Cara Mencintai Pekerjaan yang Tak Kau Cintai

DRAMA seri Jepang ini menceritakan seorang tukang cek naskah yang bertabiat periang, ceplas ceplos dan suka berdandan menor. Tak berlebihan kalau judulnya “Pretty Proofreader“.

Foto: Asianwiki

Dari apa yang saya baca di Asianwiki, drama ini diadaptasi dari novel karya Ayako Miyagi dan Amyumi Nakatani. Tahun dirilisnya 2016 jadi lumayan sudah jadul sebetulnya.

Tapi yang menarik dari drama ini sebenarnya pelajaran berharga bagi Anda yang saat ini sedang merasa terjebak dalam pekerjaan yang membosankan atau kurang disukai karena berbagai alasan.

Di sini Etsuko Kono si tokoh utamanya diceritakan sangat mendambakan pekerjaan editor di sebuah majalah fashion Lassy. Begitu gandrungnya sampai dia baca semua edisi majalah itu dan mengoleksinya di kamar kosnya yang sempit di atas sebuah warung edon yang dikelola teman ayahnya, Taisho Oda.

Gadis 28 tahun itu gigih benar dalam memperjuangkan impiannya menjadi editor fashion. Ia berkali-kali melamar ke perusahaan penerbitan yang di dalamnya juga mencakup penerbitan majalah Lassy.

Eh tak disangka, ia dinyatakan diterima sebagai karyawan, tapi bukannya di majalah Lassy. Ia justru direkrut sebagai seorang juru pemeriksa naskah buku yang juga bernaung di bawah perusahaan yang sama dengan Lassy.

Sempat ia kecewa berat karena masuk ke divisi yang membosankan. Teman-teman kerjanya berpenampilan kaku, pendiam dan nerdy. Lihat saja penampilan Rion Fujiwa yang saban masuk kerja cuma pakai blazer abu-abu. Lalu Mitsuo Yoneoka yang queer, dan 3 orang lainnya yang juga pendiam dan berkacamata tebal. Intinya divisi proofreading ini penuh dengan orang-orang yang tak bisa tampil di depan layar, termasuk si manajer Naoto Takehara.

Etsuko Kono kemudian bertemu dan jatuh cinta pada Yukito Orihara, seorang anak muda yang sebetulnya punya talenta sebagai penulis tapi belum yakin betul dengan bakatnya itu.

Ia menggunakan nama pena sebagai samaran agar sang ayah yang ternyata adalah penulis kenamaan Daisaku Hongo tidak kecewa dengan karya-karyanya yang menurut Yukito sendiri kurang setara dengan karya ayahnya.

Karena itulah Yukito terpaksa menerima tawaran bekerja sebagai model majalah Lassy setelah teman SMA Etsuko Kono menawarinya. Teman yang bernama Toyoko Morio ini kemudian menampungnya di rumahnya dan sempat terjebak cinta lokasi yang kemudian dia sadari bahwa ia cuma kesepian.

Kembali soal pekerjaan, si Yukito juga sempat ragu dengan pilihan kariernya sebagai penulis fiksi. Apalagi kepercayaan dirinya melemah begitu ia mendapatkan komentar jujur dari editornya Hachiro Kaizuka yang juga teman sejawat Etsuko Kono di kantor.

Yukito pun mencoba untuk tidak meninggalkan dunia menulis. Ia menulis tapi dengan mengambil perspektif yang menurutnya lebih menarik bagi dirinya.

Di akhir cerita, ia menerbitkan sebuah buku yang membahas sejumlah orang dengan profesi ‘di balik layar’ seperti tukang servis mainan anak di playground, pekerja proyek jembatan, dan sejumlah profesi yang tak banyak dilirik dan dibicarakan orang sebagaimana profesi populer seperti pesohor, aktor, penyanyi, dan sebagainya.

Ini tentu sangat berlawan dengan tren zaman sekarang, saat orang-orang berlomba tampil di depan layar. Mereka memanfaatkan media sosial sebagai pengganti televisi dan media arus utama yang tak lagi menyediakan ruang untuk mereka yang dianggap kurang ‘menjual’.

Di sini kita bisa resapi perjalanan karakter Etsuko Kono yang awalnya cuma ingin bertahan 3 bulan di divisi proofreading dan secepatnya ingin pindah ke Lassy sebagai editor bersama Toyoko Morio.

Eh ujung-ujungnya ia malah terlalu jatuh cinta pada pekerjaanya sebagai proofreader dan melewatkan tawaran mengerjakan sebuah proyek di majalah Lassy yang memberinya kesempatan membuktikan kecintaannya pada dunia fashion.

Etsuko Kono diceritakan sebagai seorang pekerja yang tak mau setengah-setengah dalam bekerja. Walaupun ia tak begitu suka pekerjaan proofreader, toh ia bersedia melakukan pekerjaan itu dengan semaksimal mungkin. Bukan cuma untuk mengisi waktu atau sebagai batu loncatan ke pekerjaan editor yang ia dambakan.

Bagi saya ini relevan dan sangat membantu menaikkan semangat bagi Anda yang sedang merasa kurang cocok dengan pekerjaan yang digeluti saat ini.

Kalau Anda memang merasa tak cocok dengan pekerjaan sekarang karena berbagai alasan, jangan jadikan itu sebagai alasan untuk mengerjakannya secara asal-asalan karena dari sini karakter kita justru sedang diuji.

Jadi tetaplah bekerja dengan sepenuh hati entah itu terlihat orang atau tidak. Karena kalau semua mau menjadi aktor yang tampil di panggung, siapa yang mau bekerja di balik layar menjadi sutradara, penata rias, pengatur cahaya? (*/)

Pandemic Diary: ‘Revenge Traveling’ yang Bikin Pening

WARGA +62 sedang euforia dalam hal melancong akhir-akhir ini. Apalagi level PSBB sudah diturunkan. Makin menjadi-jadilah pelampiasannya.

Dan berita yang konyol saya dengar hari ini soal sepasang laki bini dari Samarinda Kalimantan Utara yang dinyatakan positif terkena Covid-19 sehingga mereka ditolak untuk masuk Bali.

Tapi gilanya alih-alih berdiam diri di rumah sampai terbukti negatif, eh mereka ubah destinasi ke Malang dan tetap melancong ke Batu dan bersenang-senang di sana sembari menyebarkan virus di sepanjang jalan. Haha.

Akibatnya begitu mereka terlacak, mereka langsung diciduk polisi. Dikenailah mereka pasal 93 UU Karantina dengan sanksi 1 tahun pidana dan denda Rp100 juta.

Mereka datang ke Malang dan mereka menjalani rapid test yang disediakan Polresta Malang Kota.

Hal ini terkuak juga akibat keluarnya postingan di Instagram soal keduanya yang positif tapi masih leluasa ke luar dan berjalan-jalan.

Sinting memang kelakuan orang-orang sehabis pandemi ini. (*/)

Adu MacBook Air Keluaran 2014 & 2020

Lebih nyaman mana MacBook Air 2014 atau 2020 dengan chip M1?

Atas MacBook Air rilisan 2020 dengan chipset M1 dan bawah MacBook Air awal 2014 dengan prosesor Intel Core. (Foto: Dok. pribadi)

SUDAH beberapa waktu terakhir ini saya mengeluhkan sistem operasi Mac OS yang sudah tak bisa lagi diperbarui di MacBook Air awal 2014 yang saya punya. Memang sih ada update sedikit dari Apple ternyata setelah Monterey rilis tempo hari. Tetap saja ini versi Big Sur yang tak bakal sebaik Monterey yang lebih terkini.

Tapi ya sudahlah. Tujuh tahun memang sudah terbilang awet banget untuk ukuran sebuah laptop ya. Itu tak bisa dipungkiri. Rasanya kok muluk-muluk untuk menuntut bisa pakai OS terbaru sampai 1 dekade masa pemakaian.

Sempat saya terpikir memasang Linux di laptop MBA lama ini tapi sayang banget dengan OS yang masih ada ini. Bagaimanapun OS yang sudah familiar itu susah ditinggalkan.

Inersia atau kelembaman dalam pemakaian gawai memang terasa saat kita mesti beralih dari satu gawai jadul ke gawai terkini. Artinya, sebagai pemakai teknologi kita cenderung susah ‘berpindah ke lain hati’. Ini saya sangat rasakan saat saya kebetulan bisa menggunakan MBA keluaran 2020 yang sudah memakai chipset M1 punya Apple sendiri, bukan milik Intel.

Ucapkan selamat tinggal pada kenyamanan menggunakan tetikus/ mouse dengan sekali colok ke laptop. (Foto: Dok. pribadi)

Satu hal yang paling saya tangisi saat menggunakan MBA tahun 2020 adalah hilangnya colokan untuk flashdrive/ flashdisk dan tetikus berkabel (wired mouse). Bahkan wireless mouse pun masih butuh dongle untuk dicolok ke laptop yang mesti menancap di port ini lho. Setelah dipikir-pikir inilah alasan kenapa teman saya yang sudah pakai MBA keluaran terbaru tak lagi pernah pakai tetikus saat bekerja. Bekerja tanpa tetikus membuat agak ‘kagok’. Terasa kurang lancar. Tanpa memakai tetikus rasanya kurang serius kerja. Menavigasi dengan hanya pakai touchpad rasanya cuma seperti mengelus-elus laptop. Kurang mantap! Haha. Tapi sekali lagi ini tinjauan psikologis saja karena kebiasaan.

MBA 2014 lebih lebar secara keseluruhan tapi touchpad lebih sempit sedikit. Sementara MBA 2020 lebih sempit sedikit panjang dan lebarnya tapi touchpad-nya lebih lapang. (Foto: Dok. pribadi)

Soal baterai tentunya sudah jaminan mutu lah ya. Baterai ini memang salah satu keunggulan produk MacBook Air dari zaman dulu. Selalu bisa tembus 10 jam. Bahkan mungkin kalau saya tidak streaming YouTube atau Spotify sepanjang kerja, daya tahannya bisa mencapai 12 jam. Mungkin saja ya. Tapi kan saya juga ngapain harus seirit itu. Toh saya sedang kerja di rumah dan tak masalah kalau mau mengisi ulang dayanya kapanpun.

Kalau soal bodi, kok saya merasa MBA 2020 lebih solid dan berat ya. Sedikit saja sih selisihnya tapi lumayan terasa. MBA 2014 lebih tipis, lebar dan ringan. Terasa MBA 2020 seperti versi MBA 2014 yang dipadatkan dan disolidkan. Saya tak mau mengecek spesifikasi masing-masing karena saya ingin cuma bersandar pada pengalaman dan perasaan saya sebagai pengguna saja ya. Saya nggak mau repot pusing soal data spesifikasi yang akurat.

MBA 2020 sudah diberi Touch ID. (Foto: Dok. pribadi)

Satu kemajuan yang diberikan di MBA terbaru adalah adanya TouchID di pojok kanan atas laptop. Ini menggantikan tombol POWER di MBA 2014 saya rupanya. Lalu bagaimana menyalakan MBA 2020? Tinggal dibuka saja dan dia nyala sendiri. Sesimpel itu, guys.

Chipset M1 yang lebih efisien membuat MBA 2020 tak sepanas dulu. Jadi masuk akal kalau laptop ini tak pakai kipas lagi. Artinya bisalah diajak ngetik di atas tempat tidur empuk. Kalau yang MBA 2014, didudukkan di bantal bisa menghangat dan meledak. Terutama kalau saya selesai video call, kerja kipas terasa maksimal dan berisik. Kasihan, sepertinya laptop MBA 2014 tak sanggup mengimbangi tuntutan kerja saya sekarang. Karenanya saya harus matikan MBA 2014 dulu habis video call baru menyalakannya lagi supaya suhunya turun dan kipasnya mati. Dengan chipset M1, kebiasaan ini tinggal sejarah. Entahlah mungkin juga bakal sama lagi di masa datang kalau MBA 2020 ini makin uzur di tahun 2027 atau 2028. Haha. Semuanya hanya masalah menunggu waktu ajalnya.

Kualitas layar masih sama kayaknya di MBA 2020. (Foto: Dok. pribadi)

Layar TrueTone masih jadi andalan. Ya nggak sebagus MacBook Pro pastinya. Namanya juga ini versi entry level dari lini MacBook. Tapi sudah memadai kok buat orang yang kerjanya teks seperti saya. Tak perlu lah menggunakan layar yang konsisten warnanya dan mendekati asli. Mata saya masih bisa menolerir ketidakakuratan warna asal pikselnya masih bekerja dan bisa menampilkan teks WhatsApp dan Google Docs. Bisa dikatakan saya memang simple user seperti anak sekolahan. Banyak kerja dengan dokumen. Bukan konten berat macam video dan foto yang high resolution.

Keyboard lebih enak sensasi dan suaranya di MBA 2020. (Foto: Dok. pribadi)

Butterfly keyboard di MBA 2014 memang nyaman dan satisfying suaranya. Tapi suara dan sensasi keyboard MBA 2020 juga ternyata nggak kalah memuaskan. Saya suka keyboardnya. Ini penting karena saya mengutamakan kenyamanan keyboard saat bekerja. Maklum saya bekerja lebih banyak mengetik daripada melihat layar.

Soal ketahanan cat keyboard, kita lihat saja nanti ya. Karena di MBA 2014, Anda bisa lihat huruf N saya sudah terkelupas dan bahkan tutsnya jadi transparan betul. Saya tak tahu apakah itu karena cacat produksi atau memang jari saya yang sangat antusias memukul tuts N tadi. Frekuensi menggunakan huruf N saya juga tidak luar biasa. Aneh memang…

Dead pixel di MBA 2014. Mungkinkah dead pixel bisa dicegah supaya tidak membawa dalam tas yang penuh sesak? (Foto: Dok. pribadi penulis)

Saya juga suka ukuran chargernya MBA 2020 yang sudah mengecil. Mungkin sepertiganya. Lumayanlah kalau Anda sangat mengutamakan portabilitas saat bepergian sambil kerja.

Buat yang tertarik memboyong pulang MBA 2020, rasanya bisa lihat di sejumlah marketplace Indonesia semacam Tokopedia, Blibli, Shopee, dan sebagainya. Harganya sudah turun kok dari 15-16 jutaan ke 13 jutaan karena ini sudah tahun 2022. Artinya MBA 2020 ini sudah lumayan nggak fresh. Haha begitulah cepatnya dunia teknologi bergerak ya.

Memang kalau sudah ngomong rencana beli produk teknologi, yang terbaik pasti adalah menundanya sampai besok, besok dan besok sampai benar-benar tak bisa kerja dengan perangkat yang sekarang. (*/)

Charger MBA 2020 lebih mungil dan ringkas. Enak dibawa di tas tapi dengan panjang ala kadarnya ini kita harus duduk dekat colokan kalau sedang isi daya sambil kerja. (Foto: Dok. pribadi)

7 Langkah Menuju Hidup yang Lebih Positif dan Bermakna

PERNAH kah Anda membaca sebuah twit yang bertagar #Pejuang Rupiah yang bunyinya begini: “Ditidurkan oleh rasa capek. Dibangunkan oleh pekerjaan. Dan disemangati oleh cicilan”?

Kalau dibayangkan kok jadi teringat hamster-hamster di kandang. Lari di atas roda mainan seharian. Sampai capek lalu makan lagi, tidur, lalu begitu lagi. Akhirnya mati. Innalillahi…

Menurut saya, hidup manusia harus lebih dari hidup berwarna dan bervariasi dari seekor hamster peliharaan. Nggak mesti kayak semboyan bapak kita: Kerja, kerja, kerja. Get a life please.

Terapis dari New York Institute of Technology School of Health Professions, Dr. Melanie Austin-McCain, mengatakan ada banyak cara yang bisa ditempuh menuju hidup yang lebih positif dan memiliki makna. Jadi kita tidak merasa sekadar bertahan hidup dari hari ke hari demi cari makan, membayar utang/ cicilan, bisa memiliki sebuah benda yang diidamkan atau demi menafkahi orang-orang yang disayangi.

Caranya adalah dengan menerapkan pola hidup sehari-hari yang sehat dan berkesadaran (mindful). Saat kita menjalani kehidupan dengan sadar, kita sepenuhnya ada dalam masa kini dan fokus pada apa yang tubuh Anda lakukan dan hadapi dan alami. Perasaan, pemikiran dan perbuatan menjadi satu kesatuan utuh. Itulah arti mindfulness.

Riset menunjukkan bahwa memiliki tujuan hidup penting jika seseorang ingin memiliki hidup yang lebih sehat dan panjang umur dalam kondisi yang relatif sehat. Karena sekarang yang lebih penting dari waktu hidup (lifespan) adalah waktu sehat (healthspan). Umur 100 tahun tapi habis di tempat tidur karena stroke bukanlah hidup yang berkualitas. Justru menyiksa. Jadi bukan cuma panjang umurnya tapi juga mutunya.

Berikut adalah 7 langkah menuju hidup sehari-hari yang lebih bermakna, lebih berkualitas dan lebih seimbang baik bagi raga, pikiran dan jiwa.

  • Meditasi: Luangkan waktu untuk menjernihkan pikiran Anda dengan bermeditasi. Jika tak memungkinkan meluangkan waktu 30 menit saban hari, cukup lakukan selama 5-10 menit asal konsisten tiap hari. Ingat intensitas tinggi yang cuma berlangsung sebentar bakal kalah dengan konsistensi yang bisa bertahan dalam jangka panjang.
  • Pola hidup aktif: Gerakkan badan secara teratur. Lakukan peregangan dan penguatan secara berkala. Otak juga perlu dijaga kesehatannya dengan belajar hal baru, berpikir dalam, menyusun strategi baru untuk mengatasi tantangan yang datang dan menjajal hal-hal baru.
  • Manajemen: Jadilah CEO bagi hidup Anda sendiri. Artinya bersikaplah lebih proaktif dalam hidup, jangan pasif dan menunggu. Terapkan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats). Atur hidup Anda seperti Anda sedang menjalankan secara serius sebuah perusahaan. Susunlah jadwal makan dan istirahat yang sesuai irama tubuh, jaga kerapian dan kebersihan rumah, mengevaluasi hidup Anda selama setahun belakangan untuk bisa merencanakan langkah ke depan.
  • Optimasi: Adopsilah pola pikir yang proaktif dalam menyongsong masa depan. Lihat tantangan sebagai peluang dan kesempatan untuk memberdayakan potensi dalam diri Anda dan orang-orang di sekitar Anda.
  • Kebermaknaan: Berikan pengakuan dan penghargaan bagi mereka yang sudah mendukung Anda dan carilah kebahagiaan dalam hal-hal yang Anda pilih secara sadar. Setiap hal dalam hidup kita pasti akan terasa lebih bermakna saat kita sadar bahwa ia hadir dengan satu tujuan dalam hidup.
  • Terus belajar dan mengajar: Hiduplah dalam semangat belajar dan mengajar yang konstan. Maksudnya, kita idealnya bisa memandang hidup sebagai sebuah sekolah, yang di dalamnya kita semula menjadi murid dan kemudian ada giliran kita untuk membagikan apa yang sudah kita pelajari dan dapatkan pada orang-orang lain yang lebih muda atau membutuhkan pengalaman, pengetahuan dan kearifan kita. Saat kita terus belajar lalu berbagi ilmu dan kearifan tadi, hidup kita pasti terasa lebih bermakna.

Menurut Anda apalagi yang bisa dilakukan agar hidup ini tidak kosong tapi makin bermakna dari hari ke hari? (*/)

Daripada Nonton “Tinder Swindler” Mending Nonton Ini…

Buka mata, buka pikiran. Sebuah film tentang dunia paralel yang matriarkis. (Foto: Whatsnewonnetflix)

FILM PERANCIS ini kalau bisa saya katakan sih menggunakan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Di sini tatanan patriarkis dijungkirbalikkan menjadi matriarkis. Penonton dibawa ke dunia paralel yang di dalamnya kaum wanita adalah yang dominan. Mereka mengangkangi para pria, spesies kelas dua.

Judulnya “I Am Not an Easy Man” (2018). Sutradaranya Eléonore Pourriat yang juga menjadi penulis naskahnya bersama Ariane Fert.

Saat menonton ini, saya kebetulan membaca berita singkat soal perkembangan kasus si Gofar Hilman yang dari tahun lalu dituduh melecehkan seorang wanita.

Publik pun lagi-lagi terbelah. Satu kutub berkomentar: “Tuh kan bener, si korban dibungkam dan diancam tuh pasti di baliknya..” Di kutub sebaliknya ada yang bersikeras: “Nah kan apa gue bilang. Dia tuh difitnah. Ceweknya halu aja…”

Sejurus saya kembali menonton film ini dan merasa bahwa tarik ulur yang sedang terjadi antara 2 karakter utamanya yakni seorang pria bernama Damien (diperankan Vincent Elbaz) dan Alexandra (direpresentasikan dengan baik oleh Marie-Sophie Ferdane).

Dunia paralel dimulai tatkala Damien yang sok kegantengan dan sok memesona ini menebar daya tarik ke perempuan di sebuah ruas jalan saat ia berjalan bersama sahabatnya Cristophe. Mereka habis dari sebuah acara peluncuran buku yang dibantu penyelenggaraannya oleh asisten pribadi Cristophe, Alexandra, yang digoda terus oleh Damien.

Sejak terbentur tiang itu, dunia Damien tak sama lagi. Ia ditendang dari kantornya oleh rekan kerjanya yang wanita yang ternyata membenci ide-ide bisnisnya yang selama ini disukai atasan mereka. Si atasan lebih suka ide rekan wanitanya sekarang. Ini mengejutkan karena selama ini Damien selalu menjadi primadona di kantor perusahaan startup yang maskulin. Tiba-tiba diperlakukan seperti sampah, Damien pun kesal dan undur diri.

Di rumah, ia cuma tinggal dengan kucing kesayangannya. Sebagai laki-laki di dunia patriarkis, status lajangnya tak begitu dipermasalahkan. Begitu ia masuk dunia paralel yang matriarkis, tiba-tiba status itu diangkat terus oleh ayahnya. Ia disudutkan terus seolah ia harus segera menikah dan berkeluarga.

Di dunia paralel ini, Damien mengobral dirinya habis-habisan demi menarik cewek idamannya Alexandra yang bekerja sebagai penulis terkenal. Ia menulis novel populer yang sangat kuat nuansa feminisnya. Alexandra berkepribadian dominan di sini. Ia berolahraga keras, berhubungan dengan banyak pria dan memperlakukan mereka seperti koleksi. Untuk tiap satu pria yang ia tiduri, ia mengabadikannya dengan sebuah kelereng yang dikumpulkan di sebuah sudut rumahnya. Dengan kata lain, ia menganggap pria-pria ini adalah taklukannya. Miriplah dengan apa yang dilakukan dan digembar-gemborkan juga oleh Gofar di sebuah siniar, bahwa ia dengan bangga pernah meniduri banyak cewek. Di sini kita disuguhi pembalikan konteksnya: bagaimana sih rasanya jika cowok yang dikoleksi sebagai objek seks dan penaklukan petualangan seks seorang cewek yang dominan dan lebih segala-galanya dari mereka?

Film ini sepertinya ingin mengajak kita untuk memikirkan ulang konstruksi sosial mengenai gender. Apakah cowok harus selalu yang di depan memimpin? Harus dominan, boleh ‘nakal’, harus menjadi yang menonjol? Apakah cewek harus patuh, pasif, baik, tidak boleh bandel, mengurusi rumah tangga dengan baik?

Kita seperti dibukakan sebuah pintu menuju skenario lain bahwa mau cowok mau cewek ya bisa saja mengisi peran apapun asal ada sistem dan penguasa yang mendukung. Pria beruntung karena selama ini didukung oleh yang berkuasa dari zaman entah kapan. Dogma agama, norma sosial, bahkan aturan hukum sangat kuat mendukung dominasi pria di segala lini. Dan ini mulai perlahan digerus oleh gelombang feminis.

Kita harus membuka mata bahwa cowok memang bisa melecehkan tapi juga bisa menjadi korban pelecehan. Cewek juga meski biasanya jadi korban, mereka juga bisa lho jadi pelaku kekerasan seksual.

Di dunia yang serba mungkin ini, semua bisa terjadi. Jangan picik menjawab: “Ah itu musykil!” (*/)

Damien di dunia matriarkis mencoba memenuhi standar pria ideal: tanpa bulu, memiliki bokong yang kencang, kaki jenjang, dan mati-matian mengobral diri agar segera memiliki seorang pasangan ideal (cerdas, cantik dan kaya) dan punya anak segera karena sudah didesak orang tua. (Foto: mubi.com)

Nasib Buruk Akibat Lupa Tanda Kutip

BAYANGKAN Anda menjadi Tomasz Giemza (diperankan dengan gemilang oleh aktor Maciej Musialowski), seorang pemuda Polandia yang sudah masuk jurusan hukum di universitas bergengsi. Bangga pastinya.

Tapi kebanggaan tadi hancur lebur begitu ia dipanggil dalam sebuah sidang dugaan plagiarisme. Ia didepak dari bangku kuliah karena alpa dalam menyertakan tanda kutip dalam tugas esainya. Bahkan itu bukan skripsi lho.

Tanpa bisa protes lagi, ia menerima keputusan tadi dengan terpaksa. Pendidikan yang menjadi satu-satunya jalan untuk mobilitas vertikal dalam stratifikasi sosial, kini lenyap sudah. Sedih banget…

Ia sebenarnya pemuda miskin yang pernah dekat dengan sebuah keluarga terpandang Krasucki. Mereka ini tinggal di ibukota Warsawa, tinggal di apartemen mewah di tengah kota dan punya lingkaran pergaulan elit. Semacam diplomat, politisi, pebisnis, dan sebagainya.

Sementara protagonis kita ini cuma pemuda udik dengan niat tulus untuk menjalin hubungan dengan keluarga kaya tadi karena ia memang menaruh hati pada putri pasangan Krasucki, Gabi.

Tomasz pun punya trik khusus untuk mengetahui opini yang paling jujur dari keluarga ini mengenai dirinya. ia meninggalkan ponselnya di sofa dan pura-pura pulang. Ponselnya pun merekam pembicaraan tiga orang ayah, ibu dan anak ini soal dirinya.

Eksperimen meninggalkan ponsel itu membuat hatinya remuk karena dalam rekaman, ketiga orang tadi malah mencemoohnya. Mereka membicarakannya seolah sebagai seorang pengemis yang ingin mengiba, meminta perlindungan dan cinta dari Gabi. Memang biaya pendidikan Tomasz ditanggung keluarga Krasucki dan ia tentu tak bisa serta merta mendendam hanya karena mereka mencemoohnya di balik punggungnya.

Sebagai seorang laki-laki, tentu harga dirinya jatuh. Tomasz mendengarkan setiap detik rekaman tadi dengan bibir bergetar dan mata berurai airmata.

Namun, ia masih berusaha tabah dan gigih dalam mendekati Gabi dan keluarganya itu. Dan keputusannya untuk tetap menjalin koneksi dengan keluarga Krasucki berbuah manis.

Ia bertemu Beata Santorska, seorang praktisi humas ‘bawah tanah’. Ia mengepalai sebuah agensi partikelir yang bekerja demikian rapi untuk secara sistematis membantu para klien dalam mengubah dan membentuk citra di dunia maya. Jika perlu segala cara (baik yang haram sekalipun) untuk ditempuh.

Tertarik dengan bidang kehumasan ‘bawah tanah’ ini, Tomasz mencoba mengerjakan sebuah proyek untuk mencoreng citra seorang pesohor YouTube yang bergerak di bidang kebugaran dan kesehatan. Ia sesatkan opini publik soal selebriti maya ini dan produk minuman kesehatannya yang mengandung kunyit. Tomasz mengusulkan bahwa ia akan menggaungkan isu bahwa kelebihan minum produk minuman suplemen tadi bisa membuat overdosis betakaroten padahal itu tak sepenuhnya benar. Ia penuhi media sosial dengan foto-foto dan unggahan akun palsu yang mengeluhkan kulit mereka menguning akibat minum minuman suplemen si selebriti YouTube itu. Runtuhlah citra dan kerajaan bisnis si selebriti ini. Sampai ia menangis di sebuah video demi klarifikasi atas kabar yang dihembuskan Tomasz.

Cerita bergulir makin menegangkan saat Beata mengatakan ada proyek baru yang melibatkan Pavel Rudnicki (Maciej Stuhr), seorang politis muda yang percaya dengan semangat keterbukaan Eropa pada kaum imigran dari Asia Barat. Latar belakang film ini memang Polandia yang sedang bergolak akibat pertentangan kaum sayap kanan yang ingin Polandia bebas dari kaum imigran muslim dari tanah Arab yang bergejolak (Suriah). Rudnicki adalah wajah sayap kiri, semangat toleransi dan moderat terlihat dalam setiap kampanyenya.

Tomasz pun menerima dengan bersemangat proyek penghancuran citra Rudnicki ini begitu ia tahu Rudnicki ada hubungan erat dengan keluarga Krasucki.

Konflik makin meruncing tatkala Tomasz tahu ia bisa menggunakan keluarga yang ia benci tapi juga hormati itu untuk memuluskan proyek Rudnicki.

Dari sana, langkah Tomasz makin tak terbendung. Ia mulai menggunakan strategi dan cara yang nekat dan penuh kebencian demi keuntungin dirinya sendiri.

Saya sendiri bisa paham bahwa sebuah kejahatan tak muncul begitu saja. Ada banyak faktor pemicu yang berkontribusi di dalamnya yang kita sebagai pihak luar mesti ketahui dan kaji lebih cermat dan bijak.

Menghakimi memang mudah tapi tak akan membawa kita ke pemahaman lebih dalam mengapa sebuah tindak kriminal yang begitu keji dan jahat bisa terjadi. Kita tahu manusia bukanlah makhluk yang bertindak secara random atau tanpa sebab.

Di sini kita tahu bahwa Tomasz sebetulnya baik tapi dalam perjalanannya ia menjadi korban sebuah sistem kemasyarakatan yang ketat dan tanpa ampun.

Ia pun berusaha menemukan solusinya sendiri yang bertentangan dengan norma dan moral.

Terlepas dari akhir film yang agak kabur, saya bisa memberikan rekomendasi atas film dan akting si Maciej Musialowski yang top. Ia berhasil menghidupkan karakter Tomasz yang harus begadang memutar otak demi bertahan dalam sebuah pekerjaan yang tak lazim dan pada hakikatnya ilegal.

Riasan untuk si aktor utama juga meyakinkan. Lingkaran hitam di bawah mata yang cekung pada wajah Tomasz sangat mencerminkan rupa seorang pekerja modern yang di waktu terjaganya tak bisa jauh dari layar laptop, ponsel ataupun televisi. (*/)

“Dive!!”: Bakat dan Kerja Keras Sama Pentingnya

PERIBAHASA Thai mengatakan demikian: “Talenta itu terlahir. Bukan diciptakan.” Kita sendiri menemukan fakta di sekitar kita bahwa mereka yang sejak kecil sudah menunjukkan bakat tertentu bakal lebih ciamik saat dewasanya nanti. Bakat ini bisa muncul secara alami, bisa juga karena diturunkan secara genetis dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya.

Namun, kadang juga kita tidak bisa menutup mata bahwa ada anomali dalam hidup. Yang paling sukses dan menonjol kadang bukan mereka yang orang tuanya hebat dari dulu atau karena semua faktor di lingkungan mereka mendukung agar mereka bisa melejit.

Kadang ada juga anak-anak yang cemerlang karena mereka bekerja paling keras dalam kelompok mereka. Mereka ini menyadari bahwa mereka tidak terlahir dalam keluarga berbakat tertentu atau tumbuh dalam lingkungan tertentu. Dan untuk memberi kompensasi atas itu, mereka pun melakukan apapun yang diperlukan agar bisa lebih maju dari yang lain bahkan yang anak emas dan unggulan sekalipun.

Film “Dive!!” (2008) yang dibuat berdasarkan novel karya Eto Mori yang berjudul sama ini memang film lama tapi kok saya merasa masih seru buat ditonton. Film ini cocok buat memberi semangat anak-anak dan remaja yang merasa mereka sedang bingung dengan dunia di sekitar mereka, bingung dengan identitas/ jatidiri dan masa depan. Mereka belum memiliki bayangan seperti apa diri mereka di masa depan. Bagi yang sudah ada visi sih enak, bisa langsung fokus tapi buat yang masih meraba-raba dan tak paham apa renjana (passion) mereka, dunia seperti sebuah tempat yang gelap atau bisa juga menjadi sebuah maze yang berliku-liku.

Dari kiri ke kanan: Yoichi Fujitani (diperankan Sosuke Ikematsu), Tomoki Sakai (Kento Hayashi) dan Shibuki Okitsu (Junpei Mizobata).

Tomoki Sakai ‘cuma’ seorang remaja yang menyukai loncat indah atau diving dan ia tak pernah berhenti bermimpi untuk menjadi atlet pro. Bersamanya berlatih di klub adalah seorang anak pelatih profesional Yoichi Fujitani. Lalu tak lama datang juga seorang pesaing baru yang berbakat namun kemampuannya masih mentah, Shibuki Okitsu.

Ketiga anak muda ini punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tomoki bukan keturunan peloncat indah, orang tuanya tak seambisius dua rekannya. Namun, dia punya bakat yang terpendam: sebuah badan yang hiperfleksibel dan ‘mata berlian’, sebuah kemampuan membayangkan atau memvisualisasikan gerakan loncat indah yang kompleks dan merealisasikan imajinasi dalam benak mereka melalui tubuh. Ternyata ini harus dimiliki seorang peloncat indah jika ingin lebih berprestasi.

Sementara itu, Yoichi Fujitani punya kelebihan memiliki ortu yang mendukung ambisinya menjadi atlet unggulan di cabang olahraga ini, ayahnya adalah pelatih loncat indah juga di klubnya. Secara teknis, ia sudah jago. Ia fokus dan disiplin bahkan saat Tomoki Sakai masih abai dengan asupan makanan yang seenaknya, anak ini sudah sadar bahwa asupan kalori memengaruhi eksekusi gerakan saat meloncat.

Shibuki Okitsu lain lagi. Secara genetik dan lingkungan ia diuntungkan. Kakeknya seorang peloncat indah Olimpiade yang sayangnya gagal berlaga di era Perang Dunia II. Untuk menghabiskan sisa hidupnya, ia pun sering mengajak cucu laki-lakinya ini meloncat dari tebing pantai. Karena digembleng dari kecil dan tinggal di sekitar pantai inilah, bakat loncat indah Shibuki Okitsu makin terasah. Namun, ia benci masuk kolam renang karena tak suka kaporit. Ia menikmati saat terjun ke air laut saja.

Menariknya, di sini diceritakan perjuangan mereka untuk menjadi atlet loncat indah unggulan bagi Jepang untuk bisa membela negara di ajang Olimpiade. Alih-alih berkompetisi secara ganas dan menghalalkan segala cara, mereka malah bersahabat dan saling mendukung. Jadi konflik malah justru lebih banyak dari pergulatan internal mereka sendiri.

Menurut saya sih ini film yang bagus untuk mengajarkan sportivitas dalam olahraga. Karena anak-anak muda sekarang perlu digembleng dalam hal sportivitas yang seharusnya bisa dipelajari di luar permainan virtual alias online games.

Di sini kita jadi tahu begitu pentingnya memperkenalkan olahraga dan sportivitas di baliknya pada anak dan remaja agar mereka memiliki mental dan disiplin yang baik. Tidak manja, bermalas-malasan apalagi sering berlaku curang. (*/)

Bagaimana Memberdayakan Macbook Air yang Sudah Kuno/ Vintage?

SEPERTI sudah saya pernah bahas di sebuah artikel di blog ini, setelah 7 tahun lebih saya menggunakan Macbook Air keluaran awal 2014, saya harus rela menelan pil pahit bahwa laptop saya ini tak bisa mendapatkan pembaruan piranti lunak lagi. Akibatnya adalah tingkat keamanan makin rendah dan celah keamanan makin banyak. Bisa sih dipakai buat komputasi sederhana semacam mengetik atau berselancar di dunia maya tapi untuk transaksi keuangan sepertinya agak riskan. Ini menjadi kecemasan utama saya sih apalagi makin banyak kasus peretasan.

Macbook Air rilisan awal 2014 ini menurut situs MacWorld.co.uk sudah masuk golongan vintage alias tak dapat pembaruan lagi dan hardware-nya pun sudah tak dibuat Apple.Inc. Jadi kalau rusak pun ya biaya perbaikannya sama saja beli baru, yang artinya memaksa Anda membeli yang baru saja.

Tapi jika Macbook Air Anda juga masih berfungsi normal seperti punya saya yang hanya terkelupas satu tombol dan baterainya sudah soak (1-2 jam dipakai sudah mati – yang tergolong masih lumayan untuk ukuran laptop 7 tahun lebih, bandingkan dengan laptop Windows usia yang sepantaran), rasanya kok sayang banget ya membuang perangkat yang masih awet ini.

Maka dari itu saya mencoba mencari cara bagaimana jika kelak sistem operasi Apple ini sudah tak mendukung dan susah bekerja dengan aplikasi yang ada (karena biasanya makin lama, banyak aplikasi yang meninggalkan perangkat keluaran lebih dari 10 tahun), saya masih bisa menggunakan perangkat keras Macbook Air ini dengan selama mungkin.

Jalan satu-satunya yang ada adalah dengan menginstal sistem operasi Linux di sini. Cara ini legal dan GRATIS. Kelemahannya ya memang penggunaannya agak berbeda dari Windows dan Mac OS yang jauh lebih populer.

Tapi sekali lagi sih kalau menurut saya ini cara yang patut dicoba bagi para pemilik laptop Macbook Air keluaran lama yang sudah ‘ditelantarkan’ Apple Inc.

Tidak rumit kok. Cuma butuh sebuah USB flashdrive atau yang biasa disebut flashdisk. Di dalamnya Anda bisa mengunduh file instalasi Linux dan baru menancapkan flashdisk tadi ke Macbook Air saat hendak dihidupkan sembari menekan tombol ‘option’. Nah, di situ Anda akan bisa mencicipi OS Linux yang ringan dan clean ini.

Dari yang saya saksikan di video panduan berikut ini, sebetulnya isi Linux mirip banget kok dengan Mac OS. Cuma ya memang bakal ada perbedaan yang membuat kita mesti belajar menyesuaikan. Tapi itu bukan berarti susah banget dan nggak user friendly. Ini cuma masalah pembiasaan kinerja otak saja.

Tampilan homepage dan wallpapernya sendiri sangat non-mainstream. Sangat berbeda dari Windows. Dan bakal bikin orang melirik soalnya ya tampilan dan user experience-nya sangat unik dan berbeda.

Tapi secara keseluruhan, saya pernah memakainya dan cukup fungsional. Anda masih bisa menggunakan laptop lawas dengan sistem operasi gratis dan uhuk, minim gangguan virus yang biasanya menghantui para pengguna laptop Windows.

Font di Linux juga sangat lucu. Pilihan warna dan ikon-ikonnya sangat menarik dan tidak biasa.

Linux sendiri sistem operasi yang identik dengan kelompok computer nerds dan geeks. Cocok buat yang suka ngoprek. Tapi bisa juga dipakai masyarakat awam seperti saya dan Anda… (*/)

Kemiskinan Pemusnah Empati

KEMISKINAN adalah kekejaman peradaban manusia yang paling menyesakkan.

Jika disikapi dengan pragmatisme, kemiskinan memang membuat manusia menjadi terus lapar, selalu merasa kekurangan, padahal ya belum tentu.

Saya merasa miris dengan kebiasaan masyarakat kita yang memanfaatkan kemalangan orang lain di jalan.

Ambil contoh kejadian naas yang dialami seorang pengemudi truk bermuatan ikan lele di Jalan Randusari, Subang, Jawa Barat Kamis 3 Februari 2022. Karena tak waspada, truk itu menabrak tiang dan tumpahlah puluhan kilogram ikan lele itu ke area persawahan.

Masyarakat sekitar yang kebetulan melihat menghambur.

Sang sopir yang kelabakan merasa tertolong karena ada yang menghampiri.

Eh ternyata bukannya membawa ikan lele itu kembali ke truk tapi malah disimpan sendiri untuk dimakan di rumah.

Lho lho lhooo!

Orang Indonesia katanya bangsa paling santun, moralnya tinggi, suka senyum dan ramah bukan main serta relijiusnya sampai tembus ubun-ubun kok ya malah memanfaatkan kemalangan saudaranya yang sedang bersedih.

Hahaha!

Apakah semengenaskan itu kah kondisi moral dan akhlak kita?

Cuma label-label yang kita junjung tinggi tapi di realita cuma isapan jempol.

Di sisi lain, ada juga masyarakat kita yang manipulatif dalam memanfaatkan empati dan simpati ini.

Siapa yang belum tahu adanya para pengemis yang rumahnya megah? Kaya sih memang tapi pekerjaan sehina itu bagaimana bisa bangga? Bagaimana bisa bercerita ke anak cucu? Itu adalah bentuk sakit jiwa. Kemalasan yang menyedihkan dan membuat manusia rela melepas martabat mereka.

Lalu yang terbaru adalah kasus seorang tukang bakso yang melintas di Perum Asabri, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (2/2/2022), pukul 10.28 WIB dan berpura-pura dagangannya tumpah saat motornya berbelok di perempatan.

Kejadian tertangkap CCTV dan tampak kejadian tadi dibuat-buat alias tidak alami.

Dilihat dari yang tumpah juga bukan kuah bakso tapi air di ember.

Alih-alih diam, si tukang bakso langsung minta bantuan warga 300.000 untuk setoran bosnya ke warga yang melihat untuk membantu.

Nah, di sinilah yang mengenaskan.

Kok ya bisa tega-teganya menipu orang yang sudah berbelas kasihan dan bersimpati?

Ya pantas saja sih si tukang bakso ini langsung ditinggal warga begitu saja.

Dua insiden ini seolah menunjukkan betapa sudah putus asanya orang Indonesia di masa pandemi ini. Perut yang lapar tak bisa dibendung oleh moralitas dan agama sekalipun. (*/)

Bertarung Seperti Lebah, Melayang Bak Kupu-kupu

MUHAMMAD ALI sang petinju legendaris itu pernah berkata: “Float like a butterfly, sting like a bee. You can’t hit what don’t see.

Di sini ia sepertinya berpesan soal bagaimana seorang petinju mesti bertarung, yakni dengan mencontoh ringannya gaya terbang kupu-kupu tapi saat menyerang bisa seganas dan secepat seekor lebah. Saking cepatnya lebah menyerang, biasanya orang kelabakan karena tak bisa dilihat oleh mata.

Lalu ada juga hadis yang menyinggung soal gaya hidup lebah. Serangga penghasil madu ini dipuji sebagai makhluk yang bersih dan menghasilkan manfaat besar bagi lingungan sekelilingnya. Ia tidak menebar bibit penyakit seperti serangga kecil lainnya macam nyamuk atau lalat. Memang ada yang berargumen manfaat adanya nyamuk dan lalat adalah untuk mempercepat proses penyerbukan bunga-bunga tapi sebenarnya kupu dan lebah bisa melakukannya juga tanpa harus menyebar penyakit dan malapetaka layaknya nyamuk dan lalat.

Dalam agama juga ada pembahasan lebah ini. Dalam Al Qur’an bahkan ada satu surat berjudul binatang tersebut. Itu menegaskan keistimewaan lebah di mata Sang Pencipta.

Satu hadis yang membahas soal mulianya lebah adalah:

“Perumpamaan orang beriman itu bagaikan lebah. Ia makan yang bersih, mengeluarkan sesuatu yang bersih, hinggap di tempat yang bersih, dan tidak merusak atau mematahkan (yang dihinggapinya)” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Bazzar).

Selamat Datang Gelombang Ketiga

“TBL TBL TBL. Takut banget lohhh🤣“

Begitulah mungkin orang sekarang kalau diberitahu agar waspada gelombang ketiga pandemi ini.

Paham sih kalau semua sudah capek mental dan psikologis. Siapa sih yang nggak?

Tapi kok seakan kita nggak belajar dari gelombang pertama dan kedua. Masih saja terjebak hoaks itu-itu juga. Masih juga menyebarkan pesan-pesan senada yang kurang tepat juga.

Capekkk🥵

Tapi ya kadang hidup emang nggak harus dipikir serius banget.

Kadang diguyonin aja. Kalau emang ada yang masih bandel ya mesemin aja. Apalagi orang-orang terdekat sendiri. Mau dimusuhin juga kasihan.

Let’s Swim

RENANG membuat saya lapar. Entah karena kelamaan di air membuat suhu badan saya menurun sehingga kalori yang terbakar agar suhu badan tetap stabil pun harus lebih banyak.

Tapi sebetulnya saya belum bisa berenang. Kalaupun di air ya cuma pakai pelampung. Tanpa pelampung, saya bisa karam.

Adegan Jack (Leonardo Dicaprio) tenggelam di Titanic membuat saya ingin bisa piawai berenang. Saya mau bisa bertahan hidup jika harus terombang-ambing di lautan lepas meski ya pekerjaan saya juga tidak banyak di perairan. Liburan pun saya lebih menikmati daratan.

Berenang di laut rasanya kok miris. Banyak ancaman dari bulu babi sampai ubur-ubur yang bisa menyengat dan membuat kita kelonjotan saking sakitnya. Konon sih harus dikencingi atau diberi tembakau agar luka oleh bulu babi itu mereda sakitnya.

Yang saya paling takutkan sehabis berengan adalah masuk angin. Entah kenapa badan saya ringkih sekali di air. Kelamaan sedikit kok rasanya perut sudah kembung. Payah sekali!

%d bloggers like this: