diem.

Satu di depan mengantre bersama anaknya. Sebenarnya saya tak masalah lho ada ibu membawa anak kecilnya. Mungkin ia tak punya kerabat untuk dititipi di rumah. Tapi masalahnya si anak berlarian ke sana kemari dan tak pakai masker (anak-anak kecil di sini yang dibawa rata-rata nggak pakai masker, mirip kayak penggunaan helm, seolah anak kecil itu nggak bisa dikenakan peraturan karena ya masih belum dewasa aja, begitu cara pikir orang tua yang kurang bisa berpikir lebih bijak) dan ibu ini berteriak bebas memanggil anaknya layaknya sedang di rumah. Lari menjauh sedikit, ia teriak. Begitu berulang kali. Bukan sekali dua kali ya. Mbok ya ada pengendalian diri gitu lho. Oh ini tempat umum. Volume suara kecilkan dikit ah, kalau masih punya malu sih. Ya tapi juga namanya emak-emak. Mereka punya hukum sendiri.

Ada juga ibu-ibu yang berulang kali bertanya pada petugas saking nggak percayanya. Dia udah tanya ke satu petugas, lalu masih nggak percaya dan tanya ke petugas lain. Seolah mencari celah. Karena memang harus diakui, tingkat penguasaan informasi dan koordinasi serta komunikasi antarpetugas juga masih dipertanyakan. Kadang informasi yang mereka berikan berlainan. Terlihat kentara mereka nggak kompak, pemahaman mereka atas informasi yang seharusnya mereka kuasai itu tidak sama persis. Siapa yang salah? Tauk ah.

Lalu seorang petugas meledak juga akibat ada yang menyerobot antrean dan membuat antrean baru. Haha. Makanya, kalo lu nggak mau dibikin kesel, harus tegas dari awal dan kasih petunjuk yang klir. Nggak membingungkan gini. Udah tau orang itu nggak disiplin tapi dibiarin. Baru deh pusing sendiri.


Antrean pertama untuk periksa kondisi sebelum vaksinasi.

Di antrean pertama ditanyai gejala dan keluhan kesehatan. Kalau sehat walafiat, bilang aja: NGGAK ADA KELUHAN SAMSEK.
Antrean kedua untuk menerima vaksin.
Karakter penyampah sejati. Itu tong sampah merah ada lho di sebelah tapi puntung sama kaleng susu tetep di pot buangnya. Manusia kualitas sampah kan?
Baru di titik ini pengantre vaksin diberikan kursi.

Antrean vaksin baru lebih teratur begitu diberikan kursi. Di sini sih terkesan antreannya lebih beradab dan berjarak. Tapi pas berdiri tadi beuhhh! Nggak ada yang jaga jarak. Dan nggak bisa juga. Saya aja mau jaga jarak tetep dipepet dua ibu-ibu. Saya udah jaga jarak dibilang lemot dan nggak mau maju. Di belakang saya sampai bersenggolan.

Di belakang saya ini ibu-ibu yang mengomentari semua hal yang ia lihat dan rasakan. Jadi selama antre vaksinasi ini, saya mendengarkan setiap keluhannya soal kaki yang pegal, panasnya cuaca, lambatnya antrean, dan lain-lain. Saya cuma membatin: “OH MY GOD, NGGAK CUMA LU YANG MENDERITA LOH. JADI SETOP BUKA MULUT SITU KARENA DROPLET LU KELUAR DARI MASKER KAIN TIPIS LU ITU DAN LU DEKET-DEKET GUE!!!”

“Anda sopan saya segan”, itulah semboyan saya dalam bergaul. Dan si ibu ini sudah melewati batas sih. Capek saya mendengar keluhannya.

Tibalah saat saya mendapatkan suntikan vaksin pukul 10:39. Jadi bisa dibayangkan saya sudah berdiri di terik matahari sejak pukul 8:19. Untung saya sudah makan. Kalau nggak bisa pingsan sih. Tapi kalaupun pingsan pasti di situ bisa langsung dikasih kelapa muda atau sosis bakar karena ya para penjual kaki lima sudah berjaga di sudut sana untuk menggoda para pengantre yang kehausan dan kelaparan.

Sebelum vaksinasi, tiap orang harus menjalani pemeriksaan tekanan darah. Untung saya normal, 120. Jadi langsung divaksin deh. Bisa saja tekanan darah saya melonjak akibat stres mengantre atau dehidrasi saat mengantre selama itu di kondisi terik. Anggap saja itu keajaiban.

Cetak kartu vaksinasi adalah ujian kesabaran terakhir. Nggak lagi-lagi ikut ginian. Awful experience!

Setelah disuntik vaksin Sinovac kedua ini saya langsung menunggu dicetaknya kartu vaksin. Ya memang sih bisa unduh sendiri di aplikasi PeduliLindungi atau di website yang sama tapi ya kalau dicetakkan mungkin bisa dipakai untuk menunjukkan ke petugas kalau mau masuk ke sarana transportasi umum atau fasum. KARENA YA KITA KAN TAHU BERSAMA KALAU BANGSA INI DEMEN BANGET SAMA APAPUN YANG BERBAU FOTOKOPI ATAU PRINT. Kurang afdol kalau nggak megang. Kartu vaksin yang bisa ditunjukkan di aplikasi digital pun mesti harus dicetak juga supaya bisa disodorkan di ujung hidung petugas fasilitas umum.

Dan vaksinasi ini juga menjadi demonstrasi betapa kacaunya birokrasi dan pemerintahan kita. Ketergantungan pada fotokopi masih sangat tinggi (lihat saja itu tumpukan kertas di atas printer petugas). Padahal konon Revolusi Industri 4.0 didengung-dengungkan. Tapi mana sih penerapan teknologi yang bisa mempermudah hidup? Janganlah bicara muluk-muluk revolusi ini itu atau bangun Silicon Valley-nya Indonesia, kalau saat mengurus dokumen kependudukan dan administrasi saja masih pakai fotokopi. Siapa sih generasi muda yang nggak meradang kalau masih dengar kata fotokopi di abad ke-21 ini?

Pukul 11:35 WIB saya melangkahkan kaki dari tempat itu untuk pulang. Tanpa surat vaksinasi di tangan meski saya sudah 30 menit lebih menantinya. Ridiculous, karena saya berdiri di samping petugas dan hanya bisa menyaksikan lambatnya mereka memproses kertas-kertas surat vaksinasi pertama masyarakat. Ditambah dengan ngadatnya sebuah mesin cetak, saya membulatkan tekad untuk memelihara kewarasan saya dengan meninggalkan kerumunan yang dianggap sah oleh negara ini.

“Indonesia Indonesia, sometimes I don’t feel like I belong here. I just don’t,” pikir saya sambil melempar pandangan ke orang-orang yang mengobrol di bawah pohon dengan masker turun dan menyeruput es kelapa muda. (*/)

Pandemic Diary: Pemerintah, Mohon Bergunalah…

VAKSINASI masih terus digalakkan tapi katanya kesenjangan masih lebar. Selebar kesabaran masyarakat menanti dosis pertama dan kedua mereka.

Sementara vaksinasi gencar di Jawa dan Bali, program ini katanya sih kendor di luar dua pulau tadi. Lama dan bikin orang-orang dari sana nggak bisa bepergian karena syarat naik pesawat sekarang pakai sertifikat vaksin. Setidaknya sekali.

Kemarin baca berita juga bahwa Jakarta sudah mencapai kekebalan kelompok dan kasus menurun tajam. Ya bagus sih tapi, emangnya Indonesia Jakarta doang?!

Pemerintah kayak keteteran banget buat memeratakan vaksinasi. Unsur keadilan itu susah diwujudkan.

Sementara rakyat jelata mengantre, segelintir orang pamer vaksin ketiga mereka padahal bukan tenaga kesehatan juga kerjanya. Just because they have privilege. This country is so vucked up.

Sementara itu, koruptor Juliari Batubara dan keluarganya merengek dikurangi hukumannya karena merasa sudah sangat menderita dirisak rakyat. Owhh hellowww?!

Sebagai politisi, jangan cuma siap menerima fasilitas mewah saja dong. Siapkan juga mental dan keluargamu semua kalau ada risiko kena kasus. Kalau nggak, nggak usah jadi politisi kaleee!

Akhirnya cuma diganjar 12 tahun. Dikasih 120 tahun pun kayaknya nggak setimpal bagi orang-orang kecil yang bansosnya ditilep.

Jangan sampai kita lupa bahwa ada banyak fakir miskin dan anak yatim di masa pandemi ini yang mati dan nggak bisa makan karena orang-orang mental korup macam Juliari.

Platform Kitabisa seolah menjadi alasan pemerintah cuci tangan dari ketidakbecusan mereka menangani kemiskinan pandemik ini. Ya sesama rakyat memang masih bisa membantu tapi kalau kamu sebagai pemegang mandat nggak bisa mengelola uang rakyat dan membiarkan koruptor begini berkeliaran dan cuma dihukum ala kadarnya, bagaimana negeri ini mau bebas korupsi?!!! (*/)

Tren Baru di Dunia Kreatif Itu Bernama “Manfaatkan Ketenaran Pekerja Seni Buat Pangkas Anggaran Marketing”


PERNAH suatu kali saya mendengar selentingan dari seorang penulis muda bahwa dirinya sedang mengajukan naskah buku yang tak kunjung gol juga di penerbit-penerbit tanah air.

Ternyata batu sandungannya kata dia adalah jumlah pengikut media sosial yang tak seberapa.

Kuantitas kemasyhuran di ranah maya ini sudah bukan rahasia lagi menjadi semacam permadani merah bagi para pelaku industri kreatif, seni dan hiburan.

Dan tak cuma di dunia penerbitan ternyata lho fenomena seperti ini. Baru-baru ini saya berbicara dengan seorang aktor yang juga mengeluhkan hal yang sama.

Aktor ini baru saja terlibat dalam film “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas” dan dalam pembicaraannya ia menyinggung soal harapannya ke depan. Ia mengatakan dirinya ingin bermain film dengan keleluasaan lebih banyak dalam menikmati proses tanpa harus terkekang oleh banyak faktor di luar film itu sendiri. Sebut saja dari keterbatasan anggaran sampai standar jumlah pengikut di media sosial. 

“Sekarang itu dalam proses casting juga dilihat jumlah followers kita. Agak kecewa sih kalau ada yang mengutamakan jumlah pengikut media sosial daripada kualitas akting seorang aktor,” ujarnya.

Ia mengatakan hal ini terjadi di industri film tanah air karena dengan merekrut aktor-aktor yang populer di media sosial, diharapkan film hasil garapan mereka akan berpeluang jauh lebih banyak dikenal masyarakat. Dan dengan menggunakan popularitas aktor-aktor di media sosial ini, anggaran pemasaran atau iklan bisa dihemat lagi. 

Bagi aktor-aktor yang kurang giat di media sosial atau sekadarnya menampilkan kegiatan profesional mereka di media sosial, standar jumlah pengikut ini dirasa memberatkan. Aktor ini sendiri mengaku memiliki akun media sosial tetapi ia merasa kurang nyaman dan ‘bukan dirinya’ saat harus membagikan konten yang tidak ada kaitannya dengan profesinya atau misalnya sekadar cuma makan atau minum sesuatu. 

Ya paham sih kalau soal keharusan untuk membagikan sesuatu padahal kita tidak merasa adanya urgensi untuk itu rasanya berat. Bahkan sekadar keinginan pamer pun tidak tapi disuruh upload. Risih rasanya. Ya tapi mau bagaimana lagi, wong konsekuensi profesi. Bisa jadi itu kenapa banyak unggahan aktor itu minim caption. Ya udahlah jeprat jepret atau rekam video random apa saja yang penting ada konten. Daripada kosongan. Ya nggak? (*/)

Penulis, Selalu Backup Tulisanmu!

KEMARIN baru saja menulis tentang betapa menjengkelkan plus mahalnya kalau MacBook kita rusak. Servis ke iBox yang resmi malah biayanya melebihi beli yang baru. Owalah!

Tapi jangan sedih, iFan se-Indonesia karena ternyata mahalnya biaya reparasi MacBook memang sudah dari dulu adanya. Bukan cuma sekarang aja. Atau cuma terjadi di Jakarta aja.

Dan memang sebagai penulis (atau profesi apapun sih ya), memang punya backup itu sangat penting. Jangan sampai nggak.

Tonton saja repotnya Carrie Bradshaw di serial legendaris “Sex and the City” yang memiliki MacBook dan sialnya laptop itu crash saat ia menulis.

Backup memang paling malesin. Kenapa ya padahal sebenernya juga nggak begitu rumit sih. Tapi memang kita serasa nyaman dengan MacBook yang konon punya ketahanan lebih baik daripada laptop Windows yang pabrikannya macam-macam itu.

Itulah kenapa saya sekarang lebih banyak menulis di cloud documents seperti Google Docs. Ya karena saya males kalau ada kejadian begini menimpa diri saya. Nggak kebayang sih repotnya kalau data dan file penting buat kerjaan lenyap bersama software laptop yang crash.

Ada juga beberapa waktu lalu teman pemilik MacBook yang berkeluh kesah soal laptopnya yang tak bertahan lama. Baru 1-2 tahun sudah ngadat. Ini aneh karena punya saya bisa bertahan bahkan sampai hampir 7 tahun hingga sekarang. Cukup awet lah ya. Baterainya masih lumayan panjang. Masih bisa bertahan 6-7 jam sehari (dari yang bisa 10-11 jam sehari sekali cas) dan hampir tidak ada keluhan berarti. Cuma tombol N dan M yang agak pudar karena penggunaan selama ini. Worth the money sih.

Dan semoga saya masih bisa menggunakannya selama beberapa tahun ke depan lagi karena saya benar-benar ingin menggunakan laptop ini sampai benar-benar rusak sak sakkk.

Sebab seperti Carrie di atas yang sangat sayang dengan MacBook-nya, saya sendiri merasa sudah malas jika harus memindahkan data saya ke laptop baru lagi. Dan faktor familiaritas sangatlah berperan saat kita bekerja. Ya mungkin banyak laptop baru yang lebih anyar dan canggih dan bagus tapi kok barang kesayangan lama masih tetap nggak bisa tergantikan yah.

Tapi ini cukup ironis juga sih. Sebagai seorang wanita petualang cinta, Carrie malah lebih setia pada laptopnya daripada pada pria-pria pacarnya itu. Haha. (*/)

Pandemic Diary: Serba-serbi Jaga Kesehatan Mental Selama Pandemi

KESEHATAN MENTAL seakan menjadi topik yang hot akhir-akhir ini.

Ya siapa yang nggak terganggu mentalnya saat begini sih? Sekalipun manusia yang bermental baja pun pasti ada kena sedikit banyak kan. Mustahil 100% nggak terdampak. Itu denial.

Saya sendiri mencoba untuk menjaga kewarasan dengan mencoba kiat-kiat yang diberikan dr. Zulfia Syarif SpKj. berikut:

  1. Fokus pada hal yang bisa dikendalikan: Pandemi penuh dengan hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Maka setop terlalu control freak terhadap segala hal dalam kehidupan atau kesehatan mental kita jadi tumbalnya. Fokus pada hal-hal yang bisa kita lakukan misalnya melaksanakan protokol kesehatan, berdiam di rumah dulu, ikut vaksinasi, dan sebagainya.
  2. Berdiet berita dan media sosial: Orang kerap cemas tatkala terlalu sering mengonsumsi berita di media sosial. Jangan mencari informasi apalagi memercayai informasi di grup WhatsApp atau media sosial. Dapatkan informasi dari sumber berita yang Anda percayai misalnya kantor berita yang sudah teruji kredibilitasnya dan batasi konsumsi konten atau berita di luar itu. Batasi juga waktu konsumsi berita. Jangan membiarkan diri scroll dan larut begitu saja dalam isi percakapan di grup WhatsApp.
  3. Fokus pada kegiatan positif: Mental bisa lelah saat fokus pada hal-hal yang sudah kita tak bisa lakukan selama pandemi. Di saat begini, gantilah fokus pada hal-hal yang masih bisa kita nikmati dan lakukan. Jika harus bekerja dan beraktivitas di rumah, ya sudah nikmati saja. Nikmati saat-saat harus bersama keluarga di rumah karena hal itu tak bisa terjadi setiap hari sebelum pandemi.

Terus terang saya sendiri juga sudah berusaha melakukannya dengan menghabiskan waktu di rumah untuk belajar hal-hal baru di rumah, membaca buku-buku yang tak pernah saya baca sebelumnya, dan lebih bijak lagi saat dihadapkan pada banjir informasi di media sosial. Kita harus mindful atau sadar dan eling saat baca berita. Kita harus ingat bahwa faktanya saya sendiri masih sehat dan menghalau kecemasan yang tidak perlu dan tidak pasti bakal terjadi juga. (*/)

Multivitamin, Serius Efektif?

SEORANG teman dulunya menghiasi dinding Twitternya dengan tweet-tweet yang jenaka. Kini ia lebih banyak mewarakan produk multivitamin yang menurutnya ajaib, ampuh, cespleng, manjur dalam mencegah Covid, membangun sistem kekebalan tubuh, dan sederet keunggulan lainnya yang tidak dimiliki produk multivitamin sejenis.

Menghela napas berkali-kali saya membacanya.

Saya bukannya memusuhi multivitamin. Saya di kala sakit juga mengkonsumsi multivitamin kok.

Tapi saat ini, seolah tidak perlu sakit untuk bisa meminum mutivitamin. Kita seolah didorong untuk meminumnya demi mempertahankan atau meningkatkan kesehatan seolah inilah jimat menangkal penyakit terutama Covid yang terus didengung-dengungkan selama pandemi.

Saat saya membaca tweet-tweet promosi multivitamin itu, saya rasanya menangkap pesan bahwa multivitamin itu pengganti makanan yang bergizi. Atau bahkan bisa memberikan manfaat lebih banyak dari semua makanan segar yang disediakan alam.

Karena itu saya berpandangan jika kita kekurangan salah satu vitamin, bisa jadi ada yang salah dengan asupan sehari-hari kita.

Bisa jadi itu karena kurangnya variasi makanan kita, bukan karena tak mengonsumsi multivitamin yang dibanderol ratusan ribu rupiah!

Misalnya saat ini ada kecenderungan orang untuk meminum vitamin C dosis tinggi sehari demi mencegah Covid atau untuk mengobatinya. Demikian juga vitamin D, yang menurut orang bisa dikonsumsi jika kita tak punya waktu berjemur di sinar matahari. Haha, sungguh ironis sih karena kita itu hidup di daerah tropis. Begitu sibuknya kah sampai tak ada waktu berjemur di luar rumah?

Pola pikir yang menyederhanakan ini relatif berbahaya bagi kesehatan. Karena tubuh ini meski katanya didiagnosis kekurangan vitamin C misalnya, juga membutuhkan asupan vitamin dan zat mineral lain agar metabolisme dan penyerapan vitamin C itu berlangsung optimal.

Kecenderungan berpikir secara terpisah-pisah ini sangat ‘lucu’ sekaligus tragis karena sel-sel, jaringan-jaringan, dan organ-organ dalam tubuh manusia sendiri terkait satu sama lain. Kita berpikir bahwa tubuh bisa dipreteli layaknya suku cadang mobil. Kalau ban pecah, ya sudah itu artinya perbaiki ban saja. Setir tidak perlu diurus.

Kita lupa bahwa tubuh manusia adalah sebuah organisme yang membutuhkan tidak cuma satu zat gizi tertentu. Dan jangan lupa bahwa zat gizi apapun jika dosisnya dalam tubuh terlalu banyak atau sedikit juga bakal memicu munculnya penyakit. Karena pada hakikatnya, definisi “sakit” ialah saat seorang manusia mengalami ketidakseimbangan. Dan jor-joran mengonsumsi multivitamin itu menurut saya juga salah satu tindakan yang arogan dari manusia yang sok tahu dengan mekanisme kerja tubuhnya.

Alih-alih memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang segar, orang memilih beli vitamin C dosis tinggi saat didera flu. Saat sembelit, orang tidak memperbanyak konsumsi serat dalam buah dan sayur tapi malah pergi ke toko untuk mendapatkan sumplemen serat dalam sachet plastik yang konon kandungan serat pangannya bisa melancarkan pencernaan.

Apakah itu salah? Tidak sepenuhnya kok. Boleh saja memenuhi kebutuhan vitamin dengan konsumsi multivitamin tapi selengkap-lengkapnya multivitamin kita, tidak akan bisa menandingi kekayaan kandungan vitamin dan mineral dalam sayur mayur dan buah-buahan segar.

Misalnya saat alami sariawan yang diduga karena kekurangan vitamin C, lalu kita makan suplemen vitamin C, ya kita cuma dapat vitamin C. Tapi saat seseorang memutuskan memakan pepaya atau jeruk untuk memenuhi kebutuhan vitamin C itu, ia juga tak cuma mendapatkan asupan vitamin C tapi juga berbagai senyawa dan zat gizi lainnya yang bisa membuat tubuh lebih sehat.

Saat ini juga masyarakat saking paranoidnya membeli secara sembarangan suplemen-suplemen multivitamin apapun yang menurut mereka bagus untuk tubuh tanpa berkonsultasi ke dokter.

Kenapa mesti bertanya ke dokter? Karena kita memiliki batas konsumsi maksimal yang jika dilanggara akan ada konsekuensinya terhadap kesehatan.

Dan yang sering membuat saya kurang sreg lagi dengan multivitamin yang terlalu dipertuhankan ini ialah seolah dengan konsumsi multivitamin, kita mendapatkan surat izin untuk ugal-ugalan dalam makan dan minum. Contohnya, begitu minum multivitamin, kita merasa lebih kuat lalu mengabaikan jam tidur di malam hari. Begitu minum multivitamin, kita merasa berhak untuk makan makanan yang tinggi kandungan lemak, gula, garam dan zat-zat pengawet dan aditif yang merugikan kesehatan. Ini semua ada di dalam makanan olahan dan makanan kemasan, minuman ringan dengan kadar gula yang bikin gila.

Kita juga harus mulai menerapkan cara pandang yang holistik atau menyeluruh untuk mengatasi semua masalah kesehatan kita. Jangan separuh-separuh.

Maksudnya, tidak ada satu faktor yang bisa berdiri sendiri membuat kita sehat. Ini banyak ditemui di tengah masyarakat. “Berjemur yuk, nanti sehat, kebal Covid” atau “minum rebusan daun ini yuk, nanti diabetes hilang.”

Pola pikir yang sepotong-sepotong dan memandang kesehatan dari cuilan-cuilan begini justru bisa membawa masalah baru. Dan inilah yang menjadi celah bagi mereka yang bermental dagang dan oportunis untuk mencari untung dari ketakutan dan kecemasan kita terkena penyakit.

Untuk mendapatkan asupan vitamin D yang cukup, misalnya, daripada dengan mudahnya membeli suplemen vitamin D yang dijual bebas, kita bisa berjemur dan itu pun tak perlu terlalu lama juga. Jangan rakus juga. Hindari sinar matahari pukul 11 sampai 3 sore. Pukul 10 pagi masih bisa berjemur tapi 5-10 menit saja. Apalagi di saat cuaca cerah, bukan mendung.

Bagi yang bertubuh kurus dan lemaknya sedikit serta berkulit tipis seperti manula, suplemen vitamin D bisa diberikan agar defisiensi tak terjadi. Karena mereka yang masih memiliki lemak di bawah kulit yang cukup dan kulitnya masih cukup tebal, produksi vitamin D lebih mudah. Bagi manula, proses lebih sulit meski mereka sudah berjemur sekalipun. Itulah kenapa manula rawan menderita osteoporosis. (*/)

Kisah X Life Berdayakan Para Terapis di Masa Pandemi

SEBAGAI salah satu pengguna setia Go Life, saya merasa kehilangan tatkala GoJek memutuskan menghapus layanan itu tahun 2020 lalu saat pandemi pertama melanda.

Periode itu kemudian disusul oleh keputusasaan di kalangan terapis. Salah satu terapis yang pernah memijat saya dan memiliki nomor saya mengirimkan SMS saat PSBB pertama. Isinya ia meminta sedekah karena tabungan menipis dan tak kuat lagi bertahan di tengah lockdown dan suasana mencekam yang tak memungkinkan dirinya keluar untuk mencari nafkah.

Keluhan ini sangat banyak karena kita tahu jumlah talent Go Life sangat banyak. Tak cuma tukang pijat tapi juga pembersih rumah, tukang servis AC, dan sebagainya.

Seorang wanita bernama Reviani S. Kadaryanto mendengar keluhan-keluhan ini dan mencoba mengakomodasi mereka dengan membuat sebuah wadah bagi terapis. Namanya X Life, yang ia ambil dari nama “Ex Go Life” karena rata-rata terapis ini memang mantan terapis dari Go Life milik GoJek dahulu.

Mulanya X LIFE membuka peluang bagi para penyedia jasa yang tak membutuhkan sentuhan fisik. Baru setelah itu, mereka perlahan membuka kesempatan bagi para mantan terapis untuk menyediakan jasa pijat.

Namun, tentu saja tak sembarangan. Mereka harus menaati protokol kesehatan saat bekerja memijat klien demi menjaga kepercayaan klien dan juga menjaga keselamatan semua terapis dan klien.

Sebenarnya ia baru membuat aplikasi mobile khusus X Life setelah akun media sosial Instagram X Life (@X.Life.id) kebanjiran pesanan. Jadi sembari ia melayani klien di media sosial, ia juga memikirkan pengembangan aplikasi mobilenya agar semua order bisa tertangani dengan efisien.

Layanan X Life ini menjangkau sejumlah kota besar di Jawa seperti Jabodetabek, Surabaya, Malang, Yogyakarta dan Denpasar.

Jenis layanannya berupa gaya hidup seperti pijat, makeup, sampai sterilisasi seperti fogging, dan servis mobil.

Dalam memasarkan dan mempromosikan jasa X Life, Revi tak mengandalkan anggaran marketing yang selangit. Ia cuma bermodalkan akun Instagram dan kemudian ia mendapatkan jejaring dengan sekitar 4000 terapis dan penyedia jasa lainnya. Aplikasi juga menunjukkan penyedia jasa yang sudah divaksin sehingga klien bisa lebih percaya dan yakin.

Awalnya karena para penyedia jasa ini sudah kesulitan ekonomi, mustahil bagi Revi untuk memungut iuran atau mewajibkan bagi hasil. Mereka dibolehkan bergabung tanpa biaya sepeserpun. Semua pembayaran/ transaksi dilakukan tunai melalui mitra sehingga uang yang diterima bisa langsung dipakai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka ini. Revi menggunakan sistem kepercayaan (trust) pada penyedia jasa X Life.

Ia mengaku tidak membeli pengikut Instagram jadi semua pengikutnya memang asli, organik, bukan tipu-tipu.

Semula ia sempat berpikir bahwa jumlah pengikut memang biasa saja (baca: kurang banyak dibandingkan jumlah pengikut akun selebgram atau tokoh) tapi ia tak begitu memperdulikannya sebab jumlah order saja menumpuk. Kenapa harus repot-repot beli pengikut cuma untuk memberi kesan tertentu pada masyarakat/ pengguna media sosial? (*/disarikan dari wawancara Kis in the Morning)

Ke Mana Kalau MacBook Bermasalah?

Memang bagus sih tapi kalau servis bikin pening cuy! (Photo by Agung Pandit Wiguna on Pexels.com)

SEBUAH utas di Twitter kemarin ramai. Isinya membahas soal keluhan seorang pemilik MacBook bernama @commaditya yang kesal banget karena harga perbaikan MacBooknya mencapai Rp 53 juta di iBox yang selama ini dikenal sebagai reseller resmi MacBook di negara yang tak kunjung punya perwakilan Applenya sendiri. Ini ia anggap konyol abis karena harga beli laptop itu aja cuma Rp40 juta.

Ia sendiri sudah menjadi pengguna perangkat Mac sejak 10 tahun belakangan dan merasa puas dengan kinerjanya yang stabil. Ia menegaskan ini bukan masalah kinerja perangkat atau kepuasan pelanggan tapi lebih pada isu perbaikan perangkat Mac itu di Indonesia yang memang sampai detik ini belum ada toko resmi atau gerai resmi atau pusat servis yang resmi dari Apple Inc. sana.

Ia pun menduga-duga apakah itu karena logic board-nya yang rusak sehingga tarif perbaikannya melambung tinggi?

Untuk urusan servis Apple dari sananya, kata @commaditya, memang sudah bermasalah karena menurutnya sudah ada beberapa pengguna yang kesal dengan prosedur perbaikan mereka itu. Ia menyebut “right to repair” yang masih belum sesuai harapan.

Ini memang simalakama ya. Karena bagi pemilik perangkat yang masih bergaransi, garansi bisa menguap begitu saja kalau perangkat diservis pihak ketiga. Tapi kalau diservis di iBos sebagai perwakilan pihak Apple Inc di sini, harganya bikin melarat orang-orang kelas menengah ngehe.

Seseorang juga membagikan pengalaman buruknya servis MacBook di iBox yang cuma alami kerusakan USB type C-nya tapi harus mau menanggung biaya perbaikan sampai 7 juta karena sampai disuruh teknisi iBox mengganti board. Karena masygul, ia memilih servis di tempat lain yang cuma makan waktu perbaikan seminggu dan cuma dikenai tarif Rp3 juta.

Sejumlah orang bahkan menceritakan pengalaman buruk terhapusnya data di perangkat saat ganti baterai atau servis di iBox.

Kesan yang mereka dapatkan ialah bahwa iBox mau berjualan saja. Urusan reparasi secara halus mereka ‘cuci tangan‘.

Karena itulah, akhirnya bertumbuhlah banyak bisnis reparasi perangkat Mac dan iOS di sejumlah kota besar di Indonesia. Mereka tidak berafiliasi dengan Apple Inc. secara resmi memang sih tapi dari ulasan dan rekomendasi para pengguna jasa mereka, rasanya kualitas layanan perbaikan mereka nggak seburuk yang kita duga kok.

Berikut beberapa tempat servis selain iBox yang bisa dicoba untuk menyelamatkan perangkat iOS atau Mac kita:

  • iColor (instagram: @icolor_service) yang beralamat di Ruko Thamrin Residence Lt.2 Blok RTE/G/E12 di atas Dapur Cianjur, RT.4/RW.8, Kebon Melati, Tanah Abang, Central Jakarta City, Jakarta 10230.
  • iPrima Apple Service Repair di iprimaappleservicerepair.business.site.
  • iSolution Surabaya dengan akun Instagram @isolution.surabaya
  • MitraCare Service Center Apple (authorized service center) di Komplek Perkantoran Duta Merlin Blok C No. 6-7, Jl. Gajah Mada No.3-5, RT.2/RW.8, Petojo Utara, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10130.
  • Bhaguz Hernawan (Twitter: @bhaguz_403) yang juga editor in chief @MakeMac dan pengelola website soal Mac MakeMac.com.
  • Mac Arena Store di Mal Ambasador, Jl. Prof. DR. Satrio No.2- 3, RT.11/RW.4, Kuningan, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Kota Jakarta Selatan, dengan website macarena.co.id dan akun Instagram @macarena_id.
  • MacBiruni dengan akun Instagram @macbiruni dengan nomor kontak 0812 1516 3009 atau 0878 8338 7227 (WhatsApp).
  • iRepair Detos/ Lebak Bulus dengan website https://www.irepairaba.co.id/servis-iphone-depok/
  • Ustorem2m di Mangga Dua Mall Jakarta lantai 3 no 27A.
  • Koko Kaskus di Jakbar dengan nomor 08129253341.
  • Jaya Mac di Jalan Pondong Pinang #7B, RT.1/RW.2, Pd. Pinang, Kec. Kebayoran. Lama, Kota Jakarta Selatan, nomor kontak 0877-8890-9460.
  • Dr. Gadget (Instagram: @docgadget_) yang punya lokasi gerai di Kelapa Gading, Cilandak Town Square, Pantai Indah Kapuk, Puri, Tangerang, dan Bali. Websitenya di http://www.doc-gadget.com.

Kiat lain ialah dengan survei harga tiket pergi-pulang ke Singapura. Bandingkan dengan harga perbaikan di tanah air dulu. Kalau lebih mahal di Indonesia, katanya sih mending jalan ke Singapura aja dan perbaiki di Apple Store di bandara Changi Singapura yang kasih servis gratis tis tissss. (*/)

(Foto: https://www.apple.com/sg/retail/jewelchangiairport/)

Hubungan antara Nasionalisme dan Kebahagiaanmu

HARI ini menandai 76 negara ini merdeka. Rasanya sih nano-nano. Persenyawaan antara bangga, sedih dan murka.

Bangga bisa sampai sejauh ini bangsa ini bertahan dihajar pandemi dan di saat yang sama merasa murka juga kalau melihat berita Juliari Batubara dan bagaimana negara dibikin linglung karena perkara korupsinya. Coba dia pejabat China. Drama begini pasti tidak bakal ada. Langsung di-dor aja di lapangan Tianamen.

Cukuplah soal orang itu.

Kita bahas nasionalisme saja.

Katanya seorang warga negara yang bangga bisa lebih bahagia.

Tapi semua bergantung pada apa yang dibanggakannya mengenai negara dan bangsanya.

Nasionalisme memang banyak versi. Ada yang sempit. Ada yang luas.

Yang sempit adalah nasionalisme yang membawa-bawa definisi “pribumi”, atau “penduduk asli”.

Yang luas adalah nasionalisme yang lebih fleksibel, yang terbuka dan inklusif. Menyambut siapa saja warga negara yang telah menyatakan sumpah setia pada negara tanpa memandang suku, agama, dan rasnya.

Kalau dilihat beberapa tahun belakangan, luka trauma akibat pilkada Jakarta dan Pilpres yang lalu itu masih membekas. Dalam. Sekali.

Beberapa pekan lalu pernah saya diajak bicara dengan teman yang sebelumnya tak pernah berbicara soal politik atau semacamnya.

Dan tiba-tiba di tengah pembicaraan, ia berceletuk satu kata yang membuat saya terhenyak: “kadrun”.

Owh, bukan bukan. Saya bukan di pihak manapun. Di pilpres kemarin itu saya bagkan golput karena alasan prosedural dan kerepotannya sekaligus kemalasan juga sih untuk pulang ke daerah asal karena cuma untuk nyoblos. Buat apa sampai harus dibela-belain gitu?

Dan meski saya golput, saya tentu tak berkoar-koar mengajak orang soal itu. Saya tak bangga dengan pilihan itu tapi juga tak menganggapnya nista. Sama saja lah dengan yang pro A atau kontra B.

Pilpres yang kental nuansa identitasnya itu serasa menegaskan kembali aroma nasionalisme sempit.

Terus terang saya kecewa. Kenapa sih kita yak kunjung dewasa? Begitu mudahnya diombang-ambingkan para perekayasa propaganda.

Satu studi tahun 2011 oleh Association for Psychological Science menemukan bahwa saat seorang warga negara yang memiliki konsep nasionalisme sempit memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan mental yang lebih buruk. Nasionalisme sempit ini berkaitan dengan faktor etnis, kesukuan, keyakinan sebagai pemersatu bangsa. Jelas ini mirip dengan politik identitas yang santer dihembuskan mesin-mesin politik saat pilkada Jakarta Anies vs Ahok dan pilpres Jokowi vs Prabowo.

Sementara itu, warga negara yang mengadopsi konsep nasionalisme luas dan inklusif memiliki tingkat kebahagiaan lebih baik. Nasionalisme tipe ini dibuktikan dari rasa hormat dan perasaan sukarela untuk mencintai negara dan menaati aturan dan hukum yang berlaku di dalamnya. Di sini, tidak ada ruang untuk diskriminasi suku, agama dan ras. Apapun identitas SARA seseorang warga negara, asal ia sudah menjalankan dengan baik kewajiban-kewajiban sebagai warga negara maka ia sudah bisa dianggap nasionalis.

Tapi meski rasanya saya lebih condong ke nasionalisme jenis kedua, kok rasanya saya nggak bahagia ya? Haha.

Ah mungkin itu karena negara membiarkan ada segelintir warganya menginjak-injak hukum di mata rakyatnya sendiri.

Mungkin karena banyak ketidakadilan yang dibiarkan, dimafhumkan dan diwajarkan padahal ya mesti diluruskan.

Kalau Anda sendiri bagaimana? (*/)

Haruskah Berlomba-lomba ke Antariksa untuk Berwisata?

BEBERAPA waktu lalu kita dengar berita soal Elon Musk, Jeff Bezos, dan Richard Branson yang seolah berkejar-kejaran untuk mewujudkan impian mereka menjelajah bulan, Mars dan tinggal di sana.

Kenapa seolah di masa pandemi yang memerlukan banyak duit untuk menyelamatkan ekonomi, orang-orang yang makin kaya akibat kapitalisme ini malah menghabiskan duit mereka untuk hal-hal yang terkesan nggak ada gunanya buat kemanusiaan?

Jawabannya mungkin sederhana: ini adalah ambisi lama mereka.

Investasi mereka di bidang penjelajahan antariksa dan planet lain ini sudah lumayan lama dan ‘membakar’ banyak duit mereka. Ya memang terhitung retjeh sih buat ukuran aset total mereka tapi kalau dilakukan saban tahun, lama-lama mereka juga pasti gemes dan mikir: “Kapan nih gue bisa menikmati hasilnya?”

Karena itulah mereka berpacu dengan waktu agar usaha eksplorasi ini tak berujung mubazir.

Masalahnya adalah ada sebagian orang yang sekarang sudah begitu kaya rayanya dan ingin melakukan hal-hal yang menjadi impian masa kecil mereka seperti terbang ke bulan, atau melayang di ruang gravitasi nol untuk merasakan bagaimana hidup tanpa gaya tarik bumi yang termasuk tinggi (di bulan saja gravitasinya cuma 1/6 dari bumi) tapi di bumi masalah rasanya makin banyak saja.

Ada yang berkata nggak ada yang salah soal mendirikan perusahaan penjelajahan antariksa seperti yang dilakukan orang-orang kaya tadi. Ya wajar sajalah mereka punya impian untuk bepergian ke ruang angkasa dan bahkan tinggal di sana lebih lama dari apa yang sudah dilakukan manusia sebelumnya.

Yang menjadi perdebatan ialah “apakah semendesak itu ya harus membakar uang cuma untuk ke antariksa dan berwisata sementara di muka bumi sana banyak manusia yang masih membutuhkan bantuan?”

Betul bahwa kini teknologi sudah memungkinkan kita yang manusia biasa non-astronot ini bisa ke ruang angkasa dan menikmati beberapa waktu di sana. Kita tak perlu menjalani pelatihan yang harus dijalani astronot profesional selama 15-20 tahun lamanya. Karena memang keterampilan astronot itu nggak perlu-perlu banget buat para pelancong antariksa ini. Cuma di antariksa 30-60 menit dan pulang ke bumi lagi kok. Nggak sampai berhari-hari atau berbulan-bulan juga.

Ada yang berargumen bahwa perjalanan wisata antariksa ini berguna untuk memuaskan sisi spiritualisme manusia.

Oh ya?

Apakah dengan melayang-layang di ruang hampa dan melihat bumi kita dari kejauhan seperti bola berwarna biru yang mengapung di kegelapan alam semesta, manusia yang mengalaminya bisa merasakan kecilnya dirinya dan betapa berharganya semua hal di bumi itu sehingga nantinya mereka terpanggil untuk melestarikan bumi yang masih tak tergantikan hingga sekarang?

Atau ini malah menjadi pelecut mereka untuk melarikan diri dari bumi yang sudah kacau, porak-poranda dikoyak krisis iklim, pencemaran lingkungan, pemanasan global yang tidak bisa direm? Logisnya, ngapain bertahan di bumi yang sudah acak-acakan saat bisa ke lahan baru yang masih bisa digarap dari awal dan bebas meski risikonya juga amat tinggi.

Penjelajahan antariksa ini memang penting sih dari segi survival umat manusia. Bayangkan jika ada apa-apa dengan bumi (yang memang sudah terjadi karena kelalaian kita sendiri), dan mengakibatkannya menjadi tak layak huni, lalau bagaimana dengan nasib umat manusia? Akankan kita menerima jika manusia akan punah begitu saja seperti dinosaurus?

Indonesia sendiri terpaksa menjadi penonton dahulu karena ya, duitnya cekak banget. Ngurusi rakyatnya yang bergelimpangan kena pandemi aja masih ngos-ngosan ya kan?

Indonesia konon masih berfokus pada urusan-urusan antariksa yang berkaitan dengan mikrosatelit untuk kebutuhan komunikasi dan pertukaran informasi seperti sinyal telepon dan internet dan semacamnya. Belum lagi satelit pengindraan jarak jauh untuk menjaga teritori kita yang seluas ini. Keamanan perairan kita dari jamahan negara asing yang lancang masuk misalnya. Kita sendiri tahu alutsista masih minim dan celah di perairan kita masih banyak sekali sehingga penyelundupan rawan terjadi. Jadi partisipasi untuk perlombaan jelajah antariksa seperti ke bulan atau Mars, nanti dulu deh. Kebutuhan dasar aja masih keteteran kok. Haha. Sad. (*/)

Benarkah Revolusi Dukcapil Akan Terwujud?

DUKCAPIL sudah menjadi sumber frustrasi banyak orang di negara ini sejak dulu kala.

Termasuk saya.

Mengurus KTP atau KK dan segala macam perubahannya agak membikin keki kalau dipikir-pikir.

Kenapa sih kalau nggak nyogok? Kenapa sih kalo nggak berbelit-belit?

Saya menyimpan asa bahwa negara ini bisa memperbaiki birokrasi Dukcapil ini.

Visi dan semangat Prof. Zudan ini patut diapresiasi tapi di lapangan…sekali lagi di lapangan, tampaknya masih jauh panggang dari api…

Mengurus perubahan KTP dan KK masih dipungut ratusan ribu. Gratis? Mimpi!!! (*/)

Pandemic Diary: Vaksinasi Bikin Keki

Jaga jarak hanya konsep semata

VAKSINASI memang digadang-gadang sebagai penggulung pandemi. Tapi dengan tingkat efikasi yang masih rendah plus mutasi virus yang memunculkan varian anyar yang seakan tiada habisnya, vaksinasi seolah cuma harapan semu.

Bahkan vaksinasi malah bisa jadi sumber kerumunan yang memicu penularan yang lebih luas lagi.

Tak percaya?

Lihat saja ini semua.

Klaster vaksinasi potensial

Sebenarnya mau memberi apresiasi tapi saya juga tak mau menutup mata bahwa ada yang harus diperbaiki.

Saya tak percaya bahwa vaksinasi bisa dilakukan dengan taat protokol kesehatan yang ketat. Dan memang begitulah adanya.

Tidak udahlah bicara soal masyarakat di Indonesia ujung berung. Di sini yang cuma sejam dari Jakarta saja sudah rendah edukasinya soal jaga jarak.

Kendor akibat bosan menunggu

Saya mendaftar vaksinasi di dekat rumah dan di kantor kecamatan ini kerumunan terjadi.

Saya datang 30 menit sebelum dibuka dan sudah panjang lho antreannya.

Kemudian yang menyebalkan adalah semua tak bisa jaga jarak. Petugas pun tidak paham konsep itu dan cuma koar-koar tanpa ambil tindakan tegas.

Proses pendaftaran juga primitif. Pakai fotokopi. Entah sampai kapan cara begini masih dipakai. Abad ke 21 dan Revolusi Industri 4.0 dan kita masih pakai fotokopi untuk birokrasi ke mana-mana. Saya mengutuk kekolotan bangsa ini soal itu. Adiksi fotokopi ini sungguh menjengkelkan. Sungguh!

Kenapa tak pakai registrasi via whatsapp? Dan kenapa tak disampaikan berapa kuotanya?

Di tengah mengantre, kami diberitahu: “Maaf bapak ibu yang tidak bisa menunggu lama, bisa besok ke sini lagi.”

Alangkah baiknya diumumkan sehari vaksinasi jumlah maksimal berapa orang sehingga bisa dicegah antrean yang tak perlu. Sungguh saya tak habis pikir!!!

Ibu-ibu penyerobot

Vaksinasi juga menguak sifat asli bangsa ini yang tak suka mengantre. Semua maunya didahulukan. Kesal rasanya dengan sikap barbar begitu.

Seperti ibu ibu ini. Dia mengantre di belakang saya dan karena saya berupaya jaga jarak dengan orang di depan, dia pikir itu celah untuk menyela antrean.

Makin murkanya saya lagi ialah saat mengantre gegara saya jaga jarak dari petugas, ia selalu mendahulukan yang merapat ke arahnya. Iya itu petugas resmi vaksinasi. Paham tidak sih soal jaga jarak?

Jajan di lokasi vaksinasi

Sembari menunggu antrean, muncullah pedagang oportunis dari kelapa muda sampai pecel. Tentu saja saat menawarkan dagangan dan melayani pembeli, masker turun. Haha.

Petugas vaksinasi tapi kok ikut jajan, ngobrol dan buka masker?

Yang membikin saya tambah geli geli kepengen nabok ialah saat seorang petugas pendaftaran rehat dan membeli es kelapa muda lalu menurunkan masker, minum dan mengobrol. Haha.

Kerumunan begini memang sudah susah diatur. Petugas tak berdaya. Bisanya koar-koar pakai TOA. Tak digubris.

Keluhan utama saya adalah tata cara dan alur vaksinasi yang tak jelas. Di sini jalur arus masuk dan keluar jadi satu dengan orang yang mengantre. Jadi amburadul sekali. Petugas selalu bilang jaga jarak dan jangan berkerumun tapi bagaimana bisa jika tidak dijelaskan alur yang jelas?!

Persyaratan juga membingungkan. Ada warga datang dengan bawa salinan KK saja dan tak diperbolehkan tanpa ada salinan KTP. Padahal di pengumuman ada garis miring yang artinya ya bisa pilih salah satu salinan.

Nggak heranlah kalau ternyata memang terbawah dan terparah di peringkat ketahanan terhadap covid.
Speechless…😬

Di titik ini, saya ingin menjerit: “Kenapa sih Tuhan aku dilahirkan di sini?!!!”

Di hari kedua pasca vaksinasi perdana, saya tak merasakan demam atau pegal berlebihan di lengan kiri bekas tusukan jarum suntik.

Baru saya perhatikan memang muncul tanda lebam seperti habis dipukul.

Anehnya saya sendiri masih terus berolahraga tadi padahal kata teman, baiknya habis vaksinasi istirahat. Tapi bagaimana ya? Kalau kebanyakan istirahat juga badan jadi lesu.

Yang membuat saya tak habis pikir ialah saat menjelajahi akun Instagram pemerintah kecamatan tadi. Lho kok yang diunggah foto-foto saat antrean belum membludak dan menggila? Haha.

Sebelum antrean membludagh…
Jelas ini bukan antrean pukul 8 yang saya saksikan tadi..
Terlihat terkendali tapi cuma ilusi..

Saya tidak berkata pemerintah kecamatan tadi mencoba menipu publik tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa mereka memilih untuk menunjukkan versi kebenaran atau fakta yang menguntungkan mereka.

Dan dari sisi saya sebagai warga sasaran vaksin, saya juga berhak menjelaskan apa yang saya alami dan apa yang bisa diperbaiki lagi dari itu semua. (*/)

%d bloggers like this: