Dalam Menulis, Kejelasan Itu Segalanya

image

Albert Camus, seorang penulis yang kita kenal juga sebagai pemikir, menyarankan kita untuk menulis dengan jelas. Sederhana nasihatnya, tetapi dalam implementasinya bisa sangat rumit.
Saya sendiri merasakan sukarnya menulis dengan memegang prinsip ini. Saat ide langka, saya memaksakan menulis dengan apa yang ada di kepala. Setelah ide yang langka itu habis, terjebaklah saya dalam repetisi. Mengulang-ulang gagasan yang sama, struktur yang sama dan kata yang sama pula. Akhirnya kejelasan ide pokok tidak tercapai. Semua kabur.
Saat banjir ide, masalahnya berbeda tetapi akibatnya juga sama, mengaburkan ide pokok. Ide-ide yang keluar bersamaan bisa membuat saya kewalahan. Mengaturnya menjadi lebih menantang. Dan tidak jarang ide itu beragam topiknya dan susah menghubungkannya menjadi satu rangkaian yang terhubung benang merah yang menyatukan. Semuanya asal dan sembarang tuang. Tak peduli saling relevan, kohesif dan koheren atau tidak. Yang penting layar tidak kosong. Yang penting ada kata yang bisa kita suguhkan pada pembaca. Yang penting sudah menulis!
Meski demikian, inilah tahap yang harus dilalui untuk menghasilkan tulisan yang berkualitas. Mau berpikir lebih keras jika memang kurang lengkap dan mau berlapang dada merelakan kalimat-kalimat indah yang tidak relevan dalam tulisan kita.

Hidup sebagai Aset Anda, Bukan Orang Tua

Dengan kata ‘aset’, saya tidak mengacu pada pengertian finansial, tetapi lebih jauh dari itu. Terus terang saja, saya pernah mengalami kebingungan (atau kegalauan, menurut kosakata anak muda alay tahun 2012) sejenis dulu. Saya mengambil jurusan IPA karena tidak berani mengutarakan keinginan saya untuk duduk di kelas IPS. Saya tak ingin membuang waktu mempelajari ilmu eksakta agar dapat mengikuti ujian masuk yang lintas jurusan eksakta dan sosial. Saya hanya ingin memperdalam ilmu sosial saya. Orang tua menginginkan saya masuk ke IPA. Guru kelas pula. Nilai saya memenuhi syarat dan sistem pun membolehkan saya masuk. Namun, apa daya hati kecil berontak. Saya putuskan melepaskan kans saya menjadi anak IPA dan segala stigma cerdas dan teraturnya. Saya memilih menjadi siswa IPS dengan kemampuan sendiri sebaik-baiknya karena inilah pilihan saya, yang saya buat dengan penuh kesadaran alias mindful! Kemudian beberapa tahun kemudian saya menjumpai beberapa anak muda yang kebetulan saya ajar di sebuah kampus swasta. Jujur saja mayoritas mereka ini mengalami tekanan dari orang tua. Mereka memasuki jurusan yang bahkan mereka sendiri tak sukai. Bagi saya ini sangat absurd. Mereka menjalani sebuah pilihan hidup yang krusial bagi masa depan mereka dan aktualisasi diri mereka. Tetapi pada saat bersamaan mereka kurann menyukainya bahkan membenci sama sekali apa yang mereka pelajari. Singkatnya, motivasi mereka nol. Akibatnya? Semua pihak merana. Pengajar merasa frustrasi. Nilai hancur, harus dikatrol karena demikian parah. Pun sang mahasiswa/i sendiri. Mereka marah pada diri sendiri karena tak kunjung memahami pengetahuan yang disampaikan pengajar. Orang tua apalagi. Ekspektasi mereka yang tinggi agar anak yang terkasih lebih cerdas malah menunjukkan kelemahan mereka. Mereka sama sekali tak berbakat dalam bidang yang akan diterjuni. Dan ketiadaan bakat itu diperburuk dengan motivasi yang rendah. Akhirnya semua cara dihalalkan untuk mendapatkan nilai bagus. Sebagai contoh saja, sya mengenal dengan baik satu anak yang terlihat malas malasan. Ternyata penyebabnya adalah keinginan orang tua yang memaksa sang anak masuk ke bidang yang tak disukai. Si anak menderita, babak belur hanya untuk bisa bertahan dan lulus dengan nilai ala kadarnya. Anak lain terlihat lebih baik. Ia punya motivasi belajar bahkan hingga hendak lulus ia pun tidak menunjukkan adanya keanehan, setidaknya di mata saya. Namun begitu lulus ia merasa kebingungan, karena ia ternyata merasa kurang kompeten mengajar dan ingin mencoba bekerja di bidang lain. Ia tidak merasa bisa menikmati profesi yang biasa digeluti lulusan jurusan tersebut. Usut punya usut, ia mengakui kuliah di jurusan itu bukan keinginannya sendiri. Saya prihatin, betapa luasnya dampak fenomena semacam ini. Hentikan pemaksaan oleh orang tua seperti di atas dan anak juga perlu belajar lebih asertif dalam mengemukakan penDan ini hanyalah satu puncak gunung es, yang kelak menjadi akar masalah bagi banyak lagi masalah di negeri ini.

Violinis Maylaffayza Berbagi Inspirasi di Taman Suropati (1)

Taman Suropati pertama kali saya lewati saat sore hari di tanggal 10 April 2010. Kala itu saya baru tiba di Jakarta dan memulai bekerja sebagai penerjemah di sebuah perusahaan properti. Gerahnya udara Jakarta terasa di sekeliling saya, dari Stasiun Senen yang hiruk pikuk sampai di daerah Karet Kuningan. Di antara perjalanan antara kedua tempat itulah saya melihat sebuah taman yang asri. Saya tak mengetahui namanya. Saya hanya terpukau dengan keasriannya dan deretan pemukiman kelas atas di Menteng, bangunan kedutaan besar negara-negara sahabat, dan udara yang lebih sejuk.

Di sini pula, beberapa bulan berikutnya, tepatnya di Desember 2010 saya memulai belajar biola. Saya tertarik karena saya hanya ingin memainkan beberapa lagu The Corrs, band Celtic kesukaan saya, yang sebagian lagu-lagunya didominasi gesekan biola. Di tengah perjalanan belajar, saya pun menyadari besarnya tantangan  menjadi violinis, sekalipun saya hanya menjadikannya sebagai pengisi waktu. Instrumen dan aksesoris yang lumayan mahal (saya beli di sebuah toko di Blok M biola murah seharga kurang dari Rp. 1 juta) juga menjadi kendala. Dan yang paling berat, tantangan itu datang dari diri saya sendiri yang kurang bisa menerima kenyataan bahwa anak-anak SD yang selevel dengan saya jauh lebih pandai dari saya. I felt like a real loser! Kini biola itu pun teronggok di sudut kamar. Bisa jadi itu alasan saya untuk menemukan legitimasi atas kemalasan dan ketidakberbakatan saya sebagai pembelajar biola.

Menyadari bahwa saya tidak berbakat atau sama sekali sudah terlambat memulai, saya pun pernah berkomunikasi via Twitter dengan Maylaffayza tentang bagaimana agar tetap bersemangat meski kepercayaan diri makin surut dari pertemuan ke pertemuan. Saya tidak ingat persis apa yang saya tanyakan padanya saat itu tetapi intinya saat itu saya hanya membutuhkan seorang idola, role model. Dan menghubungi Mayla Fayza terasa lebih masuk akal dan ‘nyambung’ daripada Sharon Corr yang ada nun jauh di sana.

Putus asa dengan biola, di saat yang sama saya menemukan komunitas Yoga Gembira di Taman Suropati. Awalnya saya bertemu Yudhi Widdyantoro pagi itu saat jalan pagi. Sebelumnya saya pernah mendengar ada yoga di sana memang jadi saya penasaran saja. Saat itu saya menghampirinya dan segera saya diajari instruktur yoga ini satu jenis pernapasan: kepala bathi. Saya harus menyentakkan perut ke dalam menghembuskan napas keluar hidung untuk merilekskan pikiran sebelum berlatih. Rongga hidung saya saat itu penuh dengan ingus karena flu ringan di bulan Desember yang lebih dingin, dan setiap kali saya mengingat sesi kepala bathi ini saya menyadari betapa saya lebih jarang terkena flu hingga beringus seperti itu sejak berlatih yoga. Dalam waktu kurang dari 2 tahun terakhir ini, frekuensi saya terjangkit flu dan sakit menjadi lebih jarang. Entah karena kehendakNya, berlatih yoga, atau makan dengan lebih bijak, atau karena sebab lain yang tak saya ketahui. Atau mungkin kombinasi dari semua faktor tadi. Wallahu alam. Only God knows.

Entah bagaimana, tanpa ada pertanda apapun, pagi tadi saya bisa bertemu dengan Maylaffayza. Dia hadir di Taman Suropati, bukan sebagai seorang violinis yang bermain di Taman Suropati Chamber yang diasuh Ages Dwiharso yang saya pernah ikuti itu tetapi justru di komunitas Yoga Gembira yang saya ikuti setelah saya menyerah belajar biola. Saya hanya tersenyum simpul, bagaimana bisa ini terjadi? Hidup memang selalu menyimpan kejutan di saat yang paling tidak disangka.

Di antara begitu banyak fans, saya mungkin bukan seseorang yang sangat maniak dan terlalu berlebihan dalam menyukai sesuatu. Entah itu suatu kelebihan atau kekurangan. Saat saya bertemu dengan Mayla pagi tadi misalnya, tidak ada keinginan untuk berfoto bersama dengannya atau bahkan sekadar menyapa, “Halo mbak Mayla saya dulu pernah bertanya di Twitter sama mbak tentang biola. Sayang saya sekarang berhenti.” Sungguh, itu terlalu absurd dan kikuk, aneh. Saya lupakan ide sok kenal sok dekat (SKSD) seperti itu.

Itulah mengapa saya lebih banyak menghabiskan waktu tadi untuk merekam apa yang ia katakan sepanjang sesi berbagi (sharing) setelah berlatih yoga di Taman Suropati bersama komunitas Yoga Gembira (YOGEM)  daripada memburu kesempatan untuk berfoto atau berbincang. Saya tahu ia sibuk dan saya juga segan dan tak tahu bagaimana mengawali percakapan.

Ditemani oleh Adeline Windy, teman Yoga Gembira yang juga pegiat Indo Runners, Mayla menceritakan di depan komunitas YOGEM asal muasal ketertarikannya pada instrumen gesek tersebut. “Saya tidak pernah memainkan atau melihat orang main biola tetapi saat saya diberikan biola, saya langsung jatuh cinta. Jadi saya taruh biola itu di sisi samping tempat tidur dan menjadikannya benda pertama yang bisa saya lihat pertama kali saat bangun tidur dan benda terakhir yang saya lihat sebelum saya tidur di malam hari.”

Lalu saya tengok tempat tidur saya, terserak buku-buku dari sastra hingga kesehatan yang belum saya baca sampai khatam. Saya bukan tipe orang yang setia membaca satu buku sampai habis. Saya lebih suka meloncat-loncat dalam menikmati buku, sesuai suasana hati saja karena saya pikir saya adalah pembaca yang mandiri dan bukan mahasiswa kelas Extensive Reading di jurusan Sastra yang harus melahap buku yang diwajibkan dosennya. Ah, saya ingin menulis buku setidaknya sebelum maut menjemput.

Saya bisa merasakan antusiasme Mayla saat belajar biola pertama kali.

(Bersambung)

 

Jokowi and Maylaffayza at Taman Suropati This Morning

What appeared to me in 15meters

image

As I was approaching
image
What was in fact happening

image

Korean Modern Literature: The Diary of a Torn Nation

IMG1442As I visited South Korea in June this summer, I realized how beautiful this peninsula is. The natural landscape is one of its own, well preserved and promoted. The beaches, mountains, hills, tunnels, woods and the breezes along the way are scattered just like that but still showcase the beauty. The blend of traditional remnants and modern civilization are what anyone can see throughout the country.  It’s definitely the place I can spend forever in.

Yet, what amazes me more is how Korean folks lead their lives. I still remember what my tour guide Rose Lee told me in relatively fluent Indonesian,”We Koreans have a long and deep history of separation. Koreans have longed for the union.” Rose Lee’s father is already 80 years old now and, as she put it, his heart always sinks every time he recalls his very dear brother in North.

Rose Lee’s father is only one of millions of Koreans out there with this fervent hope of reunion. Koreans literally live with this wound. The wound is out of being taken away from their beloved or not being able to see anyone who matters so much in their life.

Perhaps this is why we can observe the subtlety and profoundness of emotions and feelings in Korean modern literary works, and even in their heart wrenching plots in popular movies and TV dramas. The past unhealed scar seems to leave them with higher sense of life appreciation. Every simple moment matters and should be appreciated in any possible ways.

Literature serves as a perfect means of chanelling those pains and capture the moments and experiences a person thinks worth sharing. Cathartic and escapist it may sound to many but these lines of sentences may in turn refine and reshape our understanding towards life and its complexity.

 

Indonesian Bloggers Day 2012: Blogging is Easy. Consistency and Authenticity are Not!

First thing first, let me congratulate Indonesian bloggers on the National Bloggers Day 2012. It is the third annual commemoration if my memory serves right. The minister of communications and informatics of the Republic of Indonesia, Tifatul Sembiring,  officiated the day three years ago (October 27th, 2009). I would never forget the day easily as the date is also my birthday.

As recent as this morning, I saw this provoking blog post title of a seasoned digital media practitioner Nukman Luthfie: “Mengapa Perlu Aktif Ngeblog Lagi?” (Why (You) Have to Actively Blog Again?) . In his blog post, he elaborates several reasons why blogging, instead of social media, still remains the best tool to document our ideas, thoughts, feelings, and emotions published in chunks called blog posts.

As we can easily observe these days, the trend of social media is on the rise. Everyone seems to be talking about the miracle of social media. The craze is overwhelming at times.

Nukman and many other formerly active bloggers have been getting dormant for several days, months, and even years. The severity levels do vary but one thing in common is that bloggers are gradually or drastically shifting to social media.

That doesn’t surprise me anymore. Considering how easy people can tweet and post an update on Facebook, of course blogging entails more intellectual hard work, expertise, time, depth of knowledge, and so forth. And what strikes me more is the fact that people now tend to blog shorter. They want to write a blog post that gets read only in 2-3 minutes, 5 minutes top, I assume. Look at Detik.com or Vivanews.com. Both famed news portal in Indonesia share real authentic news content with ultra brevity. It contains only around 200-500 words in each piece. Some are even 100! And they get read still, thanks mostly to provoking and mischievous wording in the titles.

Today, when everyone can literally build a blog, they can also leave their blogs that easily too. And I have to admit, being a consistent blogger with unwavering frequency of rolling out a new post and similar perseverance day by day is not a piece of cake. Some others prefer blogging regularly by sacrificing their content quality and authenticity, for example by plagiarizing. It happens and we have to make a choice.

But once again, to sum up this brief blog post, I’d say our existence on social media cannot replace the importance of writing a neatly organized blog. You can easily trace back a blog post on the web but as far as it is well tagged and indexed by the major search engines. But tracing a given tweet that got published, let’s say, 60 hours ago is even a greater challenge.

Yet, I’m not saying every blogger must delete their social media accounts. It’s just that we need to ensure which one is our home and which one is our hangout spots. Social media is cool but never replaces the role of blogs. Never ever. Instead, I’m convinced the two are supportive to each other. Social media needs a blog as a library of the rapidly buried but worth sharing, invaluable ideas and shoutouts. Likewise, a blog needs social media presence to attract visitors and generate leads.

Mengejar Sempurna yang Tak Nyata

Ctek! Begitu bunyi saklar diikuti dengan menyalanya lampu operasi yang terang benderang itu. Arah cahayanya yang begitu terang menyorot langsung ke bawah. Sebuah meja operasi terentang.

Seorang wanita muda berada di atasnya, terbaring terlentang dengan kesadaran yang diredam anastesi dengan skala lokal. Rambutnya yang panjang dan biasa terurai begitu saja kini terbungkus rapi dalam penutup kepala berwarna biru cerah. Matanya tertutup.

Tidak dilaksanakan bius total. Ini bukan operasi besar. Hanya sebuah operasi sederhana: mempercantik hidung sang wanita.

Seperti banyak pelanggan klinik itu yang telah terbaring di meja operasi yang sama sebelumnya, ia adalah seorang pesohor berparas rupawan. Kesempurnaan fisik rasanya sudah menjadi miliknya. Namun, bukan manusia jika tidak ingin lebih dari yang sudah dimiliki sekarang.

Bukan, keinginannya bukan untuk tampil lebih sempurna dengan mempermancung hidungnya. Awalnya ia memang berpikir kemampuan dan kualitas akting serta profesionalisme akan dengan sendirinya mengangkatnya menuju puncak sukses. Tetapi ia salah.

Kini ia pun harus rela sedikit merombak tulang hidungnya yang, kata manajernya, sedikit terlalu rendah. Tidak akan mempesona jika difoto atau diambil gambar dari samping, alasan pria gembul yang mengatur segala kegiatannya sebagai selebriti sejak bertahun-tahun lalu.

Dengan berdatangannya muka-muka baru yang lebih segar, sempurna dan muda, wanita muda ini tetap ingin bertahan. Namun, apa daya, akting bagus semata tidak cukup mengatrol karirnya yang tersendat. Selama ini ia hanya menjadi selebriti papan tengah setelah beberapa tahun sebelumnya berhasil menyita perhatian publik dengan aktingnya yang memukau. Keberuntungannya memudar sudah.

Dan ia tidak akan gagal lagi dalam audisi berikutnya, jika operasi permak hidung ini berhasil! Setidaknya inilah pintu awal menuju peluang memamerkan kualitas aktingnya di layar kaca.

Seorang dokter memulai pembedahan. Tangannya yang berselimut kaos tangan berbahan karet sekali pakai itu terulur membuka meminta pisau bedah paling tajam dari seorang perawat di dekatnya.

Ia pun duduk dan dengan cekatan menggunakan sejumlah peralatan bedah. Sebuah gunting mungil berbahan baja anti karat ia masukkan dengan sedikit kasar ke lubang hidup si pasien. Ia mencoba memotong tulang rawan di dalam hidung. Sebuah alat bor berukuran mikro menyusul masuk. Bunyinya yang konstan itu mengerikan.

Seorang pria yang berdiri terpukau di sisi lain meja operasi. Ia hanya menonton bersama satu perawat lain yang lebih muda dari perawat lain. Kentara sekali keduanya belum terbiasa dengan pemandangan ini.

Suster pertama yang lebih gemuk dan berpengalaman membantu sang dokter yang trampil itu dengan menarik cuping hidung pasien, berusaha memberikan ruang bagi si dokter lulusan program doktor di Jerman itu untuk merapikan tulang hidung agar lebih pas saat implan silikon padat masuk. Ia pegang sebuah tatah logam kecil dan mengarahkannya ke tulang hidung wanita itu. Di tangan satunya tergenggam sebuah palu dari besi yang tampak bersih mengkilap. Kilap dari pantulan cahaya lampu operasi itu ditambah suara yang dihasilkan saat tulang hidup beradu dengan tatah membuat suasana lebih mengerikan meski darah yang keluar hanya sedikit saja. Meja operasi bergoyang pelan setiap dokter memukul tatah dengan palu. Persis suara gemeretaknya tembok semen saat bertemu linggis.

Bola mata kedua orang yang sisi kanan meja operasi melotot sedikit saat menyaksikan tangan si dokter dengan mantapnya memasang silikon padat itu ke dalam hidung. Ia jepit dan tanamkan implan itu lalu menatap lekat dari samping, memastikan posisinya sudah tepat dan estetis.

Ah, ternyata belum pas! Dengan ekspresi serius dan konsentrasi penuh, ia tarik keluar implan itu. Ia potong sedikit bagian atasnya. Terlalu tinggi, pikirnya.

Seorang pria berkacamata mengamati dari ujung ruangan. Ia duduk santai, hanya mengamati. Melihat gerak-gerik sang dokter yang tampak piawai melakukan tugasnya , ia tersenyum simpul. Kepalanya mengangguk-angguk, masih dengan mulut terkunci.

Dokter bedah plastik yang begitu ahli ini menanamkan kembali implan yang sudah dirapikan dan bersiap membereskan hidung pasien yang acak-acakan.

Sejurus kemudian ia terhenti saat pria di sisi kanan meja operasi setengah berteriak,”Tunggu sebentar!”

Sang dokter mengernyitkan dahinya. Kedua tangannya terpaku mendengar kata-kata itu, penasaran apakah ada yang salah.

Pria muda di sisi kanan meja itu memandang dari samping hidung pasien yang masih belepotan darah segar. Tak disangka-sangka, ia naik dengan lutut bertumpu di meja operasi, matanya mencoba menatap hidup yang sedang dipermak dari sisi bawah.

Empat orang lain di ruang operasi itu terhenyak dengan ulahnya yang sembarangan dan tidak bertata krama. Siapa pula yang membutuhkan tata krama jika ia adalah pemilik klinik bedah plastik tersebut?

“Hidungnya masih kurang mancung!” serunya.

Tanpa pikir panjang, ia goncang bahu si pasien yang rupanya berada di ambang batas kesadaran.

“Julia!! Buka matamu, Julia!!”

Pasien yang hanya dibius lokal di sekitar hidungnya itu terbangun.

“Kenapa? Ada apa?” bibirnya yang merah muda, tetapi telanjang tanpa gincu, bergetar saat bertanya pada orang yang membangunkannya.

“Saya tidak bisa membiarkan ini. Dia kurang paham. Saya baru sadar ada yang lebih bagus. Dibandingkan silikon yang tahan suhu tinggi ini, mengapa tidak pakai asam hidraulik yang lebih bagus??! Kita perbaiki lagi dan naikkan hidungmu 0,5 mm lalu hidung yang indah, mancung dan sempurna akan jadi milikmu, Julia! Tenang saja, saya tidak akan menaikkan biaya operasinya terlalu banyak kok,” saran direktur klinik dengan air muka penuh antusiasme.

“Apa maksud Anda?” Julia yang sudah sadar tetapi masih belum pulih benar dari pengaruh obat bius itu makin kebingungan.

“Kamu tinggal bayar Rp. 2,5 juta lagi untuk menaikkan tulang hidung ini dengan bahan baru,” ia berusaha meyakinkan.

“Anda tidak lihat kami sedang melakukan operasi? Apa yang sedang Anda lakukan???” si dokter bangkit dari kursinya, dengan nada tinggi penuh amarah. Ia setengah melemparkan perkakas bedah di tangan ke nampan di sampingnya.

“Maaf, tapi dari pengalaman saya, saya benar-benar tidak bisa tinggal diam. Lihat saja,”ia membungkuk di samping hidung Julia,” Jika dinaikkan 0,5 mm saja, hidungnya akan membentuk huruf E yang sempurna, dari dagu, mulut dan hidung. Semua titik tertingginya akan menjadi satu garis lurus! Sempurna!”

Dokter itu pun tak mau kalah,”Anda tidak tahu ya? Sebelum ini kulit Julia sudah menjalani pembedahan! Kondisinya sudah tidak begitu bagus. Kalau diubah-ubah lagi, bisa-bisa terjadi hal yang berbahaya!”

“Lihat saya, Julia. Mengapa Anda ingin menyembunyikan kenyataan bahwa Anda pernah menjalani pembedahan sebelumnya?” tanya dokter itu tajam. “Tak tahukah Anda betapa berbahayanya itu?”

Dengan suara bergetar setengah ketakutan, Julia mencoba menerangkan,”Bukan begitu dok… sebenarnya, saya hanya tidak terlalu menyukai hasil operasi yang terakhir.”

“Bukan…bukan, bukan begitu Julia. Apa salahnya seorang wanita menginginkan dirinya menjadi lebih cantik? Saya tidak akan mengganti bahannya lagi, tenang saja,” Direktur klinik itu menimpali, mencoba menguatkan pendapat si pasien yang kebingungan dengan hidung dalam keadaan setengah terbuka, karena belum dijahit.

“Apa yang Anda lakukan? Anda dokter atau pedagang di sini??” dokter itu berseru pada si direktur muda yang pongah.

Darah muda sang direktur naik dalam sekejap karena merasa tersinggung,”Lalu Anda apa? Cuma dengan sedikit pengetahuan estetika itu sudah berani melakukan operasi plastik?

Mata si dokter bedah itu menjadi tambah nanar mendengar kalimat pedas dari direktur kliniknya. Ia melirik ke nampan berisi perkakas yang ia gunakan tadi. “Baiklah. Lalu kenapa Anda tidak menggunakan selera estetis Anda yang sempurna itu untuk melanjutkan operasi ini?” dengan santai ia sodorkan pisau bedah dengan tangan kirinya ke sang direktur.

Direktur pun menelan ludahnya begitu menatap kilat cahaya dari pisau bedah. Ia bergidik. Rasa cemas muncul di raut mukanya. Bola matanya memandang ke bawah, dan ke atas lagi menatap mata si dokter yang beberapa tahun lebih tua darinya.

“Itu.. Hmm…Apa Anda harus melakukan cara ini?”

Perawat gemuk menyela tak sabar di antara perselisihan kedua atasannya,”Efek anastesi akan hilang dalam 5 menit lagi. Cepatlah putuskan,” begitu tidak sabarnya ia sampai membuka masker yang menutup mulut dan hidungnya.

“Saya akan selesaikan pembedahan sekarang,” tegas si dokter dengan sorot mata tajam ke arah direktur. “Saya belum pernah bertemu dengan seorang dokter yang membangunkan pasiennya di tengah operasi hanya untuk tawar menawar soal harga bahan implan!”

Meski tak sepakat dengan pendapat sang dokter bedah, mulut direktur itu tetap terkatup.

Tada!!! Microsoft’s Surface Press Event Commences!

http://www.microsoft.com/en-us/news/presskits/windows/liveevent.aspx

4 Alasan Mengapa Kaya Terlalu Cepat Itu Bisa Menghancurkan Kehidupan Kita

Gedung pencakar langit yang dibangun terlalu cepat, pondasinya juga akan lebih lemah. Begitu juga manusia yang terlalu cepat menerima kekayaan, ia akan lebih mudah kehilangan arah dalam menjalani hidup.

Beberapa tahun terakhir ini, kita bisa merasakan makin banyaknya generasi muda kita yang makin tertarik menjadi entrepreneur atau wirausaha. Sebagian dari mereka mau menjadi kaya raya dan juga tersohor. Generasi muda inilah yang disebut generasi Y, bayi-bayi yang lahir di dan setelah tahun 1980. Mereka adalah orang-orang muda nan dinamis dan aktif, berpikiran terbuka dan sangat haus prestasi dan pengakuan.

Saya sendiri harus mengatakan secara jujur bahwa mereka terbuai dengan ilusi yang kurang tepat dengan entrepreneurship. Mereka menurut pengamatan saya mengedepankan aspek keuntungan jangka pendek. Agar apa? Agar cepat kaya. Mereka mau kaya lebih cepat. Mereka mau mapan lebih cepat, pensiun lebih dini, menikmati hidup lebih banyak dan lama. Mereka mau lebih leluasa bersenang-senang. Mereka ini juga tipikal anak muda yang terbius cerita sukses startup a la PayPal (yang kini sudah bukan startup lagi) , Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya.

Sayangnya hanya sedikit yang menyadari bahwa menjadi kaya secara bertahap itu lebih sehat ditinjau dari berbagai aspek (misalnya karir dan kehidupan secara umum) daripada ‘kejatuhan durian runtuh’.

Inilah 4 alasan mengapa menjadi kaya terlalu cepat bisa berdampak destruktif bagi kehidupan seseorang.

Rasa malas

Saat kita telah menjadi begitu kaya tanpa atau dengan hanya sedikit berusaha, kita cenderung akan lebih malas bekerja. Saat kekayaan begitu melimpah, mencari nafkah mati-matian adalah hal paling akhir yang terlintas dalam benak. Kita bisa melakukan apapun yang kita suka memang tetapi esensinya tidak ada. Di sinilah kekayaan itu menghancurkan perkembangan pribadi Anda. Dan kenyataan bahwa kita bisa membeli apa saja yang kita inginkan dengan mudah, membuat kita lebih malas dalam melakukan kegiatan sederhana sekalipun dan kita menjadi lebih santai, cenderung tidak mau bekerja keras semaksimal mungkin.

Rasa rakus

Kerakusan akan muncul perlahan tetapi pasti setelah seseorang menjadi kaya dengan mudah. Banyaknya kekayaan yang sudah ada terasa tetap kurang, tetapi hasrat untuk bekerja dan menciptakan manfaat bagi orang sudah sirna.

Rasa berhak atas keistimewaan

Orang kaya lebih merasa berhak untuk diistimewakan dan diperlakukan berbeda dari orang lain karena mereka punya uang. Amarah bisa muncul tanpa disadari saat perlakuan setara atau lebih buruk terjadi.

Hilangnya tujuan hidup

Saat miliaran orang fakir miskin dan kelas menengah memiliki tujuan hidup saat bangun setiap pagi hari untuk bekerja keras menafkahi keluarganya, membangun kehidupan yang lebih baik dan sebagainya, orang-orang kaya malah merana karena mereka merasa telah berada di puncak dunia. Bisa dibayangkan kebingungan mereka ini dalam menjalani hidup. Sebagian orang kaya beruntung karena mau menerjunkan diri ke bidang sosial kemasyarakatan dan hal-hal yang mendatangkan manfaat bagi masyarakat lapisan bawah tetapi sebagian lainnya hanya berfoya-foya dan menimbulkan kecemburuan sosial yang makin berakumulasi dari hari ke hari. Dan meskipun orang kaya bisa saja menghabiskan waktu untuk beramal, itu sama sekali bukan pekerjaan yang menantang dan memberikan kepuasan secara intelektual.

Sekali lagi, manusia memang terlahir sebagai manusia yang tidak pernah puas dengan kondisinya sekarang, bagaimanapun baiknya kondisi itu di mata orang sekitarnya atau bagi dirinya sendiri di masa lalu.

Lebih Banyak Uang Berarti Lebih Banyak Penderitaan?

Uang itu perlu tetapi bukan segala-galanya, karena manusia bukan seonggok daging dan tulang semata. Bagaimana membuat hidup yang singkat ini bermakna bagi kita sendiri dan orang lain adalah misi tertinggi yang harus dimiliki seorang manusia, seperti teman yoga saya yang murah hati mengajari anak-anak ini yoga secara sukarela.

Di tengah era materialisme dan kapitalisme seperti sekarang sulit rasanya membayangkan masih ada orang yang tidak mengenal nilai uang. Terlebih lagi bagi mereka yang tinggal dan bekerja di kota-kota besar tempat pusat perdagangan dan segala aktivitas manusia seperti Jakarta, hampir semua orang yang kita temui pastilah berpendapat bahwa makin banyak uang, makin bahagia.

Saya juga tidak mau menampik hipotesis itu, meski dengan adanya syarat-syarat. Kaya raya itu menyenangkan tetapi beban psikologis, moral, mentalnya juga tidak bisa dianggap remeh. Saya pun mau kaya, agar saya bisa lebih leluasa menolong orang lain pula. Bagaimanapun juga tampaknya memiliki uang banyak akan lebih berpeluang untuk meraih kebahagiaan daripada tidak.

Tetapi tidak semua orang berpikir demikian. Meskipun sebanyak 98% orang mendapatkan kepuasan yang sedikit lebih besar dalam kehidupan mereka saat menerima gaji yang lebih tinggi, terdapat kelompok 2% sisanya yang dikenal sebagai “frustrated achievers”. Siapa saja mereka ini? Frustrated achievers ini adalah mereka yang berpendapat bahwa makin banyak uang yang mereka dapatkan, makin banyak pula penderitaan yang akan mereka alami. Makin banyak uang yang didapat, mereka justru makin frustrasi. Aneh bukan?

Ini bukan spekulasi sembarangan. Pernyataan ini merupakan hasil sebuah studi yang dilaksanakan oleh Leonardo Beccheti dari University of Rome Tor Vegata di Italia. Simpulannya diterbitkan dalam sebuah tulisan “The Heterogeneous Effects of Income Changes on Happiness” atau jika diterjemahkan secara bebas artinya: “Efek Heterogen Perubahan Pendapatan terhadap Kebahagiaan”.

Meski dilaksanakan oleh peneliti Italia, studi ini melibatkan subjek penelitian yang berupa rumah tangga di Inggris. Aneh tetapi nyata, peneliti menemukan bahwa 70% dari frustrated achievers ini berjenis kelamin wanita dan mayoritas dari frustrated achievers ini telah mengalami perceraian daripada kelompok masyarakat lainnya.

Bagaimana dengan Anda? Termasuk kelompok mayoritas atau 2% yang menolak untuk jadi lebih kaya?

Strategi Pemasaran Konten (Content Marketing)

Reporter, para pencipta konten

Tampilan blog yang elok dan menarik mata pembaca berperan sangat penting dalam strategi pemasaran konten (content marketing). Ditambah dengan konten berkualitas dan otentik yang tersedia dalam jumlah melimpah dan diperbarui secara terus-menerus, blog Anda akan terus menjadi incaran para pembaca.

Sayangnya, konten dan tampilan blog yang bagus tidak cukup untuk membuat blog menjadi alat pemasaran yang efektif. Masih ada strategi lain yang perlu kita terapkan agar blog tidak melulu menjadi alat pajang konten yang tidak menghasilkan apapun yang konkret (baca : uang/ pendapatan). Kemungkinannya sangat tipis untuk bisa menciptakan konten sendiri, mempublikasikannya dan kemudian cukup berpangku tangan menunggu datangnya pembeli barang atau jasa yang kita tawarkan. Mungkin bisa terjadi, tetapi itu membutuhkan keajaiban atau nama besar yang harus dipupuk bertahun-tahun sebelumnya.

Sebagai seorang peminat yoga, praktisi bahasa dan jejaring sosial (social media), saya juga ingin menjual kemampuan saya sebagai jasa. Dan karena saya masih awam dengan topik content marketing, saya ingin mempelajari juga bagaimana sebuah strategi pemasaran konten (karena inilah yang saya bisa lakukan, membuat konten web) bisa diterapkan dalam blog saya.

Menurut Yaron Galai, entrepreneur sekaligus CEO perusahaan Outbrain yang berfokus pada pemasaran konten di berbagai platform online, kita yang belum memiliki reputasi di dunia online dan offline perlu berpikir super kreatif agar kita tidak cuma menjadi mesin penghasil konten tetapi juga menyebarkan konten itu ke sebanyak mungkin orang sehingga akan ada lebih banyak orang menggunakan jasa kita!

Saya yakin tidak semua orang sanggup menghasilkan konten web berkualitas karena itu diperlukan ketrampilan, kecerdasan  dan kerja keras serta pengorbanan yang sangat tinggi. Terus terang sebelumnya saya berpikir konservatif tentang hal yang sama. Saya tidak ingin menjemput bola, saya ingin dijemput oleh bola. Tetapi bola tidak akan pernah menghampiri saya karena saya duduk berdiam diri. Saya harus keluar agar pembaca menemukan konten saya di sini.

Kembali ke saran Yaron Galai tadi, kita perlu bertanya pada diri sendiri: Konten digital terbaik mana yang kita punyai? Apakah rencana pemasaran konten kita sudah tepat dan efektif (yang ditandai dengan dibaca dan diapresasinya konten kita oleh orang lain)?

Tidak penting apakah konten kita ditemukan di jejaring sosial, mengiklankannya di situs lain yang lebih populer, atau melalui kanal lain, sebenarnya pengguna Internet tidak pernah secara sengaja mencari konten kita, menurut Galai (walaupun mungkin saja ada pembaca setia konten kita – selain kita sendiri tentunya).

Berikut adalah kiat-kiat yang diberikan Galai agar konten kita lebih efektif dalam menghasilkan pemasukan.

Jangan pelit dalam desain

Memang konten berkualitas adalah rajanya tetapi jangan sampai mengabaikan kekuatan desain yang menarik dan indah. Mendesain situs kita dengan resolusi layar berkualitas tinggi akan memberikan kesan profesional dan premium bagi pembaca blog. Galai menyarankan pula untuk menggunakan gambar berkualitas tinggi (yang biasanya juga beresolusi tinggi) sebagai frame blog tetapi menurut saya itu akan cukup menyulitkan proses pemuatan halaman web blog, mengingat masih rendahnya kecepatan akses Internet di negeri ini. Apalagi Google dan Alexa juga ‘menghukum’ situs dan blog yang tampilannya berat. Di sini kita perlu berkompromi untuk mendapatkan ekuilibrium atau titik keseimbangan antara aspek estetika desain blog dan kecepatan tampilan di peramban.

Jangan promosi secara terang-terangan

Jujur saya saya juga muak saat mendapati pebisnis online amatir memberondong dengan promosi produk/ jasa tanpa memberikan benefit/ manfaat pada calon konsumen. Walaupun betul tujuan akhir semua upaya pemasaran (termasuk content marketing) adalah agar angka penjualan naik sebanyak mungkin, content marketing membutuhkan pendekatan yang bervariasi. Bayangkan bagaimana senangnya calon konsumen saat Anda memberikan mereka edukasi atau penambahan wawasan secara cuma-cuma, atau memberikan hiburan gratis dan memberikan manfaat nyata bagi pemenuhan kebutuhan konsumen. Semua pendekatan ini, masih kata Galai, akan lebih baik di mata calon konsumen daripada secara terang-terangan membujuk mereka membeli produk dan jasa yang Anda miliki. Saya setuju dengan pemikiran ini, karena kita perlu sadari bahwa dengan Internet, calon konsumen akan lebih mudah menemukan kita, tetapi banyak orang lupa bahwa jika mereka tidak menemukan manfaat setelah menemukan kita di web, mereka akan meninggalkan kita secepat mereka menemukan kita. Akan tetapi jika kita mampu memberikan manfaat bagi mereka, mereka akan memberikan apresiasi secara bertahap. Bisa jadi pertama kali menemukan blog kita mereka akan berlangganan via surel, atau memasukkan alamat blog kita ke daftar bookmark di peramban mereka entah di ponsel atau di tablet PC atau di komputer, atau secara sengaja menjadi pengikut kita di berbagai platform jejaring sosial. Saat mereka benar-benar membutuhkan produk/ jasa kita, mereka berpeluang lebih tinggi berpaling pada kita karena sudah tercipta keakraban dan kepercayaan meski masih secara virtual. Namun, keakraban dan rasa percaya (trust) ini adalah modal abstrak yang tak terhingga nilainya.

Multimedia lebih baik

Ini akan berjalan seiring dengan investasi yang sudah dilakukan di aspek desain blog. Menghasilkan konten yang bervariasi dalam blog sangat penting dalam memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan mengajak pengguna terlibat lebih jauh dalam proses memahami informasi yang disampaikan melalui konten.  Saat orang sudah makin memahami informasi yang disampaikan di konten, bisa jadi mereka juga akan lebih tertarik untuk mendalaminya dan mereka tidak akan segan meng-klik tautan yang ada di halaman web di depan mereka. Blog Anda akan dijelajahi oleh mereka tanpa Anda menyuruh mereka demikian.

Jangan menyajikan sebagian, berikan secara utuh!

Pernahkah kita membaca sebuah artikel dan kemudian artikel itu ternyata hanya separuh saja, sisanya kita bisa nikmati setelah meng-klik tautan ke halaman web lain? Agak menjengkelkan memang. Sebagian orang berpendapat itu trik efektif untuk membuat orang menginginkan lebih banyak. Namun, waktu terbaik untuk melibatkan pengunjung blog ialah saat mereka sudah berada dalam modus konsumsi konten, kata Galai. Itulah mengapa kita perlu menampilkan banyak tautan ke halaman konten web lainnya di sebuah halaman web, agar pengunjung tertarik untuk membaca/ menonton lagi dan lagi dan lagi!

Manfaatkan media yang sudah dimiliki dan tersedia

Menurut Galai, kita bisa gunakan ulasan yang menarik tentang blog Anda dan liputan pers yang positif untuk memaksimalkan peluang menjaring konsumen. Mencampurkan kedua jenis materi ini ke dalam konten kita akan lebih efektif dalam melibatkan audiens dan menambah kredibilitas brand. Sayangnya blog saya sendiri belum pernah diulas oleh media lain sehingga saya tidak bisa bicara banyak di sini.

Permudah cara berbagi konten

Jika Anda mampu menghasilkan konten berkualitas, pastinya akan ada sekelompok orang yang dengan setia membaca konten yang Anda sajikan. Itulah mengapa sangat penting bagi pembuat konten untuk memberikan kemudahan dalam menyebarkan konten ke teman dan kenalan melalui jejaring sosial dan social bookmarking site seperti Reddit, Technorati.

5 Langkah Lindungi Smartphone Android dari Serangan Malware

smartphonesSaya masih ingat bagaimana dulu populernya Symbian dalam beberapa jenis ponsel Nokia di pertengahan tahun 2000-an. Saya masih terkesima dengan ponsel-ponsel Nokia berkamera VGA yang saat itu masih tergolong canggih dan terdepan. Sayangnya, satu kelemahan ponsel Nokia yang dijalankan dalam platform Symbian ialah risikonya untuk terjangkit virus dan gangguan keamanan lainnya yang cukup riskan. Sementara di ponsel sederhana seperti Nokia 3315 saya saat itu, data pribadi akan tersimpan dengan aman, karena sederhana saja, ponsel itu tak terhubung dengan dunia maya.

Dan saya sadar bahwa semakin populer sebuah sistem operasi, akan semakin tinggi pula risikonya terkena serangan virus, atau malware. Software jahat ini bisa membuat ponsel mengalami berbagai gangguan dari yang ringan sampai berat. Untungnya saya belum pernah harus mengalami serangan seperti itu yang misalnya bisa menghapus semua data dalam memori ponsel atau membuat ponsel terus menyedot pulsa.

Sebagai jawara dalam dunia smartphone, ponsel-ponsel yang bersistem operasi Android menjadi sasaran empuk bagi pihak-pihak iseng dengan itikad kurang baik. Tidak heran karena jumlah penggunanya makin banyak dari hari ke hari, dan semakin tidak terbendung laju pertambahannya. Malware makin banyak dan payahnya belum banyak orang yang menyadari bahaya di balik malware itu. Apalagi di Indonesia, tempat banyak pengguna ponsel masih begitu abai dengan isu security isi ponselnya yang berharga.

Baru-baru ini IC3, sebuah kemitraan antara FBI dan kelompok pendukung penegakan hukum The National White Collar Crime Center (Pusat Kejahatan Kerah Putih Nasional), telah mengidentifikasi “Loozfon” dan “Finfisher” sebagai versi terbaru jenis malware yang telah diketahui.

Sebagai informasi saja, ‘malware’ ialah software atau piranti lunak seperti program atau dalam konteks smartphone adalah aplikasi mobile yang tersebar melimpah di arena Android Market atau yang sekarang disebut Google Play.

Menurut IC3, satu cara yang digunakan para kriminal untuk menyembunyikan malware Loozfon dari deteksi program antivirus ialah menyamarkannya sebagai sebuah iklan tawaran bekerja di rumah yang menjanjikan uang dalam jumlah menggiurkan hanya dengan mengirim surel. Setelah pengguna klik di iklan yang tampil, mereka akan digiring menuju situs web yang menambahkan malware itu pada smartphone yang digunakan tanpa sepengetahuan pengguna yang awam. Aplikasi ini kemudian mencuri detil kontak dari daftar kontak ponsel pengguna dan nomor ponsel pengguna.

Sementara itu, Finfisher ialah satu jenis spyware, yang artinya software yang berguna untuk memata-matai pengguna ponsel. Spyware sangat berbahaya karena bisa mengambil alih komponen perangkat bergerak. Dengan kata lain, saat ponsel Anda terinfeksi spyware, seketika itu juga ponsel bisa dikendalikan dari jarak jauh oleh si pembuat spyware. Malware ini biasa disamarkan sebagai tautan/ link atau teks mengenai pemutakhiran atau update sistem, kata IC3.

Di samping mengunduh software virus dari vendor yang tepercaya seperti Norton, FBI memberikan 5 kiat dasar agar ponsel Android Anda tetap aman dari serangan malware.

Gunakan enkripsi

Beberapa jenis ponsel Android dilengkapi dengan kemampuan enkripsi. Aktifkan kemampuan itu jika ponsel Android Anda memilikinya. Enkripsi bisa digunakan untuk melindungi data pribadi Anda jika suatu saat ponsel hilang atau dicuri. Jika ponsel tidak memiliki kemampuan enkripsi, jangan cemas karena masih ada alternatif lainnya seperti aplikasi WhisperCore dari Whisper Systems yang diakuisisi oleh Twitter tahun lalu. Juga pertimbangkan untuk menambahkan kata kunci saat harus membuka ponsel.

Ketahui pengembang aplikasi sebelum menginstal

Saat akan menginstal aplikasi dari Google Play / Android Market, cermati dulu baik-baik ulasan/ review pihak pengembang yang membuat aplikasi. Juga pastikan untuk memahami perijinan (permission) yang harus Anda berikan sebelum menggunakan aplikasi. Sejumlah aplikasi meminta akses menuju informasi-informasi sensitif dan pribadi seperti lokasi dan daftar kontak di ponsel.

Pastikan menggunakan jaringan wi-fi yang aman

Jangan menggunakan jaringan wi-fi yang Anda tidak ketahui. Para peretas alias hacker biasa menggunakan jaringan wi-fi yang tidak terlindungi kata kunci untuk mendapatkan informasi yang ditransfer antara perangkat ponsel Anda dan server.

Pertimbangkan masak-masak sebelum melakukan ‘jailbreaking’ atau ‘rooting’ pada ponsel

Setelah Anda melakukan jailbreak dan rooting, ponsel Anda secara otomatis akan lebih berisiko terkena malware karena kedua jenis manipulasi ini akan menghilangkan pembatasan dari pabrikan ponsel. Anda bisa menginstal segala jenis program termasuk aplikasi yang Anda mau. Namun di saat yang sama Anda harus tahu bahwa ponsel juga akan lebih rentan diserang, jelas IC3.

Hapus semua data dan aplikasi sebelum menjual kembali

Siapa tidak pernah menjual kembali ponsel lamanya setelah merasa bosan atau karena berbagai sebab? Nah, jika Anda memutuskan menjual atau menukar ponsel pintar, pastikan Anda tidak lupa melakukan ‘factory reset’ yang biasanya ada di bagian pengaturan ponsel. Setelah ‘factory reset’, ponsel akan kembali seperti baru, dalam arti software dan memorinya bersih sama sekali dari data yang sudah pernah disimpan sebelumnya. Ini bisa menghindarkan Anda dari kerepotan dan insiden penyebarluasan informasi pribadi yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena pencegahannya sangat mudah, yakni dengan memulihkan kondisi ponsel ke kondisi semula seperti baru. (Entrepreneur Mag)

%d bloggers like this: