Masihkah Blog Relevan di Era TikTok dan Instagram?

Seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan Hari Blogger Nasional dihantui dengan pertanyaan semacam “Apakah blogger masih rajin menulis?”, “Apakah blog masih relevan?”, “Memang masih ada yang baca blog ya?”.

Kalau jawaban saya: “Ya, blogging masih relevan dan pasti bisa bertahan kok di era apapun.”

Karena menurut saya blog itu mirip email. Keduanya boleh diolok-olok sebagai bentuk komunikasi internet yang primitif, tidak efisien, merepotkan, dan sebagainya.

Tapi lihatlah sekarang, setelah 30 tahun kita menggunakan internet, email dan blog masih ada kok dan mereka tidak serta merta hilang meski TikTok dan Instagram merajai.

Fenomena blog mirip dengan surat kabar dan radio juga. Kemunculan media komunikasi baru yang lebih segar dan canggih boleh saja menyita perhatian masyarakat dunia tapi saat semua yang baru ini masih belum bisa memberikan rasa nyaman dan aman (karena masih dalam tahap eksperimen dan eksplorasi), email dan blog sudah lumayan familiar dan menjadi media komunikasi yang lebih mudah dipahami teknik penggunaannya.

Mengonsumsi konten TikTok dan Instagram kurang bisa memberikan perspektif yang lebih mendalam. Dan tentu jika dikutip akan kurang meyakinkan.

Tapi tidak demikian dengan blog. Apalagi jika blog itu ditulis dengan kesungguhan. Tidak cuma berdasarkan opini belaka tapi ada logika, nalar, argumen yang disertai bukti kuat dan ilmiah yang ditambahkan.

Dan blog lebih aman dari kesalahpahaman karena ruang menjelaskan konteks dan duduk perkara sangatlah luas. Tak cuma sekadar 1-2 menit audio visual yang bisa disalahartikan jika tak disertakan konteksnya.

Kerawanan untuk disalahartikan inilah yang justru dimanfaatkan TikTok agar video bisa viral di populer.

Di blogosphere, tulisan yang viral ya memang karena isinya jelas, tajam, punya argumen yang kuat. Tidak menyesatkan. Clickbait mungkin cuma ampuh sesaat tapi tidak viral seterusnya karena orang bakal paham polanya. (*/)

Yang Lebih Penting dari Nasihat, Saran, dan Rekomendasi Orang Lain

SEBUAH entri yang mengejutkan saya temukan di website sebuah portal berita online yang ternyata memuat nama saya. Unggahan tertanggal 26 Agustus 2009 itu begini isinya:

Assalamualaikum wr. wb.,

Saya lulusan S2 bahasa Inggris yg ingin membuat lapangan kerja sendiri. Selama ini sudah mengajar tapi merasa monoton dan kurang bervariasi. Saya suka menulis dan terpikir untuk mendapat penghasilan dari menulis di internet. Saya juga sudah mulai menulis blog tapi masih agak buta dengan apa yg harus saya lakukan agar mendapat penghasilan seperti yang diharapkan. Banyak blogger yang konon bisa mencetak penghasilan hingga melimpah ruah namun sebagai pemula saya benar-benar memerlukan mentor yang dapat  memberi saran dan kritik. Kira-kira, menurut bapak, apa yang harus saya lakukan? Terimakasih.

Wassalamualakum wr. wb,

Akhlis Purnomo

————

Untuk saudara Akhlis,

Saya senang anda clear dengan potensi dan keinginan yang ingin dilakukan terutama tentang menulis, mengajar dan mendapatkan income lebih, pertanyaannya sekarang adalah bagaimana memulainya. Saran saya:

1. Jadikan keahlian mengajar dan menulis sebagai salah satu keahlian yang benar-benar dikuasai, caranya adalah dengan banyak melakukan “Practice & Improve”

2. Magang! Belajarlah pada orang yang sudah berhasil, yang anda kagumi dan banyak menghasilkan uang dari keahlian seperti yang anda miliki.

3. Dengan keahlian anda, ciptakan uang melalui berbagai cara, bukan satu cara saja. Contoh: menulis buku, menulis buku orang lain, menjadi dosen, menjadi trainer, menjual seminar, dsb

Semoga bermanfaat, salam Indonesia!

HT

Haha saya sungguh lupa dengan siapa saya melontarkan pertanyaan ini. Serius. Inilah kelebihan menulis di Internet. Tidak akan terhapus meski si pemilik sudah lupa atau tak menyimpan di komputer. Tapi juga menjadi sebuah potensi bahaya yang bisa disalahgunakan orang, terutama jika informasi di dalamnya sangat kurang elok dipertontonkan ke orang lain. Katakanlah konten atau tulisan yang memalukan kita sendiri di masa datang, memalukan bagi keluarga dan teman kita sendiri dan merongrong nama baik yang berusaha kita bangun dan pertahankan dengan segala cara.

Di tahun 2009 itu, saya memang masih di kota asal dan ingin sekali bekerja dari rumah (ya saat itu saya sudah sangat berambisi untuk mencari nafkah dari rumah saja tanpa capek-capek berangkat kerja yang kemudian terwujud di masa pandemi ini). Internet saat itu masih sangat mahal. Saya ingat harus membeli sebuah modem dari M2 Indosat yang harga pulsanya duhhh, bisa bikin kantong bolong karena mahal dan baru dibuat berselancar di dunia maya beberapa menit saja sudah habis. Tandasss! *menangis*

Jadi kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, saya sudah sangat sangat bersyukur karena sudah bisa menulis dengan nyaman dengan jaringan wifi di rumah yang murah (biaya abonemen koneksi Indihome bulanan saya pilih termurah Rp340.000an) dan kecepatannya sudah lebih memuaskan daripada 13 tahun lalu di sana.

Dari poin-poin nasihat pak HT (yang entah siapa kepanjangannya), saya mendapati bahwa sekarang saya sudah berhasil mencapai beberapa poin tadi.

Saya masih tetap mengajar meski bukan sebagai dosen tapi mengajar les menulis bahasa Inggris dan yoga secara partikelir serta bahkan mengajari sejumlah pegawai di birokrasi mengenai keterampilan bermedia sosial. Saya juga mengikuti kursus media sosial bersama Virtual Consulting yang digawaingi Iim Fahima dan alm. Nukman Luthfie. Dari bidang menulis tadi saya mencoba memperluas cakupan keterampilan saya ke dunia digital yang sangat booming saat awal tahun 2010-an. Saya juga bergabung dengan komunitas blogging Kompasiana untuk mengasah terus keterampilan ini dan sekarang saya bisa menulis artikel yang kemudian menjadi headline. Ini sebuah pencapaian yang menurut saya tak bisa dikecilkan maknanya.

Untuk nasihat magang, saya berkesempatan bekerja dengan orang-orang yang lebih berpengalaman dalam sebuah tim yang solid. Saya kini memiliki koneksi ke dunia penerbitan, sastra, agensi periklanan, dan sebagainya yang masih berkaitan erat dengan dunia kepenulisan.

Soal nasihat ketiga, ciptakan uang melalui berbagai metode, saya bisa katakan saya sudah mencoba menghasilkan uang dari kemampuan menulis ini. Saya sudah pernah mengerjakan proses penulisan sebuah buku berbahasa Inggris, mengerjakan risetnya, mewawancarai orang-orang yang menjadi narasumber dalam buku tersebut.

Bahkan saya juga sudah mencoba sebagai penulis bayangan (ghostwriter) dengan menuliskan draft autobiografi/ memoar seseorang, kemudian saya juga menulis naskah pidato untuk klien korporat dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Saya juga pernah menerjemahkan sebuah ensiklopedia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris yang diterbitkan penerbit Singapura Springer.

Anehnya saya sendiri lupa sudah meminta nasihat ini dan secara alami saya mengikuti alur hidup saja dan semua ini bisa tercapai dengan ‘sendirinya’ (meski juga ada intervensi banyak pihak tentunya).

Ini jadi sebuah pengingat bagi diri saya sendiri agar saat merasa kebingungan dan tak pasti dalam menapaki kehidupan, just do it. Teruslah bergerak. Mau 1 langkah, 2 langkah tak masalah asal masih terus bergerak maju. Tidak tetap mematung di titik yang sama.

Saya harap saya akan masih bisa membaca refleksi/ renungan ini satu dekade mendatang dan mengatakan dalam hati: “Kamu sudah berada di jalur yang benar kok. Asal tetap mendengarkan kata hatimu. Bukan kata orang di sekitarmu…” (*/)

Memelihara Konsistensi Lebih Sulit daripada Intensitas

SEBUAH kalimat mutiara dari legenda seni beladiri Bruce Lee yang bisa diterapkan juga lho di dunia menulis dan blogging.

Karena menurut saya menulis itu butuh stamina jangka panjang yang tidak dimiliki sembarangan orang. Cuma mereka yang memiliki determinasi dan konsistensi yang tinggi dan stabil yang bisa mencapainya.

Mereka ini bukan orang-orang yang bekerja berdasarkan inspirasi dari muse atau ‘wahyu ilahi’ atau wangsit tapi membiasakan untuk terinspirasi dan mencari inspirasi tiap hari agar bisa produktif setiap saat.

Untuk Anda yang merasa bahwa Anda sangat ingin menekuni dunia tulis menulis profesional, lakukan dan belajar saja terus-menerus tanpa merasa terbebani atau terpaksa. Saat perasaan terpaksa itu muncul, lebih baik berhenti saja sih menurut saya. Saat Anda melakukan pengorbanan dan Anda merasa bersuka cita, sukarela dan bisa menikmati pengorbanan itu karena tahu bahagianya perasaan kita saat nantinya impian itu tercapai, maka Anda sudah berada di jalur yang benar. Bukan ‘sesat’. (*/)

Ritual-ritual Menulis Penting

MENULIS blog sekarang rasanya sangat mudah. Tinggal buka akun di Medium.com, atau WordPress.com atau di Blogger.com dan kita sudah bisa menulis. Yang mau buat domain mandiri, juga bisa meski lebih rumit dan menguras duit.

Tapi apapun pilihan platform blogging kita, semuanya kembali ke kerja kerasnya itu. Bukan alat-alat dan pirantinya tapi hasilnya bagaimana?

Infografis di atas saya ambil dari Semrush karena menurut saya bisa merangkum semua ritual yang seharusnya dilakoni jika seorang penulis terutama blogger agar bisa tetap ‘di atas angin’.

Ngeblog dengan Hati-(hati)

SELAMAT hari blogger nasional untuk Anda yang masih merasa pantas disebut sebagai blogger. Haha.

Ya seperti kita tahu, blogging tak lagi seseksi dulu lagi. Sudah banyak blogger yang memindahkan aktivitas digital mereka ke media sosial lain yang lebih populer seperti Instagram dan TikTok.

Tapi untuk saya sendiri blogging tetaplah sebuah aktivitas yang tak bisa ditinggalkan.

Bahkan saya malah sekarang menahkodai sebuah platform untuk menulis yang pada intinya sama persis dengan blog.

Jadi saya pikir blogging sudah jadi jalan hidup.

Hari ini saya puas bisa menerbitkan tulisan hasil wawancara dengan salah satu tokoh blogging nasional Wicaksono atau Ndoro Kakung.

Beliau dikenal sebagai salah satu narablog atau blogger yang paling pertama muncul dan giat mengampanyekan kegiatan menulis blog di banyak acara skala nasional.

Sesaat tadi sempat guyon di Twitter soal Pesta Blogger. Akankah ada Pesta Blogger 2022? Ndoro Kakung sendiri menampik wacana itu.

Ya mungkin blogging sudah kehilangan pamor.

Namun demikian, bagi sebagian orang seperti saya yang berjiwa ‘klasik’ dan merasa lebih nyaman berkomunikasi lewat teks, blogging tetaplah menarik dan tidak tergantikan. Persetan dengan media sosial canggih karena ternyata kebutuhan orang untuk mengonsumsi konten dalam bentuk tulisan blog masih akan terus ada. Sampai kiamat. Itu keyakinan saya.

Terkait atmosfer, blogging juga terasa lebih aman sentosa daripada media sosial lain seperti Twitter atau Instagram.

Mungkin ini perasaan saya saja tapi berkomunikasi lewat tulisan panjang di blog, yang tak sependek dan semudah menulis status Facebook atau tweet atau instagram story membutuhkan upaya intelejensia ekstra. Dan karena itulah, blogger biasanya bukan orang yang gegabah atau sembrono menerbitkan sesuatu. Menulis panjang membuat kita bisa lebih punya banyak kesempatan untuk memikirkan dampak dari tulisan yang diterbitkan.

Buktinya dari sejarah kasus UU ITE yang bermula dari Prita Mulyasari (versus RS Omni International) tahun 2008, setidaknya belum saya temukan tersangka atau tertuduh kasus UU ITE yang diperkarakan karen menulis di blog (sumber di sini).

Prita saja tersangkut kasus sehabis menulis uneg-uneg di sebuah mailing list (milis).

Lalu ada lagi yang curhat di Facebook dan dicokok polisi.

Ada pula yang tersandung UU ITE akibat status Blackberry Messenger yang bernada melecehkan pihak lain.

Intinya makin mudah dan cepat kita melepaskan pendapat pribadi ke orang lain dalam sebuah platform memberikan kita kemampuan membagikan gagasan, makin tinggi risikonya.

Dan blog tidak ditakdirkan bagi para manusia dengan cara pikir instan.

Ah, apapun itu marilah terus nulis blog! (*/)

Spread Too Thin

I’ve been asked about the podcast I initiated last year when the pandemic started to hit.

I just ditched the idea of podcasting since I’m not a speaker type of content maker.

I’m a texter. I love to text and type.

Speaking is not my domain and comfort area.

I can but I don’t feel extraordinary.

I also contacted a friend this morning to speak more about an opportunity of collaboration to build a blog together with him.

I know a niche that needs this knowledge and experience but I just didn’t have the right tools and partner.

I absolutely feel incapable of running this all alone. It’ll drive me crazy in just several months.

Together, I hope we can build stamina together.

We own the idea together and own the success or failure together.

Sharing risk is so important because my resource is also limited.

Of course I have many ideas to explore and materialize but I just can’t if I do it on my own.

Even if that’s my passion project.

In Search of Deb Ng

Today feels like just another day in a monsoon season in Jakarta. Wet and windy and somber.

So I decided to just enjoy the morning by sitting and starting to work on my laptop. I’m handling a couple of writing projects and I can’t tell you how grateful I feel to work as a writer in the time of not-so-agreeable weather like today. It really is a privilege to stay indoors and still can make some money. Seriously, considering the pseudo lockdown we are now experiencing in Java and Bali (the United Kingdom, sorry you’re not alone!).

I remember on days like today, years ago I was religiously scouring that brown-dominated website called freelancewritinggigs.com and always admired the simplicity of the blog keeper’s style of writing. She hardly uses flowery sentences. Yes, her style seemed wordy but it was very natural and conversational. It was like reading an informal letter from a friend. But this one is a decent friend. Without swearing, the F word, complaints, or negativity. It was all about positivity and mood-lifting topics for emerging freelance writers around the globe.

She was Deb Ng. I still remember her iconic profile photo. Smiling with her double chin. She looked like a stocky and amiable personality to talk with. But I had never had a chance to interact with her, unfortunately. Mrs. Ng years later sold her blog. And it was the onset of brand deterioration. Tragic.

She started another blog called Kommein.com and seemed to emerge as a new celebrity of Twitter but she then vanished. Kommein never took off like her previous blog. And now I can’t seem to find her anywhere.

I’ve always dreamed of her lifestyle as a freelance writer and blogger who makes money at home, which seems to be the best and safest — if not the most lucrative — profession in the time of pandemic.

I kind of miss her and her writing.

In case you know her whereabouts on the web, let her know that it was she who kept my writing fire aflame on days when nobody even myself could trust my own potential and capability.

I’m glad I keep moving forward and making progress with my writing career despite my being amateurish 10 years ago when I got to know Mrs Ng through her encouraging writeups.

This is her back in 2008 (a year before I ran into her blog) in an interview. Observe how down-to-earth she really was. It was the year when having a social media presence was still a big deal, unlike now.

Wherever you are now, I thank you a zillion, Deb!

7 Precious Lessons from My 30 Days of Working from ‘Home’

main qimg 10e6397a06762a9aaa8556627c74c747
WFH: Working from home or hell? (main qimg 10e6397a06762a9aaa8556627c74c747)

This week marks the fourth week of me working from home (which is not home at all because I’m away from my family). And I should say it has been a tormenting yet empowering experience.

As a writer, I’m no stranger to this style of working. With a laptop and internet connection, I’m good to go. I can rely wholly on information technology to keep myself well fed and lead a decent life.

Yet, what makes the current work-from-home experience different is Coronavirus. It’s a milder version of Spanish Flu in 1919. It has a lower death risk, i.e. 3-4 percent, some claim. Therefore, we might not have to worry too much. Still we cannot completely forget the fact that the new virus is so contagious, and it can be not so lethal to some but very lethal to others. And there is no fine line to distinguish those who have better chances to survive and those who won’t survive after being cobtracted by the novel Coronavirus.

I myself have started working from home since 19 March 2020. This is actually several days late compared to the Jakarta gubernatorial declaration. I still could witness Jakarta and its last hectic days before it was withering like a ghost town, though not completely.

I should say that my takeaways from the whole month of working from home are as follows.

Manage time wisely

Stick to your previous daily schedule. Of course you must apply some adjustments here and there. But try to be as faithful as possible to it. For example, before the pandemic, I exercise almost every morning outdoors. But with all these physical and social distancing policy being implemented throughout the country, I must forget about it and try to modify my habit.

Why can’t I just stop working out? First and foremost, because workout is more than just a lifestyle to me. It helps me stay sane especially when I am so stressed out right now. Second, workout helps me boost my immunity system, which later helps me combat Coronavirus symptoms in case I get infected.

Speaking of other routines, I voluntarily postpone them all without making excuses, such as my weekly gymnastics exercise. Because it’s risky and the hall is also closed and inaccessible by public, I simply have no options but to pick other alternatives of exercise like yoga or home workout with resistance band and dumbbells and my own body weight.

Though sometimes I’m tempted to binge read or watch at night, I know it won’t help me work with my full level of mental clarity and focus during daylight. So I try to be disciplined with my bedtime, too, because I strongly believe that a good and satisfying bedtime is fundamental to my well-being.

Shower regularly

You may think I’m lying but working from home with your body washed by water and with your body glistening with sweat and dirt offer different sensation. Water helps me, and hopefully you too, reactivate that brain in the morning, which needs to be working till the end of the day.

Showering in the morning after a good morning workout also clears out ‘those dark grey clouds from the sky’. Suddenly you feel everything is brighter and a lot more spacious. I’m serious about this.

Stay connected always

Thanks to technology and the internet, you can stay connected without even leaving your home. At first, I felt too shy about my screen time. “Really, should I just be more liberal towards this?” I thought.

But again, this pandemic is a whole new situation for us to experience. So this is an exception as well. And during exceptional times, some ‘violations’ are forgiven.

I’m not saying we should be lenient about screen time but accept the fact that your smartphone or laptop is now being the one and only tool you’ve got in hand so you can satisfy your needs as social creatures. So if you feel a bit lonely, it’s okay to turn on that laptop a little bit longer or chat with friends on Zoom or Microsoft Teams for hours.

Reach out to humans

I know we are destined to be a social creature who needs in-person interactions. So once in a while, you can still make interactions with other humans around you with your surgical mask or cloth mask worn correctly to cover your mouth and nose and keep a minimum physical distance of 1 meter.

Do things you’ll be proud of later

This could seem like a torture. I mean, daily chores and deadlines could be this type of things. But those are things you do to survive, to feed yourselves. But these things are your channels of vitality, your creativity outlets, with which you can become a true and liberated self. As for me, those may mean projects of my own. It has nothing to do with money, financial gains, profits, or loss. It is beyond economic spectrum. Doing this useful stuff may give meaning to our seemingly empty and meaningless life.

Do things to have sheer fun

You naturally do these without having to consult with others. These could be your hobbies or pastimes. It’s very much absolute liberation that gives no or very little value to other people. Only you can draw benefits from these things. I sometimes indulge in podcasts or nostalgic songs or even Korean dramas.

Laugh while you can

Watching comedy shows or sitcoms like “Friends” may be of great help for those who are depressed because they cannot get out of house. Or maybe you remember that hilarious coworker and decide to drop him or her a video call to entertain yourself.

I find consuming Covid news all day long ruins my mental health slowly but surely so this has to be kept at its lowest level. Stay updated but don’t be overly updated. Being obsessed with the latest development of the pandemic is killing our souls.Just listen or watch to news once a day and get back on your life track soon. It’s not that you don’t care about what is going on around you but to be sane, choose things you can do about and take control of, such as how many times and how thorough you wash your hands with soap every day. The rest is things you cannot control such as the death toll tally of the coronavirus pandemic. Do what you can to help improve the world in ways possible for you and then refocus on your life. (*/)

After 9 Years of Blogging Tirelessly…

I am still going strong!

The 27th of October has always been a special day on my calendar since forever. Besides the fact that it’s my birthday (cough!), it’s also National Blogger Day in Indonesia. Today also marked my ninth year of blogging. I’ve never thought I would’ve gone this far. Especially these days, when social media enjoyment has taken over the joy of hitting ‘publish’ button on your blog dashboard and get some likes and comments from readers of your blog(s). But this is definitely not the end of my blogging pursuit.

It’s true that I’d never planned to develop this blog to be a really professionally-managed one so that I can make some money of it. As you can see, this blog has some spots of Google Ads but to be brutally honest, it doesn’t generate even a single cent of income for the blogkeeper. That said, I get into thinking that I must soon take down all these useless ads and quit being the disgruntled ad publisher. It doesn’t add value for my readership anyway.

So why do I keep blogging if I don’t make money AT ALL? You may ask.

In my first amateurish blog (akhlispurnomo.blogspot.com), in the most confident and shameless way I picked a tagline, “Blogging, My Second Religion”. You can laugh at it now, but that’s somehow still the perfect description of my reason of writing this blog (and some others).

Very few of these write-ups on my blogs generated enough money to feed me, at the very least. Yet, I always long for the satisfaction that I can only feel when there are some readers who leave comments or silent readers who never leave comments but someday I ran into and told me they liked some of my articles a lot. Probably this is very self-centered. It’s a way to satiate my hungry ego, but once again why should I stop blogging when I can entertain and inform people around me or around the world with some bits of my thought and opinions?

I’ve got to admit that I almost completely abandoned this blog’s domain, which is like a hard-earned domain. I once had a domain of my full name but along the way I failed to renew it (blame it on the M@#$%^& credit card!) and it got bought by some opportunistic domain buyer who may have thought I would beg him or her to give me the domain at a much higher cost.

Just a month ago, before my domain expired, I came to a decision that I might just let this go. “It’s a hobby so why bother spending money for it?” I thought. I considered relying only on the free blog hosting service like WordPress.com and Blogger.com but then I reweighed it after a course of content marketing that I took. It said owning a domain that bears our name is a must if we aim to be a competent, competitive digital player. Well, I made up my mind and renewed it.

Each word in this blog (and some others) shows you my ups and downs; progress and regress; happiness and sorrow. It’s a long winding road of my life journey and self-development. I get almost completely intellectually naked in my blog write-ups, which I further think is quite scary and risky in the future. That’s why every time I write, I keep reminding myself of the risk of posting stuff on the web. No blogging allowed when I get angry and emotional! Or else I’ll regret it. And even if I intended my write-ups to be less offensive and more helpful for some, I still find some others getting upset by what I write on this very blog.

Lesson to learn? We can never satisfy everyone.

Though I humbly admit that my blog is not an extremely popular one, I take pride of it. In this social media age, when Instagram caption or Facebook status or tweets is what you call ‘write-ups’, I can still find time and collect my intellectual energy for this seemingly pointless undertaking.

I guess this clearly defines what passion is really. Passion is something we still do even if we no longer (or never) can make money of it, or something we keep doing even if we have to make money from other jobs but we still stick to this one ‘useless’ thing.

So I can say after 9 years of tirelessly blogging, I hardly made money from this blog but the blog has made it POSSIBLE for me to land many jobs, ranging from a journalist, a copywriter, a translator, an editor, a book writer, a magazine writer and even a guest lecture, which never snapped on my mind. All these jobs are paying ones (forget about the image of a lonely, tortured, poverty-stricken writer). This would be different if I had spent my time for writing Facebook updates, producing tweets like crazy, or selecting the right diction for a caption on Instagram to impress followers.

Anyway, happy National Bloggers Day! Keep blogging no matter what! (*/)

#DeleteInstagram: Saat Instagram Menjadi ‘Titisan’ Facebook

“If you are not willing to see your company or your vision gets degraded at least a little bit, don’t sell your company. That’s the truth.”- Alexia Tsotsis (jurnalis teknologi dan mantan editor blog TechCrunch.com)

facebook application icon
Instagram berisiko kehilangan para pengguna setianya jika makin mirip menjadi Facebook. (Foto oleh Pixabay di Pexels.com)

Setelah skandal Cambridge Analytica beberapa waktu lalu, saya menanggalkan status saya sebagai pengguna Facebook. Saya hapus akun dan tidak berniat untuk mengunggah data pribadi apapun saya lagi di sana. Dan karena sesekali memang ada desakan dari pekerjaan agar saya menggunakan Facebook, saya kemudian ‘terpaksa’ membuat satu akun baru namun begitu kewajiban profesional itu usai, saya tak berniat berkegiatan lagi di Facebook sebagaimana yang dulu saya rasakan di tahun 2008.

Seorang teman mengkritik saya sebagai orang yang kaku. Kalau saya tidak mau ketinggalan, saya harus mau terjun kembali ke Facebook (meskipun media sosial bukan cuma Facebook tapi kenyataannya dominasi Facebook memang sudah tak terbendung lagi di dunia). Tetapi bagaimanapun lemahnya kekuatan saya sebagai seorang pengguna/ konsumen, saya mesti menunjukkan sikap. Dan saya memang agak kurang ‘sreg’ dengan makin dominannya Facebook di seluruh dunia.

Dengan meninggalkan Facebook, saya mencoba beralih ke layanan media sosial lainnya seperti Twitter. Sayangnya, di Twitter kesenangan untuk menulis panjang layaknya di Facebook tak begitu bisa terakomodasi meskipun batasan karakternya sudah dikendurkan juga sebetulnya.

Lalu juga LinkedIn. Di jejaring profesional ini, tentunya hampir semuanya berbau pekerjaan. Dan memang sudah semestinya LinkedIn demikian. Sesekali saya risih juga saat menyaksikan sesama teman di LinkedIn yang mengunggah konten yang kurang profesional dan terlalu pribadi, kurang edukatif dan informatif. Bahkan ada juga yang terlalu relijius dan politis. Saya merasakan adanya perlawanan massal di LinkedIn bahwa pengguna tidak diperbolehkan menggunakannya layaknya Facebook. Kalau mau liar atau norak atau julid, lakukan saja di Facebook! Begitu kasarnya. Saya sendiri juga sangat antipati terhadap penggunaan LinkedIn selain untuk sarana berjejaring yang beradab bagi kaum profesional global.

Kemudian Instagram. Baik sebelum dan sesudah diakuisisi Facebook, jejaring sosial satu ini menjadi salah satu tempat ‘pelarian’ saya dari Facebook. Maka, saat mengetahui berita akuisisi Instagram oleh Facebook enam tahun lalu, rasanya memang agak kecewa.  Hanya saja karena dijanjikan memang ada independensi bagi para pendiri Instagram (Kevin Systrom dan Mike Krieger) dalam menjalankan bisnisnya, saya menganggap Instagram sebagai sebuah ‘bisnis istimewa’ layaknya sebuah teritori bisnis spesial yang berotonomi khusus meski ada di bawah naungan perusahaan yang lebih raksasa.

Tetapi memang keistimewaan itu makin lama makin menjadi sebuah ilusi semata karena diberitakan beberapa waktu lalu bahwa Facebook terus mendesak Instagram agar mau membantunya menarik kembali para pengguna milenial dan yang lebih muda, yang sudah mulai muak dan meninggalkan Facebook karena Facebook sudah sesak dengan berita politik dan hoax yang disebarkan oleh orang-orang seumuran orang tua, paman, tante, dan kakek nenek mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka yang lebih lemah harus mengalah. Akhirnya, Systrom dan Krieger mengundurkan diri (atau didepak?) dari Instagram (untuk lengkapnya, baca di sini). Tak cuma di Instagram, dominasi dan kekuasaan Facebook makin mengencang di sejumlah perusahaan yang mereka akuisisi seperti WhatsApp hingga menimbulkan benturan kekuasaan yang membuat mereka yang lebih lemah yang terpental. Dan untuk menggantikan para pendiri Instagram, Facebook mengirimkan para eksekutif top yang loyal pada kepentingan mereka sehingga dapat dipastikan Instagram tak akan lagi sama.

Yang menarik, setelah tersingkir dari WhatsApp, Brian Acton dari WhatsApp yang mencemaskan aspek privasi pengguna pasca kepergiannya, melontarkan kampanye “Delete Facebook” di Twitter.

Lalu sekarang apakah akan ada kampanye yang sama untuk “Delete Instagram”?

Mungkin suatu saat nanti jika itu benar-benar terjadi (Instagram benar-benar menjadi Facebook kedua), saya akan meninggalkannya. Dan kembali pada media sosial yang tetap tak tergantikan: blog. (*/)

Blogger Idealis VS Blogger Komersil: Pilih Mana?

img 20150122 123724
(Dok pribadi)

“My blogging life is basically goalless. I like the zen nature of that, and paradoxically, it improves results.”- Seth Godin

SEBAGAI blogger, saya bukan termasuk blogger yang gemar mengunjungi acara-acara kolosal yang dihadiri blogger-blogger atau citizen journalists. Mungkin karena saya memulai menulis blog bukan hanya sekadar keinginan mengikuti tren. Saya pantang menyerah dan masih juga memperbarui konten tanpa ada insentif apapun meski saat itu [tahun 2009] saya hanya bisa mengakses internet berbekal koneksi nirkabel yang kecepatannya membuat saya harus berkali-kali mengelus dada dan begadang sampai pukul dua pagi [entah kenapa koneksi internet makin lancar saat langit makin gelap. Saya ingin bertanya pada Smart sebagai penyedia layanan saat itu tapi belum sampai pada mereka].

Saya tidak bermaksud arogan saat mengatakan saya tak lagi memiliki hasrat untuk menghadiri acara-acara blogging tetapi karena saya merasa saya sudah menemukan tujuan saya dalam menulis blog.

Tidak munafik, dulu sebetulnya saya sering berusaha menyempatkan diri untuk menghadiri acara-acara seperti itu tetapi seiring berjalannya waktu, saya merasa makin lelah dan merasakan adanya desakan untuk meningkatkan ilmu dan pengalaman dengan tidak melulu mempelajari hal yang sama berulang kali.

Setelah sembilan (9) tahun menggeluti dunia blogging ini, saya sangat bersyukur karena saya sudah bisa menggapai banyak hal dengan berbekal blog-blog amatir yang sudah saya tulis. Maksud saya ‘amatir’, blog-blog saya hanya bercokol di domain-domain platform blogging gratis semacam wordpress.com seperti ini atau blogger.com.

Saya menggunakan blog-blog itu sebagai batu loncatan dan latihan untuk meyakinkan diri saya bahwa saya memang bisa dan piawai menulis. Dan saat saya sudah meyakinkan diri saya bahwa saya bisa, giliran saya meyakinkan orang lain mengenai hal yang sama. Dan saat itulah, saya tunjukkan karya saya dalam bentuk blog-blog ini. Sebelum mendapatkan pekerjaan sebagai jurnalis, saya memakai blog-blog ini sebagai portofolio yang saya bisa sodorkan pada pemberi kerja dan syukurlah, pemberi kerja yakin dengan apa yang saya sudah lakukan itu.

Jadi, sekali lagi saya tidak berkata saya menulis blog hanya untuk idealisme. Saya juga tentunya ingin mendulang keuntungan dari sini. Tetapi masalahnya keuntungan itu, apapun bentuknya, tidaklah bisa didapatkan secara instan dan bentuknya tidaklah mesti keuntungan finansial yang jumlahnya menggiurkan dan konstan datangnya.

Lalu muncullah keluhan-keluhan mengenai munculnya blogger-blogger yang passion utamanya ialah memfasilitasi brand-brand tertentu [entah mau mereka benar-benar pakai atau tidak, mereka sukai atau tidak] dalam upaya marketing dan sales.

Saya akui saya juga tidak kebal dari iming-iming semacam itu. Di blog ini, beberapa unggahan artikel saya adalah tulisan yang saya buat dalam rangka mempromosikan produk dan layanan brand tertentu [Anda bisa cari sendiri].

Namun, dari semangat yang menggebu-gebu untuk meraup hadiah, lama-kelamaan saya berpikir ada yang salah rasanya jika saya mengobral ruang di blog saya ini dengan memuat konten apa saja yang bersifat komersial, tanpa mempedulikan pandangan dan opini saya sendiri.

Ini bisa jadi karena saya sudah mulai menemukan ceruk saya sendiri untuk menulis secara profesional. Saya tidak menganggap blogging sebagai suatu sumur minyak satu-satunya yang saya harus eksploitasi secara maksimal. Saya menggantungkan sumber nafkah pada pekerjaan saya yang utama sehingga saya bisa lebih berdaulat di blog saya sendiri. Kedaulatan itu berupa kebebasan saya untuk menentukan konten atau tulisan seperti apa yang bisa saya masukkan atau tidak di blog saya. Mau ada yang membaca atau tidak, saya tetap memperbarui blog saya karena saya masih yakin bahwa konten yang bagus dan bermanfaat akan didatangi pengunjung bagaimanapun caranya. Organik, begitu satu istilah untuk menggambarkannya.

Seorang blogger yang sudah menulis lebih lama dari saya menyinggung soal suasana blogger saat ini terutama di Jakarta yang dipenuhi persaingan dan komersialisme. Interaksi sesama blogger, katanya, bukan lagi soal-soal substansial mengenai isu yang berkaitan dengan ketertarikan/ passion mereka tetapi melenceng ke monetisasi. Pokoknya bagaimana menambang uang dari blog. Atau jika bukan soal monetisasi, malah mereka membahas soal prestise semu semacam pagerank, Alexa rank, dan sebagainya. Lupakan soal influence, dampak yang diharapkan agar perubahan menuju ke arah yang lebih baik itu ada di masyarakat.

Menulis di blog pribadi memang tidak bisa 100% dianggap sebagai sumber penghasilan dan memang jangan sampai dianggap seperti itu.

“Blogging ONLY for money is a total bullshit.”

Itu menurut saya. Kecuali bagi orang-orang yang sudah memiliki komoditas yang jelas dan dibutuhkan untuk dijual ke masyarakat, seperti kepakaran, reputasi, ketenaran, ketrampilan, produk fisik, atau jasa.

Blogger-blogger yang ‘gagal’ memiliki atau membangun komoditas berharga untuk dijual via blog mereka biasanya berpikir pendek dengan ‘membangun kerjasama’ bersama brand-brand dan perusahaan-perusahaan untuk tetap bisa menghasilkan sesuatu dari aktivitas blogging mereka supaya tidak dikatakan pekerjaan yang sia-sia atau mubazir oleh orang-orang di sekitar mereka. Tak heran sekarang banyak blogger yang merasa sudah dikenal dan mulai berani untuk mengajukan diri sebagai pengulas produk dan jasa dengan imbalan yang biasanya berupa produk, voucher, tiket, kesempatan berwisata atau menginap yang semuanya gratis. Kalau tidak ada freebies sejenis itu, setidaknya ada goodie bags [yang biasanya berisi flash disk, notes, kaos, pulpen, wadah kartu nama, dan sebagainya] yang bisa dibawa pulang. Fenomena semacam ini nyata adanya di  antara para blogger gaya hidup (lifestyle) dan pelesir (traveling) yang memang sedang jaya-jayanya sekarang.

Sekarang ini saya telah menemukan dan akan terus berupaya memelihara keseimbangan dengan sesekali ikut lomba blogging yang temanya sesuai dengan minat, passion serta opini pribadi saya juga. Jadi kecil sekali kemungkinan saya mau menulis soal produk yang saya bahkan tidak pernah pakai, atau bahkan saya kurang sukai.

Ada tanggung jawab moral untuk mencoba dan membuktikannya dahulu agar orang lain tidak mengalami kerugian yang sama [bila memang ada kerugiannya] dan bisa mendapatkan faedah yang serupa [jika kita temukan manfaat positifnya].

Dan tentu saya masih akan terus menulis opini, pengalaman dan pemikiran saya yang tidak akan didapatkan dari blog-blog orang lain betapapun mereka lebih segala-galanya dari saya. (*/)

Moving to Akhlis.net

It’s Friday and nothing feels better than a lazy mood of weekend (though now I don’t feel the difference of weekdays and weekends so much). I don’t know if you notice but I’m now moving my blog to another new domain which is more friendly for bloggers in so many ways. I mean, I can freely create and move things I cannot do on this free-of-charge platform. I want something better to accomodate my writeups. So here’s the new URL: http://www.akhlis.net.

It’s my new virtual home and it needs more revamps definitely. I’m trying to finish the moving process gradually because I’m no geek and I need technical assistance from a buddy.

%d bloggers like this: