Firefox Monitor: Cara Praktis Pantau Privasi Anda di Internet

SP_FX_Monitor_blogheader_01-1000x500Bertransaksi informasi dan data di dunia web memang makin mudah. Namun, di balik kemudahan itu juga ada banyak risikonya!

Dan salah satu indikator terlindunginya privasi dan keamanan kita di dunia maya ialah keamanan akun-akun surel (email) dan akun media sosial kita. Apakah kata kunci yang kita pakai sudah cukup sulit untuk ditebak dan diganti secara rutin (misalnya 1-2 bulan sekali)?

Nah!

Saya bersyukur bahwa sejauh ini saya belum pernah mengalami musibah akibat peretasan atau penyalahgunaan semacam itu. Tetapi itu cuma perasaan saya saja. Apakah memang kenyataannya demikian? Hal itu masih belum diverifikasi oleh suatu instrumen/ alat yang lebih tepercaya.

Untuk menguji keamanan dan privasi kita di dunia, ternyata ada alatnya yang lebih objektif. Sebagai relawan aktif dari Komunitas Mozilla Indonesia, saya beruntung bisa mendapatkan informasi bahwa memang ada alat digital yang dibuat untuk menguji keamanan dan privasi kita. Namanya Firefox Monitor. Menurut Mozilla, Firefox Monitor dirancang untuk menjaga informasi pribadi Anda tetap aman. Di sini kita akan diberitahu apa saja informasi kita yang sudah diretas oleh para peretas (hackers) dan bagaimana kita mesti lebih maju daripada mereka. Firefox Monitor akan mendeteksi beragam ancaman terhadap akun-akun daring kita, misalnya akun Facebook, LinkedIn, hingga layanan daring seperti situs belanja daring.

Bagaimana cara menggunakannya?

Mudah saja. Kamu cukup mengunjungi Monitor.Firefox.com. Di laman tersebut, kamu bisa memasukkan alamat surel yang ingin diuji keamanan dan privasinya. Kenapa harus alamat surel? Karena surel adalah bagian dari jatidiri daring kita yang sangat penting. Lihat saja, di dunia maya, pendaftaran apapun pastinya menggunakan alamat surel yang masih aktif. Kalaupun ada nomor seluler, itu cuma faktor pengaman sekunder.

Saya bereksperimen memasukkan alamat surel Gmail saya yang sudah berusia 9 tahun lebih. Begitu ada hasil laporannya, saya terkejut. Ternyata banyak akun daring milik saya yang menggunakan akun email ini untuk mendaftar sudah diretas. Berikut rincian laporan Firefox Monitor yang saya maksudkan yang memuat tanggal peretasan, skala peretasan, data yang diretas:

Dan masih ada banyak lainnya, yang terus terang membuat saya syok juga! Gila, ‘jeroan’ saya diumbar di Internet! Bagaimana tidak, satu situs pencari kerja bahkan kebobolan data pribadi pengguna dari alamat fisik, nomor ponsel sampai nomor KTP. Ngeri!

Di Indonesia, kasus peretasan semacam ini memang dampaknya belum dianggap serius tetapi begitu nantinya kita akan makin masuk ke era digital seperti China dan negara-negara di Asia Timur dan Eropa, keamanan siber bukan isu yang dianggap enteng.

Begitu diberikan temuan yang mencengangkan itu, Firefox Monitor tidak diam begitu saja. Diberikan rekomendasi berupa langkah-langkah nyata yang bisa dilakukan oleh kita semua agar ke depan keamanan dan privasi daring kita lebih terjaga dengan baik. Berikut saran Firefox Monitor:

  • Ganti kata kunci bahkan jika akun itu sudah lama tidak diakses
  • Ambil langkah lebih lanjut untuk mengamankan akun-akun keuangan
  • Jika Anda menggunakan kata kunci yang sudah diketahui peretas, segera ubah
  • Minta bantuan untuk membuat kata kunci yang lebih rumit dan simpan di tempat yang aman

Saya kemudian juga mengecek alamat surel lainnya yang saya miliki. Dan mungkin karena alamat surel ini lebih baru dan belum saya pakai untuk mendaftar banyak layanan, hasil pantauan Firefox Monitor menunjukkan tingkat keamanan dan privasi yang baik. “So far, so good,” vonisnya. Alamat surel saya itu tidak tampak dalam hasil pemindaian dasar dan itu berita yang bagus.

Sebagai langkah pencegahan selanjutnya, kita bisa berlangganan dengan pembaruan dari Firefox Monitor terkait laporan lengkap mereka dan pemberitahuan bila peretasan masif melanda sebuah situs daring atau layanan umum.

Lagi-lagi, tak bosan-bosannya Firefox Monitor juga mengingatkan kita untuk menggunakan kata kunci yang lebih rumit dan susah ditebak agar perlindungan terhadap keamanan dan privasi di dunia maya juga terjaga dengan lebih baik. Jangan hanya menggunakan kata kunci sesimpel “abcd1234″ lalu berharap akun kita akan aman selamanya! Absurd itu namanya. Tidak berlebihan jika dikatakan:”Informasi kita di dunia maya akan aman jika kata kunci kita juga memenuhi standar keamanan.”

Bagaimana caranya menggunakan kata kunci dengan baik dan lebih minim risiko untuk ditembus peretas?

  • Gunakan kata kunci berbeda untuk akun yang berbeda
  • Buat kata kunci yang susah ditebak
  • Gunakan alat pengelola kata kunci seperti  1Password, LastPass, Dashlane, dll
  • Gunakan pertanyaan pengamanan (security password)
  • Tambahkan keamanan ekstra dengan autentikasi dua faktor (biasanya dengan menghubungkan ke nomor ponsel yang aktif)
  • Mendaftar ke pemberitahuan Firefox Monitor (begitu ada kasus peretasan, kita akan mendapat pemberitahuan segera)

Momen akhir tahun ini menjadi saat yang tepat untuk kita semua dalam mengevaluasi keamanan dan privasi digital kita selama setahun belakangan. Segera gunakan Firefox Monitor untuk memastikannya! (*/)

 

Kebadungan Gamalama (1)

photo of a woman holding shopping bags
Gamalama dalam khayalan. Tinggi, ayu, putih, langsing, tajir melintir, memiliki koordinasi motorik ala Miss Universe. (Photo by bruce mars on Pexels.com)

Selama ini Gamalama memang sudah dikenal sebagai pegawai yang tangguh. Ketenarannya melampaui batas divisi dan jenjang karier. Dari yang cuma office boys sampai pemilik perusahaan, siapa sih yang tidak tahu sepak terjang Gamalama?

Kepopuleran itu dibuktikan terus dan terus. Misalnya saat Tino ‘main’ ke kantor pusat yang megah di pusat peradaban Indonesia, ia kerap terkesima melihat semua sekuriti di gerbang dan pintu akses masuk mengetahui nama Gamalama.

Keagungan nama Gamalama berfungsi layaknya sebuah kata sandi, bisa membuka jalan selapang mungkin ke mana-mana. Semacam itulah kedahsyatan nama besar Gamalama di lingkungan perusahaan kami ini. Sangat membanggakan dan mengharukan.

“Halo mbak Gamalama!” begitu sapa seorang penjaga gedung saat Tino dan Gamalama menapaki anak tangga menuju pintu lobi utama gedung. Tentu Tino makin mengagumi kebesaran nama Gamalama.

Gamalama tentu mendapatkan reputasi dan ketenaran itu tidak secara cuma-cuma. Karena ia membangunnya selama lebih dari 1 dekade. Artinya, itu sepertiga umurnya. Luar biasa memang dedikasinya.

Karena gayanya yang santai dan cuek, ia sempat ditegur karena minum bir sembari merokok di taman kantor.

“Mbak Gamalama, tolong nanti asbaknya….,” tegur si petugas keamanan gedung dengan was-was karena perilaku Gamalama itu sudah di luar batasan yang ditetapkan. Jika ketahuan oleh supervisor sekuriti, si petugas bisa diperingatkan dan dihukum. Karena itulah, ia menganggap serius perilaku si Gamalama yang berniat bersantai sejenak di tengah kepenatan bekerja.

“Mbak, kalau merokok jangan di sini ya,” nasihat si sekuriti dengan nada lembut. Maklum, ia tahu kegaharan Gamalama kalau dikatai sedikit kasar. Ia tidak mau menepuk air sampai mukanya sendiri basah. “Kamu ini minum di jam kerja…,” batin si petugas dalam hati, mencoba bersabar dalam menjalankan tugasnya membasmi perilaku manusia-manusia yang seenaknya di teritori tanggung jawabnya.

“Oh oke bapak…,” timpal Gamalama dengan nada sedikit genit.

“Gue kelamaan nggak jelas di kantor itu. Makanya gue kudu pindah kayaknya emang,” ujarnya lagi pada kami setelah menceritakan kejadian itu.

Cerita kegilaan si Gamalama yang berikutnya makin membikin kita mengelus dada. Begini ceritanya: suatu hari saat ia sedang penasaran dan ‘kurang kerjaan’, ia melihat sebuah alat pemadam kebakaran yang menurutnya ‘tidak beres’. Kejahilannya menuntunnya untuk menyentuh alat itu dan menarik sebuah tuas yang menurutnya ‘tidak sesuai dengan posisinya yang seharusnya’. Begitu ditarik, tidak ada yang terjadi. Cuma masalahnya telepon berdering dan seorang petugas keamanan gedung dengan panik menghubungi rekannya di lantai itu untuk buru-buru menanyakan kondisi lantai tersebut. Gamalama yang tak menyangka dan menduga akan terjadi kepanikan semacam itu, memutuskan menyelinap dan bertingkah seolah tak terjadi apa-apa. Rupanya meskipun di lantai itu tidak ada tanda-tanda pemberitahuan adanya api, di ruang panel pusat keamanan gedung, sinyal kebakaran diterima. Semua kehebohan itu karena ditariknya tuas tadi oleh Gamalama. Karena tidak ada api atau apapun setelah ditelisik ke seluruh sudut lantai, akhirnya diduga keras ada yang iseng menyalakan alarm. Sebuah penyelidikan pun diluncurkan oleh satuan keamanan gedung. Tentu karena di situ ada kamera pengawas (CCTV), mereka memutar ulang rekaman CCTV pada jam terjadinya insiden itu dan menemukan seorang perempuan yang menunjukkan gerak-gerik mencurigakan di dekat alat pemadam kebakaran. Akhirnya ia ‘tertangkap’ dengan bukti yang sangat meyakinkan dan mengaku bersalah. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi rekan-rekan kerjanya setelah mengetahui siapa yang membuat jantung mereka copot. Ada yang menyumpahserapahi kelakuan jahilnya, menertawakan kegilaannya, dan juga mencibir keisengannya. Kabar itu segera menyebar ke seantero gedung. Intinya, ia sudah menjadi ‘public enemy’ seisi gedung.

Sebagai karyawan dengan loyalitas dan masa kerja paling lama, Gamalama juga sudah banyak makan asam garam dalam berbagai kesempatan. Ia menceritakan bagaimana istri si pemilik perusahaan yang ‘tajir melintir’ tiba-tiba ingin supaya gedungnya di Jakarta diisi dengan lantai terakota dari negeri sombrero sana. Dengan nada ringan si istri pemilik berkata,”Kayaknya bagus nih buat dipake di gedung kita di Jakarta. Angkut dah ke sana…” Seperti itu nada kesantaian yang dipakai oleh kaum super jet set. Puluhan kontainer terakota pun dikirim segera ke Jakarta. “Kalau kalean liat (patung-patung) gajah yang diwarnai itu sebenernya diimpor dari Prancis. Ada pelukis instalasi yang mau ngangkat tema ‘saving elephants’ gituh. Terus di-bid kan..kayaknya di Sotheby’s atau di mana gitu, personal buyer-nya ibu (si istri pemilik) itu menyarankan ini patung bisa dipake di Jakarta aja…”

Gamalama menceritakan itu semua dengan nada getir, mungkin dalam hatinya membandingkan kondisi finansialnya dengan segala kemewahan bosnya. Bak lapisan terbawah bumi dan langit ketujuh.

Keluarga pemilik bisnis ini punya keyakinan bahwa angka 9 adalah angka keberuntungan dan karena mereka punya uang, mereka wujudkan kepercayaan itu dalam penataan hunian megah mereka di negeri Paman Sam. Sebuah ranch di kawasan terpencil dibeli dan di dalam hamparan lahan seluas belasan hektar, mereka mendirikan 9 club houses dengan sebuah danau pribadi di tengahnya. Seakan belum cukup, ada juga papan catur raksasa dengan bidak seukuran manusia remaja. (bersambung)

Ingin Sembuh dari Diabetes? Coba Diet Extra Rendah Kalori

Rakus kalau di meja makan tetapi cemas kalau terkena diabetes? Saatnya membatasi jumlah kalori.

Temuan yang sungguh menarik ini didapatkan oleh tim peneliti dari Yale University. Dikatakan bahwa riset mereka berhasil mengklarifikasi mekanisme pembatasan kalori yang menyembuhkan diabetes tipe 2. Diet jenis ini dinamai Very Low Calorie Diet (VLCD) karena membatasi asupan kalori seseorang sampai cuma seperempat asupan kalori normalnya!

Ada 3 mekanisme utama yang bisa memungkinkan hal ini terjadi, yaitu:

a. penekanan jumlah asam amino dan laktat yang diubah menjadi  glukosa

b. pengurangan tingkat konversi glikogen di liver menjadi glukosa

c. pengurangan isi lemak yang pada gilirannya meningkatkan respons liver terhadap insulin

Efeknya sudah bisa terlihat hanya dalam 3 hari!

Hasil yang sama sebenarnya bisa ditemukan di pasien bedah bariatrik (operasi yang secara signifikan mengecilkan ukuran lambung sehingga masukan kalori otomatis terbatasi dan hal ini memicu penuruna  berat badan secara lebih alami).

Meskipun temuan ini baru dilakukan pada hewan percobaan, bisa jadi ini mengarah pada apa yang juga bisa terjadi di dalam tubuh manusia. Hanya saja, perlu waktu untuk bisa memvalidasi ini pada tubuh manusia.

Tetap saja, ada beberapa hal yang sudah pasti, misalnya: kelebihan kalori selalu berakibat buruk. Dan sudah saatnya Anda membatasi konsumsi kalori berlebihan. Apalagi jika sudah ada gangguan kesehatan yang diderita. (*/)

Asupan Tinggi Serat Bantu Kendalikan Diabetes

Kadar gula darah yang berfluktuasi drastis pada penderita diabetes membuat mereka harus berhati-hati dengan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Sebagai salah satu pemerhati tren diabetes di Indonesia, saya tertarik dengan satu hasil penelitian para peneliti di Rutgers University yang menyatakan bahwa asupan tinggi serat membantu para penderita diabetes atau kencing manis untuk mengendalikan diabetes mereka. Hal ini terutama berlaku pada mereka yang menderita diabetes tipe 2.

Dalam studi yang disebut di jurnal Science itu, peneliti menemukan bahwa peningkatan kelompok bakteri di usus berkat asupan makanan yang tinggi serat membantu pengendalian kadar gula darah, menurunkan berat badan dan menjaga kadar lemak darah di tingkat normal pada tubuh penderita diabetes tipe 2.

Temuan ini tentunya menjadi kabar yang menggembirakan bagi Anda yang menderita diabetes atau Anda yang memiliki keluarga dengan kondisi satu ini. 

Bagaimana serat alami makanan membantu perkembangbiakan bakteri yang membantu mengendalikan kadar glukosa darah? Sederhananya, serat makanan dalam sayur dan buah segar pada gilirannya menyeimbangkan biota mikroba di dalam saluran pencernaan kita. Ekosistem bakteri dalam usus akan kembali seimbang begitu kita mengkonsumsi lebih banyak sayur dan buah segar.

Sebagaimana kita ketahui diabetes tipe 2 sudah mewabah di seluruh dunia. Dan Indonesia menjadi salah satu negara dengan laju pertambahan jumlah penderita yang paling pesat di dunia. Cek saja di situs resmi WHO ini: who.int. Diramalkan akan ada 21 juta orang lebih yang menderita diabetes di Indonesia jika kita tidak mengambil tindakan pencegahan bagi generasi penerus dari sekarang.

Di tubuh penderita diabetes tipe 2, pankreas memproduksi sedikit sekali insulin sehingga kadar gula darah bisa melonjak. Insulin ini berguna untuk membantu glukosa memasuki sel-sel tubuh agar bisa digunakan sebagai energi. Jika asupan tinggi serat sehari-hari diperbanyak, yang terjadi adalah bakteri akan mengurai karbohidrat, dan menghasilkan asam-asam lemak rantai pendek yang memberi makan sel-sel di dinding saluran cerna, mengurangi peradangan dan membantu mengendalikan nafsu makan. Kurangnya asam-asam lemak rantai pendek ini menjadi pemicu diabetes tipe 2 dan sejumlah penyakit lainnya. Banyak studi klinis menunjukkan bahwa memang asupan tinggi serat mengurangi diabetes tipe 2.

Seperti apa makanan yang tinggi serat?

Peneliti menyebutkan biji-bijian utuh, makanan tradisional yang kaya dengan serat dan prebiotik (seperti acar, kimchi, dan sejenisnya) dapat meningkatkan populasi bakteri di usus yang dapat mengendalikan kadar gula darah.

Dalam studi, para penderita diabetes yang mengubah pola makan menjadi tinggi serat berhasil mengurangi level glukosa darah mereka dalam waktu 3 bulan. Kadar gula darah puasa mereka turun lebih cepat dan mereka bisa mengurangi berat badan menuju ideal. (*/)

Gamalama dan Cita-cita “Ayam”-nya

Puncak Gunung Gamalama di Ternate tampak sangar, gahar dan akbar. Kesangaran itulah yang juga ditemui dalam diri manusia bernama Gamalama satu ini. Tak heran, karena konon kata “Gamalama” berasal dari frase “Kie Gam Lamo” yang artinya “negeri yang besar”. Ya, BESAR…

Selalu begitu. Kalau Gamalama sedang gundah dengan pekerjaannya, entah karena ada atasan yang sedang tengil dan menjengkelkan, dan labil sampai pasif agresif atau karena ia sedang menderita suasana hati yang buruk, celetukannya yang paling apatis adalah:

“Kalo kek gini, rasanya gue pengen banget resign terus jadi chicken (baca: ayam)”.


Sungguh demotivasional sifatnya bagi kami rekan-rekan sekerjanya. Alasannya karena hidup sebagai “ayam” terkesan sederhana, tidak ‘neko-neko’. Tinggal ongkang-ongkang, dapat cuan (duit). Ya, meskipun faktanya juga tidak semudah itu. Pasti juga ada usaha yang keras, kan? Memangnya semua pil KB, tes HIV, dan antibiotik pencegah VD itu pengobatan lumrah, generik yang bisa diperoleh di Puskesmas terdekat dengan berbekal selembar kartu keanggotaan BPJS???

Gamalama mengingatkan saya pada Bridget Jones. Iya, tokoh rekaan dari dalam dunia fantasi Helen Fielding itu sempurna menggambarkan dirinya. Perempuan usia 30-an dengan status lajang dan sedang bersemangat mengejar lelaki idaman untuk ‘dijerat’ dalam tali pernikahan dan agak putus asa menghadapi dunia sekitarnya yang mendesak untuk segera menikah, punya anak dan … Tahulah. Bedanya, Bridget suka menulis diary. Gamalama suka berbicara. Begitu ia harus menulis, ia tersiksa. Katanya ia sempat menangis disuruh bekas atasannya mengerjakan newsletter. “Aku nggak sukak (ngerjain gituan),” kenangnya dengan air mata menggenang di pelupuk mata. Seolah ia sedang mengenang sepenggal masa lalunya yang nista dan amat kelam.

Dengan statusnya yang demikian, tak heran Gamalama menjadi pengguna intens aplikasi Tinder. Siang malam, subuh senja, pagi sore (bukan rumah makan Padang) ia memantau notifikasi di aplikasi favoritnya itu dan berharap ada cowok yang ‘nyangkut’. Setidaknya mau bertemulah. Urusan benar-benar cocok itu belakangan.

Untuk bisa menjerat, Gamalama menggunakan strategi-strategi dari yang berupa modifikasi visual, nasal, verbal, sampai behavioral. Strategi visualnya ialah dengan mengubah penampilan yang menarik, ‘nafsuin’, dan eksklusif. Ia pernah ingin mengeriting rambut yang sudah ikal tetapi kami menyarankan sebaliknya. Karena ia akan tampil lebih korporat dengan rambut lurus daripada rambut megar. Ia mewarnai kukunya, kemudian memakai bau-bauan (parfum) vanilla yang ‘nafsuin’ pria-pria untuk ‘mengigit’ karena mereka menjadi seolah-olah sedang bertemu dengan roti raksasa. Untuk modifikasi verbal, di telepon ia kerap menggunakan volume suara yang rendah dan cenderung mendesah. Nada suaranya diturunkan sedemikian rupa untuk menciptakan nada manja. Seperti saat sebuah sore, ia hendak berkencan dan si pria dari Tinder bertanya apakah cuaca di tempatnya berada baik-baik saja sehingga ia bisa bertemu di tempat yang sudah ditentukan. “Di sini ujan… Petir…Takut…,” ucapnya sembari menggenggam ponsel. “Palsu!!!” sergah Tino di sebelahnya. Tawa meledak di seantero ruangan. Buru-buru Gamalama mengambil langkah seribu ke luar ruangan dan meneruskan percakapan dengan nada manjanya tadi. Beberapa waktu setelah itu, ia mengemukakan alasannya berucap manja demikian. “Ya ampun kalian itu nggak paham ya? Kalau aku terlihat manja dan lemah itu biar mereka terlihat dibutuhkan. Kalau terlihat mandiri banget nanti malah mereka merasa nggak dibutuhin dan takut,” terangnya dengan nada nyaris patah arang.

Sesekali ia tentu beruntung bisa menemukan cowok yang antusias bertemu dengannya. Ada yang ‘elub’ (baca terbalik) dan ada juga yang Timur Tengah dan juga ada yang asli produksi nusantara. Sesekali bertemu dengan yang impor dari Eropa, ia malah ditinggal pulang ke negara asal si pria. Pupus harapannya disunting dan diboyong ke negeri matador. Sebenarnya ia cocok dengan cowok matador ini, karena Gamalam ini mirip banteng di toko keramik. Segala yang sentuh bisa jatuh. Tidak rusak saja sudah beruntung.

Lain lagi kalau dengan yang Timur Tengah. Alih-alih percakapan romantis, mereka di Tinder malah berdebat soal mana yang lebih hebat: Pakistan atau Indonesia? Si pria yang berprofesi sebagai pilot dan sok tahu soal Indonesia itu pun langsung didamprat balik oleh Gamalama yang tidak terima negaranya dilecehkan. “Enak aja, dia nggak tahu apa kalau Indonesia GDP-nya lebih tinggi….Grhhh!!!” Chat pun menjadi penuh dengan cuilan-cuilan fakta pencapaian ekonomi Indonesia dan komparasinya dengan Pakistan. Melayanglah pria Pakistan tampan tetapi chauvinistis itu. Coret!!!

Satu cowok Indonesia yang ia merasa sreg membuatnya optimis, seolah secercah cahaya lilin mungil di lorong gelap yang tak berujung. Pria itu mengundangnya ke restoran yang ternyata milik keluarganya, dan restoran itu ternyata punya banyak cabang juga. “Wah, pas nih!” gumamnya kegirangan. Kaya dan punya restoran, pas karena Gamalama sendiri menggandrungi wisata kuliner. Mereka duduk dan bercakap-cakap dan karena si pria itu malu kalau ketahuan sang ayah yang berseliweran di restoran itu bahwa ia sedang berkencan dengan Gamalama, ia menggiring topik pembicaraan ke hal-hal yang lebih kaku seperti topik-topik bisnis. “Apa sih kerjaan loe?” begitu tanya pria itu pertama-tama. Sialannya, dari situ malam makin tersedot ke dalam topik pembicaraan yang jauh dari dugaan. Karena Gamalama piawai di disiplin ilmu branding, si pria ini terus bertanya-tanya soal pendapat Gamalama mengenai apa yang bisa dilakukan untuk mempromosikan restorannya. “Ujung-ujungnya malah dia nanya-nanya cara dan tips branding buat restorannya,” Gamalama berkeluh kesah. Beberapa hari kemudian, ia dihubungi lagi oleh si pria muda tadi dan mengira akan kencan kembali kedua kalinya. “Eh, Gamalama, elo mau nggak freelancing buat ngerjain branding di restoran gue?” baca pesan dari pria itu di iPhone 5S lapuk Gamalama. “Gagal totallll!!! Maunya jadi pacar malah dijadiin freelancer!!!” perempuan itu menyumpah serapah. Menurut saya, setidaknya ia bisa buktikan pada pria itu, ia berguna. Kalau itu terbukti, mungkin saja ia akan berpikir menikahi Gamalama karena nanti bisa branding gratis kalau sudah menikahinya. Sayangnya, pria itu berpikiran jauh lebih praktis. No strings attached. Belum diketahui apakah Gamalam menyanggupi tawaran itu atau tidak. Yang pasti lumayan juga buat pemasukan sampingan. “Nah, nanti bisa dibuat jadi modal buat cari cowok lain,” saran saya pada Gamalama yang menunjukan kegundahan yang memuncak. “Always think positively, Gama,” pesan saya tiap kali dia merasa dunia ini tidak adil.

Kalau ada perempuan yang menurutnya cerdas, anggun dan ‘nafsuin’ tapi tidak terlihat murahan, ia selalu tergoda untuk menjadikan perempuan itu sebagai panutan. Role model, begitu istilahnya. Gamalama berasumsi jika dirinya bisa menjadi perempuan dengan kualitas setara dengan orang itu, ia juga pastinya akan lebih mudah mendapatkan jodoh yang diidamkan.

Seperti hari Jumat itu. Ia sudah mempersiapkan diri dari pagi buta. Meskipun panduan berbusana kami hari itu di kantor ialah pakaian batik, ia mengabaikannya dan memilih pakaian terbaiknya yang bukan batik. Busana dengan brokat hitam, yang menurut saya lebih pas dikenakan di acara pemakaman. Tapi Gamalama menganggapnya tepat untuk dikenakan di saat-saat genting dan krusial dalam kariernya yang mengalami ‘plateau’. Kami berani taruhan ia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mematut diri di depan cermin untuk memutuskan busana untuk menemani tamu istimewa kami hari itu.

Belum cukup, ia nyalakan mesin catok rambut itu dan meluruskan sehelai demi sehelai rambutnya yang sebetulnya sudah diluruskan secara kimiawi di salon secara cuma-cuma karena kami sudah berikan sebuah voucher di hari jadinya yang ke empat puluh lima (berdasarkan mesin pengukur usia sel tubuh yang dipakai dokter saat medical checkup).

Namanya ibu Sophie Ellis Bextor. Kulitnya sepucat dan selicin lantai yang terbuat dari batu pualam murni, tanpa campuran, apalagi sepuhan. Rambutnya hitam dan disanggul sederhana dan rapi. Lipstiknya marun, membuat bibirnya terlihat penuh dan – dalam istilah Gamalama – ‘nafsuin’ tapi ‘nggak murahan’. Karena ia istri mantan duta besar negara sahabat (yang kadang-kadang juga jadi musuh), ia sangat akrab dengan budaya Indonesia yang menunjung tinggi kesopanan. Alhasil, meski suhu agak gerah, ia tetap memakai busana tertutup meskipun tanpa penutup rambut.

“Aku tuh pengen banget kayak dia,” Gamalama terus meracau soal idola barunya ini. Ia menceritakan kekagumannya soal cara duduk ibu Sophie yang menurutnya sangat berkelas. Lain dari cara duduknya sendiri yang, katakanlah, jelata sekali. Sama-sama menyilangkan kaki tetapi entahlah kelihatan berbeda. Kalau ibu Sophie duduk di meja sekalipun, terlihat oke dan sopan saja. Tetapi begitu Gamalama duduk di meja, jadinya mirip preman mau menagih utang. Gahar dan ‘pencilakan’. Belum lagi mendengarkan caranya bertutur kata, nada dan intonasi beserta semua isi dan pesan dalam kalimat-kalimatnya.

Intinya, Gamalama kalah telak.

Saya sarankan ia kursus kepribadian ke Okky Asokawaty. Ia mencibir, menyorongkan moncongnya ke depan,”(Idemu itu) Aneh…”

“I’m just trying to help, b*tch...,” gumam saya lagi. Dalam hati tetapi.

Lalu untuk mengembalikan suasana hatinya, ia butuh suntikan gula dan micin dalam jumlah raksasa ke dalam tubuhnya. Biskuit bersalut cokelat gula, lalu keripik berpenyedap rasa kuat plus makanan ringan apapun di dalam laci meja kerjanya.

Dan selalu setelahnya ia berteriak,”Aku nggak mau naik berat lagi. Aku mau langsing. Oke besok aku mau olahraga. Aku mau bla bla bla (isi dengan jenis olahraga apapun), supaya cowok-cowok Tinder itu terpesonah…”

Kami bertepuk tangan, mencoba menyemangati.

You go, Gamalama!!!” Tino memberi stimulus verbal pada semangat Gamalama yang turun naik. (*/)

Dia Lagi Belajar. Biarin Aja…

rear view of boy sitting at home
Photo by Pixabay on Pexels.com

Seorang teman pernah mengeluhkan dirinya tidak pernah ingin membaca buku saat sedang naik bus yang sedang bergerak. “Pusing,” katanya.

Mungkin ia benar. Tetapi tidak semua bus bergerak di atas jalanan yang rusak dan berlubang juga kan? Jadi kalau itu adalah bus kota yang sedang bergerak di jalanan ibukota yang mulus dan lebih banyak tersendat daripada melaju lancar, pastinya pengalaman membaca teman saya itu tidak akan sememusingkan yang ia pernah alami.

Sekalipun membaca di kendaraan membuat sedikit pusing, tetapi membaca di kendaraan umum di Jakarta membuat saya lebih bisa mengamankan kursi (tidak cuma anggota DPR, penumpang bus Trans Jakarta pun harus tahu strategi mengamankan tempat duduknya jika tidak mau tersingkir oleh yang lain).

Orang-orang seperti saya di kendaraan umum seperti bus Trans Jakarta memang kerap dimarjinalkan. Bukan karena saya golongan pariah, dekil, atau semacamnya. Namun, karena saya adalah pria bertubuh sehat dan rambut di kepala saya masih hitam legam. Karena saya pria, begitu ada perempuan yang lebih tua dari saya – entah itu terlihat sebaya dengan tante atau ibu atau nenek saya – otomatis ada pandangan menuduh pada saya juga. “Kok tega-teganya duduk saat ada wanita lebih tua berdiri? Dasar anak muda zaman sekarang….”

Salah kan?

Lalu kalau saya duduk, dan ada laki-laki yang tampak lebih tua dari saya, apalagi yang sudah renta dan rambut kepalanya memutih, maka saya seolah ikut menjadi golongan ternista jika tidak menampakkan simpati apalagi sampai pura-pura tertidur pulas di kursi.

Salah lagi kan?

Hal yang sama kalau masuk ke dalam bus, anak-anak yang masih kecil sehingga mereka (dianggap) lebih lemah dan lebih cepat lelah (padahal justru mereka ini tidak mau diam duduk begitu saja berlama-lama).

Satu strategi yang saya baru saja temukan untuk bisa tetap duduk di kendaraan umum yang penuh sesak tanpa harus terlihat jahat dan egois ialah membaca buku. Bukan membaca artikel Line Today di ponsel ya! Baca buku. Kalau perlu yang tebal dan meyakinkan seperti buku teks sekolah.


Taktik ini saya temukan saat dalam sebuah perjalan di bus Trans Jakarta. Karena bawaan saya lumayan berat, saya duduk dan menghela napas serta berdoa agar tiba di tujuan tanpa harus berdiri. Sebab saya habis berolahraga, berdiri sampai tujuan akan membuat saya makin lelah.
Nah, saat itu saya sedang membawa buku sehingga otomatis saya membukanya dan langsung bersandar ke jendela bus. Kadang-kadang saya memang menyengajakan diri untuk tidak menyentuh ponsel apalagi saat hari libur karena berusaha untuk melepas penat mata dari layar elektronik yang melelahkan otot-otot mata. Jadi kalaupun saya mau mengisi waktu dengan membaca, saya ingin memegang buku saja. Bukan e-book di gawai. Seakan ada keasyikan tersendiri dengan membuka lembaran-lembaran kertas dan melihat cetakan alfabet dari tinta hitam di kertas yang agak menguning itu.

Seorang pria baru saja masuk ke dalam bus. Saya tak begitu memperhatikan seperti apa dia. Tapi memang dia tampak lebih tua dari saya.

Sekonyong-konyong kondektur bus menghampiri saya yang sedang terpaku di buku. Saya sedang mencerna kalimat-kalimat rumit yang ada di dalam novel Jonathan Franzen ini. Begitu rumitnya sampai saya perlu mengulangi beberapa kali membaca untuk bisa mematrikan pesannya ke dalam pikiran. Ada beberapa bagian yang mudah dikunyah dan dicerna, seperti sepotong buah matang. Sementara sisanya membuat tenggorokan tercekat dan usus bekerja keras mengurai.

“Mas, bisa berdiri saja? Bapaknya mau duduk,” tegur si kondektur penuh dengan nada simpatik dan peduli untuk si bapak dan sedikit menghardik bagi saya.

Sontak seisi bus mengarahkan pandangan ke saya, seolah saya pelaku kriminal bernama anak millennial yang tidak memiliki nurani karena membiarkan seorang pria yang lebih tua berdiri sementara ia sendiri enak duduk-duduk membaca novel.

Sementara saya gelagapan karena kebingungan antara ingin mendahulukan jawaban atau perbuatan, pria itu malah mengatakan hal yang tak pernah saya duga akan dilontarkannya:”Sudah nggak apa-apa, pak. Dia belajar. Biarin aja…

Jadi, karena saya memegang buku kertas, saya dianggapnya sedang belajar. Apapun buku itu, tampaknya sama saja asumsinya: belajar. Terlintas dalam pikiran saya, apakah ia berkata demikian karena penampilan saya juga yang lebih mirip anak sekolah dari les atau anak kuliah dari rumah teman untuk belajar kelompok untuk mengerjakan makalah?

Dasar saya sudah capek dan tidak ingin berdiri membawa tas punggung yang berat, saya pun meletakkan kembali bokong ini ke kursi. Sedikit bersorak dalam hati, saya akui. Bukan karena saya tidak ingin menolongnya untuk duduk, tetapi karena meskipun pria itu lebih tua, ia masih terlihat sehat, tegap berdiri dan tidak sedang membawa beban berat di tangan dan tubuhnya. Sementara saya baru berolahraga dan lelah dan lapar dan membawa beban di punggung (pakaian kotor dan laptop).

Anyway

Karena ucapan si bapak itu, saya menjadi bertanya dalam hati karena ia sepertinya tidak bisa membedakan kumpulan kertas seukuran apa yang biasanya adalah buku teks pelajaran sekolah dan mana yang ukuran lazim sebuah novel atau karya fiksi.

Tetapi mungkin begitulah kesan jika Anda membawa buku dan membacanya di dalam kendaraan umum. Kemungkinan besar Anda pasti dikira seorang siswa sekolah atau mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri menuju ujian penting. Dosen atau guru? Kecil kemungkinan. Kan mereka sudah mengajar. Pastinya sudah lebih pintar jadi kenapa mesti baca di mana-mana sampai di kendaraan umum juga? Begitu mungkin logika kebanyakan orang.

Membawa dan membaca buku di dalam kendaraan umum memang seharusnya jangan dijadikan kedok untuk mempertahankan tempat duduk. Tetapi setidaknya itulah bonus yang pantas didapatkan para kutu buku yang lelah. (*/)

Drama Medical Checkup

421px-physical_examination

“Kok nggak ikut periksa kesehatan?” kata saya pada bang Muri, office boy di kantor yang perawakannya sama dengan saya. Kurus seperti model. Model Men’s Health edisi ectomorph.

Malu-malu ia menjawab,”Nggak ah, mas. Takut…”

“Takut? Kan cuma diambil darah sedikit buat periksa gula darah dan tekanan darah,” saya tetap bersikukuh agar ia ikut.

“Takut ketahuan penyakitnya,” sergahnya lagi.

Lain lagi dengan Dino yang berperawakan lebih subur dari saya (dan karena saya paling ceking di kantor, otomatis semua juga lebih subur dari saya). Ia sudah mencuri start. Beberapa hari sebelumnya, ia meminta izin tak masuk dengan alasan menjalani pemeriksanaan kesehatan di sebuah rumah sakit kenamaan yang dekat dengan kawasan bisnis termegah di Indonesia. “Mumpung promo, pak,” terangnya saat ditanya Tino, manajer kami yang kerap mengatai saya aki-aki dan nini-nini karena suka chamomile tea dan minyak-minyak itu.

“Situ kan rumah sakit paling mahal,” kata Tino kagum dengan pilihan rumah sakit Dino yang wah. Ia menggenggam tangannya di depan dada. Menganga.

Saya menghela napas. Dengan nada datar berucap sekejap,”Ah, biasa aja…”

Sontak mereka meradang, berteriak kencang,”Belagu loee malihh!!”

Untung saya tidak diserang ala smackdown, karena jika mereka melakukannya, saya akan remuk seketika. Ngeri kan? Bayangkan Elyas Pical ditandingkan dengan Evander Holyfield.

Tetapi itu belum seberapa karena ada sebuah insiden menarik sebelum giliran saya datang. Tino yang sudah siap maju ke depan, diharuskan menimbang berat badan di timbangan khusus yang juga dilengkapi fitur khusus untuk menaksir usia sel tubuh.

Timbangan itu gagal mengukur berat badan dan usia selnya. Dengan nada datar, si petugas dari rumah sakit itu menegurnya,”Pak, timbangannya error. Ulang lagi ya…”

Agak menusuk tetapi apa daya. Ia terima saja sembari memendam rasa dongkol. Saya meringkik, membayangkan ia geram dan membanting timbangan yang tak bersalah itu hingga remuk seremuk-remuknya dan tiap potongannya menghambur di seantero ruangan itu.

Kembali ke kantor, kami saling membandingkan hasil. Dalam banyak hal, saya patut lega kecuali tekanan darah. Kata salah satu perempuan di meja pemeriksaan tadi, saya mesti diet garam. Duh! Ini gara-gara rakus asupan protein dan kurang sayur mayur dan buah segar. Dan mungkin juga, seloroh saya, karena stres akibat serbuan permintaan revisi yang tiada henti.

Tapi tak perlu bersedih. Setidaknya saya punya banyak hal untuk dirayakan.

Tebak siapa yang paling muda usia sel tubuhnya?

Tak perlu disebutkan…

Tino yang usia tubuhnya 62 tahun itu langsung panik tampaknya. Sore hari saat santai dan saya buat lemon-infused water, ia buru-buru ingin menjajal. Dimasukkannya dengan penuh semangat irisan lemon itu ke wadah air putihnya dan ia teguk. Perlahan. Dan mukanya berseri. “Enak juga…” Lalu ia mencanangkan rencana besar ambisius. “Mari kita beli lemon besok!!!”

Kembali di tempat duduk, saya menyeruput air lemon saya sendiri. Tentu sembari membatin,”Let’s see how long it’ll last.”

Sementara itu, wanita bernama Gamalama yang rambutnya bersasak setinggi Monas itu mengutuk kinerja mesin penimbang dan penaksir usia tubuh tadi. Sambil membuang kertas hasil pengukuran saya yang memberikan estimasi 18 tahun untuk tubuh saya, ia menghardik dengan lengkingan seperti penyanyi rock Nicky Astria,”Ini mesin salah. Nggak akurat!!!” Lirikan matanya yang antagonis mengingatkan saya dengan alis Ratna Sarumpaet yang legendaris itu.

Lalu ia kejang-kejang.

Dan saya lanjut menikmati air lemon dengan tenang.

“Eat that, mother father….” ucap saya lirih, meniru cacian khas Tino. (*/)

%d bloggers like this: