Is It The Priciest Yoga Studio on the Planet?

It’s the most expensive yoga studio for sure. No one can buy the sunshine, the oxygen, the sweat and the smiles and togetherness 馃檪

Find me in the picture if you can!

Credit of the pictures goes to Koko Yoga of Celebrity Fitness.

 

“Salabhasana”

Credit goes to Lucy Irawan.

Episode 4: Kota Tua Jakarta

Patung Mercury / Hermes , si pembawa berita dan dewa perniagaan dalam mitologi Romawi yang dipajang di museum Mandiri.

Cuaca mungkin adalah salah satu topik pembicaraan yang paling klise dan memuakkan untuk membuka percakapan. Dan untuk membuka tulisan, saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, membicarakan cuaca juga bisa jadi sebuah cara jitu untuk melemaskan alur penuturan cerita dalam benak.

Cuaca di langit Jakarta tanggal 12 April 2012 yang lalu terasa membakar. Setelah menonton kunjungan Andy Noya ke berbagai sudut kota Jakarta yang masih menampakkan masa lalu, terdorong pula aku untuk mengetahui apa itu Kota Tua.

Sebenarnya kunjungan ke Kota Tua yang legendaris di ibukota itu sudah aku lakukan 10 hari lalu. Tetapi karena kesibukan yang tidak mengijinkan untuk menghela napas dan duduk sebentar untuk menuliskan pengalaman tersebut, akhirnya tertunda hingga sekarang.

Kota Tua ini ternyata terletak tepat di sebelah utara kawasan Glodok yang dahulu terkenal dengan kasus penjarahan saat krisis moneter di republik ini tahun 1997-1998. Banyak pusat perdagangan elektronika di sana bahkan hingga sekarang.

Menuju Kota Tua ternyata juga tak sesulit yang kubayangkan. Cuma naik bus Trans Jakarta satu kali saja dari halte Karet dan mengikuti arah utara terus hingga menemukan 聽stasiun Kota alias Beos. Turunlah di halte transit tempat semua busway berputar arah ke selatan. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku melihat kawasan itu. Secara sekilas dulu aku juga pernah lewat saat hendak ke Jakarta International Expo Kemayoran untuk pelatihan blogging dengan Kompasiana. Sudah demikian lama.

Hari itu baru aku sadarai bahwa 聽gedung tua yang pernah kulihat itu bernama Museum Mandiri. Museum ini seolah menjadi pintu gerbang bagi mereka yang ingin menjelajahi Kota Tua lebih dalam.

Hal bernuansa jaman kolonial yang pertama kali kulihat di sekitar kawasan Kota Tua adalah tugu kecil dengan penunjuk waktu di atas. Jam dinding yang dipasang itu cukup akurat. Aku baru tiba sekitar pukul 10.35 WIB, yang berarti membutuhkan 30 menit perjalanan dari halte busway Karet di Jakarta Selatan. Satu hal yang aneh adalah Kota Tua ini sepertinya termasuk Jakarta Barat. Jujur saja aku bingung dengan pembagian wilayah Jakarta ini.

Satu hal yang langsung kulakukan ialah memotret berbagai macam benda antik yang kujumpai. Entahlah, rasanya ingin sekali memahami bagaimana orang jaman kolonial dulu hidup di Jakarta. Terlepas dari semua aspek lainnya, aku lebih suka dengan Jakarta yang lebih tertata kala itu. Lebih manusiawi, itu saja. “Liveable” , begitu kata yang dipilih Marco Kusumawijaya, seorang arsitek dan urbanis kampiun untuk menggambarkan sebuah kota yang ideal untuk kehidupan manusia.

Memasuki Museum Mandiri yang sebelumnya bagiku hanya gedung kuno tanpa makna, aku terkejut melihat sebuah patung dengan senapan. Tampak jelas itu sebuah patung serdadu Indonesia. Mengerikan.

Di bagian tiket, kujumpai sekelompok anak-anak Taman Kanak-Kanak dengan beberapa guru mereka. Riuh rendah mengisi ruang museum yang demikian besar dan lapang. Ternyata harga tiketnya begitu murah, cuma 2000 perak. Aku hanya menjumpai lebih sedikit pengunjung dewasa di sini. Semoga saja anak-anak ini tetap ingat apa yang mereka pelajari dari sejarah yang terkandung di museum ini, dan tentunya tetap mengunjungi museum. Bagi banyak orang dewasa di Indonesia, mengunjungi museum bukan sebuah kegiatan yang dilakukan atas insiatif sendiri, tetapi lebih pada memperkenalkan sejarah pada anak-anak. Dan orang dewasa merasa tak perlu lagi mengunjungi museum. Mengapa? Karena mereka yang merasa sudah tua dan lebih dewasa, merasa sudah pernah mempelajarinya saat sekolah dan kini tak perlu lagi mengingat semua itu. Seorang pengunjung juga berceletuk mengomentari koleksi mesin kasir museum Mandiri, “Kok tidak menarik begini ya?”

Gambar di atas aku ambil di sebelah bagian penjualan tiket. Tampaknya mereka adalah sekelompok pejabat penting Belanda dan istri-istrinya yang sedang berdiri saat peresmian gedung yang dulu menjadi kantor bank Belannda yang namanya sungguh rumit hingga tak bisa kuingat. Ah untunglah aku sempat membawa pulang sebuah pamflet berisi informasi museum itu. Begini katanya:

Museum of Bank Mandiri: Menempati area 22,176 meter persegi di gedung eks Nederlandsche Handel Maatschappij NV (1929) , inilah museum perbankan pertama di Indonesia. Museum bergaya Art Deco Klasik di kawasan Kota Tua Jakarta ini menawarkan pengalaman perjalanan menembus waktu ke bank tempo dulu. Suguhan pemandangan dari berbagai koleksi buku besar, mesin hitung, serta berbagai koleksi uang koin, uang kertas kuno maupun surat-surat berharga dapat dinikmati di ruang-ruang bank yang lengkap dengan perabotan antik ini. Ruang penyimpanan uang bawah tanah berukuran besar dan kecil dapat juga kita temui di museum yang megah ini.

Ini merupakan sebuah kalender jaman dulu yang menyatakan tanggal pendirian Bank Mandiri yang sebelumnya adalah 聽Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan sebagainya yang urutan silsilahnya membuatku pusing.

Foto ini aku ambil dengan efek Instagram dan sebagai fotografer amatir aku berusaha mengambil komposisi dan simetri serta perspektif yang terbaik. Sebenarnya tanpa efek pun, beginilah suasana dalam museum itu. Aku tak akan menyebutnya “suram” tetapi sangat berbeda dari aura gedung yang lebih modern dan baru.

Sembari terus menelusuri museum, kutemukan sebuah lorong menuju lantai dasar yang berada satu lantai di bawah lantai 1 yang menjadi pintu utama bangunan. Rupanya itu ruangan untuk kluis. Entah kosakata bahasa Indonesiaku yang tak cukup bagus atau memang ini sebuah kata yang baru ditemukan, tetapi baru pertama kali aku menemukan kata “kluis”. Ternyata inilah penyimpanan berbagai macam benda berharga karena kulihat berbagai jenis brankas, kotak deposit, dan lain sebagainya.

Dan tiba-tiba aku merinding begitu mendengar sebuah lantunan instrumentalia yang sangat seram dari ruangan yang dipenuhi patung peraga aktivitas dan brankas kuno itu. Ternyata itu berasal dari sebuah video yang diputar di TV layar datar modern dengan volume speaker yang maksimal.

Sejenak mengamati isi video, aku merasa video itu sangat unik karena mungkin diambil oleh seseorang dari kalangan pejabat Belanda yang mendokumentasikan kehidupan saat itu. 聽Beberapa video kuambil sebagai koleksi karena ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Semuanya aku bagikan di kanal YouTube ini: Akhlispur. 聽Silakan cari video yang berjudul “tur kota tua”.

Inilah salah satu safe deposit box yang disimpan dalam ruangan itu. Uniknya, baru aku ketahui kalau pemerintah Hindia Belanda kala itu mempekerjakan kalangan etnis Tionghoa dalam lingkungan bank mereka. Ini baru kuketahui saat berada dalam ruang kluis yang patung peraganya menunjukkan seorang perempuan berbaju cheongsam. Dan tak hanya itu, beberapa inlander alias pribumi juga direkrut, meski aku tak yakin mereka menduduki jabatan kunci.

Gambar di atas adalah gambaran meja kerja seorang pegawai di ruang kluis yang 聽lumayan sumpek karena tidak tersentuh cahaya matahari sama sekali.

Banyak sekali kotak penyimpanan yang ada dalam tembok ruangan itu. Warnanya hijau lumut dan setiap kotak diberi tanda angka dengan warna cetakan emas seperti di atas.

Aku habiskan sebagian waktu untuk menelusuri beberapa koridor museum yang tidak dibuka untuk pengunjung, mencari apa yang tersembunyi. Gedung ini benar-benar besar dan waktu sehari penuh jika ingin benar-benar mengetahui isinya secara lengkap. Foto di atas aku ambil di lantai 3 di sayap kanan gedung, yang penuh dengan barang-barang tak tertata. Seperti foto di bawah ini.

Satu objek kekaguman yang kutemui ialah mozaik kaca warna-warni di bagian depan museum. Setelah naik satu lantai dari tangga depan, pengunjung bisa menjumpai satu suguhan seni yang demikian elok. Kamera ponsel kudekatkan dan satu jepretan berhasil mengabadikannya. Entah apa arti kata-kata dalam bahasa Belanda ini. Sebenarnya mozaik ini sangat besar, isinya menceritakan 4 musim di Belanda dan secuil sejarah sampainya Belanda di negeri ini.

Lorong menuju ruang kluis. Lumayan seram yah.

Foto di bawah adalah ruangan rapat yang bisa ditemui setelah menikmati keindahan mozaik tadi. Modelnya seperti meja bundar. Di sini nuansa kuno terhapus dengan dipajangnya berbagai foto direktur Bank Mandiri dari berbagai periode.

Bangunan putih ini seperti sebuah bangunan di Eropa, hanya sedikit kusam dan tak terawat. Ini bukan bagian Museum Mandiri tetapi sebuah bangunan yang kujumpai di ruas jalan lokasi yang sama berdirinya Toko Merah. Sayang sekali ya.

Aku ambil foto ini dari sebuah jalan di sebelah utara (jalan Kunir) Museum Fatahillah. Agak penasaran mengapa ada banyak batu-batu berbentuk bulat. Sebagai pengaman supaya tidak ada kendaraan bermotor masuk? Entahlah.

Semua kendaraan bermotor tidak diperbolehkan masuk lapangan Museum Fatahillah. Dan susah sekali 聽menyeberang di sini jika sudah memasuki pukul 5 sore. Fiuh!

Cuaca hari itu memang sangat cerah dan aku dehidrasi karena saat itu juga puasa tanpa sahur. Bisa dibayangkan….

Satu sudut Kota Tua yang sangat memilukan. Kupotret dari jalan Kunir

Masuk ke Museum Wayang, kutemui berbagai koleksi wayang golek. Salah satunya ini, wayang Hanuman.

Sekitar pukul 2 menuju Museum Wayang dan sinar matahari begitu menyengat. Pohon besar di depan Museum Fatahillah pun meranggas masuk musim pancaroba di Jakarta. Banyak sepeda berjajar untuk disewa di sini. Entah berapa sekali sewa.

Sisi lain gedung yang kupotret dari jalan Kunir tadi. Sebenarnya gedung-gedung ini milik perusahaan atau instansi tertentu, tetapi mengapa mereka tidak melakukan upaya apapun untuk merawatnya? Apakah karena sudah terlalu parah kerusakannya?

Kapan bangsa ini bisa dengan ksatria mengkritik dirinya sendiri dan mendisiplinkan diri untuk lebih baik dalam menyikapi sampah? Dan ini bukan hanya sekadar penanganan sampah tetapi sikap mental kita sebagai orang Indonesia. Kentara sekali bahwa musuh terbesar bukan Belanda sebenarnya, tetapi diri kita sendiri yang lemah. Pemandangan menjijikkan ini kutemui di depan Museum Fatahillah, tempat banyak turis manca juga ‘berkeliaran’. Serius saja, apa kita tidak malu melihat ini di tempat umum? Indonesians, what is wrong with you all??? 聽Aku pikir merajalelanya sampah adalah sebuah gejala ketimpangan budaya, orang sudah mampu menikmati teknologi modern (plastik) tetapi gaya hidup dan pola pikir masih seperti dahulu. 聽Apakah kita akan terus berpikir sampah plastik akan membusuk dengan sendirinya dan melebur dengan tanah dan air seperti halnya dedaunan? Give me a break.

Inilah Toko Merah yang terkenal itu. Terawat baik karena sudah ditetapkan pemerintah DKI sebagai cagar budaya. Mengapa cuma sebagian saja ya? Tolong jangan jawab karena dana terbatas.

Episode 3: Istiqlal dan Bung Karno

Sabtu pagi pergulatan pikiran itu terjadi. Dari rencana semula untuk menghadiri pesta ria bisnis anak muda di Kebon Jeruk menjadi keinginan yang tiba-tiba untuk menuju oase rohani terakbar di kota ini: Masjid Istiqlal. Aku benar-benar tak habis pikir. Ada apa dengan aku ini?

Teringat bagaimana dahulu saat masih kecil , aku tak mau solat di masjid di dekat rumah meski waktu maghrib sudah menjelang. Masa yang penuh perlawanan, karena kupikir ayahku dengan semena-mena menyuruh kami ke tempat yang penuh dengan orang-orang yang tak terlalu kukenal. Itu membuatku tak nyaman, dan aku berdalih dalam hati itu bisa membuat ibadah tak khusyuk. Dan kalau tak khusyuk, percuma saja. Lebih baik beribadah di rumah. Lebih fokus. Apalagi beribadah di tempat terbuka seperti itu rawan ria’ alias keinginan memamerkan amal. Itulah dulu bagaimana aku menyikapi keharusan pergi ke masjid atau surau.

Hidup di luar lingkaran orang-orang yang sudah kita akrabi dari sejak kecil bisa membantu menemukan siapa diri kita sebenarnya. Banyak orang berkata Jakarta bisa mengubah watak seseorang. Iya, tak tertutup kemungkinan hal itu bisa menimpa kita. Namun, semua kembali pada seberapa kuat kita memiliki akar identitas dalam diri. Bak sebuah kapal, arus dan badai seganas apapun tak banyak mengubah posisinya jika ia memiliki jangkar dan rantai yang kuat mengikat di dasar karang laut.

Setelah jauh dari orang tua dan keluarga di sana, kuanggap keharusan ke masjid adalah sebuah hal yang menyenangkan. Aku sendiri heran. Dan setelah kupikirkan dengan mendalam, aku mungkin jenis orang yang sangat enggan dikomando. Aku bukan robot yang dapat dikendalikan dengan remote control. Jadi saat seseorang mengharuskan atau melarang aku berbuat sesuatu, harga diriku sebagai manusia bebas tersinggung, dan cenderung melawan pada awalnya. Resistensi itu masih ada sampai sekarang. Skeptisisme dan sifat keras kepala itu masih bersemayam dalam diriku. Baiknya (atau buruknya), jika aku sudah menginginkan sesuatu , tak ada yang bisa menghentikanku. Begitu pula sebaliknya. Kecuali itu dengan kemauan sendiri.

Dan siang itu aku ingin ke Istiqlal setelah menyelesaikan pekerjaan. Berbekal netbook untuk menulis dan bekerja, aku pun ke masjid terbesar di Asia Tenggara itu. Sebenarnya aku masih bekerja di akhir minggu, tapi aku katakan tadi, tak ada yang sanggup menghentikanku.

Kubulatkan tekadku dan berjalan sekitar 1 kilometer dari kos ke halte Karet yang carut marut dengan proyek jalan layang yang entah kapan selesainya. Apakah aku lupa mengatakan betapa aku gemar berjalan kaki di kota besar ini? Dengan segala baik buruknya fasilitas dan keadaan di jalanan Jakarta, aku harus akui Jakarta adalah salah satu laboratorium raksasa yang sangat inspirasional dan menarik dalam pengertian dan standarnya sendiri. Bukan dalam pengertian dan standar untuk menilai kota-kota megapolitan. Bukan, ini bukan soal kelas, tetapi kita bisa lebih memilih untuk memandangnya sebagai sebuah klasifikasi horisontal bukan strata vertikal. Jakarta bukan New York, dan memang harus berbeda dari New York. Dan jika Jakarta tidak seperti New York, itu bukan masalah besar dan hendaknya jangan dibesar-besarkan. Kupikir banyak orang mengharapkan Jakarta menjadi senyaman dan sebaik kota-kota besar lain di dunia, tapi mereka lupa jati diri Jakarta sendiri. “Kearifan lokal”, mungkin itu istilah yang bisa dipilih. Terlepas dari itu, Jakarta masih perlu banyak belajar menjadi dirinya sendiri yang lebih baik, bukan versi Indonesianya kota-kota di tanah asing.

Dan masih tentang Jakarta tercinta yang berangsur terasa seperti rumah keduaku, seorang kawan dari negeri jiran mengamati bagaimana Jakarta terlalu penuh sesak dengan orang dan bangunan. Kedekatan dengan alam pun terpangkas demi kepentingan pemilik modal. Apa mau dikata.

Satu hal yang membuatku terhenyak saat kami bercakap-cakap di bus Transjakarta hari Minggu nan cerah itu ialah kritikan pedasnya mengenai salah satu bagian kebudayaan Jawa yang selalu menginginkan burung-burung yang terbang bebas di angkasa untuk hidup dengan nyaman di sangkar-sangkar. Susana, demikian wanita Malaysia yang menjadi teman saat beryoga ini, mengatakan salah satu hal yang membuat ia kehilangan kedekatan dengan alam ialah burung-burung yang bebas beterbangan. Jikalau ia mendengar kicau burung di Jakarta, ia bisa pastikan itu berasal dari burung dalam sangkar.

Sebagai bagian dari masyarakat Jawa, aku pun menyadari kritikan itu. Kakekku sendiri mempertahankan kebiasaan itu selama bertahun-tahun. Ia memelihara perkutut-perkutut di samping rumah. Tak banyak , hanya beberapa. Aku masih ingat pernah aku menemukan butiran-butiran beras berwarna merah tua yang kakek taburkan di kandang perkutut. Ternyata itulah beras yang sering kumakan saat di Jakarta. Beras yang menurutku lebih enak, renyah, mengenyangkan dan menyehatkan daripada beras putih. Di pagi hari, kakek akan menjemur burung perkutut satu persatu di tiang bambu nan tinggi menjulang di belakang rumah. Persis seperti seorang petugas pengibar bendera, hanya saja ia tak kibarkan bendera merah putih.

Kembali pada pendapat Susana, ia dalam bahasa Inggris yang lancar mengatakan saat dibebaskan burung-burung itu akan kembali ke tempat itu karena biasanya mereka akan mencari makan juga. Kita cukup memberikan makanan secara teratur untuk menikmati kemerduan suara mereka. Bukan dengan egois memerangkap mereka dalam kungkungan agar mereka bisa berkicau siang malam untuk kita saja. Aku teringat pada merpati-merpati di Taman Suropati tempat kami biasa menghabiskan waktu beryoga.

Selain menjadi makin ‘kering’ dalam kacamata聽 lingkungan hidup, Jakarta juga makin kering dalam aspek rohani. Untuk itulah aku berusaha makin mendekatkan diri dengan keyakinan yang kumiliki. Aku bersyukur masih bisa berpegang pada keyakinanku dan menjalankannya dengan baik dan cukup konsisten karena di sini semuanya sungguh-sungguh berada dalam pundakku sendiri.聽 Tak akan ada orang tua yang menyuruhku ke masjid saat maghrib karena kami sudah hidup terpisah, namun toh aku bersyukur karena dengan sendirinya aku terdorong pergi ke sana selalu.

Aku pernah membaca salah satu kutipan perkataan Sir Thomas Alva Edison yang intinya ialah mengalirlah bersama sekitar kita dalam hal-hal yang superfisial sembari tetap berpegang teguh pada prinsip esensial kita. Rasanya itu sesuai untuk diriku. Di lingkungan yang semajemuk Jakarta ini, tak mungkin untuk membatasi diri pada hal-hal yang seratus persen baik dan sesuai keinginan kita.

Naik busway di hari libur seperti saat itu tak terlalu membutuhkan kesabaran mental dan kekuatan fisik. Lain dengan hari kerja yang sungguh berat.

Sampai di聽 sana, aku pun harus berjalan sedikit lagi mengingat masjid ini tidak berada tepat di dekat halte busway Monas, tempat aku turun.

Aku bersikukuh bahwa berjalan-jalan adalah metode menikmati perjalanan yang paling baik. Menggunakan dua kaki untuk menjelajahi lansekap pusat peradaban Indonesia ini lebih efektif dalam menangkap detil-detil. Aku suka detil. Aku suka mengamati. Mengendarai kendaraan bermotor pribadi, di sisi lain, memang membuat waktu perjalanan lebih cepat namun juga mengabaikan detil dalam perjalanan.

Sudah dua tahun aku di sini tetapi kesempatan untuk mengunjungi masjid yang sudah banyak kuketahui di buku IPS semasa sekolah dasar baru datang bulan ini. Benar-benar menyedihkan. Aku butuh lebih meluangkan lebih banyak聽 waktu jalan-jalan.

Sianr matahari begitu menyengat. Setelah melewati Gambir, aku seberangi jalan dengan jembatan penyeberangan yang lumayan tinggi. Gejala acrophobia kembali muncul, tetapi berhasil kuredam dengan terus berjalan. Seperti itulah menjalani kehidupan mungkin, kita hrus terus berjalan meskipun merasa cemas, trauma dan khawatir. Saat diam, ketakutan akan lebih meraja. Terus bergerak maju adalah kuncinya.

Tepat saat aku masuk dari pintu selatan Istiqlal dan meletakkan pantat di depan serambi belakang, suara azan Zuhur berkumandang. Pas sekali! Aku mengijinkan tubuhku menyesuaikan diri dengan kesejukan dalam masjid, karena cuaca di luar sana sangat amat panas. Punggung ini kuyup.

Satu hal yang kuamati adalah adanya petugas khusus di sini yang mengatur shaf solat. Dengan langkah setengah bergegas, aku naiki tangga dari lantai 1 ke lantai dua tempat penyelenggaraan solat. Bisa jadi itu ujian fisik yang berat bagi sebagian orang, mengingat luas lantai masjid Istiqlal yang mungkin sama dengan 3-4 lebih besar daripada masjid terbesar di kabupaten asal saya. Mungkin juga lebih.

Petugas itu memakai baju yang agak aneh. Hijau tua khas pegawai negeri tetapi dengan model potongan yang mirip blazer tetapi hampir menyentuh setengah betis. Dan peci yang dipakai juga berwarna hijau dari bahan kain yang sama dengan blazer yang dipakai.

Petugas ini begitu sibuk mengatur barisan shaf , memastikan tidak ada yang jarak antarkaki yang terlalu lebar dan kelurusan. Ada kain putih yang menjadi patokan. Ia berkata, “Jangan sampai kaki menyentuh kain putih”. Jarak antarkain cukup lebar, bahkan untuk orang yang tinggi sekalipun bisa sujud dengan nyaman. Lain dengan surau tempatku solat jumat, yang begitu hemat soal rentang antarshaf. Bahkan untuk orang setinggi aku itu pun terlalu pendek. Tak terbayang jika ada makmum yang jangkung.

Setelah solat, tak kusangka ada sebuah kajian. Kali ini tentang makna jihad yang sejati. Aku tak tahu siapa nama si ulama. Tetapi satu yang paling kuingat adalah penjelasannya tentang jihad yang bermakna mengerjakan sesuatu dengan bersungguh-sungguh.

Dan telinga grammar nazi ini mendeteksi sebuah ungkapan yang salah dalam ceramahnya. Ia mengutip beberapa istilah bahasa Inggris yang terdengar kurang tepat: “do effort”. Setahuku “make effort”. Aku tak bermaksud untuk mengingatnya, tetapi jika kau begitu terbiasa dalam pola pikir dan kebiasaan kerja yang sudah melekat bertahun-tahun, kau akan sulit melepaskannya bahkan聽 dalam waktu senggang sekalipun. Entah dia mengatakan itu untuk memberikan kesan terpelajar di hadapan audiens atau memang perlu. Namun menurutku penjelasannya masih bisa dimengerti meski tidak menyebutkan istilah bahasa Inggris itu. Aku memahami jika ia memiliki keinginan untuk show off atau pamer (ok, aku sudah berburuk sangka, tapi semoga aku salah) karena itu sangat manusiawi.

Aku tahu pula bagaimana rasanya tampil di depan publik yang tak sepenuhnya kita kenal untuk berbagi pengetahuan. Aku merasakannya karena juga pernah dan masih mengajar dan masih akan terus mengajar, meski tak begitu menyukainya. Aku tak mau tampil payah di hadapan mereka dan ‘membual’ menjadi salah satu ketrampilan yang penting untuk memukau orang lain dan ‘mengukuhkan’ kredibilitas sebagai sumber transfer pengetahuan yang tepercaya. Di antara cara membual itu ialah dengan menyebutkan hal-hal yang terdengar pelik dan canggih tetapi sebenarnya tak terlalu aku kuasai. Dan jika dikritisi lebih lanjut, aku pun tak bisa menjelaskan lebih dalam dan hanya bisa berkelit. Itulah seni mengajar, kupikir. Karena itu, aku sarankan, jangan pernah menaruh kepercayaan penuh pada satu orang guru.

Dalam ceramah singkat itu, diberikan waktu 15 menit untuk uraian makna jihad bagi si ulama dan 15 menit lagi untuk hadirin (jamaah solat Zuhur yang masih tersisa dan berkenan menyaksikan dan mendengarkan kajian hingga akhir).

Kesan moderat begitu tampak di sini. Si ulama mendengungkan makna jihad yang tak hanya mengenai perlawanan fisik. Katanya, mencari rejeki dengan sungguh-sungguh pun bisa jadi sebuah bentuk jihad karena meningkatkan kesejahteraan kehidupan sehingga pada akhirnya bisa membuat ibadah lebih lancar. Mengiris juga perkataannya, mengingat apa yang kutemui di luar tembok masjid ini sama sekali lain. Manusia berlomba mendapatkan rejeki sering bukan untuk memperlancar ibadah mereka, tapi melupakannya, mengalihkan perhatiannya.

Si ulama ini juga sedikit berkisah tentang bagaimana perjuangan Bung Karno mendirikan masjid yang sekarang kami jadikan tempat kajian. Aku baru tahu bahwa dari kisah si ulama bahwa Bung Karno-lah yang menggagas pendirian masjid di atas tanah yang semula lahan kolonial ini. Usai revolusi fisik, ujar si ulama, bangunan di atas lahan masjid ini akan dihancurkan untuk dibuat masjid dan seorang jenderal non-muslim ‘mengkritisi’ langkah itu. Bukan masalah besar. Jenderal itu bawahan Bung Karno. Pembangunan pun berjalan mulus.

Yang paling kuingat adalah bagian saat si ulama menceritakan ambisi Bung Karno mendirikan sebuah masjid yang akan bertahan hingga seribu tahun. Ambisi yang聽 baik, meski aku kurang setuju dengan berbagai proyek mercusuarnya secara pribadi. Jika aku menjadi Bung Karno, mungkin aku dulu akan gunakan dana pembangunan proyek-proyek fisik nan megah untuk membangun jiwa dan mental manusia Indonesia dengan jalan pendidikan. Bukan, bukannya aku 100% membenci Bung Karno dan kebijakannya untuk membangun semua bangunan menakjubkan itu tetapi sebuah ironi tersendiri karena aku mengetahui bagaimana sebuah universitas di ibukota ini yang masih dikelola oleh keturunan presiden pertama RI ini yang begitu mengenaskan meski menyuguhkan nama sang proklamator.

Aku pikir itulah pola kebijakan yang perlu kita ubah. Kita terlalu berfokus pada proyek-proyek fisik. Sibuk membangun ini itu, sampai kita lupa kita belum membangun dan memperbaiki diri sendiri, kita belum membangun聽 generasi mendatang yang lebih baik. Kita adalah bangsa yang demikian visual, beringatan pendek.

Dan mungkin jika bangsa kita dulu menyisihkan lebih banyak dana untuk pembangunan pendidikan dan sumber daya manusianya, kita tidak akan sedemikian tertinggal sekarang. Apalah artinya semua sumber daya alam yang melimpah jika pola pikir kita masih serupa dengan bangsa terjajah? Percuma saja kita merdeka secara de jure. Secara de facto, kita masih tertindas dalam berbagai lini kehidupan.

Jakarta, 8 April 2012

Bereksperimen dengan Bikram Yoga

Tetap Muslim Sambil Beryoga

image

Tak ada habisnya perdebatan yang penuh kebingungan yang berputar-putar di sekitar topik ini. Aku juga sudah pernah membahasnya di blog ini tetapi beberapa hari yang lalu kubaca sebuah tulisan dari seorang pengajar yoga asal India yang lagi-lagi juga mengangkat keresahan itu: “Apakah mungkin beryoga tanpa mengorbankan iman sebagai seorang muslim?”

Dengan pola pikir eclectic dan terbuka, kupikir itu bisa saja. Seorang teman yang agak berhaluan keras memang tampak keberatan dengan itu. Tapi ini negara demokrasi, siapa saja bisa mengemukakan dan melakukan apa saja asal tidak bertentangan dengan hukum dan norma yang ada. Dan untungnya, yoga juga bukan.

Yang penting ialah kita mengetahui apa yang menjadi batasan dan jika tidak nyaman, tinggalkan saja. Dan jika orang mempraktikkan nilai-nilai positif dalam yoga, tak mungkin kita akan dipaksa mengikuti mereka. Karena pemaksaan adalah bentuk kekerasan yang dihindari dalam yoga.

Aku ingat foto seorang teman yang juga guru yoga berpengalaman yang suatu saat berkunjung ke Tibet. Ia diharuskan memberi semacam gerakan penghormatan pada kuil di sana atau tokoh spiritual Dalai Lama. Aku tak ingat pasti. Tapi yang menarik ialah saat aku baca bahwa ia bergumam “Jesus Jesus Jesus” saat melakukannya. Kebetulan ia seorang Kristen atau Katholik.

Dari apa yang kubaca, aku pun menarik analogi yang serupa pada praktik yoga yang saya lakukan. Saya bisa juga bergumam “Allahu Akbar” jika saya mau saat melakukan gerakan sun salutation yang dahulu dilakukan sebagai gerakan menyembah matahari atau Dewa Surya. Atau memilih diam saja saat yang lain bergumam “Namaste” atau “Om Shanti”. Itu semua terserah saya! Saya bebas untuk memilih melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang ada dalam tradisi yoga. Yang penting hati nuraniku masih tenang dan senantiasa mengingat satu Tuhan: Allah.

Aku pikir dengan melakukan overgeneralisasi bahwa yoga itu haram juga hanya membuat pola pikir kita sebagai manusia cenderung menurun kekritisannya. Berkeyakinan, beragama, beryoga, apapun itu perlu dilakukan dengan kesadaran penuh. Jangan dengan mudah menyerahkan apa yang menjadi otoritas pribadi kita pada pihak luar. Be mindful. We have our own choices.

Sekali lagi menurutku yoga hanyalah alat untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan seimbang. Mari kita ambil benang merah kebajikan yang ada di dalamnya. Bila ada yang kurang sesuai dengan apa yang kita yakini, singkirkan. Semua manusia terlahir merdeka. Jadi manfaatkan kemerdekaan itu.

Dan semua kembali pada niat kita lagi sebelum beryoga.

Menulis Lebih Giat dengan Instagram

Jumat (6 April) kemarin menjadi tonggak ‘bersejarah’ bagi pengguna handset Android yang sudah begitu lama menanti dengan sabar kelahiran Instagram for Android. Saya masih ingat pernah menulis tentang bakal datangnya Instagram di Android lebaran 2011 lalu dan baru sekarang terwujud. Sungguh penantian yang cukup lama.

Pertengahan tahun 2011 saya sempat saksikan pernyataan seorang geek di depan panggung acara publik yang dengan bangganya memproklamasikan kegandrungannya bermain Instagram sampai kuota Internet bulanannya habis sebelum batas waktu yang seharusnya. Ah, kupikir itu semacam kegilaan jejaring sosial layaknya Friendster pertama kali menyita perhatian kita dulu. Sayang aku tak begitu merasakan kegilaan berjejaring di Friendster.

Dalam 4 hari terhitung sejak mengunduh Instagram for Android Jumat pagi itu, aku sudah mencatatkan statistik: 57 foto, 10 pengikut,134 mengikuti.

image

Dua teman pengguna Instagram yang kutemui saat social media course Januari kemarin yakni Babab Dito dan Nukman Luthfie. Mungkin bisa dikatakan mereka early adopter dan experienced user dalam hal Instagram. Babab Dito bahkan mengabadikan gambar-gambar dengan iPhonenya yang dilengkapi lensa makro tambahan dan sebuah tripod mini. Sementara om Nukman sangat konsisten mengunggah dan memamerkan jepretan candidnya yang bertema embun dan kopi. Ia bahkan sudah lupa memperbarui status Facebook dengan teks karena terlampau asyik mengunggah foto-foto via Instagram yang ia juga tautkan ke akun Twitter dan Facebooknya.

Untukku sendiri, Instagram lebih berguna sebagai pemicu inspirasi menulis. Memotret benda, orang, peristiwa yang sehari-hari bisa ditemui tetapi kita tak pernah cermati tiba-tiba menjadi amat mengasyikkan dan inspiratif karena bisa memicu aliran ide yang tak terbendung. Keinginan untuk menceritakan kisah di balik objek dalam gambar Instagram yang berefek menarik itu berhasil menjadi pelatuk yang memicu peluru kreativitas menulis kreatif dalam diriku.

Dan ini amat adiktif. Pertama, karena bisa dilakukan dalam perangkat, dan Instagram memang hanya bisa diakses via perangkat ponsel cerdas. Tak seperti Facebook dan Twitter, versi web Instagram tidak ada. Kupikir itu merupakan taktik nan jitu dari tim Instagram untuk cegah isu hak cipta dan pengunduhan tak berijin gambar yang sudah diunggah di dalamnya. Tapi tetap saja bisa dilihat dan diunduh via tautan yang ditampilkan di dinding Facebook dan linimasa Twitter.

Satu hal yang menggembirakan di Instagram ialah Instagram handle-ku yang lebih ringkas. Di jejaring sosial lain aku harus gunakan user name atau handle yang lebih panjang dengan menyertakan nama kedua. Tetapi di sini tidak. Handle @akhlis masih tersedia.

Begitulah pengalamanku beberapa hari ini bereksperimen dengan Instagram. Bagaimana denganmu?

Kaze No Uta O Kike: Novel Mini Pertama Haruki Murakami

image

Novelet alias novel mini yang berukuran sedikit lebih besar dari buku saku Pramuka ini cuma setebal 147 halaman. Ketebalan yang pas untuk aku yang memiliki semangat membaca yang fluktuatif.

Seingatku, diperlukan waktu 3 hari untuk menghabiskan isi novel pendek ini dari bab 1 sampai 40.

Aku membeli novel ini secara tak sengaja 30 Maret yang lalu. Di Carrefour terlihat tumpukan buku yang bertuliskan kata-kata yang tak bisa kuingat persis tetapi pesan yang tersirat yang bisa kutangkap bernada: “Silakan borong buku-buku murah ini karena sudah sulit sekali menjual buku ini dengan banderol harga yang lebih tinggi jadi kami putuskan untuk menjualnya sekarang daripada rontok dimakan rayap di gudang. Beli saja sekarang atau kamu akan menyesal”. Dan sebagai penikmat sastra yang sangat sadar harga, tulisan itu pun menyihirku mendekat.

Kutemukan beberapa buku menarik. Salah satunya karya Haruki Murakami ini. Tak ada eksemplar yang bisa kubaca secara sekilas. Buku ini cuma tersisa satu kopi. Sementara buku-buku lain masih menyisakan setidaknya 1 kopi yang sudah terbuka pembungkus plastiknya sehingga bisa dibaca isinya. Kupikir ini buku yang bagus. Yah, siapa tahu. Lalu kubalik sampul belakangnya yang menampilkan foto Haruki dan dua paragraf sinopsis mini novel bergambar sampul yang terlalu abstrak bagiku ini. Dengan latar waktu musim panas dan daerah pantai, seharusnya kupikir ada setidaknya gambar pantai, dermaga, atau ombak di sampulnya. Entah apa yang melintas dalam kepala perancang sampul R. Bayu Hendroatmojo hingga ia hanya menampilkan lukisan abstrak yang bentuknya mirip kincir angin. Sebuah bulatan di tengah bak sumbu dan beberapa baling-baling dengan warna berbeda yang semuanya cenderung kusam, muram, tak bergairah apalagi cerah. Maaf, gambar sampulnya cukup gagal bagiku untuk menarik orang membeli. Mungkin itu sebabnya buku ini diobral di sini.

Haruki Murakami hanya sederet sastrawan yang tak pernah kuketahui keberadaannya hingga aku menemukan novel ini hari itu. Padahal menurut keterangan di sampul belakang, ia merupakan penulis asal Jepang yang mampu menjadi salah satu calon penerima Nobel Kesusastraan tahun 2008. Sebagai alumni jurusan sastra, pengetahuan dan wawasan sastraku memang cukup menyedihkan. Atau dunia sastra yang terlalu luas dan terlalu cepat berkembang hingga aku tak sempat mengikutinya?

Haruki Murakami, dalam kesan pertamaku, adalah sastrawan yang hebat. Bayangkan saja, ini merupakan novel pertamanya dan langsung diganjar Gunzo Literary Award di tahun 1979. Entah mungkin sebelumnya ia sudah mengasah bakat dengan menulis beratus lembar cerpen yang gagal dimuat atau ditolak media massa atau penerbit yang tak pernah kuketahui, tetapi frase “novel pertama” cukup menjadi afirmasi akan bakat alaminya sebagai penulis.

Novel ini berjudul asli “Kaze No Uta O Kike” (1979). Judulnya dalam bahasa Indonesia ialah “Dengarlah Nyanyian Angin”.聽 Pertama diterbitkan oleh Kodansha Ltd. Cetakan pertama dalam bahasa Indonesia baru dilakukan tahun 2008. Cukup baru. Cuma 4 tahun lalu. Penerjemahnya Jonjon Johana dan editornya Dewi Anggraeni.

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna.” Itulah kalimat pertama yang menyambut pembaca di alinea pertama, halaman pertama novel ini.

Sepanjang proses membaca, yang aku temui adalah serangkaian ide, pemikiran, opini dan peristiwa absurd yang kadang tak memiliki hubungan nan logis satu sama lain. Itulah kesan yang kudapat. Mungkin karena otak kiriku lebih dominan atau alasan lain yang aku sendiri tidak tahu pasti.

Di beberapa titik, seakan aku bisa rasakan ada “mata rantai” yang hilang, atau penulis lebih suka untuk tidak dikisahkan demi menerbitkan rasa keingintahuan dan kekritisan serta imajinasi pembaca. Tapi itu membuat kesan “abrupt” muncul. Pembaca seolah dipaksa untuk terus berpikir dan bertanya “Mengapa si tokoh ini berkata/ berbuat ini?”, atau pertanyaan lain semacam itu. Mungkin inilah gaya bertutur khas Haruki Murakami yang belum aku akrabi. Maklum aku lebih familiar dengan gaya penuturan yang runtut, sistematis, lugas, gamblang. Novel-novel Agatha Christie dan N. H. Dini serta Remy Silado mungkin lebih sesuai pola pikirku yang cenderung berhaluan kiri. Novel Elizabeth Gilbert “Eat Pray Love” juga sama gayanya. Tapi tak mengapa, kuanggap saja ini sebuah eksplorasi susastra yang perlu dilakukan. Sesekali mengkonsumsi karya di luar zona nyaman juga perlu, bukan?

Inti kisah novel mini ini juga amat singkat. Ada 3 anak muda Jepang di tahun 1970-an yang bergulat dengan kehidupan yang bebas, permisif jika dipandang dalam perspektif norma moral, etika, apalagi agama. Si “Aku” yang menjadi tokoh utama dan sudut pandang cerita ini tak pernah disebutkan namanya di sepanjang cerita. Dalam dialog pun aku tak temukan tokoh lain menyebut namanya, sekalipun itu nama panggilan atau nama olok-olok. Aneh memang. Seperti kubilang, absurd.

Di beberapa baris kutemukan juga penyebutan kata-kata yang cukup “merangsang” imajinasi liar. Kata-kata ini dipilih sedemikian rupa oleh pengarang untuk mendeskripsikan suatu adegan saat si Aku, mahasiswa usia 20-an awal, yang terbangun dalam keadaan tanpa busana di sebuah apartemen milik seorang聽 gadis yang tak ia kenal yang malam sebelumnya ia temukan pingsan di kamar kecil sebuah bar (hal. 27). Si Aku yang bercitrakan “pejantan tangguh” di sini tidur seranjang dengan si gadis yang sama-sama tanpa busana. Dan mereka tak berbuat apa-apa dalam keadaan mabuk itu. Mulanya si gadis tak percaya, tapi ia kemudian yakin si pemuda tak menidurinya saat ia mabuk. Sungguh insiden mabuk berlainan jenis nan langka. Ini cukup bertentangan dengan rekam jejak si Aku yang konon sudah meniduri 3 orang gadis di usia 21 tahun. Tapi sekali lagi inilah absurditas yang pembaca harus terima.

Pergeseran nilai dan norma pergaulan muda-mudi bisa diamati dengan jelas di sini. Semuanya begitu terbuka, tanpa batas. Apa yang dikisahkan Haruki mungkin memang cerminan nyata dari masa 1970-an di negeri matahari terbit. Orang-orang muda dengan leluasa keluar masuk bar, minum bir, wiski, dan minuman keras semau mereka. Bagi mereka, yang penting adalah bagaimana menikmati masa kini, menikmati sebaik mungkin hangatnya musim panas dan kebebasan di kota kecil bernama Yamanote. Si Aku dan sahabatnya yang bernama Nezumi (yang dalam bahasa Jepang berarti “tikus”) dengan nekat mengemudikan mobil mewah Nezumi dan menabrakkan mobil itu dalam keadaan mabuk pada sebuah taman kota yang mengharuskan mereka membayar denda yang terbilang mahal untuk ukuran kantong mahasiswa. Tapi untungnya Nezumi anak seorang pebisnis licik yang kaya raya berkat menjual salep antiserangga yang khasiatnya amat diragukan tetapi terjual laris semasa Perang Dunia II (hal 96).

Rokok juga menjadi simbol permisifnya gaya hidup anak-anak muda kala itu.聽 Rokok, begitu juga miras, ialah dua hal yang berulang kali disebutkan di sepanjang isi novel. Si Aku dan Nezumi merokok secara intens. Si gadis juga tak ketinggalan.

Beberapa hal yang kutemukan cukup menarik di novel ini adalah fanatisme tokoh Aku pada seorang penulis Amerika bernama Derek Hartfield yang sama sekali tak tersohor. Hartfield adalah penulis yang akhirnya mati bunuh diri dengan terjun dari Empire State Building setelah kematian ibundanya. Sialnya si Aku amat terobsesi untuk menjadi penulis segila Hartfield. Di akhir kisah, dituturkan si Aku mengunjungi makam Hartfield yang tak lazim. Dedikasi seorang penggemar yang tak bisa dicerna akal sehat orang yang tak menyukai dan menemukan alasan untuk mengidolakan penulis yang sudah almarhum dengan cara tak wajar.

Lain halnya dengan Nezumi. Mulanya ia tak suka dengan novel, apalagi harus membacanya. Karena si Aku suka membaca, Nezumi perlahan menyukai novel bahkan akhirnya menulis novel. Namun, bedanya Nezumi si anak kaya raya yang tak mau kuliah ini menghindari tema kematian dan seks (hal. 21). Cara yang cerdas untuk membedakan dirinya dari si Aku yang lebih suka hal-hal yang berbau bunuh diri dan ranjang.

Di sejumlah bagian terdapat kalimat inspiratif tentang filosofi kehidupan yang bisa dikutip. Di antaranya ialah yang aku temukan di halaman 110 ini.

“(…) Semua orang sama. Orang yang memiliki sesuatu selalu lhawatir, jangan-jangan apa yang dia miliki sekarang akan hilang, sedangkan orang yang tidak memiliki apa-apa selalu cemas, jangan-jangan selamanya aku akan tetap menjadi orang yang tidak punya apa-apa. Semua orang sama! Karena itu, manusia yang menyadari hal itu lebih cepat harus berusaha menjadi lebih sedikit lebih tangguh. Sekadar berpura-pura pun tidak apa. Betul kan? Di mana pun tidak akan ada manusia yang tangguh. Yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tangguh.”” (Haruki Murakami: Dengarlah Nyanyian Angin, hal 110)

Satu tema besar yang menurutku paling agung dalam kehidupan manusia yang disebutkan di awal bab 23 halaman 85 ialah “raison d’etre” (alasan atau tujuan eksistensi/ keberadaan).

Di bab yang pendek itu diceritakan bagaimana seorang manusia idealnya memiliki raison d’etre sebelum mati. Raison d’etre seseorang bisa berbeda sesuai subjek yang memberikan pandangan. Dalam kasus si Aku, salah satu gadis yang ia tiduri mengatakan raison d’etre si Aku adalah penisnya, sementara dalam pemikiran si Aku sendiri, ia punya raison d’etre yang berupa obsesi mengubah segala sesuatu menjadi deretan angka. Dalam jangka waktu tertentu, si Aku suka menghitung frekuensinya bercinta, mengisap rokok, dan menghadiri perkuliahan hanya untuk obsesi yang tak berguna bagi orang lain. Dan saat orang lain mengabaikan informasi angka-angka yang sudah ia kumpulkan dengan susah payah dan menganggapnya tak berharga, si Aku kehilangan alasannya berada di muka bumi ini. Alhasil, ia merasa kesepian dan tidak berharga.

Nah, kini saatnya kita bertanya pada diri sendiri sebelum larut dalam rutinitas harian yang menjemukan dan mempertumpul kepekaan jiwa: “Apakah raison d’etre saya?” Dan jika kita tak bisa menjawabnya sekarang, apakah itu sebuah aib dalam menjalani kehidupan yang lebih utuh dan bermakna? Entahlah.

Namun yang pasti novel mungil ini mengajak kita yang membaca berpikir lebih dalam mengenai kehidupan. Untuk selembar uang 10 ribu yang saya bayarkan pada kasir Carrefour saat menebus novel ini, rasanya cukup setimpal. Cari dan baca saja jika ada waktu luang.

Selamat membaca dan berkontemplasi!

“Sunset or Sunrise?”

“Sunrise or sunset?”

Sering kita dibingungkan dengan berbagai pertanyaan yang sebenarnya tak perlu dilontarkan, hanya untuk memuaskan dahaga akan wawasan dan perdebatan. “Apakah ini X?”, “Apakah ini Y?”, “Bolehkah saya melakukan X?”, “Haramkah benda Y?”. Ah, sudahlah. Hentikan. Nikmati. Bukan abai, tetapi fokus pada esensi.

Episode 2 : Kopitiam Oey

image

Matahari sudah sepenggalah. Pukul 9 lebih. Kami masuk ke sebuah kedai makanan. Bukan kedai makanan biasa. Ini milik om聽 Bondan “Mak Nyus” Winarno dan anaknya Gwen.

Aku sudah pernah masuk dan bersantap di sini, bersama teman-teman yoga juga. Kami makan bersama kala itu sehabis latihan, seperti saat ini juga. Seorang teman bernama Wayan Sudira hendak pindah ke Bali dan mendapat pekerjaan baru di sana. Kupikir bekerja di Pulau Dewata adalah ide yang sangat menyenangkan, tetapi kemudian aku berubah pikiran. Bekerja di mana pun tetaplah bekerja. Kita tak bisa menikmati keindahan sekeliling kita atau menggerutu karena carut marutnya lingkungan sekitar kita bekerja. Kita hanya harus fokus. Seperti itulah yang aku rasakan di Jakarta. Tak peduli banjir, badai, asal kantor dan kos baik-baik saja dan aman, tak masalah. My life goes on as usual.

Kedai makanan itu sangat khas dengan warna merah menyala mendominasi. Entah apa namanya, aku kurang bisa menggambarkan. Tetapi harus kuakui suasanannya amat lain dari kedai makanan sekitarnya. Seperti ditransfer ke masa lalu, saat Ca Bau Khan masih hidup. Aku suka sekali novel Ca Bau Khan itu. Karya Remy Silado yang narasinya sangat mengalir. Buku setebal itu bahkan aku lahap dalam 1-2 hari saja. Itu rekor, karena aku bukan tipe orang yang suka menghabiskan bahan bacaan dalam sekali duduk, kecuali untuk buku-buku yang begitu menarik.

Continue reading “Episode 2 : Kopitiam Oey”

Episode 1: Karet Pedurenan

image

Libur. Sungguh menyenangkan. Tetapi tak ada yang spesial untuk mengisi hari.

Seperti biasa, cuaca kota ini kembali memanas. Beberapa sudut menurut kabar masih tergenang air tapi secara umum kelihatannya sudah mulai membaik apalagi matahari sudah menyengat kembali.

Begitu juga di kawasan ini. Sebuah ruas jalan yang lebih sempit dari jalan protokol dan kadang terlihat kemacetan di sini. Di tempat saya berasal, jalan selain jalan utama jarang tersumbat macet.

Di warung kecil nan bersih ini aku sekali lagi habiskan waktu makan siang. Ukurannya sedang saja. Bisa memuat 10-20 orang sekali waktu. Khas kalangan menengah. Harga rata-rata makanannya cukup mahal untuk mereka yang berkantong pas-pasan.

Pemilik warung ini seorang wanita setengah baya. Ia sedang di sini sekarang. Dari nama dan cita rasanya, orang ini berasal dari tanah Sunda. Continue reading “Episode 1: Karet Pedurenan”

On Yoga Teacher Training

yang ingin ikut Teacher Training Yoga,聽Akhlis Purnomo,聽Indahwati Rahardja,Tita Pintasari Arimurti,聽Fairy Agustianto

pengin TT Yoga…tapi biayanya… hiks hiks hiks

Suka聽路聽聽路聽Bagikan聽路聽9 Maret pukul 8:37聽路

  • Indahwati Rahardja,聽Koko Yoga聽dan聽7 orang lainnya聽menyukai ini.
    • Tjahjani Widyana Sugestiasih聽Kapaan ya ada TTC Yoga yg biayanya ekonomis hehehe….

      10 Maret pukul 4:56聽路聽Suka
    • Puguh Imanto聽coba ada IKIP jurusan yoga…. 馃榾

    • Tjahjani Widyana Sugestiasih聽Dan gurunya mas Yudhi.. Wah pahalanya pasti tmbh banyak hehehe…

    • Indahwati Rahardja聽Iyayaaaa hiks..ga merakyat

    • Yudhi Widdyantoro聽鈥Tjahjani Widyana Sugestiasih, suatu saat, bila tiba waktunya… (halah….)聽Yoga Gembira聽akan buat TTC dgn biaya ala komunitas… masih mencari format dan guru2 yg bersedia berbagi, terutama dokter medis utk kasih materi Anatomy… yaa kalau TTC yg umum bisa diumpamakan Universitas, yaa, seperti kata聽Puguh Imanto, mgkn TTC ala Social Yoga Club/聽YOGA GEMBIRA聽itu IKIP, gak bonafide, tapi bisa ngajar… tujuannya utamanya agar alumni bisa ngajar yoga di taman-taman, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa juga ngajar di gym, studio, dll… Spirit, atau semangatnya, seperti kata聽Koko Yoga聽itu: untuk sharing…

      10 Maret pukul 23:09聽路聽Suka聽路聽聽3
    • Koko Yoga聽Saya sangat senang sekali dan ikut mensupport gagasan dan niat baik Yogem/mas聽Yudhi Widdyantoro聽utk mangadakan TT Yoga karena TT di Indo yg made in Indonesia masih sangat kurang dibandingkan dengan pertumbuhan pelaku yoga di Indonesia.Teman2 perkenankan sy urung perndapat.kebtulan sy ada mengikuti bbrp TT di LN.dan scr rata2 TT di LN utk standard 200jam ,hanya utk TT saja kisarannya dari 20jt-40jt.TT made in Indonesia yg murni diadakan dan tenaga pengajar asli Indonesia ,harganya jauh dibawah 20 jt,walaupun lama TTnya tidak 200jam.Tapi sudah sangat cukup utk ukuran Indo …berlanjut…

      10 Maret pukul 23:36聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Jnt Hakim聽Mau ikutan donk Mas聽Yudhi Widdyantoro. voulentir ya …. sharing ilmu tuk dukung. dg back groundku Semoga terwujud, Insya Allah ..

      10 Maret pukul 23:38聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Koko Yoga聽TT Yoga made in Indo tadi yg sy tau saat ini ada 3 yaitu dengan mb聽Pujiastuti Sindhu聽di Bdg, mas聽Slamet Riyanto聽dan mb Uci聽Wijayanto聽di JKT. dan utk kuminitas yoga Indonesia yg sudah sangat banyak jumlah 3 TT ini sangat kurang.banyak guru yoga yg asal tidak murni yoga…Menurut saya TT di Indo sudah sangat murah sekali…bayangkan hitung2annya,,,sebagai guru pemula andai anda mengajar cukup 35-50 jam sebulan ..udah langsung balik modal..dimana letak mahalnya..? jadi TT yoga di Indo sebenarnya tidak mahal menurut saya,:)

      10 Maret pukul 23:45聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Jnt Hakim聽Bener juga menurut聽Koko Yoga聽dibanding di luarIndonesia, masalahnya tinggal niat nkalee ….

      10 Maret pukul 23:47聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Koko Yoga聽Bayangkan kerjanya cuman 35-50 jam saja sebulan udah bisa buat biaya TT nya >>aplg kl anda sudahberpengalaman diluar itu bisa ngajar kelas2 private yg honornya 2-4X lipat dari di klub2 kebugaran..makanyaj d guru yoga juga bisa relatif berkecukupannlah…:) tergantung anda masing2 ,

      10 Maret pukul 23:49聽路聽Suka聽路聽聽3
    • Koko Yoga聽Kalau di hitung2 lagi kerja 35-50jam sebulan,,artinya sebulan anda hanya kerja cukup 2 hari saja ,,sangat banyak waktu luang kl ingin nambah sampai 100-150 jam sebulan..bisa buat nyicil rumah .mobil dll.:) .Selain 3 pusat TT diatas mungkin teman2 bisa infokan dimana lg ada TT yoga made in Indo harga lokal dibawah 10jt ?

      11 Maret pukul 0:17聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Pujiastuti Sindhu聽Wah menarik sekali obrolan ini. Jadi ingin ikutan share, kami mulai mengadakan TTC d Yoga Leaf tahun 2006,tujuannya karena kami perlu tambahan pengajar (dan saat itu pengajar yoga d Bandung sangat jarang ).Jadi yg ditraining adalah murid2 sendiri yg terlihat passionate utk mengajar. Kaderisasi ‘ala perguruan silat’ itu kami rasakan paling cocok dgn visi dan misi Yoga Leaf,krn guru yg berasal dari murid sendiri itu biasanya lebih setia, dan mereka pun sudah cocok dgn style hatha yoga yg diajarkan di Yoga Leaf. Setiap tahun kami adakan acara tsb dan secara resmi baru tahun 2008 kita buka program tsb utk umum. Tujuannya adalah biar mereka bisa mengajarkan yoga dgn benar,dgn harga yg cukup terjangkau ( total 150jam 5jt : Rp.33rb/jam ) dan boleh dicicil bila tidak mampu. Syaratnya hanya satu,mereka mau datang k Bandung selama pelatihan,krn bila acara tsb diadakan di luar YL maka perlu tambahan biaya agar hostnya juga untung.

      11 Maret pukul 7:12聽路聽Suka聽路聽聽6
    • Pujiastuti Sindhu聽Saya seneng banget baca hitung2annya Koko, Artinya mengajar yoga bisa dijadikan pilihan profesi yg menjanjikan 馃檪

      11 Maret pukul 7:33聽路聽Suka聽路聽聽3
    • Desmond Polii聽Tambahan utk training 200 jam RYT di Jakarta sebenarnya ada di fitness first… Sistemnya sangat baik, harganya setengah drpd harus pergi keluar negeri. Kurang lebih 15jt. Sayangnya hanya utk member fitness first, tapi kalau join juga sebulan 500rban… So kalau 3 bulan berarti 1,5jt lage.

      11 Maret pukul 9:00聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Desmond Polii聽Kalau untuk teacher training di Jakarta yg lain, teman saya sudah mengundang Noah Maze utk mengadakan teacher training di Jakarta pada bulan Desember ini… Hopefully bisa terwujud.

      11 Maret pukul 9:03聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Desmond Polii聽Dari sisi saya… Menurut saya prospect yoga di Indonesia cukup besar… Dan menjadi instructor yoga di Indonesia menjadi profesi yg mapan dibanding di luar negeri. Melanjutkan perhitungan Koko, 40 jam sebulan di kali 200.000 rupiah (bayaran seorang instructor rata2 di Jakarta,
      mungkin dibawah jauh atau sebaliknya) Berarti sebulan 8.000.000 sebulan. (jauh diatas UMR). Dan kalau training harganya 40jt, berarti dalam 5 bulan sudah BEP, sedangkan bisnis yg baik adalah BEP di bawah 2 thn. Kuliah S1 di Indonesia jaman sekarang juga tidak cukup dgn dana yg sedikit.

      11 Maret pukul 9:21聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Desmond Polii聽鈥(bukan maksud supaya anak muda sekarang utk tidak kuliah ya). Saya pribadi memulai mengajar yoga ketika saya masih bekerja sebagai manager sebuah digital printing (gaji cukup mampan), tapi ada factor pasion ketika saya belajar yoga. Padahal waktu itu saya tidak biasa diatas panggung dan berbicara para banyak orang, demam pangung. Tapi karena saya suka yoga, saya memberanikan diri untuk belajar dan akhirnya mengambil teacher training.

      11 Maret pukul 9:27聽路聽Suka
    • Desmond Polii聽Pekerjaan sayapun sebagai manager sudah saya lepas 4 thn yg lalu… Dan 2 thn lalu saya bisa memulai hobby fotography, Dari thn lalu saya bisa belajar perbaiki sepeda motor… Dan semua dari yoga… Saya Menemukan diri saya.

      11 Maret pukul 9:30聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Akhlis Purnomo聽What an inspiring thread. Hehe. Saya masih newbie. Baru belajar dr mas yud sejak 1th lalu (masih ‘bayi’ banget dibanding semua yg berkomentar di atas saya). Saya juga sangat ingin ada teacher training yang terjangkau. Memang masalah dana adalah yg paling utama. Dan ada ketertarikan juga buat jadikan profesi nih (kalkulasi keuangan 3 praktisi di atas lumayan menggoda,haha). Sekiranya ada yang mau mengadakan TT dan boleh dicicil, atau ada semacam beasiswa /yoga student loan, pasti saya mau. 馃檪

    • Fairy Agustianto聽waduhhh….para master sdh urun pendapat…….thanks master2 atas masukan/infonya 馃槈

      11 Maret pukul 22:07聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Yudhi Widdyantoro聽Saya akan kasih komen atau bisa dibilang ‘statement’ sdkt lebih panjang, tapi krn gak sempet2 ketemu laptop ngak enak atau repot nulis di BB jadi selalu tertunda.. Ini penting 馃檪 tapi tunggu and sabar dulu ya…

      13 Maret pukul 17:42聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Akhlis Purnomo聽yah kelamaan nanti lupa kalau nunggu nemu laptop, mas!

    • Yudhi Widdyantoro聽Sarry baru urun rembug nih…. Dari pembicaraan teman-teman di atas, beberapa berbicara dari aksesibilitas utk mengikuti TT yang bernada murung. Bahwa biaya TT itu relatif mahal sehingga sulit utk diikuti, belum lagi kalau TT itu diadakan di kota yg berbeda, atau bahkan di luar negeri, seperti yg diinfokan聽Koko Yoga, sehingga berharap akan ada semacam keringanan. Kawan lain berbicara dari sisi yg memberi harapan, ttg prospek mengajar yoga yg layak dijadikan sebuah profesi pilihan.Pujiastuti Sindhu聽memberi antitesa atas mahalnya biaya TT dgn memberi tahu bahwa TT yang sudah dia adakan sejak 2006, jelas2 disebutkan angkanya, biayanya Rp 5 juta. Jauh lebih murah dari TT lain, yg umumnya di atas 20 juta, bahkan walau di dalam negeri sampai ada yg lebih dari Rp 44 juta… Koko dan聽Desmond Poliisudah juga memberi tahu beberapa TT di Indonesia selain yg di-run oleh @Pujiastuti Sindhu, tapi itu masih belum sebanding dgn kebutuhan peminat yoga yg meningkat, seperti kata Koko. Ada juga sharing menarik yg sy baca dr komn Koko, bahwa perlunya sharing ilmu…. Dari sini saya mau berbicara ttg TT ini dari perspektif saya. Begini ceritanya… 10 tahun sampai tujuh tahun yang lalu, dgn memiliki sertifikat 200 jam International Yoga Alliance (IYA) saya merasa jumawa, bahkan boleh dibilang sombong dan sok merasa ekxclusive karena, kembali ke masa itu belum banyak orang yg mengambil sertifikasi IYA, selain saya juga tdk bergaul atau liat2 kiri-kanan, mungkin. Tapi tanpa saya sadari dan di luar pengamatan saya, ternyata banyak juga orang yang berprofesi jd pengajar yoga, dan tahun-tahun berikutnya semakiiiin banyak dan buanyaaak dengan berbagai ragam latar belakang latihan/tradisi/sport dan profesi sebelum2nya. Ada juga orang yg pernah ikut kelas saya, “sudah berani” menyelenggarakan TT. Beberapa kawan saya, antra lain聽Amalina Tri Hidayati聽dan聽Sandi Kalifadani聽ngojok2 saya utk menyelenggarkan TT, tapi saya kekeuh tidak mau krn saya merasa belum tarafnya utk membuat pelatihan yg bisa menelurkan guru yoga, selain itu, krn saya berpatokan pada ketentuan IYA bahwa utk bisa mengajar di pragram TT 200 jam, seorang harus sudah menyelesaikan TT IYA yg 500 jam…masih ada orangs lain lagi yang meminta saya utk membuat TT… Dalam suatu bincang2 di taman selesai latihan yoga dan selesai membuat event Yoga Peduli Ibu dan Anak, mas聽Dandi D Arimurti聽dan istrinya聽Tita Pintasari Arimurti, juga聽Fairy Agustianto聽mengungkapkan utk sebuah kemungkinan Komunitas聽Yoga Gembira聽membuat TT. Saya jadi berpikir, mungkin sudah saatnya di Jakarta ini ada TT yg tidak terlalu memberatkan calon peserta. Dan mungkin juga itu bisa dijadikan sebagai sumber utk kas komunitas聽Social Yoga Club聽yang sering harus disumbang dulu kalau utk buat event yoga (kasian deh lo…hehehe…). Tapi, kemudian saya jadi berpikir ulang krn berbagai pertimbangan, al: siapa saja yg akan menjadi faculty (mengajar) terutama utk memberi materi anatomy, krn walaupun dlm TT yg saya ikuti dapat materi itu, tp sy bukan dokter medis, bagaimana pula pengelolaan atau manajemen -nya, serta mengorganisir keuangan dan sumber daya manusia/ guru- guru yg akan memberi materi itu semua, sementra saya pribadi, harus saya akui sangat lemah utk urusan itu. Tahu secara logis kerja, tapi detail dan eksekusinya payah… Melihat perkembangan dunia persilatan, eh peryogaan di tanah air, khususnya di Jakarta belakangan ini, apalagi aspirasi teman2 dan support para masters, meminjam istilahnya Upay saya jadi berpkir serius utk membuat TT, apalag kemudian komunitas ini sudah mempunyai sahabat komunitas lain yg pernah bekerjasama menggarap event, seperti The Climate Project yg concern dgn masalah lingkungan, sudah ada juga mbak @Jnt Hakim yang dokter mau kasih materi Anatomi, dan bbrp maters (mudah2-an) mau juga dijadikan faculty members, Dan karena komiunitas Yoga Gembira ‘bermarkas’ dan “dikenal” di taman, TT ini akan berbeda! Akan ada perspektif lingkungan hidup sebagai muatan dlm kurikulumnya, utk itu mungin sahabat sy @Metta Anggriani bisa kasih materi. Dan tentunya bisa dijangkau, kalau rekord termurah adalah TT Uji 5 juta, mgkin ini akan 4 juta 950 ribu (hehe) bisa dicicil dan kasih bea siswa (dgn menunjukan surat miskin dr kelurahan). Yang ting tinggal di luar kota bisa tidur (di taman… hehe). Btw, ini serius, saya sedang menyusun silabus dgn mengacu kurikulum IYA plus Mulok, muatan lokal khas Yoga Gembira, dgn guru2 yg tdk diragukan lagi. Siapa mau mergaukan Koko, Uji, Slamet, Desmond (mudah2an meraka mau ya…)? Selengkapnya tunggu ya..

      14 Maret pukul 0:56聽路聽Suka聽路聽聽4
    • Yudhi Widdyantoro聽tapi seperti saya bilang sebelumnya, sangat diharapkan TT ini bisa melahirkan praktisi yoga yang bisa melatih yoga di taman2 kota, walau tdk menutup kemungkinan bisa utk melamar di studio atau gym.. dgn menunjukan serifikat dgn dicantumin para pengajar yg TOP, siapa yg meragukan Masters yoga indonesia itu? dgn perlu diingatkan agar tdk menjadikan sertifikat itu seperti jimat atau berhala, gunakanlah itu seperti pisau lipat, gunakan kalau perlu. krn ada lho, krn serifikat pertemanan jadi rusak. Jadi, yang berminat, mulailan sisihkan uang ANda sedari sekarang, bis adimulai dari yang tadinya sehari dua cangkir kopi Setarbak, kurangilah jadi satu, syukur2 dua-duanya utk dana TT… daemi menju #IndonesiaDamaiDenganYOGA (halah… pret…hehe…)

      14 Maret pukul 1:11聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Sandi Kalifadani聽semoga bisa terwujud…

    • Yudhi Widdyantoro聽tadi berbincang dgn sahabat Koko. Dapat masukan yg ckp banyak ttg rencana bikin TT-itu… Makasih Koko!

      14 Maret pukul 15:55聽路聽Suka聽路聽聽2
    • Desmond Polii聽Saya bukan master, saya instructor yoga… Hihihi… Tapi senang kalau bisa bantu teman2… Cheers.

    • Koesnadi Ipermatasari聽Luar biasa semua sharing disini….saya mendengar, melihat, mencatat dg sangat gembira. Namaste Guru !

    • Dicky Sulistio聽sukses slalu ya mas yudi 馃檪

    • Akhlis Purnomo聽Ebuset. Thread komentar ini panjang benerrr

    • Yudhi Widdyantoro聽jadi, mau-nya Akhlis gmn?

    • Akhlis Purnomo聽Jadi kapan TT-nya?haha..

      15 Maret pukul 6:29聽路聽Suka
    • Koko Yoga聽Terima kasih jg sama2 mas Yud,,siap melangkah yah :),mas Yud

      15 Maret pukul 16:51聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Piang Pheng聽TT yg saya tertarik harga Rp. 40an jt selama 2th. Blm termasuk workshop keluar kota dan ujian diluar negeri. Jadi kalo ditotal selama 2 th sekitar 100jt 馃槮

    • Akhlis Purnomo聽鈥100 million? what an investment… T__T

    • Dandi D Arimurti聽ikut mendukung… semoga segera terlaksana….

    • Koko Yoga聽Hehe mas聽Akhlis Purnomo聽bagi yg mampu bayar mahal yah silahkan…sharing aja.. teman2 saya yang 3thn yll dgn modal TT “murah” yg 5 juta saja…sekarang udah punya mobil baru , andai mrk mau jg bs nyicil rumah .jadi TT semahal apapun dari pengalaman saya tidaklah menjamin bisa jadi guru yoga yg baik dgn penghasilannnya juga bagus :). Mahal juga tidak menjamin kwalitas TTnya bagus ,saya berani bicara begini karena kebetulan saya sendiri sudah mengalaminya. Jadi sesuaikan saja dengan kondisi kt masing2..ingat saja prinsip Padma/Bunga Lotus nya Yoga, yang tetap cemerlang indah walaupun hidupnya ada yang di lumpur.:)

      19 Maret pukul 12:34聽路聽Tidak Suka聽路聽聽4
    • Akhlis Purnomo聽thank you mas聽Koko Yoga聽atas masukan yang diberikan

    • Koko Yoga聽Sama2 mas Akhlis 馃檪

    • Dandi D Arimurti聽Ternyata…. Jadi pengajar yoga asyik juga yaa… Udah sehat krn sering yoga… Berjiwa sosial krn sering sharing… Trus berpenghasilan lumayan… Tambah passion dan high spiritual…. Dream jobs kayaknya…

      19 Maret pukul 13:06聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Piang Pheng聽Tks聽Koko Yoga聽atas masukannya 馃檪

    • Koko Yoga聽Sama2 @Piang Pheng聽semoga sukses dalam beryoga dan niat TT nya. @聽Dandi D Arimurti聽yah bener mas bisa masuk di list “Dream Job” terutama dapat sehat nya itu ,hal yang paling mahal dan berharga 馃檪

    • Yudhi Widdyantoro聽weleh…weleh… maskin asyik nih pembicaraan… makaih men temen… semua, yg sudah menyelenggarakan, sprti聽Pujiastuti Sindhu; yg berpengalaman ikut TT, srti聽Koko Yoga; yg sukses secara materi dgn menjadi pengajar yoga, sprti聽Desmond Polii, dll sprti yg digambarkan Koko; yang sduah akan menajdi volunteer mengajar, sperti聽Jnt Hakim; atau juga yg masih berniat akan ikut dgn antusias, bahkan akan beralih profesi jadi guru yoga sprti聽Akhlis Purnomo, dll…telah memberi inspirasi saya dalam menyusun materi atau silabus… you are all my real yoga teacher! thanks again!!!

      21 Maret pukul 8:51聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Yudhi Widdyantoro聽ada khabar, seorang teman bersedia ketempatan studio-nya yg baru akan segera klaar utk dipakai sebagai tempat utk TT… dan juga, dia dgn jaringan pertemanannya akan menghubungkan dgn pemberi materi yg non-yoga, seperti materi utk Public Speaking…. disebutlah nama2 besar dan kondang…. trus gue pikir dan bicara, “gimana bayarnya, pasti honornya gede lah….”?, dan teman itu memberi alternatif solusi…

      21 Maret pukul 8:56聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Pujiastuti Sindhu聽Good luck mas Yudhi, and u r my inspiration 馃檪 semoga sukses dan dilancarkan niat baiknya, Insyaallah, saya bersedia turut membantu bila diperlukan 馃檪

      21 Maret pukul 8:57聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Yudhi Widdyantoro聽what a great news聽Pujiastuti Sindhu… makasih…makasih… good karma… hehe…

      21 Maret pukul 8:59聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Amalina Tri Hidayati聽Selamat mas Yudhi, akhirnya ojok2an saya mau diwujudkan hehehe… Semoga sukses!

    • Amalina Tri Hidayati聽鈥嶡Koko Yoga betul itu mas… Yang penting hati selalu terbuka untuk meluaskan ilmu per yoga an yg baru sekelumit kita peroleh dari ilmunya Tuhan yang Maha luas ini. Biar jadi seperti filosofi bunga lotus 馃檪

      21 Maret pukul 10:38聽路聽Suka聽路聽聽1
    • Piang Pheng聽kalo TTnya di JKt, semoga saya bisa ikut… hehehe

    • Yudhi Widdyantoro聽鈥Piang Pheng: TT yg paling dekat, kalau itu jad,i daerah Kemang, di Jakarta koq. Mgkin hanya tidap akhir pekan, sehingga yg pada gawe/kerja kantoran masih bisa ikut. Tapi belum tau kapan pasti mulainya… Sabar ya… Sabar juga ya聽Akhlis Purnomo… Mulailah sisihkan uang dari sekarang. Kalau misalnya tiap hari minum kapi di Setarbak dua cangkir, ya mulai jadi sekali aja, syukur2 bisa ganti sekali aja ke saset-an di warteg sebelah kantor yg 200a-an rupiah segelas, ini sangat signifikan…krn biaya TT ini akan ada “penyesuaian” krn kenaikan BBM hehe…

    • Akhlis Purnomo聽鈥”Penyesuaian”: eufimisme dari “kenaikan”. hmmm

    • Yudhi Widdyantoro聽itu konsekwensi logis, apalgi UMR di DKI kan cukup tinggi… hehe… (iki opo tho, koq uwes ngomingi biaya2…)

    • Yudhi Widdyantoro聽tapi Anda calon peserta TT akan dapat subsidi dari “negara SYC” (bukan dari pemerintah NKRI) sebesar Rp 30-an juta: dari yg seharusnya bayar Rp 45 juta, sekali lagi empat puluh juta rupiah menjadi, paling sekitar sepuluh juta-an… itu adalah BLT, bantuan langsung tunai…

      26 Maret pukul 4:49聽路聽Suka
      • pengin TT Yoga…tapi biayanya… hiks hiks hiks
        • Koko Yoga聽menyukai ini.
          • Piang Pheng聽tks聽Koko Yoga. Kalo Koko lihat, aku bisa gak ya? 馃檪

          • Koko Yoga

            Hai Pheng semua orang bisa jadi guru yoga,bagi saya prinsip no.1 dr seorg guru adalah passion for sharing ,yaitu niat dari diri sendiri untuk membagikan kepada org lain ilmu ama yg kita miliki dan kuasai, pertanyaannya :apakah kita sudah me…Lihat Selengkapnya
          • Koko Yoga

            Banyak sekali guru guru yoga yang baik bahkan terkenal didunia tidak melulu harus bisa advance pose. Kelas kelas yoga saya yang berjudul basic yoga selalu lebih rame dr pd kelas sy yg lain..artinya kebanyakan masyarakat, tidak butuh andvanc…Lihat Selengkapnya
          • Desmond Polii

            Wow… So true… Koko benar Pheng… Dan kalau saya lihat antusias Pheng… You are already a teacher… Pheng selalu share pengalaman yoga Pheng sama teman2… For me… You are teacher already. Teacher Training adalah sistem pembelajaran…Lihat Selengkapnya

Yoga History

%d bloggers like this: