Andrea Corr on Taking a Break from Her Passion

A deeply inspirational video of the youngest of the Corrs. Too my eyes, Andrea looks a bit older, especially her eyes and some lines on the forehead. But that’s not what matters most. She is definitely more mature in terms of everything. Really like how she answered when asked about her taking break from singing, her passion that took her to the international fame.

Here’s the interview:

Anchor: “The headline saying “ I  never wanted to sing again”.Is that true?”
Andrea : “It sounds so dramatic. haha. Well you know I wanted to wait, I wanted to be really enthusiastic about it. But it wasn’t really the singing thing, it was everything that went with it. I want to, when I sang again, I wanted to have all the enthusiasm.”
Anchor: “There’s a period where you didn’t sing. How long was that?”
Andrea: “That was like when I was in France. I didn’t (sing). A year maybe. You know I did a few things.”
Anchor: “Did you miss it (singing)?”
Andrea : “(pause) Errr, no I don’t think so. You know I was brought back into it kind of just before I have got to miss it. I think sometimes you have to walk away from something to find that you need it. And I was kind of pulled back into this and doing this record has just… you know.. ignited my passion almost more than ever. So it’s been quite a turnaround.”
Such a shrewd answer she had provided!

Parodi Yoga: L o k a l

Pengantar

 

Beberapa hari lalu saya dihubungi Respect Magz untuk bekerjasama membuat event di Taman Suropati. Majalah kecil ini giat mempromosikan makanan organik sehat dan peduli pada kesejahteraan petani lokal. Ajakan itu saya sambut dengan semangat ’45 karena toh TKP, tempat kejadian perkara-nya di ruang terbuka biasa saya membuat Yoga Gembira.

 

Secara coincidence, ajakan itu seperti keinginan yang sudah saya rencanakan jauh hari sebelumnya, bahwa saya akan merayakan ulang tahun saya dengan mengajar yoga ke teman-teman komunitas Social Yoga Club di taman itu dengan mendedikasikan uang hasil donasi Susu Tante (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan) itu untuk disumbangkan ke Klinik Bumi Sehat di Ubud, Bali. Dan untuk acara itu saya akan membawa tumpeng, nasi+lauk berbentuk genung yang biasa dipakai masyarakat Jawa untuk acara slametan, tolak bala, syukuran, atau keriaan lainnya.

 

Ada tiga kata yang menarik perhatian saya yang nanti segera akan jadi tulisan parodi ini, yaitu organik, lokal dan tumpeng. Tiga kata itu kalau dipaksa-paksa dihubung-hubungkan bisa saja ada benang merahnya, tapi koq kayaknya njlimet mencari alasan filosofisnya. Dari pada njilmet dan bikin pusing saya sendiri, saya tulis Parodi Yoga ini saja. Dan, begini jadinya…

 

 

L o k a l

 

Kita sering mendengar pidoto bapak-bapak pejabat, baik yang ada di kementerian sekitar istana atau yang ada di gedung DPR, sering kali kita mendengar kalimat seperti ini: “Mari kita terus giat membangun agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”. Kalimat seperti itu akan terasa inflatif kalau kita hidup di jaman Orde Baru. Mari kita telaah kalimat pidato masif dan seragam itu.

 

Kalau kita perhatikan kata-kata dalam pidato seperti itu, sepertinya mengandung ajakan “mulia” untuk giat bekerja dan memprovokasi untuk tetap semangat. Tapi kalau diulik lebih dalam, koq aku merasa orang-orang yang berpidato itu, walaupun mempunyai jabatan prestisius dan uangnya buaaanyak benerrrr, sepertinya tidak berseri, dia masih dihinggapi perasaan minderwaldeg, kata orang Belanda, rasa rendah diri, gak pede, alias minder. Minder apa? Mungkin Anda bertanya begitu. Ya, minder karena dia kan bilang “agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”  artinya dia menilai dirinya sendiri rendah. Ini bukan masalah kerendah-hatian, humble, wong dia-dia itu udah jadi pejabat publik dan duitnya bejibun, bukan juga karena berpendidikan rendah, karena coba ajainga-inga waktu kampanye jadi calon anggota legislatif, DPR, mereka berlomba mencantumkan gelar akademiknya bederet-deret. Aku koq lebih melihat, orang-orang itu sepertinya berpikir bahwa segala sesuatu yang datangnya dari luar, yang asing, khusunya dari Barat, dianggapnya pasti hebat dan lebih unggul, sambil, nah ini dia, parahnya, memandang rendah segala sesuatu yang sifatnya lokal, karena takut dianggap kampungan.

 

Kejadian hampir sama terjadi juga di dunia peryogaan di Indonesia tercinta ini. Kita semua tahu lah, kepopuleran yoga di NKRI ini datang belakangan, dari India lewat dunia Barat, karena marak diberitakan di media bahwa para selebriti Hollywood ramai-ramai berlatih yoga. Orang-orang yoga di negeriku, tanah tumpah darahku ini, baik guru aka pemilik studio, apalagi yang cuma murid aka anggota, seperti aku ini yang anggota komunitas Yoga Gembira, silau memandang guru yoga dari luar negeri, apalagi dari India, apalagi Bule! Padahal, sekarang ini guru-guru yoga lokal gak kalah kualitasnya. Ada Olop Arpipi, guruku yang juga sudah ngajar di luar negeri. Ada kawan baikku, Koko Yoga yang waktu di acara Yoga In The Park di Central Park bikin kawan Akhlis Purnomo bilang, jaw dropping, terbengong-bengong kagum lihat koreografi yoganya. Dengan kata lain, guru-guru yoga lokal gak kalahlah. Guru yoga lokal seperti juga buah-buahan lokal, pepaya, pisang, mangga, jambu yang dibawa dari Pasar Minggu dan di Kota banyak pembelinya, yaa, seperti lagu itu, gak kalah kandungan gizinya, bahkan karena sumbernya dekat, gak perlu shipping yang makan waktu, kadang buah lokal lebih fresh, dan yang pasti gak pake wax, lilin biar gak dimakan rayap dan lebih mengkilap.

 

Banyak dari kita mencari-cari, bahkan rela menghabiskan uang puluhan juta untuk berguru jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk merasakan belajar langsung dari guru besar, guru ngetop. India adalah negar yg jadi DTW, daerah tujuan wisata utama bagi praktisi yoga ini. Sementara kalau duitnya sedikit kurang banyak, menunggu-nunggu workshop yang diajar oleh orang asing, guru import. Ada kebanggan sendiri kalau pernah belajar sama orang asing. Gengsi pun akan naik. Lumayan buat dicantumin di CV buat nglamar ngajar di studio-studio yoga. Asyik juga bisa foto bareng guru-guruimport untuk kemudian diupload di facebook atau twitter. Dan, studio-studio yoga pun menajwab keinginan dan animo pratisi yoga yang sedang bergairah dengan rajin membuat workshop atau teacher traning guru bule.

 

Sedang asyik aku mengomentari kelakuan praktisi yoga lokal ini, eh suara dari dalam hati ini yang emang suka nyinyir, menimpali: “Bukannya eloe pernah begitu juga mas. Kan eloe pernah ke India juga. Pernah juga loe takjub, pake nyembah-nyembah ke guruloe di India itu? Mikir dulu lah loe, mas, jangan asal njeplak ngomongloe…”. Segera aku tersadar, dan kubilang dengan tersipu: “Ah eloe, masih inget aja…hehe….” , kemudian kutambahkan : “Yaaa… itu periode gue masih di alam mimpi yang berjalan-jalan…, masih perlu guru-guru idola. Ah eloe mbuka aib gue aja…”. Kujawab begitu, yang di dalam hati ini nyolot, “Ah, gak ngerti apa omonganloe mas, tapi, selain ke India, kan eloe mas pernah juga belajar ke negara-negara barat, ke guru-guru bule, muna’ loe mas!”.

 

Sebenarnya kalau dipikir, dalam hal spiritual, dimana yoga ada di dalamnya, Indonesia ini dahsyat juga, bahkan sejak jaman dulu. Ketika jaman Sriwijaya, guru-guru Tibetan Buddhist, kaya guru-gurunya Dalai Lama pernah ngangsu kawruh, belajar ke wilayah NKRI ini. Aliran kejawen, salah satu “agama asli” suku-suku Indonesia banyak ajarannya yang dengan filosofi yoga, demikian juga, mungkin, locals wisdom dari suku-suku tradisi di Indonesia lainnya, suku-suku di pedalaman yang sangat erat dan selaras hidupnya dengan alam, itu kan udah yogi….

 

Walaupun mungkin namanya bukan yoga, tapi dari cerita orang tuaku, tujuh generasi di atasku sudah mempraktekkan yoga, Mereka, selain olah fisik, semacam silat jawa, beberapa gerakkannya banyak yang mirip asana, juga latihan-latihan olah nafasnya, mirip bener sama pranayama dalam yoga. Belum lagi laku batin dengan aneka macam dan jenis  puasanya, bertapa yang mirip retret, semedhi, itu seperti meditasi. Keluargaku nglakoni semua itu. Yaaa itu kupikir seperti jalan yoga, dari Raja Yoga, Bhakti Yoga, atau Karma Yoga juga. “….tapi mas, koq yogaloe gak oke ah mas, kalah lentur sama mas Lentur Akhlis, mas?”, timpal suara dari dalam. “Yaaa loe lagigue kan keturunan kedelapan”, jawabku menirukan iklan XL menjelang Lebaran kemarin…

 

 

 

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga


Parodi Yoga: L o k a l

Pengantar

 

Beberapa hari lalu saya dihubungi Respect Magz untuk bekerjasama membuat event di Taman Suropati. Majalah kecil ini giat mempromosikan makanan organik sehat dan peduli pada kesejahteraan petani lokal. Ajakan itu saya sambut dengan semangat ’45 karena toh TKP, tempat kejadian perkara-nya di ruang terbuka biasa saya membuat Yoga Gembira.

 

Secara coincidence, ajakan itu seperti keinginan yang sudah saya rencanakan jauh hari sebelumnya, bahwa saya akan merayakan ulang tahun saya dengan mengajar yoga ke teman-teman komunitas Social Yoga Club di taman itu dengan mendedikasikan uang hasil donasi Susu Tante (Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan) itu untuk disumbangkan ke Klinik Bumi Sehat di Ubud, Bali. Dan untuk acara itu saya akan membawa tumpeng, nasi+lauk berbentuk genung yang biasa dipakai masyarakat Jawa untuk acara slametan, tolak bala, syukuran, atau keriaan lainnya.

 

Ada tiga kata yang menarik perhatian saya yang nanti segera akan jadi tulisan parodi ini, yaitu organik, lokal dan tumpeng. Tiga kata itu kalau dipaksa-paksa dihubung-hubungkan bisa saja ada benang merahnya, tapi koq kayaknya njlimet mencari alasan filosofisnya. Dari pada njilmet dan bikin pusing saya sendiri, saya tulis Parodi Yoga ini saja. Dan, begini jadinya…

 

 

L o k a l

 

Kita sering mendengar pidoto bapak-bapak pejabat, baik yang ada di kementerian sekitar istana atau yang ada di gedung DPR, sering kali kita mendengar kalimat seperti ini: “Mari kita terus giat membangun agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”. Kalimat seperti itu akan terasa inflatif kalau kita hidup di jaman Orde Baru. Mari kita telaah kalimat pidato masif dan seragam itu.

 

Kalau kita perhatikan kata-kata dalam pidato seperti itu, sepertinya mengandung ajakan “mulia” untuk giat bekerja dan memprovokasi untuk tetap semangat. Tapi kalau diulik lebih dalam, koq aku merasa orang-orang yang berpidato itu, walaupun mempunyai jabatan prestisius dan uangnya buaaanyak benerrrr, sepertinya tidak berseri, dia masih dihinggapi perasaan minderwaldeg, kata orang Belanda, rasa rendah diri, gak pede, alias minder. Minder apa? Mungkin Anda bertanya begitu. Ya, minder karena dia kan bilang “agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa yang maju….”  artinya dia menilai dirinya sendiri rendah. Ini bukan masalah kerendah-hatian, humble, wong dia-dia itu udah jadi pejabat publik dan duitnya bejibun, bukan juga karena berpendidikan rendah, karena coba ajainga-inga waktu kampanye jadi calon anggota legislatif, DPR, mereka berlomba mencantumkan gelar akademiknya bederet-deret. Aku koq lebih melihat, orang-orang itu sepertinya berpikir bahwa segala sesuatu yang datangnya dari luar, yang asing, khusunya dari Barat, dianggapnya pasti hebat dan lebih unggul, sambil, nah ini dia, parahnya, memandang rendah segala sesuatu yang sifatnya lokal, karena takut dianggap kampungan.

 

Kejadian hampir sama terjadi juga di dunia peryogaan di Indonesia tercinta ini. Kita semua tahu lah, kepopuleran yoga di NKRI ini datang belakangan, dari India lewat dunia Barat, karena marak diberitakan di media bahwa para selebriti Hollywood ramai-ramai berlatih yoga. Orang-orang yoga di negeriku, tanah tumpah darahku ini, baik guru aka pemilik studio, apalagi yang cuma murid aka anggota, seperti aku ini yang anggota komunitas Yoga Gembira, silau memandang guru yoga dari luar negeri, apalagi dari India, apalagi Bule! Padahal, sekarang ini guru-guru yoga lokal gak kalah kualitasnya. Ada Olop Arpipi, guruku yang juga sudah ngajar di luar negeri. Ada kawan baikku, Koko Yoga yang waktu di acara Yoga In The Park di Central Park bikin kawan Akhlis Purnomo bilang, jaw dropping, terbengong-bengong kagum lihat koreografi yoganya. Dengan kata lain, guru-guru yoga lokal gak kalahlah. Guru yoga lokal seperti juga buah-buahan lokal, pepaya, pisang, mangga, jambu yang dibawa dari Pasar Minggu dan di Kota banyak pembelinya, yaa, seperti lagu itu, gak kalah kandungan gizinya, bahkan karena sumbernya dekat, gak perlu shipping yang makan waktu, kadang buah lokal lebih fresh, dan yang pasti gak pake wax, lilin biar gak dimakan rayap dan lebih mengkilap.

 

Banyak dari kita mencari-cari, bahkan rela menghabiskan uang puluhan juta untuk berguru jauh-jauh ke luar negeri hanya untuk merasakan belajar langsung dari guru besar, guru ngetop. India adalah negar yg jadi DTW, daerah tujuan wisata utama bagi praktisi yoga ini. Sementara kalau duitnya sedikit kurang banyak, menunggu-nunggu workshop yang diajar oleh orang asing, guru import. Ada kebanggan sendiri kalau pernah belajar sama orang asing. Gengsi pun akan naik. Lumayan buat dicantumin di CV buat nglamar ngajar di studio-studio yoga. Asyik juga bisa foto bareng guru-guruimport untuk kemudian diupload di facebook atau twitter. Dan, studio-studio yoga pun menajwab keinginan dan animo pratisi yoga yang sedang bergairah dengan rajin membuat workshop atau teacher traning guru bule.

 

Sedang asyik aku mengomentari kelakuan praktisi yoga lokal ini, eh suara dari dalam hati ini yang emang suka nyinyir, menimpali: “Bukannya eloe pernah begitu juga mas. Kan eloe pernah ke India juga. Pernah juga loe takjub, pake nyembah-nyembah ke guruloe di India itu? Mikir dulu lah loe, mas, jangan asal njeplak ngomongloe…”. Segera aku tersadar, dan kubilang dengan tersipu: “Ah eloe, masih inget aja…hehe….” , kemudian kutambahkan : “Yaaa… itu periode gue masih di alam mimpi yang berjalan-jalan…, masih perlu guru-guru idola. Ah eloe mbuka aib gue aja…”. Kujawab begitu, yang di dalam hati ini nyolot, “Ah, gak ngerti apa omonganloe mas, tapi, selain ke India, kan eloe mas pernah juga belajar ke negara-negara barat, ke guru-guru bule, muna’ loe mas!”.

 

Sebenarnya kalau dipikir, dalam hal spiritual, dimana yoga ada di dalamnya, Indonesia ini dahsyat juga, bahkan sejak jaman dulu. Ketika jaman Sriwijaya, guru-guru Tibetan Buddhist, kaya guru-gurunya Dalai Lama pernah ngangsu kawruh, belajar ke wilayah NKRI ini. Aliran kejawen, salah satu “agama asli” suku-suku Indonesia banyak ajarannya yang dengan filosofi yoga, demikian juga, mungkin, locals wisdom dari suku-suku tradisi di Indonesia lainnya, suku-suku di pedalaman yang sangat erat dan selaras hidupnya dengan alam, itu kan udah yogi….

 

Walaupun mungkin namanya bukan yoga, tapi dari cerita orang tuaku, tujuh generasi di atasku sudah mempraktekkan yoga, Mereka, selain olah fisik, semacam silat jawa, beberapa gerakkannya banyak yang mirip asana, juga latihan-latihan olah nafasnya, mirip bener sama pranayama dalam yoga. Belum lagi laku batin dengan aneka macam dan jenis  puasanya, bertapa yang mirip retret, semedhi, itu seperti meditasi. Keluargaku nglakoni semua itu. Yaaa itu kupikir seperti jalan yoga, dari Raja Yoga, Bhakti Yoga, atau Karma Yoga juga. “….tapi mas, koq yogaloe gak oke ah mas, kalah lentur sama mas Lentur Akhlis, mas?”, timpal suara dari dalam. “Yaaa loe lagigue kan keturunan kedelapan”, jawabku menirukan iklan XL menjelang Lebaran kemarin…

 

 

 

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga

Happy Birthday to Myself!


Carla, the short-haired seasoned art contributor of the Jakarta Post I saw today. She's been to Venice, Paris, just to cover arts.

The great day is today, October 27th 2011. No words can exactly depict my gratitude to God. It’s my birthday.

I started my day around 5.15 today. Slightly chilly, no wonder it was raining in torrents last night. Not as usual, after subuh/ early morning  prayer, I suddenly had an urge to grade the students’ papers. I should’ve gotten it done months ago, but well.. every weekend it seems my brain can’t handle demanding tasks. Need to take a break, seriously. No, don’t get me wrong. I love my job but when you do the same things repeatedly, boredom strikes and that sounds pretty normal. You’re no machine.

Juggling between two jobs is definitely a challenge. Getting richer? For sure. Getting wary? Don’t ask.

Carla taking pictures.

And the morning ritual proceeded. This time I started my morning yoga session late, around 6.40 am. But better late than never. I didn’t sweat a lot this morning. Perhaps it’s because of the cool air. In the meantime, several texts arrived in my message inbox,congratulating me on my 28th birthday. Oddly, none of these texters’ numbers is familiar to me.

FYI, I deleted my actual date of birth on Facebook only to learn how many people remember my birthday WITHOUT the help of Facebook’s reminder. And I’m glad some still congratulated even my birthday wasn’t on the alert. Technology is great but it’s not when it comes to personal feelings. You can’t automate sincerity, care, or gratitude.

Then the routine continued, getting myself prepared to go to the office, with all my properties in the backpack. “Never leave anything precious in the vacant rented room in Jakarta” is one of the best lesson learned after a case of burglar last few months.

Stepping my feet on the office at 08.27, I rushed into the prayer room. Dhuha prayer was done and copywrote some articles before my late breakfast around 10.10. The breakfast was my old style meal: oatmeal, honey, and 2 apples.

While peeling the apples, a coworker named D came into the pantry. And suddenly we were discussing about foods, health, and I found myself preaching about balance, why people don’t have to stick too much to a strict diet to get healthy. Cheating may sometimes be needed to stick to what we want to achieve in the long run. Eating mindfully is what is great to the body and mind-controlling works best when it comes to curbing ‘evil’ appetite.

Split headstand, a pose I used to think very challenging months ago. I think yoga is for me.

As I realized we talked too much, I got back upstairs, only to be told I had to go to the gallery. “A press conference you need to attend,” the m*d*s* said. There I went.

It turned out a tour in the gallery for some journalists invited. It was a tour and because there was no one appointed a tour leader, everyone seemed scattered every where they wanted. It fell apart, to me. Too few people came as well for an art exhibition this huge.

What  I will remember most about today is the conversation I heard between Clara, an experienced art contributor I several times spotted here, and the art center director. In short, she opened my eyes about how vast the potential of becoming a writer and a traveller. So it popped out on my mind, “Someday I’ll follow her track, going around the globe and writing every single thing I see on the trip.” I want to follow the passion yet the fear holds me back.

I tweeted last Wednesday an idea of backpacking, learning yoga and writing a book at the same time. Iwan Setyawan replied , saying that was a great idea. He suggested me to Mysore, India. It turned out Shri K. Patthabi Jois’ yoga sanctuary. Jois is a yogi , a guru so renowned for his ashtanga yoga teachings. I clicked on the link Iwan gave (kpjayi.org) and randomly combed the photos of young Jois doing yoga. Clearly stated by the pictures, yoga is for slim, flexible people hardly having flesh like ..me? And yes I think so. Everyone has their own propensity and limitation. To me, I can’t be as muscular as the bodybuilders but I later concluded that this body frame is what some people are looking for! They’re dying night and day only to be as thin and flexible as me. So be grateful please, Akhlis!

Speaking about passion and the challenges arising after deciding to follow it, I recall Soegianto. This 30-year-young man  really hit the bull’s eye. I talked with him for one and a half hour for an interview we arranged a week before. What stunned me is the fact that this seemingly mild-mannered guy can go as outspoken as one can be when it comes to explaining his passion, his startup: Sedapur. A man with a load of noble missions and visions. Interesting and aspiring.

And recently I listen to Shania Twain’s songs again after a while. This song below is titled “Today is your day”, pretty much her personal story about how to weather a devastating betrayal. As for me, today is my day too. Because I get tired of setting goals, let me simplify how I want to be remembered when I someday die:

“An obituary of MYSELF”

I ……………………………………..

 

 

 

 

Yoga Peduli Bangsa

 Social Yoga Club

                                                       A Club for Young at Heart

                                        Independen – Terbuka – Toleran – Kultural 

                                                       (www.socialyogaclub.com)

 

                                                             Bekerjasama dengan

 

                                                                Respect Magazine

 

                                                                 M e n g a d a k a n

 

                                                      Yoga Gembira Peduli Bangsa  

 

 

Marilah kita upayakan fit tubuh, pikiran, dan jiwa kita dengan mengikuti latihan yoga gembira ini sebagai upaya untuk menjaga kesehatan sekaligus sebagai sarana untuk merayakan kebersamaan dan merawat pluralisme, sekalian untuk meningkatkan kesetiakawanan sosial.  Setelah berlatih yoga bersama, akan diikuti dengan diskusi konsumen. Karena itu, marilah BerYoga, BerGembira, BerIlmu, dan BerAmal.

 

 

Tempat               : Taman Suropati

 

Waktu                : Minggu, 30 Oktober 2011, pukul 06.30 s.d. 11.00

 

Instuktur          : yudhi widdyantoro

 

Diskusi               : “Good Food for A Great Life”

  1.                         –  Husna Zahir (Direktur YLKI)
  2.                         – Tejo Wahyu Jatmiko (Editor in Chief Respect)

 

Hidangan           : Tumpengan dan Jajan Pasar Tradisional

 

Donasi               : Sumbangan Sukarela Tanpa Tekanan (Susu Tante)

 

 

Sebagai wujud dari kepedulian kami pada masalah pendidikan dan kesehatan, donasi Anda pada acara ini akan disumbangkan untuk maksud dan tujuan kemanusiaan. Bagi yang tidak sempat berlatih tapi ingin menyumbang, dapat ditranfer ke rekening Social Yoga Club yaitu BCA no: 3423109927a.n. Yudhi Widdyantoro.

 

 

Atas Nama Social Yoga Club 

Yudhi, Metta, dan Akhlis

 

Catatan: Harap membawa tumbler/minuman sendiri dan tidak mengotori taman!

 

Keterangan lebuh lanjut bisa hubungi:  

Yudhi: +62818859561(sms saja) 

Metta: +62811888081

Akhlis: +085641960955

 

———————————————————————————————-

 

 

Diskusi Konsumen “Good Food For A Great Life”

 

Teman-teman yang baik,

 

“Let your food be your medicine and medicine be your food.” Hipocrates 

 

Bagaimana hubungan makanan kita dengan kesehatan tubuh kita? Lalu apa hubungan antara pangan lokal dengan kesejahteraan para petani di desa?

Menjadi konsumen di negara  dengan kekayaan pangan lokal yang sangat beragam, sedikitnya  ada 77 jenis sumber karbohidrat, 75 jenis sumber lemak, 26 jenis kacang-kacangan, 89 jenis buah-buahan, 232 jenis sayuran dan lainnya ternyata belum dinikmati secara maksimal. Pangan lokal, yang diproduksi dengan teknik ramah lingkungan oleh para produsen kecil dengan sepenuh hati bisa menjadi pilihan di tengah berbagai masalah kesehatan, lingkungan dan ekonomi yang ada.

Respect Magazine mengundang rekan-rekan untuk berdiskusi sambil berpiknik dan menikmati suasana di taman kota. Sebelum berdiskusi, kami juga mengajak kawan-kawan untuk mengenal yoga bersama kawan-kawan dari Komunitas Yoga Gembira.

Pembicara:

1.     Huzna Zahir, Direktur Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia.

2.     Tejo Wahyu Jatmiko, Aliansi Desa Sejahtera/Editor In Chief Respect Magz.

 

Hari/Tanggal       : Minggu, 30 Oktober 2011

Waktu                   : 06.30 – 11.00

Tempat                : Taman Suropati, Jalan Diponegoro

 

Acara:

Yoga Gembira (Harap membawa alas masing-masing berupa tikar/handuk/karpet)

Diskusi Konsumen

Makan Bersama

 

Mengingat tempat yang terbatas, dimohon untuk melakukan konfirmasi dengan mengirimkan data diri berupa nama, alamat, no telepon dan account Facebook atau Twitter ke respectmagz@gmail.com. Sampai bertemu di hari Minggu pagi!

 

Salam hangat,

 

 

Respect Magazine

Me,Scorpio, and scorpion

Yanti Warso taught me this afternoon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hari Yoga Nasional

Di Minggu pagi yang cerah, pada 9 Oktober 2011, saya mengikuti acara Yoga In The Park di Central Park, Jakarta Barat. Acara itu dibuat oleh Celebrity Fitness (selanjutnya disingkat Celfit) atas gagasan salah seorang guru yoga-nya: Koko Yoga. Sejak pukul 6:15 peserta sudah mulai menggelar matras yoga yang mereka bawa di area taman yang telah ditutupi oleh carpet hijau. Beberapa orang saya sudah mengenal, namun lebih banyak yang baru hari itu saya berjumpa. Dalam publikasi, acara dimulai dari pukul 07:00 sampai 10:00. Setelah sambutan “Selamat Datang” dari country manager Celfit, juga dari guru paling senior, Slamet Riyanto yang dijuluki “Papa Yoga” serta acara seremonial lainnya, acara dimulai dengan penampilan demo yoga berupa rangkaian gerakan-gerakan yoga yang relatif sulit bagi orang awam dalam suatu koreografi indah yang mengalir seirama musik, dibawakan oleh Zilvia, Koko dan Ana selama tujuh menit. Acara latihan bersama yang dipandu oleh guru-guru yoga Celfit ada tiga babak. Masing-masing babak, di panggung berdiri tiga orang guru. Babak pertama, selama 50 menit dengan dipimpin oleh Uci yang didampingi oleh dua orang guru yang lainnya, melakukan pose-pose yang gentle mengalir, tapi bertenaga. 60 menit lebih berikutnya, atau babak kedua adalah kelas yang boleh dibilang hard core, keras makin bertenaga, dipimpin oleh Koko dengan didampingi oleh Zilvia dan Ana di kiri-kanan-nya. Hampir seperti pada demo yoga di awal acara, pose yoga yang dipraktikkan di sini memerlukan keterampilan dan pengalaman.

Babak ketiga Dicky, Uci dan satu orang guru dari Celfit Bandung memimpin latihan sesi yang di olah raga umumnya semacam pindinginan, atau restorative yoga. Lama latihan ini 30 menit, ditambah dengan 10 menit untuk savasana serta meditasi singkat sebagai penutup, plus mantra “loka samasta sukhino bavantu”, semoga semua hidup berbahagia. Latihan yoga bersama berakhir di babak ketiga ini. Selanjutnya adalah kembali ke acara seremonial Celfit, ada pemilihan peserta paling heboh: heboh berpakaiannya, heboh semangatnya. Kesan saya pada acara pagi itu membuat saya cukup terharu, karena beberapa hal. Pertama, acara itu dihadiri oleh 300 orang. Sepanjang pengetahuan saya, ini adalah acara latihan yoga bersama pertama di Indonesia yang diikuti peserta paling banyak. Yang tak kalah pentingnya, persebaran asal peserta adalah representasi dari lima wilayah di DKI Jakarta dimana ada cabang Celfit. Bukan hanya dari ibu kota, tapi ada juga yang datang dari Bogor dan Bandung. Saya sempat berangan, seandainya Jaya Suprana hadir, mungkin dia akan mencatatkan dalam rekor MURI. Hal lain yang membuat saya terharu adalah bahwa latihan yoga bersama bisa menjadi sarana untuk menyatukan warga kota di dalam kegiatan yang jauh dari violence, bahkan malah menjadi ajang untuk menambah kawan dan meluaskan persaudaraan. Di acara ini akan terlihat keragaman peserta: dari asal tempat latihan; usia, suku bangsa, agama, ras, status sosial dan ekonomi. Walaupun mayoritas peserta adalah praktisi yoga yang adalah juga members Celfit, tetapi karena terbuka untuk umum, datang juga praktisi dari fitness center lain: Fitness First, Gold Gym, atau juga kelompok berlatih lainnya, seperti Gudang Gambar, Komunitas Yoga Gembira Taman Suropati, atau juga pribadi-pribadi. Dari pengalaman berlatih dan kemampuan mengikuti pose yoga yang dipraktikkan hari itu akan terlihat juga keragaman. Ada yang baru hari itu mulai berlatih, ada juga yang sudah hitungan tahun, bahkan mungkin sudah mengajar. Dari praktisi atau pengajar yoga yang saya kenal, memperlihatkan juga keragaman style atau aliran dalam yoga. Memang tidak semua style atau aliran dalam yoga yang saya tahu. Dan memang juga tidak semua guru yoga di Jakarta yang datang ikut berlatih, mungkin karena ada ketentuan dari guru style yang mereka praktikkan untuk tidak mencoba-coba style lain selain style yang biasa meraka lakukan, mungkin ada guru yang sedang mengajar, mungkin juga ada guru yang masih tidur, di gereja, di pengajian, atau rumah-rumah ibdah lainnya, mungkin ada juga guru yoga yang berpraktik sabath, tidak melakukan aktifitas apapaun di hari Minggu. Mungkin ada juga guru yoga yang enggan bergabung karena mencurigai adanya motif menarik keuntungan bisnis dibalik event itu. Tapi marilah kita singkirkan prasangka, kemungkinan dan pengandaian-pengandaian itu, karena faktannya adalah acara Yoga In The Park itu seperti mengingatkan dan sekaligus mengembalikan makna arti kata yoga itu sendiri: Union! Menyatukan. Selain itu, berlatih Yoga di Taman secara bersama, seperti ingin memberi tahu ke khalayak ramai, atau bahkan birokrat para pengambil keputusan akan pentingnya pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) untuk aktifitas warga kota. Ada gerakan mendekatkan dan kembali ke alam. Fakta yang lain, adalah jumlah peserta latihan bersama yang 300 orang adalah bukan angka yang sedikit. Hari Yoga Nasional Sehari sebelum acara itu, tepatnya Sabtu, 8 Oktober 2011, saya bersama Koko Yoga diminta memberi workshop Yin Yang Yoga di Bandung. Salah satu peserta adalah ketua KONI Bandung. KONI adalah payung organisasi yang menaungi berbagai cabang olah raga di tanah air. Dalam salah satu kesempatan di sela-sela acara itu, bapak ketua KONI Bandung itu bertanya pada saya, apakah di yoga sudah ada asosiasi atau induk organisasi yang seharusnya masuk dalam koordinasi KONI. Atas pertanyaan itu, saya sempat termenung dan berpikir sekejap. Sepanjang pengetahuan saya organisasi atau asosiasi yang mewadahi berbagai style yoga di Indonesia belum ada. Saya berpikir, kalau saja para praktisi yoga di Indonesia ini akan membuat wadah, mungkin saja diperlukan, tapi mungkin juga tidak. Saya tidak terlalu mempersoalkan perlunya sebuah wadah tunggal organisasi yoga. Tapi yang saya mau katakan, adalah bahwa fakta-fakta di atas yang terjadi pada event Yoga In The Park pada 9 Oktober 2011 bisa menjadi titimangsa, penanda waktu untuk menjadikan atau mengusulkan tanggal itu sebagai Hari Yoga Nasional, kelak. Dan kalau saja kelak ada Asosiasi Yoga Indonesia (AYI), wadah berlumpul praktisi yoga, saya mengusulkan Slamet “Papa Yoga” Riyanto menjadi Ketua Umum dan Koko Yoga sebagai Sekretaris Jendral-nya, dua-duanya guru yoga dari Celfit, selain karena kapasitas dan kapabilitasnya, juga sebagai penghormatan atas dedikasinya membuat acara itu berlangsung. Dan kalau perlu keragaman, saya mengusulkan Metta Anggriani dan Akhlis Purnomo, penggiat di Social Yoga Club menjadi Bendahara atau Wakil Sekjen. Anyway, walaupun acara itu bisa dibilang sangat sukses, tapi seperti kata pepatah tiada gading yang tak retak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika kelak acara seperti itu akan dibuat lagi…. . kurang diarahkan untuk tidak membuang sampah sembarangan. . tidak tersedianya tempat-tempat sampah yang menyebar . kurang volunteer untuk memungut/menjemput sampah . kurang atensi dari guru-guru yoga yang lain untuk memberi adjustment/memperbaiki.

Salam, Namaste,

yudhi widdyantoro

Pengecer Jasa Yoga

Calvin Kizana and His Failure Story

To begin with, I met with this glasses guy Calvin Kizana a few months ago at (as my memory serves right) “BizConnect”, one of entrepreneurial events in the capital that I can hardly remember thanks to the multitude number. We did exchange business cards but I bet he forgets me and my face already (that’s why I always think we should enclose our recent photo on the business card! Our brain memorizes better with pictures).

To cut the long story short, here I saw him again at INAICTA 2011, the overly-hyped tech event where the government, business folks, academicians, entrepreneur hopefuls, and journalists or bloggers like me. This time Calvin shared his failure story. Yes, neither he nor I typed it wrong. It’s FAILURE, instead of SUCCESS.

But that wasn’t what surprised me after all. I got more impressed by this guy’s creativity when he showcased his presentation slides. Bid farewell to the neatly arranged power point presentation with everywhere-to-find fonts and artclips. He pleaded ‘guilty’ for not preparing a decent presentation and only having a little time to get this all ready but, hey man, you made it! The handwriting of the entrepreneur may not be the best in the world but TO ME, he simply managed to show what creativity means, in every possible way. The presentation embodies it almost perfectly.

As a kickoff of the 15-minute presentation, Calvin extolled his being a graduate of a LOCAL university, Bina Nusantara University. I have no idea why he had to write it in capital but my hunch is he tried to raise proud of being part of Indonesia.

Calvin’s first salary was only Rp. 300.000 (I would kill to know how much his salary is now, not literally please). He started by working as a freelancer. In the first phase of  his career, Calvin had to work as a tech support staff, writer, multimedia developer. He aimed to work for Apple.  The rest is on the picture below.

Why he failed

Calvin founded two startups, yet failed completely owing to poor financial planning. And that prompted a question on my mind, “Did he back then have a female business partner or co-founder or some sort?” I’m not being sexist but I heard once  female entrepreneurs have better skills when it comes to money. They  might be notoriously spending more than males for outfits or stilettos or purses or pans but they can ‘choke you to death’ if you spend more than what you should as stated and agreed on the financial plans. The second reason of the downfall is of course the financial crisis in 1997.And the third is lack of knowledge in setting up a company.

Never take the plunge with head first

Calvin highlighted that in spite of having the most brilliant business ideas on the planet and capital, don’t ever think of getting into a market  before you make sure there are potential customers out there who are in need of the solution that your product or service offers. Most importantly, Calvin added, there needs to be a supportive ecosystem. How so? So your product or service can be sustained in the long run. A point to ponder for the blindly optimistic hopefuls with an I-am-failure-proof attitude.

In 2002, Calvin dealt with a dilemma that every one of us I’m pretty sure can relate to quite easily. He had to choose whether he’d climb a career ladder in someone else’s company or found his own startup. Needless to say, we know the answer. He began bootstrapping from ground ZERO (I typed as it is).  Calvin explained he chose the latter option as he hates being told what to do by bossy bosses (redundant? I don’t think so, because few bosses aren’t bossy).

By bootstrapping, it meant Calvin had to gather capital on his own. Somehow he got IDR 30 million, which seemed to involve him selling a pickup van (correct me if I’m wrong but he drew a picture of one there). In the same year (2002), even though the startup didn’t look impressive just yet, it at the very least moved forward. It got some web-based projects and multimedia/ interactive ones. All of these were outsourcing projects. The story went on and it headed to mobile industry.

Luck Sucks

Yes, it does, particularly when you started something earlier and then others adopted your idea. Later on , you found your idea and business sinking or going nowhere but they keep growing like hell and gain global fame.

I don’t know how it feels but Calvin exactly knows and still feels the fresh pain of it as if he just experienced it a moment ago. He lamented the fact that his user-generated content  site built back then for Nokia users in 2002 didn’t end up being as famous as Youtube, even though the two had a relatively similar concept (showcasing photos and videos generated by users).

In 2006, Calvin’s startup went global as it became a foreign investment company. He stated it’s a collaboration amongst investors from 6 different countries, i.e. Indonesia, Singapore, Malaysia, Vietnam, Thailand, and the United States.

Marriage =  Business partnership

God, if I had a dime every time I hear this!  Almost every entrepreneur I’ve seen who talked about business partnership likens it to marriage or courting/ dating. And because Calvin’s startup involves different nations, I suppose he should’ve likened it to an inter-racial, multinational polygamous marriage.

As one enters a phase of partnership, there’re three things Calvin thinks an entrepreneur ought to hold on to:

  • Maintain expectations,
  • Establish open communication, and
  • Have a clear vision and mission.

In 2006-2008, Calvin once again learned the lessons the hard way. The company failed in China market, launching some mobile services and securing some big projects.

Lessons to learn? He warned us not to take too much pride of our skill sets. Also, he advised that we understand the market in detail (underlined as it is).

No education gets wasted  

Unless you’re Michael Dell, Bill Gates or the late Steve Jobs, dropping out is the last decision you have to make these days.  Embrace the fact that people may not consider your majestic academic title highly as they did but still you know what counts most: experience,  knowledge and wisdom.

Calvin still had the urge to earn an MBA in spite of having become a somewhat seasoned entrepreneur in 2006. This time, unlike his undergraduate days which took him 6 years to complete, he said in a proud tone that he managed to end the formal academic pursuit within 2 years. A lesson to learn?  Multitasking is overrated. If you really want to get something done faster the way you want, you have to pour most of your hard work, time and energy into it.

He also pointed out that formal education enabled him to study other disciplines more intensively. They are , for example,  management, finance, accounting, legal, etc (which are extremely required to run a company properly).

From 2009 on, he set new directions: products (Game machi and Menoo!) and services (Ponsel planet, Solid Worx, Digital Agency, and mobile apps development). Hereby he finally declared to have his own products.

To conclude…

You may have learned several above but let me summarize them for you in a few lines:

  • Success doesn’t happen overnight: Even this messy capital Jakarta wasn’t built in a day. What I’m trying to say is that even creating a chaos takes time! So be patient and consistent. Tricky shortcuts never work if your aim is to build a sustainable business.
  • Pursue your dream: Focus shifts distract you from your objectives. Look at a magnifying glass. Be a convex lens that gathers sunrays into a single spot and burns things faster than a concave one.
  • Be sharp in finding opportunities: Exploiting the existing opportunities is easy. Finding existing yet hidden opportunities is hard. And in my opinion,  creating opportunities as well as creating a new market and niche proves to be the most challenging of all. I recalled how the idea of Marty Cooper, the inventor of cell phone, got turned down. No one needed a cordless phone, someone said to him. Phone booths were almost anywhere to find after all! Yet he went on and successfully created and launched the first cell phone. And look at how many business opportunities arise after that. And the market wasn’t there! No one felt like they needed to call on their way home or to call only to ask what groceries you thought your wife wanted you to buy while you were at a supermarket. But once the cell phone appeared  in stores, the demand gradually surged. (I think I’m rambling)
  • Set a clear vision and a business plan: A business plan in hand is always useful, either to potential investors or partners (or customers?).
  • Understand basic finance, legal and accounting: Even we’re not a genius with a set of magnificent talents, still the understanding of non-technical fields is to a certain extent needed. Calvin is a confirmed geek but it had dawned on him that studying things other than computer science is equally important. Learn as many things as we can though they seem irrelevant to our interests. Be open minded. We’ll never know when we need it in the future.

Sorry guys, it turns out  ‘a few lines’ became ’ many lines’.

Undangan Yoga dan Meditasi Bulan Purnama 9 Oktober 2011 (Sore Setelah dari Central Park)

Sahabat pencinta damai,

Ini adalah undangan untuk Full Moon Meditation (Meditasi Lintas Agama) terbuka bagi semua yang ingin mengupayakan damai; baik bagi diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas tanpa membedakan agama, golongan atau label lain.

Full Moon Meditation, bertujuan untuk terus menjaga agar kita senantiasa dalam keadaan sadar sepenuhnya, sehingga mampu membangun dan menjaga kedamaian di dalam maupun diluar diri kita dengan melakukan meditasi bersama, setiap bulan purnama.

Full Moon Meditation bulan Oktober akan diselenggarakan  pada hari Minggu, 9 Oktober 2011 jam 19.00 hingga 20.30 WIB d rumah sdr. Maman, Jalan Bangka Raya 20, Kemang, Jakarta Selatan (antara Jalan Bangka XI dan Jalan Bangka IX, deket resto D’Spice ex Pasir Putih).

Bulan ini akan ada tambahan acara Yoga Gembira (bayar sukarela), yang dipimpin oleh Yudhi Widdyantoro, dari Social Yoga Club bersama Komunitas Yoga in The Park Taman Suropati pada jam 16.00.

Meditasi ini juga dapat diikuti dari jarak jauh; yaitu dengan menyelenggarakan kegitatan ini di rumah/daerah masing-masing pada waktu yang sama. Peserta dapat memberitahukan penanggungjawab masing-masing kegiatan untuk koordinasi dan penyebarluasan berita.

Marilah kita sebarkan energi damai bagi semua. Tanpa diskriminasi.

—————————————————

Dear Peace Makers,

This is an invitation to join a non-sectarian and non-denominational Full Moon Meditation.

The Full Moon Meditation aims to maintain mindfulness, equanimity and peace within and outside each of us by meditating together on every full moon.

This month, the Meditation will be held on Sunday, October 9, 2011 at 7.00 PM to 8.30 PM at Maman’s residence, Jalan Bangka Raya 20, Kemang, Jakarta Selatan (between Jalan Bangka XI dan Jalan Bangka IX, a few doors from D’Spice restaurant ).

We have an additional program prior to the meditation: Starting at 4.00 pm, Yudhi Widdyantoro will lead a yoga session (donation) in the green garden.

You could join full moon meditation in your neighborhood, from anywhere, during every full moon.

Breathe & Smile,

 

Maman, Jeanny, Yudhi, Jo, Mariza, Rani, Debra, Agus& Liang

Namaste Festival,

 
Anita Buntarman selaku pendiri Namaste Festival sedang menjelaskan semua kegiatan dalam festival ini.

Namaste Festival mungkin masih asing di telinga kita, tetapi bagi para pegiat yoga di ibukota mungkin sudah akrab dengan festival satu ini.

Kemarin pagi Anita Buntarman dan Ine Noor berkenan hadir untuk latihan bersama dan menjelaskan apa saja kegiatan dalam Namaste Festival yang akan diselenggarakan tanggal 2-4 Desember 2011.

Banyak guru yoga berkaliber internasional hadir dan akan memberikan kelas-kelas yoga bagi para peserta di Indonesia.

Untuk keterangan lebih lanjut bisa dibaca di namastefestival.com.

The good news is member beberapa klub kebugaran dan anggota Yoga Gembira akan dapat diskon 30% jika membeli tiketnya loh!

 

A Woman I Miss So Much on This Saturday Night

This mother traded her own life with her kid's.

A story shared by  Binsar Parulian Ompusunggu on Facebook just made me realized a woman I’m missing so much right now on this Saturday night is my mom.

This is a true story of Mother’ s Sacrifice during the Japan Earthquake. After the Earthquake had subsided, when the rescuers reached the ruins of a young woman’s house, they saw her dead body through the cracks. But her pose was somehow strange that she knelt on her knees like a person was worshiping; her body was leaning forward, and her two hands were supporting by an object. The collapsed house had crashed her back and her head. With so many difficulties, the leader of the rescuer team put his hand through a narrow gap on the wall to reach the woman’s body. He was hoping that this woman could be still alive. However, the cold and stiff body told him that she had passed away for sure. He and the rest of the team left this house and were going to search the next collapsed building. For some reasons, the team leader was driven by a compelling force to go back to the ruin house of the dead woman. Again, he knelt down and used his had through the narrow cracks to search the little space under the dead body. Suddenly, he screamed with excitement,” A child! There is a child! “ The whole team worked together; carefully they removed the piles of ruined objects around the dead woman. There was a 3 months old little boy wrapped in a flowery blanket under his mother’ s dead body. Obviously, the woman had made an ultimate sacrifice for saving her son. When her house was falling, she used her body to make a cover to protect her son. The little boy was still sleeping peacefully when the team leader picked him up. The medical doctor came quickly to exam the little boy. After he opened the blanket, he saw a cell phone inside the blanket. There was a text message on the screen. It said ,” If you can survive, you must remember that I love you.” This cell phone was passing around from one hand to another. Every body that read the message wept. ” If you can survive, you must remember that I love you.” Such is the mother’ s love for her child!! Dont forget to click the share button.”

 

%d bloggers like this: